Kamis, 15 Desember 2011

Pagi di Esplanade, Cinta, dan Sunrise


Chapter 13

Hari kedua saya di Penang. Saya bangun pukul lima pagi waktu setempat untuk beranjak mengambil air wudhu. Sepi, semua terlelap seusai pesta semalam yang digelar di lantai satu hostel ini. Maklum, hampir semua penghuni hostel adalah orang putih berambut pirang yang doyan dugem. Tapi semalam saya terlalu capek untuk ikut berbaur dengan mereka. Saya memilih menghabiskan waktu dengan menuju internet corner untuk blogwalking sambil menunggu kantuk datang.



Pesta yang berlangsung semalam entah usai jam berapa. Yang pasti, ketika jam setengah satu malam saat saya akan beranjak menutup mata, suara hingar bingar di lantai satu masih terdengar. Wajar memang karena malam weekend ditambah lagi dengan properti hostel yang mendukung meriahnya pesta, lampu disko di ruang tamu, meja biliar di ruang tengah, bar dengan aneka macam botol alkohol di dinding, dan meja-meja tinggi serta kursi putar, ditambah dengan LCD projector yang menayangkan siaran sepak bola.

Dengan sedikit berjingkat agar tidak menimbulkan suara karena lantainya berupa parquette, saya membasuh muka, berwudhu, dan kembali ke bilik saya untuk shalat. Selepas shalat subuh, saya berganti baju untuk berjalan-jalan menikmati suasana pagi. Saat saya menuruni tangga, sepertinya hanya saya satu-satunya makhluk yang terjaga. Pemilik hostel pun terlelap dengan damainya di sofa, aroma bir dan alkohol masih terasa samar di ruangan ini. Untung saja ketika saya membuka pintu depan hostel, suaranya tidak membangunkan pemiliknya.

Berjalan menyusuri love lane pagi buta di Georgetown ternyata menimbulkan keasyikan sendiri. Saya baru mengetahui beberapa istilah disini, seperti kata lane, lebuh, dan street, yang ternyata digunakan untuk membedakan ukurannya antara lorong atau gang, jalan kecil, dan jalan besar. “Lane” biasanya digunakan untuk menyebut lorong, sedangkan kata “Lebuh” digunakan untuk menunjuk jalan yang lebih besar, dan kata “Jalan” atau “Street” sendiri merujuk pada jalan utama. Sepeti misalnya, hostel saya terletak di Love Lane, yang ditempuh dari Lebuh Chulia, dan paralel dengan Penang Street. Bingung??. Saya juga!.

Sepanjang Love lane senyap, hanya suara musik radio yang  terdengar lupa dimatikan oleh pemiliknya yang mengudara disela-sela celah jendela. Di salah satu sudut di depan penginapan yang tertutup pintunya, saya melihat ada backpacker wanita tidur dengan backpack-nya sebagai bantal. Dia tidur diluar pintu, dengan berselimut sweaternya. Saya menduga, wanita ini tidak memperoleh tempat menginap. Alhasil, dia terpaksa berteduh di luar penginapan.

Hampir mengarah ke ujung Love lane, di Lebuh Farqouhar, saya menemukan satu bangunan mewah yang saya suka sekali dengan arsitekturnya. Saya sedikit tersenyum melihat nama lebuh tempat bangunan ini berdiri : Farqouhar.. Terasa sholeh sekali namanya. Dan akhirnya saya keluarkan kamera saya, mencoba menangkap detail arsitekturnya di waktu subuh. Sayang, saya tidak mencari tahu dengan pasti apa nama bangunan ini.



Beranjak dari lebuh yang namanya sholeh sekali tadi, saya mengambil salah satu jalan bernama Green Hall. Ternyata buntu!. Dan diujung kebuntuan itu, saya justru menemukan apa yang saya benci sejak saya melakukan perjalanan ini : makhluk hitam yang tidak perlu saya sebut jenis etnisnya. Di tengah kegelapan itu sekitar tiga atau empat orang dengan noraknya membuka bagasi mobil sedan putihnya dan menyetel musik India keras-keras. Kampungan!!. Masih mending pesta kawinan di pelosok desa dengan musik dangdut.

Lebih norak lagi melihat dandanan mereka yang mirip dengan penyanyi hip-hop berkulit hitam, dengan cincin dan kalung gede-gede berwarna emas, tapi mending kalo muka-mukanya afro-amerika. Lah ini, hitam bukan karena afro, tapi.. ah, sudahlah. Mual saya menuliskannya.

Mungkin ini yang namanya kualat, sekalinya saya kena jalan buntu malah ketemu yang beginian. Subuh-subuh pula. Duh Gusti, kuatkan perjalanan selanjutnya. Maka daripada saya makin mual, saya berbalik arah menuju Lebuh Farqouhar tadi.

Subuh menjelang matahari terbit akhirnya saya habiskan dengan menyisiri Padang Kota Lama. Saya menemukan war memorial monument yang sempat saya singgung pada chapter 11, dan memutuskan untuk menikmati angin laut pagi di esplanade.

War Memorial Monument
 
Saya menemukan cinta disini. Bukan, bukan saya jatuh cinta dengan seseorang!. Tapi saya menemukan representasi cinta dari aktivitas banyak orang disini. Minggu pagi di Esplanade, banyak orang-orang tua etnis Cina yang kebanyakan bapak-bapak ikut duduk di ujung lapangan. Mereka berbincang-bincang. Beberapa diantaranya melakukan gerakan-gerakan tai-chi. Pandangan saya tertuju pada sepasang suami istri Cina. Sang istri duduk di kursi roda menghadap ke selat Melaka di ujung timur. Suaminya dengan setia menemani istrinya. Sambil berbincang dengan bahasa yang saya tidak mengerti, beberapa kali suaminya yang tampak lebih sehat melakukan gerakan-gerakan perenggangan. Saya melihat cinta disini.

The Esplanade, tempat bapak-bapak cina bercengkrama

Tak berapa lama, saya melihat seorang kakek dengan tiga orang anak laki-laki usia lima atau enam tahunan yang saya duga adalah cucunya. Ketika mereka berjalan melewati saya ke arah utara, mereka berempat berjalan bersama. Tiga anak laki-laki itu tampak senang sekali, mereka bercerita satu sama lain. Tapi begitu mereka berjalan lagi kearah selatan, mereka sambil berlarian dan meninggalkan si kakek. Saya melihat sang kakek tampak kepayahan mengejar cucunya itu, tidak bisa berlari karena memang usianya sudah tidak memungkinkan lagi. Salah satu dari anak laki laki itu berhenti, lalu duduk di esplanade dekat saya sambil menunggu si kakek menyusul. Saya melihat cinta disini.

Pemandangan itu akhirnya hilang, karena mereka beranjak untuk berjalan lagi. Digantikan dengan seorang ibu-ibu muda berkaos pink ketat yang mengajak anjingnya berlari pagi. Anjingnya diikat dengan tali panjang yang dikaitkan ke tangannya, dan ikut berlari mengikuti majikannya dari belakang. Ya, Saya juga melihat cinta disini.
Sunrise di Selat Melaka, Georgetown.
 


Pagi di esplanade, cinta, dan sunrise!.
Terimakasih Tuhan.



32 komentar:

[L]ain mengatakan...

Selat melaka itu selat malaka?

Wogh dimana-mana kaum alay emang selalu ada ya~

yuniari Nukti mengatakan...

Cantik nya pemandangan itu..
Trus foto yang bawah itu siapa yang motret, keren posenya :)

yuniari Nukti mengatakan...

Tulisanmu bagus Gaphe.. klo dikumpulin jadi buku pasti bisa menyaingi siapa tuh blogger yang suka nulis travelling, lupa namanya :P
Laris lho buku-buku dia..

.:diah:. mengatakan...

kirain tadi kamu jatuh cinta Phe, terus jadi ada teman jalan gitu, xixix

anyway itu sunrise nya kereeenn banget, Subhanallah.

warna laut ama langitnya matching dengan awan yg menghiasi pula, Subhanallah... like it :)

nicamperenique mengatakan...

suka banget sama postingan yang ini, wlo ada bagian yang hmm ... sudahlah, saya mencoba memahami dirimu yang sedang termual2 Phe :)

"ada cinta di sini", sungguh pagi yang indah kala itu ya Phe. Jadi mbayangin, kalau saya dan suami ke sana satu hari nanti, akankah kami merasakan sensasi yang sama? Hmm

tiffa mengatakan...

Keren pemandangan langitnya.

Lagi-lagi episode sensi etnis India hitam :P

Mama Kinan mengatakan...

met malam phe...maafken baru mulai bw hari ini...lagi rempong rempongnya...waduh ada malaysian give away yah..meluncur ah..
btw dipulau penang ada kawasan industry-nya kan?? ada salah satu Manufacturing alias salah satu pabrik dari tempat aku kerja disana besar banget...tapi aku yo belom pernah kesana..semoga one day bisa kesana..*amien..penasaran soalnya..yo wis aku lanjut baca yang sebelum sebelumnya menarik nieh tulisanmu...:)

Ami mengatakan...

sendirian aja sudah merasakan cinta, apalagi pada pasangan ya Phe

Ninda Rahadi mengatakan...

perpaduan sama lampunya sukaa >.<
bang gaphe cara ngurus passpor gimana sih?

Arman mengatakan...

foto sunrise nya bagus.... :)

dunia kecil indi mengatakan...

ya ampun gaphe.. ke mana2 ketemu ras itu terus ya? hihihihi :)

ghost writer mengatakan...

persis the naked traveler,Phe

Iskandar Dzulkarnain mengatakan...

saya menemukan cinta di sini
membaca banyak cerita tentang kehidupan malaysia
menemukan kosakata baru dan tersenyum karenanya

Djangan Pakies mengatakan...

cinta yang bermakna dari sepasang kekasih yang mampu tergenggam hingga usia lanjut. Kursi roda penuh dengan cinta, semoga kita bisa seperti itu kelak

anazkia mengatakan...

Aku baca2 ceritamu jadi kepikiran nulis,
Judule "Kenapa Blogger Indonesia Cape-cepe ke Malaysia?" hihihi...

Ini serius, lho, Pe? Diizinkan, enggak? Sebetulnya idenya dari dua orang, Gaphe sama Putri Rizki yang waktu itu ke KL juga

Enny Law mengatakan...

wahh baca'a aja bikin aku tersentuh, hihii

Rika Willy mengatakan...

sunrise nya keren Phe...

Mila Said mengatakan...

Jiaaah.. mentang-mentang baru abis solat subuh nama labuh aja bisa soleh hihihii... Kalo gw ga tau knp seneng bgt nyebutin Lebuh Chulia, kayak ada nada nya gitu.. Lebuh Chulia hihihiii *ga jelas*

Lu segitu sebel nya ama etnis itu, ntar lu dpt jodoh malah yg kyk gitu loooh.. lengkap sama dandanan blink-blink dan doyan goyang2 musik indiahe huahahaa.....

Syam Matahari mengatakan...

sunrisenya gak mendung ya phe????

ria haya mengatakan...

woi pagi-pagi dah ngelamun (#ngomentari poto paling bwh) hehehe, subhanallah ya...bisa menikmati sunrise

hmmm...tulisanmu memang selalu bisa detil bercerita, saya serasa lagi di sana langsung euy
:)

Ninda Rahadi mengatakan...

iya nih bang gaphe... tapi serasa gak worth aja gitu. bukan masalah kesananya tapi biayanya. aku ke surabaya aja nyari alamat interview nyasar2 loh =+=
kalau udah tinggal interview direksi sih gak masalah tapi kalau masih ada banyak proses
kasihan yang biayain aku

wah iya tak aku periksa ke situsnya :D

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

memang biasnaya bangun jam brapa?:)
Gaphe maaf ya kayanya aku gak ikutan kontesnya tapi setia kok berkunjung kesini

Happy Fibi Ananda mengatakan...

Wah, fotonya bagus :), Mas..
Kotanya kayak bersihhh banged, ya..
Enakkk >.<

Yudi Darmawan mengatakan...

weeew.. mas yoga, kali ini kayaknya emang Asean Trip yah..!
dan kenapa foto terkahir itu seperti brcerita tentang orang yang merenungi kejombloannya? haxhaxhax..!

DewiFatma mengatakan...

wow.... cerita yang indah, Pe... Thank you..

Lyliana Thia mengatakan...

subhanallah... foto2 sunrise di selat melakanya keren banget!

banyak aktivitas pagi2 ya... banyak yg bisa diliat dan dirasakan.. ^_^

CORETAN HIDUP mengatakan...

Syukurlah di Esplanade kamu menemukan cinta dari orang-orang sedang beraktifitas pagi disana sehingga rasa mualmu terhadap 1 etnik yg telah memperlakukanmu dgn buruk perlahan bisa disingkirkan. Btw, siapa tuh yang memfoto dirimu yg lagi duduk santai memamandang laut menunggu matahari terbit? :)

Nchie mengatakan...

Deuh yang jalan2,bikin ngiri deh..
Keren banget Phe sunrise nya..

Rawins mengatakan...

poto terakhir keren...
ati ati kecebur kebanyakan ngalamun...

kakaakin mengatakan...

Subhanallah.. foto sunsetnya keren. Kok bisa ya jalan-jalan di suatu kota, trus nemu aja tempat2 yang bagus. Lah, kalau jalan2 di kotaku, bisa nemu apaan ya?

Fiction's World mengatakan...

aku juga menemukan cinta disini :D post ini gimana ya, ringan tapi lebih mendalam gitu bang :D post yang lain bagus, tapi yang ini "beda"

hhihhi bangunan aja namanya sholeh gitu ya, Farqouhar emang artinya apaan ?

foto yang terakhir itu kereeeeeen bangeeeeeet :D

niee mengatakan...

Waahhh fotonya keren..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...