Rabu, 28 Juli 2010

Pantai Losari dan Cerita Tentang Mie Kuah

Pantai Losari, atau akan jauh lebih mudah bagi orang Makassar untuk menunjukkan arah lokasinya bila kita menyebutkan Anjungan Pantai Losari, adalah satu tempat wajib foto bagi wisatawan yang datang ke kota Daeng ini. Apalagi dengan ditandai huruf-huruf yang terbuat dari fiber besar berfarna putih membentuk rangkaian P.A.N.T.A.I L.O.S.A.R.I. menjadikan kawasan ini sebagai tempat yang harus bisa dibuktikan oleh seseorang yang mengaku pernah ke Makassar. Saking seringnya saya lewat kawasan ini, saya sampai punya foto Pantai Losari ini dari rentang waktu yang berbeda. Sebetulnya tidak ada yang spesial dari pantai ini menurut saya, tidak ada pasir putih, tidak ada ombak yang menyapu kaki-kaki telanjang, tidak ada kepiting berlarian. Bahkan, pinggir pantainya dibentengi tembok beton penahan ombak. Namun yang menarik dari Pantai Losari ini adalah pemandangan matahari tenggelamnya yang sayang untuk dilewatkan.

Pantai Losari di Pagi hari

Pantai Losari di Sore Hari

Pantai Losari di Malam Hari

Anjungan Pantai Losari sendiri sepertinya memang sengaja dibikin sebagai ruang publik berupa tempat terbuka, yang memang tujuan utamanya sebagai tempat berkumpul. Sedikit gambaran, pgi hari biasanya pantai ini digunakan untuk orang-orang yang berolahraga. Entah lari jogging, senam, atau sekedar duduk-duduk menikmati angin laut. Agak siang dikit, pantai ini sepi. Jarang banget ada pengunjungnya, kalopun ada itu hanya satu dua. Mengapa?.. karena udara dan cuacanya sangat panas. Sore, menjelang maghrib, pantai ini penuh dengan pengunjung dengan latar belakang dan usia yang beragam. Mereka datang, untuk menikmati indahnya pemandangan matahari yang terbenam. Sedangkan malam hari, pantai ini ramai dikuasai oleh pedagang asongan, pedagang obat, dan muda-mudi yang lagi demen-demennya cinta-cintaan. Malam hari pula kawasan ini jadi benar-benar hidup, ditemani hentakan suara bising musik di beberapa sudut, ramainya warung makan (karena malam hari, kebiasaan orang Makassar cari makan di luar), sampai macetnya lalu lintas. Ya, benar.. macet nggak cuman ditemui di Jakarta, tapi di Losari juga terjadi, terutama pukul 8-9 malam. Gara-garanya sih banyak mobil yang parkir di depan tempat makan yang tersebar di pinggir-pinggir jalan.

"P" Stands for Pratama... sayang nggak ada huruf Y atau G

Suasana malam di Losari juga semakin meriah terutama pada saat-saat tertentu semisal pas malam minggu, atau liburan. Sebab, tak jarang event-event besar seperti pagelaran musik yang disponsori oleh rokok, motor, atau bahkan acara pemerintah, menggunakan Anjungan Pantai Losari sebagai tempatnya. Biasanya panggung akan didirikan persis di depan tulisan Pantai Losari, dan tentu sepeti kebiasaan orang Indonesia nonton layar tancep alias Misbar (gerimis bubar), pasti seusai acara trsebut kawasan ini jadi penuh dengan sampah. Terus terang, pantai Losari sendiri memanjang ke arah utara, dan ada trotoar cukup lebar di pinggirnya sebelum masuk ke jalan raya. Hampir mirip Kuta, Bali, hanya saja NO SAND at all... lagian, di sepanjang hamparan tembok beton itu benar-benar isinya cuman sampah plastik dan kulit kacang. Maklum, kalo malem, banyak tukang jual pisang epe dan kacang rebus disini. Jadinya, sambil pacaran juga pada nyemil kacang.. trus buang gitu aja deh. Nah, satu kejadian minggu kemarin yang hampir menewaskan saya adalah.. saya lagi jalan di sepanjang trotoar pantai ini untuk cari makan, di pinggir trotoar ditanami pohon kelapa tinggi menjulang di sepanjang pantai. Lagi asyik-asyik jalan, tiba-tiba ada kelapa jatuh tepat disamping kaki kanan saya dengan suara keras. Jaraknya saja cuman beberapa senti, bunyinya mengagetkan. Untung saja saya jalan agak ke pinggir pantai.. coba saya jalannya agak kepinggir jalan, pasti udah kena itu kelapa. Sedetik setelah kelapa itu jatuh, orang-orang disekitar situ dari jauh ngeliatin saya.. saya sempet ndenger tu orang bilang : wah bahaya tuh kalo kena...*Sigh..bukan bahaya lagi mah!*. Saya cuman menggerutu... siapa sih yang nanem itu pohon kelapa.. bukan amal jariyah, tapi dosa jariyah tuh!... selama itu kelapa ada, selama itu pula potensi bahaya mengancam. Nggak heran, lebih banyak orang mati gara-gara kejatuhan kelapa daripada digigit hiu tuh!.
Anyway, ada satu hal lagi yang saya pengen cerita tentang Makassar, yaitu tentang Mie -nya. Kebetulan juga, sebagai penyuka berat segala jenis mie, saya mesti menyempatkan untuk nyicipin mie dimanapun ada yang ngejual. Bukan Mie kering Titi lagi, tapi mie yang laen. Jujur, saya nggak cocok ama mie yang dijual di Makassar, entah mie gorengnya atau mie rebusnya (ini saya cerita masakan lokal yaa, bukan mie franchise atau fast food yang nyediain mie). Saya sudah beberapa kali makan "mie lokal" di Makassar ini, baik dalam bentuk mie bakso, mie goreng, atau mie kuah (mie rebus), belum ada yang benar-benar cocok di lidah. Bentuk mie-nya memang seperti mie pada umumnya, tapi teksturnya sangat kenyal mendekati keras, mirip karet gelang direbus.. Di beberapa tempat bentuk mienya sama kayak gitu, meski yang jual ato yang bikin mienya beda-beda. Ternyata, setelah saya tanya sama orang yang sudah 15 tahun ada di Makassar (beliau bukan orang Makassar dulunya), memang benar mie disini khasnya kayak gitu, keras dan kenyal. Justru bagi orang sini, mie yang seperti itulah yang mereka sukai. Jika orang Makassar bepergian misalnya, mereka akan kangen dengan mie Makassar yang seperti itu.

Ini salah satu bentuk mie kuah yang saya ceritakan

Kalo bingung ngebayangin gimana, tahu spaghetti kan?. Nah, spaghetti itu kan enaknya disajikan dikasih saus. Apalagi kalo masaknya al dente (kekenyalannya pas). Nah, mie yang saya sering makan itu mirip spaghetti, dimasak bentar mendekati (tapi belum) al dente, tapi dikasih kuah (misal di mie kuah atau di bakso). Rada aneh bagi saya rasanya.. tapi saya sih positive thinking aja, mungkin emang belon nemu mie yang enak di Makassar. Ada yang tahu dimana yang jual mie yang enak di Makassar?.

10 komentar:

cipu mengatakan...

Hehehehe Bravo Yog...

Gua yang tinggal di Makassar aja ga pernah bikin tulisan tentang Makassar se komprehensif ini. Hehehehe......

Miss Diskon mengatakan...

weew.....jalan2 yg mantab!!!
futu-futunnya juga keren2 ^_^

Kalo lagi di seputaran jalan Aceh Bandung, jangan sampai kelewat mampir ke Warung Mbah Jingkrak ...

rahma mengatakan...

waaa pengen ke makassar!!
*perasaan kalo ada postingan surabaya jadi pengen ke surabaya, makassar jadi pengen ke makassar deh gw hahaa..
nice travelling and nice story bung :)

fanny mengatakan...

keren pantainya nih

Vivieck mengatakan...

jadi pengen maen ke makassar...hehe....
salam kenal sob.....

mixedfresh mengatakan...

what a beautiful sunset..

rita asmara mengatakan...

pemandangannya indah2..

Gaphe mengatakan...

#Cipu = Makanya bikin donk!.. hahahaaa... saya aja yang belon pernah tinggal di Ostrali, nggak pernah bikin tulisan sekomprehensif kamu :P

#Miss Diskon = Info Kuliner blog kamu juga mantab..

#Rahma = Ayoo ikut aja.. :P

#Mbak Fanny = aah, biasa koq mbak.. fotonya aja keliatan bagus.. siapa dulu doonk. hahaha

#ViVieck = Mari main.. kan deket, Pontianak ke Makassar *butapeta*

#MixedFresh = Sunsetnya yang indah emang...

#Rita = hehe... sekali lagi karena fotonya agak menipu... coba sekali-kali kesana deh.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

jadi pengen makan mie kuah nih

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met hari minggu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...