Kamis, 01 Desember 2011

Dari LCCT Kuala Lumpur Menuju Melaka


Chapter 3

Tidak banyak yang berubah di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) yang terletak di Sepang – Malaysia. Masih sama seperti terakhir kali saya kesana, rangkaian kubah-kubah semi permanen menjorok ke lapangan, atap-atap seng dan asbes, mobil penarik kereta bagasi berseliweran, dan jalan kaki menuju arrival hall yang membuat hati dan mata saya sepakat menertawakan terjemahannya dalam bahasa melayu : balai ketibaan.

Karena saya tidak membawa bagasi, maka saya melenggang dengan cepat. Jalan menuju ke counter imigrasi dibagi menjadi dua arah. Saya berjalan di sisi sebelah kanan. Dari arah sebaliknya, di sisi kiri badan jalan, saya melihat rombongan penumpang yang semua memiliki bentuk wajah dan warna kulit yang sama : India. Mereka terlihat sedikit berlari untuk menaiki pesawat yang besar kemungkinan saya tebak menuju salah satu tempat di India. Tiruchirappali mungkin?. Entahlah.

Menuju ke counter imigrasi, saya berbarengan dengan cowok lumayan trendi berkaos polo hitam dan skinny jeans. Dia berjalan di depan saya, namun tiba-tiba menengok kebelakang dan bertanya dari balik kaca mata frame putihnya ke saya :

“Indonesia or Malaysia”, katanya.

Sebenarnya jika iseng, saya bisa jawab : “Zimbabwe”.
Tapi saya terlalu lelah untuk berbuat iseng, maka saya jawab : “Indonesia”

Lalu dia kembali bertanya : “Ini perlu mengisi kartu-kartu gitu nggak?”

“Sepertinya tadi saya melihat petugas mengarahkan kita langsung ke loket imigrasi, tak ada borang yang diisi”.
Saya ragu dengan perkataan saya sendiri, tetapi saya tetap berjalan mengikuti arus.

Ketika saya tiba di LCCT beberapa bulan yang lalu, borang kedatangan dan keberangkatan biasanya dibagikan di dalam pesawat. Namun untuk kali ini, sampai pesawat landing pun pramugari tak kunjung memberikan bahkan sampai saat saya tiba di depan counter imigrasi. Jawaban pertanyaan itu akhirnya saya temukan ketika berhadapan dengan pihak imigrasi.

Kali kedua berhadapan dengan imigrasi pada pagi yang sama, ada satu kejadian yang mungkin sudah wajar terjadi di Malaysia. Petugas imigrasinya rata-rata galak dan tidak ramah. Mata saya langsung tertumpu pada satu ibu-ibu berkerudung yang dimarahi oleh petugas imigrasi berwajah India (lagi-lagi India) karena tidak paham apa yang dimaksudkan. Kemarahan petugas terlihat saat dia memukul-mukul pemindai sidik jari menggunakan bolpoin. Oh, mungkin si ibu diminta untuk memindai sidik jarinya. Tetapi sayangnya ibu itu tidak paham.

Saat itu saya hanya berharap, tidak perlu mengalami kejadian aneh-aneh disini. Masih mending jika tidak boleh melintas, tetapi jika sampai saya harus masuk ke ruang karantina, ditelanjangi, dan dipukul dipaksa mengaku bahwa saya telah menyelundupkan narkoba gara-gara postur tubuh saya yang mirip pemadat, apa yang akan saya katakan sama dua ratus juta penduduk negeri saya??. Oke cukup, khayalan saya berlebihan.

Beruntung saya berhadapan dengan petugas wanita berkerudung bermuka melayu yang tampak ramah. Dia hanya memindai paspor saya, lalu meminta saya menempelkan dua telunjuk tangan ke mesin pemindai sidik jari. Mesin berbunyi biiip, cahaya biru muncul seperti kilatan flash. Saya angkat jari, cahaya hijau lalu muncul. Petugas imigrasi pun lalu bilang “Again!”. Saya melakukan seperti itu lagi, dengan proses yang sama. Saya mengangkat telunjuk saya sesaat setelah cahaya biru menyala. Ternyata si petugas itu belum memperoleh data sidik jari saya. Dia lalu menunjuk ke mesin, dan berkata “lama.. lama”. Oh, oke.. maksudnya mungkin saya kurang lama memindainya. Dan ternyata, yang perlu dilakukan adalah menempelkan dua telunjuk kanan kiri ke pemindai, menunggu cahaya biru menyala, lalu menunggu cahaya hijau menyala, baru boleh diangkat. Kesalahan saya tadi adalah terlalu cepat mengangkat jarinya, habisnya saya takut jari saya gosong sih..

Bunyi mesin print berderai memuntahkan selembar kecil stiker. Stike ini ditempel di paspor saya dan dicap : Visit Pass. Permited and remain in west Malaysia and Sabah for thirty (30) days on social visit only from the date shown above. Stiker kecil itulah yang menjadi jawaban kenapa sekarang tidak perlu mengisi borang kedatangan lagi.


Resmi sudah masuk ke negeri Tun Abdul Razak ini. Masih pukul setengah sepuluh pagi. Saya merencanakan perjalanan langsung ke Melaka dari terminal LCCT ini pada pukul 11.30 waktu lokal. Waktu di Malaysia lebih cepat satu jam dibanding waktu Indonesia bagian barat. Saya berarti masih punya waktu sekitar dua jam di LCCT.

Dari LCCT menuju Melaka bisa ditempuh menggunakan bus. Beruntung, saya memperoleh informasi bahwa ada bus yang langsung ke Melaka dari LCCT yang beroperasi setiap hari mulai pukul 9.00 AM untuk keberangkatan pertama. Saya pilih yang keberangkatan kedua, pukul 11.30 AM. Sebetulnya saya tahu kalau saya seharusnya terlebih dahulu mencari loket armada bis yang akan saya tumpangi untuk menukar itinerary yang telah saya terima lewat email menjadi sebuah tiket perjalanan. Tanpa tiket saya tidak akan bisa naik bus, dan waktu penukaran itinerary adalah sejam sebelum keberangkatan. Hanya saja, setelah saya berjalan ke arah pintu keluar tempat tunggu bis, saya menemukan armada bus Transnasional, nama operator yang sama dengan yang tertera di itinerary. Jadi saya memutuskan untuk tidak menukar tiket. Saya teringat terminal-terminal keberangkatan di Indonesia biasanya tiket itu ditukar di dalam bus, setelah berangkat. Jadi saya pikir, hal yang sama juga berlaku disini.


Alih-alih mencari loket penukaran itinerary, saya malah menuju ke Food Garden LCCT untuk sarapan. Karena teringat kisah Oma dan Opa yang berbagi sandwich di dalam pesawat, maka saya juga kepengen untuk menikmati sepotong sandwich untuk sarapan. Akhirnya pilihan jatuh pada Premium Tasty Chicken sandwich dengan onion dan lettuce yang dipajang di rak pendingin salah satu foodstall di dalam food garden LCCT. Saya mengambil satu dan memesan segelas tea tarik (yang harus diucapkan menjadi : titarik).

Barter sejumlah ringgit dan sandwich dan titarik selesai sudah. Saya membawa nampan ke tengah, dan memilih tempat duduk untuk menikmatinya sambil memandang keluar jendela memastikan bus ke Melaka itu tidak meninggalkan saya. Bodoh! Jelas-jelas masih lama waktu keberangkatannya.


Jika memiliki waktu luang dan belum sarapan atau makan siang pada saat di LCCT, sebetulnya Food Garden bisa menjadi pilihan. Food Garden LCCT yang buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari fasilitas kamar mandi dan toilet serta washtafel, juga free wifi KLIA yang jika login kita akan disambut dengan satu web polling yang nggak wajib diisi. Ada sekitar tujuh atau delapan foodstall yang jualan disini dengan menu beragam. Aneka macam yee mee (yamie), Nasi rames, nasi kandar, sampai KFC dan ice cream booth.


Kebanyakan pengunjung yang membawa serta barang bawaannya dan ditaruh di troli mampir ke Food Garden LCCT untuk sekedar menyelonjorkan kaki atau membuka laptop untuk merencanakan perjalanan selanjutnya. Namun yang saya lakukan, menyobek bungkus sandwich dan menikmati sepotong demi sepotong sambil sesekali menyeruput teh tarik yang saya pesan. Teh tarik biasanya dibuat dengan mencampurkan susu kental manis dengan teh lalu dicampur dengan cara menuangkan teh tersebut dari satu cangkir ke cangkir yang lain. Tapi yang saya nikmati beda. Ini teh yang berasal dari mesin pembuat minuman. Petugasnya hanya memencet satu tombol lalu cairan cokelat beraroma harum itu keluar panas-panas.

Ternyata menunggu dan sarapan tanpa memegang tiket terlebih dahulu adalah sebuah kesalahan. Saya keluar dari Food Garden jam setengah sebelas kurang lima menit. Saya kembali duduk di depan bus yang akan saya tumpangi sambil membaca. Tak sengaja saya mendengar obrolan di samping saya, bapak-bapak menggunakan bahasa Jawa Timuran. Karena tertarik, maka saya langsung bertanya : “Pak, punya anak cewek nggak?”.

Oh.. bukan! bukan itu maksud saya.

Saya bertanya  : “Kalau naik bus ini perlu beli tiket dulu?”
Bapak itu menjawab, “Iya mas”
“Belinya dimana ya pak?”. Saya bertanya kembali dan mulai panik
Bapak itu lalu mengacungkan telunjuk mengarah ke satu titik, dan memberikan penjelasan yang cukup singkat tapi tidak jelas.

Saya mengikuti arah petunjuk bapak itu, namun akhirnya saya berhenti dan bertanya lagi ke information desk tentang dimana saya bisa menukar itinerary menjadi tiket. Petugas information desk memberikan arahan, bahwa loket bus yang saya tumpangi berada di terminal kedatangan domestik. Sebelah tempat pengambilan bagasi.

Untung belum terlambat, dan ternyata kursinya juga tidak terlalu penuh. Makanya setelah menukar itinerary, tiket saya terima dengan tulisan seat number : FC yang saya asumsikan sebagai Free Choose.


Kurang 10 menit sebelum berangkat, saya menaiki bus Transnasional dari LCCT Kuala Lumpur menuju ke Melaka. Memang tampaknya hanya beberapa gelintir orang yang naik dan langsung menuju ke Melaka. Meskipun sedikit penumpangnya, mau tidak mau bus harus tetap berangkat supaya tidak menyalahi aturan jadwal. Jadilah, saya dan dua belas penumpang lainnya menguasai seluruh tempat duduk yang ada hanya untuk : Tidur!.

Di dalam bus, kursi disusun unik. Susunan dua baris-dua baris didepan dengan jalan satu ditengah, sedangkan bagian belakang susunannya menjadi satu-satu kursi dengan tiga kolom memanjang kebelakang. Saya memilih kursi paling belakang, dan paling tinggi. Reclining seat juga, sehingga cukup nyaman untuk perjalanan jauh.


Perjalanan Kuala Lumpur – Melaka ditempuh dalam waktu dua setengah jam perjalanan. Rutenya, dari LCCT melewati sirkuit Sepang – tempat Simoncelli mengalami kecelakaan, menuju tol bukit berendam, dan menuju Melaka Sentral.

Tidak ada yang spesial dari perjalanan naik bus dari Kuala Lumpur ke Melaka. Pandangan kiri kanan juga hanya tol dan kebun kelapa sawit. Yang bagus adalah, rata-rata jalanannya masih baru dan bersih-bersih. Sempat berhenti sejenak setelah menempuh setengah perjalanan untuk toilet break, lalu bus pun melaju kembali.

Bus melaju sampai ke Melaka Sentral. Dari Melaka Sentral, bus kembali melaju menuju perhentian terakhir yaitu di Mahkota Medical Centre - sebuah rumah sakit terbesar di negara bagian Melaka. Setelah dua setengah jam berlalu dengan pemandangan yang biasa-biasa saja maka satu-satunya yang masih terasa adalah Capeknya!. Yeap, Finally I Found Melaka!




Informasi tambahan :
  1. Ada bus yang langsung menuju Melaka dari Kuala Lumpur yang dioperasikan oleh perusahaan bus transnasional. Untuk rute dan informasi harga serta tempat keberangkatan, dapat diperoleh di situs resminya www.transnasional.com.my 
  2. Saya menggunakan armada bus ini untuk perjalanan lintas negeri bagian Kuala Lumpur – Melaka – Penang – Kuala Lumpur dengan memesan tiket sebelumnya melalui situs tersebut. Pesanlah tiket jauh-jauh hari untuk menghindari kemungkinan kehabisan tempat duduk.

45 komentar:

21inchs mengatakan...

Mas kapan-kapan mbok aku diajak jalan-jalan keluar negeri gitu loh...

.:diah:. mengatakan...

huaaaa #mupeng

kapan ya bisa traveling keluar juga??
ikuutt dunks :D

itu mobilnya keren yaa, nyaman2 aja pastinya walo perjalanan jauh yak?
aiihh jadi makin mupeng :D

Tri Setyo Wijanarko mengatakan...

kayaknya ini yang disebut naik bus lebih manusiawi dibanding naik pesawatnya airasia.. xixixiixi..

ketty husnia mengatakan...

pokoknya kalo tiba2 aku kesini..mending aku langsung tanya2 sama mas gaphe deh...(tuink2..) siap 24 jam kan mas..sebagai guide saya?? :D :D

dv mengatakan...

pheee..kapan2 ajak2 saia dunks..pengeennn >.<

baca 3 chapter tulisan mu oke juga phe, udah cocok jadi penulis..*jempol lahh

*pujian ku mengandung umpan phe :D

BasithKA mengatakan...

Wuaah.. panjang amat postingannya *keringatan baca* Muehuehue :P
Asyik yah sepertinya :D anw, salam kenal! Makasih udah berkunjung ditempatku :D

Aku follow yah blognya, saling follow yuk, makin banyak temen kan makin asyik :D

Fiction's World mengatakan...

yah padahal kalau jawab Zimbabwe kayaknya bisa jadi ada alternatif cerita lain tuh :D
gelas teh tariknya kurang oke tuh :P

ghost writer mengatakan...

Phe,sudah berapa kali kamu lawat negeri aku.terasa ada jugak lucunya dengan postingan kamu. :)

ya,kalau berkesempatan bertemu di KL dalam perjalanan pulang ke Indonesia,terus hubungi aku Phe.

nanti no phone aku kasi di FB.

KoskakiUngu mengatakan...

seru bacanyaa, apalagi kalo ngedengar langsung...
*tipe manusia yg senang dengar org bercerita*

pe', tangan kamu imut! zizizizi ^^

Ami mengatakan...

next story, honeymoon... #uuups

narti mengatakan...

ini yg mau jadi buku guide?

sda mengatakan...

tumben belum ada pic Gaphe gi narsis nih?

tiffa mengatakan...

Hahaha klo ingat kata Zimbabwe dan Qaqaq, aku jd ingat km dan ngakak. :D

dhenok habibie mengatakan...

kalo kisah2 traveling mu dibukukan, kayaknya asyik tuh phe.. waaahh sukses deh phe, semoga bisa menjelajah ke negara2 yang lain..

Kiowa Sayaka Tasako mengatakan...

Wah seru tuch, minat...

naspard mengatakan...

asik asik asik
bagus ya malaysia
tapi tetep indo donk kekeke

btw masih awal ngunjungi nih ijin follow ya

Ello Aristhosiyoga mengatakan...

Jangan-jangan, waktu pulang ke Indonesia anda sudah jadi warga Malaysia. Hahahaha, tapi itu, untuk ada si bapak Jawa Timur, yg bisa memberitahu cara menukar tiket!

Follow my twitter: @elloaris

anazkia mengatakan...

Ternyata mau keliling Malaysa tho? :)

JHaZKiTaRo mengatakan...

salam kenal.. jemput singgah blog hamba (Aku Sebutir Pasir) kalau nak baca pengalaman hamba kembara ke 46 buah negara.. :)

Sadako Kenzhi mengatakan...

apa semua bus di Malaysia kayak gitu Phe? enak ya, nggak berdempetan alias renggang gitu, lebih leluasa-dan lagi, bersih!

oke, chapter 3 sepertinya bagian yang kurang menarik dari perjalananmu, tapi ingatanmu di sini patut diacungi jempol. Bisa nyeritain sedetail ini, awesome!

andriansyah s putra mengatakan...

selamat datang di malaysia (lagi) kak \:D/ hahahaha..
baru tiba di bandara aja udah keliatan serunya perjalanan nanti yaaa :D heheheh.

Orin mengatakan...

Jadi...jadi...si bapak itu punya anak cewek ga mas Phe? :P

NECKY mengatakan...

Orin...kalau gaphe ga bahas lagi berarti dia udah punya alamat lengkapnya.....hehehehe....

Ad Ln Pt mengatakan...

wah... kayaknya bus nya nyaman banget.

Syam Matahari mengatakan...

seru... seru... dinanti chapter selanjutnya phe :)

Mila Said mengatakan...

AHA! akhirnya gw ngerti itu stiker itu artinya apaan. Selama ini gw bertanya2 dalam hati hahahaa....

Rawins mengatakan...

bisnya keren abis yo..
kapan aspada ngeganti armadanya dengan bus kayak gitu..?

:hammer

Elsa mengatakan...

wuuuaaaa aku belom pernah ke Melaka....

Nia mengatakan...

busnya bener2 nyaman yachh.....biar 2,5 jam diperjalanan ngga terasa jadinya.....ditunggu cerita selanjutnya......menarik banget baca postingan gaphe.....detail dan kadang ada gokilnya ehhehe....

Ejawantah's Blog mengatakan...

Pengalaman perjalanan yang mengasyikkan Sob.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Tika mengatakan...

ni tiket gratisan kmren mas gaphe??ada yg ok kah di melaka/penang??ditunggu foto2 & ceritanya ya...

Sarah mengatakan...

Wah kalo di tengah perjalanan ada inspirasi menulis, bisa dibuat cerpen nya nih mas :D

Ferfau mengatakan...

Wah, mas, asyik kali kayaknya... seru...!

zone mengatakan...

hohoho....
ijin copi pengalamannya ya mas...
:)

zone mengatakan...

eh ya,,,jangan lupa oleh-olehnya...
:)

Andy mengatakan...

disana model traportasi'a mirip kaya busway di indonesia ya ?

Ferdinand mengatakan...

Hahhaa..... asli lebay banget khayalan lu phe, dimana2 juga biarpun ketauan nyelundupin narkoba lu kga bakal sampe ditelanjangin juga kali haha... emank dikarantinanya di Gulag haha...

eh tapi tuh orang yg nanya lu Indonesia or malaysia emank kenal sama lu ato cuma tanya2 sepintas ???

OOT: sms gw masuk kan tadi pagi?

zasachi mengatakan...

Membacanya serasa aq lg ikut jalan2.. hihihi
Seru bgt seh Pe.. :-)
eh, tp knp jg kamu gak jwb klo kamu dr zimbabwe...? aq pengen tau reaksinya.. #iseng

r10 mengatakan...

busnya keren susunannya, transportasi malaysia memang keren

waktu di TAR asia saja ke KL pakai kereta bawah tanah

niee mengatakan...

Waahh.. jadi jadi malaka kayak gimana? *gak.sabar* hahaha

catatan kecilku mengatakan...

Jadi kali ini berangkat sendirian ya Ga? Asyik sekali membaca cerita perjalananmu... :)

Ninda Rahadi mengatakan...

SENWICHnya enak gak sih bang?

Zulfadhli's Family mengatakan...

Huahaha, Food Garden LCCT emang andalan deh. Harga makanannya murah meriah, dan lumajan wokeh

Lanjoooddd baca tulisan jalan2nya si pemdata ahhhh *hihihi kabooorrr takut kena pentung*

Lyliana Thia mengatakan...

ngakak pas baca khayalan Gaphe yg takut dicurigai pemadat.. hahaha..

tadi aku kirain food garden itu bener2 seperti di taman gitu.. ternyata memang food court biasa ya? :-D

uci cigrey mengatakan...

whoaaa, gaphe, kamu spertinya sering ke KL yeuuu :P
eh eh baru tau transnasional, duluan trans kita apa transnasional yahhh (*kitaa? elo aj kali :))) ngga jelas deh ucil.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...