Senin, 23 Mei 2011

Do's and Don't Dalam Mendidik Anak (Sebuah Tips Anak Kos Dodol)

Kasih ibu.. kepada beta.
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.

Ring a bell dengan lagu tersebut?. Sewaktu kecil kita kita sebagai orang tua pasti pernah merasakan menyanyikan lagu kasih ibu tersebut. Entah tulus dari dalam hati atau karena paksaan dari guru taman kanak-kanak berbadan gendut dan bersanggul sambil memegang mistar. Mau tak mau memang sebagai anak sekolah yang duduk di institusi pendidikan terutama di Indonesia, lagu kasih ibu seakan menjadi lagu wajib untuk menunjukkan betapa besar kasih sayang orang tua kepada kita.

Tapi pernahkah kita berpikir mengapa orang tua mendidik kita dengan gayanya masing-masing?. Ya, hampir semua orang bilang kalo tidak ada buku panduan baku tentang cara mendidik anak. Semuanya trial and error, alias uji coba. Kalo berhasil ya syukur, tapi kalo gagal ya nasib!. Hemm, saya tidak terlalu sependapat dengan hal tersebut. Karena dari jaman dulu sampai sekarang, pasti sudah ada jutaan anak yang berhasil dan jutaan anak lainnya yang gagal. Lalu masa sih kita tidak belajar bagaimana mendidik anak supaya berhasil-dari-belajar-kasus-yang-sudah-berhasil, alih-alih melakukan uji coba kepada anak kita sendiri?.


Setiap anak unik, setiap anak punya cirinya masing-masing. Itulah mengapa butuh pendidikan yang menyesuaikan dengan masing-masing anak. Tidak, bukan hanya pendidikannya saja tetapi terlebih adalah pada bagaimana cara kita mendidik anak. Terus terang, saya tidak memiliki pengalaman bagaimana mendidik anak karena saya belum pernah memiliki anak. Tetapi tentang perbedaan cara mendidik anak seperti ini, mengingatkan saya akan sebuah film yang semalam saya tonton berjudul Yours, Mine and Ours.

Dikisahkan seorang ayah berstatus duda beranak delapan mendidik anaknya serba militer, karena ayah tersebut adalah seorang komandan angkatan laut. Saking teraturnya, lebih mengingatkan saya tentang seorang melankolis yang koleris dominan. Serba teratur, disiplin, dan keras. Duda ini bertemu dengan seorang janda, teman crush in love SMA-nya dulu yang memiliki 10 anak. Namun, cara mendidik si janda terhadap kesepuluh anaknya ini berbeda. Karena tipe orangnya yang sanguinis-phlegmatis, sesuai dengan jobnya sebagai desainer. Bisa dibayangkan ketika mereka menikah, dan anak-anaknya bercampur menjadi saudara - dengan karakter pendidikan yang berbeda, susah bersatu dan butuh waktu untuk proses memahami.

Mana yang benar?. Tidak ada yang benar. Karena dalam membesarkan seorang anak, sekali lagi memang harus menyesuaikan karakternya. Lalu, darimana karakter itu kita ketahui?. Sebetulnya karakter akan lahir dari kebiasaan, dari sikap, dan dari keseharian. Anak adalah seorang peniru yang ulung, maka tidak jarang karakter orang tua akan menurun kepada anaknya. Pernahkah kita ingat orang tua berkata kepada kita dulu saat kita bandel : "coba besok kalo punya anak, bandelnya kayak kalian?, kalian mau gimana?". And guess, what you say is what you get, voilaa.. anak kita akan berperilaku mirip kita!.

Lalu bagaimana mengarahkan dan mendidik anak agar sesuai dengan minat dan kemampuannya?. Karena anak adalah peniru, dan kebanyakan yang ditiru adalah orang tuanya, maka jangan pernah memaksa anak untuk melakukan apa yang kita senangi. Cukup berikan pujian ketika kita tahu apa yang dilakukan anak adalah hal yang benar, tetapi jangan pernah berlebihan. Apalagi sampai dimanja. Saya pernah mendengar cerita dari klien saya, anak satu tahun yang sudah bisa jalan tetapi tidak bisa berbicara mengucap kata. Tidak, bukan bisu. Ternyata, keterlambatan bicara dari anak tersebut sebenernya adalah karena orang tuanya yang terlalu memanjakannya. Ketika dia menangis, semuanya langsung dituruti kemauannya. Jadi, anak secara alami akan belajar bahwa hanya dengan menangis semuanya bisa selesai dan keinginannya terpenuhi. Itulah yang menyebabkan dia mengalami keterlambatan bicara, karena malas buat berlatih bicara!. See, ini baru umur satu tahun! efeknya sudah begitu dahsyat, apalagi kalo sampe berumur dewasa kan?

Anak akan berproses dengan sendirinya, mungkin di usia tiga tahun dia akan menyukai sesuatu yang berbau seni, musik atau semacamnya. Di usia lima tahun, ketika dia sudah mengenal teman mungkin dia akan lebih menyukai hal yang berupa aktivitas fisik. Jadi minat anak akan berubah seiring dengan waktu, hal yang orang tua bisa lakukan adalah mengarahkan anak supaya konsisten. Jika anak ingin berhenti melakukan sesuatu karena bosan misalnya, atau karena melihat sesuatu yang lebih menarik.. itu wajar. Tetapi sebenarnya sikap orang tualah yang penting. Karena bila sedari kecil kita mendidik anak ketika memulai sesuatu lalu gampang berhenti, sebenarnya perlahan kita sedang menciptakan seorang quitter atau pembosan kelak dikemudian hari. Maukah kita?. Lalu bagaimana antisipasinya?. Balik lagi bagaimana cara kita memberikan Motivasi dan Encourage ke anak untuk tetap bertahan.


Terkadang ketika kita tidak menuruti apa yang anak inginkan, anak lalu membangkang. Bandel, dan susah diatur. Sebagai orang tua, kita tidak ingin di cap sebagai seorang yang gagal mendidik anak kan? Apalagi ketika membawa anak kita di suatu tempat, lalu si anak berulah di tempat umum, yang tentu saja mengundang lirikan banyak orang kepada kita seolah berkata : "Siapa sih orang tua anak ini?. Bisa mendidik anak nggak sih?". Kalo sudah begini, apakah kita sebagai orang tua pantas malu?. Tidak, karena bagaimanapun juga itu anak kita. Anak menjadi bandel, nakal, susah diatur pasti selalu ada penyebabnya. Harus dicari akar permasalahan kenapa anak menjadi seperti itu. Karena minta perhatian sebab kedua ortunya sibuk bekerja kah? atau justru anak tidak mendapat apa yang dia rasa menjadi haknya?. Maka, terkadang sistem punishment and rewards disini akan berperan banyak. Dengan memberikan punishment, anak akan tahu bahwa yang dilakukannya itu tidak benar. Tetapi bila dia mendapat rewards, berarti anak boleh bangga karena dia telah melakukan sesuatu dengan benar. Lalu bagaimana bentuk punishment yang efektif?. Tergantung masing-masing anak, tetapi yang jelas bentuk ancaman fisik tidak akan pernah berhasil karena justru akan meninggalkan trauma yang tidak akan hilang begitu beranjak dewasa.

Pernah nonton Super Nanny atau Nanny 911?. Di tayangan tersebut, menghukum anak caranya adalah dengan detention corner, atau tempat duduk hukuman. Jika anak nakal, anak diminta duduk di tempat tersebut beberapa menit tergantung dengan besar kesalahan. Semakin besar kesalahan, semakin lama dia menjalani detention. Saya pernah melihat cara ini langsung didepan mata saya ketika saya sedang bersantap di sebuah restoran waralaba. Ketika itu ada seorang bule beserta keluarga besarnya sedang makan, dan anak si bule yang mungkin seumuran SD tidak mau makan dan bersikap tidak baik di meja makan. Sang ayah lalu membawa anak tersebut ke pojok restoran, sambil berkata karena kamu bersikap tidak baik kamu dihukum harus berdiri disini 10 menit. Anaknya nangis, di pojokan. Banyak orang Indonesia lain yang kasihan sama anaknya, bahkan seorang waitress pun mencoba menghiburnya tetapi si bapak bilang biarkan saja karena sedang dihukum. Waktu 10 menit berlalu, si bapak bule lalu mendekati si anak dan bilang : kamu sudah tahu kesalahan kamu?. Anak mengangguk, lalu si bapak bilang : lalu apa selanjutnya?. Anak bilang : i'm sorry. Si bapak memeluk anak itu dan kembali ke meja makannya.

Bisa lihat kan, nggak perlu kekerasan kan buat mendidik anak. Saya nggak bilang cara bule itu bagus atau saya menyuruh anda meniru cara mendidik ala kebarat-baratan. Contoh di atas hanya menunjukkan bahwa tidak harus menggunakan kekerasan dalam mendidik dan membesarkan anak pun juga bisa berhasil. Bahkan di kultur Jawa, cara mendidik anak dengan cara halus juga ada. Jaman ibu saya dulu waktu kecil, jika ada perintah eyang yang tidak dituruti maka makan siang tidak boleh pake lauk. Disaat jaman segitu ketika lauk menjadi satu hal yang mewah, pasti ibu saya akan menurut dan bersikap baik supaya ketika makan siang bisa menggunakan lauk.

Nah, tentu saja hal ini berubah seiring dengan perkembangan jaman. Kalo cara eyang saya mendidik ibu saya itu diterapkan sekarang, tidak akan mempan. Anak sekarang udah ngerti duit, dan bisa beli lauk sendiri. Makanya kenapa seiring dengan perkembangan jaman, sebagai orang tua juga harus update bagaimana mendidik anak dengan baik. Terkadang, sekarang anak jauh lebih pintar dari orang tua soal teknologi. Dan nggak jarang juga, orang tua kalah dan nggak tahu apa-apa soal teknologi. Internet, Mobile phone, TV kabel apapun benda-benda teknologi sekarang sudah menjadi bagian keseharian dalam kehidupan anak. Peran orang tua sebenarnya disini adalah sebagai controller. Orang tua wajib tahu tentang apa saja yang digunakan anaknya, kalau perlu memberikan arahan sebab dan akibatnya. Controller disini bukan berperan sebagai pengawas, karena anak tidak akan pernah nyaman diawasi semua kegiatannya oleh orang tua. Anak butuh ruang privasi juga, dan sebagai orang tua yang bijak kita harus memberitahu batasannya. Peran controller disini lebih sebagai seorang partner, atau teman bagi si anak. Nah disinilah multifungsi orang tua, selain sebagai ayah atau ibu juga harus bisa sebagai teman anak. Dengan menjadi teman anak, kita pasti dengan mudah mengetahui apa yang anak lakukan dan bisa mengarahkan dengan bijak mana yang baik dan mana yang kurang.

Jadi, sudah siapkah menjadi orang tua??



Artikel di atas diikutsertakan dalam kontes April Mei Bayu Family Berbagi. Yang diselenggarakan oleh Arief Bayu Saputra sekeluarga, dalam rangka ulang tahun Istri mas Arief Bayu yang jatuh pada 23 Mei, serta menyongsong kelahiran buah hati pertama mereka. Selamat ulang tahun buat istri tercinta, semoga panjang umur, sehat selalu, diberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap urusannya.


PS : Tidak ada seorangpun anak yang tersakiti, terluka, atau cidera dalam proses penulisan artikel ini. Model anak diperagakan oleh anak kolega saya.

79 komentar:

sda mengatakan...

gi rajin update nih?
padahal yg barusan blm komen, udah update lagi.

narti mengatakan...

semoga menang kontesnya :)

dee mengatakan...

Ya, hampir semua orang bilang kalo tidak ada buku panduan baku tentang cara mendidik anak.

Aku pernah lihat buku cara mendidik anak, (walaupun mungkin sangat jarang, dan tidak bisa dibilang baku sih), bukunya berisi kumpulan artikel dari banyak blog.

tapi gak ada nama blogku ^_^

I-one mengatakan...

mendidik anak memang gakmudah...
gak boleh main kasar dan juga gak memanjakan, tapi memberikan pembelajaran

CORETAN HIDUP mengatakan...

Ternyata nggak mudah memang ya mendidik anak2. Banyak suka duka yang harus dihadapi. Aku sendiri senang nonton Nanny 911. Banyak pelajaran beharga yang aku dapatkan. Pada intinya sih kekerasan bukanlah jalan keluarnya. Tetapi disiplin yang bertanggung jawablah kunci sukses untuk mendidik anak tsb

Arman mengatakan...

yup cara mengasuh anak itu gak ada bener salah, karena setiap anak itu berbeda2. gak bisa disamain.

moga2 menang ya...

Todi mengatakan...

wah dah pantes tuh kang gaphe momong anak..:D

aniwei, kalo dah punya anak, satu hal yang pasti..orang tua mesti kompak..meskipun ga berarti harus seragam..karena orang tua itu secara ga sadar merupakan panutan dan contoh yang akan ditiru ma anak..:)

yang mau punya anak, hayo hayo..jangan khawatir punya anak :)

Huda Tula mengatakan...

I dont wanna have children, I don't even want to get married.. :(

suram..

hilsya mengatakan...

si cilik berbaju oranye lagi ngomong dalam hati.. "kalo om gaphe menang, mo minta ditraktir aah*

Bang Aswi mengatakan...

Sosok itu mau komen soal foto pertama itu, soalnya posisinya kayak agak menjauh-jauh gitu hehehehe. Si ade pup ya, Phe? Huehehehehe ....

Dhana/戴安娜 mengatakan...

Salam sahabat
Saya insyaAllah sudah siap namun terbentur waktu dan jarak sehingga tertinda ckckck kok gak nybung komentarnya hehehe

NECKY mengatakan...

sukses buat bro gaphe...dengan kontesnya. Ga ada bener salah dalam mendidik anak ya bro...

Rawins mengatakan...

kita memang tak akan pernah bisa membalas kasih ibu
karena kita memang masih beta yang kebanyakan bug
coba kalo lagunya diganti

kasih ibu..
kepada full version...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, apakah Gaphe sudah siap punya anak? lho? hehee..moga menang ya...

Arief Bayoe Sapoetra mengatakan...

terima kasih brade,,, saya save dulu ya....... ditunggu pengumumannya........:)

ammie mengatakan...

SLM KENAL YA :)

^^KoskakiUngu^^ mengatakan...

assalamu'alaikummm..
pagiihh,

wew,setujuh sama huda tula..belum siap punya anak plus nikah!
tapi sudah sangat siap kalo' ada yang mau ngelamar, *eh??? ihihihihi

SOFYAN mengatakan...

semoga sukses dengan kontesnya,,wah up to date banget nih psting satunya aja belum baru komentar skrang sudah ada yang baru..selamat²

IbuDini mengatakan...

Jika belum melakukannya emang terlihat mudah apalagi bila kita punya adik, tapi kita akan tau perbedaannya menjaga adik dengan anak sendiri setelahmengalaminya.

Wahhh kalau dilihat dari foto kayaknya udah cocok tuch

zone mengatakan...

mengingatkan saya akan dian sastro yg akan segera punya anak....

Nyitnyit mengatakan...

kalau ntar menang kira² tuh yg jadi model anaknya dikasih apa hayo...kekekkekekkek

Noeel-Loebis mengatakan...

cara yang paling jitu mendidik anak menurut gw adalah dengan memberikan contoh yang baik2 dulu ke anak tersebut semenjak ia lahir. *jadi inget film rob b-hood

karna anak pasti lagsung mencontoh kan?

Ajeng Sari Rahayu mengatakan...

wekekek notenya :p

dah bisa tuh pedekate ma anak2, cocok...


belum siap saya Phe, kamu sendiri gimana? dah siap belom jadi orang tua? sukses buat kontesnya ya ^^

Fiction's World mengatakan...

wah Bang Gaphe cute deh yang difoto kedua ^^.
Saya juga suka liat Nanny 911 keren tuh banyak pelajarannya dan sekarang juga saya dapet ilmu tambahan ^^

Isti mengatakan...

kirain kamu mau punya anak..taunya sedang ikut kontes..hehe..gudlak yaaa...

Orin mengatakan...

Eits...keren uy mas Gaphe bisa ikutan kontes inih, aku mah ga bisaaaa hihihihi

Henny mengatakan...

anakmu phe?? *kaget.com*

aku juga suka nonton super nanny dan banyak belajar dari sana, insyaallah buat jadi bekal kalo udah jadi ortu nanti

umiabie mengatakan...

anaknya lucu banget.. cepet nikah bang ghape, biar cepet punya anak hehehe...

entik mengatakan...

weh ta kirain itu anaknya gaphe hehe...

sip dewh, postingannya. Dah kayak orang yang tua ngasih petuah :)

Ami mengatakan...

Inilah sisi kebapalkan Gaphe, hahaha. Tinggal nunggu undangannya.

Itu hukuman versi Nanny 911 disebut time out. Aku juga suka nonton. Udah lama banget aku gak gendong anakku sendiri... Tapi gak semua ada hikmahnya...

rizkimufty mengatakan...

wahahah PS nya bikin aku ketawa mengingat ada foto2 diatas itu... wkwkkwk

ah iy, aku pernh berpikir kalo sifat anak itu bakal beda2 tergantung siapa duluan yang lahir. Misalnya ank pertama, biasanya dia sering mengalah dan sbar, anak kedua sering ada maunya tapi sering berpikir untuk ngalah juga, sedangkan anak bungsu biasanya manja dan selalu pengen menang sendiri. yaaah tapi itu kalo ortunya agak salah kasi ajaran sihhh wkwkwk

IbuDzakyFai mengatakan...

Mantab dech, kebapakan sekali Gaphe..good luck kontesnya

Amy mengatakan...

Cute foto mas Gaphe menggendong anak :) Semoga menang ya.

funnie mengatakan...

keren artikelnya..moga menang ya mas gaphe.. )

r10 mengatakan...

kirain itu anakmu phe ^^

Aina mengatakan...

hmmm.... kamu pasti mo nyulik anak kolegamu ya??? hayo... makanya cepet nikah biar cepet punya ndiri. wuahahaha....

tapi aku kasihan ama si anak bule yang disuruh berdiri, kalo dirumah sih ga pa2. lha ni direstoran kok....

Meutia Halida Khairani mengatakan...

wah,ini postingan ke-3 yg saya baca di blog kamu ttg giveaway.. lagi rajin bgt ya iktan give away..

anyway, mendidik anak itu susah2 gampang. saya setuju ttg anak yg akan mencontoh ortu bagaimanapun caranya karena mereka adalah org yg terdekat. so, jadilah ayah yg baik ya phe.. udah cocok tuh utk menikah dan punya anak. hahahahahahaa

YeN mengatakan...

jadi kapan mas phe punya anak??hihihi :p

warsito mengatakan...

memang bang gaphe tiada duanya kalo soal cerita mungkin masih ada 1000 cerita lagi kalo sekarang kan masih 200 san/lebih hehehe ga nyambung kali ya nih komen

Tiffa mengatakan...

Ditunggu undangannya :P
Anaknya cakep...lucu lagi. Di foto kedua, anaknya kayak mau nangis, Yoga sich angkat anaknya ketinggian di foto pertama.

ningsyafitri mengatakan...

Ning belum siap menjadi orang tua...
:)
Masih cuma bisa mengamati orgtua bgm mrk mendidik anakx. Hehehe...
Betulan, kalau belum siap untuk berkeluarga jngn dulu...
kasihan anakx nnti, harus menanggung sgla pndritaan kt... Gak mau...

Yudi Darmawan mengatakan...

betul sekali mas,
saya percaya cara mendidik anak harus dinamis, dalam hal ini disesuaikan dengan zaman sekarang,
tapi saya lebih percaya dengan cara Rasul mendidik anak-anaknya yang seharusnya menjadi mainstream kita, kalaupun zaman terus berkembang seperti saat ini, itu hanya masalah penambahan parameter2 baru untuk disesuaikan, cara islami tetaplah yang terbaik..

John Terro mengatakan...

cocok banget tuh fotonya
kayak ayah beneran kamu om :P

Dwi mengatakan...

Benar kalau soal anak adalah peniru ulung, soalnya adik saya suka ngikutin apa yang saya lakuin dan sepertinya dari sana karakternya terbentuk.

sukses buat kontesnya yah..

Dwi mengatakan...

Benar kalau soal anak adalah peniru ulung, soalnya adik saya suka ngikutin apa yang saya lakuin dan sepertinya dari sana karakternya terbentuk.

sukses buat kontesnya yah..

dunia kecil indi mengatakan...

me, mine and ours. aku juga nonton film itu beberapa tahun lalu, lupa tepatnya, mungkin pas awal2 masuk kuliah. betul tuh, didik anak caranya beda2. kalo stubborn ngerasa bener, bisa2 anak yg jd "korban" ;)

dey mengatakan...

teorinya udah oke tuh, kapan praktek langsung ? :D

lidya mengatakan...

Gaphe udah cocok tuh punya anak :)

Ellious Grinsant mengatakan...

hohoho, panjang sekali. untung berhasil saya baca sampai habis karena saya juga peduli sama anak-anak.
lagian kan lumayan buat bekal ilmu. Pengen punya anak seebelum umur 27 tahun, hahaha...

Nufri L Sang Nila mengatakan...

Tidak ada seorangpun anak yang tersakiti, terluka, atau cidera dalam proses penulisan artikel ini. Model anak diperagakan oleh anak kolega saya. <<< sumpah...ngawur banget untuk yang ini...hahahaaaaaaaaaaaa

-rif mengatakan...

aih, itu anak koq mau ya kamu gendong, Ga? eh, ada award buat kamu. ambil yah!

Renaldy mengatakan...

Wah, siap jadi seorang bapak neh. Kalo soal teknologi gua bisa bilang itu bener. Dulu bokap gua sering minta ke gua tuk ngatur frequensi TV. Sekarang gua nemuin ada anak kecil yang lebih pinter maen BB! padahal gua udik ma BB.. :p

Djangan Pakies mengatakan...

assalamu'alaikum Kang,
sebenarnya belum saatnya saya BW karena tahu kan alasannya hhhh. tapi saya sempatkan koment dulu.
-----
sebuah ulasan yang keren untuk orang yang belum merasakan kehidupan berumah tangga.
----
secara naluri, Alloh swt telah memberikan pada setiap orang tua bagaimana mendidik dan mengantarkan anak menuju kedewasaan dan perkembangannya. Jangankan manusia, hewan pun memiliki naluri yang sama.

Bahwa atas dasar cinta, semua mengalir menjadi sebuah kasih sayang yang setiap individu tidak sama dalam mempraktekannya.

Keteladanan orang tua yang dibalut dengan kasih sayang yang bertanggungjawab, Insya Alloh menjadi salah satu sarana utama dalam membangun sebuah hubungan yang baik dengan anak. Saya memiliki 3 anak laki-laki yang tentu saja dengan 3 karakter berbeda, maka membangun hubungan dengan mereka membutuhkan cara yang berbeda dan dengan keteladanan, maka apa yang akan kita sampaikan maupun apa yang kita harapkan akan gampang masuk ke dalam diri mereka.

menyampaikan dari hati nurani akan lebih mudah sampai ke nurani ketimbang menyampaikan dengan emosi akan dibalas dengan emosi.

wah kepanjangan Kang, semoga menang aja deh kontesnya

Mama Kinan mengatakan...

Hm....Mantap Phe!!! I like your writing sytle...ngulasmu tentang anak anak dan seluk beluknya boleh juga..padahal dirimu belum punya pengalaman langsung, tapi dari referensi film, buku, dan tayangan tv 911 kamu bisa mengambil dan mengaplikasikannya dalam tulisanmu..sip, keren..banyak ilmu juga aku dapat dari sisi tulisanmu yang bisa aku pake untuk mengasuh kinan...:) good luck yah...inilah asyiknya nge blog yah phe..berbagi ilmu gratis dan belajar nulis lewat kontes kontesan..:)
Btw..udah pantes tuh gendong anak...cepetan atuhhhhhhhhhhh * plakkkkkkkkkkkkkkkkkkk...gubrakkkkkkkkkkkkkk ehehhehe

Desy Noer mengatakan...

mantaf surantaff ulasannya. aku aja yang mo punya dua anak kalah jauh nich pemahamannya. siiiip lah.. dah siap jadi bapak tuh..

oooh.. yang di foto anak kolega nya toh. awalnya aku kira nyolong dari mana.. hehe..

h35ti Ibunya Zidan mengatakan...

Artikelnya bagus & menambah referensi ilmu dalam mendidik anak....

Blog Keluarga Keuangan mengatakan...

Saya suka dengan kalimat yang menyatakan bahwa orangtua juga perlu update... abisnya ketemu beberapa orang tua selalu bilang,,, bapak dulu makan aja harus begini begitu... padahal menurut saya kan beda zamannya hehehe.......

pendarbintang mengatakan...

Semuanya berkontes...dan saya setuju...bagaimana mendidik anak memang berbeda cara....karena setiap anak mempunyai karakter unik...saya yang pendiam ini (langsung digampar orang se-RT) pasti gaya mendidiknya berbeda dnegan adik saya yang anaknya berisik dan gak bisa diam (almost the same :D)

Habisnya gak tahu mau comment apa :P

Nchie mengatakan...

Teorinya hoke banget Phe...
keren..tinggal Prakteknya nya..
*catat phe*..

Sukses yah ngontes tyuuss..

hany nizah mengatakan...

bsk lw dah gdee praktek,,hehehe salam kenal dari hany :-)

uli mengatakan...

kita tidak pernah diajarkan secara teori bagaimana mendidik anak, tapi dengan memberikan contoh dan perilaku yang jadi panutan buat anak disutlah cara kita mendidik anak. nice postingan

@zizydmk mengatakan...

Memang mengajarkan anak itu tidak mudah. Dan beda pula metode masing-masing, karena pengaruh juga dari latar belakang budaya ya.

dv mengatakan...

mantabs nih, cocok buat jadi pembicara di acara taklkshow "ibu dan anak" :D

sukses buat kontesnya phe, diborong smua ginih :D

Bayu Hidayat mengatakan...

gw awal nya baca ini. gw kira lu dah mau punya anak. hehe. ahhh ternyata. kapan nikah nya brooo????

affie9 mengatakan...

saya yang sekarang masih berstatus anak (anak muda gitu.. hehe) bisa mengerti dangan jlas isi artikel mas gaphe tentang mandidik anak... meski atikel ini bisa di bilang buat para calon ayah... (kaya mas gaphe.. ) hehe...
tapi belajar selagi muda itu kan bagus yak..?? hehe

moga menang mas gaphe... :)

bundamahes mengatakan...

ditunggu prakteknya aja!

TUKANG CoLoNG mengatakan...

aku penasaran nasib anak itu setelah fotoan ama kamu. :))

Mila Said mengatakan...

wuih kliatannya lu penyayang dan pemerhati anak2 yeee... tapi kog gw ragu ya? secara tampang lu kan nakutin anak kecil gitu huahahahaaa

Masbro mengatakan...

Temannya sampean seorang duda beranak delapan? wew..

Semoga sukses ya Mas..

Hamadzi mengatakan...

Bang gaphe.. dgn tulus dr lubuk hati yg paling dlm, dirimu sudah pantes kok jadi ayah..
Anak itu bisa anteng pisan sma bang gaphe..
Saya tunggu ya bang undangannya(loh?)
*peace^^v

obinhut mengatakan...

Artikelnya sangat bermanfaat banh, izin disimpan dan buat dibaca lagi ntar malam. Hehehe...

sichandra mengatakan...

Setiap anak yang lahir kedunia akan menguji kesabaran kedua orang tuahnya :)

Lyliana Thia mengatakan...

Wah Gaphe, bagus sekali artikelnya... aku jd banyak belajar dari sini... ijin aku save utk pribadi ya...

kamu walau blm punya anak, tapi ternyata paham yah... kayaknya udah cocok nih jd Ayah... :-D

iffa hoet mengatakan...

Haaaa....ingat si Bule kecil jadi ingat aku bangettttS. Dihukum dan harus bilang "maap.....", tapi bedanya hukumannya di rumah tidak ada yang liat hehehe jadi gak malu-malu banget.

Yups, artikelnya komplit.
Good Luck!!!

Muhammad A Vip mengatakan...

berat Phe jadi anak, begitu menurutku. itulah kenapa kini aku bersyukur gak punya anak, aku takut anakku terbebani dalam hidup ke depan yang kian menekan. tapi kalo nanti dapat anak juga, ya harus diurus, semoga aku punya cara jitu dalam mendidik.

soulful^^~ mengatakan...

wah mas gaphe kayak uda jadi orang tua yg berbakat ngurus anak wkakakak. oke, good luck buat kontesnya. moga menang ya mas :)

hany nizah mengatakan...

nyimak....,,kakak,,:-)

Zulfadhli's Family mengatakan...

Untuk teori, dirimyu dah dapet nilai A, Phe. Tinggal tar dipraktekin yah Say ke anak lo :-)

BTw serius tu anak orang kaga sawan digendong ama lo??

Nia mengatakan...

Gaphe...ditunggu undangannya yachhh....udah cocok koq jadi bapak heheheh.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...