Senin, 07 Juni 2010

The Dazzling Singapore (Part 1), A Departure

Perjalanan tiga hari dua malam ke Singapore ini akan saya tumpahkan ke beberapa bagian. Setiap bagian demi bagian adalah rangkaian cerita perjalanan saya menyusuri kemegahan bangunan dan arsitektur Singapore, tempat-tempat khas, dan merasakan makanan - makanan di sana. Disini nanti pembaca juga akan berkenalan dengan teman-teman saya, yang bersama dengan saya menguak kemewahan kota Singapore.
A Departure, - sesuai judulnya : sebuah keberangkatan. Sebetulnya sudah saya tuangkan sekilas dalam tulisan saya terdahulu, saat saya tulis sembari mengisi waktu menunggu kedatangan teman-teman di Bandara International Djuanda 4 Juni 2010 kemarin. Namun saya hanya ingin memberikan gambaran lebih detail lagi. Yak, tak lama setelah saya posting kemarin, akhirnya teman-teman saya datang. Kami berenam, Saya, Bu Susi, Rani, Meta, Rohim, dan Bos Saya : Ibu Ika, bersama mengantre di loket 22 dan 23 untuk check in. Saat mengantri, kami bertemu bocah-bocah berseragam kaos biru yang juga naik pesawat yang sama dengan kami, MI221. Dari bahasa dan tulisan di seragamnya, bocah-bocah tersebut sih berasal dari Singapore. Entah dalam rangka study tour (tapi saya heran koq ke Surabaya?) atau kunjungan resmi ke sekolah.. entahlah, yang jelas yang ada di benak saya waktu itu adalah bocah-bocah SD saja sudah bisa jalan-jalan ke luar negeri, berbeda dengan saya yang ketika SD masih seneng ciblon di sawah atau nyuri tebu (maklum, rumah saya deket pabrik gula :P).
Dari kiri ke kanan : Bu Susi, Meta, Rani, dan Rohim (saya yang motret, Bu Ika lagi ngantri cek in)

Cek in di Loket 22 ternyata butuh waktu lama, pasalnya waktu itu antrenya luar binasa (*yang ini lebay). Kenapa di loket 22?.. soalnya kita pakai kelas ekonomi. Kalo Bisnis, cek in di loket 23. hehehe.. Yep sehabis cek in dan membayar airport tax Rp 150.000 per orang, kita diberikan kartu keberangkatan dan kepulangan untuk di isi, sebanyak 2 buah. Satu dari negara asal, dan satunya untuk negara tujuan. Kartu ini masing-masing ada 2 rangkap untuk disobek, jadi gak boleh ilang atau kalian nggak boleh pulang!. Setelah itu, kita urus bebas fiskal (dengan catatan punya NPWP), dan menuju bagian imigrasi. Heumm.. bayangkan kalau kita gak punya NPWP, fiskal udara yang harus dibayar sebanyak 2,5 juta. Muahalnyaa.... bisa buat dua hari tiga malem di Singapore tuh.. :P


a). Check in Counter b) loket bayar fiskal di Djuanda

Then, masuk di bagian imigrasi, paspor kita akan di cap : berangkat + tanggalnya. Plus, kartu yang kita isi tadi, akan disobek pada salah satu bagiannya. Nah sekali lagi, potongannya ini gak boleh ilang yaa. Saya adalah orang terakhir dari rombongan saya yang masuk di pintu imigrasi. sempat agak lama sih, saya pikir petugasnya bingung karena koq fotonya beda ama orangnya ya?.. yang asli lebih ngganteng (*dilarang muntah!). hehehe... padahal was-was, mengingat pas bikin paspor tinggi badan saya ditulis 165 cm. (Gilaaak, itu yang bikin paspor korupsi tinggi badan saya kali yak?).
Tapi overall semua lancar, sampai masuk pesawat dengan lumayan tepat waktu, dan dapat tempat duduk di dekat jendela. Posisi favorit saya. Yeph, Naik Silk Air MI221, dan dijamu oleh mbak-mbak pramugari bernama Seri (kalo di Jawa namanya dilafalkan seperti Sri ).. dilihat dari muka dan bahasanya sepertinya berasal dari Malaysia. Daan... lapar pun melanda. sempet nunggu agak lama juga akhirnya baru diladeni, padahal saya nggak sempet sarapan dulu paginya. Akhirnya pilihan makanan jatuh pada Fish and Potatoes daripada Chicken. Saya pilih ikan karena saya takut kalau ayamnya nggak halal. Yaa namanya penerbangan international, kita kan nggak tahu apakah itu si ayam disembelih dengan cara yang halal?. Ikan dan kentang yang saya pilih rasanya enaak (gak pake banget). kentangnya juga empuk. Apalagi sama Mbak Seri dikasih saos sambel yang enak banget (ini pertama kali saya ngerasain saos sambel yang nggak pedes tapi manis.. mereknya Tropicana, sayangnya gak ada di Indonesia). Gak sampe sepuluh menit itu makanan sudah berpindah ke perut saya. Trus, selain makan besar dikasih puding juga, rasa-rasanya sih macem puding santan, dikasih vla, ama semprotan coklat leleh (dan udah beku) di atasnya. Enak juga.. mmmm... dan brunch (Breakfast & Lunch) ini ditutup dengan dua gelas orange juice. Enak laah pokoknya.

this is it... a la Chef Seri.... (boong dink)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

makanannya sama persis sama yang ku makan
orange juice nya juga dua kali....
kamu ikutan yah...
emang pilihanku selalu enak

tadinya aku juga mikir ayamnya halal ato enggak? tapi mungkin silk air sudah tahu, pasti ada penumpang muslim juga...
pulangnya aku pesen yg ayam
tapi kayaknya ikan yang enak >.<

ikannya aku gendutin yak ^^

MeTa

Gaphe mengatakan...

Wuuu.. tetep yee... bilang kalo saya ikut-ikutan. *karakter anak pertama gam mau ngalah. :P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...