Kamis, 17 Juni 2010

Sebuah Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia

Sepertinya dua hari terakhir saya senang menghubungkan antara kejadian yang saya alami dengan lagu yang lebih cocok disebut soundtrack of the day... Seperti malam ini, ketika saya menghabiskan sisa bacaan saya berjudul Totto Chan's Children, A goodwill Journey to the Children of the World. ditemani oleh lagu OST FIFA World Cup yang dinyanyikan shakira judulnya Waka-Waka.

Tsamina mina zangalewa
cuz it is Africa

Tsamina mina eh eh..
Waka Waka eh eh..
Tsamina mina zangalewa...

Ana Wa A a..

Memang sih, dengan isi buku yang saya baca jauh menyimpang dari suasananya.. namun, dari segi settingnya (Africa) sepertinya sesuai dengan isi buku yang saya pinjem dari teman saya. Totto Chan's Children merupakan buku kedua dari seri Totto Chan, yang ditulis oleh pelakunya sendiri yaitu Tetsuko Kuroyanagi. Buku pertama, Totto Chan : Gadis Cilik di Jendela, saya sudah selesai membaca saat saya masih duduk di sekolah menengah.. Dua buku yang sama-sama boleh minjem dari temen, tetapi sangat berbeda isinya. Buku pertama mengisahkan tentang masa kecil penulis (panggilannya waktu kecil Totto, Chan - embel-embel di belakang nama yang merujuk pada sebutan 'milik' bagi orang Jepang... misal; Chibi Maruko-Chan, Shin-Chan, Mey-Chan). Buku pertamanya lebih bercerita tentang keadaan sekolah di masa kecil penulis, bagaimana sistem pendidikannya, kenangan masa kecil, berdasarkan kisah nyata yang disajikan dalam sebuah cerita. Membaca buku pertama tersebut seakan-akan pembaca diajak terjun dan menyelami ribuan huruf untuk merasakan sendiri apa yang penulisnya alami. Bahkan enam tahun dari saya pertama kali membaca buku yang pertama tersebut, saya masih mengingat beberapa kejadian seperti saat Totto Chan belajar di gerbong kereta, pendidikan di alam terbuka, dan bagaimana orang Jepang dahulu mendidik anak-anaknya.
Buku yang kedua ini berbeda. Di bagian belakang cover, previewnya disebutkan bahwa Totto Chan kini sudah beranjak dewasa. Dia ditawari oleh badan kemanusiaan dunia khusus Anak-anak, UNICEF, untuk menjadi duta kemanusiaan. Sepanjang UNICEF berdiri, hanya 6 orang saja yang pernah menduduki jabatan Duta Kemanusiaan untuk anak anak, per periode, dengan gaji hanya SATU Dollar per bulan..
Di dalam bukunya yang kedua ini, Tetsuko (atau Totto-Chan) menuangkan pengalamannya menjadi duta kemanusiaan selama tahun 1984 hingga 1996. Dia mengunjungi 14 negara, menyaksikan sendiri bagaimana mirisnya kehidupan anak-anak, dan ibunya, di negara-negara yang notabenenya termasuk negara yang miskin, atau negara konflik. Sebagai duta kemanusiaan, Totto chan membagikan kasih sayangnya kepada anak-anak di dunia, dan bahkan dalam prolognya, ia mempersembahkan buku kedua ini untuk 180 juta anak yang meninggal karena kelaparan, kemiskinan, sakit, dan korban perang.
dalam buku ini, total ada sebanyak 14 negara di kawasan Afrika dan Asia ia kunjungi, mulai dari Tanzania, Nigeria, India, Mozambik, Kamboja, Vietnam, Angola, Bangladesh, Irak, Etiopia, Sudan, Rwanda, Haiti, dan Boznia-Herzegovina.
Dengan kisah khas masing-masing, dengan cerita yang mengharukan di masing-masing negara, Totto Chan menceritakan dalam kisah catatan harian. Yang pasti, pembacanya akan diajak menyelami betapa masih banyak anak-anak dengan kondisi yang jauh dari layak, jauh dari yang kita bayangkan.
Saya terhanyut ketika membaca di Boznia, anak usia 8 tahun sudah dipaksa menjadi tentara perang. Atau di Haiti, anak usia 12 tahun banyak yang menjadi pelacur sebagai profesi mereka, dengan resiko HIV AIDS (72% pelacur Haiti terjangkit HIV/AIDS), Atau kisah di Tanzania, negara dengan curah hujan 2,5 cm pertahun.. dimana air menjadi barang yang langka, bahkan untuk mengambil air kotor berlumpur saja harus menempuh 6,8 kilometer.. Di India, kasus penyakit polio atau tetanus yang menjangkiti anak-anak, ribuan anak meninggal karena tak adanya vaksin, ketidak tahuan, hingga karena masalah kemiskinan.
Membaca buku ini membuat saya bersyukur dengan apa yang saya alami, masa kecil saya. Saya tidak harus merasakan perang, hidup tanpa air, atau tidak harus menjajakan diri hanya untuk mempertahankan hidup. Apalagi ditambah dengan foto-foto yang membuat saya miris, anak dengan tulang menonjol di sana-sini, hidrocephalus, perut buncit dan rambut merah, membuat buku ini menjadi semakin bernilai. Saya sendiri salut dengan perjuangan Totto Chan yang mendedikasikan dirinya untuk anak-anak di dunia.. bahkan sebagian dari hasil penjualan buku ini didedikasikan untuk anak-anak dunia melalui UNICEF.
dan terakhir, mengutip status salah seorang teman di FBnya..

bersyukurlah kita dianugerahi MATA..
Melihat ke bawah agar kita bersyukur dengan kondisi sekarang.
Melihat ke atas agar kita termotivasi.
Melihat ke belakang agar kita belajar dari kesalahan.
Melihat ke depan agar kita menyambutnya dengan semangat.

Dan.. Melihat ke samping... kalau mau nyebrang :P

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...