Minggu, 11 Desember 2011

Harus Bangga Berbahasa Indonesia Donk!!


Meninggalkan Melaka, dari KL Sentral menuju ke Pulau Penang, membutuhkan waktu sekitar tujuh jam perjalanan. Perjalanan darat ini sengaja saya tempuh dari Melaka Sentral ke Sungai Nibong pada malam hari. Tujuannya tidak lain tidak bukan adalah untuk menghemat biaya penginapan, apalagi dalam waktu tujuh jam itu hanya berada di dalam bus saja. Memang sih kekurangannya adalah tidak bisa menikmati pemandangan yang dilewati, tetapi jikalau menikmati pun hanya sekelebatan mata. Tanpa bisa berhenti dan turun.

Cerita ini saya mulai dari Melaka Sentral, pemberhentian bus antarkota antarpulau di Melaka. Melaka sentral adalah terminal yang terdiri dari tiga bagian. Terminal bus dan taksi, supermarket, dan bazaar. Terminal ini terletak di tanah seluas 46,6 hektar di Peringgit – Melaka. Mulai dibangun pada Februari 2003, dan selesai setahun setelahnya sebelum akhirnya resmi dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Abdullah bin Haji Ahmad Badawi pada Mei 2004. Melaka Sentral ternyata memperoleh kehormatan sebagai terminal bus dan taksi terbesar dan tercanggih di Malaysia versi Malaysia Book Of Record. Makanya, dengan gelar seperti ini saya tidak kaget lagi melihat isinya.

Dalam Melaka Sentral. Lengkap!!

Beda nuansanya dengan banyak terminal di Pulau Jawa. Bahkan, seperti pada umumnya pasar yang menyatu dengan terminal, Melaka sentral memiliki bagian-bagiannya masing-masing. Foodcourt, fashion, alat elektronik dan HP, hampir semuanya terpisah. Di bagian tengah terminal keberangkatan domestik, terdapat police station yang hampir semua jendela kacanya tertutupi oleh poster kriminal – sketsa wajah pelaku kejahatan disini. Memang tak bisa dipungkiri, secanggih apapun terminal pasti akan selalu berwarna oleh kegiatan para penyeluk saku ini.

Saya menghabiskan dua jam selanjutnya duduk persis di depan peron keberangkatan, dengan sebuah buku di tangan. Bus saya berangkat pukul 10 malam, tapi pada akhirnya terpaksa delayed karena kedatangannya juga agak terlambat. Sempat panik juga, kalau-kalau ada pemberitahuan dalam bahasa melayu yang lewat dari pandangan saya, ternyata tidak ada. Apalagi ditambah bis yang ada, papan penunjuknya tulisan Penang dicetak dengan ukuran yang kecil. Yang ditulis besarnya adalah : Butterworth dan S. Nibong, yang memang keduanya adalah akses yang dilalui untuk ke Penang.

Ada yang unik yang saya perhatikan dengan orang-orang disini ketika menyebut beberapa kata. Mereka tidak konsisten!. Saya mencoba berbahasa inggris yang benar dengan menyebut Butterworth sebagai Butter-Worth (mentega yang berharga) dalam ejaan inggris yang benar. Tetapi, orang-orang disini menyebutnya terdengat seperti “batewut-batewut” dengan huruf ‘r’ yang hilang dan ‘o’ yang dibaca ‘u’. Lebih mirip dengan bunyi butter-wood (mentega kayu). Sama juga halnya dengan terminal Sungai Nibong. Saya mencoba konsisten dengan menyebut nama su-ngai-ni-bong, dan ternyata banyak yang bingung ketika saya mengucap ini. Mereka biasa mencoba menyebutnya  : su-ngei-ni-pung. Oh, gosh.. bong jadi pung. Kejadian ini menjelaskan perpindahan huruf P dan B dalam kata Baba Nyonya yangsaya sempat bingung sebelumnya. Mungkin maksudnya dulu adalah Papa dan Nyonya, namun karena P tertukar-tukar dengan huruf B, makanya penyebutan Papa menjadi Baba. Yah, semoga tidak ada anak melayu yang memanggil papanya dengan sebutan papi!.

Masih dengan ketidak konsistennya itu, ketika saya menyebut Penang dengan sewajarnya : Pe-Nang. Ternyata banyak yang mengernyitkan dahi, barulah ketika menyebutkan Pulau Penang mereka biasanya langsung ber-oooh panjang sambil mengulang menyebut : Pi – Neng. Kata ‘Penang’ memang dilidah orang barat akan terdengar disebut sebagai ‘Pineng’. Pipi Neneng. Hahaha, benar-benar parah. Kenapa juga tidak ditulis pineng sekalian, dan jika memang pembacaannya sok ke-inggris-ingrisan mengapa kota mentega yang berharga (Butterworth) tidak dibaca seperti dalam ejaan Inggris yang disempurnakan. *eh ada ya?.

Jawaban pertanyaan ini saya maklumi karena memang Malaysia banyak terpengaruh oleh budaya Inggris. Maklum, karena mereka pernah dijajah oleh bangsa ini sekian lama. Parahnya sih, ejaan dalam bahasa Inggris pun ditulis mentah-mentah dalam bahasa melayu. Seperti Bicycle – sepeda, ternyata di Malaysia disebut ‘basikal’, dan motorcycle pun disebut ‘motosikal’. Saya bersyukur karena saya berbahasa Indonesia. Konsisten, bicycle ya disebut sepeda dan motorcycle disebut sepeda motor. Jadi, bersyukurlah memiliki bahasa Indonesia!!.

Oh ya, satu lagi cerita yang paling-paling membuat saya ngakak nggak berhenti-berhenti. Ketika saya mencari Mushala di Parkson at Prangin Mall di Georgetown, saya ditunjukkan bahwa mushala terletak di dekat car wash. Dan coba tebak, apa bahasa melayu untuk Car Wash  - tempat cuci mobil?. Yak, bagi yang menjawab : Pusat Kecantikan Kereta, saya kasih tepuk tangan!!. Serius!

Tidak banyak cerita yang saya peroleh sepanjang perjalanan dari Melaka menuju si pipi neneng ini, selain saya duduk sebelahan dengan India (lagi), kedinginan di dalam bus meskipun AC sudah disetel paling minimum sampai harus berselimut sarung dan bersyal handuk, atau berhenti sejenak di terminal sungai perak sebelum lanjut perjalanan. Bahkan sampai di Butterworth, saya bangun sejenak dan mengira ini sudah sampai di Penang, melihat banyak penumpang yang turun disini. Memang sih, akan lebih cepat mencapai Georgetown dari terminal Butterworth dibanding dengan harus menuju Sungai Nibong dulu, tetapi saya terlanjur memesan tiket untuk turun di Sungai Nibong. Dan tiga puluh menit kemudian, setelah melewati Jembatan Pulau Pinang yang tersohor itu, sampailah saya di Terminal Sungai Nibong.

Pukul enam kurang, waktu disini masih benar-benar gelap. Saya memutuskan untuk shalat subuh, mandi (Di terminal ini ada kamar mandi khusus untuk mandi dengan shower berdiri dan hanya membayar 1 RM saja), lalu saya menuju keluar. Saya bertanya, bagaimana cara mencapai Georgetown dari sini?. Dijawab oleh supir taksi, yaa satu-satunya yang cepat naik taksi. Namun, ada juga bus dengan waktu tunggu yang lebih lama. Jelas saja supir taksi mempromosikan tumpangannya, maka karena saya tidak terburu-buru saya memilih untuk menunggu bus. Ada banyak bus Rapid Penang dari terminal Sungai Nibong menuju Georgetown. Saya memilih bus nomor 303 dan meminta diturunkan di KOMTAR - Kompleks Tun Abdul Razak. Sekitar setengah jam, akhirnya saya berhasil mencapai Georgetown! Yes, Selamat datang  di kotanya George…

Ini KOMTAR - Kompleks Tun Abdul Razak, bangunan yang katanya tertinggi di Georgetown



*Mungkin tulisan saya kali ini agak amburadul, karena lagi nggak fokus - pekerjaan akhir tahun menumpuk. Tapi berjuang untuk menyelesaikan free e-book ini nggak boleh berhenti. Semangat Phe!! *menyemangati diri sendiri, untuk dikenang nanti prosesnya*

41 komentar:

Ninda Rahadi mengatakan...

george bush?
georgia
george yang mana ya
belum kenalan :P

Untje van Wiebs mengatakan...

Bahasa Malay memang aneh,
aku tak berbangga berboso jowo wae lah...

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

minta batetwut nya masih ada gak ya hehehe

Nonni Shetya mengatakan...

oh goooood !!! tetep bahasa Indonesia tercintaah yaaa..
aku juga aneh,koq di upin ipin bilang nya juga basikal.
kalo soal jajah menjajah ka,kan kita juga lama dijajah sama belanda,tapi bahasa kita ga campur aduk kaya mereka..hehe

John Terro mengatakan...

banyak yang aneh memang di Malaysia
apalagi Rumah Sakit Korban Lelaki dan Dokter Gila :D

ada lagi, Setrika Bumi <-- coba tebak apa ini?

Ririe Khayan mengatakan...

kalau liat ipin upin..perlu konsentrasi dan bertanya2 jk ada dialek yg gak paham maksudnya...hehehe

nicamperenique mengatakan...

pipi neneng? hahaha ... ada2 aja niy si Gaphe, pipi si neneng dibawa mpe ke melaka sono ckckck

ada lagi pusat kecantikan kereta? Huahahahaha .... yang boneng aje ... iyalah, klo kek gini, banggalah awak sama bahasa Indonesia, masih lebih konsisten
eh ... tapi orangnya konsistenan sono, gimana niy Phe? Jadi dilema hahaha

tiwi mengatakan...

untung ga ada anak melayu yg manggil bapaknya dg sebutan papi...wkwkkkw

Kamus Biologi Lengkap Terbaru mengatakan...

Yoyoy dong kita harus bangga..apalagi bahasa daerah hehehehe

D. Nariswari mengatakan...

Memang menurut saya pribadi sih, dari segi estetika bahasa Indonesia masih lebih halus ketimbang bahasa melayu, meskipun bahasa Indonesia juga masih dipengaruhi oleh bahasa melayu asli. Oleh sebab itulah saya sangat cinta dengan bahasa Indonesia, melebihi bahasa apapun di dunia ini. Hidup INDONESIA!

.:diah:. mengatakan...

Indonesia emang is the best laah yaakk...

Bahasa Malay aneh bin ajaib deh iihh.

anyway semangat tuk rampungin free e-book nya, Phe :)

Mila Said mengatakan...

buat kita yg ngomong bahasa indo, bahasa malaysia kadang suka bikin ngikik yak? tapi tnyt mereka juga sama loh, klo denger bhs indo suka ngikik juga.

Gw wkt di Melaka sentral malah ada yg ngajak ngomong boso jowo, gw lsg melotot.. mungkin tu org malaysia banyak temen tkw kali yeee.. bhs jawa nya lancar bgt hahaha...

Arman mengatakan...

iya bahasa malay emang aneh2 ya... buat kita! gak tau ya kalo menurut mereka, bhs indo juga aneh gak ya? hehe

Della mengatakan...

Gaphe, kamu di sana sudah berpusing-pusing naik kereta belum? ^_^

Adini mengatakan...

Hahahaha kebayang Gaphe kalau orang2 di sana melakukan bahasa Melayu, kalau saya kedengarannya mungkin biasa tapi suami saya jelas-jelas tidak paham , mungkin karna asalnya jawa dan saya tanah melayu.

Tapi emang beda Yog, saya punya sudara yang udah lama banget tinggal di malaysia...kalau lebaran suka pulang dan emang bicaranya udah beda banget.

Tapi perjalananya lancar ya Yog dan pastinya asikk

Fairysha mengatakan...

hihihi..kita semua disini ngatain bahasa mereka aneh dan lucu ,,,jangan2 mereka kalo baca postingan kita juga pada ketawa2.. :D

Baha Andes mengatakan...

pernah ga tau tepatnya.
Waktu itu kebijakan kerajaan malaysia mewajibkan kepada seluruh sekolah menggunakan bahasa pengantar, bahasa inggris tetapi setelah menggunakan bahasa inggris siswa disini nilainya pada melorod sehingga kebijakan itu dicabut lagi dengan menggunakan bahasa melayu.

yang lucunya lagi. "Budi bahasa, bahasa kita" tetapi pada kenyataannya bahasa yg digunakan masih campur aduk. mungkin klo di bahasa Indonesia namanya serapan bahasa tapi entahlah. orang aku disini masih make bahasa indonesia, jawa, betawi. :)

armae mengatakan...

semangan mas Gaphe!!! *kasih semangat jugak*

kebingungan macam itu juga pernah dihadapi beberapa dosenku di kampus, kalo ngajar mahasiswa dari Malaysia. dikasih bahasa Indonesia, bingung, dikasih bahasa inggris, lebih bingung lagi. tak tau lah itu jadinya gimana. hahaha
mungkin karena ketidakkonsistenan itu ya..

Adi Chimenk mengatakan...

*puk puk pundak Gaphe* semangat ya kawan..

walopun bahasa amburadul dan gak fokus, tapi tetep yang komentar banyak.. *heran sayah..* :D

r10 mengatakan...

mungkin malah bahasa indonsia aneh bagi mereka :P

zasachi mengatakan...

hahahaha PiNeng Pipi Neneng.. :D
yup setuju, bangga juga dgn bahasa Indonesia. Konsisten, gak campur aduk ke belanda2an hehehe
Pe, aku melayu tapi manggil ayah itu Abah, kek sunda ya Pe :D

dunia kecil indi mengatakan...

gaphe, aku mau ke skin wash dulu (pusat kecantikan kulit), hahaha.. part 'babi' juga lucu banget :) iya, memang berbanggalah kita punya bahasa indonesia. malah sering ada yg bilang, lidah kita ini paling netral untuk berbahasa apapun :))
good luck ya dengan e book-nya :)

zone mengatakan...

KMTARnya keren tuh....
coba Indonesia ada yg gituan....
pasti heboh dalam pemberian namanya....
:P

Siti Nurul Falah mengatakan...

wah lucu-lucu yah orang yang ngga konsisten, iya saya bersyukur Indonesia bahasanya konsisten, jadi ngga bikin turis bingung hehehe

wah hebat sekali di terminal ada kamar mandi!

Nia mengatakan...

ayo semangat phe...proyek ebooknya harus berhasil......pasti berat yach harus menyelesaikan pekerjaan kantor plus proyek pribadi yg sama2 membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi......

Fiction's World mengatakan...

SEMANGAAAT BANG GAPHE :D
penyeluk saku <== pencopet ya maksudnya :D
hhahha~ papi jadi babi dong ya LOL

ghost writer mengatakan...

aduh,di malaysia itu sudah tentu penuh kemodenan.jadi dalam banyak hal mempengaruhi budaya.bahasa malaysia itu juga banyak saduran dari bahasa lain di dunia.jadi ianya tidak asing bagi orang malaysia sendiri,Phe.

begitu juga kalau orang malaysia jadi turis di indonesia.pasti banyak yang mereka tertawakan,Phe.

:)

Ad Ln Pt mengatakan...

saya bangga berbahasa Indonesia dan Sunda :D

honeylizious mengatakan...

bangga berbahasa Indonesia :)

al kahfi mengatakan...

mungkin juga karena ras malay emng susah mengucap kata yg P berubah B tadi seperti halnya untuk bangsa eropa yg serumpun tapi logat kata englis dan perancis pasti berbeda,, ntahlah hanya asumsi saja..

Ami mengatakan...

car wash bahasa melayunya kecantikan kereta, ngakak...

Herry mengatakan...

di jakarta juga banyak gan tempat2 seperti itu, namun sayangnya untuk kelas2 kebawah kesulitan untuk memasukinya..seperti saya hehe..
Lebih enak di negara sendiri sepertinya ya jika ke negara tetangganya kurang nyaman dalam ngobrol :)

reri saputra mengatakan...

bangga berbahasa indonesia :)

Syam Matahari mengatakan...

Semangatttttttt Om gapheeeeee semangatttttt!

#biar amburadul yg penting ngepost :)

Zippy mengatakan...

Hhahaha..bener banget mas, saya sendiri suka geli kalo denger bahasa Malaysia, suka aneh2 :D
Bukannya gak menghargai bahasa mereka, tapi ya bagaimana kalo emang lucu, wkwkwkw... :))
I love Bahasa! :D

uci cigrey mengatakan...

car wash buat kereta ? serius. cakep juga yah.
ahaha, smangat pe, jgn lupa makan yg buanyak pe, biar konsen dan gemuk :)) #dikibas

niee mengatakan...

Iya phe,, aku juga pas ke Malay dulu bingung pake bahasa apa. Soalnya ada yang bisa cuma bahasa china, ada yang bisanya cuma bahasa inggris campur gak jelas,, ada juga pake bahasa melayu.. Beritanya ada ada 3 bahasa.. ohh emang bahasa indonesia paling keren deh :D

Asop mengatakan...

Butterworth jadi butter-wood?

Mas Yog, jangan lupakan bahwa Malaysia bekas jajahan Inggris, bukan amerika. Jadi, bisa aja aksen dan logat pengucapan amat meniru aksen british. :)

anazkia mengatakan...

Basikal, ekon, motosikal hahahha lucu2 bahasanya

Lyliana Thia mengatakan...

ngakak pas baca Pusat Kecantikan Kereta.. hahaha... klo rumah sakit bersalin bahasa malaysia nya apa Phe? kayaknya kocak jg deh.. hehehe...

Anonim mengatakan...

saya bulan 11 tahun lalu juga ke sana. saya ke negri 9 ke port dickson. tapi org sana bilang seperti pu-tik-can. aneh memang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...