Sabtu, 14 Agustus 2010

Mudik, Dana Darurat, dan Asuransi

Senang rasanya pagi ini menghirup udara segar di Jogja. Apalagi barusan, Jogja habis diguyur ujan yang cukup lebat dan merata.. Sepanjang perjalanan ke Jogja tadi, dari Jalan Solo sampai ke rumah semua aspal basah dan masih banyak genangan air. Sahur hari ini pun saya lalui dengan anggota keluarga yang kumpul lengkap, Ayah kebetulan juga pulang dari Jakarta.
Yang namanya mudik pasti diasosiasikan sebagai kegiatan pulang kembali ke kampung halaman. Bagi perantau seperti saya, mudik menjadi satu keharusan. Meskipun sekarang sebenarnya saya lebih suka menyebut "pulang ke Jogja" dibandingkan dengan menggunakan istilah "mudik". Mengapa demikian?, soalnya dalam pikiran liar saya, yang namanya mudik itu saya gambarkan sebagai orang yang menggotong-gotong karung beras, pisang setandan, dan menenteng ayam jago. hehehe, pikiran saya terlalu dangkal yak.. Lagian, Surabaya - Jogja juga cuman deket jaraknya. Nggak terlalu lama juga ditempuhnya, makanya istilah mudik bagi saya agak kurang cocok diterapkan.
Sudah hampir dua bulan sebenarnya saya nggak pulang Jogja, dan itu sudah terasa lama. Apalagi kebiasaan saya semenjak kerja dari dulu selalu menyempatkan setiap bulan sekali harus pulang ke Jogja. Terakhir kemaren pulang, saya cerita tentang makan pizza di sini. Dan karena cuti saya untuk tanggal 16 Agustus nanti dikabulkan, praktis saya jadi long weekend di Jogja. Asyiik.. karena nggak pake upacara-upacara lagi maka puas-puasin deh maen-maen di Jogjanya. Kayaknya nikmat ya?.. tapi kenikmatan ini nggak gratis laah. Harus ada pengorbanan alias harus ada duit yang keluar buat menebus ini semua. Minimal beli tiket pulang pergi Surabaya-Jogja, plus biaya transportasi lokal. Anggep deh, makan di rumah jadi nggak usah ngeluarin duit buat makan-makan kecuali pengen makan diluar.
Nah, ngomong-ngomong soal duit juga.. untung bagi saya karena pulang Jogja itu terjadwal, setidaknya jauh hari sudah harus nyiapin duitnya. Jadi, karena sebenernya jatah pulang itu sebulan sekali, dan bulan Juli kemaren nggak kepake, maka duitnya agak longgar kali ini. Bisa buat macem-macem. hehehehe.. Bicara tentang duit juga, tadi sore saya dan atasan saya yang dulu pernah saya ceritakan kekunci di luar kantor (di sini) debat ngotot-ngototan masalah duit asuransi. Pasalnya, bos saya itu nyaranin ke saya buat ikut asuransi jaminan hari tua. Nah, bos saya ini udah ikut satu asuransi, tiap bulan setor duit ke asuransinya itu dalam jangka waktu 10 tahun (angsuran tetap). Sama perusahaan asuransinya itu duit diputer dan diinvestasikan dalam bentuk saham. Sepuluh tahun kedepan sih katanya kalo diambil bisa dapet jauh lebih banyak daripada total akumulasi setoran kita. Atau minimal, jika dalam kondisi perusahaan asuransi itu tidak bisa memenuhi kewajibannya.. duit itu akan utuh dikembalikan ke kita sesuai dengan total akumulasi yang kita setorkan.
Cuman, bagi saya sekarang, saya sih lagi memprioritaskan mengejar tabungan dana darurat. Ini sih bagi saya wajib ada dulu deh, sebab kalau-kalau dalam kondisi yang nggak diprediksi nantinya saya nggak perlu kelabakan minjem sana-minjem sini. Barulah, asuransi nomor dua. Lagian untuk sekarang asuransi udah kecover ama perusahaan koq. Saya juga nggak ada tanggungan kayak bos saya, belon ada anak istri yang kudu dinafkahi. Jadi, so far asuransi itu nomor dua. Alasannya, misal saya ikut asuransi itu tapi kondisi dana darurat itu belon ada. Dan ternyata suatu ketika ada kondisi yang menyebabkan saya terhenti mendapatkan penghasilan. Darimana saya akan nyetor uang untuk asuransi coba?. Kata bos saya sih nggak masalah kalo kayak gitu.. toh duit asuransinya bisa cair koq kalo kita nggak bisa bayar iuran rutin per bulannya. Tapi cairnya seberapa banyak?.. kalo sesuai dengan yang udah kita setor mah sama aja merugi kan?. Emang nggak mempertimbangkan inflasi?. Trus bagi hasil investasinya kemana?..
Karena alasan itulah maka saya kekeuh ama pendapat saya kalo dana darurat itu lebih penting. Nah, sekedar info aja. Untuk besaran dana darurat itu dihitung dari rata-rata pengeluaran rutin kita per bulan dan tergantung status kita juga. Kalo pendapatan (gaji) kita tetap perbulannya, untuk yang masih single seperti saya, maka dana daruratnya paling nggak 3-4 bulan pengeluaran bulanan. Kalo udah kawin belon beranak, sekitar 6 kali pengeluaran bulanan. Trus, beda lagi kalo pendapatan kita nggak tetap. Maka, dana cadangannya harus lebih besar. Bisa sampe 8-12 kali pengeluaran per bulan.

Contoh kasus gini.. cerita ini fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh dan kejadian hanya kebetulan semata.

Saya, penghasilan sebulan 3 juta rupiah. Sedangkan pengeluaran saya per bulan 5 Juta rupiah. Karena saya masih single, maka dana darurat yang harus saya sisihkan adalah 15 - 20 Juta Rupiah.
pertanyaannya adalah : duitnya darimanaaa??..
hehehehe..

Mungkin pada bertanya-tanya, ngapain sih kudu nyiapin dana darurat?. Namanya juga dana darurat, dalam kondisi sangat terdesak baru dana itu bisa dimanfaatkan. Misal nih, kena PHK. Setidaknya kita masih bisa hidup selama 3-4 bulan tanpa bergantung dengan utang atau belas kasihan tetangga. Masa dalam 3-4 bulan nggak bisa nyari kerjaan baru sih?.. Gitu. Dan, kalo udah terkumpul dana daruratnya juga bisa diinvestasikan dalam bentuk yang likuiditasnya tinggi misal kek tabungan atau deposito bulanan. Jadi sewaktu-waktu butuh bisa diambil. Hmm.. tahu Helmy Yahya kan?. Dia sendiri katanya punya dana darurat bahkan sampai 4 tahun. Jadi semisal bisnisnya bangkrut pun, dia masih bisa bertahan ampe 4 tahun. Bayangin pentingnya dana darurat kan?..

Jadi, sembari saya ngos-ngosan ngumpulin duit buat dana cadangan saya.. sebetulnya kalo menurut pembaca, mana sih yang lebih penting antara asuransi dan dana darurat?

12 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

asuransi penting tapi kalo belum cukup sebaiknya jangan asuransi karena kalo gak diterusin, preminya hangus deh.

mixedfresh mengatakan...

Sebaiknya tetap hati-hati kalau milih asuransi....Bisa2 bukannya untung yang didapat tapi uang melayang....Mungkin nyari tabungan yang berikan asuransi jiwa bisa mendukung....

windflowers mengatakan...

mending ambil tabungan berjangka aja :)..bs diatur sm kita, kapan uang itu bs diambil sm kita, mulai dr 6 bln ampe 10 tahun..jd sm dng tabungan yg berasuransi...kaya yg dibilang mixedfresh..

Gaphe mengatakan...

#Mbak Fanny.. Thanks sarannya.. iya sih, sayang kalo preminya hangus.

#MixedFresh.. Hati-hati itu kudu. Karena asuransi itu berdasarkan kebutuhan, jadi emang antara satu ama orang lain beda..

#WindFlowers.. itu saya sudah pernah mbak.. setahun doank trus macet. hehehe.. auto debet, ternyata pengeluaran lebih banyak.

mon2 orang nias mengatakan...

Wah, irinya,....
Mon2 lum pernah ke Jogja, jadi ingin pengen banget ke sana!

Tetap prioritaskan tabungan darurat, kalau asuransi masih bisa ditunda ^^

Salam kenal ya.

Gaphe mengatakan...

#Mon2.. Kesini aja!. hhehee. Thanks dukungannya. Salam kenal juga

John Terro mengatakan...

mending dana darurat saja gan
kalo asuransi itu bikin hati ga tenang

Arif Chasan mengatakan...

saya gak tertarik sama asuransi.. lebih baik dana aja...

kurniawan.q mengatakan...

berkujung mas salam kenal

om rame mengatakan...

terLepas dari perdebatan penting atau tidaknya mengikuti program asuransi tersebut, saya hanya mensoroti priLaku boss nya sobat, kenapa mau-maunya beLiau mengajak dan dengan kekeh ngajak depat, seoLah beLiau adaLah diuntungkan oLeh asuransi tsb, padahaLkan paLing baru beberapa buLan beLiau mengikuti program tsb, dan marketing dari perusahaan asuransipun saya kira bukan.
reaLitanya, boss nya sobat mengikuti program asuransi yg berunsur MLM dan kaLau sobat masuk atas dasar refense beLiau maka beLiau akan mendapatkan keuntungan tersendiri, dan begitupun sobat untuk orang-orang Lainnya, dan terus-menerus bermata rantai.
segitu aja penyimpuLan dari saya, terima kasih.

Gaphe mengatakan...

# John Terro.. Yaa, betul itu. Lagian udah diasuransikan ama perusahaan juga sih..

#Arif.. tapi sebenernya penting juga loh. mungkin orang kita (Indonesia) belum paham tentang manfaat asuransi.

#Kurniawan.. Monggo. Salam kenal juga

#Om Rame.. kalo untuk ikutan, bos saya udah lama. Sekitar setahunan lebih sih. Tapi kalo untuk sistem asuransi yang MLM saya nggak tahu pasti juga. Mungkin juga, soalnya banyak juga asuransi dengan sistem references gitu.

pelangi anak mengatakan...

Keduanya sama-sama penting. Tapi saya setuju dengan Mas Gaphe. Mungkin tabungan darurat lebih didahulukan, karena bisa diambil tiap waktu. Kalau asuransi kan belum tentu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...