Senin, 07 Juni 2010

The Dazzling Singapore (Part 2), Changi dan Kisah Seorang (yang dikira) Teroris.

Pukul 1.30 pm waktu setempat, akhirnya kita sampai di bandara yang luar biasa luas dan mewah. Bandara Soekarno Hatta aja kalah, dari segi arsitektur, tata letak gate, apalagi soal kebersihannya. Adem, dan Mewah.. Bahkan bandara terbaik di Indonesia (menurut sepengetahuan saya) yaitu Sultan Hassanuddin - Makassar pun masih kurang kalau dibandingkan dengan Changi. Luasannya sendiri berkali-kali lipat dari Hasanuddin, trus dari jumlah gate.. juga jauh lebih banyak. Lebih dari 40 gate, dan setiap gate melayani satu pesawat. Berbeda dengan Sultan Hasanuddin Makassar yang punya cuma 6 gate. Atau bandara Soekarno Hatta yang tiap terminalnya cuman ada beberapa gate. Seturunnya dari pesawat saya bilang sama temen-temen saya kalo pengen banget nyium tanah negeri orang -tapi itu tak jadi saya lakukan mengingat nanti efek terhadap julukan ndeso bagi saya akan menguat..
Ya, daripada saya bangga ama negeri orang, mending sekeluar dari pesawat langsung menuju toilet dan pipis (beser saya kumat). Kapan lagi mengencingi negara tetangga kan?. Makanya saya tak melewatkan momen itu, dan menikmatinya (sigh..). Selain penyakit beser yang kumat, HIV (Hasrat Ingin Voto) saya juga kumat. Walhasil, beberapa jepretan di luar gate, horisontal eskalator, ama di conveyor belt pun tak lupa diabadikan.

ini suasana Changi keluar dari gate

Hasrat Ingin Voto saya kumat :P

Keluar dari gate, banyak banget toko-toko di sepanjang jalan menuju bagian imigrasi. Nah berhubung kita datang agak sedikit terlambat dari jam seharusnya (1.15) maka kita buru-buru menuju pintu keluar. Di pintu keluar tersebut, kita sudah dinanti oleh para petugas imigrasi. Jujur, tertib banget dan sangat teratur. Kebanyakan petugas imigrasi Singapore adalah etnis China atau India. Saya yang "seneng banget ngantri" sampai-sampai dipersilahkan oleh mbak-mbak berparas india untuk menuju ke arah loket yang kosong untuk diperiksa kelengkapan dokumennya. Tak butuh waktu lama bagi saya, paspor saya di scan, kartu imigrasi (yang sebelumnya diberikan di Djuanda untuk ditulisin) di sobek satu lembar pada bagian kedatangan. Kemudian saya menuju ke Conveyor Belt untuk mengambil bagasi. Saya kagum dengan cepatnya waktu pengambilan bagasi. Beda dengan di Indonesia, yang sering nunggu bagasinya lebih lama daripada nunggu pesawat take off. Kenyamanan yang luar biasa serta pelayanan yang ramah inilah yang patut dicontoh.
Dan tragedi itu pun dimulai.. Satu orang teman kami tertinggal di bagian Imigrasi. Bukan tertinggal lebih tepatnya, tetapi sengaja ditahan. Coba tebak siapa?.. Jrenk.jrenk (*fanfares..). Abdul Rohim. Kita berlima sudah cukup kebingungan mencari, padahal dia tadi ada tepat dibelakang kami. Memang, Rohim masuk cek imigrasi paling akhir. Tapi saat mengambil bagasi (bahkan hingga conveyor belt pun kosong), Rohim belum menongolkan batang hidungnya. Khawatir pun menyeruak. Saya dan Bos saya, Bu Ika menuju ke bagian imigrasi sambil celingak-celinguk. Seorang petugas imigrasi, usia 40 an tahun, Chinese, menghampiri saya dan bertanya ada yang bisa dibantu?. Dengan terbata-bata (maklum, bahasa inggris saya little-little), saya bilang apakah tadi ada satu teman saya dari Indonesia ada disini?. Dia menjelaskan memang ada satu orang di kantor imigrasi. Bos saya sampai berkata ingin kesana, menjelaskan bahwa dia yang bertanggung jawab, tetapi tidak diperkenankan. Ya sudah, jalan terakhir yang bisa kami lakukan adalah menunggu. Beruntung, banyak brosur, peta Singapore, serta Informasi Perjalanan dan Tempat-tempat khas banyak tersebar di Changi. Gratis!. berhubung saya suka yang gratisan, saya ambil banyak termasuk majalah-majalahnya. Untuk oleh-oleh yang ada di rumah (Pelit mode on).
Setengah jam kemudian tepatnya pukul 2 pm, barulah kelihatan itu anak dengan muka memelasnya. Usut punya usut, dia ditahan gara-gara namanya "Abdul Rohim". Sempet ditanya oleh petugas imigrasi, ini pertama kali anda datang ke Singapore?, sampai-sampai digeledah juga, cek sidik jari, dan sebagainya. Katanya si pelaku sendiri, ada banyak orang yang masuk Singapore dengan nama paspor yang sama. Nah lo!. Saat mau di cek ke Indonesia, apakah orang ini benar-benar berangkat dari sana, ternyata di Indonesia internetnya offline mode. Ealaaah..negaraku. Nah, karena keterlambatan kami keluar Changi, bus jemputan yang sekiranya mengangkut kami sudah berangkat duluan. Jadilah, selama setengah jam berikutnya kami harus menunggu jemputan bis yang selanjutnya. Makasih banyak lo Cim!...

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...