Senin, 12 Desember 2011

Dirampok


Chapter 10

Judul asli chapter 10 ini sebenarnya adalah (Benci) India. Tapi rasanya agak kurang pas dan bakalan mengundang orang mengkritik karena menganggap saya rasis lah, apa lah. Saya peringatkan, sebelum melanjutkan membaca chapter ini, mohon dibaca dengan pikiran terbuka. Saya menulis berdasarkan apa yang saya alami, dan tidak ada maksud untuk mendiskreditkan atau menjelek-jelekkan suku ras atau budaya tertentu.

Kesalahan yang sama yang saya lakukan saat tiba pertama di Melaka saya ulangi lagi ketika saya menginjakkan kaki turun di Komtar. Apa itu?. Tidak membawa peta!. Kesalahan ini menyebabkan saya berjalan tanpa tahu harus belok atau masuk ke jalan yang mana. Georgetown bagi pendatang pertama tanpa peta seperti saya bagaikan labirin tikus!. Bingung, karena banyak jalan, gang, lorong, yang satu sama lainnya mirip. Saya tahu kalau turun di Komtar itu dekat dengan jalan menuju penginapan, tetapi masalahnya : kearah mana?. Sempat saya terpikir untuk menaiki taksi, tapi saya ingat janji saya pada diri sendiri sebelum berangkat : Taxi’s are the final option!. Maka, saya memutuskan untuk berjalan kaki mengikuti kata hati.

Sebenarnya saya berjalan ke arah yang tepat, tetapi sempat belok ke kiri yang menyebabkan saya jauh dari arah penginapan. Malahan saya menemukan Tune-Hotel, jaringan budget hotel murah yang satu indukan dengan Airasia yang terletak di Jalan Burma. Tahu salah arah, saya berbalik dan memutuskan bertanya. Saat itu masih pagi sekali meskipun waktu menunjukkan pukul tujuh, dan tidak ada aktivitas yang cukup ramai dan jalanan pun masih terasa lengang. Ada seorang bapak-bapak melayu India yang sedang keluar dari sebuah toko, dan saya menghampiri untuk bertanya.

“Sorry, May I know where is Lebuh Chulia street?” kata saya.
“Oh, let me tell you. Where are you come from?” Kata bapak India itu.
“Indonesia” jawab saya singkat.
“Bise cakap melayu?” tanyanya lagi.
“Oh, bisa-bisa..” jawab saya.

Dan bapak itu berbasa-basi sambil mengantarkan saya. Baik sekali pikir saya pertamanya, saya diantarkan menuju ke jalan Lebuh Chulia. Dia bertanya banyak pada saya, “Muslim?”. Saya mengangguk, dan bapak itu mengetes saya dengan menyuruh saya mengucap syahadat. Lalu memberi pertanyaan saya tentang agama. Beberapa saya bisa jawab, beberapa tidak. Sepanjang perjalanan bapak itu ngobrol, dia punya anak di Srilanka, cerita tentang usianya yang sudah 52 tahun, pekerjaannya sebagai staff di Citibank Penang, dan sepertinya muslim taat mengingat dia menasehati saya tentang agama banyak hal. Sampai akhirnya saya masuk di Lebuh Chulia Street dan mencapai Love Lane – jalan tempat penginapan saya berada.

Saya berkata : “Ini dia Love Lane, penginapan saya sudah dekat. Terima kasih atas bantuannya pak?. Boleh kenal dengan bapak siapa?”
“Abdulrahman saliim” katanya fasih banget. Sempet saya mau bilang “aamiin” soalnya kalau dia ngomong pake bahasa arab pasti banyak yang ngira dia lagi berdoa karena saking fasihnya.

Dan, yang saya khawatirkan terjadi.. saya ditarik agak menjauh dari tengah jalan. Setengah berbisik si India ini bilang “Sepuluh ringgit!!”

Buseet daah, niatnya tadi nanya jalan dan nggak minta dianterin, ternyata berujung pada minta duit. Saya mencoba ngeles dengan berkata saya tidak punya uang kecil!. Stupid!!!. Mana sambil gitu saya tunjukkan dompet dan satu-satunya isi dompet saya hanya pecahan 50 ringgit. Gilanya, dia bilang ke saya suruh tukar dulu disebelah. Memang sih di ujung Love Lane ada toko seven eleven. Daripada saya ribut akhirnya saya masuk dan membeli air mineral sambil menukar uang pecahan. Dan finally, sepuluh ringgit cap “tidak ikhlas” itu berpindah tangan. Saya dirampok!!

Kebodohan kedua, habis ngasih tuh duit ke India Busuk itu masih sempet-sempetnya saya bilang “Makasih!”. Dan si India busuk itu ngomong ke saya, “Kamu sampai penginapan, jangan lupa sembahyang!”. Gilak, udah ngerampok secara alus masih aja nyuruh sembahyang. Beneran deh, itu muka si India busuk itu masih kebayang sampai sekarang. Sepuluh ringgit buat traveler gembel kayak saya cukup berarti. Dengan segitu saya bisa naik taksi dengan nyaman dari Komtar langsung ke depan penginapan. Dengan segitu juga saya bisa makan siang dan makan malam di Georgetown. Dengan uang segitu, kalo di Melaka saya bisa mendapatkan penginapan untuk semalam.. aah busuk!!.

Gara-gara kejadian ini, resmi sudah bahwa mulai sekarang saya benci dekat-dekat dengan orang bertampang India kayak gitu. Saya benci kelakuannya. Setelah kejadian pertama di Imigrasi Kuala Lumpur, lalu di Pulau Melaka ketika saya dimarahi satpam bermuka India – padahal saya nggak salah, dan terakhir ini dirampok secara alus. Jujur, kejadian itu merusak mood saya untuk jalan-jalan selama setengah hari kemudian. Dan selanjutnya, setiap kali saya bertemu muka-muka melayu India, entah kenapa perut saya tiba-tiba mual pengen muntah. Serius!!.

Kejadian ini ternyata diamini juga oleh pemilik hostel Reggae Penang, tempat saya menginap setelah booking sebelumnya. Di penginapan ini, dikhususkan hanya untuk backpacker saja. Para koper-er atau tourist rasanya nggak boleh menginap disini. Di penginapan ini, all backpacker are welcome kecuali Malaysia dan India!. Pemilik berhak menolak jika ada yang menginap disini adalah warga Malaysia dan India. Kenapa malah Malaysia tidak diperkenankan? Karena niat pemiliknya adalah menyediakan hostel yang dipakai untuk bersosialisasi antar backpaker dari seluruh dunia dan Malaysia not included – karena mungkin termasuk kawasan lokal. Kenapa India nggak boleh?. Pasti trauma karena kelakuannya, itu yang ada di pikiran saya meskipun si Bapak tidak menyebutkan secara langsung.

Bapak agak botak ini pun sebenarnya kaget ketika mengetahui saya hanya membawa satu tas punggung kecil dan satu camera pack.

“Are you sure only bring that bag?” katanya heran.
“Yes, serious. Im only stay just one night here” kata saya.

Hostel Reggae Penang - tempat saya bermalam di Georgetown

***
Saya berjanji bertemu Fernando di hotel ini setelah perjalanan kami yang berbeda jalur meski sama-sama dari Melaka. Pertamanya, Fernando bilang dia pengen menginap juga disini tapi ternyata kamarnya penuh. Fernando yang datang lebih dulu akhirnya memutuskan untuk mencari hostel lain. Beruntungnya dia dapet di hostel yang terletak persis di depan hostel saya.

Karena ternyata saya belum bisa check in karena masih pagi, maka akhirnya saya diminta Fernando untuk meletakkan barang bawaan saya di kamarnya daripada saya bawa-bawa. Kami akhirnya sarapan bareng. Sempat Fernando bilang ke saya ketika saya bilang bahwa hostel yang saya inapi tidak menerima orang India.

 “Why the are so racist, do not accepted Indian people??” katanya.

 Ah, Seandainya kamu tahu apa yang saya alami, kamu pasti memaklumi.

Jadi, pelajaran yang bisa diambil :
1. Jangan percaya sama orang, terutama jika kamu seorang traveler sendirian, dan tersesat. Keadaan ini bisa jadi kesempatan mengambil keuntungan atas kesendirian dan kebingungan kamu!.
2. Tanyalah pada orang-orang yang kamu liat tampak bisa dipercaya, polisi, information centre, atau pedagang yang tidak bisa meninggalkan tokonya!. Belilah barang kebutuhan sambil mengorek informasi. Dari kejadian ini, saya sadar bahwa percaya sama Melayu India apalagi yang kulitnya hitam adalah sebuah kesalahan!. Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama orang India.
3. Tidak semua orang India itu baik, dan tidak semua orang India itu jahat. Saya tidak menggeneralisasi. Cerita dan kejadian ini nyata adanya dan terbatas pada orang-orang yang saya temui. Titik.


Oh iya, ada yang mau oleh-oleh Cokelat?. Klik disini yaa

45 komentar:

narti mengatakan...

yg pasti disaat kita bingung mesti muka kita berbeda dan itu terbaca oleh orang lain, sehingga ada orang lain yang memanfaatkan keadaan kita.
sabar, jadikan ini pelajaran berharga untuk travelling berikutnya.
yuhuuu.... :)

sda mengatakan...

ada giveaway lagi? moga sukses ya!

nicamperenique mengatakan...

ah Gaphe, saya tau banget rasamu itu. Mangkel kayak mangga yang baru mengkal. Ga enak banget dah! Tapi ya sudah, positifnya kamu masih baik2 yah, maksudku tidak dicelakai, begitu saja mikirnya biar ga makin bete gitu :)
terus, bolehlah rada parno sama Indiahe, tapi bagusnya kamu juga sadar untuk men-generalisir, karena memang, jangankan orang India, sesama melayu Indonesia pun bisa menipu toh?! Sing sabar ya Phe, apalagi mau bikin GA hehehe ... *peluk peluk eh ga jadi bukan muhrim ya hahaha*

Fiction's World mengatakan...

10 ringgit tuh kira2 berapose sih bang ? perasaan belum sebut harga ringgit ke Indonesia pas waktu kejadian perkara deh #CMIIW

Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama orang India <== LOL percaya sama orang Indonesia, Eropa atau manapun itu juga gg boleh bang hhahhha

Arman mengatakan...

ya ampun.. kurang ajar banget tuh orang ya...

tapi emang intinya sih orang dimana2, di negara apapun, dan orangnya bangsa apapun ya pasti ada aja yang jahat ya. emang harus ati2 kalo tanya/ngomong ama orang asing. lebih baik waspada daripada kenapa2...

Nchie mengatakan...

waduh gondok banget ya,maksud hati nanya eh malahan di mintain duit..
Bener2..setuju sama hikmahnya..
Jangan percaya sama orang..

SAbar2 ya De Gaphe..

tiffa mengatakan...

Dan selanjutnya, setiap kali saya bertemu muka-muka melayu India, entah kenapa perut saya tiba-tiba mual pengen muntah.

Wah, berarti kita ga boleh ketemu face to face, Phe. Soalnya di dunia nyata banyak yg bilang muka saya kayak org India/Arab (lbh bnyk yg bilang India) drpd km muntah di depan sy. :(

Zulfadhli's Family mengatakan...

Hahaha, Indianya bau kari ga Phe?/

Btw bener tuh, jangan pecaya sama India, percayalah sama Tuhan!

*kabooorr takut ditampol Gaphe*

Syam Matahari mengatakan...

Heh? Judulnya profokatif nih pas mbaca wew bikin emosi jug tuh orang. Padahal sesama muslim juga, ih bikin ilpil :'(

tapi untungnya cuman minta jasa/duit ya phe, kan kl bawaan kamu yg diapa-apain lebih bikin setress lagi.

Nice sharing loh ini. thanks berat ;)

Ami mengatakan...

itu namanya PEMALAK BERTUDUNG SURBAN. ah, di Indonesia juga banyak. Sales pake kerudung bahasanya sopan padahal ngerayu cari keuntungan. Banyak orang punya ilmu malah digunakan untuk cari keuntungan. serem sih kalo menurut ajaran Islam, soal pertanggungjaabannya di akhirat

John Terro mengatakan...

di Indonesia juga banyak yang kayak gitu
tanya jalan, malah disuruh naik becak >_<
padahal deket

ria haya mengatakan...

hahaha...ceritanya seru dan lucu (bagi gue si pembaca), maaf ya Phe :D
tapi nyebelin banget yach bagi yg ngalamin
setuju utk tdk percaya begitu saja dg org tak dikenal

btw, sepertinya di Jakarta jg banyak yg nyebelin mirip seperti itu, kalau naik taxi ngga ngerti jalan, diputer2 ampe argonya bisa buat nggaji orang

nb: maaf nich baru bisa mampir lagi ke sini :)

Adi Chimenk mengatakan...

selain india, gw agak benci dengan orang china yg bermukim di Malaysia.

ntar deh gw ceritaian di blog gw..hehehe

lebih aman klo mau tanya2 mending2, masuk ke sevel beli apa kek gitu sambil nanya..hehehe

Miss 'U mengatakan...

lain kali bawa peta ya naak... v^^
*kabur*

Puisiririekinanthi mengatakan...

Bisa mengerti sih gimana rasanya di 'kerjain' si Bapak India. Tapi sekaligus (pengen) ketawa juga pas si Bapak bilang : “Kamu sampai penginapan, jangan lupa sembahyang!”.

jiah al jafara mengatakan...

wah~
pengalamannya~
salam kenal ^^

Mila Said mengatakan...

Ya ampuuun... lugu banget nihh si Gaphe hahaha....
drpd lu bayar tu org india 10 ringgit jalan kaki, meningan lu naik taksi. paling juga segituan. itu deket loh hahaa...

mon2 gowasa mengatakan...

Hhahaha....
Jalan kaki doank minta duit 10 RM....
Sabar...sabar...

Ya, kadang memang kita menemukan orang2 menyebalkan kayak gitu, tapi jadi ada sensasinya sendiri kan..

Jadi pengalaman menarik
:D

puteriamirillis mengatakan...

stupid! puas rasanya ya phe setelah bilang gitu,hehehe...
iih kok gitu yaaa, bapak2 india nya mudu, muka duit, money face...huehehe...
tapi akhirnya jadi pengalaman buat kita2 deh phe. yah itung2 pengalaman itu guru terbaik. :)

.:diah:. mengatakan...

Phe, bukannya salah satu nyawa traveler itu adalah peta? koq bisa sampe lupa bawa peta sih Phe?

yaahh masih syukurlah Phe kamu dirampok 10 ringgit, gimana klo nyawa kamu ikut terancam, parah kan?

yaah semua ada hikmahnya lah yaa :)

umahnya fityanakifah mengatakan...

mudah2n tdk terulang lg ya,jgn lupa peta:)

org yg bantu2 terus minta uang di bandara soeta jg byk, hati2 pengalamanpribadi.com :)tp gak bersorban :)
salam

armae mengatakan...

hahaha..

maaf mas Gaphe, bukan bermaksud menertawakan ketidakberuntunganmu, tapi aku ngakak abis baca cerita diatas.terutama yang bagian "aamiinn.." hahahaha..

eh,. bener ada istilah koper-er??? -_-"

tito Heyziputra mengatakan...

paraaah bnget tuh india,,, apa guna dia nanya dua kalimat syahadat ccoba,,

besok2 klo nanya sama polisi aja deh,, :p

Ario Antoko mengatakan...

kalau di TAR, tim biasanya tanya arah melalui:

1. mampir warnet
2. tanya ke hotel
3. tanya ke SPBU (pom bensin)

oh iya di TAR yg tim dibuntuti kamera saja sering ada kejadian dipalak oleh supir angkot kok

http://catatan-r10.blogspot.com/2011/12/barang-yang-wajib-dibawa-backpacker.html

zasachi mengatakan...

Aaahh.. dasar!! esmosi bcnya. keliwatan bgt dah tu org, malu2in muslim sdunia.. :-(
aq bakal ingat tuh pe, important note di akhir cerita.. soalnya pernah kjadian aq dtolong org eeh dompet ikut raib.. hadeeehhh

Rika Willy mengatakan...

uhhhhh... pasti kesal banget ya Phe.

lain kali naik taxi aja deh. loh??

alaika abdullah mengatakan...

setuju dengan pelajaran yang diambil dr kejadian ini Phe....
intinya adalah, jgn mudah percaya pada org lain, apalagi di negeri orang, di negeri sendiri aja msh banyak org2 spt ini yang mencari mangsa kok, apalagi disana. aku pernah juga ngalaminya, lebih parah lagi, pelakunya adalah wanita/ibu2 india di Chowkit. Huft. nyebelin banget.

hilsya mengatakan...

yup.. aku juga menghindari orang India.. *maap banget bukan SARA, tapi ini krn ada kejadian juga..*

Adini mengatakan...

Amit-amit dulu.

Saya juga gak suka dan tidak percaya Yog, saya pernah mengalaminya di tempat kerja.

Orang India bicaranya tidak bisa di pegaang justru bisa menikam kita dari belakang. Itulah kenyataan yang ada.....
Dan temenku yang kerja di daerah lagoi dan juga bahren....selalu mengingatkan tentang ini, karna tidak sedikit mendapai orang India menikam kita.

Pelajaran yang Yog, karna tidak semua orang baik akhirnya baik dan orang jahat itu jahat.

Orin mengatakan...

Hadeeeuuuh, kebayang deh waktu gmn gondoknya dirimu mas. wajib dihajar emang tuh orang *sadis*.

Tapi setidaknya jd tahu ya, jangan lupa bawa peta! :P

Nia mengatakan...

wahh pengalaman yg benar2 berharga yachh...smoga lain kali kejadian ini tdk terulang lagi...lupa bawa peta dan dipalak orang india ehhehe......

sabar yach...ikhlasin aja...smoga nanti dapat gantinya berlipat ganda...aamiin

samuel mengatakan...

wah gileee

dipalak di negeri orang :D

ckckckck...

samuel mengatakan...

wah gileee

dipalak di negeri orang :D

ckckckck...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

buset dah, tuh orang..bawa2 agama pula. hihih

dunia kecil indi mengatakan...

aku kasih pendapat berdasarkan pribadiku sendiri ya, gaphe, gak bawa2 ras apalagi agama, hehehe. beberapa orang, termasuk aku kadang suka membenci suatu hal tanpa alasan. bisa ras, warna tertentu atau malah merk tertentu padahal nyoba aja belum. dan aku, i hate to admit, orang yang agak rasis tapi gak setuju dengan rasis. bingung? gini, aku juga sama, agak anti sama india. padahal gak pernah dapet pengalaman buruk sama mereka. paling aku sempet ketemu segerombolan india yang bau badannya gak enak :( aku coba untuk gak begitu lagi karena gak semua india 'buruk'. lalu aku ketemu ray via OL yang benci orang cina. katanya cina itu pelit, bossy, dll. padahal aku sendiri cina, dan kami malah tunangan sekarang.jadi aku pikir meski hati kita benci sama ras tertentu gak semua orang begitu, gaphe. kebetulan aja yg ngisengin km orang india, pdhl yang niat begitu pasti banyak. syukurlah ternyata km dirampoknya dalam tanda kutip ya, hehehe. hikmahnya lain kali km bs hati2. selamt jalan2 dan ditunggu kiriman oleh2nya ke alamat berikut:


















kidding! hehehe :p

uci cigrey mengatakan...

ehm dirampok secara halus yah, indiahe indiahe, aca aca aca. berani beraninya dia, coba lapor ke tuan takur :p

travelling kemana mana mana, tetep harus hati2 yah phe.

Rawins mengatakan...

paling enak pancen di jogja yo...
ga perlu nawar, dah ditawarin tukang becak
bakpia tiga ribu bakpia tiga ribu...

cho mengatakan...

berarti kamu bakal repot banget, phe kalo jln2 k india. nanya polisi jga mgkn bawaannya curiga .. ngmg2 sepuluh ringgit itu sekitar 30rb y? penginapan 30rb semalam di malaysia kayak gimana, phe? kayaknya murah bener?

dv mengatakan...

gilingan tu india,udah tau backpacker masih ajah dipalak..sadisss..

semoga nda lagi2 kena palak ya phe..

Asop mengatakan...

*manggut-manggut*

Oke Mas, akan saya ingat ini nanti, ketika saya jalan-jalan ke luar negeri. :o *masih terkejut*

anazkia mengatakan...

Saya dah lama di Malaysia, enam tahun n rada2 anti ama.. yah ama yang gape tulis hihihihi..

kalau naik taksi milih2, gak mau orang itu :D

Lyliana Thia mengatakan...

Phe, believe it or not.. waktu kami sekeluarga ikut Papa 2 thn di USA, kan traveling jg, denger2 bbrp hotel tdk menerima tamu India juga loh.. padahal amerika gitu loh...

saat itu aku jg punya temen sekelas org India... setiap berjanji nggak pernah ditepati! sakit hati bener deh... hmmph.. masih mending african american loh.. mereka baik2 dan down to earth banget...

niee mengatakan...

Dikuching aku juga pernah ditanya banyak sama orang melayu disana soal agama tuh.. males banget sebenarnya.. apalagi dia.rasa nyindir.dengan aku yg gak berjilbab.. padahal mah disana berjilbab kan masih kelihatan dada dan tangannya sampe.pendek banget..

niee mengatakan...

Dikuching aku juga pernah ditanya banyak sama orang melayu disana soal agama tuh.. males banget sebenarnya.. apalagi dia.rasa nyindir.dengan aku yg gak berjilbab.. padahal mah disana berjilbab kan masih kelihatan dada dan tangannya sampe.pendek banget..

Anonim mengatakan...

iya phe kita gak bisa generalisir ky gitu...cuma 1 yg bisa kita generalisir dari org india... semuanya bauuuu wkkwkwkwkwkkw

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...