Rabu, 09 Juni 2010

The Dazzling Singapore (Part 5), Nonton Trois di Merlion Park

Berjalan menyusuri trotoar dari Esplanade menuju Merlion Park tidak membutuhkan waktu yang lama. Deket koq, sekitar 200 meteran saja. apalagi ngeliat disepanjang trotoar terhampar Marina Bay Sands, sebuah resort terpadu yang lagi gencar-gencarnya dipromosikan. Terkenal katanya karena ada kasinonya. Denger cerita dari rekan seperjalanan saya yang sempet mampir ke Marina Bay, sih.. katanya gak boleh masuk. Harus pake baju pesta dulu. hahaha... pulang dengan tangan hampa tuh.

Kalau belum tahu yang mana yang namanya Marina Bay Sands, itu hotel, yang ada bentuk kapal pesiarnya di atasnya, ditopang sebanyak 3 pilar. Sering koq muncul di surat kabar nasional, diiklanin. Plus Apartement juga kayaknya.. tapi ya gak tau tuh, berapa puluh milyar punya sepetak kamar disono. Sempet menduga-duga.. itu bangunan kapal segede itu nangkring di atas hotel kenapa yak?.. Apa gara-gara tsunami 2004 Aceh yang lalu, salah satu kapal pesiar milik Indonesia terdampar di atas sono... (doh.. ini ngarang!).
Hemm.. Anyway, cukup untuk Marina-nya. Kata orang, gak afdhol kalo ke Singapore gak foto bareng Merlion. Jadilah, perjalanan ini disetting supaya sempet ke Merlion. Buat foto-foto ama "singa muntah" - kata temen saya bilang.

Ini nih, Merlion dari dekat. Badannya gak proporsional.. aneh.. (sampai berita ini diturunkan, saya masih sibuk mencari nama ilmiah untuk spesies ini) :P

Ini signboardnya Merlion Park.. Penting ya pemerintah Singapore mpe bikin venue yang menyatakan kalo belon kesini belon pernah ke Singapore..

Patung Singa Merlion terletak di Merlion Park di Fullerton Road. Masih satu kompleks dengan One Fullerton -Tempat makan-makan yang suasananya terbuka. Sebenernya, baca dari sign nya, Merlion park ini didirikan oleh pertama kali pada 15 September tahun 1972 oleh perdana menteri Singapore, Lee Kuan Yew sebagai tanda bahwa pengunjung pernah datang ke Singapore. Merlion sendiri berasal dari kata mermaid (putri duyung) dan Lion (singa). Persis ama lambang patungnya sendiri, separuh singa, separuh ikan. Terus, patung merlion yang asli sendiri adalah yang bentuknya kecil (di tengah kolam samping tulisan One Fullerton). Patung ini didirikan terlebih dahulu. Nah, patung yang besar, yang sama-sama muntahin aer gerojogan.. itu didirikan beberapa tahun setelahnya. mungkin minder kali yee, monumen koq kecil. jadinya dibikin yang gede. Sekalian mantab jaya!.
ini merlion yang asli.. lebih imut-imut tapi sama-sama muntahin aer
Berhubung lagi ada event Singapore Art Festival, kami tak sengaja menemukan teater jalanan. dipentaskan di anjungan depan Merlion (ini biasanya buat tempat foto-foto). Judulnya Trois. Plus, ada gratisan juga Coke sebagai salah satu sponsor (mungkin) dalam event ini. lumayaaan, dapat sekaleng diet coke gratis, pas haus, dan mengirit 2SGD

Trois, karya seni yang memanjakan indera penglihatan dan pendengaran. Kombinasi antara topeng, boneka kayu, egrang, dan beberapa komponen kertas - kardus - dan besi. Dimainkan secara apik oleh dua orang. Dan diiringi dengan dentingan musik piano yang merdu, menarik pandangan mata sekilas bagi orang-orang yang lewat. Trois memadukan konsep pantomim, dengan menggunakan pertunjukan boneka marionette (Boneka kayu, yang dimainkan dengan tali-tali panjang yang diikatkan pada sebuah kayu kemudi). Luar biasanya adalah kedua aktor tersebt memainkan perannya dengan baik sekali. Si boneka (aktor yang berbaju putih) gerakan badan, tangan, kepala dan kakinya sesuai dengan arah gerak kayu kemudi yang dimainkan oleh aktor yang ber-egrang. Adegan pertama munculnya kedua aktor ini juga tak disangka-sangka. Sebab, pembukaan pertama dimulai dengan terlepasnya kertas semen yang melilit tubuh si jubah putih, (tonggak besi seperti rangka payung itu terus berputar, mengingatkan saya pada mainan yang biasanya digantung di kereta bayi). Kemudian si aktor berbaju coklat, yang tadinya berbaring di bagian belakang tiba-tiba bergerak maju. saya nggak nyangka kalau itu orang, sebab saya pikir tadinya itu hanya patung biasa. Benar-benar mengejutkan. Ceritanya saya gak begitu jelas (mungkin karena gak ada rasa seninya kali ya?).. tapi kurang lebih saya nangkepnya gini. Itu aktor jubah putih, dalam suatu kondisi putus asa, tidak tahu harus bagaimana, kosong... datanglah sang baju coklat, kemudian mengendalikannya, sesuai dengan kemauannya. Bahkan saking atraktifnya, sang baju coklat pun mengajak penonton untuk menjadi boneka yang diminta bergerak sesuai arahan kayu kemudinya. Paduan denting musik yang lemah, lalu mengeras tiba-tiba, benar-benar tersaji sebagai karya seni yang elegan bagi saya -meskipun ditampilkan di trotoar.






Ini benar-benar keliatan kompak antara gerakannya si jubah putih dan gerakan kayu kemudi si baju coklat beregrang

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...