Jumat, 25 Juni 2010

Delayed yang Keterlaluan

Dalam tulisan saya ini saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan salah satu pihak, ini hanyalah ungkapan sedikit kekecewaan pelanggan atas layanan yang diterima. Nama ataupun merek yang ada di tulisan ini sengaja disamarkan.

Mulanya saya memang sengaja untuk early check in supaya nggak terburu-buru dan bisa bebas memilih tempat duduk. Memang, keputusan itu tepat pada awalnya karena saya mendapatkan kursi dengan nomor tempat duduk 7A. Nomor favorit saya, dengan posisi tepat di sebelah jendela, bagian depan pula. Jadi bisa turun duluan.
Di boarding pass saya tertulis boarding time pukul 19.35 wib, dari UPG menuju SBY. Ini adalah pengalaman ketiga saya menggunakan maskapai Gemak* Indonesia (GI), dan dalam ketiga kali kesempatan itu, untuk layanan jurusan yang sama pasti selalu delayed. Namun, untuk kali ini saya rasakan ini yang paling parah. Apalagi, mengingat nama besar Gemak yang merupakan salah satu maskapai penerbangan besar di Indonesia.
Awalnya, pada pukul 18.00 dari pengeras suara maupun di layar TV diumumkan kalau pesawat dengan nomor penerbangan GI6** tujuan Surabaya berangkat terlambat karena alasan operaisonal (*ini alasan klasik banget, kalau delayed yang dipakai buat beralasan adalah operasionalnya... doh!, pecat aja manajer operasionalnya). Pesawat akan diterbangkan pada pukul 20.05 melalui pintu nomor 1 di Sultan Hasanuddin. Okelah, saya bisa terima.
Tapi, begitu pukul 19.00 saya masuk boarding gate pintu 1. Di layar diumumkan bahwa penerbangan terebut delayed sampai pukul 20.40. Molor satu jam lebih dari yang tertulis di boarding pass. Ini menurut saya sudah terlalu lama.. apalagi buat saya yang tadi early check in.
Sebagai kompensasi, pihak GI bertanggung jawab memberikan layanan berupa snack dan minuman untuk penumpang (ini diatur dalam undang-undang). Jadilah, lumayan agak reda. Begitu masuk pukul 20.10, diumumkan lewat pengeras suara bahwa boarding gate pindah ke pintu nomor dua. Nah, pengalaman berpindah-pindah gate ini sangat sering terjadi di Bandara yang katanya berstatus Internasional ini.. Nggak cuman satu maskapai itu, tapi hampir semuanya saya pernah mengalami.
Nah.. ternyata, jam 20.15 pesawatnya baru saja datang dari Jakarta (melayani rute CGK-UPG). Alasannya sama : masalah operasional. Jadi saya harus menunggu 20 menitan sebelum pesawat itu siap. Memang tepat 20.40 para penumpang diperkenankan masuk. Penumpang yang rata-rata bapak-bapak (pebisnis/pengusaha) pada ngomel-ngomel sama mas-mas yang ngurusin boarding. Apalagi untuk alasan keamanan, penumpang diminta menunjukkan KTP untuk kedua kalinya. Makin lama deh naik pesawatnya...(*yang ini bagus diterapkan dalam kondisi tidak delayed dan penumpang tidak emosi). Sampai di dalam pesawat.. ternyata harus menunggu lagi.. apa coba?.
Ada satu penumpang yang tidak teridentifikasi. Anak kecil, usia lebih dari 2 tahun, bareng ama orang tuanya.. ternyata tidak dibelikan tiket. Penumpang ini (sekeluarga) merupakan penumpang transfer dari maskapai lain (yang lower budget), yang sebelumnya di maskapai lain itu si anak dianggap gratis (mungkin gara-gara pemesanan tiket orang tuanya nggak jujur memasukkan anaknya yang usianya lebih dari 2 tahun). Jadilah.. emosi penumpang pun tersulut. Pilihan bagi orang tua si anak cuman dua : Si Anak diturunkan.. atau si Anak membayar kelas bisnis (karena kelas ekonomi habis seat-nya). Bapak-bapak yang duduk di depan saya ngomel-ngomel, "Ngurusin satu orang aja lama banget, Nggak profesional!". Sedangkan ibu-ibu di samping saya sampai kasihan, bilang ke penumpang lain didekatnya.. "Sudahlah, kita iuran aja..daripada nggak berangkat).
Waduw.... saya memilih menenggelamkan diri diantara lembaran koran Kompas yang saya baca.... saya nggak tahu gimana kesimpulannya, yang jelas baru pukul 21.30 (lewat 2 jam dari jadwal), pesawat ini resmi meninggalkan UPG...
Dari pihak maskapai berulang kali memang mengucapkan kata maaf mulai dari boarding sampai mbak-mbak pramugari diatas pesawat. Cuman ya apa mereka memikirkan resikonya?
Saat ambil bagasi, di sebelah saya ada ibu-ibu membawa 3 orang anaknya. 2 anak perempuan sekitar kelas 3SD dan 4SD dan 1 anak laki usia TK. Anak laki-lakinya ini bandel banget, main-main diatas conveyor belt yang belum jalan. Tiba-tiba telepon si ibu berdering, sempet saya denger percakapan dari ibu itu yang intinya adalah dia sudah ditunggu oleh pihak travel (karena ibu itu dari SBY mau melanjutkan ke satu kota di Jawa Timur). Si Ibu, dari logatnya asli Makassar, belum pernah ke kota tersebut, dan dia hanya tahu jalan menuju ke tempat travel itu. Keputusan akhirnya, karena si ibu sekeluarga kelamaan ditunggu, akhirnya mereka ditinggal oleh travel. Saya membayangkan bagaimana rasanya, membawa 3 anak, belum barang bawaannya yang banyak, udah beli tiket travel tapi hangus,.. dan terakhir saya dengar sih, Ibu dan anak-anaknya akan menuju stasiun kereta api untuk memebeli tiket jurusan pada jadwal yang terdekat..
Saya sendiri.. melirik jam, sudah pukul 22.00 WIB.. berusaha optimis, bahwa saya masih bisa mendapatkan bus ke Jogja karena hari ini, saya sudah berencana pulang...


*Gemak = dalam bahasa jawa berarti burung puyuh, mengibaratkan burung yang tidak bisa terbang tinggi

1 komentar:

arqu3fiq mengatakan...

Gemak? baru dengar kalau itu artinya manuk puyuh.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...