Senin, 05 Desember 2011

The Heritage Trails (Jejak Warisan)


Chapter 6

Historis!.
Satu kata itu cukup untuk menggambarkan Melaka secara keseluruhan. Saya sudah menceritakan bahwa Melaka adalah kota sejarah, yang didaulat menjadi World Heritage City – Kota Warisan Dunia oleh UNESCO pada bab 4 perjalanan ini. Sebagai kota warisan dunia, maka pasti ada peninggalan yang berharga di kota ini. Bukan emas, bukan permata, tetapi jauh lebih berharga daripada itu : Kenangan.

Saya mencoba untuk tidak bersikap romantis, tetapi itulah kenyataannya. Kota ini lebih mirip sebagai rangkaian perjalanan lama, bangunan-bangunan peninggalan Portugis – Belanda – Inggris lebih mirip sebagai album foto yang mennyimpan kenangan-kenangan sejarah yang tersisa. Melewati satu persatu historical site di kota ini bagaikan melintasi lorong waktu, membuka kenangan-kenangan lama. Yeap, kenangan yang bisa dimiliki oleh siapapun yang menikmatinya, melintasinya, atau bahkan seperti saya; menuliskannya.

Dan inilah jejak-jejak warisan Portugis – Belanda – dan Inggris di Melaka.

1. Porta De Santiago
Porta De Santiago. Lebih dikenal dengan pintu gerbangnya benteng A’famosa. Benteng yang mengandung kata ‘terkenal’ ini dibangun pada masa Alfonso de Albuquerque, ketika bangsa Portugis menguasai Melaka pada tahun 1512. Benteng ini kemudian dipugar oleh Belanda setelah berhasil menaklukkan Portugis seabad setelahnya. Pada bagian puncaknya, diukir lambang ANNO atau simbol tahun 1670 dan simbol VOC di atas lengkungan gerbangnya sebagai lambang penguasaan Belanda atas Melaka. Semenjak pendudukan Belanda, benteng-benteng pertahanan diperbaharui dan dibangun kembali dengan menggunakan tenaga 1500an budak-budak lokal untuk melindungi dari serbuan. Melaka pun menjadi kota terlindungi dengan adanya meriam di berbagai sudut bahkan beberapa diantaranya masih dapat ditemukan di sekitar Porta De Santiago. Menurut keyakinan, dari Porta de Santiago terdapat bangunan bawah tanah menyerupai terowongan yang menghubungkan antara benteng ini dengan Bukit St. John di bagian Timur Melaka. Tujuannya adalah sebagai lubang pelarian atau penyelamatan diri. Namun sampai sekarang, terowongan bawah tanah itu tidak pernah ditemukan. 



Sebagai sebuah benteng, Porta de Santiago hanyalah satu dari beberapa pintu masuk ke dalamnya. Tercatat dalam sejarah terdapat 4 pintu gerbang yang merupakan pintu masuk ke dalam benteng Melaka. Tiga lainnya adalah Porta de São Domingos, Porta de Santo António, dan  The gateway of the Custom House Terrace. Keempat pintu masuk ini dulunya oleh Portugis diberi nama Fortaleza de Malacca. Namun, pada dekade pertama tahun 1800-an ketika Inggris datang menyerbu, benteng-benteng pertahanan ini dihancurkan dan dibakar supaya tidak digunakan kembali oleh Belanda. Hanya saja, waktu itu Sir Thomas Stamford Raffles meminta supaya pintu gerbang Porta de Santiago tidak dihancurkan. Makanya, sampai sekarang Porta de Santiago masih bisa dinikmati pesona sejarahnya meskipun sudah tidak utuh lagi.

2. Dutch Graveyard
Secara harafiah memang ini adalah lahan pekuburan orang-orang Belanda jaman dahulu. Tapi siapakah yang dikuburkan disini?. Sebetulnya pekuburan ini awalnya dikhususkan untuk VOC dan keluarganya saja. Terletak di sisi bukit St. Paul, kuburan Belanda ini memiliki ciri khas batu-batu nisan yang berwarna putih dan besar-besar. Tak jarang banyak arsitektur, ukiran, atau monumen di atasnya. Pekuburan ini digunakan oleh Belanda mulai tahun 1670 sampai dengan 1682. Namun, meskipun namanya Dutch Graveyard, dari sebanyak 38 kuburan yang ada, hanya 5 kuburan saja yang benar-benar milik orang Belanda. Sisanya, adalah kepunyaan Inggris. Salah satu kuburan Belanda di taman ini adalah kepunyaan putri Belanda, Anna Reynierse Dan Schoonhoven. Di nisannya tertulis : here is burried Anna Reynierse Dan Schoonhoven, housewife of Jan Van Beeck, independent trader born August 1643 and passed away November 28, 1670 aged 27 years 3 months 4 days old.



Beberapa kuburan Belanda juga terletak di dalam gereja St Paul. Itulah mengapa banyak nisan-nisan besar yang terdapat di dalam reruntuhan gereja St. Paul. Salah satu yang dikuburkan dalam gereja adalah gubernur Belanda – Jan Van Riebeeck. Pada periode kepemilikan Melaka oleh Belanda, terdapat 550 warga Belanda dengan 50.000 populasi di Melaka yang terdiri dari warga asli dan pendatang. Gereja St. Paul diubah menjadi makam tempat penguburan oleh Belanda setelah gereja yang baru yaitu The Christ Church dibangun di dekat Stadthuys sebagai tempat ibadah. (1)

Setelah kemerdekaan Malaysia, Kedutaan Besar Belanda mendukung dilestarikannya  Dutch Graveyard di lokasi ini. Pada tahun 1972, Ratu Elizabeth dan The Duke of Edinburgh – Ratu Inggris datang ke wilayah Melaka. Untuk mengakomodasi kehadirannya, dilakukanlah restorasi kawasan bukit St. Paul. Banyak pohon besar dipangkas, dan digantikan pohon-pohon angsana untuk mengatasi kelongsoran tanah di bukit ini. Jalan setapak juga dibangun dari puncak bukit yang menghubungkan antara St. Paul Church dengan Dutch Graveyard.

3. The Ruins of The St. Paul’s Church
Terletak di puncak bukit St. Paul, reruntuhan gereja ini awalnya adalah sebuah kapel dengan nama asli Nossa Senhorada Annuciada (Our Lady of Annuciation). Dibangun oleh Portugis, oleh kapten kapal Duarte Coelho sebagai pengucapan syukur pada Virgin Mary karena nyawanya selamat saat terkena badai di Laut Cina Selatan. Belanda kemudian mengubah namanya menjadi gereja St. Paul, dan dipakai sebagai tempat sesembahan selama 112 tahun berikutnya.

Pada masa awal-awal selesainya pembangunan gereja ini oleh Portugis, misionaris yang bernama St. Francis Xavier menjadi pengkhotbah rutin gereja mulai tahun 1545-1552. Namun, pada satu perjalanannya mengarungi lautan, misionaris ini tewas dan dikebumikan selama 9 bulan di gereja ini sebelum akhirnya dipindahkan ke Goa, India sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Oleh karena jasanya, patung St. Francis Xavier berwarna mutiara didirikan di depan gereja ini sebagai penghormatannya. Sayangnya, tahun 1953 pada saat penyucian patung ini, sebuah pohon Casuarina tumbang dan memotong tangan kanan patung ini.



Mengapa tidak diperbaiki?. Selanjutnya cerita ini menarik bagi saya karena ternyata potongan tangan ini menyimpan sebuah kisah. Tahun 1614, 62 tahun setelah St Francis Xavier meninggal, saat telapak tangannya hendak dipotong untuk penyucian (sejujurnya saya kurang begitu paham dengan prosesi keagamaan ini), telapak tangannya masih mengucurkan darah dengan deras meskipun ia sudah meninggal. Oleh pendeta Gen Claude Acquaviva telapak tangan ini dikirim ke Paus untuk disucikan di Roma, Italia. Keajaiban ini dikaitkan dengan ketika masa hidup dulu, St Francis Xavier menggunakan tangan kanannya untuk membaptis banyak orang dan memberkati. Oleh karenanya, ia dijuluki sebagai Santo atau orang suci. Nah, karena itulah maka patung St Francis Xavier yang terpotong ini tidak diperbaiki. (1)

Lokasinya yang cukup bagus, di atas bukit St Paul menjadikan reruntuhan ini banyak dikunjungi. Seperti saya yang menghabiskan sore hari menikmati sunset memandangi matahari yang tenggelam di Selat Melaka seperti yang sudah saya tuliskan di bab 5. Kesan seram karena batu nisan dan bekas-bekas reruntuhan sirna karena beberapa pengamen memainkan musik menggunakan jimbe (alat musik pukul dari Afrika) dan gitar. Bahkan didalam gereja pun terdapat penjual souvenir semacam gelang, kalung dari batu-batuan, atau cincin. Ada sumur juga yang dibangun didalam gereja dan diatasnya dibangun kerangkeng besi berbentuk rumah-rumahan, dan banyak koin-koin recehan dilemparkan didalamnya. Entah siapa yang memulai, tetapi tradisi melempar koin dan berharap keinginannya dikabulkan sepertinya banyak menarik minat wisatawan.


4. Christ Church
Dibangun pada tahun 1741, gereja yang terletak berdekatan dengan Stadthuys ini merupakan peringatan satu abad Belanda menguasai Melaka. Gereja ini awalnya bernama The Dutch Reformed Church. dan dengan mengusung teknologi dan ciri khas arsitektur Belanda pada abad ke 18, gereja ini memiliki bentuk segi empat berukuran 24,6 x 12,6 meter persegi, tembok yang tebal dengan langit-langit yang tingginya mencapai 12 meter, balok-balok kayu memanjang di atap dengan tiang-tiang dari granit berwarna merah serta dilengkapi dengan keramik Belanda. Setiap balok-balok kayu di atap yang memanjang dibuat dari satu batang pohon sepanjang 15 meter. Bingkai jendela dan gagang pintu sempat dipugar dan disesuaikan ukurannya oleh Inggris.



Satu hal yang menarik di gereja ini adalah tidak ada mimbar, namun ada replika perjamuan terakhir yang dibuat dalam keramik mengilap. Seperti gereja Eropa pada umumnya, lantai-lantainya tertanam dengan ukiran-ukiran yang sama seperti pada ukiran batu-batu nisan. Interior ruangan didominasi dengan plakat-plakat bergaya Belanda, Armenia, dan Portugis yang menunjukkan kematian orang-orang karena epidemi, penyakit, wabah, dan sebagainya. Gereja ini membutuhkan waktu sekitar 12 tahun hingga selesai pada tahun 1753 dan ini merupakan gereja protestan tertua di Malaysia.

Saat Inggris menguasai Melaka, gereja ini diambil alih dan diubah menjadi gereja Anglican dengan menambahkan bangunan diatas kubah untuk lonceng dan penunjuk cuaca (weathercock - semacam penunjuk arah angin/cuaca yang berbentuk ayam jantan). Semua informasi ini saya peroleh dari papan informasi yang ada di luar gereja, mengingat gereja ini tertutup dan sepertinya hanya dibuka untuk kebaktian pada waktu-waktu tertentu saja.

5. Victoria Fountain and The Entire Red Dutch Square
Ini adalah Melaka, dan Melaka adalah Red Dutch Square. Mengapa saya bilang demikian? Dua hal ini tidak terpisahkan, coba saja lihat brosur-brosur perjalanan menuju Melaka, atau klik aja kata Melaka di google image, pasti kawasan Red Dutch Square akan menjadi salah satu icon wajib kunjung di Melaka. Berada di tengah-tengah square ini (saya menggunakan istilah ‘square’ karena ‘alun-alun’ sepertinya kurang tepat untuk menggambarkannya) bagaikan tenggelam dalam kolam cat berwarna merah. Ya, semua bangunan disekitarnya bercat merah.



Kawasan ini selalu penuh dengan turis mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak terlalu penuh di malam hari, karena justru pesona ke’merah’an square ini baru terasa saat bermandikan cahaya matahari. Sebuah kolam air mancur dengan tugu keramik cokelat didirikan di tengah-tengah square. Plakat yang tertulis di tengahnya : Victoria Regina 1837-1901, erected by people of Malacca in memory of a great queen 1907.

Memang, Melaka dikuasai Inggris selama lebih dari seabad mulai 1826 sampai 1946. Dan Air mancur ini didirikan sebagai monumen kenangan atas pemerintahan Queen Victoria, yang meninggal pada usia 64 tahun atau bertepatan dengan peringatan Diamond Jubilee*. Bukan hanya sekedar monumen, air mancur yang berusia lebih dari 100 tahun ini juga merupakan artefak milik Inggris, sebagai bukti sejarah pendudukan Inggris di wilayah Melaka.

 
Mengapa kawasan ini berwarna merah dan banyak bangunan yang bercat merah di sekitar sini ?. Bahkan di jalan dari Gereja St. Francis Xavier menuju ke The Red Square semuanya bercat merah. Pertanyaan ini membawa saya membuka banyak literatur, namun tidak ada yang menyebutkan secara pasti mengapa bangunan disini berwarna merah. Ada yang bilang, bahwa pada jaman penguasaan Belanda sengaja mengecat semua bangunannya dengan warna merah untuk mengingatkan akan kampung halamannya (Setahu saya, belanda terkenal dengan Oranye-nya, tetapi merah dipilih mungkin jaman dulu susah mencari warna oranye). Namun, hal ini tidak terbukti karena ada yang bilang justru Inggris-lah yang mengecat warna bangunan menjadi merah. Tujuannya adalah Inggris ingin membedakan bangunan-bangunan Belanda dengan bangunan milik Inggris – yang lazimnya berwarna putih. Tapi, hal ini diragukan juga mengingat ada beberapa bangunan milik Belanda yang tidak dicat merah oleh Inggris.

Yang lebih unik lagi ada sejarah yang menyebutkan mengapa bangunan disini di cat merah. Sejarahnya ketika Melaka diduduki oleh Belanda dan didirikan banyak bangunan belanda,  banyak warga Melaka yang marah. Mereka melampiaskan kemarahan mereka dengan meludahi banyak bangunan Belanda. Karena banyak warga Melaka yang mengunyah sirih pinang, sehingga liurnya berwarna merah, maka tembok yang diludahi pun banyak bercak-bercak berwarna merah. Untuk menutupi noda-noda ini, Belanda memutuskan untuk mengecat semua bangunannya menjadi merah.

Alasan yang paling masuk akal adalah, bangunan ini banyak terbuat dari batu bata berwarna merah. Jika dicat berwarna putih, dan karena bangunan ini terletak pada iklim tropis, maka bila bangunan ini terkena hujan akan membuat warnanya luntur dan kembali merah. Selain itu hujan yang turun memercikkan air bercampur tanah akan mengotori dinding sesuai dengan warna tanah. Untuk menghemat biaya pemeliharaan, makanya Belanda memutuskan untuk mengganti warna dinding dari putih menjadi merah – sewarna tanah. Jadi, teori sejarah mana yang benar??. Nikmati sajalah..
 
6. The Ruins of The Fort Wall and Middleburg Bastion
Situs ini adalah situs arkeologi. Baru saja ditemukan pada tahun 2006 ketika pemerintah Melaka berencana mendirikan menara pandang 360 derajat di sisi sungai Melaka. Beberapa situs arkeologi yang ditemukan akhirnya diteliti dan ternyata benteng pertahanan (bastion) Middleburg ini adalah bagian dari 1,5 km benteng kuno yang dibangun mengelilingi Melaka warisan dari Portugis pada pertengahan tahun 1500an.


Benteng perlindungan yang dibangun di sisi sungai Melaka oleh Portugis ini tujuannya adalah untuk mengawasi perdagangan laut dan meningkatkan pertahanan kota Melaka. Portugis menempatkan banyak tentaranya di sini, dan membangun sebuah turet – atau menara hijau. Masa pendudukan Belanda, benteng ini juga dipakai sebagai tempat pengawasan bandar Melaka. Dari benteng inilah, Belanda makin memperkuat kedudukannya karena gerak-gerik musuh atau kapal perang dari arah laut dapat dipantau dan diantisipasi.


(1)Melaka Street Map, 38th edition

*Diamond Jubilee merupakan peringatan enam puluh tahun-an yang biasa dilakukan di Inggris. Baik itu wedding anniversary, ulang tahun, atau kematian seseorang.

35 komentar:

Fiction's World mengatakan...

lempar koin ke sumur atau air mancur tuh ternyata banyak gitu ya yang ngelakuin, di pelem2 juga kan banyak gitu ya.
kayaknya yang bangunan diludahi itu bisa jadi bener juga, kalau yang ngeludahi 1000 orang, kan bercak2nya juga 1000 :P

ghost writer mengatakan...

melaka tiada sejarahnya yang bersisa untuk aku jelajah.

nicamperenique mengatakan...

sekilas mirip kota tua ga sih?

*terusin baca*

Ninda Rahadi mengatakan...

aduh aduh gak sakit apa ya dipotong gitu tangannya
kalau dlm islam kan dipegangpun mayat bisa ngerasa sakit ya bang...
wah aku belum follow bang gaphe ternyata dengan email baru eykee

Una van Wiebs mengatakan...

Itu ruins of st paul namanya kayak yang di macau aja hehehe...

f4dLy :) mengatakan...

Kapan yah bisa bawa gedung-gedungnya kesini? eehh...salah, maksudnya kapan yah bisa kesana juga?

Arman mengatakan...

lucu ya ada bangunan yang dicat merah untuk membedakan mana bangunan belanda dan inggris. hehehe.

Sadako Kenzhi mengatakan...

Btw kamu ikutan nglempar koin juga ndak?

Zulfadhli's Family mengatakan...

Jadi pengen ke Melaka juga Phe :-)

Serius ngeliat Melaka di majalah2, sekarang di blog lo, bener2 bagus yah kotanya. Artistik banget menurut gw mah

Ayo Phe, hajaaaarr terus mumpung masih sendiri jalan2 keliling dunia hehehe

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

sementara ini ikutan Gaphe jalan2 diblog dulu deh sebelum lihat yang nyata

tito Heyziputra mengatakan...

kirain gara2 diludahin beneran... trus jadi merah semua. Brapa banyak yg nge-ludah... hha

Ririe Khayan mengatakan...

KIra2..koinnya tuh sapa yg ngambil ya? Secara tiap hari banyak g lempar koin gitu

Elsa mengatakan...

keren yaaa
bangunan bangunan lama yang benar benar dilestarikan dirawt dengan sangat baik

seharusnya Semarang juga bisa dijadikan seperti itu ya
kan di semarang banyak bangunan tua tuh

Baby Dija mengatakan...

kalo renang di air mancurnya itu, boleh gak Om?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

yg christ church bagus tuh bangunannya.

naspard mengatakan...

gak banyak komen hanya kata WOW
hehe

saryadinilan mengatakan...

kota yang penuh dengan sejarah masa lalu di semenanjung malaysia(kalau gak salah)love,peace and gaul.

Rika Willy mengatakan...

keren banget Phe...

Huda Tula mengatakan...

lama ga BW tahu-tahu ada yang lagi jalan-jalan ke malaka.. :))

#yak misteri bangunan berwarna merah belum terpecahkan. tapi teori yang terakhir kayanya paling masuk akal...

hilsya mengatakan...

belum kesampean... jalan2 disini dulu aja lah..

Nia mengatakan...

wahh bangunan bersejarahnya bener2 terawat yahh...keren dechh jalan2 kali ini....btw gaphe udah jalan2 ke melaka, klo ke kota tua jkt udah blm? heheh....

honeylizious mengatakan...

duh yang sibuk jalan2

armae mengatakan...

Alfonso de Albuquerque, sepertinya pernah dengar O.o

cerita tentang cat warna merahnya menarik yaa.. jadi bingung mau percaay yg mana *ehh*

Bayu Hidayat mengatakan...

gw pernah ke malaka. tapi kok cuma liat yang ada meriam itu doang yah. mmmm

Mila Said mengatakan...

Gosh! seriously itu tnyt tangan nya St. Xavier beneran dipotong... dan itu tangan kanan nya.. hiiiih.. knp bisa pas banget itu batang pohon jatoh di tangan kanan nya itu...
gw baru tau nih kelanjutan ceritanya yg ini... makin ngeri dan ga akan berani liat sunset dari situ x_x

Ami mengatakan...

Jalan-jalan menyalurkan hobi fotografi... keren Phe...

ketty husnia mengatakan...

kota tua yang menarik ya Mas..buat diabadikan memang OK tuh..apalagi buat prewed..:)

niee mengatakan...

uh ini aku skip.. lebih suka cerita personal seperti capter 5.. ditunggu cerita2 seperti itu :D

Majalah Masjid Kita mengatakan...

sampe warna pun jadi perhatian mereka mas ya.. merah.. inggris gak mau sama dengan belanda yg kebanyakan pake putih :( ckckcckck...

Rawins mengatakan...

berasa neng maluku yo dab..?

r10 mengatakan...

pariwisata malaysia sudah maju, indonesia kapan? sibuk bangga dgn komodo tapi masy NTB ga makmur :(

uci cigrey mengatakan...

yg bata merah mirip kota ato braga ngga yah, atau cuma kelihatannya mirip yah phe, malaka ada tuh di jak tim jalan taman malaka :))

catatan kecilku mengatakan...

Kebayang deh kamu sibuk kejar tayang utk membuat laporan perjalananmu ke Malaka...
But, salut banget utkmu yg tetap dapat fokus dan detil menceritakan semuanya.

Lyliana Thia mengatakan...

hebat Gaphe.. detail banget rincian perjalannya... foto2nya juga keren Phe.. :-D

aku mampir sini udah chapter 13 ajah... wah aku mau ngerapel dulu ah...

Iqoh mengatakan...

Setuju sama mba Thia ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...