Minggu, 07 Agustus 2011

Aku dan Stasiun Tugu



Namaku A Liem. Kwan Liem Thian adalah nama di akte kelahiranku. Butuh proses yang lama hingga pada akhirnya akte itu bisa diperoleh ayahku. Dari namaku saja kamu sudah bisa tahu jika aku adalah keturunan Tionghoa. Dan disinilah aku sekarang. Di Stasiun Tugu. Duduk di posisi favoritku menghadap ke utara, peron tiga dan empat.

Entah kenapa setiap kali berada di Stasiun Tugu aku selalu merasa damai. Suara rel beradu dengan roda kereta, bunyi lonceng panggilan kereta, suara peluit kapten kepala, dan riuh rendah ibu paruh baya menawarkan salak pondohnya. Saking damainya, terpikir olehku inilah nantinya tempat terakhirku. Inilah tempat matiku. Ya, aku akan mengakhiri hidupku beberapa jam kedepan. Meloncat dari peron tiga, menabrakkan diri ke kereta Gaya Baru Malam. Rangkaian rencana mengakhiri hidup sudah tersusun rapi di kepalaku. Hari ini!.

Terbayang, fragmen melintas dibenakku ketika tiga setengah tahun lalu kakiku pertama kali menapak di kota pelajar ini. Stasiun Tugu lah yang hal yang pertama menyapaku dengan ramah. Senyum manis dengan warna dinding putih bak deretan gigi menyambutku. Langit-langitnya yang tinggi, merengkuhku dalam pelukan hangatnya seakan mengucap selamat datang. Aku akan kuliah. Di IKIP Jogjakarta, dengan jurusan Pendidikan Matematika. Keinginanku menjadi guru, dan aku datang dari barat tanah Jawa ini. Stasiun Tugu lah yang pertama kali menerimaku, setelah orang-orang selalu mengucilkanku hanya karena bentuk mataku dan kulit putihku yang berbeda dari mereka.

Aku masih bisa tahan ketika mereka memanggilku dengan 'Singkek', 'Cina', 'Ketan - yang merujuk pada namaku', atau panggilan sarkastik seperti anjing dan babi. Tapi sekarang, setelah teman kuliahku mengkhianati aku dengan merampas judul skripsi yang akan kuajukan ke dosen pembimbingku dengan dalih membantu aku mencari referensi, setelah ternyata orang tuaku tidak lagi mempedulikan aku karena mereka lebih mementingkan dagangan mereka dibanding anaknya, dan setelah tahu bahwa surat yang kugenggam hari ini adalah surat tagihan bayaran kuliah yang aku tidak tahu harus dibayar dengan apa, maka satu-satunya yang aku tahu adalah bagaimana aku akan mengakhiri hidupku.

Sejenak kuubah pandanganku dari gerbong-gerbong kosong yang menanti ditarik lokomotifnya ke toko donat sebelah kananku sampai tiba-tiba ada kakek tua berumur 70 tahunan dengan badan masih tegap dan berbaju TNI hijau lusuh namun mengenakan sarung duduk disebelahku. Dia menatapku tajam. Matanya yang berwarna hazelnut tua menahanku untuk tidak beranjak ketakutan. Sejuk, menenangkan. Seutas kata yang pertama terucap kepadaku adalah :

"Bertahanlah".

Aku kaget, jelas karena bingung bagaimana kakek tua ini tahu kalau aku sedang dalam masalah.

"Maaf kek, tapi kakek ini siapa?", bagaikan anak kecil polos aku bertanya pada kakek itu.

Kakek menjawab singkat "Sarjiyo".

"Kakek niteni kowe semenjak kowe teko ing stasiun. Kakek ora ngerti opo masalahmu. Tapi sing pasti, kowe gak dewean". Kakek itu melanjutkan.

"Maksud kakek?", tanyaku lagi.

"Kakek adalah purnawirawan TNI, saiki tinggal sendiri. Istri kakek wis suwe meninggal, ketika jamane perang pemberontakan biyen. Ora duwe anak. Dan kalo kowe ngerti, urip saiki susah. Ora iso mung ngandelke duit pensiunan ........ ", kakek itu bercerita tentang dirinya.

Tentang jaman perjuangan melawan Belanda, tentang perang melawan PKI. Dan tentang kesusahan yang dialaminya. Dimana ia harus tetap berjuang untuk sekedar mempertahankan nafas hari demi harinya.

"Tapi kakek bertahan. Kakek ngerti iki ora gampang. Apa cita-citamu, le?" Kata si kakek kepadaku.

"Jadi Guru, kek?" jawabku singkat.

Kakek Sarjiyo tersenyum tipis dan kembali meneruskan. "Kalo kamu tidak bisa bertahan untuk diri kamu sendiri, maka lakukan untuk negaramu!".

kalimat terakhir yang diucapkan oleh kakek Sarjiyo menenggelamkan aku dalam kecamuk pikiran.

Bah!. Untuk negaraku?. Disaat aku sedang dicaci oleh orang-orang yang katanya dengan dalih nasionalisme, dimana negaraku?. Disaat aku butuh akte kelahiran untuk mengurus ke sekolah negeri dan dipersulit birokrasinya terlebih karena nama asliku, dimana negaraku?. Disaat sekarang, aku belajar untuk menjadi guru supaya mendidik anak-anak bangsa ini agar tidak seperti orang-orang sebelumku yang menganggap kaum kami adalah kaum pendatang - yang harus disingkirkan namun terbentur soal biaya, Dimana Negaraku?.

Tanpa sadar peluit panjang yang ditiup kepala kereta menarikku dari kolam pikiranku. Kutengok kembali, Kakek Sarjiyo tidak ada lagi ditempatnya. Sementara aku tersadar, orang-orang disekitarku memandangku dengan tatapan aneh. Bukan tatapan cacian, bukan pula tatapan meremehkan atau kasihan. Muka-muka itu tidak pernah kubaca sebelumnya. Seorang petugas jaga stasiun menghampiri aku sambil berkata, "Kamu tidak apa-apa, Bocah?". "Err... Saya baru berbicara dengan kakek tua, namanya Sarjiyo. Apakah bapak melihat kemana beliau pergi tadi?".

Petugas jaga itu tersentak kaget, mengernyit dahi sejenak dan sejurus kemudian hanya tersenyum. Dia berkata "Turuti saja kata-katanya nak".

Aneh

Aku gagal mati hari ini. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa teralih pikiranku hanya karena ngobrol dengan kakek Sarjiyo. Aku juga tidak tahu bagaimana masalah ini nanti akan terselesaikan.

Aku Pulang.

*** 15 tahun kemudian ***

Namaku A Liem. Nama asliku Kwan Liem Thian. Hari ini aku menginjakkan kaki lagi ke Stasiun Tugu. Tidak banyak berubah, masih sama seperti dahulu. Pintu gerbang besar, bangunan kolonial Belanda, hanya beberapa tempat yang dulunya sudut-sudut yang ditempati penjual gudeg dan oleh-oleh kini tergantikan dengan berdirinya satu toko waralaba. Ketika tradisi tergusur modernitas.

Hari ini aku datang dengan dua jagoan kecilku, Ahmad dan Christian. Aku bertugas mengantarkan mereka mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional yang dilaksanakan di kota ini. Ya, aku menjadi guru matematika di Sekolah Dasar tempat Ahmad dan Christian belajar. Di sekolah mereka, Ahmad dan Christian menjadi sahabat baik meskipun mereka berbeda latar belakang. Ahmad dari keluarga muslim yang taat, Christian - turunan Tionghoa sama sepertiku, beragama protestan. Keduanya semakin akrab setelah sama-sama berada dalam bimbinganku menghadapi olimpiade matematika kali ini. Tidak ada persaingan, yang ada hanyalah saling mendukung.

Namaku A Liem. Aku masih mengingat kata kakek Sarjiyo di stasiun ini lima belas tahun yang lalu. Aku gagal mati kali itu. Aku bertahan. Karena Aku bertahan bukan untuk diriku sendiri. Aku bertahan untuk negaraku.

Aku baru tahu siapa kakek Sarjiyo nanti, beberapa hari kedepan ketika akan menaiki kereta yang sama kembali ke SDku. Setelah mengantarkan Ahmad dan Christian, pulang dengan senyum kebanggan. Teruntai di dada mereka kalung medali emas sebagai tiket olimpiade matematika internasional. Aku baru tahu siapa kakek Sarjiyo ketika aku berpapasan dengan foto tua yang terpasang di ruang kontrol Stasiun Tugu.

Sarjiyo, 1929 - 1965.

***

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.

Sponsored By :


101 komentar:

Lidya mengatakan...

terima kasih sudah berpartisipasi

Adittya Regas mengatakan...

weew lagi berhamburan giveaway kaya nya ya mas...

moga menang ya :D

Ami mengatakan...

suara dentingan stasiun Tugu suka kedengaran kalo dini hari di rumahku. Untuk giveaway yang ini nyerah,tulisanku gak ada indah-indahnya

wahyu85 mengatakan...

mas Gaphe ini cerita karangan sendiri? sumpah keren, thumb's up! :D

ketty husnia mengatakan...

wedew,....keren abis! tu kisah nyata ya? 1929-1965...siapa si mas??
mbak Nia..mbak Lidya..ni bakal pemenangnya ..hihihiiihi
aku mundur ah ..

ria haya mengatakan...

wah GA lagi ya, moga menang lagi ya Phe...
ceritanya mengingatkan cita2 gue sendiri

Tarry KittyHolic mengatakan...

Widiiih ini fiksi apa kisah nyata yg direkayasa ya?
Keren euy

sda mengatakan...

terbawa alur ceritanya, keren...
semoga menang ya!

Tiffany Victoria mengatakan...

wah Gaphe dirimu skrg jd banci kontes jg yach...*kedip-kedip mata

aku lg mikir nich utk ide nulis kontes ini, menang ga menang yg penting eksis.#buat Tiffa

Claude C Kenni mengatakan...

Ceritanya keren. Gaya bahasa menarik, plotnya juga tidak biasa. Semoga menang ya

Nia mengatakan...

Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
Artikel sudah lengkap.....
Siap untuk dinilai oleh tim Juri....
Salam hangat dari Jakarta.....

Mas Jier mengatakan...

kisahnya bikin kangen aku untuk pulang ke jogja. keputusan untuk tetap bertahan hidup sehingga mampu mengabdi kepada negara dan bangsa.

Goodluck ya mas.

Mas Jier mengatakan...

kisahnya bikin kangen aku untuk pulang ke jogja. keputusan untuk tetap bertahan hidup sehingga mampu mengabdi kepada negara dan bangsa.

Goodluck ya mas.

Wahyu Eko Prasetyo mengatakan...

catatannya mantab bos

Meidy mengatakan...

btw, ini fiksi ato nyata? kereeenn... sakali-kali mo ikutan giveaway aaahh...

nonasan mengatakan...

haaaaaaaa , sumpah ini keren banget *.*
semoga menang Mas!

ammie mengatakan...

wah ternyata jago bikin cerpen juga ya,,hmm.. sukses deh wat bg Gape,,,:D

Baha Andes mengatakan...

Rencananya pengin ikutan tapi liat2 lawannya tulisannya keren2 jadi pikir ulang lagi :))

monda mengatakan...

Bagus banget phe, semoga beruntung ya.

Djangan Pakies mengatakan...

15 tahun merubah banyak hal, tapi sebbuah semangat tak bisa tergantikan.

artikelnya keren Kang

Audrey R. Subrata mengatakan...

bang ni cerpen bikinan abang?
gila keren banget. singkat tapi merenyeesssss keren abis, semoga menang yah bang.

Batavusqu mengatakan...

Salam Takzim
A Liem. Kwan Liem Thian Kini kau menjadi ku kenang, semoga tetap berada di tempat yang terbaik.
Eh iya semoga menang ya kang
Salam Takzim batavusqu

Adryan Nurdien mengatakan...

ceritanya bagus mas phe.. :D

dapet inspirasinya dari mana nih mas?

Tika mengatakan...

semoga menang ya mas gaphe...fighting!!! jangan lupa kirim2 hadiahya...:-)

Todi mengatakan...

suka banget sama postingan cerpennya kali ini..sangat menyentuh..dan mungkin kang gaphe berani out the box dari rutinitas tema postingannya..

bener, saya suka banget kisahnya...simple..bahasanya dan kisahnya sama2 lancar mengalir

Dhenok mengatakan...

bener banget Phe, bukan hanya di Jogja, temen dhe yang tionghoa juga pernah merasa seperti itu..

sukses kontesnya yaa, kita bersaing nih.. hehe

yadiebaroos mengatakan...

mantap ceritanya mas gaphe,

Arief Bayoe Sapoetra mengatakan...

Wah artikel nya mengena bang, good lak bang Gaphe

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

wah phe kamu pinter nulis cerita juga ya
sedikit horor ya phe itu A Liem bicara sama kakek yang sudah meninggal hehehe
Good Luck yaa

zasachi mengatakan...

Sumpah! Merinding aku bacanya Pe.
Ini fiksi? kalo ini fiksi berarti lo berbakat Pe...
Pesan moralnya nyampe...Keren banget Pe! Gud Luck ya..
#whuaa kangen nulis aku jadinya...

miwwa mengatakan...

duh ceritanya bikin merinding. moga menang lagi ya mas :))

rizkimuft mengatakan...

Pasti menang ini deh pasti menang ini... hehe

catatan kecilku mengatakan...

#tepoktangan#
Tulisannya keren banget.... nah sekarang aku gak heran kalau kamu menang lagiiiii...!
Aku sampai gak mau berenti membaca tulisanmu ini lho.

andriansyah s putra mengatakan...

kereen kereen kereeeen kereeeeen!!!
bener bener cerita yang bagus kak!
ngangkat cerita dari sudut pandang kaum tionghoa..
semoga menang ya kaaaaak :bd :-bd :-bd

r10 mengatakan...

settingnya tahun berapa sih, si kakek hantu yah meninggal tahun 1965 :D

Arman mengatakan...

bagus! moga2 menang ya!

honeylizious mengatakan...

wuih yg ini jawara!

Bayu Hidayat mengatakan...

wahhh bro lu berbakat banget. mudah mudahat di samber semua give way nya. hehe. brooo blog lu di bukukan aja. dah cocok

Nihayatuzzin mengatakan...

ini cerpennya mas gaphe ya? kirain tadi auto biografinya mas gaphe hehehe

umiabie mengatakan...

ceritanya keren mas gaphe..

rinz mengatakan...

Aku TERHARU!

'Jika tidak bisa bertahan demi dirimu, bertahanlah demi negaramu'

Bener-bener langsung merasuk di hati. Apalagi saat-saat melow sendirian gini di negri orang! Makasih banyak buat Mas Gaphe atas ceritanya. Sungguh sangat menginspirasi!!!

Fiction's World mengatakan...

sumpah ya ini keren banget :D
suka banget sama kata-kata ini ""Kalo kamu tidak bisa bertahan untuk diri kamu sendiri, maka lakukan untuk negaramu!."
jadiin status FB ah :) ya ya ya

Belajar Photoshop mengatakan...

catatan keren... moga menang kang iia :) traktirannya jangan lupa :p

niee mengatakan...

ceritanya bagus phe.. Mudah2an menang ya :)

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kalo kamu ga menang, wah keterlaluan...yakin deh pasti dapat juara.

sichandra mengatakan...

Semoga menang kawan ! hehehe

Suratman Adi mengatakan...

Tulisan nya menarik sekali,
Smga terpilih jd juara.

Apapun warna kulit mu,kt smua adalah satu bangsa yaitu indonesia.a kulit mu,kt smua adalah satu bangsa yaitu indonesia.

ais ariani mengatakan...

wow...
woooooooooooow..
wow! keren loh. serius. tadi kirain mau mbikin semacam review buku gitu. ternyata mbikin fiksi toh Mas Gaphe ini. aku baru tahu nek mas Gaphe ternyata gaphe membuat fiksi.
aku terhanyut membaca ceritanya. ide yang bagus mas :)
sukses yah buat bakti pertiwinya.

Huda Tula mengatakan...

wew, Gaphe, kamu berbakat banget nulis cerita (di luar dugaan) ... opening ma caramu menggambarkan settingnya juga bagus.

moga menang!

Rawins mengatakan...

kalo tempat nongkrong, aku malah lebih betah di lempuyangan
di bawah fly over
jadi gabisa ketemu sariyo dong yah..?

Rose mengatakan...

temanya menarik .Kemarin baru baca2 kisah mnyayat hati dahulu lalu kemudian di post sma Gaphe.

jadi semangat nih ngeliat Gaphe ikutan ..hoaa kayaknya sainganmu Gaphe bakal bertambah satu!

yuniarinukti mengatakan...

Keren ceritanya Gaphe...
jadi minder nih, kayak-kayaknya jadi calon pemenang nih...

rezkaocta mengatakan...

bagus euy,,!
gut lak kak..moga juara
=D

NuellubiS mengatakan...

ga ada china, ga ada india, ga ada arab, ga ada batak, ga ada jawa, ga ada dayak. kita semua sama. sama-sama rakyat indonesia. :)

kinan mengatakan...

Mantep keren phe...stasiun tugu yang penuh kenangan perjuangan yah...ingat lagi sepasang mata bola itu jadinya..:)
sip sip tema yang bagus nieh phe..kayaknya lolos menang nieh..menurut feelingku..:)
sukses yah..:)

Mama Kinan mengatakan...

Mantep keren phe...stasiun tugu yang penuh kenangan perjuangan yah...ingat lagi sepasang mata bola itu jadinya..:)
sip sip tema yang bagus nieh phe..kayaknya lolos menang nieh..menurut feelingku..:)
sukses yah..:)

Orin mengatakan...

Aih...keren banget mas Phe...sepertinya dirimu salah satu pemenangnya ;)

Psstt... Kakek Sarjiyo betul2 ada kah?

Blog Keluarga Info mengatakan...

Terus piye nasibnya Kakek Sarjiyo Mas???

Mila Said mengatakan...

jadi kakek sariyo itu siapa?

Cyaam mengatakan...

ih kereeeennn... saya menikmati cerita ini.

nurlailazahra mengatakan...

wew merinding bacanya (karna sarjiyo dah meninggal kan mas? hehehe kidding) beneran merinding, alur ceritanya bagus, karakter penokohannya konsisten, penggarapannya menarik, dan endingnya itu ngepas bgt, sukses ya ngontesnya........

Bundit mengatakan...

Bagus ceritanya mas. Semoga menang ya. Huhuhu jadi kangen stasiun tugu :-)

IbuDini mengatakan...

Matanya yang berwarna hazelnut tua menahanku....
Gap...seperti cerita nyata, apakah iya...siapa sosok Sarjiyo itu, yang pasti anggota TNI. Pengalaman hidupnya pasti lebih menari.

Nchie mengatakan...

Huh..terbawa suasana ..
kakek Sarjiyo nya masih ada Phe..
Pokoknya kereen..
Moga menang yah..

Ajeng Sari Rahayu mengatakan...

bagus Phe, semoga beruntung

Said Arsyad mengatakan...

wih, cara anda bercerita bagus bgd sob. persis kaya karangan novel. semoga sukses.

wih, cara anda bercerita bagus bgd sob. persis kaya karangan novel. semoga sukses.

Siti Nurul Falah mengatakan...

Good luck yaa!!!

Rean mengatakan...

Tampaknya postingan untuk kontes Blogger Bhakti Peduli kebanyakan menceritakan soal kisah yang mengharu biru. Pemicu semangat agar terus berkobar ketika nyalanya semakin meredup.

Well, good luck untuk kontesnya :)

KoskakiUngu mengatakan...

howalah, ikutan gapheaway lagi.. =,='
interesting story, cemoga menang qaqa..hehe

entik mengatakan...

ah, djogja memang penuh kenangan, makanya aku krasan hidup di djogja.

semoga menang kontesnya phe..

♥chika_rei♥ mengatakan...

gaphee....
4 thumbs buat cerita mu
chika bacanya jadi kebawa alur

bener deh ini cerita keren banget^^

sering2 deh buat cerita kayak gini
*jadiin buku *ting2 :D

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabat
jadi pingin kesana mas Gaphe xixixixi.
itu fotnya tempo doloe gitu yach

DewiFatma mengatakan...

Ini nih calon pemenang, mundur ke sudut panggung ah... Malyuuu...

Aulia ♛ mengatakan...

cerita nya interest banget , semoga menang yaa ! =)

Lyliana Thia mengatakan...

merinding bacanya, Phee.... bagus bangeeet! hebat euy!

ah, aku jd inget suamiku dulu kan keturunan jg. muslim tapi... memang jaman skrg udah nggak dipersulit masalah sekolahan utk para keturunan Tionghoa... tapi... dalam pergaulan ia dulu pernah dikucilkan... ckckck... mudah2an kedepan tak ada lagi lah rasisme spt ini,,, amin!

semoga menang yah Phe! bagus bgt deh...

joe mengatakan...

true story ya? hm, semoga sukses saja bro...

New Laptops for 2011 mengatakan...

Ceritanya tuh loh... bikin termangun menghayati bait perbait kata... :) Hemmmmm....

Cikal mengatakan...

Met malam kang,,..

TUKANG CoLoNG mengatakan...

gutt gutt bisa juga nulis ga haha hihi.. tapi keren. semoga menang deh,..keburu spechless karena tulisannya..ga tau mau komen apa.. bagus banget. (y)

arqu3fiq mengatakan...

Bagus ceritanya, gue juga pernah kenangan indah di Stasiun Tugu. Semoga sukses kawan.

Goedel Mood mengatakan...

Kuereeen banget ceritanya, keknya tulisan nie pantas jadi juara :D

Salam.. .

Doggy oh doggie mengatakan...

ini cerpen kah?? ikut kompetisi yaaa...duh lama gak maen kesini ternyata bajunya tetep biru jejejejeejej

7 taman langit mengatakan...

salam...
maaf baru bisa berkunjung ke blog ini
semoga kontesnya menang .. amin

zone mengatakan...

semoga menang mas..... :)

good luck...

ceritanya bagus....
tersentuh jh, di zaman sekarang masih ada yg atau hal untuk memikirkan negara yg sudah carut marut ini.....

gaelby mengatakan...

Mantab dek ! Aq menikmati ceritanya. Sarat makna, cerdas, toleran, dan Nasionalis.
Maaf bru smpat mampir krna memang bru smpat posting lagi, hehee..hee... :)
Sukses buat kontesnya, salam sobat :)

Zippy mengatakan...

Ceritanya bagus mas, alurnya pun enak dibaca :)
Wah..tega banget ya tu temen, pengkhianat banget :(
Wah..kakek itu menjadi penyemangatnya ya, hingga tak pernah padam :)

TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia mengatakan...

Kunjungan perdana, lam kenalKunjungan perdana, lam kenal

Amy mengatakan...

Suka banget ceritanya :) moga menang ya :)

novel blog mengatakan...

kereeen! sukses ya! :)

Ely Meyer mengatakan...

good luck aja ya

Rika Willy mengatakan...

Gaphe, selalu OKE ...

Mr Nyariadi mengatakan...

klo percakapan dengan si kakek diperpanjang, saya nangis, hidup ini gak cukup dengan uang pensiun.
moga menang Phe

Mr Nyariadi mengatakan...

klo percakapan dengan si kakek diperpanjang, saya nangis, hidup ini gak cukup dengan uang pensiun.
moga menang Phe

Laston M Lumbanraja mengatakan...

mantap, saya datang kembali, semoga daku belum dilupakan karna lama ga muncul hehe.. salam hangat

[L]ain mengatakan...

w-wuuut!!!
somehow postingan ini membangkitkan semangat. Really.

Saya juga pengen punya pengalaman aneh dan tampak spiritual kaya Liem diatas. Saya bener2 lagi butuh supply spirit biar nggak nyerah ditengah jalan.


Nice share.
#kasijempol

srrriii mengatakan...

mau komen apa ya buat ceritanya?
satu kata : bagus
eh, dua kata,: bagus banget
atau tiga kata?: sumpah bagus banget

suka banget ama ceritanya :D

Rahad 2 Six mengatakan...

keren banget cerpennya mas gaphe, kereeeeeeeen banget pokoknya two thumbs up!!

semoga menang give awaynya

riestabacil mengatakan...

Bagus banget ceritanya..
Aku terharuuuu..
Jdi inget cita2ku dulu,,pengen jdi guru matematika

AuL Howler mengatakan...

mampus.

ini bang yoga yang bikin...?

KERENNN!!

*baca lagi. baca lagi*

Mama Kinan mengatakan...

Selamat PHe menang tuh..:)

Elsa mengatakan...

tulisannya keren gini,
pantes kalo menang!

selamat ya Phe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...