Jumat, 31 Mei 2013

Hari Terakhir Melajang

Fyuh.. hampir setahun kayaknya nggak ada postingan baru. Alasannya satu, ada hal yang lebih saya cintai dibandingkan dengan ngeblog. Alasan itu pula lah yang pada akhirnya mengantarkan saya pada hari ini : hari terakhir saya menikmati status lajang. 

Lalu bagaimana dengan ngeblognya?. Insya Alloh tetep lanjut koq. Jadi yang kangen cerita-cerita jalan-jalan saya, tunggu aja ntar setelah saya settle dan menyelesaikan semua urusan-urusan saya :D


Pada akhirnya, setiap perjalanan pencarian akan berhenti.
Dan bagiku, perhentian itu ada di kamu..

Mohon doa restu

Rabu, 01 Agustus 2012

Lucunya Sleeper Bus


Salah satu hal yang kudu dicoba kalo pas ke Vietnam adalah ngalamin sendiri perjalanan antar wilayah antar kota pake sleeper bus. Oke, secara harafiah memang diterjemahkan sebagai bus tidur dan pada kenyataannya memang demikian. Kendaraan yang beroda enam ini di dalamnya berbeda dengan bus pada umumnya yang disetting tempat duduk. Sleeper bus adalah bus yang didalamnya berupa tempat tidur!.

Penampakan dari luar, tidak ada yang beda
Satu-satunya tempat duduk hanyalah punyanya pak sopir, itupun tempatnya di sebelah kiri karena setirnya di kiri (penegasan yang tidak perlu).
Nah, kenapa saya bilang sleeper bus layak dijajal?. 

1.       The weirdest vehicles I ever see.
Pendapat saya ini diamini setidaknya dua orang bule yang masuk ke bus bareng saya. Mereka sontak berteriak girang : “Wow, this is the weirdest thing I ever see” yang dalam bahasa jawa berarti “iki panganan opo, koq koyo ngene”.
Kenapa dibilang aneh, selain dari tempat duduknya yang berupa tiga lajur memanjang, dua tingkat, dengan masing-masing lajur berisi beberapa tempat tidur ukuran 1,8 meter x 0,6 meter juga karena sebelum masuk kita harus melepas sepatu atau sandal supaya nggak ngotorin tempat tidur yang dilapisi kulit. Udah kayak masuk musholla aja deh, ada “batas suci”-nya.
Masing-masing tempat tidur bisa ditekuk atau direbahkan. Tergantung mau tidur apa mau duduk. Enaknya adalah kita bisa selonjoran karena kaki kita dimasukkan kedalam ruangan semacam laci, yang bisa sekalian buat tempat barang bawaan dan meja kecil tempat menaruh minum atau makanan. 

Setelah masuk ke dalamnya!. Isinya tempat tidur dua tingkat :D

2. Enjoy The Journey!
Sleeper bus biasanya melayani rute antar kota antar district dan bahkan antar negara, yang biasanya ditempuh lebih dari 4 jam, di malam hari. Tapi itu tidak selalu. Jika kamu sedang beruntung maka rute pendek dalam kota pun bisa memakai sleeper bus ini. Seperti contohnya saya pas selama make bus disana selalu dapatnya sleeper bus.
Nah, karena perjalanan selama menuju satu kota ke kota yang lainnya ini dilakukan dalam waktu yang panjang, maka pemandangan selama perjalanan sayang dilewatkan. Atau lebih tepatnya, pengalaman saya melihat “pemandangan” di samping saya bule cewek pake tanktop dengan -maaf- belahan dada tersingkap yang sayang untuk dilewatkan. Gimana nggak nikmatin, bulenya cuek aja sedangkan kepala saya berada tepat diatas kepalanya dia..
Dan Tuhan menghukum saya ketika pulangnya pake sleeper bus dengan teman samping saya berupa anak gedut jelek dan kepo, yang menuh-menuhin tempat tidur.. 

3. Tempat terbaik untuk menikmati.. err.. bau kaki orang seluruh dunia!
Karena sepatu kudu dilepas untuk bisa naik ke sleeper bus, maka bisa kebayang donk bentuk kaki dan aromanya bakal gimana. Apalagi tempat tidur bertingkat, dan kudu selonjoran. Beruntung saya naik duluan dan tempat tidur saya selalu dapat di atas, sehingga kesempatan untuk melihat jempol dan kelingking yang sama besar saya lewatkan. Bayangkan jika dapat tempat duduk di belakang, di bawah, dan naiknya belakangan. Pasti akan melihat berbagai macam bentuk jempol dan bau dari orang seluruh dunia. Yeaah, tidak seluruh dunia sih, tapi paling tidak dari beberapa Negara yang se-bus dengan kita. 

4. Yang jelas, namanya sleeper bus pasti bisa tidur di bus!
Buat yang mabuk kalo naik kendaraan, yang lagi sakit, atau yang lagi capek, dengan naik sleeper bus ini bisa tidur beneran koq. Saya dengan nyenyaknya selalu tertidur setelah bus berjalan beberapa waktu. Untungnya sih, kalo perjalanan dilakukan di malam hari selain bisa menghemat biaya akomodasi, juga begitu bangun badan udah langsung berasa fresh!. 

Fresh kaan? #eh
5. Yang penting, pilih travel yang terpercaya.
Banyak kejadian sopir bus menurunkan penumpang dengan open ticket (tiket bus yang bisa dipakai kapanpun selama tanggal berlaku, dari rute manapun) di tempat-tempat yang mungkin bukan tujuannya. Saya hampir saja diturunkan di tempat yang bukan seharusnya- yang jaraknya 7km dari tujuan semula, kalau saja saya tidak menunjukkan lokasi seharusnya saya diturunkan. Memang sih, pada waktu itu sudah sampai di kota yang dituju yaitu di Phan Tiet City, dan bagi yang menuju ke Mui Ne dipersilakan turun. Dan saya adalah salah satu penumpang yang menuju ke Mui Ne dari Ho Chi Minh City. Maka turunlah saya. Ternyata, setelah bus hampir bergerak, saya teriak sepertinya saya salah diturunkan. Berhubung saya pegang alamat resortnya – yang jaraknya 7 km lagi, barulah saya diantar kesana. Jadi, selain pilih travel yang terpercaya, pastikan juga untuk bertanya!. Karena sekali lagi, orang Vietnam jarang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Untuk beli tiket sleeper bus ini dapat diperoleh di berbagai tempat di HCMC. Rutenya macam-macam. Bahkan ada yang menyediakan paket-paket sekaligus akomodasi dan makan, ke seluruh tujuan wisata di Vietnam dari HCMC. Sebut saja Vung Tao, Nha Trang, Da Lat, Da Nang, Hoi An, Ha Noi, dan sebagainya. Saya sendiri memilih rute HCMC ke Mui Ne, salah satu kota pantai yang terkenal dengan fenomena alamnya : Sand Dunes atau gumuk pasir. Di Pantai Samas – Parangtritis, Kabupaten Bantul Jogja pun ada gumuk pasir yang berwarna hitam. Nah kalau di Mui Ne, gumuk pasirnya berwarna merah dan putih!.

Gimana serunya menelusuri Mui Ne? Tunggu Next post yaa…

Minggu, 22 Juli 2012

Reunification Palace dan War Remnants : Bukti Sejarah Vietnam

Merdeka pada tahun 1975, setelah melalui perpindahan kekuasaan berkali-kali, Vietnam tidak serta merta melupakan sejarahnya. Potongan-potongan informasi tentang sejarah Vietnam itulah yang saya coba untuk kumpulkan dalam perjalanan saya selanjutnya. Tentu saja, melalui bukti-bukti nyata bekas peninggalan perang, bangunan, atau hanya sekedar dokumentasi.

Saya melanjutkan perjalanan ke arah utara Gereja Notre Dame, melewati taman kota yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan yang saya lalui sepanjang Pham Ngu Lao. Saya maklum kalau taman kota ini lebih ramai, terik matahari tepat di siang hari dan jam istirahat dimanfaatkan untuk berteduh dan beristirahat di taman. Tak jarang, beberapa mahasiswa berkumpul menggelar ponco mereka, menenggak es soda dalam cup plastik, dan berdiskusi dengan teman-teman mereka. Beberapa pasangan muda-mudi, bermesraan meski di tengah hari bolong. Dan beberapa kakek-kakek membaca koran, duduk melingkar, dengan segelas ca phe da (es kopi) di depannya


Tak butuh lama sampai di depan gerbang bangunan yang disebut sebagai The White House – nya Vietnam ini. Untuk masuk kedalamnya, hanya ada satu pintu dengan dijaga oleh petugas berseragam hijau yang mengarahkan untuk membeli tiket di loket yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Setelah 30.000 VND bertukar dengan selembar tiket masuk, langsung saja saya menuju ke bagian depan air mancur. Disinilah biasanya digunakan sebagai tempat untuk bisa mengambil foto keseluruhan bangunan.


Reunification Palace menjadi sangat terkenal karena selain sejarahnya, banyak acara televisi yang selalu menjadikan bangunan ini sebagai ikonnya Vietnam. Sebut saja The Amazing Race Asia. Ketika salah satu episodenya berlangsung di Vietnam, bangunan ini adalah salah satu yang digunakan sebagai tempat berkumpul.

mejeng dulu yaa
Di masyarakat lokal, Reunification Palace disebut juga sebagai Dinh Doc Lap. Jaga-jaga saja kalau saat kita bertanya ke masyarakat lokal mereka tidak mengenali tempat yang disebut sebagai Reunification Palace ini. Istana ini dulunya merupakan istana kepresidenan negara Vietnam Selatan, saat Vietnam masih terpecah menjadi dua. Masa itu, Vietnam Selatan merupakan “boneka” Amerika, yang berperang terhadap Vietnam Utara yang didukung negara-negara Komunis. Peperangan dua kekuatan besar, antara Amerika dan Negara-negara komunis ini berlangsung dan memakan banyak korban.

Kembali ke Reunification Palace, tak heran sebagai istana kepresidenan bangunan ini merupakan bangunan yang termewah di masa itu.

Sampai pada 30 April 1975, bangunan ini akhirnya dikuasai oleh Vietnam Utara dalam peperangan antara dua negara tersebut. Dua buah tank Vietnam Utara berhasil merobohkan pintu gerbangnya, dan peristiwa penguasaan istana ini dikenal dengan “The Fall of Saigon”. Pada hari itu, akhirnya Amerika berhasil diusir dari Vietnam, dan Vietnam Utara dan Selatan melebur menjadi satu negara dibawah bendera Komunis. Mereka mengenal sebagai hari kemerdekaan Vietnam.

Tank yang digunakan untuk merobohkan gerbang itupun sekarang masih dipasang di halaman depan Reunification Palace. Saya beruntung, ada seorang fotografer cewek yang mau saya mintai tolong untuk memotret saya di depan tank ini.


Berhubung istana kepresidenan ini sudah berubah fungsi menjadi museum, maka sekarang setiap orang berhak untuk masuk dan melihat secara dekat isi dari istana ini. Dan memang bukan mengada-ada jika bangunan ini disebut-sebut sebagai yang termewah di Vietnam pada zamannya. Betapa tidak, bangunan empat lantai dan 1 mezzanine ini menyimpan banyak sekali benda-benda yang saya taksir nilainya miliaran, jika tidak boleh dikatakan tidak bisa dibeli sama sekali.

Tangga utama  menuju ke lantai dua yang tidak bisa diakses.
 Sebagai istana kepresidenan, sudah sewajarnya memiliki berbagai macam ruangan. Mulai dari ruang pertemuan, ruang rapat, ruang komando, ruang menyambut tamu, ruang makan, ruang beristirahat dan kamar-kamar tamu, tempat dansa, ruang bermain kartu, bahkan hingga bunker bawah tanah untuk bersembunyi presiden kalau-kalau istana ini dibombardir.




Yang terkenal dari keseluruhan ruangan di Reunification Palace ini adalah sebuah ruangan yang terletak di lantai atas. Sebuah ruangan untuk menerima tamu kenegaraan, dengan furniture antik sebuah sofa bergaya china yang terbuat dari kayu dan dipoles vernis. Bantal sofanya terbuat dari beludru putih – atau setidaknya yang saya lihat demikian. Gorden penutup berwarna emas, serta karpet tebal berwarna senada. Yang menjadikannya mewah adalah pada satu sisi dinding yang tak berpintu dan berjendela terdapat lukisan tangan yang memenuhi keseluruhan bagian mulai dari atas hingga bawah.

Inilah ruangan  yang saya maksud
Sayang, tidak ada akses masuk kedalamnya. Kalau iya, mungkin sudah ada foto saya berbaring layaknya Reclining Buddha Wat Pho di atas sofa itu..

Waktu yang tepat untuk berkunjung sebenarnya adalah pagi atau sekalian sore hari. Sebab, pada waktu kedatangan saya di siang hari, pas dengan jam istirahat. Alhasil, saya tidak berhasil memperoleh kesempatan untuk mengetahui lebih detail lagi karena tidak ada tour guide berbahasa inggris gratis pada jam-jam tertentu. Satu-satunya tour guide yang ada membawa rombongan turis bermata sipit, dan dia menjelaskan dengan bahasa mandarin. Hal ini diperparah juga dengan tidak adanya keterangan tertulis yang lengkap pada setiap ruangan. Sigh..

Akhirnya langkah kaki saya membawa ke atas mezannine, di sebuah teras menjorok ke depan, dan saya menduga bagian ini digunakan oleh Presiden untuk melihat kejadian yang berlangsung di kota. Benar saja, di atas sini, sejajar dengan air mancur di halaman depan, saya bisa melihat jalan lurus kedepan, puncak cathedral Notre Dame, sampai jauh ke kota.

Dari atas balkon
Sebetulnya, Reunification Palace ini cukup luas jika memaksa untuk mengitari keseluruhan tamannya juga dengan berjalan kaki. Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan shuttle car yang bentuknya mirip mobil golf berisi banyak tempat duduk, mengitari taman sampai ke sudut-sudut belakang. Namun sepertinya dikenai biaya lagi untuk menggunakan fasilitas ini.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah duduk di depan istana, dan melihat video sejarah perang Vietnam dulu.

Meski begitu, saya cukup puas dengan duduk-duduk di tengah taman yang ada paving blocknya menuju kolam air mancur di depan istana. Sendirian, sampai akhirnya semprotan air penyiram rumput otomatis mengusir saya dari situ.

Maka saya berjalan kaki menuju ke Museum War Remnants, yang tidak jauh dari Reunification Palace. Dari pintu gerbang, menghadap ke istana, ambil ke kanan dan tidak sampai lima belas menit saya menjejakkan kaki di War Remnants.


Museum ini terlihat seperti bangunan biasa, tidak ada yang spesial dari luarnya. Jika tidak teliti, mungkin akan melewatinya tanpa tahu kalau itu adalah museum yang dimaksud. Yang paling jelas membedakan adalah beberapa tank dan pesawat terbang yang dipajang di halaman depannya.


Dengan tiket seharga 15.000 VND, saya masuk ke museum yang dulunya disebut sebagai Museum of American War Crimes (Museum Kejahatan Perang Amerika). Sempat diubah menjadi Museum of War Crimes (Museum Kejahatan Perang), lalu pada akhirnya menjadi War Remnants (Peninggalan Perang) setelah normalisasi hubungan Vietnam – Amerika.

Meski begitu, tetap saja ketika masuk ke Museum saya merasakan bahwa masyarakat Vietnam benar-benar mengutuk tindakan Amerika pada saat itu yang menggunakan Vietnam Selatan sebagai “boneka” untuk menguasai wilayah Vietnam.

Lantai 1
Ada setidaknya tiga lantai di museum ini. Pada lantai pertama, beberapa display menunjukkan dukungan-dukungan negara lain terhadap perjuangan rakyat Vietnam dan mengecam Amerika. Salah satu foto anak kecil dengan seragam tentara US Army lengkap dengan helm dan senapannya duduk diantara batu-batu nisan menarik perhatian saya. Saya membaca prosa dibawahnya :

When I was a child,
I spoke as a child,
I understood as a child,
I thought as a child.
But when I became a man,
I put away children things

Entah mengapa saya tertarik dengan foto hitam putih ini. Ada makna yang dalam tersirat dari prosa itu dan gambarnya. Saya cukup lama memandang foto ini, sampai menyadari beberapa rombongan yang tadi masuk bersama saya sudah beranjak ke lantai 2.

Lantai 2.
Di lantai 2, adalah bukti kekejaman perang Amerika terhadap bangsa Vietnam. Sebuah keterangan tertulis menyebutkan, pada saat agresi Amerika tidak hanya menggunakan bom dan peralatan perang konvensional, namun mereka juga menggunakan senjata kimia untuk menghancurkan sumber daya alam serta mencegah pergerakan besar-besaran pasukan pembebasan Vietnam Selatan. Selama 10 tahun, mulai 1961-1971, berlangsung hujan bahan kimia (oleh pesawat-pesawat Amerika) secara terus menerus di Vietnam tengah dan selatan, menghancurkan tumbuhan di pegunungan, tanaman pangan, meracuni sumber air bersih, dan merusak keseimbangan ekologis. Dari catatan, selama sepuluh tahun itu Amerika menggunakan 72 juta liter bahan kimia berbahaya yang bervariasi. Salah satunya adalah agent orange (salah satu pasukan penyebar bahan kimia) yang mengunakan 170 kilogram dioksin dalam 44 juta liter larutan. Bahan berbahaya ini menyebabkan penderitaan kepada setidaknya 2,1 – 4,8 Juta rakyat Vietnam.

Bukti keganasan senjata kimia
Dan pada catatan lain menunjukkan bahwa, Dioksin yang memiliki nama kimia 2-3-7-8 Tetra chlorodibenzo-p-dioxin (TCDD) adalah bahan kimia paling berbahaya yang pernah ditemukan oleh manusia!. Bayangkan saja, hanya sebanyak 85 gram dioksin, sudah cukup untuk membunuh satu kota dengan populasi 8 juta orang.

Kejadian itu diabadikan dalam foto-foto, sisa-sisa masker yang digunakan tentara perang, dan gambar-gambar penderitaan rakyat Vietnam sampai masa kini yang harus bergulat dengan cacat di tubuhnya, kelaian genetik, sebagai akibat dari senjata kimia itu. Untuk lebih memperkuat suasana, cat orange menyala dipakai di ruangan tersebut untuk menunjukkan bahwa Agent Orange-lah yang paling bertanggung jawab dalam perang bahan kimia tersebut.

Saya merasa tidak nyaman disini. Tengkuk saya terasa berat, dan perut saya dingin. Mual, hampir mirip dengan perasaan ketika masuk angin. Entah memang foto-foto yang membuat saya bergidik, atau keterangan-keterangan sejarah, atau memang karena ada makhluk-makhluk tak kasat mata berada disekitar situ. Yang terakhir, saya tidak berani membayangkan.

Lantai 3
Di lantai tiga, sebelas dua belas dengan lantai dua. Perasaan saya masih sama. Itulah mengapa saya tidak berlama-lama disini. Di lantai tiga, terdapat pameran foto-foto jurnalis. Sebagian besar diantaranya pernah dimuat di surat kabar internasional. Foto karya jurnalis perang ini diabadikan, sebagai usaha untuk mengenang tewasnya mereka saat meliput perang. Selain foto-foto yang tak kalah membuat miris, dipajang juga beberapa sisa-sisa senjata perang. Selongsong rudal yang dilepas pesawat, senjata AK47 atau M16 sisa perang, granat tangan, ranjau, dan sebagainya.

Beranjak keluar, di bagian belakang terdapat juga tiger cages. Sebuah kurungan sebagai tempat untuk menahan dan menyiksa tawanan. Dalam ruangan sekecil itu, terkadang digunakan sampai 8 orang, ditumpuk. Mungkin mati berdiri.

Memang perang hanya akan membawa kesengsaraan bagi semuanya. Kalah menang, kedua pihak tetap akan kehilangan. Dan belajar dari sejarah perang inilah, seharusnya setiap dari kita yang berhati akan lebih bijak dalam menyelesaikan masalah.

Salah satu foto di war remnants yang saya suka

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...