Jumat, 16 Desember 2011

Kek Lok Si Temple, Penang Hill, dan Teman Dari Indonesia


Chapter 14

Saya menyeruput kopi arabica yang disajikan melalui heater sambil mengoleskan selai hazelnut ke atas roti tawar saya. Dalam hati saya mengatakan bahwa akhirnya saya bertemu dengan kopi disini. Sepanjang saya di Melaka, saya cuma ngiler ketika melewati beberapa kopitiam dan coffee shop yang menjamur di Melaka tanpa sempat mampir mencicipi. Tak apalah, rasa pahit kopi yang disajikan di Georgetown ini mengobati keinginan saya kemarin. Saya tahu persis ini kopi arabica dari aftertaste asam yang tajam diujung lidah. Aftretaste ini cukup lama hilang, dan saya berasumsi bahwa kopi ini melalui proses fermentasi yang cukup lama. Bukan kopi instan, melainkan kopi biji yang digrinder.

Tak berapa lama, waiter datang membawa piring berisi ommelete dengan coleslaw yang disajikan diatas irisan mentimun. Menggoda untuk segera menikmatinya. Maka tak butuh waktu lama, akhirnya setangkup roti selai hazelnut dan ommelete plus coleslaw berpidah ke perut saya.

My Western Style Breakfast
Saya bergegas naik, untuk membersihkan diri lalu berganti baju. Setelah packing, akhirnya saya turun untuk check out pukul sembilan pagi dan mengambil deposit duapuluh ringgit yang saya titipkan saat check in kemarin. Lumayan untuk bekal perjalanan. Sebenarnya saya mau mengajak Fernando untuk berangkat berkeliling ke sisi lain dari Penang. Ternyata setelah sampai di hostelnya, Fernando bilang bahwa jam duabelas siang ini dia akan berangkat ke Hat Yai – Thailand sendirian dengan menggunakan travel yang dipesannya dari hotel. Ah, saya iri. Seandainya saya bisa extend satu hari saja mungkin saya bisa ikut menuju ke Hat Yai. Memang saya tidak merencanakan ke Hat Yai, alasan utamanya karena saya sudah kehabisan jatah cuti tahunan. Besok saya sudah harus kembali ke Surabaya.

Kami berpisah, dan saya mengucapkan kalimat terakhir : “keep in touch ya!” kepada Fernando. Maka saya berangkat sendiri, menuju Komtar, menunggu bus Rapid Penang Nomor 204 menuju Kek Lok Si Temple dan Penang Hill. Niat ke Kek Lok Si dan Penang Hill memang sudah saya set sejak awal karena ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo ke Penang. Dari dua tempat yang terletak di wilayah Air Itam, kita dapat melihat pemandangan kota Georgetown dan Selat melaka dari ketinggian.

Tak berapa lama menunggu, saya beruntung. Bus bernomor 204 itu tiba dengan kursi kosong yang banyak. Setelah memasukkan dua ringgit kedalam kotak, saya menempati kursi kosong di tengah.

Dalam perjalanan menuju Kek Lok Si, di depan saya persis ada sepasang laki-laki dan perempuan berdiri di tengah sambil tangannya memegang gantungan. Dari umurnya saya menebak dia seumuran dengan saya. Lelakinya berbaju merah, dan yang perempuan berkerudung dan berkaos terusan berwarna kuning – orange. Tiba tiba ponsel lelaki itu berdering, dan dia mengangkat teleponnya. Dari nada suaranya saya menangkap dia sedang berbicara dengan temannya, dan dalam bahasa indonesia fasih!. Saya melihat kaosnya, ternyata bergambar Garuda berwarna emas. Ini membuat saya yakin kalau dia dari Indonesia.

Tiga orang lansia masuk bus, saya berdiri dan mempersilahkan nenek wanita duduk di kursi saya. Maka saya lalu menghampiri mereka.

“Mas, Dari Indonesia?” tanya saya
“Iya mas” katanya
“Tujuan mau kemana?” lanjut saya
“Kita mau ke Kek Lok Si” jawabnya.

Kebetulan, saya juga berencana kesana. Kami pun berkenalan, nama yang cowok adalah Avir. Wanitanya memperkenalkan diri dengan nama Nyit-nyit. Ini nama panggilan mereka. Ternyata Avir adalah orang Indonesia, yang bekerja di Konsulat Jendral di Penang. Nyit-nyit pertamanya bilang temannya Avir, tapi dari gelagat dan gerak-geriknya mereka berpacaran. Benar saja, karena selanjutnya Avir memanggil Nyit-Nyit dengan sebutan “Ay”.

Beberapa kali Avir memastikan pada supir bus untuk menurunkan kami di Kek Lok Si temple. Dan perjalanan selama empat puluh lima menit itu tidak terasa karena keasyikan ngobrol. Nyit-nyit adalah mahasiswa tingkat akhir di Jakarta, dan mereka ternyata pernah menjadi teman sekolah sebelum akhirnya mereka berpacaran. Nyit-nyit pertama kali datang ke Penang nengokin pacarnya dengan menggunakan tiket promo Airasia dari Jakarta langsung penang.

“Dapet berapa Nyit?” tanya saya tentang harga tiket yang katanya promo
“Satu koma tiga PP” katanya. Dalam juta rupiah tentu saja.
Dan saya tersenyum. Saya bersyukur, dengan angka yang sama saya bisa menggunakannya untuk traveling Surabaya – KL – Melaka – Penang – KL – Surabaya plus oleh-oleh, lima hari pula plus akomodasi!.

Sampai di Kek Lok Si temple, diwarnai dengan adegan salah nyari pintu masuk. Kami masuk pertama mencari jalan naik melalui parkiran mobil. Ternyata buntu. Akhirnya karena Avir bertanya ke tukang parkir yang ada disitu, kami ditunjukkan jalan masuk melalui pasar. Selama perjalanan naik ke temple, jalanan berupa lorong itu dipenuhi dengan pedagang souvenir. Murah-murah memang, dan banyak yang bagus-bagus barangnya. Ketika Nyit-nyit bertanya pada saya mau beli apa tidak, saya menggeleng. “Saya tidak biasa membeli oleh-oleh,” jawab saya. Padahal alasan aslinya adalah : barang bawaan saya udah banyak, nggak  muat lagi kalo beli oleh-oleh.

Kek Lok Si temple adalah kuil umat Budha yang terletak di wilayah Air (H)Itam. Dibangun pada tahun 1890, dan sampai sekarang masih mengalami perluasan dan perbaikan. Ini terlihat dari beberapa sudut yang masih dilakukan renovasi dengan ditandai beton-beton basah. Kuil ini sebenarnya terinspirasi dari Goddess of Mercy Temple di jalan Pitt Georgetown. Dimulai pembangunannya sebenarnya saat tahun 1893, namun pada 1930 pagoda Rama VI (nama raja yang meletakkan pondasi pertama kuil ini) jadi. Pagoda Rama VI ini sebenarnya lebih dikenal sebagai pagoda 10.000 Budha, mengingat banyak sekali patung budha berjejer-jejer di tempat ini. Tapi saya yakin, jumlahnya tidak sampai 10.000. Di dalamnya, terdapat patung budha besar di dalam kolam kecil dan dikelilingi oleh lilin berbentuk bunga teratai berwarna pink yang menyala. Konon katanya dengan menyalakan lilin ini, dan menuliskan harapan kita atau nama kita (dan pasangan) kemudian meletakkannya di patung ini maka akan terkabul.

Pagoda 10.000 Budha. hanya empat yang terfoto, yang lain masih berjejer banyak dari sudutut ke sudut
Wishing candle di depan kolam patung Budha
 
Kuil tambahan yang baru dibangun adalah kompleks dewi Kwan Yin (Avalokitesvara) yang terbuat dari perunggu berukuran 30,2 meter. Dipayungi dengan bangunan beton berpilar delapan, bangunan ini masih dalam tahap pembangunan sehingga pengunjung tidak diperkenankan masuk. Di depan patung tersebut, dijaga oleh patung kera (semoga saya tidak salah lihat)sebanyak dua ekor di kiri dan di kanan. Saya jadi teringat legenda kera sakti gara-gara melihat patung ini.

Dewi Kwan Yin Statue di kompleks Kek Lok Si temple.
Avir, Nyit-nyit, dan saya. Teman sesama Indonesia ketemu di perjalanan. Foto dokumentasi dari Avir
Untuk mencapai patung dewi Kwan Yin yang katanya terbesar se Asia Tenggara ini pengunjung harus menggunakan kereta trem yang naik miring 45 derajat ke atas. Tiket masuk dapat diperoleh seharga 4 RM untuk naik dan turun. Bentuknya kalo saya lihat seperti lift kaca yang melewati eskalator. Secara hanya sebuah kotak kaca kecil yang melalui rel yang miring.

dari dalam lift kereta kaca yang menaiki rel yang mirip eskalator
Kebanyakan tempat disini menyajikan patung-patung Budha dalam segala posisi, dan bau dupa yang dibakar menguap dimana-mana. Monk atau biksu dengan baju kebesaran mereka berkeliling kemana-mana memandu para chinese yang ingin memanjatkan doa. Ada yang menarik di beberapa kuil disini, di depan kuil kita dapat membeli pita-pita berwarna-warni yang ditulisi beberapa kata seperti happines, wealth, body health, yang ditulis dalam bahasa cina dan inggris. Di kotaknya tertulis wishing ribbon. Di dalam pita itu, dengan menggunakan spidol permanen kita bisa menulis macam-macam permohonan sesuai dengan pita yang dipilih, dan menulis nama orang. Lalu wishing ribbon ini digantungkan pada ranting pohon yang cukup tinggi yang diletakkan di depan kuil. Ah, ada-ada saja cara orang untuk menarik uang derma.

Wishing Ribbon
Ada juga yang menarik dari kuil ini, dalam perjalanan menuju ke atas pagoda putih (saya tidak tahu nama pagoda yang itu apa) terdapat satu kolam kecil yang isinya penuh dengan kura-kura. Pengunjung sebenarnya dilarang memberi makan, tetapi banyak penjual sayur dan wortel di depannya untuk makanan kura-kura itu. Untuk memberi makan, pengunjung harus masuk dan menyeberang lewat tangga yang menghubungkan ke satu kubah kecil ditengah, diatas kolam. Persis kolam-kolam di Cina!.
Pagoda putih, yang saya tidak tahu namanya. Masih di kawasan Kek Lok Si
Tortoise pond

Selain itu, ada banyak kolam juga di atas yang diisi dengan ikan-ikan koi berwarna emas. Konon katanya kombinasi air, kolam, ikan koi, dan warna emas adalah perlambang kesuburan dan wealthy.

Saya, Nyit-nyit, dan Avir pun tidak lupa untuk mengambil foto di beberapa sudut tempat. Beruntungnya memperoleh teman perjalanan adalah, kita dapat meminta tolong untuk diambilkan fotonya!. Ya, kami berjanji untuk sharing hasil jepretan masing-masing melalui email sepulang nanti. Maka, nomor telepon, akun facebook, dan email akhirnya saya serahkan. Beruntung, Avir juga menawarkan ke saya kalau nanti saya ke Penang lagi, Avir bersedia menampung di apartemennya untuk menghemat biaya penginapan. Thanks Avir!

Tapi perjalanan bersama mereka hanya sebatas Kek Lok Si ini, karena Avir dan Nyit-nyit akan menuju ke Batu Ferringhi. Saya sudah kesana kemarin, dan saya memberi tahu cara kesana dan apa yang ada disana. Maklum, meski Avir sudah enam bulan di Penang tapi dia belum pernah ke Batu Ferringhi. Apalagi Nyit-nyit yang baru pertama kali juga ke Penang. Sebagai gantinya, Avir memberi tahu saya cara menuju ke Penang Hill dan apa saja yang ada disana karena mereka berdua justru sehari sebelumnya malah ke Penang Hill dulu sebelum Ke Kek Lok Si. Barter yang adil.

Sambil menunggu bus masing-masing di tempat tadi kami turun di Kek Lok Si, kami mengobrol. Saya menemukann fakta unik di Malaysia. Pertama, motor yang dipakai disini kebanyakan model-model lama yang mungkin sudah hampir punah jika di Indonesia. Modelnya memang lama, tetapi motornya motor baru. Kalau masih ingat, mungkin mirip model pitung dengan board berwarna putih polos. Banyak banget yang memakai motor jenis ini, kata Avir sih orang Malaysia lebih suka model seperti itu karena awet. Padahal kalo motor kayak gitu dipakai di Indonesia mungkin sudah jadi bahan ketawaan.

Motor jadul yang malah ngetrend di Malaysia

Fakta kedua, kalo laki-laki naik motor di Penang dengan menggunakan jaket pasti jaketnya dipakai dengan cara terbalik. Jadi, retsletingnya ada di punggung. Kata Avir, bodoh sekali padahal jaket sudah didesain sedemikian rupa tetapi cara pakainya malah dibalik-balik. Dan saya membenarkan, dengan menambahkan bahwa itu juga bahaya apalagi kalau dengan cara pakai seperti itu jaket akan sangat mudah melorot sehingga konsentrasi pengendara jadi bisa terganggu.

Fakta ketiga, Nyit-nyit yang bicara. Selama tiga hari berada di Penang, dia jarang menemukan cowok atau cewek melayu yang cakep!. Dari segi mode, taste, dan style, orang Indonesia boleh berbangga. Karena kita memiliki selera fashion yang jauh lebih baik dibanding orang Melayu Malaysia. Selain muka-muka yang jauh lebih tampan dan cantik tentu saja. Ingat ya, ini berlaku untuk warga asli melayu bukan blasteran arab atau cina. Bahkan tambah Nyit-nyit, dia hanya menemukan satu cowok saja dengan dandanan cukup stylish dan keren serta muka yang mendukung. Kalaupun orang itu dicomot dan ditaruh di mal-mal di Bandung malah terlihat biasa banget. Yeaaah, ini menjawab pertanyaan kenapa banyak cewek melayu ngeliatin saya sepanjang perjalanan naik bis. Karena mungkin di pikiran mereka, ini orang cakep dari mana yaa koq nyasar naik bus? #plaak

Ternyata Avir dan Nyit-nyit menunggu bus di posisi yang salah, mengingat jalan didepan kami adalah jalan searah. Konfirmasi ini baru kami ketahui setelah ada ibu-ibu cina yang lumayan berumur dan menenteng belanjaan berkata kepada kami mau kemana. Maka pertemuan singkat saya dengan sepasang kekasih dari Indonesia itu berakhir disini.

Saya pun kembali menunggu bis ke arah Penang Hill, bus dengan nomor yang sama dengan yang saya naiki tadi di awal. Lama. Akhirnya saya tanya lagi ke ibu-ibu cina itu, arah ke Penang Hill dan apakah bisa ditempuh dengan jalan kaki?. Ini saya lakukan mengingat di beberapa catatan blogger yang bilang bahwa dari Kek Lok Si menuju Penang Hill cukup dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Memang benar sih, kata ibu itu meyakinkan saya. Jarak dekat itu bisa ditempuh hanya dalam waktu 20 menit berjalan kaki.

Saya mengarah ke utara menurut perasaan saya menyusuri jalan. Macet parah, karena weekend. Dan dari jalanan ini saya sudah bisa melihat kereta Penang Hill dari kejauhan sedang merambat. Saya berada di jalur yang tepat!. Saat itu cuaca sangat panas, dan kaos saya sudah basah oleh keringat. Meskipun saya menenteng payung, tetapi masih sangat panas. Beruntung, setelah saya melalui bangunan di bawah ini, saya menemukan penjual es tebu!. Hanya satu ringgit, saya memperoleh sari tebu dengan rasa yang manis. Segaaar..
Monumen jam cina yang saya maksud, tugu ini ada di perempatan jalan menuju Penang Hill
Penjual es tebu, seplastik besar es tebu manis hanya 1 RM

Penang Hill adalah bukit kolonial tertua yang dibangun oleh British ketika mereka mengusai Malaysia. Pertama kali dieksplorasi pada abad 18, dengan menggunakan kereta-kereta bertenaga kuda untuk membangun jalan ke atas. Penang Hill merupakan kawasan terpadu dengan beberapa spot bukit-bukit diantaranya adalah strawberry hill, Halliburton Hill, Flagstaff Hill (Bukit Bendera), Tiger hill, dan Western Hill. Titik paling tinggi terletak di Western Hill yang terletak di 833 meter diatas permukaan laut. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Georgetown dan Selat Melaka dari atas. Untuk mencapai ke kawasan atas atau meeting point, dibangun sebuah kereta dengan kemiringan 45 derajat. Namanya adalah Penang Hill Funicular Railway. Pertama digagas tahun 1901 dan selesai empat tahun kemudian setelah sempat tertunda karena kesalahan teknis. Melalui beberapa renovasi yang menelan biaya jutaan dollar, upgrading tahun 1977 dan akhirnya renovasi terakhir secara besar-besaran menjadi kereta modern tahun 2010 kemarin yang menyebabkan penutupan penggunaan kereta ini selama beberapa bulan. Beruntung, saat saya kesana sudah dioperasikan kembali.


Kereta menuju ke Top Point

Dengan harga tiket sebesar 30 RM untuk turis asing untuk perjalanan naik dan turun, kita bisa menikmati perjalanan miring selama kurang lebih sepuluh menit menuju ke puncak. Sebenarnya Avir mengajari saya untuk dapat tiket lebih murah, yaitu dengan mencari kenalan orang Malaysia disana dan meminta titip untuk dibelikan tiket. Lumayan jauh bedanya, karena untuk warga Malaysia pemegang MyKAD (Semacam KTP) hanya akan dikenakan 8 RM untuk pergi pulang.

Tidak banyak yang bisa dinikmati disini selain pemandangan dari atas, suasana yang dingin, Kuil Hindu, Viewing Deck, makan di David Brown restaurant, menginap di Believue hotel, atau trekking menuju ke beberapa jalan setapak yang menghubungkan taman-taman burung. 

Saya mencoba mengambil kota Georgetown dari atas dengan mode panorama dengan shutter beberapa kali jepret, tapi tampaknya kurang pas dalam menggabungkan semuanya :)

Saya tidak lama disini, jam dua siang akhirnya saya turun lagi menuju Komtar setelah menunggu bus nomor 204 yang akan membawa saya kembali ke Georgetown





32 komentar:

.:diah:. mengatakan...

tuuh Phe, temen baru nemumu aja ada 'temen jalannya', kapan kamu juga jalan bareng 'temen'?? xiixix

btw Phe itu foto2 mode panoramanya oke loohh, maniiss... view Georgetown nya terlihat indah koq :)

tiffa mengatakan...

Asli ngakak pas paragraf Nyit2 berkata fakta ketiga.

Makanya org Melayu banyak yg nikah dg org asing ya? jd anaknya cakep kayak Miller dan Ashraff Sinclair. Eh tp Siti Nurhaliza cantik tuch, melayu asli.

Ninda Rahadi mengatakan...

ah bang gaphe
capek deh aku mampir sini
capek ngiler

hemm waktu aku kecil dulu mbah putriku juga selalu masak dan menghaluskan kopi sendiri
tapi aku gak tau itu namanya kopi apaan. gaktahu bedanya. cuma tahu enak dan gak aja

ria haya mengatakan...

wow 1,3jt bisa dpt segitu banyak, bikin mupeng aja nich
foto panoramanya lumayan, itu mozaik fotonya manual ya? aku kira langsung bisa dijepret dg hasil yg panjang kek gitu hehehe (#ora mudeng fotografi)
jadi pengin nyoba jg mode itu, tp pinjem kamera adik2ku dulu nich hehehe

Mila Said mengatakan...

tiket gw ke penang cuman 200rebuan kog, tu cewe mah harga biasa bukan promo hehee...

beuh, udah chapter 14 aja nih, perasaan kmrn gw baca baru chapter 8
-__-"

Enny Law mengatakan...

wah wahh, ketemu org INA, hihi..
si asraf aja nyarinya BCL bukan org asli malay'a,hahha :P

emank deh INA de best

Lidya mengatakan...

kalau aku sarapan Western Breakfast gak nendang hehehe maklum perut ndeso

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah itu kura2 nya banyak amat...

Rawins mengatakan...

kok kebalik dab..?
aku nek ditanya kenapa ga beli oleh oleh
alesane bawaan dah banyak
padahal asline ga suka beli...

Happy Fibi Ananda mengatakan...

1,3 juta bisa banyak tempat gitu, y, Bang..
Jadi pengen ke Penang juga, deh >.<..

Wishing Ribbon.nya keren, ya.. Warna wani gitu :D

Hariyanti Sukma mengatakan...

yang ditampilkan di foto2 itu benar2 keren....kapan ya bisa jalan2 gaya Gaphe...???

hilsya mengatakan...

btw motornya kan.. motor eike di rumah.. kayak model astrea star tahun 92..haha

Honeylizious Rohani Syawaliah mengatakan...

:)

Mama Kinan mengatakan...

Hmmm keren....ini yang selalu bikin kangen dari tulisan perjalananmu phe..lengkap selengkap2nya detail bisa jadi referensi...terus plus photo2nya keren2..mantap :)

Djangan Pakies mengatakan...

jadi orang Indonesia lebih keren dari segi penampilan, mode termasuk tunggangan ya Kang. Kalo jaket kebalik mungkin niru kebiasaan tukang ojek di kampung saya kali Kang. tapi yaitu, repotnya suka melorot
weh membaca semua, serasa ikut dalam perjalanan

puchsukahujan mengatakan...

mas Yoga eh Gaphe dulu anak SMA 1 Jogja bukan sih?

*berasa kenal...

Meutia Halida Khairani mengatakan...

setuju dengan komentar diah. hahaha.. beberapa yg lo posting banyak gw denger dari mama. tapi jadi lebih kebayang kalo liat fotonya deh..

lo tau aja ya kalo orang lagi pacaran.. hihihi. oh iya, lo aja banyak yg liatin disana, apalagi kalo gw yg kesana...?? hahahaha

Tiesa mengatakan...

how come 1,3?? #kaget
kapankapan mau ikut jalanjalannya bang kalo boleh hihihi

tito Heyziputra mengatakan...

ternyata klo d penang, lebih bnyak budaya budha nya ya,, beda yg waktu di malaka. Lebih terasa aksen Eropa inggris nya....

di penang mirip klo kita k kalimantan deh,, bnyak temple.

Audrey Subrata mengatakan...

udah lama ga main ke sini, tiba-tiba ceritanya udah chapter 14 ajaaa hahaha sebenernya Bang Gaphe berapa hari liburannya? 4763 hari yah? jadi penasaran. :P

Ririe Khayan mengatakan...

1,3 jt dapat paket kayak gitu? Padahal kalau ke Bali seminggu gak cukup segitu..

kakaakin mengatakan...

Sepertinya mesti belajar dari Gaphe nih, cara travelling murah meriah.

Ami mengatakan...

kalo pengen perbaikan keturunan emang mesti sama bule... qiqiqi... mosok sih gak ada yang cakep blas?

covalimawati mengatakan...

baru buka blog ini, lgsg jatuh cinta ma edisi travelingnya.. Ijin follow yah.. :)

ranie esem mengatakan...

love your blog, travelling + culinary! :)

Adi Chimenk mengatakan...

gw gak bisa komentar apa-apa Phe, speechless total..!

The King of Travelling lu mah..:)

Yayack Faqih mengatakan...

wow tulisanya panjang bgt apa nulisnya ga bingung apa. Ya itulah kalo bakat nulisnya emang udah kuat. Hehe ...

itu Omelete dengan coleslaw lebih mirip2 telor dadar ya, baca postingan ini jadi kaya ikut jalan jalan juga karena di sisipi banyak gambar yg saya rasa bsa mewakili bgt :D

[L]ain mengatakan...

Kopi arab gimana rasanya?
Pengen >_<

ngiri nih jalan-jalan mulu ._.

Fiction's World mengatakan...

ahahah~ si abang kepo ihh curigaan sama orang yang pacaran :P
bagus lah itu foto yang terakhirnya :D
kapan2 nebeng liburan sama bang Gaphe, boleh kali ya biar murah :D

Lyliana Thia mengatakan...

Jadi takut mau ke Malaysia.. Takut dikira bintang film ntar... #plaaak (ngikut gaya gaphe) hahahaa..

Ketemu teman sebangsa setanah air di negeri orang emang beda rasanya ya Phe..
:-D

niee mengatakan...

Jadi inget dulu waktu jaman kuliah phe.. kan banyak temen aku yg kuliah di serawak kuching. waktu disana pasti dia merasa paling cakep.. coz emang bener disana gak terlalu cakep2 wajahnya.. hahahaha..

Bisa dilihat deh dr tv lokalnya.. artisnha aja gak cantik :p

catatan kecilku mengatakan...

Apa yg kau tulis di wishing ribbon, Ga? hehehe....
Sungguh, senang ya bisa berada di negara lain dan mengunjungi banyak tempat. Aku iri padamu! :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...