Rabu, 07 Desember 2011

Eat, Pray, And Do


Chapter 8

Bagian ini sengaja saya buat mirip dengan judul film yang diangkat dari Novel Eat Pray Love karangan Elizabeth Gilbert. Mengapa demikian, karena sebenarnya Melaka menyimpan beberapa hal dalam hal kuliner, ibadah, dan to do –activity. Maka semua sisa hasil perjalanan saya di Melaka yang belum saya tuliskan akan saya rangkum disini.

Eat.
Salah satu makanan khas yang wajib dicoba disini adalah Durian Cendul. Kalau di Jawa mungkin lebih dikenal dengan es Dawet Cendol, dan memang pada kenyataannya seperti itulah bentuk makanannya. Saya sempat mencoba merasakan nikmatnya es cendol rasa durian ini ketika melintasi Jonker Street. Sebuah kios yang menyatu dengan toko oleh-oleh khas cina mencantumkan spanduk besar-besar berwarna hijau yang mempromosikan durian cendul ini. Sebetulnya banyak yang jual es cendol di sepanjang Jonker Walk, apalagi saat saya kesana pada waktu weekend. Namun, kios ini yang paling menarik perhatian saya karena tampak modern dan rame!. Saya mencoba memesan menu andalan disini Ais Durian Cendul, meskipun ada yang Ais Cendul biasa saja.


Cara membuatnya unik, pertama isian bahan berupa cendol hijau, nata de coco yang seperti cincau, kolang-kaling atau buah atep yang manis, kacang merah rebus, ditimbun dengan es serut yang dimampatkan. Kemudian santan kental dituangkan diatasnya, diberi gula aren, sari durian – atau lebih tepatnya durian yang diblender, kemudian ditumpuk dengan es serut lagi. Dingin pastinya, dan lebih mirip makan es serut dibanding minum cendol.

Penyajiannya juga unik. Cup tersebut ditaruh di dalam kardus berwujud durian yang berbentuk seperti kipas tangan berlubang ditengahnya. Sendok plastiknya diselipkan dibawah kardus tersebut, dan terdapat gagang untuk membawa kemana-mana. Selesai memesan, saya memilih tempat duduk di lantai dua dengan pemandangan jalan Jonker yang makin lama makin padat. Soal rasa : dua jempol untuk ais durian cendul ini, Mantab! Enak banget rasanya, duriannya berasa kuat dan asli. Nggak heran kalau tempat ini sangat ramai dan bahkan tempat duduk di lantai satu pun penuh tak bersisa. Nggak heran juga kalau harga satu cup es Durian cendul ini lumayan mahal. Tapi, its worthed untuk mencoba minuman yang katanya khas Melaka ini.

Selain durian cendul, makanan khas Melaka lainnya adalah Masakan Nyonya. Embel-embel nyonya ini biasanya menunjukkan makanan khas peranakan (Chinese born strait). Makanan peranakan merupakan makanan yang berasal dari percampuran unik antara budaya Melayu dan Cina.  Sebenarnya bentuknya bisa apa saja, namun restoran masakan nyonya ini biasanya hanya menyediakan menu-menu chinese food. Namanya juga berhubungan dengan peranakan – cina, pasti sudah pada tahu apa saja kan ya jenis-jenis Chinese food itu?. Macam Yee Mee goreng, Nasi goreng, kwetiaw, capcay dan sebagainya. Saya sempat mencoba Sour and Sweet Prawn Nyonya Fried Rice. Panjang yah namanya, ternyata begitu keluar sepiring besar nasi goreng dengan tumis udang saus asam manis yang terpisah. Menggiurkan, dan ternyata setelah saya coba  rasanya mantab!. Nasi gorengnya gurih, tidak terlalu asin, bawang putihnya terasa. Tapi saya pikir, untuk rasa nasi gorengnya pun warung-warung Amigos (agak minggir got sedikit) di Jawa nggak kalah enak koq. Nah, bagaimana dengan udang asam manisnya?. Fresh banget udang dan sayuran yang dipakai. Untuk asamnya diperoleh dari tomat dan nanas, kemudian ada bawang bombay dan mentimun, dicampur dengan saus tomat dan udang. Benar-benar asam manis. Saya menghabiskannya dengan sekejap karena pas lapar dan kebetulan enak. Mana harganya juga cukup murah pula.



Selain dua makanan itu, sebetulnya saya ingin mencoba roti kaya (kaya toast) dan kopitiam. Namun sayang, sampai pulang saya tidak menemukan dimana tempat yang enak dan pas untuk menikmati roti kaya dan kopitiam ini di Melaka.

Pray.
Melaka yang memiliki beragam etnis dari berbagai wilayah dan latar belakang agama ternyata menunjukkan toleransi yang sangat baik. Mereka hidup berdampingan, meskipun ibadahnya masing-masing. Hal ini terlihat ketika saya mengeliling jalan Hang Tuah dan Hang Jebat (Jonker Street) dimana saya menemukan banyak tempat ibadah yang letaknya saling berdekatan dalam satu blok. Atau, dalam satu jalan, melangkah tidak begitu jauh sudah ditemui tempat keagamaan yang berbeda. Ini dia diantaranya.

1. Mesjid Kampong Kling
Mesjid ini memiliki ciri khas berupa atap bertingkat tiga, alih-alih berupa kubah seperti pada mesjid arab pada umumnya. Tiga tingkat atap ini sudah mengalami akulturasi budaya masyarakat lokal dan terpengaruh oleh mesjid-mesjid di Sumatera dengan pengaruh Hindu yang kuat terlihat dari bentuk menaranya. Dibangun oleh warga muslim pendatang asal India pada tahun 1745, mesjid ini dilengkapi dengan menara yang berbentuk mirip pagoda dengan bingkai pintu dan jendela dari kayu yang diukir. Lantainya terbuat dari keramik asal Portugis dan Inggris, dengan lampu gantung zaman ratu Victoria. Sempat melongok ke dalamnya, ternyata tidak terlalu besar ruangannya. Kesan lama dan retro mungkin menggambarkan secara keseluruhan mesjid ini.



2. Sri Poyyatha Vinayagar Moorthy Temple
Ini adalah salah satu kuil Hindu tertua di semenanjung Malaysia. Dibangun pada awal abad ke 19 di tanah pemberian Belanda. Untuk masuk, pengunjung harus melepas sepatu terlebih dahulu. Suara orang sembahyang dan membunyikan alat semacam lonceng kecil terdengar dari sisi luar kuil ini.



3. Cheng Hoon Teng Temple
Ini adalah kuil umat Budha. Dibangun pertama kali tahun 1673, kuil ini merupakan yang tertua di wilayah Melaka yang masih aktif digunakan untuk sembahyang. Pada waktu-waktu tertentu, prosesi ibadah yang sudah dilakukan turun temurun oleh warga Cina keturunan di sini dapat disaksikan oleh pengunjung. Kuil ini dibangun sebagai tanda penghormatan untuk Dewi Kwan Yin dan dikhususkan untuk ajaran konfusianis, Taois, dan Buddha – Cina. Setiap bagian di kuil ini menceritakan aspek-aspek kehidupan manusia.


4. St Francis Xavier Church
Gereja ini dibangun pada tahun 1849 sebagai penghormatan pada pendeta Francis Xavier, pendeta yang saya pernah ceritakan pada bab enam. Bangunannya sangat terawat, dan bentuknya masih terjaga seperti aslinya.


To Do List – Activity
1. Melaka River Cruise
Mengunjungi kota bersejarah di Melaka tidak akan lengkap jika tidak menjajal atraksi wajib di kota ini. Melaka River Cruise. Berpesiar mengarungi sungai Melaka selama 45 menit, dengan menempuh jarak 9 kilometer (sebenarnya 4,5 km namun bolak-balik) melewati berbagai situs sejarah di kota ini. Dari atas kapal, terdapat speaker yang berteriak-teriak memberikan informasi mengenai sejarah kota Melaka jaman dahulu sesuai dengan bangunan yang dilewati. Semisal, Kampung Morten. Di kampung ini kita bisa melihat rumah-rumah panggung beratap seng dan berarsitektur lama. Dulu di kampung morten, kebanyakan lelakinya bekerja sebagai pencari ikan dan nelayan sedangkan yang perempuan mencari pelepah daun atau memetik pinang. Kemudian melewati padang Nyiru, sebuah square yang ditandai dengan tembok besar dengan tulisan Welcome to Melaka!, di padang Nyiru ini dulu digunakan sebagai tempat berkumpul warga lokal untuk bersosialisasi. Melaka River Cruise dapat dimulai dari dua titik, yang pertama dari pelabuhan dekat Maritime Museum (di Dataran Sungai Melaka), dan yang kedua dekat dengan jembatan Tun Mutahir (Taman Rempah).



2. Jonker Street.
Daerah ini paling happening hanya pada waktu malam weekend saja. Diluar itu : sepi!. Kata jonker sendiri bila diterjemahkan adalah : “second class gentlemen” di dalam bahasa Belanda. Maksudnya mungkin pria kelas bawah yang bekerja di sektor informal, tetapi saya tidak yakin. Di jalan ini terkenal dengan penjual barang-barang antik. Selain itu, seperti tadi di awal saya bilang jika weekend malam hari maka bersiap-siaplah hingar bingar pesta diadakan sampai pagi disini. Toko-toko ditutup digantikan pedagang makanan yang menggelar dagangannya, mobil dan kendaraan dilarang lewat, dan musik pun meghentak. Semacam pasar malam yang didalamnya terdapat pula ramalan china, fengshui, beberapa lainnya menjual souvenir kecil-kecil yang bisa dibawa pulang. Sayang sekali, saya tidak menikmati sampai malam karena saya harus segera menuju terminal bus untuk ke Penang.



3. Menara Taming Sari dan Duck Boat.
Bila ingin melihat kota Melaka dari atas dengan pemandangan 360 derajat, maka disinilah tempatnya. Selama lima belas menit, pengunjung akan dibawa naik dari sebuah kubah kaca yang dapat beruputar 360 derajat. Saat paling tepat untuk menikmatinya adalah pada sore hari, saat matahari tenggelam. Cukup mahal untuk bisa naik ke atas, tapi sepadan dengan apa yang akan dilihat dari atas.



Atau dari Menara Taming Sari, sebetulnya ada city tour yang dinamakan sebagai duck boat. Ini adalah tour mengelilingi Melaka memakai mobil yang berbentuk kapal. Kapal beroda berwarna kuning ngejreng ini akan membawa pengunjung melewati beberapa point of interest di Melaka kemudian menceburkan ke sungai Melaka untuk menyusuri lewat jalan air. Lucu juga sih karena lewat duck boat ini bisa merasakan tour dari darat dan air sekaligus.

4. Monorail
Melaka juga punya monorail wisata. Monorail ini memiliki jalur yang mengikuti dengan sungai Melaka. Namun sayang, pada saat saya datang sepertinya sedang dalam tahap renovasi.



32 komentar:

nicamperenique mengatakan...

Ngiler ama Sour and Sweet Prawn Nyonya Fried Rice-nya. Ngiler juga sama ais durian cendul-nya.
haduh ... kapan ya bisa jalan2 ke sana?! *lirik celengan gentong yg blom dipecah*

ketty husnia mengatakan...

cara meracik durian cindulnya bisa ditiru mas..kasih modifikasi dikit..mantaplah..mari buka gerai!! hihihih

Siti Nurul Falah mengatakan...

hmmm perasaan, setiap saya mampir ke sini, menunya selalu durian wkwkwk

Syam Matahari mengatakan...

Wew.... di kuliner km emang luarbinasa phe! Reviewnya ngepassssss banget.

jadi ini last capther yah?

tiffa mengatakan...

lebih tertarik nunggu acara giveaway gaphe daripada video pornonya :P

Cokelat koin ini bentuknya gambar pulau Bali dan ada tulisan Bali, bnyk nemu ya? Mungkin. Di Mirota Batik,dan bbrp tempat di Yogya, sy jg nemuin baju barong plus celana khas Bali dan ada tulisan Bali.

Ami mengatakan...

kecewaaaa... gak ada LOVE nya... hahaha...

Juwita Hsu mengatakan...

Wahh...jadi pengen kesanaa....
Waiting for me at February 2012...:)

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

kalau LOVE nya apa dong?

Fiction's World mengatakan...

udang asam manisnnya begitu menggoda :d
hhihhi Amigos LOL baru tahu tuh singkatan itu :P

itu bangunan putih sebelah masjid masih masuk kompleks masjid juga bang ?
sekilas kayak penjara gitu

tito Heyziputra mengatakan...

Amigos... anak kosan banget tuh,
Dimana2 nasi goreng, mau highclass atopun amigos tetep aja rasanya gitu,,

Iri dah, kota seperti malaka aja udah punya monorel, JAKARTA ibukota kita ga beres - malah skrng d stop monorel. CKCKC...

Ririe Khayan mengatakan...

penasaran dengan ais durian cendolnya...sepertinya so exotic gitu..

Rawins mengatakan...

kalo ga pake duren
cendolnya kayaknya asik tenan tuh
#suerr ga doyan duren...

hilsya mengatakan...

euh.. bahasa melayu terasa gimana gituu ya.. pdhal makanannya sama..

lanjuut lagi..
*ntar bikin buku ya?.. tetep nyemangatin!*

armae mengatakan...

baru tau ada istilah amigos. hahaha...

penasaran sama duckboatnya mas, kok gak ada gambarnyaaa??? >,<

puteriamirillis mengatakan...

gaphe kalo lagi cerita detil banget deh, jadi lengkap informasinya. tq banget!

Arman mengatakan...

aduh lagi laper gini dikasih liat makanan... jadi tambah laper!!! :P

Elsa mengatakan...

pray nya tinggal pilih ya
mau pray dimana...

Sadako Kenzhi mengatakan...

Duren Cendulnya bikin ngiler Phe >.<

nasgornya lumayan komplit. Paling poll di sini namanya nasi goreng cuma dikasih suwiran ayam goreng/ayam gorengnya sama sambel plus krupuk.

Mesjidnya unik ya, pengen liat dalemnya kek gimana.

zasachi mengatakan...

haduuuh aq ketinggalan neh, udh nyampe chapter 8.. *ngos2an :-D

tp untung jg bagian duren nya gak terlewat hehehe sllrruuuppp *lap ences

wkwkwkwk

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

hehe judulnya menarik nih. sip sip..btw, udangnya mantap amat tuh.

Majalah Masjid Kita mengatakan...

setuju mas.. karena doa yg paling mujarab adalah usaha.. ya 'do' itu tadi :)

anazkia mengatakan...

Abis dari Melake ke mana lagi, Gap?

umahnya fityanakifah mengatakan...

jadi pengen ke Melaka...hehehe

salam

Nia mengatakan...

koq es duren cendolnya ngga kebuka fotonya yachh....kalo lihat fotonya pasti tambah ngiler ahhh...gaphe nechh......

nasi gorengnya sepertinya enak yachh....dlihat dr tampilannya....

.:diah:. mengatakan...

Ais durian cendul nya unik bangett yaa kliatannya, kreatiiff deh..

ehh btw, dari kemarin2 lihat suasananya sepi ya? emang beneran sepi kah tempat ini?

Zulfadhli's Family mengatakan...

Pokonya gw HARUS ke Melaka! HARUUSS!!!

*lirik2 laki gw*

catatan kecilku mengatakan...

Pengen banget Ais Durian Cendulnya Ga.. enak banget kayaknya.

Aku sering harus merasa iri padamu yg bisa begitu menikmati hidup dg jalan2 dan makan2... hehehe

Ninda Rahadi mengatakan...

nasi lemak mana nasi lemakkk??

r10 mengatakan...

aku mau naik monorelnya :D

uci cigrey mengatakan...

sebenernya agak ngga begitu tertarik kesana, haihihihih, tapi karena ngeliat masjid sama durennya, jadi kepengen deh, ini masjid old skul gitu yah

Lyliana Thia mengatakan...

nasi goreng amigos itu emang paling enak ya Phe.. heheh.. tapi kok nasi gorengnya si Nyonya mirip nasi uduk ya? :-D

Iqoh mengatakan...

Jalan2 emang belum lengkap klo belum nyobain makanannya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...