Selasa, 27 Juli 2010

Berwisata Sejarah di Fort Rotterdam

Salah satu yang nggak boleh kelewat ketika singgah di Makassar adalah wisata sejarahnya. Ada beberapa spot menarik di kota ini, yang salah satunya sempat saya kunjungi beberapa waktu yang lalu. Fort Rotterdam, orang-orang sekitar menyebut benteng Rotterdam, atau benteng jum pandang (Ujung Pandang.red). Lokasinya sangat strategis, dekat dengan pusat kota, berada agak di tepi pantai Losari.


Ada yang unik dari benteng Rotterdam ini, yaitu bentuk landscape keseluruhan benteng bila dilihat dari atas seperti penyu yang sedang merangkak. Ternyata, ini ada filosofinya, ketika benteng ini pertama kali didirikan oleh Raja Gowa pada sekitar abad 14, bentuk penyu ini mengibaratkan bahwa binatang ini dapat hidup di darat maupun di lautan. Maksudnya, begitu pula dengan kerajaan Gowa yang bisa menguasai darat maupun lautannya.
Setelah Belanda berhasil menduduki ujung pandang beberapa ratus tahun yang lalu, benteng ini akhirnya dikuasai oleh Belanda melalui perjanjian Bungaya. Benteng ini kemudian dinamakan Fort Rotterdam oleh Cornelis Speelman. Ini dimaksudkan untuk mengenang tempat kelahirannya dahulu di Rotterdam, Belanda.
Untuk menuju lokasi ini, cukup berjalan kaki dari anjungan Pantai Losari ke arah utara, sekitar 10 menit. Benteng ini terletak di sebelah timur jalan, dengan penanda patung pangeran Diponegoro naik kuda (atau malah Sultan Hasanuddin ya?... saya lupa. hehehe). Yang jelas, bentuk pintu masuknya yang khas Belanda, sangat mudah dikenali.
Begitu masuk, kita akan diminta mengisi buku tamu dan membayar bea perawatan museum seikhlasnya. Ini terserah kita mau ngasih berapa, tiga ribu kek.. lima ribu kek, kalo mau kasih sejuta pasti bakal dianterin plus ditraktir makan ama yang jaga deh. hahaha.. Nah, disini banyak guide dadakan yang menawarkan jasanya menemani mengelilingi benteng. Namun saya lebih senang memilih sendirian aja sih, biar nggak repot.. (alasan sebenarnya karena lagi bokek, gak ada duit buat bayar guide).
Jujur, saya agak serem keliling di benteng tua itu. Meskipun beberapa bangunan masih dalam keadaan bagus, dan berfungsi, tapi suasana seram benteng itu benar-benar terasa walaupun itu siang hari, panas terik. Entah karena sepinya pengunjung, atau emang benteng itu menyimpan sejarah yang cukup lama, tapi benar-benar cukup merinding sih jalan sendirian keliling benteng. Di benteng itu, ada beberapa bangunan utama. Ada gereja di tengah taman, ada beberapa bangunan museum yang namanya museum La Galigo, ada beberapa yang dijadikan kantor. Di museum sendiri, sebenernya banyak ditemukan berbagai diorama dan alat peraga. Misal, ruang pamer alat-alat perikanan dari jaman dulu, termasuk replika kapal tongkang (kapal kayu panjang), terus ada lagi alat peraga pertanian, cangkul bajak, dan sebagainya. Bahkan ada juga berbagai jenis hasil panen, beras dengan macam varietas, cengkeh, rempah-repah dan banyak lainnya.
Masuk ke lantai 2 museum, ditemukan juga beberapa peraga boneka berbaju adat masing masing suku di Sulawesi. Suku Bugis, Dayak, Toraja, lengkap dengan senjata adat dan miniatur pelaminan. Ada keterangan yang cukup detail di masing-masing peraga.
Tapi sekali lagi, serem banget ke museum ini sendirian.. apalagi kalo jalan di lantai 2, dengan lantai kayu dan bentuk ruangan seperti itu, maka langkah kaki terdengar menggema dan menambah seram suasana. Itu siang hari loh!. Ini bukan saya yang penakut, tapi denger cerita juga, di benteng inilah dulunya Pangeran Diponegoro diasingkan dan ditahan oleh Belanda kemudian pada akhirnya meninggal dunia. Ada juga yang bilang, kalo disini juga disimpan dua mumi manusia yang masih utuh. Boro-boro ngecek dan ngeliat muminya, denger ceritanya aja udah merinding. hahahaha....
Penasaran?.. mampir aja kapan-kapan!

5 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kirain di Belanda...hehhee.

Gaphe mengatakan...

berasa di Belanda mbak!. wkwkwk

om rame mengatakan...

nama bentengnya karena peninggaLan beLanda makanya disebut demikian yah sob?, nuansa Lokasinya agak ke eropa-eropaan juga sih sob.
terima kasih atas sharenya.
ijin menjadi foLLower di bLog ini, saLam kenaL.

Mamisinga mengatakan...

aaahhh aku dah prnah ke sana.. keren lho kalo pas sore-sore ke sana, serasa jaman dulu bgt.. hehe..

Gaphe mengatakan...

@Om Rame.. hahaha, bukan juga.. itu pernah diambilalih belanda makanya dimanai gitu...thanks 4 following
@mamisinga..iyo mi, kapan kita kesini lagi ji?. (logat makassar)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...