Selasa, 06 Desember 2011

Hello Filipino!!!


Sebelum baca ceritanya, saya cuman pengen bilang maaf kalau saya belum sempat mampir balik ke blog teman-teman. Jika memang ada yang meninggalkan komentar di bawah ini hanya semata-mata mengharapkan kunjungan balik, maaf saya tidak bisa memenuhinya. Saya mencoba untuk sesegera  mungkin menyelesaikan project cerita perjalanan ini karena takut lupa detailnya. Harap maklum

Chapter 7

Melaka malam hari. Benar-benar sepi, pukul delapan malam saja sudah tidak terdengar hingar bingar di jalan, kendaraan yang lewat pun bisa dihitung menggunakan jari. Ya, pukul delapan di sini sudah mirip dengan pukul dua pagi di Jogjakarta – sepi dan lengang. Atau, jika boleh meminjam kata mengerikan, mungkin lebih tepat untuk menggambarkan suasananya. Bayangkan saja, menelusuri beberapa bangunan tua, remang-remang, dan bahkan lampu depan dimatikan, benar-benar mirip di kota mati.

Melaka malam hari.
Aktivitas yang terlihat hanyalah beberapa etnis melayu india yang bekerja sebagai supir taksi menunggu penumpang di jembatan sungai Melaka menuju ke arah Jonker Walk. Jonker Walk sendiri yang katanya merupakan pusatnya keramaian, ternyata juga sepi. Ya, maklum ini bukan weekend. Beberapa aktivitas manusia berkumpul di kedai-kedai makan, bar, atau mal. Di tempat-tempat ini saya rasakan lebih manusiawi – karena ada aktivitas manusia, dibanding di jalanan. Maka, pilihan saya malam ini jatuh pada : Mal Dataran Pahlawan.

Di Mal ini saya mencari sesuatu untuk makan malam. Lagi-lagi saya tidak dapat menemukan sesuatu yang khas Melaka disini. Sebetulnya pada waktu melewati Jonker Street, saya tertarik dengan Afamosa rice ball and Chicken, sebuah restoran terkenal yang bahkan masuk sebagai spot kuliner wajib di Melaka versi google map. Sayangnya begitu melongok ke dalam dan melihat menu, tertera kata “pork” disitu. Nah, begitu tahu ada unsur yang diharamkan, maka saya beranjak meninggalkan tempat tersebut. Mengapa tidak memilih menu lain?, sepertinya kalaupun saya memilih menu lainnya pun alat masak yang dipakai sama dengan yang digunakan untuk memasak “pork” ini. Jadi sama-sama haramnya.

Di Mal Dataran Pahlawan, saya memesan yakitori. Menu jepang ini menarik saya karena disitu tertera No Pork No Lard, makanya saya berani untuk makan disini. Oke, mungkin agak susah mencari makanan yang 100 persen halal, karena banyak di Melaka penjual beretnis Cina. Pilihan aman adalah mencari tempat makan yang penjualnya India muslim, atau melayu, atau cari yang berkerudung. Kalau ragu, lebih baik bertanya.

Seporsi yakitori ini cukup mahal, saya harus mengeluarkan sekira 10 ringgit sekaligus minuman hanya untuk menikmati sate tiga jenis yang disajikan dengan nasi pulen bertabur potongan nori (rumput laut) dan salad mangga. Yakitori sendiri sebenarnya adalah sate khas Jepang yang dipanggang di atas bara api atau menggunakan plat baja. Dengan bumbu teriyaki, biasanya Yakitori ini terdiri dari satu macam jenis daging atau bagian saja. Biasanya sih jika bukan daging sapi, maka daging ayam yang dipakai. Bisa pula hanya bagian jantung, usus, atau daging saja dalam satu tusuknya. Soal rasa, standar. Enak tapi tidak banget, dan porsinya juga lumayan besar terutama nasinya.

Satu set Yakitori
Selesai makan, saya melangkahkan kaki kembali ke hostel. Capek seharian dari subuh berangkat dari Surabaya, siang di Kuala Lumpur, dan malamnya sudah ada di Melaka. Dan begitu sampai di hotel, suasana pun juga sepi. Padahal waktu masih jam setengah sembilan malam. Gerbang besi depan pun sudah ditutup, dan Reno sudah bersiap untuk istirahat. Begitu tahu saya datang, dia membukakan pintu dan bertanya : “Hows your day?”. Saya terlalu lelah untuk mengobrol, maka saya hanya tersenyum dan berkata “Nice, but im so tired. I want to take a rest now”.

Membuka pintu dormitory di atas, sudah ada seorang bapak yang sedang duduk sambil menulis jurnal diatas kasur. Saya bilang “Hello” dan dia juga menyambut dengan baik.
Begitu pantat saya menyentuh tempat tidur, Bapak itu berkata kepada saya : “Disitu banyak nyamuknya, percayalah. Semalam saya tidur digigiti nyamuk, makanya saya pindah langsung dibawah kipas angin ini”. “Nyamuk tidak suka udara yang bergerak” tambahnya.

Saya tersenyum dan berkata, “Oh tidak apa-apa. Nanti kalo saya merasa tidak nyaman saya akan pindah”. Saya pun berkenalan dengannya. Namanya Fernando, seorang Pinoy – sebutan untuk warga negara Filipina. Saya sudah sempat menyinggung tentang Fernando di bab lima perjalanan ini. Dia adalah teman satu dormitory saya ketika menginap di youth hostel ini. Tapi mungkin saya akan mengulangi ceritanya di bab ini.

Dia sudah berada di hostel ini semalam sebelumnya. Pria ini sebenarnya adalah pria yang sudah saya temui ketika saya check in siang tadi di hotel ini, dia duduk bersama saya menonton TV kabel namun kami tidak saling menyapa. Saya baru menyadarinya setelah bertemu lagi di dormitory ini. Di Melaka sebenarnya sudah tiga harian, dan sebelum di hostel ini sempat menginap di satu hostel lain namun sepertinya dia merasa tidak cocok dengan kondisinya maka dia pindah ke tempat ini.

Obrolan pun mengalir seputar latar belakang, kegiatan, mengapa menuju ke tempat ini, sampai ke hal-hal ringan dan tidak penting seperti membandingkan kemacetan di Metro Manila dengan di Jakarta. Saya kagum karena bapak satu ini ternyata sudah melanglang buana ke berbagai belahan dunia, pernah menjadi volunteer untuk UNDP dan ditugaskan ke Moskow Russia, pernah ke Guang Zhou China sampai empat kali, dan berkata bahwa dia sudah hafal wilayahnya, pernah ke Jakarta dan Bandung – menjajal gunung Tangkuban Perahu, ke Australia, dan pernah juga mendaki gunung Kinabalu di Malaysia Timur.

Caranya bercerita lucu, aksen filipinonya terdengar dalam kata-kata berbahasa Inggrisnya. Mereka menganut Inggris –Amerika, dan satu hal yang menjadi patokan dalam berbahasa Inggrisnya adalah : simply open your mouth!. Jadi beberapa kata harus saya dengar dengan jelas sebelum mengetahui apa maksudnya, contohnya adalah ketika menyebut kata “backpakers” yang normalnya kita akan melafalkan dengan bek-pekers, di mulutnya berubah menjadi bah-pahers. Dan pendapat saya ini diamini olehnya karena orang-orang Filipina gampang diketahui dari mana asalnya karena aksen tidak pernah bohong.

Fernando cerita bahwa Reno asalnya juga dari Filipina, makanya ketika mereka berbicara kebanyakan menggunakan bahasa Tagalog. Saya belajar satu kosakata yaitu : magandang gabi, artinya selamat malam. Dari dialah juga saya tahu banyak tentang Melaka dan Penginapan ini, bahwa sebenarnya semenjak ditetapkannya Melaka menjadi World Heritage City oleh UNESCO, praktis semua bangunan yang ada tidak boleh diubah-dipugar-direnovasi sama sekali tanpa persetujuan UNSECO. Itulah mengapa penginapan ini sebenarnya tidak boleh dibangun kembali, tidak boleh diubah bentuk dan arsitekturnya, dan itu cukup merepotkan buat Reno karena keinginannya untuk menambah kamar menjadi agak terbatas. Selain itu, semenjak dialihkan dari pemilik pertamanya, akun penyewaan melalui website tidak diserahkan kepada Reno. Ketika saya memesan lewat hostelbookers.com sebelumnya, ternyata Reno tidak tahu kalau pesanan itu ada sehubungan karena dia tidak bisa mengakses akunnya. Beruntung saya masih dapat kamar, karena pernah kejadian waktu peak season ketika kamar penuh, banyak pemesan yang kecewa karena tidak dapat kamar padahal dalam bookingannya bisa. Hal ini akhirnya dikonfirmasi Reno, jika memang mau memesan kamar lebih baik langsung kepadanya lewat email atau handphone. Maka ketika saya meninggalkan tempat ini, Reno memberikan akun emailnya dan nomor handphonenya kepada saya jika nanti ingin memesan kembali disini.

Saya dan Reno di depan penginapan
 Obrolan kami terputus karena saya memutuskan untuk mandi dulu. Fernando maklum, karena sejak pagi saya belum mandi dan cuaca Melaka sangat panas. Selesai mandi pun obrolan dilanjutkan. Fernando memberitahu saya bahwa di penginapan ini kita bisa menyewa sepeda. “Can you drive a bike?” katanya. “Yes I Can”. Maka dia mengajak saya untuk bangun pagi dan mengitari Melaka dengan bersepeda. Yes, dapat teman baru, dapat pengalaman baru!. Dan di akhir pembicaraan, dia bertanya kepada saya “Setelah dari Melaka, kamu mau kemana lagi?”. Saya menjawab “Saya mau ke Penang, saya sudah memesan tiket untuk keberangkatan besok langsung dari Melaka menggunakan bis”.

Fernando bilang “Hah, ada yang langsung kah?. Saya ingin sekali ke Penang, sebenarnya saya sudah merencanakan untuk pergi kesana, lihat ini..” Dia menunjukkan jurnalnya, di situ tertulis beberapa penginapan dan alamatnya yang tertera di Penang. Lengkap dengan nomor telepon dan harganya. Disampingnya, tertulis satu jalur rute dari Malaysia menuju ke Penang itu melalui apa saja, dan menggunakan alternatif kendaraan apa. “Well, kalo saya ikut ke Penang bersama kamu boleh nggak?. Saya minta ijin kamu dulu, karena mungkin ada traveler yang tidak nyaman jika bepergian bersama dan lebih suka pergi sendiri”. Saya menyambut tawaran itu dengan baik, dapat teman perjalanan mah siapa yang menolak?. Tapi ada satu masalah : saya sudah memiliki tiket dan dia belum. Fernando segera bilang, “Saya ikut kamu besok issued tiket, tolong tanyakan jika masih ada tempat duduk tersisa saya akan ikut. Tapi bila tidak, mungkin saya tetap tinggal di Melaka”. Barter yang cukup adil, saya mendapat teman perjalanan, dan dia membutuhkan seseorang yang bisa menerjemahkan bahasa melayu. Maklum bahasa yang dia kuasai hanya Tagalog dan Inggris. Sedangkan saya : Bahasa Jawa ngoko, kromo alus, kromo inggil, Indonesia, dan Inggris. Saya menang!

Akhirnya pembicaraan kami selesai dengan rencana bangun pagi untuk bersepeda, dan rencana menuju Penang besok malamnya. Saya menarik selimut, dan segera terlelap dalam mimpi.

Esok paginya tidak berjalan sesuai dengan rencana. Alarm yang sudah saya set pukul lima pagi ternyata sia-sia, seusai shalat subuh saya kembali terlelap. Fernando juga tidak terlihat ada tanda-tanda mau bangun pagi. Sisa capek perjalanan saya sehari sebelumnya masih bersisa, dan melihat langit masih gelap gulita – maklum jika waktu dikonversikan ke WIB maka saat itu masih pukul empat pagi!. Dan saya baru terjaga kembali setelah pukul setengah delapan. Fernando masih tertidur, tapi peduli amat saya menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat saya naik keatas, dia sudah duduk di pinggir kursi. Saya menyapa : Magandang Umaga! (Selamat pagi – dalam bahasa Filipina) dan bertanya “Jadi sepedaannya?”. Dia mengangguk “Jadi donk?”. “Apakah tidak terlalu siang?” Kata saya, dan dia menjawab “Tidak. Kita sarapan dulu, sehabis itu berangkat” katanya. Maka Fernando pun mengeluarkan roti tawar dan menyodorkan pada saya “ini, Jangan sungkan-sungkan. Kita butuh tenaga!” katanya. Saya mengambil sepotong, dan dia menyodorkan botol kecil berisi semacam mentega berwarna hijau. “Apa ini?” kata saya.

“Ini namanya pesto”. Karena saya penasaran, saya coba saja ‘mentega hijau’ itu dan mengoleskannya di roti saya. Saya gigit ujungnya. Aneh!. Rasanya asin, dan baunya mirip jamu. Fernando bilang, pesto adalah saus khas Italia yang terbuat dari beberapa bahan yang dihaluskan. Dia menyebutkan isinya ada bawang putih, peterseli, daun basil, kacang-kacangan yang ditumbuk halus, dikasih minyak zaitun sedikit dan garam. Pantas saja rasanya asin, dan cukup aneh bagi lidah saya. Mungkin rasa manisnya roti tawar dengan bau bawang dan daun basilnya kurang cocok dilidah saya, maka saya menelan potongan roti terakhir dengan sekuat tenaga. Hanya untuk bersikap sopan. Dan ketika Fernando bilang ke saya untuk nambah lagi, saya menggeleng. “That’s enough”. Dia lalu menuju ke bawah, mencuci muka dan berganti baju dengan kaos kutung, celana pendek, sepatu dan topi. Tak lupa seliter air mineral dibawa di tas selempangnya.

Saya mengikuti Fernando turun ke bawah, bertemu Reno dan menyapa selamat pagi, lalu Fernando mengobrol dengan Reno menggunakan bahasa Tagalog. Saya nggak ngerti apa yang mereka ucapkan, tapi yang saya tangkap adalah Reno menjelaskan rute kepada Fernando jika mau ke suatu tempat – saya tidak tahu dimana itu. Reno lalu memberikan saya kunci gembok sepeda dan meminta saya untuk memilih mana sepeda yang akan dipakai. Rasanya sama saja, semua sepedanya ada keranjang di depannya, mirip sepeda emak-emak untuk ke pasar. Ketika saya pilih sepeda hitam yang paling mudah dikeluarkan, Reno bertanya : “Apa itu tidak terlalu tinggi?”. ‘No no no..ini cukup buat saya” Saya mencoba menenangkan.

Dan pagi itu, saya dan Fernando bersepeda mengitari Melaka!. Di kota kecil ini tidak banyak yang menggunakan sepeda, terlihat di sepanjang jalan isinya hanya mobil dan motor. Hanya kami berdua yang bersepeda. Banyak pasang mata melihat ke arah kami, entah karena memang terlihat seperti turis atau karena melanggar peraturan. Maklum, dengan sepedaan kami bisa melanggar aturan seenaknya. Jalan searah bisa kami lintasi dari arah sebaliknya, dan meski lampu merah kami bisa bebas berbalik arah memutar padahal itu tidak boleh. Tentunya dengan sedikit trik, pura-pura berhenti dan menuntun sepeda.

Perjalanan bersepeda membawa saya melintasi jembatan Selat Melaka menuju ke Pulau Melaka. Di tengah jembatan, sempat saya memotret pemandangan yang kereen banget. Matahari pagi bersinar dari arah timur, lagit biru cerah tanpa awan, luas dan lega!. Menuju ke Pulau Melaka, saya baru tahu bahwa di pulau ini ternyata ada Mesjid Raya Sultan Melaka. Karena tidak tahu jalan, sempat melintasi bangunan ruko-ruko yang baru dalam proses pembangunan. Disitu kami dicegat oleh satpam bermuka melayu India. Dengan galaknya dia memarahi kami, karena kami melanggar aturan seharusnya tidak boleh masuk wilayah ini. Dia menuduh kami melintasi pembatas lokasi proyek dengan jalan. Saya juga gantian marah, kalau dilarang melintas mengapa tidak ada tulisan dilarang masuk?. Lagian kami masuk juga melalui jalan terbuka, mana saya tahu kalau saya salah jalan menuju mesjid?. Dengan masih bersungut-sungut saya genjot aja sepeda dengan cueknya meninggalkan mereka. Fernando yang tidak paham apa yang saya bilang ke satpam India busuk itu bertanya pada saya : “What they say?” katanya. Dia bertanya karena saya marah-marah menggunakan bahasa Indonesia. Saya jawab aja “Never mind, they are crazy. Mereka menuduh kita melanggar pembatas dengan mengangkat sepeda, saya bilang aja kalo nggak boleh melintas ya tolong ditutupin palang. Lagian jalan umum begini koq nggak boleh lewat”.

Selat Melaka sebelah selatan jembatan. Mirip di mana hayo?
Ini namanya Pulau Melaka. Menara Mesjid Raya Sultan Melaka terlihat dari kejauhan

Tapi sampai di Mesjid Raya Sultan Melaka akhirnya mampu mengusir mood yang jelek karena kejadian ini. Bagus banget mesjidnya. Kelihatannya sih masih baru, dan tentu saja saya tidak lupa untuk berfoto-foto disini. Sebentar mampir, dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Fernando tanya ke saya, “capek?”. Saya bilang “Nggak, saya masih sanggup”. Maka kami memutar sepeda dan mengarah ke kota. Menuju ke The Dutch Square, lalu ke kincir air kesultanan Melaka. Melewati menara taming sari, Mahkota Parade Shopping Centre, Pahlawan Walk Market, sampai akhirnya pulang lagi ke Penginapan.

Mesjid Raya Sultan Melaka. Salah pake warna baju - jadi nggak dapet kontrasnya.
Menara Taming Sari - Menara pandang yang berputar 360 derajat


Pahlawan Walk Market - tempat oleh-oleh dan kuliner
Mahkota Parade Shopping Mal
Saya dan Fernando di depan replika kincir air kesultanan Melaka
Ternyata mandi sebelum sepedaan adalah sebuah kesalahan. Saya berkeringat banyak dan kaus saya basah. Fernando yang emang sengaja belum mandi saat berangkat akhirnya membersihkan diri. Sedangkan saya hanya memutar kipas angin pada angka full supaya kaos saya kering. Setelah ini rencana saya adalah check out, dan menuju ke Melaka Sentral untuk menukar tiket bis ke Penang.

Dari The Dutch Square kami menunggu bis menuju ke Melaka Sentral. Cukup banyak bis yang beroperasi disini, dan membutuhkan waktu hampir satu jam untuk menuju Melaka Sentral. Maklum perjalanannya berputar-putar meskipun kotanya kecil. Saya jadi tahu beberapa wilayah di sisi Melaka yang lain termasuk Bukit St. John yang sempat saya singgung di bab enam. Hanya dengan dua ringgit saja, Town Bus Berhad yang saya tumpangi akhirnya sampai di Melaka Sentral. Segera kami beranjak menuju ke loket penjualan tiket bus Transnasional, dan apa yang kami takutkan terjadi. Tiket ke Penang Full Booked. Saya sudah pasti dapat tiketnya, tapi Fernando belum. Maka, karena sudah sampai di sini dan keinginan Fernando ke Penang juga besar, dia bilang akan ke Kuala Lumpur dulu baru mencari tiket ke Butterworth sebelum menyebrang naik ferry ke Georgetown – Penang. Saya sejujurnya merasa tidak enak, maksud saya sih supaya dia jangan merasa terpaksa ke Penang-nya gara-gara cuman kepengen saya juga kesana. Tapi dia bilang “Tidak apa-apa, saya yang pengen ke Penang juga”. Bertanya kesana kemari, memang dia memperoleh tiket ke Kuala Lumpur namun dia tidak yakin akan memperoleh tiket untuk ke Penangnya. Dia bertanya ke saya, “Pernah ke Kuala Lumpur? Tahu terminal yang besar dan biasa untuk membeli tiket?”.

Saya hanya menjawab, ada dua terminal besar yang saya tahu menjual tiket bus antarkota antarnegara. Satu di Puduraya, dan satu lagi di Bandar Tasik Selatan. Tapi saya sarankan, Fernando membeli di Puduraya sesaat setelah sampai sana. Dan Fernando pun membeli tiket ke Kuala Lumpur dari Melaka untuk sore hari. Sebagai penghapus rasa bersalah saya –yang sampai sekarang saya nggak tahu alasan kenapa saya ngerasa salah (padahal ya kan dia sendiri yang pengen ikut ke Penang, tapi nggak dapet tiket), saya mentraktir Fernando makan siang di Melaka Sentral.

Terminal Melaka Sentral
Kami akhirnya berpisah sorenya untuk sama-sama berangkat ke Penang dengan jalur berbeda. Saya langsung dari Melaka, dan Fernando ke KL dulu baru ke Penang. Kami berjanji saling mengontak besoknya sesampai di Penang. Maka dia memberikan nomor teleponnya, dan saya miscall untuk men-save nomor saya di ponselnya.

Goodbye to say : Hello Filipino!!

46 komentar:

Ami mengatakan...

eh, dapet sahabat. apa baju mesti kontras biar bagus fotonya Phe?

Baha Andes mengatakan...

Di Malaysia emang bukan dimalaka sahaja yg panas.

Malaka ga begitu sepi ko kalo malam. Didekat musium kan ada pasar tuh ramenya ampe malam.

Masjid disini (malaysia) emang bagus2 dan desainnya unik2.

choirunnangim mengatakan...

Yakitori bikin lapar.. dan yang lebih membuat kepingin lagi adalah 1. Mas gaphe sering jalan-jalan ...

Fiction's World mengatakan...

"Bahasa Jawa ngoko, kromo alus, kromo inggil, Indonesia, dan Inggris. Saya menang!" hhahha apa-apaan inih bang :P kenapa tiga tingkatan bahasa Jawa dihitung masing2 menjadi satu bahasa LOL

UNDP bukan UNDIP kurang I kan bang :P

Rawins mengatakan...

asik tenan kui dab...
tapi itu sate apa penthungan hansip sih..?
sekali makan bisa puasa 2 hari tuh..

f4dLy :) mengatakan...

Yakitorinya kok mirip somai yang sering di jual disini?
Sama dengan komentar di atas, kadang berharap bisa jalan2 dengan bebas juga

Una van Wiebs mengatakan...

Wah hebat bisa bahasa jawanya tiga tingkat, sayah cuma bisanya ngoko kasar sama misuhannya thok...
Asik no dapet temen baru :D

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

kok moto sepeda sih?gak ada yang naik sepedanya hehehe. ganti baju dulu baru difoto naik sepeda :)

tiffa mengatakan...

saya ngiler liat foto makanannya, phe.

ria haya mengatakan...

dah lama aku absent ngeblog, Gaphe dah nyampe Melaka aja nich
dan ceritanya dah chapter 7, ahhh tidaaakkk...
jgn2 episodenya mo nyaingin tersanjung nich? hehehe

tito Heyziputra mengatakan...

ooooo curang banget, bandingin bahasanya pake bahasa jawa tiga tingkat, klo gitu ntar si fernando pake bahasa tagalog tiga tingkat juga, hha

Ada memang bahpakher (ala fernando) yg suka sendirian klo jalan, biasanya buat riset. Hati2 bang jgn2 fernando suka sama lo,, :kidding

nicamperenique mengatakan...

gaphe cuma mo nanya neh, napa itu foto kayak orang musuhan, ga pake rangkulan pundak kek gitu minimal kan ya hahahaha

Adi Chimenk mengatakan...

gw nyerah deh klo baca cerita travelling lu phe.. cuma bikin gw mupeng doang.. *sigh*

armae mengatakan...

aku sukak liat cowok pake kaos+celana pendek gitu. asik. hehe..

masjid nya bagus mas. bersih banget ya kesannya dari luar..

mon2 gowasa mengatakan...

Wahhh...benar2 bikinn iri...
Hhaha...

dapat kosakata baru nich...*magadang gabi
Mantappz

Kawan baru, pengalaman baru, cerita baru ♥♥
Penasaran dgn perjalanan berikutnya nih..

ghost writer mengatakan...

ke Penang juga aku ngga tau kamu sudah sampe sana,Phe.

betul-betul ngga ada rejki kita ketemu. :)

Mila Said mengatakan...

Bapak-bapak lagi... bapak-bapak lagi temen jalan lu... cari yang cewe cakeeepp dooonk huahahahaa...

.:diah:. mengatakan...

hohoohoh, asyik banget ya Phe dapat temen jalan, pengalaman baru dan bisa sepedaan keliling gitu pula.

fotonya kontras koq, kan langitnya warna biru

emon mengatakan...

mo kementar aja.
biar nggak d bilang cm ngarep balasan komen. *eh :p

ah gaphe baca kisah perjalanan kamu buat mupeng liburan *galau akhir tahun :D

Sadako Kenzhi mengatakan...

ya wajar lah kalau ngrasa nggak enak gitu, wong Jowo :D

eh tapi beruntung lho bisa ngrasain saus khas Itali tadi meskipun asin dan aneh di lidah siapa tahu ntar bisa ke Itali #lahnggaknyambung

honeylizious mengatakan...

laper :))

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

bener2 backpacker ya kamu. jadi sekamar itu beberapa orang ya. wah wha..saya mikir2 dulu deh kalo sekamar dg orang2 tak dikenal. hehe, btw, iya mesti ati2 makan di daerah yg banyak etnis cinanya di sana. suka ada makanan haramnya. saya aja walau bukan muslim, gak suka daging babi. lebih suka ayam.

Andy mengatakan...

disana kaya tertata rapi ya semua fasilitas umum bahkan laut,sedangkan disini semuanya aburadul banget,jadi sedih

Ellious Grinsant mengatakan...

asik dah mas gaphe ke filipina, betewe kalo gak salah ya orang filipina sama orang indonesia itu hampir sama persis rupanya, hahaha..

Siti Nurul Falah mengatakan...

seruuu deh kayaknya,
tapi dilihat dari gambar, sepertinya sepinya beneran sepi deh -_-
selat malaka,,,hmm kayak di mana ya?

Nia mengatakan...

wahh asyik yachh...ketemu orang yg abru kenal tp berasa kayak temen lama aja....tambah penasaran nech cerita di penangnya seperti apa....

DewiFatma mengatakan...

Seru ya, Phe. Seutuhnya aku merasa iri. Dan meskipun postingan ini panjaaaaaanggg sangat, aku baca setiap kalimat yang kamu tulis, hasilnya mataku jadi berkunang-kunang :D

Btw, mendengar cerita2 tentang perlakuan orang Malaysia thdp orang2 Indonesia di sana, aku agak-agak takut jalan-jalan ke sana. Padahal dari sini (Bintan) kan deket banget ya. Udahlah, aku mending jalan-jalan ke Eropa ajah.. *MIMPI!!*

1mmanuel'Z-Note5 mengatakan...

kalo logat emang ga bisa ilang yah? kayak orang jawa yang masih medok dan nyoba ngomong inggris. lucu. :D

catatannyasulung mengatakan...

eeeeh, pengennya kaya bang gaphe bisa melancong ke luar :(

zone mengatakan...

asiiiik ni......
liat fotonya saja bikin ngiler....
apalagi tu makanannya....
apa tu Yukikto...
hahahaha....
:P

John Terro mengatakan...

sama kayak Adi Chimenk
bikin mupeng >_<

John Terro mengatakan...

sama kayak Adi Chimenk
bikin mupeng >_<

John Terro mengatakan...

sama kayak Adi Chimenk
bikin mupeng >_<

rahma mengatakan...

wiiiiii baru ini sempet mampir sini, udah segambreng cerita yang bikin mupeng ajaaaa.. waaaahh oleh-oleh baaang =D

AuL Howler mengatakan...

Bang yogaaa...
ada award nih :)
congrats yaa!

http://aul-home.blogspot.com/2011/12/its-3rd-anniversary-its-1st-giveaway.html

samuel mengatakan...

wew jalan2 lagi nih mas gaphe

keren2, bersih banget keliatannya

ato mungkin karena di foto kali yah :D

niee mengatakan...

Selalu suka cerita lo yang model kayak gini phe.. :)

Ririe Khayan mengatakan...

Bahasa yg di kuasai masih kurang tuh..boso Suroboyoan. Baca cerita perjalanan ini sambil berdoa: semoga bisa ketularan traveling juga...Amiin *_*

hilsya mengatakan...

sayangnya Fernando ya Phe.. klo Fernanda kayaknya ehm..ehm.. deh

lanjuut ceritanya..

dv mengatakan...

ngebayangin mentega hijau itu..hoekk kynya ga enak yah :D

next chapter plis :)

Zulfadhli's Family mengatakan...

Hehehe yakitori 10 RM emang lumajan mahal yah Phe kalo kita kurs-in ke Indoensia :-)

Serius di Miri gw belom pernah nemu orang yang jualan es duren. Kalo ada gw pasti borong sama emang2nya juga heheh

catatan kecilku mengatakan...

Detil juga ceritamu Ga, jadi aku bisa ikutan ngebayangin apa yg kamu lakukan disana.
Aku suka banget dg Menara Taming Sari, bangunannya bagus ya?

Ninda Rahadi mengatakan...

bang gaphe tingginya berapa toh? O___o

uci cigrey mengatakan...

enak tapi tidak banget :))
ups ada yg salah ketik UNESCO :P.
salah pake baju? ayo pe makan yg buanyak biar gemuuk :D

Lyliana Thia mengatakan...

asiknya diajak jalan2 sama Gaphe.. naik sepeda... beruntung ya Phe dapet temen seperjalanan yg baik... lalu di Penang ketemuan nggak sama si Fillipino...??

baca lanjutannya aah... :-D

Iqoh mengatakan...

Epek samping backpackeran sendirian, jadi punya teman baru....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...