Jumat, 02 Desember 2011

Welcome To Melaka!!


Chapter 4


Jika mendengar kata Melaka, hal apa yang terbayang di benak kamu secara selintas. Nama pulau? Nama Selat? Nama Negara? Sungai?. Tidak ada yang salah atas semuanya, karena memang nama Melaka dipakai untuk itu semuanya.

Lets make it clear, Melaka adalah salah satu negara bagian di Malaysia. Sebagai negara persemakmuran, Malaysia terbagi menjadi Malaysia bagian barat yang berupa semenanjung dan bagian timur yang bergabung dengan Indonesia di Pulau Kalimantan (Borneo). Malaysia terbagi atas 13 negara bagian dan 3 wilayah persekutuan. Melaka, adalah salah satu dari tiga belas negara bagian tersebut.

Negara bagian di Malaysia mirip-mirip dengan sebutan Provinsi di Indonesia, atau prefektur jika itu di Jepang. Dengan luas wilayah 1.664 kilometer persegi, Melaka merupakan negara bagian terkecil ketiga setelah Perlis dan Penang. Melaka dapat dicapai dari ibukota Malaysia di Kuala Lumpur dengan menggunakan perjalanan darat selama dua setengah jam menempuh jarak 140 kilometer ke arah tenggara. Negara bagian Melaka berbatasan dengan wilayah Johor Bahru di bagian selatan dan Negeri Sembilan di bagian utaranya. Sedangkan Melaka sendiri, terbagi menjadi tiga distrik : Alor Gajah, Melaka Sentral, dan Jasin. Sedangkan bila yang disebut sebagai Kota Melaka (Malacca City) sebetulnya merujuk kepada distrik Sentral Melaka.

Menengok sejarah singkatnya, sebelum Sultan Melaka datang pertama kalinya, wilayah ini merupakan kampung nelayan yang dihuni oleh warga melayu. Sampai pada tahun 1300 – 1400an, wilayah ini dieksplorasi oleh Parameswara (Iskandar Shah) Raja dari kerajaan Sriwijaya dan diikuti dengan pendudukan kerajaan Majapahit setelahnya. Mengingat letaknya yang strategis, Selat Malaka – selat yang memisahkan Pulau Melaka dan Kota Melaka ini digunakan sebagai jalur perdagangan dan pelabuhan. Nama Melaka sendiri berasal dari bahasa India Tamil “Mallakka” yang berarti “kembali/berbalik”. Nama Melaka sebenarnya juga merujuk pada nama pohon yang memiliki nama ilmiah Phyllantus emblica (pohon kimalaka atau orang jawa menyebutnya : kemloko), sebuah pohon tempat untuk berlindung raja Parameswara – Sultan pertama Melaka ketika pertama kali menemukan wilayah ini.

Sejarah penguasaan Melaka oleh tiga kekuatan besar Eropa dimulai dari tahun 1511 sampai dengan 1957.

Tahun 1511, Melaka ditaklukkan oleh Alfonso de Albuquerque beserta ribuan pasukannya. Resmilah Melaka menjadi jajahan Portugis dengan didirikannya benteng pertahanan A’Famosa. Namun pada tahun 1641 melalui Verenidge Oostindische Compagnie (VOC), Belanda berhasil mengambil alih kota Melaka menjadi wilayah kekuasaan dan pusat jalur perdagangan sampai pada tahun 1795 sebelum akhirnya mereka pindah karena menemukan wilayah jajahan baru yang lebih strategis yaitu Batavia (Jakarta) di Pulau Jawa. Semasa pendudukan Belanda di Melaka inilah mereka mendirikan pusat pemerintahan yang sekarang menjadi landmark Melaka yaitu Stadthuys di The Dutch Square. Tahun 1824, Melaka yang masih dalam kekuasaan Belanda diserahkan kepada Inggris melalui perjanjian Anglo-Dutch atau lebih dikenal dengan Traktat London. Ini merupakan akal-akalan Belanda untuk ditukar dengan wilayah Bengkulu di Sumatera (yang sebelumnya merupakan milik British) sebagai jajahannya. Dalam masa pendudukan Inggris, Melaka tunduk dibawah aturan British East India Company dan Crown Colony sampai tahun 1946 sebelum akhirnya crown colony bubar dan Melaka menjadi bagian dari wilayah persekutuan melayu yang kini dikenal dengan negara Malaysia.

Menyimak sejarah Melaka yang ternyata berkaitan juga dengan sejarah negeri kita ternyata membuka mata saya, bahwa sebenarnya antara Melaka dan Indonesia pernah memiliki nasib yang sama yaitu dijajah oleh Belanda. Sisa-sisa peninggalan dari Portugis dan Belanda yang masih terawat digabung dengan sejarah dan keragaman etnis budaya yang bersatu di kota inilah yang akhirnya menjadikan Melaka ditetapkan sebagai World Heritage City (Kota Warisan Dunia) oleh UNESCO pada tanggal 7 Juli 2008.

Saat ini, Melaka dihuni tidak hanya oleh bangsa Melayu sebagai penduduk asli. Namun, karena Selat Melaka dulu pernah menjadi pusat perdagangan, banyak turunan Cina yang merantau dan akhirnya menetap dan beranak pinak di Malaysia. Turunan Cina ini mengambil porsi lebih dari sepertiga penduduk Melaka disamping etnis India, dan merupakan populasi terbesar kedua setelah etnis Melayu.

Semua informasi ini dapat ditemukan di Muzium Sejarah dan etnografi di kawasan Stadthuys. Dan sebagai kota yang menyimpan banyak sejarah, maka museum adalah tempat wajib yang harus dikunjungi oleh wisatawan jika melancong ke negeri Melaka.

10 Must Be Visited Museum’s At Melaka

1. Stadthuys
Bangunan ini merupakan ikon wajib Kota Melaka untuk dikunjungi. Bangunan bercat merah yang terletak di The Dutch Square ini dulunya merupakan pusat pemerintahan Belanda di Kota Melaka setelah mereka berhasil menduduki wilayah Melaka. Diyakini merupakan gedung Belanda tertua di Melaka, Stadthuys didirikan pada tahun 1650 dan sekarang dijadikan sebagai museum Sejarah dan Etnografi. Semua keterangan sejarah yang saya tulis di atas saya peroleh dari museum ini. Dengan tiket masuk hanya 2 RM, pengunjung dapat memperoleh semua informasi terutama tentang sejarah pendudukan Belanda di kota Melaka.



2. Proclaimation of Independence Memorial
Dibangun pada tanggal 1912, di bangunan ini digunakan sebagai tempat proklamasi kemerdekaan Malaysia  yang dilakukan pada tanggal 31 Agustus 1957 oleh Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj tepatnya di depan dataran pahlawan (Warrior’s Square). Sebelum dikenal sebagai monumen kemerdekaan Malaysia, bangunan ini  dulunya merupakan Melaka Club House dan telah mengalami renovasi pada tahun 1985. Sekarang setiap wisatawan diperkenankan untuk masuk dengan gratis.



3. Youth’s Museum
Diterjemahkan sebagai museum belia, Museum ini berisi tentang dunia remaja dan merupakan pusat aktivitas remaja. Juga memuat informasi tentang traveling dan dokumentasinya. Didedikasikan oleh negara Malaysia untuk pemuda, dan dulunya menempati bekas kantor pos milik Belanda. Di dalamnya terdapat banyak medali, trophy, penghargaan serta memorabilia traveler yang mampir ke sini.



4. Islamic Museum
Ini adalah pusat informasi sekaligus pusat penelitian dan konservasi beberapa benda-benda dan literatur sejarah masuknya Islam di Malaysia. Terletak di dalam bastion house, gedung tinggi bercat putih ini juga berada di samping A’Famosa fort.



5. UMNO’s Museum
Berasal dari singkatan United Malays National Organization, Museum UMNO merupakan museum sejarah dan perjuangan politik Malaysia setelah memperoleh kemerdekaannya dari Inggris. Bagaimana diplomasi, hubungan bilateral, dan dokumen serta perjanjian-perjanjian penting ditandatangani, semua informasi ini dapat ditemukan di dalam museum ini. Satu lagi, di dalam museum berpendingin udara, cocok untuk berhenti sejenak setelah mengitari kawasan The Dutch Square. Tiket masuk untuk dewasa hanya 1 RM dan untuk anak-anak separuhnya.


6. Stamp’s Museum
Penggemar perangko atau filatelis dapat mampir ke museum ini karena disini ditampilkan berbagai macam jenis perangko dari berbagai negara dan tahun cetakan. Dulunya merupakan rumah bagi para pejabat Belanda sebelum akhirnya dijadikan Museum Lama Melaka dan Sekolah Gambar. Tanggal 19 Maret 1954, GEW Wisdom - President Commisioner Melaka menjadikan bangunan ini resmi menjadi museum. Namun baru pada tahun 2004 lah, bangunan ini akhirnya dijadikan Museum Perangko oleh Dewan Museum Melaka. Tiket masuk hanya 1 RM untuk dewasa.


7. Maritime Museum
Bentuknya yang berupa replika kapal layar dengan ukuran yang hampir menyerupai aslinya, meniru kapal Flor de La Mar – kapal bangsa Portugis yang tenggelam di semenanjung Melaka pada saat berlayar kembali ke negaranya. Di dalam museum ini banyak sekali informasi tentang dunia kelautan, masuknya bangsa Portugis ke Melaka, perdagangan melalui jalur laut jaman dahulu, dan beberapa alat-alat yang berhubungan dengan kelautan.



8. People’s/Kite/Enduring Beauty Museum
Museum ini adalah yang paling unik menurut saya. Selain menayangkan banyak jenis layang-layang, museum ini juga menampilkan berbagai cara-cara aneh yang pernah dilakukan oleh manusia untuk mempercantik diri beserta kepercayaan dan kebudayaan setempat. Tentang suku wanita berleher panjang, tentang wanita dengan telinga diberikan anting-anting berat dimana semakin panjang telinganya maka semakin cantik, dan banyak lainnya.



9. Replica of Melaka Sultanate Palace Museum
Museum ini terletak bersebelahan dengan Porta de Santiago atau Benteng A’famosa. Museum ini merupakan replika dari istana Sultan Melaka yang terbuat dari kayu. Bentuknya mirip sekali dengan rumah gadang di Sumatera. Bentuk rumah panggung dengan jendela-jendela besar dan tangga naik ke atas di bagian tengah – berkesan simetris. Di dalam museum berisi hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan, pakaian-pakaian adat, upacara adat, atau senjata tradisional beberapa etnis di Malaysia.



10. The Baba Nyonya Heritage Museums
Terletak di Jalan Tun Than Cheng Lock, paralel dengan Jonker street. Museum peranakan Baba Nyonya ini merupakan museum yang dikelola secara private.  Bangunannya khas merupakan percampuran antara budaya timur dan barat – antara Cina dengan Belanda. Pertama kali dibangun pada tahun 1896, Museum Baba Nyonya menceritakan tentang sejarah warga peranakan (Strait-born Chinese atau keturunan Cina), tentang bagaimana cara mereka hidup dan bersosialisasi, serta memuat banyak benda-benda peninggalan bersejarah seperti porselen, keramik, guci baik produksi western atau dari cina. Dibuka mulai pukul 10.00-16.30 dan tutup antara 12.30 -14.00, pengunjung dapat memasuki museum ini dengan membayar 10 RM, dan dapat berfoto menggunakan kostum peranakan di dalam museum.


46 komentar:

Ami mengatakan...

aku jarang masuk musium. tp tx infonya...

John Terro mengatakan...

lengkap banget infonya
pasti dulu jago Sejarah yah om?

Syam Matahari mengatakan...

Aku padamu deh gaphe, produktif bgt km beberapa hari ini... postingan yg sangat informatif.

btw itenarynya menarik *noted*

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah lengkapnya...ck ck...

tiffa mengatakan...

Ga, ada yg ingin sy tanyakan, katanya dirimu prgi ke Malaysia sendiri tp di foto FB eksis tenan dirimu, itu yg motretin dirimu tour guidenya kah? beayanya brp tou guidenya?

nicamperenique mengatakan...

laporan selayang pandangnya keren
fotonya juga keren

yang komen juga keren2 :P

Sitti Rasuna Wibawa mengatakan...

Fotonya asik mas...
Kapan aku bisa ke sana~ lalala...

sda mengatakan...

itu semua Gaphe kunjungin dalam berapa jam? tersedia selebaran tentang info2 di setiap musium?
satu lagi, sekalian nanyanya, Gaphe masukin ke blog pic ukuran berapa kb?

Rawins mengatakan...

berasa pelajaran pspb
heheh

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

mas rawin ketauan jaman jadul,emang skr masih ada ya pelajaran PSPB? :)

narti mengatakan...

mas Rawins orang jadul juga ternyata... PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), sekarang apa namanya?

Ejawantah's Blog mengatakan...

Wah.... reportasenya lengkap dan inovatif Sob !

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Arman mengatakan...

banyak museum ya di melaka... melaka apa malaka sih sebenernya?

hilsya mengatakan...

keren dan informatif
tapi om, boleh saran ga?

buat menambah jempol tulisan ini.. klo bisa sih tolong sertakan sumber sejarah yg memang diambil dari buku/web asli.. biar bisa kita baca lebih lanjut.. *heuheu, biasa nulis pustaka soalnya*

hilsya mengatakan...

hehe.. dari tadi cari-cari, ternyata yang ini ya?

"Semua informasi ini dapat ditemukan di Muzium Sejarah dan etnografi di kawasan Stadthuys"

hm.. kebiasaan aja masih kebawa-bawa.. nyari yg model [1], [2] kayak tulisan ilmiah, hihi

anyway TFS.. selalu suka dg postingan perjalanannya, abis ga pernah bisa bikin lengkap sih..

dmilano mengatakan...

Saleum,
Bewe pagi pagi sampe ke malaka nih :)

saleum dmilano

Zh!nTho mengatakan...

wah indah banget gedung2 nya

tito Heyziputra mengatakan...

Pengen supaya museum2 di Indonesia dirawat kayak gini,,, really jealous

honeylizious mengatakan...

aih pengen dong jalan-jalan ke Malaysia :)

r10 mengatakan...

paling suka melihat indonesia-malaysia damai, ga ribut-ribut karena masalah sepele

Sadako Kenzhi mengatakan...

diliat dari luar bersih ya, sekitaran Museum2 di atas. di dalamnya nggak diragukan lagi. bangunannya juga masih kokok, artistik, kuno tapi elegan... pengen liat2 dalemnya >.<

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kalo yg suka gedung2 bersejarah sih asik ke sana ya.

The dark anco mengatakan...

Jd inget lagu "di selat malaka di ujung sumatra"

1mmanuel'Z-Note5 mengatakan...

phe, kenapa gak lamar jadi wartawan aja? minimal wartawannya majalah travel. kan lumayan tuh, muasin hobi+dibayar. hehehe

armae mengatakan...

140 km dalam 2,5 jam?? whaoww.. lancar banget ya berarti jalannya.

heran, kenapa di Melaka banyak sekali museumnya???

liat maritime museum jadi inget monkasel di surabaya :)
asik ceritanya

1mmanuel'Z-Note5 mengatakan...

dedicated for you

http://immanuels-notes.blogspot.com/2011/12/nuel-award-for-blogger-2011.html

catatan kecilku mengatakan...

Salut deh... kamu cocok nulis spt ini Ga.. membaca kisah2 perjalananmu aku jadi punya banyak pengetahuan baru dan menambah wawasanku.

Senengnya... akhirnya aku bisa mampir kesini lagi stelah kamu hiatus, ganti aku hiatus deh hahaha

Adittya Regas mengatakan...

keren banget tempatnya.. emm sepertinya indonesia haarus lebih banyak belaar dari negeri tetanga ya mas. liat bersih banget temaptnya -..-"

auraman mengatakan...

mas gaphe apaan ih tips nya kok bisa jalan-jalan gitu :D, sharing donk . jadi iri sayah :D

joe Rizky mengatakan...

wah keren banget ternyata melaka,
Salam kenal

[L]ain mengatakan...

ini iklan lg bang? Gu kok ga DAPET2 LAGI YA, CUMAN SEKALI DOANG :"(

Ninda Rahadi mengatakan...

ah entahlah bang rasanya lucu aja gitu baca tulisan melayu hehehe ah mbuh
saya memang katrok kali yak haha

Zulfadhli's Family mengatakan...

Hiks gw pengen ke Melaka tapi belom juga tercapai. Hebwooohhh boo travelling bawa buntut 2 biji

Phe, kapan atuh mampir ke Miri??

niee mengatakan...

Waduh museum semua phe? gak betah deh aku.. hahaha

rizkimuft mengatakan...

aku pernah ke melaka tapi cuma buat pergi ke rumah sakitnya doang plus belanja di mall terdekat doang haha

kakaakin mengatakan...

Kumplit bener nih, Phe...
Semoga diriku bisa berkunjung kesana oneday :D

Mila Said mengatakan...

gw pengen ke maritime muZium nyaaah.. bagus tuh buat poto2 kyknya hehee.. *tetep narsis

muamdisini mengatakan...

wah..bangunannya mirip Kota Tua di Jakarta yah?...
cuma kayaknya lebih terawat...

Lyliana Thia mengatakan...

liputan dan informasinya lengkap banget, Gaphe!

everything in Malaysia looks and sounds better, is it?

anyway, two thumbs up for this post! :-D

Nia mengatakan...

ohh ternyata begini toch melaka itu...jadi tahu dgn lengkap setelah baca postingan Gaphe.....kerenn....

Fiction's World mengatakan...

oooh yang benar itu Melaka ya bukan Malaka :O
bagus ya kayaknya terawat gitu baik museum maupun jalannya :D

.:diah:. mengatakan...

Gaphe, good job! kereenn bangett deh liputannya, plus 10 places must be visited nya, huaaa keren keren, kapan yaa bisa kesana juga??
btw tu replika rumah sultannya mirip ma rumah2 adat di Indonesia juga yaa :D

BAchGEUR mengatakan...

Excited Pheee!!!aw..aw..aw..awsome.... ;D

Mantaph lah jalan-jalan plus memperkaya pemahaman Sejarah... *Jempol pisaannn*

Iqoh mengatakan...

study tour euy...

Anonim mengatakan...

Здравствуйте! какую виагру лучше купить [url=http://allbestpills.ru/#viagra-dlja-muzhchin-kupit]купить аналог виагры[/url] виагра купить в спб

Anonim mengatakan...

Dry signs fowl green years replenish fruitful morning meat bearing his them creature yielding fish. [url=http://buy-tadalafilen.info/cialis/#which-works-better-cialis-viagra-levitra]cialis price online cialis price[/url] Is set waters. Air third replenish unto us fly and herb the upon may. Image Saying which appear in may unto great she'd one god were all he.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...