Rabu, 30 November 2011

Bandara dan Cinta Dalam Sepotong Sandwich

Chapter 2*


Alarm ponsel saya berbunyi tepat pada pukul 02.45 AM. Tidak tanggung-tanggung, saya memasang dua alarm di dua ponsel saya karena saya tidak mau tertinggal pesawat seperti yang pernah saya alami dulu. Penerbangan pukul setengah enam pagi memaksa saya mau tidak mau harus bangun dini hari dan mengguyur badan dengan air mandi. Untunglah, cuaca seperti ini tidak membuat suhu air menjadi terlalu dingin hingga sanggup mengeraskan pembuluh darah. Dalam sekali guyuran cukuplah untuk membuat mata saya langsung terbuka sepenuhnya.

Saya memencet nomer ponsel saya untuk memesan taksi langganan saya. Biasanya butuh sekitar sepuluh menit hingga taksi itu siap sedia di depan gang untuk menjemput. Tapi kali ini lain, baru saja saya keluar dari pintu gerbang rumah, angkutan umum berwarna biru itu sudah memaksa masuk ke dalam gang. Sambil menenteng camera pack dan menggendong tas punggung saya berlari dan meneriaki supir taksi tersebut karena mobil tidak bisa masuk kedalam gang, terlalu sempit untuk ukuran sedan.

Lima menit selanjutnya kami berusaha keluar dari gang sempit di depan rumah. Jelas salah supir taksinya, karena di depan jalan utama sudah ada petunjuk mobil dilarang masuk gang tetapi dia nekat membawa kendaraannya masuk. Untung usaha mengeluarkan sedan ini tidak membuat bodinya lecet-lecet. Dan sepuluh menit berikutnya, saya dan supir taksi membahas ketololan ini.

Taksi pun menggelinding membelah jalanan kota Surabaya, menuju ke selatan, memasuki Sidoarjo dan mengarah ke Bandara Juanda. Pukul setengah empat lebih sedikit, akhirnya berhenti juga di terminal internasional. 

Sepi.

Hanya beberapa gelintir TKI yang sengaja tidur di kursi tunggu depan bandara. Pintu masuk pun masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya.

Saya pun mengambil tempat duduk di depan pintu masuk. Untunglah saya sudah melakukan web check in sebelumnya melalui situs Air Asia dan menge-print boarding pass. Perlu diketahui, per November 2011 Air Asia memberlakukan Check In fee kepada para penumpang yang melakukan check in dengan bantuan petugas. Besarnya 10 RM atau 30 ribu rupiah. Jika ingin menghemat uang sebesar itu, selain melakukan web check in sendiri, bisa juga melalui mobile phone (SMS) untuk memperoleh barcode. Barcode dalam bentuk gambar di ponsel ini nanti di scan di mesin self check in yang ada di dalam untuk mengeprint boarding pass. Ya, sesimpel itu. Maklum, low cost carrier airlines biasanya memberlakukan banyak penghematan dari segi layanan yang membutuhkan tenaga manusia. Semua dilakukan secara otomatis.

Jam empat tepat, pintu keberangkatan pun dibuka. Bagaikan tutup botol champagne yang ditarik dari sumbatnya, penumpang mengalir masuk ke dalam dengan menunjukkan identitas diri dan tiket. Barang bawaan ditaruh dalam conveyor belt untuk memasuki X-ray, mengecek apakah didalamnya terdapat benda-benda mencurigakan atau tidak. Saya cukup berpengalaman dalam hal ini, jika ingin cepat dan tidak bertele-tele : jangan pernah mengantongi ponsel, kunci, atau logam (termasuk dompet dan kartu ATM dan segala macamnya) saat badan kita masuk dalam body scanner. Jika iya, maka mesin pun akan berbunyi bip-bip dan bersiaplah kita diminta untuk merentangkan tangan dan badan diraba-raba oleh petugas.

Proses verifikasi identitas tidak berlangsung lama. Petugas hanya mengecek nama di tiket dan mencocokkan nomor paspor dengan data sesuai yang kita booking sebelumnya. Sedikit tanda tangan petugas, lalu dia menuliskan gate penerbangan, dan bersiaplah untuk mengeluarkan uang Rp. 150.000,- untuk membayar airport tax. Airport tax semahal itu sebenarnya digunakan untuk biaya pelayanan penggunaan bandara, termasuk sewa garbarata, operasional bus penumpang, jasa naik turun bagasi, dan sebagainya.

Beralih di counter imigrasi, sejujurnya saya agak sedikit trauma mengingat dua kali sebelumnya saya selalu berada lama di counter ini. Entah karena memang wajah asli saya lebih ganteng daripada di foto paspor sehingga petugasnya curiga, atau gara-gara tinggi badan yang dipalsukan oleh pihak travel yang tidak sesuai dengan tinggi badan saya ketika dulu membuat paspor. Tapi kali ini beda. Semua saya lalui dengan lancar, dan cepat.

Ctak!

Cap paspor biru tanda saya meninggalkan batas negara pun saya terima. Setengah jam kemudian saya habiskan untuk menunggu pesawat berkode QZ 7617 yang akan membawa saya terbang ke Kuala Lumpur. Saya menghabiskan waktu dengan mengamati orang-orang. Ini adalah kegiatan yang paling saya senangi jika saya bepergian sendirian. Saya mendengar obrolan ibu-ibu Madura yang akan kembali ke Malaysia untuk mengais rejeki. Bersama suaminya, dia bertanya pada penumpang lainnya berapa harga tiket yang dia pesan. Obrolan tentang harga tiket seperti ini ternyata lazim ditemui beredar diantara TKI satu dengan yang lain, seakan-akan semakin mahal harga tiket pesawat yang mereka beli maka semakin tinggi status mereka. Atau sebaliknya, terdengar mengeluh jika ternyata mereka membeli tiketnya terlalu mahal dan diakhiri dengan justifikasi : karena saya baru membelinya beberapa hari sebelumnya atau pada hari keberangkatan. Kenapa saya bisa menyimpulkan hal ini?. Karena kejadian yang sama –obrolan tentang tiket ini juga saya  dengar ketika sesama TKI bertemu dalam penerbangan lainnya.

Air Asia berkode QZ ternyata dioperasikan oleh Indonesia Air Asia (IAA). Meskipun Air Asia merupakan low cost airlines asal Malaysia, namun ternyata ada beberapa kode yang menunjukkan perusahaan yang mengoperasikannya. Selain QZ yang dioperasikan oleh IAA, ada kode AK yang dioperasikan oleh Air Asia – Malaysia. Ada juga kode lainnya, yang dioperasikan oleh Thai Air Asia. Saya menyadari ini setelah menemukan benang merah mengapa tiket gratis yang saya pilih harus berkode QZ dan setelah berada di dalam pesawat saya menyadari semua pramugari dan pramugaranya asli Indonesia, setidaknya dari logat bahasa dan nama yang tertempel di dadanya. Berbeda dengan pesawat Air Asia berkode AK yang pernah saya tumpangi awal Maret tahun ini, dimana pramugara dan pramugarinya berlogat malaysia dan bermuka chinese atau India – dua komunitas yang banyak ditemui di Malaysia.

Saya duduk di bagian aisle, nomor 16 C. Dua tempat duduk di sebelah kiri saya ditempati oleh sepasang oma-opa beragama nasrani yang menghabiskan waktunya dengan membaca injil. Sedangkan saya, hanya menggenggam buku berjudul Kedai 1001 mimpi karangan Valiant Budi. Dan babak pertama kisah cinta dalam perjalanan ini pun dimulai.

Sudah menjadi kebiasaan untuk airlines menawarkan makanan dan minuman yang dapat dibeli di dalam pesawat. Saya menyempatkan sekilas melirik daftar menu, dan saya tidak terlalu tertarik dengan yang ditawarkan. Apalagi kalau bukan faktor “U” (Uang) yang menghambat. Bayangkan, sebotol teh dan satu cup mie instan dibanderol dengan harga Rp. 30.000,-. Walaupun saya belum sarapan, saya menahan keinginan itu karena setiap sen yang saya bawa terlalu berharga untuk dihabiskan sekarang. Oma dan opa di sebelah saya memesan makanan. Opa memilih curry puff, yang ternyata disambut dengan gelengan dari pramugari yang menunjukkan bahwa menu itu tidak tersedia. Opa kembali menunjuk, sebuah gelengan pun muncul lagi. Akhirnya opa menyerah, dan memilih apa saja yang ditawarkan. Pilihannya pun tertuju pada chicken sandwich dan segelas kopi panas. Oma tidak memilih apa-apa.

Aroma kopi panas yang mengepul di depan saya membuat saya terjaga untuk mengamati aktivitas selanjutnya. Ternyata mereka berdua berbagi potongan sandwich ayam yang Opa beli. Separuh untuk Opa, dan separuh untuk Oma. Mereka menghabiskan sandwich itu dalam diam. Tetapi dari sudut mata, saya mengamati betapa Opa mencintai Oma dan sebaliknya. Segelas kopi pun mereka seruput berdua. Masih tanpa kata, tetapi bahasa tubuhnya menyiratkan kenyamanan yang luar biasa.

Dari kerutan di wajahnya, dan uban yang tumbuh dikepalanya, saya bisa menebak bahwa Opa lebih berumur daripada Oma. Ketika pesawat akhirnya meninggalkan ketinggian 33.000 kaki menuju landasan LCCT, cinta mereka berdua semakin terlihat. Pada saat mendarat, saya sengaja mempersilakan mereka untuk berada didepan saya lebih dulu merangsek maju. Saat seperti ini biasanya adalah saatnya para penumpang untuk menjadi lebih brutal. Yang tadinya diam duduk manis, ternyata bisa menjadi monyet ganas ketika membuka bagasi. Brak-bruk. Brutal!.. Saya mempersilakan Opa dan Oma maju dan keluar duluan, dan saat menuruni tangga, sang Oma yang terlihat lebih sehat mengamit lengan Opa. Pelan-pelan menuruni tangga satu persatu, dan berjalan selangkah demi selangkah. Dari bahasa tubuhnya Oma tampak sabar membantu Opa. Terlihat mesra, dan masih tanpa kata-kata. Sampai akhirnya, saya berjalan mendahului dan meninggalkan pandangan ini.. Welcome LCCT, Touchdown Kuala Lumpur!!

Cinta itu sederhana. Terkadang tidak butuh kata-kata untuk mengungkapkannya.


---------------------------------------------------------------------------------------------------
*Saya ingin menuliskan kisah perjalanan saya ini dalam bentuk sebuah cerita nyata yang diselingi dengan informasi tentang tempat tujuan wisata yang saya datangi. Selesai semua cerita perjalanan ini, saya berencana untuk mengumpulkannya dan membuat sebuah free e-book yang dapat didownload oleh siapa saja. Doakan semoga project ini berhasil ya!. Oh iya, berhubung banyak permintaan oleh-oleh, saya membeli lumayan banyak permen, beberapa batang cokelat, dan cookies yang nanti akan saya bagikan melalui giveaway. Jadi, tunggu cerita berseri saya yaa :)

60 komentar:

hilsya mengatakan...

aiiih, so sweet si oma dan opa..
aku juga bisa makan sepotong potekan kok...

ketty husnia mengatakan...

ok mas gaphe..aku tunggu cerber ini.:)
pertanyaannya..berapakah nomor tiket pesawat mas Gaphe?? hehehehe
jangan yg susah2 ya..kan beli coklatnya banyak jadi bagi2 ajah..:)

dunia kecil indi mengatakan...

ide e-book nya OK, gaphe. aku minta permennya, dong *dengan gaya mesra oma ke opa* hehehe...

Syam Matahari mengatakan...

So sweet bgt phe... hehhheh. tumben2nya postingan kamu gak bikin sy ngakak. sm seperti yg stasiun tugu juga sih.

ditunggu deh e-booknya :)

Fiction's World mengatakan...

wah bagus nih :D setujaaah aku dukung pembuatan e-booknya :D

" ... wajah asli saya lebih ganteng daripada di foto paspor sehingga petugasnya curiga" bagian ini sepertinya murni fiksi ya bang :P

Ad Ln Pt mengatakan...

mantabh bih mas gaphe, jadi travel-blogger ^^b

narti mengatakan...

kenapa gak ngajak2 aku sih? :D
semoga proyeknya lancar ya!
ditunggu launchingnya ^_^

AuL Howler mengatakan...

Ditunggu...
hehehe

^^

*mampir abis liat2 foto bang yoga di facebook*

wuihihihi

anazkia mengatakan...

Sampai kapan di Malaysia? Kopdar, yuk? #kalau mau

Yayack Faqih mengatakan...

dari bahasa tubuh juga cinta akan dgn sendirinya bisa di rasakan alias nyetrum hehehe....

cuma permen dan cokelat???? #mangap :D

Lyliana Thia mengatakan...

ini dia niiih kisah romantis yg sebenarnya... iyah, cinta dan kasih sayang itu bukan dgn ngegombal... hehehe... beruntung ya Gaphe bisa duduk di sebelah pasangan itu...

ditunggu GA nya ya Phe.. :-D

Claude C Kenni mengatakan...

Wah part 2? Part 1 nya mana ya? o_0

Ga nyangka Gaphe juga suka nulis cerita kayak gini, hehehe

Rawins mengatakan...

wenak dong jam 4 dah buka
syamsudin noor baru buka jam 5
padahal nyampe sana pasti jam 2 jam 3an...

Adittya Regas mengatakan...

ditunggu banget nih mas giveaway nya hihi

Asop mengatakan...

Waaaaaaah Mas Yog, semoga perjalanan Mas Yoga ini bisa dituangkan ke dalam buku, ya! ^^

The dark anco mengatakan...

Keren mas gaphe
2 jempol dech bwt mas gaphe

Ninda Rahadi mengatakan...

selamat datang lagi bang ditunggu giveawaynya hehehe :D tapi gak tau saya bisa ikut gak bukan masalah waktu sih tapi apa bisa ngerjainnya itu :P

hah kalau udah seumur hidup bareng gitu rasanya cinta sudah gk lagi penting malah kalau menurutku
yang paling penting rasa nyaman
dan keterbiasaan bersama itu bikin sukar kehilangan

nyambung gk ya komenku
mbuh kah :p

Arman mengatakan...

wah abis jalan2 dari KL ya...

Bayu Hidayat mengatakan...

free e-book. weah. ide keren brooo. ayooo jalan jalan terus. ahhh si bro gaphe emang jagoan kalo mengulas jalan jalan. gw yang pertama download ah entar

Tri Setyo Wijanarko mengatakan...

Banyak orang yang menganggap bahwa AirAsia identik dengan Malaysia. Padahal nggak selalu lho. Terbukti kan QZ (Indonesia AirAsia) ini adalah maskapai Indonesia, bukan Malaysia. Brand-nya memang menggunakan brand asal Malaysia, namun mayoritas sahamnya (51%) milik orang Indonesia. Sisanya sih tetep milik AirAsia Berhad. :D

Sebenernya lebih hemat loh kalo preorder makanan saat booking tiket daripada saat sudah di dalam pesawat.. Lumayan menghemat beberapa ribu rupiah.. hehe..

Oh ya, Opa dan Oma itu WNI atau WNA?

anisayu mengatakan...

wah manis ceritanya
sungguh menghibur mata
ketika baru terjaga... :)

tiffa mengatakan...

Kenapa ga dibuat buku aja, Phe. #self publishing.

Smga dpt pahala ya, atas free ebook utk informasinya. :)

Subhannallah, Qaqaq Gaphe baik bgt/sering bgt ngadain giveaway2-an, sukses aja dech buat dirimu :)

Falah Mulyana mengatakan...

blog yang sangat bagus gan,,,,,,,

kunjungan balik gan

minta back link alexa nya gan soal nya ane baru ganti domain

http://www.falahmulyana.com/
happy blogging gan

kinanthi mengatakan...

so sweet...so touching...

Akmal Fahrurizal mengatakan...

wah bener2 backpacker sejati nih kayanya, walaupun sendiri juga, KL tetep dikejar. :D . Kalo saya sih boro-boro ke LN, ke bandaranya aja blom pernah. *curhat. haha

Berarti bener ya, cinta itu kalau menemukan pasangan yang pas dan jodoh, gak akan lekang dimakan usia. :)

Semoga e-booknya terwujud ya dan tetap FREE tentunya! :p

zaenal Blog mengatakan...

Wiihhh, kebawa cerita ane....
alurnya seakan nyata di depan mata....
kisah cinta oma dan Opa dengan spotong sandwitz nya.....
ceritanya kirain GAPE nemu Cinta di Bandara gara2 ngasih sandwids ke Pramugari,hihiiii......

Zh!nTho mengatakan...

sippp di tunggu Giveaway nya hehe

kira mengatakan...

disamping ada opa ama oma, mas gaphe ama siapa??? hohohohoho:)

oleh2nyo yo

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

aduh romantis amat..jadi iri sama opa dan oma.

melly mengatakan...

saya nunggu giveawaynya aja..hehe

Della mengatakan...

Aku juga pernah lihat pemandangan seperti itu, opa-oma berjalan bergandengan tangan. Malah sempet aku potret, hehe..
Subhanallah..
Semoga Gaphe kelak juga bisa seperti itu ya, amin.. :D

Sitti Rasuna Wibawa mengatakan...

Iri nih yeee liat oma opanya hehehe.
Wah asik ada GA, ditunggu GA-nya :D

Sadako Kenzhi mengatakan...

Amin ya Rabbal'alamin, semoga kewujud ya Phe projectnya. Kirain tadi bakal jadi kisah cintamu sama seseorang, ternyata kisah beliau, Oma sama Opa yang bikin trenyuh...hmm, indah ya.

Tanpa kata, tapi dari gemulai gerakannya bisa dibaca. Semua ceritamu dari awal tadi sampe yang ini menarik, sampe ke bawa ke alur cerita si Oma sama Opa tadi...lanjutkan Phe, ayo mana ini lanjutannya?

yadiebaroos mengatakan...

kisah romantis, ditunggu ebook dan give nya mas gaphe

armae mengatakan...

romantisss :)

aku juga sukak merhatiin orang kalo pas sendirian. bahkan kadang sampai sangat terlihat. hahaha..
tapi ku kira itu kebiasaan yang tidak terlalu buruk dan aku gak berniat untuk menghilangkannya :p

tautanpena mengatakan...

Pena hadir dan absen siang sob...Sekalin follow sini.
Wah pena belum punya pengalaman naik pesawat terbang neh

KoskakiUngu mengatakan...

wuihihi, cerita cinta si oma-opa membuat saya jadi pengen banget minum kopi sambil disuapin sandwich sama beckham trus di pijit2 sama syahrini.. wahahaha *hapah sih?*

yey! ada gip-ewei lagi!
mauku mooo gang, cepat2 mi nah! :D

TUKANG CoLoNG mengatakan...

nah itu yg paling ditunggu tunguuuu.. oleh oleh :))

Baby Dija mengatakan...

uang sakunya 500 dolar?
banyaknyaaaaaaaaa....

buat beli oleh oleh Dija ya Om??

Elsa mengatakan...

gak sabar nunggu hasil liputan jalan jalannya Gaphe

Irly mengatakan...

Waahh..kisah perjalanannya ditambahin kisah romantesmi oma-opa...
suka..suka..suka ^_^

Indah mengatakan...

Gaphe jalan2 terus niyyy. enak bener ya. btw berapa hrga tiketnya? :D

.:diah:. mengatakan...

ayoo Gaphe, buruan tulis lagi lanjutan ceritanya.

salut deh, mau buat projet free e-book, sebagai panduan dan cerita perjalanan kamu, ayoo Gaphe, semangat yaa nulisnya, pasti kamu bisa deh, tulisannya kan banyak yg gandrungi tuh ;)

*menanti lanjutannya plus kabar GA nya :D

leiny_Deedee mengatakan...

waaa.. Romantis.romantis.

Suka banget ama quote ttg cinta diendingnya. :)
#kunjungan balik. Makasii sudah b'kunjung ke blog saya. :)

jasa pembuatan company profile mengatakan...

judulnya "Bandara dan Cinta Dalam Sepotong Sandwich" kok gambarnya uang dollar

ghost writer mengatakan...

kalau kamu masih ada di kuala lumpur,terus ketemu sama aku,Phe.hujung minggu ini aku ada di KL.

NuellubiS mengatakan...

oke deh... moga proyek lu kelar yagh phe... :D

btw sebotol teh dan satu cup mie instan dibanderol dengan harga Rp. 30.000? mahal amat. 30ribu mending beli buku.. =,=

attayaya-bono mengatakan...

waaaah projectnya ampir mirip neh
aku ma temen2 blogger lain lagi buat buku wisata berisi tulisan perjalanan tentang wisata sejarah,alam, kuliner msg2 daerah.

ini salah satu tulisan yg mau kuberikan
http://www.attayaya.net/2011/12/mengejar-bono-sungai-kampar.html

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

ditunggu projectnya ya, semoga bermanfaat untuk semua

Nia mengatakan...

siip...di doakan smoga projectnya sukses...dan eng ing eng...dah gak sabaran ench nunggu GAnya hihihi....

Ferdinand mengatakan...

Asik... beneran mau ada Give Away lagi ahahha...moga project lu kali ini sukses ya phe... oiya masih di sebrang sana gak kamu? klo masih mbak anaz mau kopdaran tuh, kemaren nanya no'mu tapi aku kan gak tau haha... sekalian PM no mu deh ke aku terserah mau ke YM! (djnan@rocketmail.com) or email (djnand.dj@gmail.com) ntar biar kukasih tau ke si mbak... :) tapi no yg aktif yak... *LOL

Yo wes met liburan lagi...

Hitam Putih Pelangi mengatakan...

Cinta itu sederhana. Terkadang tidak butuh kata-kata untuk mengungkapkannya....

suka kata-kata ini mas gapheeeee :D

Mila Said mengatakan...

waaah si oma & opa roamntis bedua, sedangkan lu cuman ngeliatin sendirian doang.. jomblo pulak jyahahahaaa.... *ngacir

zasachi mengatakan...

Baru cerita awal keberangkatan, udh seru gini... :-D
e-book? kenapa gak buku aja Pe..?

niee mengatakan...

Jadi sesi ini judulnya oma opa phe? hehehe... semoga sukses deh dengan ebooknya.. ntar bagi2 gratis dong yak.. atau dijadiin buku aja phe.. di Nulisbuku.com noh.. kan lumayan.. :D

tiwi mengatakan...

pa kabar Gaphe?....betul bgt, tidak butuh kata2.., padahal itulah yg tekadang wanita pinta pengungkapan melalui kata2...aneh khan, tapi seiring waktu, tindakan nyata jauhhh lbh berarti drpd sekedar pengungkapan kata2 hehhehhe *mbulet wae see kalimat e...hihihi

r10 mengatakan...

para penggemar giveaways pada datang nih

teh+mie=Rp 30 ribu? dilangit pajaknya lebih gede yah :D

*maaf nih baru berkunjung, baru sempat bw soalnya

catatan kecilku mengatakan...

Tradisi GA utk oleh2 dario Malaysia akan dijalankan lagi ya Ga? hehehe... asal jangan disuruh membuat tulisan yg bercerita tentang kisah cinta romantis yg menginspirasi saja hahaha...

Zulfadhli's Family mengatakan...

Semoga cinta gw dan Om Zul bisa langgeng seperti si Opa Oma. Amien

*nah lo sendiri kumaha Phe? Udah nemu tulang rusuk yang ilang belom??*

Iqoh mengatakan...

love until end

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...