Minggu, 04 Desember 2011

Me, Friends, and The Middle Of Somewhere


Chapter 5

Satu kesalahan yang saya lakukan setiba di Melaka adalah tidak membawa peta. Saat itu saya pikir dapat mengandalkan GPS yang tertanam dalam ponsel saya. Ternyata, GPS saya tidak bisa dipakai. Setiap kali di zoom, layarnya langsung berwarna hijau tanpa gambar apapun. Polos.

Crap!!

Terdampar di negeri orang, tidak tahu jalan, sendirian, dan tanpa peta. Lengkap!. Saat itu, perasaan saya bilang untuk cari tempat duduk dan memikirkan langkah selanjutnya mumpung masih siang yang langsung seketika itu pula dikonfirmasi oleh perut yang berteriak minta diisi. Maklum, sedari pagi belum terisi apa-apa kecuali sepotong sandwich dan teh tarik. Maka saya melangkahkan kaki ke Mc. D terdekat, untuk memesan makanan. Tak perlu dibahas mengapa jauh-jauh hanya kembali memesan Mc. D,  karena tempat itu adalah yang pertama terlihat. Sebetulnya saya ingin mencoba nasi lemak antarabangsa yang terkenal di Malaysia sih, namun tempatnya masih renovasi. Ya sudahlah, boro-boro hunting makanan khas, nasib diri sendiri saja belum jelas. Alasan kedua adalah, makanan ini lumayan bisa diterima perut orang dari berbagai negara – saya tidak mau hari pertama saya di Melaka hanya habis untuk bolak-balik-boker.

Lunch break
Sepotong spicy chicken burger, soda dan french fries upsize ditambah AC yang mendinginkan kepala cukup membuat otak saya berjalan kembali. Saya keluarkan bolpoin, dan membuat coret-coretan peta di balik struk pembelian, mencari arah utara –selatan. Untung photographic memory saya cukup bagus, sehingga peta dari google map yang semalam sebelumnya saya telusuri di beberapa poin saya masih ingat. Jika saya berada di Mahkota medical centre dan berjalan menuju dataran pahlawan , itu berarti saya berjalan ke arah barat laut. Semakin ke barat laut, maka saya akan menemukan The Dutch Square. Sedangkan tempat menginap saya ada di sebelah timur laut. Saya buka kode booking hotel yang sudah saya print, ternyata di situ ada arahan untuk menuju ke penginapan. Patokan utama yang disebutkan, adalah Red Clock Tower. Dan itu letaknya ada di The Dutch Square. Maka saya putuskan, sehabis makan saya mengarah ke The Dutch Square.

The Red Clock Tower - Stadthuys
Keputusan saya tepat, karena The Dutch Square ternyata sangat mudah ditemukan hanya berjalan kurang lebih 500 meter. Kebahagian pun menjadi-jadi ketika melihat di seberang Red Clock Tower, terdapat Pusat Pelancongan Melaka atau Tourism Information Centre. Dari situlah saya memperoleh peta Melaka yang berbentuk buku, lengkap dengan banyak brosur informasi.

Akhirnya dengan peta di tangan, jalan menuju penginapan tampak semakin jelas. Saya putuskan untuk check in terlebih dahulu, dan menaruh barang bawaan saya sebelum memutuskan untuk berjalan-jalan lagi.

Saya menginap di Little Nyonya Youth Hostel yang terletak di jalan Chan Koon Cheng no 45, Melaka 75000. Ini saya pesan sebelumnya lewat hostelbookers.com dengan membayar DP sebesar 10 persen menggunakan kartu kredit pinjaman. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di situs hostel ini di http://melakalittlenyonya.com/hostel/. Alasan mengapa saya memilih hostel ini adalah : Murah. Selain tempatnya yang dekat, harganya juga cukup affordable buat backpackers gembel macam saya.

Saya memilih kamar dormitory, untuk 9 buah bed. Kamar dormitory sebetulnya dikhususkan untuk backpacker yang jalan-jalan sendirian, atau hanya sekedar numpang tidur dan mandi. Atau bisa juga buat menginap dalam waktu yang lama, tetapi harganya murah. Maklum, satu kamar untuk sharing beramai-ramai. Dan jangan kaget ketika saya bilang harganya, semalam saya menginap disini saya hanya mengeluarkan uang 12 Ringgit saja, tidak lebih dari Rp. 35.000!!.

Sampai di hostel saya bertemu dengan sekelompok backpackers asal India yang rame-rame menonton televisi. Awalnya saya pikir salah satu dari mereka adalah pemiliknya, namun setelah saya bilang : “Can I check in right now?, cause I already booked from internet”. Mereka berkata, bahwa mereka bukan pemiliknya. Mereka minta saya menunggu sebentar di ruang tamu, sambil menyaksikan saluran televisi kabel.

Tidak lama menunggu, seorang ibu-ibu muda memarkir sepedanya di luar hostel. Dia masuk dengan santai tanpa melepas sandal, dengan hanya mengenakan kaos dan celana selutut saja. Lalu dia melihat saya yang masih nonton televisi, dan dia bertanya kepada saya : “Can I help you?”. Saya lalu berdiri dan menyerahkan itinerary yang saya peroleh dari hostelbookers.com kepada wanita itu, yang akhirnya saya tahu dialah pemiliknya. Namanya Renolitha, panggilannya Reno.

Saya berbasa-basi sedikit dengan bertanya :”It is still any room here?”. Reno mengangguk, dan bertanya kepada saya “Can I see your identity?”. Saya menyerahkan paspor, dan dengan ramah Reno mengajak saya ngobrol.

“So, you are from….” Sambil matanya terus menyalin nama saya ke buku daftar tamu.
“Indonesia”. Saya jawab singkat.
Which part of Indonesia??” tanya Reno lagi.
I come from Surabaya, it is in East Java”. Dan Reno berteriak excited “aaah… beberapa waktu yang lalu, ada juga yang menginap dari Indonesia”. Loh, tiba-tiba Reno bisa berbahasa Indonesia??? Oh tidak, itu saya terjemahkan saja. Karena saya memahami beberapa pembaca mungkin tidak nyaman jika dialog-dialog selanjutnya saya sajikan dengan bentuk aslinya dalam bahasa Inggris.

“Dia dari Jakarta, dan bekerja di salah satu TV swasta”. Tambahnya sambil menunjukkan sebuah nama di buku daftar tamu itu.

“Di TV Mana?” saya tanya lagi. Pertanyaan ini ternyata cukup membuat Reno kesulitan menjawab, dan akhirnya dia bilang “Coba sebutkan semua saluran TV yang kamu punya di Indonesia”. Saya menyebutkan semuanya, sampai dia bilang “I think, she is from TV one. But im not sure”.

Selanjutnya saya diberi tips jalan-jalan di sekitar Melaka, terutama saat malam weekend salah satu tempat yang harus saya coba adalah di Jonker Street. Reno lalu mengantar saya ke lantai dua, sambil menunjukkan ini pantry itu kamar mandi, sepatu harus dilepas sebelum masuk, dan ini kunci kamar dan gembok gerbang depan. Lalu tiba-tiba hujan deras turun, dan Reno bilang kepada saya bahwa dia bersyukur sudah sampai di rumah sebelum hujan. Tepat waktu.

Memang cuaca di Melaka pada saat kedatangan saya agak sulit diprediksi, pagi sampai siang sangat panas, sore harinya tiba-tiba mendung dan hujan deras. Menjelang malam, cerah lagi. Dan siklus itu terbukti berjalan seperti itu selama dua hari saya berada di Melaka.

Little Nyonya Youth Hostel merupakan bangunan lama mirip dengan ruko dua lantai kira-kira ukuran standar 6x12 meter. Bagian bawah, selain ruang tamu dan kamar pemiliknya, ada pantry, kamar mandi dan toilet. Semua kamar untuk tempat tidur ada di lantai atas, dan Reno punya 3 tipe kamar. 1 kamar dormitory, untuk 9 orang. 1 kamar private twin bed, dan satu lagi kamar untuk 4 orang dengan tempat tidur bertingkat. Dengan harga yang begitu terjangkau, saya sejujurnya tidak berharap banyak. Namun, yang saya peroleh lebih dari apa yang saya bayarkan. Kesan saya masuk kamar dormitory : bersih, dan sangat homy. Sederhana, tidak ada pendingin ruangan, hanya satu lemari kecil di samping tempat tidur, dan kipas angin helikopter di atas langit-langit. Satu-satunya fasilitas yang saya terima adalah hanya selembar selimut. Ya, saya sudah tahu. Di dalam bukti pemesanan pun tercantum no breakfast, no towel. Tidak menjadi masalah, toh saya hanya butuh tempat tidur untuk semalam. Saya memilih tempat tidur yang kosong di bagian pojok, menaruh barang, dan sedikit beristirahat. Saya mendengar teriakan para India yang ada di bawah, yang saya temui tadi, sedang menyanyikan lagu Happy Birthday. Dan saya baru tahu malam harinya, kalau ternyata hari itu Reno sedang merayakan ulang tahun dari Fernando Cailipan – Teman satu dormitory asal Filipina.

Fernando adalah seorang bapak tiga anak asal Metro Manila yang melakukan perjalanan sendirian. Dia backpackers berpengalaman, dan sudah menjelajah banyak tempat di dunia. Seorang mountain climber juga, dan berkata bahwa mendaki gunung adalah passionnya. Bahkan gunung Kinabalu pun sudah 4 kali didaki. Alasannya pergi ke Melaka sebetulnya dia menunggu approval visa tinggal di Singapore yang sedang diproses oleh anak lelakinya – yang seumuran saya, yang bekerja sebagai Chef di hotel berbintang di Singapore. Cerita Fernando banyak, dan mungkin akan butuh satu chapter sendiri untuk menuliskannya. Namun siapa sangka, Fernando inilah nanti yang jadi teman saya ketika saya melanjutkan perjalanan ke Penang. Tanpa rencana awal sebelumnya.

Kembali ke Reno. Reno adalah orang pertama yang pada akhirnya menjadi teman saya di Melaka. Reno juga berasal dari Filipina, dan menetap di Melaka setelah mengambil alih kepemilikan Little Nyonya Youth Hostel dari pemilik sebelumnya. Menikah, dan punya satu anak perempuan yang lucu. Reno memutuskan untuk mengelola youth hostel karena dia sendiri juga penyuka traveling. Satu kegemarannya adalah mendengarkan cerita dari traveler lain yang menginap. Dia bertindak bukan hanya sebagai host saja, namun juga sebagai teman bercerita yang baik. Sangat –sangat ramah, dan baik hati. Dan dia percaya kepada tamu-tamunya. Itu yang sampai sekarang saya belum tahu alasannya. Tanpa segan-segan kadang dia pamit sebentar kepada tamunya untuk keluar rumah dengan bersepeda. Dia menitipkan rumah pada tamunya, seperti pada waktu saya datang ke sini yang saya temui pertama kalinya semuanya adalah tamu-tamunya. Tak heran, kepercayaan balik pun Reno peroleh juga dari tamu-tamunya. Bahkan jika saya mengamati, keakraban antara Reno dan tamunya lebih dari sekedar hubungan antara pemilik hostel dan penyewanya.

Selesai menaruh semua barang dan beristirahat sejenak, hujan pun mulai reda namun langit masih mendung dan hanya tinggal gerimis ringan. Saya keluar hanya membawa payung lipat, peta dan  menenteng camera pack saja. Menyusuri jalan Chan Koon Cheng, saya menuju ke Sungai Melaka untuk naik River Cruise. Atraksi ini wajib di coba bagi setiap wisatawan yang datang ke Melaka. Bahkan kata gubernur Melaka sendiri, yang dipasang dalam spanduk-spanduk promosi Melaka River Cruise, belum bisa dikatakan pernah ke Melaka kalau belum pernah mencoba River Cruise. Jadilah, sesorean itu saya habiskan untuk menyusuri Sungai Melaka menggunakan boat.

Melaka River Cruise - salah satu yang wajib dijajal kalau ke Melaka
Waktu masih menunjukkan pukul enam sore saat saya menyelesaikan pesiar susur Sungai Melaka saya, dan hari masih terang. Perbedaan waktu satu jam lebih cepat dengan di Indonesia, tidak serta merta menjadikan malam juga datang lebih cepat. Masih ada waktu untuk melihat sunset, apalagi hujan juga sudah berhenti sama sekali. Saya berpikir cepat : dimanakah tempat terbaik di Melaka untuk melihat matahari terbenam?. Peta saya buka, di paling ujung barat yang langsung berbatasan dengan laut di wilayah Melaka tertulis : The Jetty. Sebuah bangunan kayu menjorok ke laut dengan view laut lepas. Tetapi saat itu saya sudah terlalu capek, dan jarak antara saya berada saat itu dengan The Jetty ada sekitar 3 kilometer. Maka pilihan saya lainnya untuk melihat matahari terbenam adalah Bukit St. Paul di dekat Stadthuys.

Saya melangkah lebih cepat karena takut tidak dapat momen sunset yang bagus. Bahkan saat menaiki tangga ke Bukit St. Paul pun saya lakukan dengan setengah berlari.

St. Paul Hill from bottom
Dari depan reruntuhan gereja St. Paul, saya memandangi matahari dengan berdiri. Namun saya merasa kurang nyaman berada pada posisi tersebut. Mata saya kemudian tertuju pada tiga orang bule, satu cewek dan dua cowok yang duduk sambil bercengkrama satu dengan yang lain di salah satu sisi bukit di tempat miring yang ditumbuhi rumput. Menurut saya, itulah tempat terbaik untuk menikmati sunset. Duduk, sambil berselonjoran kaki, dan melihat lepas ke arah laut dari atas bukit. Maka saya mendatangi tiga bule itu.

Tina, Rob And Sebastian. Tiga teman bule nemu di perjalanan.

“Can I sit there with y’all?” Tanya saya kepada ketiga bule itu.
“Yeah, of course. Have your seat!”. Berasa disambut baik, langsung saya menempati di paling ujung kiri, pada bagian yang masih kosong.

“Nice view from the top, huh?” Saya memulai pembicaraan kepada bule cewek disamping saya.
“Yeaah, of course!. I like to see sunset from here”. Katanya

Kami akhirnya berkenalan. Cewek yang berbaju pink, mengenakan T-shirt pink tipis dengan tanktop hitam dan celana pendek hitam berkacamata itu memperkenalkan diri dengan nama Tina. Aksennya british kental terasa waktu mengucap huruf “T” terdengar seperti “Ch”. Dua cowok lainnya, Namanya Rob dan Sebastian. Yang mengenakan kaos hitam, bersablon “fox” putih di bagian belakang itu Rob, sedangkan yang berkaos putih bertopi itu Sebastian. Mereka ternyata berasal dari satu penginapan yang sama, di Jalan-Jalan Hostel dekat Jonker street. Tina, Rob dan Sebastian baru pertama kali bertemu di Melaka ini, karena mereka berbeda kewarganegaraan. Tina dari Belanda, Sebastian dan Rob dari Kanada dan berangkat bersama.

Obrolan pun mengalir. Tina lebih banyak bercerita dibandingkan dengan dua temannya. “I fall in love with Asia” Kata Tina. “Disini banyak tempat yang bagus dan cuacanya nyaman”.

Ketika saya menyebutkan Indonesia, Tina bilang bahwa dia pernah ke Bali sekali, dan sangat menikmatinya. Bahkan Rob dan Sebastian, seusai dari Malaysia ini mereka akan berada di Bali selama 2 minggu. “Wow, how can you get a long holiday like that, what do you do?” kata saya excited. Kata Tina, ini normal untuk ukuran orang-orang Eropa. Tina memiliki waktu 5 minggu break dari pekerjaannya sebagai paramedis, dan sudah berada di Melaka hampir satu minggu lamanya. Dan hari-hari liburnya hanya dihabiskan untuk menikmati suasana. “Jika saya menemukan tempat yang bagus, saya bisa berlama-lama ditempat itu. I don’t like a big city, that’s why I don’t like Singapore and Kuala Lumpur” kata Tina menambahkan.

Rob dan Sebastian, ternyata mereka break setelah menyelesaikan kuliahnya. Mereka melakukan perjalanan berkeliling Asia sebelum mereka bekerja. Bahkan Tina pun kaget ketika mengetahui saya hanya punya 5 hari 4 malam saja untuk berlibur. “What? Why its so short?”.Normally, di Indonesia memang biasanya pekerja hanya memiliki waktu cuti dua sampai tiga minggu setahun. Itupun terkadang tidak bisa diambil semuanya sekaligus. I’m envy you..” kata saya.

I Knooow”. Dengan nada sedikit melengking dan diayun, ekspresif sekali cara Tina menyampaikannya. Saya suka gaya bicaranya, meskipun aksen british-nya kental, namun dia menggunakan bahasa yang sangat mudah dimengerti. “Saya terkadang merasa bersalah kalau bercerita tentang liburan saya kepada orang lain, karena membuat mereka iri” Imbuh Tina.

Rob kemudian bertanya pada saya “After this, where’s your next destination”. Saya menjawab singkat “Penang Island”. Tina pun menyahut, “That a such beautiful place, saya ingin kesana lagi nanti sebelum ke Thailand”. “Wow, really?. Kapan kamu berangkat?. Apakah kamu mau ke Hatyai atau Phuket?” , tanya saya selanjutnya.

“I don’t like Hat Yai and Phuket. It’s so crowded in Phuket, and dirty too. So many tourism attraction, I don’t like it. Saya memilih satu pulau di Thailand, yang saya lupa namanya. Disana bagus, saya dapat rekomendasi dari teman saya. Masih sepi, alami” lanjut Tina. Ajaib! Batin saya bilang. Cewek yang melakukan perjalanan sendirian, bahkan bisa memutuskan setelah ini kemana lagi tanpa persiapan sebelumnya dan hanya berdasarkan rekomendasi teman. Rasa iri campur kagum saya makin besar.

“So, you traveling alone?” Kata Sebastian. Saya mengangguk. “For some reason, being alone menurut saya banyak yang bisa diperoleh. Sama seperti kalian kan? Why you traveling alone?” tanya saya. Tina lah yang menjawab pertanyaan saya “I like being alone  for finding something. Ketemu orang, melihat sesuatu yang baru dan menarik, dan bisa berbicara dengan diri sendiri – apa yang sebenarnya kita inginkan. How about you, why you traveling alone?”  Katanya kepada saya.

“Saya setuju dengan apa yang kamu katakan”. Sejujurnya saya tidak enak jika menyebutkan saya ke Melaka ini hanya karena saya dapat tiket gratisan, tanpa persiapan matang, modal cuman sedikit, terdengar semacam alasan murahan. “For some stories” saya menambahkan di akhir. Karena saya suka mendengar banyak cerita dari orang lain.

“And what’s your stories??” gantian saya yang tanya kepada Rob, Tina dan Sebastian.

Dan sore hari itu kami habiskan untuk membahas tentang banyak kejadian yang pernah dialami masing-masing. Tentang bagian Imigrasi Kamboja yang menahan paspor di kantong dan baru mengembalikan dengan syarat memberikan 5 dolar terlebih dahulu. Tentang laba-laba besar yang ditemui di Batu Caves – Kuala Lumpur, dan tentang banyaknya nyamuk yang menggigiti kulit mereka saat malam hari di hostel yang mereka inapi. Sesekali saya menjepretkan kamera saya ke arah sunset, dengan panorama Menara Taming Sari yang membentuk siluet. Suara burung berterbangan kembali ke sarangnya mengiringi pergantian sunset di St. Paul Hill.

Sunset dengan siluet Menara Taming Sari

Saya menyukai matahari terbenam, sama seperti saya menyukai bau rumput basah di pagi hari. Saya menyukai momen-momen perubahan langit menit demi menit yang selalu berbeda setiap penampakannya. Langit bergradasi biru ke jingga, tiba-tiba sorot matahari membentuk semacam jalan menuju suatu tempat, dan dalam beberapa menit selanjunya beberapa awan terlihat menggumpal terpecah-pecah. Mahakarya luar biasa dari Pencipta Yang Luar Biasa pula.

Sunset diatas St. Paul Hill - berubah menit demi menit
lalu menjadi sebuah guratan menyerupai jalan menuju ke suatu tempat
Dan tenggelam sempurna meninggalkan jejak kemerahan

Begitu pula sunset di Bukit St. Paul ini. Ini merupakan breathtaking moment buat saya. Sesekali saya menghirup udara yang dalam-dalam sambil memejamkan mata, kemudian memandang laut lepas dan berkata ‘wow’ berulang kali. Subhanallah, pemandangan ini tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Me, stranger that I called friend, and the middle of somewhere.

42 komentar:

John Terro mengatakan...

karena orang Indonesia setengahnya malas2
hingga akhirnya lliburan dipersedikit :)
#ngaco

Ad Ln Pt mengatakan...

wah.... kayaknya asik maen ke negeri orang sambil kesasar2 sedikit.

tapi saya di bogor aja masih sering kesasar [--']

Ami mengatakan...

photographic memory bermanfaat ya... siiip fotografi langitnya juga keren...

Life In Mono mengatakan...

sampe haus gue bacanya

Ririe Khayan mengatakan...

wah, kok ngajak2 kalau backpacker ya? *Plakk*...asli bikin ngiri hasil backpackernya..eh, arek suroboyo juga tho? salam kenal...(sebelumnya belum kenalan kan?)

Syam Matahari mengatakan...

Damn! Sunsetnya phe.... kereeeeen!

Well, jalan sendiri kayak kamu kafang lebih asik yah soalnya susun itenaru sendiri, mau kmana2 juga gak ada yg repotin. ah km dah jd packer sejati ini, udah bs buka travel dikampung nanti. hehee

Oh iya, itu hostelnya keren deh... dann saya superduper envy sm kamu.

tito Heyziputra mengatakan...

cari aman, tetep makan mCd,, hahha
harga nya standar lagi, emang pilihan tepat.

rob, sebastian, tina mukanya ga kliatan, hha

dhenok habibie mengatakan...

kalo saya nyasar di Melaka, mungkin akan segera mencari Reno phe.. hahahaha #korbanpostingan :D

ditunggu cerita tentang Fernando

catatan kecilku mengatakan...

Penasaran sungguh dg Reno itu.. sptnya orangnya asyik ya?
Berarti stelah ini ada cerita lebih banyak tentang Fernando?

Liburan sendirian memberi banyak pengalaman dan pelajaran berharga ya?

armae mengatakan...

aku juga suka jingga, sangattt :)

narti mengatakan...

salut ma otaknya yg encer :)
pic paling bawah kayak ibu jari ma telunjuk :D

Accilong mengatakan...

setiap kli mampir di maree... pasti yg empunya blog gi jalan2. bikin spechless jdinya silent.

masa tiap kli mampir mo bilg saya juga pengeeennn... hahhahahah

Lyliana Thia mengatakan...

apa krn org Indonesia kurang produktif ya jd liburna sedikit..

so much stories from just a 5 days and 4 nights travel ya... and there's still more i guess? :-D

Phe, kayaknya asik nih klo cerita2 Gaphe dibikin buku.. bikin kayak The Naked Traveler gitu Phe :-D

Lyliana Thia mengatakan...

I loooveee the sunset viewww.. sooo much! so pretty!

NQ mengatakan...

keren euy foto trakhir itu, kok seperti bayangan jempol dan telunjuk ya? Apa imajinasiku saja? :D

beruntung sekali menemukan orang2 yg menyenangkan dalam perjalanan gratisan ini ya Phe :D

asli bikin iri dah hiks

Yayack Faqih mengatakan...

panjang bgt tulisanya tapi menarik juga ngebacanya, sya seperti berasa ikut jalan jalan dengan membaca cerita yang di selipi dengan ilustrasi gambar melalui foto foto tsb. Kapan phe bsa mendarat ke eropa kayaknya seru tuuh? :D

hilsya mengatakan...

view-nya bagus bangeeet...

aku dukung deh klo mau bikin buku seperti yg pernah aku bilang dulu.. tulisannya lebih bagus dari buku traveling yg pernah aku beli..

masih ada berapa part lagi?

Siti Nurul Falah mengatakan...

sunsetnya bagusssss sekali ^^

kakaakin mengatakan...

#ngiler
Keren banget ya, Si Reno. Aku jadi ingat drama yang pernah kutonton, dimana pemilik penginapan bisa berteman baik dengan penyewanya :)
Rasanya jadi pengen bikin penginapan deh, hehe...
Wah, bule2 itu suka tempat yang sepi dan alami ya...
Kebanyakan orang Indonesia cenderung suka pergi berlibur ke tempat keramaian. Mungkin karena kita cenderung sudah tinggal di pedesaan, jadinya pengen nyari yang rame-rame. Ini mungkin doang loh ya :D

ita mengatakan...

kerennyaa..
kapan ya bisa jalan-jalan kaya gitu. nikmat ya..
sesuatu yang tidk berlebihan malah lebih terasa..

fotonya baguuussss

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

lost in Melaka ya :)
mupeng burgernya nih

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

lost in Melaka ya :)
mupeng burgernya nih

Arman mengatakan...

hostelnya lucu juga ya. bangunan tua tapi keliatannya terawat dan bersih.

mon2 gowasa mengatakan...

Woww.... so EXCITED ...
Really really envy you, bro gaphe..

Seru banget ya liburan ala backpackernya...pengen jalan2 sendiri, tpi modal kurang...
duit sama modal bahasa inggris yg pas-pas an, ga brani ambil resiko kayak Tina si pemberani...haha..
asli..liburan sampe 5 bulan..weww....

sampai perang dunia ke 3 pun ga kan mungkin di Indo ada yg kyak gitu ><"

Tapi salut sama mas gaphe...

Have fun mas ^^,

attayaya-bono mengatakan...

lho kok GPSnya ga bisa dipake ya?
beda provider kah?

Nia mengatakan...

wahh meskipun pergi sendirian akhirnya ketemu banyak teman yach disana........penasaran knepa foto renonya ngga dipasang heheh...kali aja nnti ada teman blogger yg mau ke melaka kan bisa nyari reno disana....

Sadako Kenzhi mengatakan...

suatu hari nanti aku juga akan menulis cerita mengesankan seperti ini Phe, ya aku ingin mengunjungi beberapa daerah bahkan negara !

Muhammad A Vip mengatakan...

baca beginian bikin kepala celingukan, kapan aku bisa meninggalkan tempat mesum begini dan menikmati alam lepas di sana. di sana kalo ujan banjir nggak Phe?

Audrey Subrata mengatakan...

wah si abang jalan2...

oleh2 dong. :P
*kabur*

dunia kecil indi mengatakan...

gaphe, foto2nya bagus, deh :) kalau aku nyasar pasti nangis, hehehe. keren deh gaphe kaya kucing ingetannya panjang :p oya, kamu sama bule2 itu tinggian siapa? senpantar ya? kan kamu tinggi *pertanyaan gak penting* *banget*

beoding mengatakan...

haduh...selalu pengen jalan-jalan kayak om ini, tapi ga bisa :)

nasi lemaknya itu keren kayaknya ya :)

r10 mengatakan...

wow orang bule bisa ngambil libur 5 minggu tanpa potong

*di TAR tim biasanya cari arah via internet di hotel/warung :)

ghost writer mengatakan...

kita masih ngga punya rejki untuk bertemu,Phe.udah 2 kali rasanya kamu melawat malaysia.harap masa akan datang,kita bisa ketemu,Phe.

Isti mengatakan...

Malaka memang kurang populer ya dibandingkan tempat wisata lain di malaysia...hm..bole juga nih sebagai referensi..;)

Fiction's World mengatakan...

sukaaa sama post yang ini, mengalir ringan dan yang terpenting bikin Iri yang baca :D
aaah keren banget sih bang Gaphe :D

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

di Indonesia paling terkenalnya Bali ya :D
jalan2 sendirian dan kenalan dengan orang baru wah pasti asyik bgt jadi iri deh hehehe :P

Ninda Rahadi mengatakan...

hahaha menu standar mcd...
tapi aku lebih suka kfc kalau makanan2nya kecuali burger loh ya..
kentangnya juga enakan kfc.. masih rasa kentang
di mcd mah rasa kertasss
lah malah ngomongin fastfood

Zulfadhli's Family mengatakan...

Serius Phe poto sunsetnya baguuuuusss bangeeeetttthhh :-)

Gudjob Cyiiinnn. Lajuuuddkaaann!!

ketty husnia mengatakan...

wah ini benar2 piknik mandiri ya as? bukan acara kantor gitu ya??

niee mengatakan...

Keren phe.. aku juga suka dengan liburan yang lebih personal gini.. Tanpa 'berfikir'

btw kalimat lo : 'For some stories' itu mengingatkan aku dengan life travellernya si windy yang barusan aku baca :D

.:diah:. mengatakan...

Gaphe, untung yaa kamu jago baca peta jadi wlopun nyasar tetep bisa nemuin tempat tujuan kamu.

itu tempat2nya kereeenn bangettt, ahhh sekali lagi, how lucky you are Gaphe.

btw, kapan nih projectnya dijadikan buku?? apa projectnya itu adalah membukukan (bukan hanya free ebook) cerita traveling kamu jadi sebuah buku ya Phe??

Iqoh mengatakan...

Jadi tambah ngiri...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...