Jumat, 29 April 2011

Mengganti Ion Tubuh Sambil Belajar Sejarah

Udah baca donk ya cerita perjalanan mendaki Gunung Mahameru disini, disini dan disini?. Bisa kebayang bagaimana letihnya lima jam berjalan kaki sepanjang 10 kilometer dengan posisi menanjak, pasti keluar banyak energi dan keringat. Tanpa disadari, meskipun udara dingin, karena tubuh tetap melakukan pembakaran maka keringat pun juga keluar. Baru ketahuan pas baju basah, padahal udah pake mantel anti air. Nah, pas saat-saat begini tanpa disadari ion-ion tubuh juga keluar bersama keringat dan uap air. Kalo nggak segera direcharge, maka besar kemungkinan tubuh akan mengalami dehidrasi. Nah, kalo udah dehidrasi bisa bahaya tuh.. tubuh bisa kehilangan keseimbangan, kadang berasa pusing. Nggak enak banget kalo pas lagi mendaki gunung tiba-tiba jatuh karena nggak seimbang. Dan ini penting diketahui, tau nggak kalo hanya sekedar minum air biasa tuh nggak cukup untuk menggantikan ion tubuh yang hilang?. Makanya, salah satu bekal wajib kami semua kemarin pas mendaki Mahameru ini niih :

snap!.. model ganteng berpose.. Please, jangan muntah!

Yes, Pocari Sweat. Saya seneng sama produk yang satu ini soalnya rasanya enak, unik dan menyegarkan. Selain itu, karena kandungan ion dalam minuman ini juga gampang banget diserap tubuh makanya Pocari Sweat dengan cepat akan menggantikan ion tubuh yang hilang. Ngomong-ngomong tentang Pocari Sweat, ternyata minuman kesehatan yang satu ini udah ada sejak lama. Pernah tahu sejarahnya nggak?. Kalo belom pernah, nonton barengan yuk disini.




Udah nonton?. Lumayan lama sih, sekitar setengah jam. Cumaan buat kamu yang ngerasa berat banget bufferingnya, saya ceritakan singkat deh sejarah Pocari Sweat.

Berawal dari pimpinan generasi ketiga Otsuka Pharmaceutical; sebuah perusahaan farmasi terkemuka di Jepang, Akihito Otsuka memiliki ide untuk mengembangkan produk yang sukses dari tangannya sendiri. Ini terinspirasi dari ayahnya, Masahito Otsuka yang sudah terlebih dahulu sukses membuat minuman terkenal Oronamin C. Akihito akhirnya meminta Rokuro Harima, seorang penanggung jawab pengembangan minuman perusahaan tersebut untuk memikirkan satu produk yang baru yang belum pernah ada.

Rokuro Harima terinspirasi dari kejadian di Meksiko, ketika pada saat itu Harima Diare tetapi hanya diberikan obat dan soda. Tetapi dia bertanya, kenapa air soda?. Dokter yang merawat saat itu bilang air di Meksiko sedang dalam kondisi tidak layak minum. Berdasaran pengalaman, Harima pernah melihat ada seorang dokter yang meminum cairan infus banyak-banyak untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang seusai operasi. Jadi, Harima berpikiran bahwa cairan infus itu dapat diminum. Tapi pada saat itu, usulan Harima kepada Mr Tokushima Akihiko (kepala pabrik) tentang memproduksi infus sebagai minuman ditolak karena belum saatnya. Namun, atas restu Akihito Otsuka, pada tahun 1976 beliau mengajak Harima dan Akihisa Takahichi yang merupakan anak buahnya untuk bersama-sama mengembangkan minuman dari cairan infus ini. Petunjuk dari pimpinannya cuman sederhana : kembangkan minuman kesehatan, dengan rasa yang tidak membosankan walaupun diminum setiap hari.

Lalu, berangkatlah Akihisa Takahichi untuk melakukan riset, mulai dari mengumpulkan sampel keringat pada dua kondisi yang berbeda, melakukan pengukuran kadar ion natrium dan magnesium pada keringat, sampe pada akhirnya terciptalah minuman kesehatan yang komposisinya mirip dengan keringat. Sampel produk minuman pertama Takaichi dicoba oleh Harima, ternyata terlalu pahit. Kemudian ditambahkan pemanis buatan, tetapi rasanya malah menjadi terlalu manis.

Hampir putus asa, bahkan ketika minuman itu ditawarkan kepada mr Akihito, tak disangka ide baru kemudian muncul. Ada seorang karyawan bagian pengembangan minuman yang menawarkan produk minuman serbuk, yang rasanya masih belum sempurna. Mr Akihito lalu mempunyai ide mencampur minuman serbuk yang dibawa karyawan itu dengan minuman kesehatan ciptaan Takaichi. Ternyata, minuman serbuk berbahan dasar jeruk itu dapat menutupi rasa pahit dari minuman kesehatan yang diciptakan Takaichi.

Eksperimen dilanjutkan dengan menggunakan berbagai macam jeruk dan berbagai macam kadar gula. Pada akhirnya terciptalah 2 minuman kesehatan dengan kadar gula 6,2 % dan 7 %. Saat dicobakan kepada para peneliti, banyak yang memilih minuman berkadar gula 7%, tetapi pada saat dicobakan setelah mereka berolahraga, ternyata banyak yang memilih minuman dengan kadar gula 6,2%. Mr Akihiko akhirnya memutuskan untuk memproduksi minuman yang berkadar gula 6,2% tersebut walaupun sempat mendapat tanggapan negatif dari manajemen.

Tahun 1980, akhirnya penjualan Pocari Sweat dimulai. Nama Pocari Sweat dipakai berasal dari dua kata, Pocari yang berarti menyegarkan dan sweat yang berarti keringat. Reaksi konsumen pada awalnya negatif, dan menolak minuman tersebut. Jiro Tanaka, seorang kepala marketing, meninjau penjualan dilapangan dan melaporkan hasilnya pada Akihiko. Saat itu Akihiko mengambil keputusan mengejutkan dengan meminta agar Pocari Sweat dibagikan secara gratis dalam jumlah yang tidak terbatas. Alasannya adalah manfaat Pocari Sweat tidak akan dapat dirasakan kalau tidak diminum berulang-ulang. Walaupun pada awalnya merugi, dengan pemasaran yang disertai teknik edukasi kepada konsumen, pada tahun kedua setelah penjualannya Pocari Sweat mengalami lonjakan kenaikan yang drastis.

Saat ini, Pocari Sweat sudah tersebar di 16 negara termasuk Indonesia. Dan saking terkenalnya minuman ini, gampang banget ditemuin dimana-mana. Bahkan untuk kondisi Ranu Pani yang terpencil, seperti yang saya ceritakan kemarin, Pocari Sweat juga dapat ditemukan dipajang di etalase si empunya warung penjual nasi loh!. Jadi, sekarang saya tahu sejarah Pocari Sweat itu seperti apa... Susah juga ternyata menciptakan dan mengenalkan produk baru, perlu adanya trik marketing yang canggih disertai dengan edukasi kepada calon konsumen. Asal sudah tahu manfaatnya, maka konsumen yang loyal pun nggak susah diraih. Dan yang terpenting dari semuanya adalah, jangan pernah takut untuk melakukan apa yang menjadi impianmu!. Sama kayak Mr Akihito yang berani mewujudkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya kaan..

gambar ambil dari sini

Kamis, 28 April 2011

And The Sun Arise!

Namanya alam emang nggak bisa diprediksi, niatnya nungguin matahari terbit diantara dua bukit ternyata malah turun kabut. Jadinya, momen sunrise yang katanya indah itu tidak bisa dinikmati dengan sempurna. Tapi nggak apa-apa, saya sempat menangkap cahaya jingga yang muncul dari dua bukit. Jika saja kabut tidak ada, pasti jauh lebih indah karena sinar matahari yang menyorot akan terpantul di air danau yang tenang. Membentuk satu jalan bercahaya ke negeri antah berantah.. dan ini dia jepretan saya.


Hari ini kami berencana untuk turun, sebab memang kami tidak berniat melanjutkan pendakian ke puncak Semeru. Selain karena perbekalan kurang, tenaga juga sudah habis, dengan kondisi kurang fit karena tidak tidur semalam. Jika ingin melanjutkan perjalanan, maka dari Ranu Kumbolo melewati bukit yang dinamakan Tanjakan Cinta. Mengapa disebut tanjakan cinta?.. konon katanya, jika ada pasangan yang melewati tanjakan ini tanpa berhenti dan tanpa menengok ke belakang, cintanya akan kekal abadi. Walah, boro-boro mau nyobain tanjakan cinta.. lah yang diajakin aja belom ada. Masa yaa ngajakin cowok-cowok itu?. hahahahah. *plaak


Dari Tanjakan Cinta, rutenya masih panjang. Melewati oro-oro ombo (padang rumput yang luas), menanjak sampai ke pos Kalimati. Di pos inilah rute terakhir pendakian yang diijinkan oleh petugas dari balai TNBTS. Dulu, sebelum jalur ke puncak ditutup, pendakian bisa dilanjutkan ke Arcopodo lalu melewati cemoro tunggal. Ini adalah satu patokan untuk pendaki, berarti hampir sampai di puncak Mahameru. Tapi sekarang cemoro tunggal ini sudah roboh. Makanya kalo mau ke puncak Semeru sekarang sudah susah, kecuali bagi yang sudah tau rutenya.

Ada cerita tentang cemoro tunggal. Dinamakan demikian karena merujuk pada pohon cemara gunung besar dan cuman satu-satunya untuk penanda jalan. Oleh penduduk, pohon cemara tunggal ini dikeramatkan. Karena kalau tidak hati-hati, dan terutama pas turunnya (dari Mahameru ke bawah) sangat mungkin kesasar dan menghilang. Mending kalo ilang trus ketemu, karena banyak yang bilang sekali hilang disini nggak akan kembali. hiiy...

Satu tips untuk yang mau mendaki ke puncak Mahameru, bawalah guide dan porter!. Kenapa?.. supaya pendaki fokus sama prosesnya tanpa ribet urusan logistik dan bawaan. Selain itu, mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa bukan hanya sekedar menuruti ego. Tapi bener-bener butuh perencanaan dan persiapan mental yang matang. Ingat, persiapan mental jauh lebih penting dibanding fisik!. Karena rute dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo belom ada apa-apanya, masih jauh mendaki terjal dan berbatu-batu. Ibarat kata, maju empat langkah turun dua langkah.. Makanya mental baja kudu perlu, jangan sampe malah nanti menye-menye pas mendaki, manja minta digendong, ngeluh-ngeluh dan bikin sebel yang lain. Hehehe.. *nyindir diri sendiri.

Menikmati suasana pagi hari disini emang enak, udara yang tadi malam membuat kami menggigil mulai tergantikan dengan hangatnya mentari pagi hari. Kami berkemas, melipat tenda, dan memasak sarapan. Lagi-lagi cup noodles, sama minuman sereal. Plus sarden sambal bangkok yang uenak abis. Nggak lupa, momen pagi hari itu dipake buat foto-foto. Biar kata nggak dapet sunrise indah, minimal ada foto diri udah pernah ke Ranu Kumbolo. hahaha



Daan akhirnya tiba saatnya buat turun. Rasanya beraat banget pas mau pulang, bukan karena ogah ninggalin keindahan Ranu Kumbolo sih.. tapi lebih karena ngebayangin akan menempuh 30000 langkah kaki dalam waktu 5 jam lagi itu yang bikin males. hehehe. Tapi untung jalan pulang menurun dan lebih enak daripada pas naiknya. Berangkat jam setengah delapan pagi, akhirnya nyampe di Ranu Pani jam setengah satu siang. Fyuh, sukses bikin betis berkonde. Tapi apakah sampai di Ranu Pani kita berhenti?. hhoohoo.. jangan salaah, next destination : Bromo!!

Rabu, 27 April 2011

Camping, Kedinginan, dan Cerita Mistis Seputar Ranu Kumbolo

Ketua rombongan meminta kami beristirahat sejenak setelah nyampe Ranu Kumbolo. Segera perbekalan dikeluarkan, kami mengisi tenaga dengan roti yang kami bawa dari bawah. Untuk yang cewek, mereka mempersiapkan makan malam. Sedangkan yang cowok, membuka tenda dome sewaan untuk dipake bermalam di dekat danau. Mencari lokasi yang landai tidaklah mudah, karena kebanyakan tempat yang rata sudah dipakai dulu sama campers yang datang terlebih dahulu. Tapi untungnya dapet di tengah-tengah, agak rata, dan tiga tenda pun didirikan dengan cepat.


Makan malam hari ini adalah cup noodles. Air mineral dipanaskan dalam kompor parafin, trus dituang satu-satu. Ketua rombongan berpesan, cup bekas mie instan itu jangan dibuang karena buat wadah minuman nantinya. Yah, namanya juga camping semua perbekalan harus dibawa seringkas mungkin. Jadinya makan malam pun juga cuman make mie instan aja. Lagian juga udah lumayan kenyang terisi sama roti sebungkus yang tadi dimakan duluan.

Niat awal tadinya pengen nyalain api unggun, tapi apa daya nggak ada kayunya. Kami nggak ngumpulin kayu sepanjang perjalanan, terlebih juga basah karena kehujanan. Jadinya, satu-satunya api yang ada saat itu hanyalah dari kompor parafin. Sambil menikmati jahe instan, dan ada yang ngopi-ngopi, kami ngobrol. Bagaimana dengan saya?. Saya memilih beristirahat dalam dome, sambil membalsam kaki saya yang menggigil kedinginan. Keputusan membalsam kaki untuk menghangatkan ternyata salah besar!. Balsamnya jadi sangat dingin, bukannya hangat malah tambah kedinginan. Bahkan saya memasang dua pasang kaos kaki tebal sekaligus, juga nggak ngefek. Kaki tetap kedinginan. Saat itu saya memutuskan untuk memakai semua pakaian yang saya bawa. Satu sweater lengan panjang, satu jaket, dan tiga lapis kaos. Ditambah dua celana panjang saya pakai langsung dua-duanya, plus sarung sebagai penutup kepala. Itulah kenapa badan saya terlihat "berisi" di beberapa foto.. soalnya 5 lapis baju dan 2 lapis celana sih!. hahaha..

Tapi usaha saya semuanya nggak ngefek. Jam delapan malam sempat tertidur, tetapi jam sepuluh malam terbangun karena kedinginan. Gila, prediksi saya waktu itu mungkin sekitar 4 derajat celcius. Minum air mineral, serasa minum air es langsung dari kulkas. Dan dingin pun merasuk nggak cuman sampe tulang. Tapi sumsum, karena saya nggak punya lapisan lemak. bwahahah.. Cuaca di sekitar Ranu Kumbolo juga nggak bisa diprediksi. Jam 7 masih cerah, tiba-tiba turun kabut, hujan gerimis dan membasahi dome yang membuat semua makin dingin, pukul 10 sudah cerah lagi dan tampak bintang-bintang di langit berkedap-kedip.

Pas saya terbangun sendirian, saya nyari korek untuk nyalain lilin. Menghangatkan tangan yang sudah kebas kedinginan, mati rasa. Menyentuhkan tangan pada api tak banyak membantu, karena saking dinginnya. Akhirnya, karena tahu saya ribet nyari lilin, api, dan makanan untuk bahan bakar tubuh.. ketua rombongan terbangun dan membantu. Kami akhirnya menghidupkan kompor parafin, dan membakar satu demi satu batang lilin yang ada untuk menghangatkan diri. Ternyata temen-temen cewek juga senasib dengan saya, kedinginan, nggak bisa tidur. Mereka memutuskan untuk bergabung, dan mengerubungi lilin parafin yang dibakar didepan kami.


Sampai jam dua belas malam, stok lilin abis kebakar. Badan tak kunjung menghangat, padahal saat itu suasana sudah sepi. Semua makhluk sudah tertidur pulas di kandangnya masing-masing. Masih dengan kedinginan, saya nyari siapa tau masih ada yang punya api. Ternyata, di salah satu runtuhan bangunan di dekat situ, ada sekelompok pendaki yang mengobrol di depan api unggun. Ketua rombongan mencoba mendekati untuk meminta kayu bakar, kalau-kalau ada stoknya. Ternyata sudah habis. Mereka menawarkan, kalau mau bergabung aja di tempat ini, dan memindahkan tenda. Karena teman-teman cewek (dan saya) bener-bener nggak tahan sama dinginnya, akhirnya saya dan ketua rombongan mindahin satu tenda ke deket api unggun mereka.

Akhirnya para makhluk-makhluk yang semi-hipotermia ini berkumpul di depan api unggun yang lumayan besar nyalanya. Hangat, tapi punggung masih kedinginan. Sambil ngobrol, kami ngucapin makasih sama empunya api unggun dan menceritakan kondisi kami yang baru pertama kali naik gunung dengan kurang persiapan. Dapet tips dari salah seorang pendaki dari Lumajang yang ngobrol bareng kami, sleeping bag itu adalah barang wajib bawa buat para pendaki. Kesalahan terbesar kami adalah nggak bawa sleeping bag, makanya pantas kalau kedinginan. Terus, ketika menghangatan badan nggak boleh cuman sebentar. Ketika cuma sepuluh menit - duapuluh menit didepan api, dan rasanya badan udah cukup baik.. jangan segera tidur. Karena efeknya nggak akan lama, nanti akan kedinginan lagi. Sebaiknya, spare minimal setengah sampe satu jam sampai tubuh benar-benar beradaptasi dengan hangat, kembali normal baru kemudian beristirahat. Sambil menghangatkan, ada baiknya mengisi tubuh dengan makanan untuk bahan bakar dari dalam. Kenapa?. Karena bahan bakar yang berasal dari makanan yang kita makan akan jauh lebih mudah diolah menjadi tenaga dan panas bila dibandingkan dengan tenaga yang harus diolah dari memecah cadangan lemak yang lebih lama prosesnya.

Nggak asyik malem-malem di depan api unggun in the middle of nowhere, kalo nggak ngomongin cerita mistis. Ada banyak versi cerita mistis seputar Ranu Kumbolo. Pendaki dari Lumajang itu bilang, pernah suatu ketika rombongannya bermalam di Ranu Kumbolo, ada satu orang dari mereka yang memiliki kemampuan istimewa dapat melihat yang tak kasat mata. Katanya, berdasarkan penerawangannya di Ranu Kumbolo itu sebenernya rame, banyak makhluk halusnya. Bahkan sempat satu rombongan itu melihat penampakan wanita berbaju putih berambut panjang, melayang diatas danau. Idih, kayak nggak ada model lain aja.. kenapa harus wanita berbaju putih berambut panjang siih yang selalu muncul. Coba cewek pake hotpants sama tanktop!.. pasti lebih seruu..

do you see something??

Terus pernah tahun 1998, deket-deket waktunya sama kerusuhan Mei, di Ranu Kumbolo terjadi kejadian kebakaran hutan hebat. Tapi anehnya, hanya kawasan Ranu Kumbolo yang nggak terkena. Danau ini akhirnya dipakai untuk tempat penyelamatan. Semua pendaki yang mendaki di gunung semeru turun menuju ke air, sementara sekitarnya penuh asap dan api. Kalau dilihat dari atas katanya, bentuk kebakaran itu mirip cincin. Hanya kawasan danau aja yang nggak kebakaran. Tidak diketahui apa penyebab kebakaran itu, yang jelas Ranu Kumbolo yang menyelamatkan orang-orang dari efek kebakaran hutan tersebut.

Ada satu cerita lagi tentang penduduk Ranu Pani, sepasang pengantin yang bernazar kalau sudah menikah maka mereka akan mandi di Ranu Kumbolo. Nazar itu akhirnya dilakukan, berdua saja. Pada saat mandi, pengantin wanita itu tenggelam. Pengantin pria itu kalap, dan diceritakan katanya seakan ada yang menarik dari dalam. Setelah kejadian itu, tim SAR dan Pasukan Katak menelusuri seluruh danau tetapi tidak menemukan jasadnya. Mereka menyerah. Seminggu kemudian, wanita itu ditemukan dalam keadaan terapung mengenaskan. Sampai sekarang tidak ada yang tahu berapa kedalaman Ranu Kumbolo yang sebenarnya. Maka, mandi disini pun dilarang kecuali nekat. Ada untungnya juga sih, karena jadi nggak mengotori lingkungan dengan sabun.

Itu cerita, cuman dikasih tau. Percaya atau tidak, saya kembalikan semua ke pembaca deh. Anggap aja buat pengisi waktu malam hari. Tetapi, boleh percaya atau nggak.. saya menemukan dua buah batu nisan di kawasan dekat tenda kami awalnya. Deket, cuman beberapa meter. Kami nggak nyadarin kalo di dekat situ semalem ada batu nisannya.. dan pas saya buang air malem-malem juga deket-deket situ soalnya disini nggak ada toilet. Abisnya, pas malem nggak keliatan sih!. hahahaha... Untung nggak kenapa-kenapa.

Sukses nggak tidur semalaman, sampe jam 3 pagi badan udah nggak kompromi. Tiba-tiba badan saya ambruk aja, dan nggak sadar bangun-bangun api unggunnya udah abis. Jam setengah lima, masih kondisi dingin. Lumayan, bisa tidur satu setengah jam. Beranjak shalat subuh, kemas-kemas tenda, dan siap-siap nungguin sunrise. Sunrise di Ranu Kumbolo keren katanya, bisa keliatan mataharinya muncul diantara dua bukit dan sinarnya memantul diatas danau. Tunggu besok ya, liputan sunrise di Ranu Kumbolonya!

Selasa, 26 April 2011

30.000 Langkah Dari Ranu Pani Menuju Ranu Kumbolo

Dua jam perjalanan menuju Ranu Pani dari Tumpang terasa sebentar saja, karena dikiri kanan banyak pemandangan cantik yang sulit diabaikan. Beberapa tempat sempat saya capture sambil jalan diatas bak jeep terbuka. Selain melewati hutan, dan perkebunan, ada juga banyak bukit dan batuan. Buat yang nggak bisa ngebayangin kayak gimana, ini dia fotonya.


Sampai di Resort Ranu Pani kami disambut tulisan : Selamat Datang dan Selamat Mendaki Gunung Tertinggi di Pulau Jawa. Mahameru 3676 mdpl. Di resort ini kami semua melaporkan kondisi team dan peralatan yang dibawa lengkap. Berapa botol air mineral, beras berapa kilo, tenda dan sleeping bag, camera, baterai dan senter, apapun yang kami bawa wajib dilaporkan. Selain menyerahkan Simaksi dan SK sehat copy kedua disini, kami juga dibriefing tentang rute yang akan dijalani. Sama pak petugas resort ini, kami dibekali secarik kertas bertuliskan gambaran kasar pos pendakian menuju Ranu Kumbolo.

Sekilas tentang Ranu Pani, tempat ini adalah pedesaan yang terletak di Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Orang sekitar menyebut Ranu Pani ini "Ranu Pane". Mungkin ini bawaan logat jawa timuran yang ngebaca "i" dengan lafal "e". Seperti dulu, pas saya ke Madura pantai Sirih Kemuning dieja sebagai Sereh Kemoneng.


Di Ranu Pani inilah titik pertama pendakian menuju Semeru dengan rute yang direkomendasikan. Ranu berarti danau. Pernah tau istilah danau-ranau?. Yah, semacam itu. Karena Ranu Pani ini memang merujuk pada satu danau kecil di atas bukit, dengan luas sekitar dua atau tiga kali lapangan bola. Tidak terlalu besar, tapi cukup indah pemandangannya. Airnya dingin banget, mirip air es dari kulkas. Saya pas wudhu di salah satu mushala aja berasa menggigil.

Sepi. Itu yang terlintas di benak saya menggambarkan kondisi Ranu Pani. Meski sudah ada listrik masuk, tetapi suasananya benar-benar sunyi. Suara yang terdengar mungkin hanya bisikan angin, dan sesekali raung motor dari kejauhan. Tidak banyak penduduknya memang, dan mayoritas semuanya petani/pekebun. Kalo boleh dibilang, pemandangan kebun dan sawah inilah yang nggak bakalan ada di kota besar. Melihat petani panen kubis, menanam bawang, dengan kostum lengan panjang dan penutup kepala, khas penduduk pegunungan yang suasananya dingin. Sekolah dasar aja hanya ada satu disini. Kecil. Jadi bisa dibayangkan juga betapa susahnya memperoleh pendidikan layak disini.

Well, kembali ke rute perjalanan. Jadi, sehabis shalat jumat di mushala terdekat, kami berhenti di warung makan sederhana milik penduduk disitu. Makan seadanya, untung ada kare ayam dan mie goreng. Jadilah, dengan ditemani teh hangat khas pegunungan yang harum dan masakan rumahan dengan kayu bakar, sederhana tapi nikmat. Tehnya enaak banget, panas - harum. Saya nanya sama ibu yang jual nasi ini, tehnya apa mereknya.. ternyata teh tubruk cap naga. ada yang pernah tau?. Boleh donk, saya dikirimin.. saya tanggung deh biaya beli dan kirimnya!.

Keberangkatan pukul satu siang dari resort Ranu Pani dengan semangat empat lima. Sudah terbayang nanti sore bakalan sunsetan di Ranu Kumbolo dengan senangnya. Tapi baru aja mulai naik di tanjakan pertama, udah ngos-ngosan. Belom ada setengah jam perjalanan padahal. Nafas mulai habis, dan hujan gerimis mulai turun. Kabut pun sekonyong-konyong mengelilingi kami. Mendung, mistis, dingin, basah dan sepi. Komplit membuat ciut nyali. Tapi toh itu nggak menyurutkan niat. Langkah kaki dipercepat, dan satu setengah jam kemudian nyampai di pos pertama. Lalu sejam lagi nyampe pos kedua, satu setengah jam nyampai pos tiga.

Jarak antara Ranu Pani ke pos pertama lumayan jauh, namun jarak dari pos satu ke pos dua cukup dekat. Dari pos kedua menuju ketiga juga jauh, tetapi lumayan landai. Nah yang paling adventuring itu pas menuju pos 4. Jalanan menanjak, sempit, ilalang menutupi. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan banyak pendaki lain. Setiap kali berpapasan minimal kami saling menyapa ramah, sampai kadang jabat tangan ala-ala geng gitu deeh.. Saya belajar satu hal, ternyata sesama pendaki memiliki solidaritas tinggi, sama senasib sehingga juga harus ramah satu sama lain.

Sudah nggak terhitung berapa puluh kali saya kepleset, tali sepatu lepas, terjatuh, dan beberapa teman mengalami keseleo dan kram kaki. Antara lumpur, air hujan dan keringat udah jadi satu. Udah nggak kebayang gimana bentuk saya pas itu. Dingin, berkabut, dan air menetes-netes dari pohon cemara gunung (Casuarina Junghuhniana) menambah komplit perjalanan saya. Sneakers saya yang tadinya berwarna khaki, berubah menjadi hitam dan basah. Kaos kaki basah, dingin, dan nggak nyaman. Ponco two pieces yang saya pake jadi korban, celana ponconya sobek di tengah. Semakin berjalan, sobeknya semakin lebar. Tadinya hanya di pangkal paha, merembet turun sampai ke betis. Melebar, dan puncaknya, sobek beneran jadi mirip rok!. Sial, padahal ponconya masih baru. Hahaha..

Kalau dihitung-hitung, perjalanan dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo memakan waktu total 5 jam lebih. Berangkat jam setengah dua, nyampe di Pos Empat menuju Ranu Kumbolo jam setengah tujuh malam. Total jarak 10 kilometer, kalau dengan jalanan yang menanjak itu setara dengan jalan kaki sebanyak 30.000 langkah!. Yah, sukses sampai di puncak, danau sudah mulai kelihatan. Gelap, dan berkabut. Suasananya indah, sunyi, dan air danaunya tenang. Tapi oh-oh ternyata, setelah nyampe di atas.. perjalanan masih berlanjut menuju ke tempat camping yang ada di seberang danau. Masih jauh saudara-saudara!!

dari tempat saya berdiri di pos 4, masih harus berjalan memutar menuju seberang danau. Titik kuning adalah lokasi camping, berada tepat di kaki Mahameru yang tampak gagah di belakangnya


Padahal kondisi saat itu udah letih tak bersemangat, betis juga udah mati rasa. Capek, linu, dan terbayang masih harus mendirikan tenda. Eeh.. masih harus berjalan setengah jam lagi menuju ke seberang danau. Hahaha.. berharap aja sih nggak ada monster Nessie yang muncul dari tengah danau trus mematuk idung kita. #halah.

Penderitaan kami belom berakhir saudaraa.. masih ada lanjutannya. Huff, jadi emang untuk mendapatkan sesuatu yang indah butuh perjuangan ternyata.

Senin, 25 April 2011

Are You Ready For New Adventure?

Saya langsung mengangguk setuju ketika pertanyaan itu diajukan kepada saya. Saya nggak bisa berkata tidak ketika teman saya mengajak saya untuk melakukan perjalanan yang benar-benar baru, belom pernah saya lakukan. Mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, menuju ke puncak tertinggi kedua di Indonesia. Mahameru. Yak, orang sekitar lebih mengenal dengan sebutan Gunung Semeru.

Apakah bener sampai puncak Mahameru?. Nggak!. Saya dan beberapa teman saya hanya berencana untuk mencicipi secuil dari rute pendakian Mahameru. Sebab, sebetulnya Puncak Mahameru ditutup untuk umum karena aktivitasnya sedang dalam kondisi aktif dan membahayakan. Baru mendengar rencananya saya, adrenalin saya sudah berdesir. Saya jawab dengan mantap, saya pasti ikut.

Kami berdelapan. Dua cewek, dan enam cowok. Dari ketujuh temen yang lain, hanya satu orang yang saya kenal. Mantan teman kuliah di kampus dulu, sahabat dekat saya, yang sekaligus ngajakin saya. Lainnya, temannya teman saya itu. Bingung itu maksudnya gimana?.. intinya sih, saya akan melakukan perjalanan dengan orang-orang baru!. Jadilah, rute awal kami berangkat melalui terminal Purabaya atau lebih dikenal dengan terminal Bungurasih Surabaya. Karena janjian kumpul sehabis shalat subuh, itu berarti saya harus bangun jam 4 pagi, mandi dan berangkat ke terminal. Jam lima kurang sedikit saya sampai paling awal di terminal, menunggu kedatangan temen-temen yang lain yang berangkat dari Gresik.

Akhirnya setengah enam semua formasi komplit. Sesi kenalan berlangsung singkat, dan saya hampir-hampir tidak mengingat nama satupun teman-teman karena saking singkatnya. Tapi hal itu bisa teratasi dengan kenalan lagi ketika sudah berada di bis PO Kalisari, menuju Malang. Dengan hanya membayar 15 ribu rupiah, bus patas AC membawa kami semua menuju terminal Arjosari, Malang. Perjalanan ditempuh dengan cukup lancar selama dua jam. Karena masih pagi, yang biasanya jalanan macet di Porong- Sidoarjo berhasil dilalui dengan lancar. Pada pukul setengah delapan pagi, kami sudah sampai di Terminal Arjosari Malang.


Begitu turun, langsung ditodong calo mobil sewaan. Namun kami memilih untuk naik angkot saja menuju Terminal Tumpang. Berhubung semua belom sarapan, kami mampir beli rawon di depan terminal Arjosari. Rawonnya murah, cuman lima ribu rupiah seporsi. Pake tempe juga. Tapi yaa ada rasa ada harga, berhubung saking murahnya satu porsi rawon isinya cuman 3 potong daging kecil seruas ibu jari. Mana nampol?.. hahaha.. tapi lumayanlah buat ganjal perut sebelum mendaki.


Berdelapan dengan bawaan ransel yang beratnya aduhai, kami memutuskan untuk mencarter angkot saja. Lebih murah daripada sewa mobil yang kena 175 ribu sekali jalan. Rugi bandaar donk!. Kebetulan ada banyak sopir angkot nganggur, dan kami berani nawar. Carter berdelapan, angkot cuman habis 60 ribu rupiah sampe ke Terminal Tumpang. Itupun sopirnya mau diminta mampir nyari ATM terdekat dan minimarket buat beli jajanan. Perjalanan dari Arjosari ke Tumpang memakan waktu 45 menit. Sampai di Tumpang sekitar jam 9 lebih.

Masih masuk di kabupaten Malang, Terminal Tumpang adalah terminal pemberangkatan pertama menuju ke Ranu Pani, pos pertama pendakian di kaki Semeru. Di Tumpang juga setiap pendaki wajib lapor untuk memperoleh ijin pendakian dari DepHut Bidang Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Nyampe di Terminal Tumpang, ketua rombongan kami berinisiatif mencari Jeep sewaan. Kami memilih Jeep karena jalan menuju Ranu Pani bener-bener mirip medan offfroad. Mendaki, berkelok tajam, plus aspalnya jelek. Rekomendasi sewa jeep ini juga kami peroleh dari survey di blog-blog yang mencantumkan lokasi tujuan kami.


Disini akhirnya kami bertemu dengan Pak Mun, driver jeep sewaan yang kami gunakan. Dengan menggunakan Toyota Jeepney buatan tahun 1969 ber-bak terbuka, saya milih duduk di belakang supaya bisa menikmati suasana. Udah berasa kayak sapi mau dijual gitu deh pas naikinnya, untung nggak terbang nih badan karena ketiup angin. hahaha.

Dari Terminal Tumpang, kami menuju ke Balai TNBTS untuk memperoleh surat ijin pendakian. Disini, setiap calon pendaki wajib membawa fotokopi ID Card (KTP/SIM/Kartu Pelajar) dan Surat Keterangan Sehat dari dokter sebanyak 2 rangkap. Kalo itu nggak dipenuhi, dijamin nggak bakalan dapet ijin buat pendakian. Tapi sst.. saya kasih tips buat ngakalinnya. Kalo emang ternyata nggak sempet nyari SK sehat dari dokter, kamu fotokopi aja SK sehat punya temen, di tip-ex ganti nama, trus dicopy lagi. Ini sukses dilakukan, apalagi kalo yang berencana mendaki berbanyak. Nggak mungkin dicek satu-satu deeh. hehehe.. Tapi resiko tanggung sendiri yah, karena memang sebenernya sih untuk mendaki mewajibkan berbadan sehat jasmani dan rohani. Saya aja bela-belain nyari semalem sebelum berangkat ke poliklinik depan kontrakan. Beruntung sih, kondisi tekanan darah saya normal 120/70 plus yang bikin seneng adalah : BERAT BADAN SAYA NAEEKKK Yihaaaa!!!.. terakhir nimbang 52, tapi pas diperiksa 54 kilogram. Alhamdulillaaah..


Yak, balik ke urusan perijinan.. Disini setiap pendaki diwajibkan membayar biaya SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi), asuransi, dan karcis masuk total sebesar Rp 7000 untuk pendaki domestik per kepala. Untuk Mancanegara lebih mahal, Rp. 24.500. Kalo pelajar/mahasiswa, lebih murah. Cuman Rp 5.750 aja. SIMAKSI ini diurus sama ketua rombongan, cukup satu surat dengan mencantumkan nama-nama pendaki, disertai dengan materai 6000 rupiah (bawa sendiri) bahwa semua peraturan di SIMAKSI itu wajib dilaksanakan. Sama bapak petugasnya diinterview dari mana asalnya, mau kemana, rute terakhir pendakian, dan banyak lagi. Lumayan lama sih, karena suratnya masih manual pake mesin tik. Tapi akhirnya, itu surat ijin berhasil diperoleh. Usut punya usut, fotokopi rangkap 2 SK sehat sama ID card itu dipisah; satu untuk ditinggal di Balai TNBTS. Satu lagi diserahkan di Resort Ranu Pani, start awal rute pendakian.

Perjalanan menuju Ranu Pani pun dilanjutkan. Lama waktu tempuh sekitar dua jam dari Tumpang. Tapi nggak berasa lama, karena suasananya asik banget. Jalan menuju Ranu Pani banyak pemandangan yang bisa diliat. Mulai dari kebun Apel, sampe ke bukit-bukit dan sawah-sawah. Hawa sejuk pun mulai terasa menampar muka, dan yang pasti udaranya segeeer banget. Panas Matahari pun nggak kerasa disini, tau-tau gosong aja nih muka. hahaha..

Jalan menuju Ranu Pani sebenernya mirip-mirip kalo pernah ke kawasan Cihideung - Bandung, atau di Puncak-Bogor. Kiri kanannya perkebunan lokal, tebing, dan bukit-bukit yang isinya pertanian semuanya. Ada beberapa kawasan wisata juga yang kami lewati menuju Ranu Pani, semisal Coban Pelangi. Saya nggak ngerti ada apa disini, karena nggak mampir sih.

jadii... nyampe di Ranu Pani jam sebelas lebih. Ada apa di Ranu Pani dan sekitarnya?. Tunggu aja lanjutan ceritanya yak.. ini masih awal.

Minggu, 24 April 2011

Makan Malem Bareng Blogger Super

Im back!! Yihaaa.. akhirnya nemu internet juga. Oke, sebelum saya cerita panjang lebar tentang jalan-jalan kemarin, rasanya ada yang lebih prioritas buat di posting kali ini. Sambil nunggu foto-foto jalan kemarin terkumpul, kali ini saya pengen bagi-bagi cerita kopi darat barusaan aja tadi. Sama siapa aja?. Liat dulu foto ini yak :




Yes, berawal dari SMS Pakde Cholik, shohibul blog New Blog Camp yang sering banget bagi-bagi buku gratis tiap rebo yang kebetulan kemaren juga saya sempet dapet satu bukunya. Pakde SMS nanyain apakah saya sedang di Surabaya. Yaa saya jawab aja, hari ini sampe besok pagi saya ada di Surabaya. Trus beliau ngajakin ketemuan makan-makan.


Tempat ketemuannya sih di Jalan Manyar Kertoarjo, resto Park Cafe. Kata Pakde, samping SPBU. Tapiii... ternyata sepanjang Jalan Manyar Kertoarjo tuh SPBU nggak cuman satu. Saya muter-muter nanya-nanya, dimana sih restorannya.. sampe akhirnya nyampe juga di Resto Park Cafe agak telat dari jam janjian setengah tujuh malem. Disitu ternyata udah ngumpul Pakde Cholik sama Bude Cholik, plus beberapa blogger super. Ada Inge cyberdreambox sama suaminya. Mbak Yuni (pemilik blog ceritayuni.blogdetik.com) sama suaminya, Ada kang Yayat sama istrinya, plus yang terakhir nongol ada Blogger Samarinda, Kaka Akin (pemilik try2becoolnsmart.wordpress.com). Sengaja saya nggak link satu-satu soalnya trauma blog nggak bisa dibuka kayak dulu lagi.


Seruu banget. Ngobrolnya rame-rame. Dan kebetulan ini adalah kopi darat saya yang pertama kalinya sama semuanya kecuali sama Inge. Jadi begitu dateng, sebenernya belom akrab sama kang Yayat, Mbak Yuni, atau Kaka Akin. Hehehe.. Tapi nggak tau emang dasarnya kalo blogger udah ketemuan tuh pasti bawaannya seru, makanya kekakuan langsung cair gitu aja. Soal ngobrol mah, apa aja bisa jadi bahasan. Karena emang semuanya dipersatukan sama buku, maka obrolan pun nggak jauh-jauh dari seputar buku. Mulai dari minta buku gratisan sama pakde, atau nodong Inge minta gratisan novelnya, sampe ngomongin soal kehamilan. Doh!. berhubung saya single dan happy, koq yaa kebetulan yang dateng semua bawa pasangan kecuali saya.. berasa jadi anak bawang deh. ahahaha.. Mana saya paling muda lagi, yes!. Akhirnya, saya nggak berasa om-om pas ketemuan kopi darat yang satu ini.


Then, Kaka Akin ngasih souvenir dompet manik-manik motif etnik warna-warni ke semuanya. Saya dapet warna biru, pas banget sama warna tema blog ini. hahah. Makasih Kaka Akin.. Hemm.. karena saking serunya ngobrol, nggak sempet lagi motret makanannya disini. Pokoknya semuanya yumilah yumiwati. Ditraktir sama Pakde Cholik.. Makasih banyak ya Pakde!. Mupeng? Mau?. Mampir aja ke blog masing-masing untuk kenal lebih dekat yak!


Trus kali ini saya mau pasang award. Daripada ntar lupa, saya ditagih-tagih janjinya.. hehehe. Award pertama dari Penghuni 60. Bagi-bagi award postingan yang ke 100 yang bentuk awardnya mirip sama punya saya duluu banget. Ini dia awardnya :


Kedua, dateng dari Mbak Hariyanti Sukma. Beliau ngasih award bunga anggrek bulan warna putih. Ini dia awardnya.


Trus, dapet lagi dari Sandra. Ini dia Awardnya


Untuk semua yang ngasih award, makasih banyak yak!.


Last, sekilas buat cerita jalan-jalan saya. Nanti rencananya cerita perjalanan akan saya posting dalam beberapa artikel. Karena kalo dijadikan satu, bakalan panjang dan ilang detailnya. Tujuannya sih biar gampang kalo mau pada ngikutin rutenya. Jadi, moga-moga besok malem udah bisa keluar cerita pertamanya.

Kamis, 21 April 2011

Stasiun Tugu Jogja, Kesemprot Orang, dan Pamit

Sebelumnya saya mau ngucapin makasih banyak buat semua yang udah mendukung photo contest saya disini. Kereeen.. banyak banget yang kasih komentar, makasih banyak yaa.


Eniwei, hari ini saya mau cerita tentang Stasiun Tugu Jogja. Kalo ke Jogja naik kereta api minimal dengan kereta bisnis, pasti turunnya di Stasiun Tugu Jogja ini. Tahukah kamu kalo Stasiun Tugu ini adalah satu-satunya stasiun kereta api yang berada di tengah-tengah rel?. Yup, salah satu stasiun tertua di Indonesia ini memang terletak diantara rel kereta api. Ada dua jalur rel kereta api yang mengapit stasiun ini, jadi kalo lihat di foto Stasiun Tugu itu bisa kebayang di kiri dan di kanannya bakalan dilewati sama kereta api.

Kalo lihat sejarahnya, stasiun tugu ini mulai beroperasi semenjak 1887. Bisa dibayangin udah jenggotan dimana-mana kan?. Tapi yang pasti, nggak akan nemuin kesan kumuh disini. Begitu masuk ke dalam, sudah banyak sentuhan modernitas disini. Kalian akan nemuin vending machine, ATM, foodstall, bahkan information centre pun sudah menggunakan teknologi terpadu. Tetapi walaupun sudah banyak sentuhan teknologi dimana-mana, arsitektural Stasiun Tugu ini masih tetap terjaga dengan mempertahankan ciri khas bangunan kolonial belanda : warna putih abu-abu, dengan langit-langit tinggi.

Rasanya, tidak ada stasiun kereta api yang letaknya strategis seperti di Stasiun Tugu ini. Karena begitu keluar dari stasiun, langsung menuju ke pusat kota Jogja sendiri yaitu jalan Malioboro. Dan jangan pernah takut kelaparan karena di stasiun ini juga difungsikan sebagai tempat wisata. Hah? berwisata di stasiun? ngapain aja?.. Hehehe, banyak yang bisa dilakuin disini sebenernya. Selain menikmati arsitekturnya, juga bisa menikmati kulinernya. Ada banyak penjual makanan beraneka macam bentuknya di dalem. Bahkan ada juga restoran eksekutif yang terletak di lantai 2 berkonsep lounge bagi yang mementingkan kenyamanan. Trus, kalo mau pijit karena kelelahan, banyak yang nawarin jasa pijat pakai kursi elektrik dengan membayar sejumlah rupiah. Jadi, bisa buat alternatif wisata selama nunggu kereta dateng kan?.

Nah, pagi-pagi saya datang buat nyari tiket keberangkatan hari itu. Ternyata mbak-mbak penjaga loket bilang, KA eksekutif dan bisnis sama-sama penuh. Trus saya nanya, tiket tanpa tempat duduk ada?. Mbaknya bilang ntar dua jam sebelum berangkat baru akan dijual. Akhirnya saya pulang dulu. Sejam sebelum keberangkatan, saya diantar Adit ke stasiun tugu lagi buat beli tiketnya. Modalnya sih nekat walaupun udah dibilang nggak ada tempat duduk, karena udah kebiasaan naik kereta kalo pulang dari Jogja ke Surabaya. Eh, ternyata saya beruntung. Pas ngantri dan bilang mau beli tiket Sancaka, mbak penjaga loket nawarin tiket bisnis apa eksekutif?. Berarti kursinya masih ada, yeaah.. gerbong tambahan ternyata. Pilihan jatuh pada kereta eksekutif, karena bedanya sama yang bisnis 25 ribu doank!. Udah dapet kursi empuk, AC, sama steker listrik.

Dengan pedenya naik gerbong menuju ke tempat duduk 2 C. Buka laptop, pasang headset, setel film : Yes Man yang dibintangi sama Jim Carrey. Pas itu belom ada yang duduk di 2D, sebelah saya. Bahkan sampe di stasiun Klaten juga masih kosong. Batin saya mengatakan, alhamdulillah alamat kosong sampe perjalanan. Nah, nyampe di stasiun Solo Balapan tiba-tiba ada satu keluarga masuk. Saya sih cuek, masih asyik sama film yang saya tonton dan pura-pura nggak denger mereka ngomong apa. Trus ibu-ibu dari rombongan itu bilang "permisi mas..", yaudah saya geser kaki supaya maksudnya ibu itu bisa masuk ke 2 D. Tapi ooh ternyata, saya dipandangi sama semua keluarga dia. Trus ada mas-mas berbadan kekar berkepala botak (jangan tanya saya ganteng apa nggak, soalnya saya nggak liat mukanya), yang saya pikir itu anak si ibu itu bilang ke saya "masnya nomer berapa?. Yaa dengan tanpa rasa bersalah saya bilang 2C. Masnya bilang lagi : "Looh koq sama nomornya?". Jreeenkk... perasaan saya nggak enak. Saya copot headset saya dari kepala, masih dalam keadaan memangku laptop menyala trus saya ambil tiket saya dan saya sodorin : "ini mas kalo nggak percaya, gerbong tiga nomor 2C". Langsung deh, masnya bilang : "Ini gerbong dua mas!". ALAMAAAAKK.. saya salah gerbong!!. Trus mbak-mbaknya nyemprot, "Makanyaa pake kacamata!!".

Saat itu udah kacau banget rasanya, pengen marah tapi barusan nonton Yes Man yang filmnya ceritanya Jim Carrey nggak boleh marah-marah, belom lagi malunya, belom juga repotnya. Akhirnya, braak.. saya tutup laptop saya dalam keadaan masih nyala, HD eksternal dalam keadaan masih terpasang di USB saya copot, headset juga saya copot, saya kemasi barang saya dan saya masukin ke tas. Ibu di 2D bilang "ini kabel dicopot mas?" sambil nunjuk kabel charger yang nempel di dinding. "Iya bu, makasih banyak. Maaf ya buu, merepotkan". Daan dengan rasa malu, dongkol, saya seret koper ke belakang sambil diliatin penumpang lain yang udah pada duduk manis di couchnya masing-masing. Maaakk... saya sih berharap laptop saya masih bisa dipake ntar, gara-gara insiden ini. hahahahah..

Kejadian disorientasi tempat duduk ini sebenernya sering terjadi sama saya deh, nggak cuman sekali ini di kereta api. Tapi dulu pernah juga di pesawat. Udah enak-enak duduk, baca inflight magazine, mana duduk di pinggir jendela lagi. eeh.. ada pramugari nanya, masnya nomer berapa?. Daan ternyata saya seharusnya duduk di kursi depannya. Hahaha, maklum deh.. Om-Om sibuk kebanyakan mikir jadi sampe disorientasi tempat duduk. Yaah, salah sendiri antara gerbong dan tempat duduknya dibikin sama. Cobaa kalo tiap tempat duduk dinamain, pasti nggak bakal salah duduk kaan? #plaaak.. masih salah, ngeles pulak. hihihi.

Eniwei, liburan Paskah ini pada berencana kemana?. Saya sih berencana mau liburan juga sebenernya. Nggak jauh-jauh sih, masih di Indonesia koq. #halah. Hari Kamis ini saya ambil cuti tahunan sehari, jadi lumayan bisa 4 hari jalan-jalan. Hemm.. sekalian deh saya mau minta pamit kalo hari ini sampai nanti hari minggu saya off dulu dari peredaran. Mungkin nggak akan ada postingan di blog ini, atau kunjungan balik ke blog temen-temen. Doain lancar perjalananannya yah, dan pengalaman liburan kali ini sepertinya menjadi yang pertama kali saya lakukan. Terinspirasi dari Yes Man sih sebenernya, yang pas Jim Carrey dateng ke bandara, beli tiket satu lokasi tujuan penerbangan yang tersisa, lalu berangkat!. Nggak sama persis sih, tapi intinya pas temen saya nawarin rencana perjalanan satu ini saya langsung mengiyakan. Karena selain tempatnya belom pernah saya kunjungi, saya juga belom pernah melakukan perjalanan dengan cara yang seperti ini. Yeaaay.. penasaran saya mau kemana dan bagaimana? Tunggu sepulang saya nanti yaaak!!.. Ciaooo

Rabu, 20 April 2011

Just Be Happy You Are!!

Lagi ikutan kontes foto nih, siapa tau jadi model. #hueek. Mohon dukungannya dengan memberikan komentar pada foto dibawah ini. Buat yang komentar, saya doain hari ini dapet rejeki banyak, buat yang nggak komentar saya doain dapet rejeki juga.. tapi dikit aja. Hihihihi

Kotak komentar sengaja diclosed, semua komentar dialihkan DISINI. Terima kasih banyak atas dukungannya.

Selasa, 19 April 2011

Hadiah, Award, Ngerjain PR plus Bayar Utang

Fyuh, finally nyampe Surabaya juga. Maaf kalo belum bisa berkunjung kembali ke blog temen-temen, masih dalam kesibukan yang luar biasa. Ini parahnya, satu hari aja nggak nyentuh internet maka rasanya update temen-temen setiap harinya semakin bertambah banyak yang kadang saya nggak bisa ngikutin.

Oke, tak perlu berpanjang lebar karena hari ini banyak yang mau diceritain. Langsung aja, ketika kemarin saya masuk kantor ada sebuah bungkusan tergeletak di meja saya. Saya lihat pengirimnya dari Abdul Cholik, alias Pakde Cholik pemilik Blog Camp Group. Ternyata setelah saya buka, isinya adalah sebuah Novel. Ini hadiah dari Pakde atas kuis Reboan beberapa waktu yang lalu. Makasih banyak ya Pakde, sangat bermanfaat kiriman tali asih berupa novelnya.


Karena pas saya menang itu pada banyak yang minta ngeresensi buku yang saya dapet, maka sekilas akan saya ceritakan sedikit aja soalnya saya baru baca setengahnya. Yak, novel ini berjudul Potret Terindah Dari Bali, sebuah kisah nyata Ni Wayan seorang gadis Bali yang merupakan anak pemulung yang memenangkan kontes fotografi tingkat internasional. Mengisahkan tentang anak yatim, yang bermodalkan kamera pinjaman, mengirimkan karyanya ke lomba fotografi dan pada akhirnya menjadi pemenang pertama yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya. Hadiah berupa pergi ke Belanda, mendapat beasiswa StuNed di Belanda, semua berawal dari mimpi dan tekad. Disajikan dengan bahasa novel dengan tokoh "aku" didalamnya, maka berhasil membuat pembaca seakan mengalami sendiri jalan cerita Ni Wayan ini. Kalo penasaran bagaimana cerita lengkap novel karangan Pande Komang Suryanita ini, baca aja di toko buku yah!
Next, dapat award dari Uzi Pee Wee alias Apis, pemilik blog Backpackers, sebuah blog yang hampir dikata nggak sesuai sama judulnya karena isinya sebagian besar malah bukan cerita jalan-jalan nge back-pack tapi campur-campur. Blognya unik, karena bahasanya Apis banget. Khas anak muda jaman sekarang. Apis ngasih saya Award yang kebetulan belom pernah saya punya, ini dia :


Dan PRnya, saya harus mengucap terima kasih kepada pemberi award. Makasih yaa pis, atas awardnya. Yang kedua, diminta untuk follow atau pasang banner blog pemberi award. Kalo follow sih udah, tapi kalo pasang banner. heheh.. maaf yah, saya nggak ada tempatnya :). Trus yang ketiga, bagikan kepada 5 blogger lainnya. Nah ini nih yang rada susah. Ada yang belum dapet award ini?. Silakan ambil aja yak, gratis... asal kerjakan PRnya.

Trus Award kedua datang dari Rahman Raden, blognya Rahman Raden ini berulang tahun ke 1. Wow, punya saya aja masih belom ada 1 tahun. Jadi saya rasa pencapaian untuk 1 tahun itu jadi angka yang luar biasa yah. Selamat ulang tahun untuk Kolumnis Rahman Raden, semoga makin semangat ngeblgnya, makin sukses, makin memikat pembaca dengan artikelnya!. Maaf baru pasang award sekarang, walaupun ultahnya udah dari kemarin-kemarin. Dan ini dia Award yang ekslusif diberikan hanya kepada 6 orang saja. Beruntung, saya termasuk didalamnya.

Award selanjutnya datang dari Kira. Dia kemarin nongol di chat box ngasih tau kalo saya juga termasuk yang dapet award. Yaudah, dipasang aja sekalian sih. ini dia awardnya :


Oke next, saya juga mau ngerjain tag-nya Nuel Lubis yang ngasih PR apa sih menurut kamu Fun Blogger itu?. Hemm.. begini, fun blogger buat saya adalah blogger yang menyenangkan.. #blaah itu mah namanya menerjemahkan. Tapi eits, tunggu dulu.. yang namanya menyenangkan itu susah loh! karena standar kesenangan tiap orang kan beda-beda. Mungkin bagi beberapa orang, saya dianggap menyenangkan #huek.. tetapi buat hampir semua orang bilang saya itu menyebalkan *yeah you're suck!. Hahaha.. Arti menyenangkan itu menjadi rumit, makanya buat mempermudah.. asalkan blogger itu senang dengan blognya, punya rasa memiliki sama blognya (maksudnya blognya diurusin gituu), trus memiliki banyak teman (balik lagi, banyak itu relatif), dan dianggap menyenangkan (mungkin karena sering komentar balik atau bagi-bagi hadiah kali?), maka itu dah termasuk dalam fun blogger. Tag ini ternyata harus diteruskan kepada 5 orang lagi, jadi.. daripada saya bingung mau nge tag siapa dan nanti ada yang iri karena nggak kebagian.. hayoo menurut kamu, fun blogger itu seperti apa sih?. Tulis di blog masing-masing yaak!.

Oke, bayar utangnya semoga lunas. Atau ada yang kira-kira belom ikhlas karena ada beberapa PR yang menjadi tanggungan saya yang belom saya kerjakan?. Kasih tau sama saya yak, biar nggak timbul "perasaan nggak enak" diantara kita berdua.. #hueekk.. Soalnya saya sendiri sih sebenernya nggak suka ada hutang yang belum terbayar. Makanya sebenernya, saya kadang lebih banyak ngutangi daripada berhutang. Dan satu kelemahan saya, kalo udah dihutangi kadang segan buat nagihnya. Bukan apa-apa sih, karena saya menerapkan sesuatu itu kepada diri saya sendiri. Kalo pas nggak ada, atau belum punya trus ditagih?. Nggak enak kan rasanya?. Nah, masalah hutang beginian buat saya ini juga jadi pembelajaran untuk mempercayai seseorang. Kalo orang itu bilang tanggal sekian mau dilunasi, yaa saya nunggu aja sampe tanggal yang dia kasih. Kalo belom, berarti mungkin next time kalo dia mau minjem lagi atau berutang lagi sama saya, saya harus mikir untuk kedua kalinya. Apakah saya salah?. Hemm.. koq jadi ngelantur begini sih.. yaudah, apapun itu.. kalo saya ada utang sama temen-temen, bilang yak!. Atau kira-kira ada yang punya janji dan utang sama saya belom dilunasi?? segera saja yak!. ^_^

Minggu, 17 April 2011

Antara Beverly Hills dan Malioboro

Kalo baca judulnya, jangan dibayangkan saya akan membahas Beverly Hills yang ada di Amerika sono yak, atau jangan bayangkan acara sitkom TV 90210. Beverly Hills yang satu ini tempatnya ada di Jogja, dan merupakan satu penjual roti bakar yang lumayan terkenal di Jogja. Gara-gara dari kemarin saya ngidam roti bakar, nggak tau kenapa koq nggak biasanya saya kepingiin banget makan roti bakar. Bukan roti bakar Bandung yang kotak itu tapi, yang simple berupa roti tawar biasa yang dibakar trus pake aneka topping.

Nah, kalo di Bandung mah enak.. bisa langsung ke Madtari, yang khasnya kalo ngasih keju sama susu sampe tumpah-tumpah. Kalo di Jogja, walaupun nggak sespesial Madtari, tapi ada Beverly Hills yang udah cukup ngobatin kepengenan saya sama roti bakar. Sebenernya saya pengen menyingkat Beverly Hills biar enak nulisnya, tapi daripada ntar singkatannya menimbulkan ketawaan nggak berhenti-berhenti, meding saya tulis utuh aja deh. Hehehe..

Beverly Hills ini punya banyak cabang di Jogja. Salah satunya ada di Sagan, tepatnya di jalan professor Herman Yohannes. Kalo dari Mall Galeria Jogja ke arah utara, di kiri jalan. Ada plang gede warna merah, dengan tulisan Roti Bakar Beverly Hills warna putih. Jualannya kalo malem aja. Kalo siang tutup, digantiin jadi studio foto kalo nggak salah.



Yang dijual disini emang roti bakar, tapi nggak cuman khusus itu aja. Ada pipilan jagung bakar/rebus (mirip sama kalo beli corn cup di mal-mal itu), ada mie instan (rebus, goreng, polos, keju), sama pisang bakar. Yah, intinya sih jualan jajanan yang biasanya dipinggiran jalan. Cuman konsepnya agak dibikin beda, nggak pake warung tenda tapi berupa foodstall. Jadi lebih modern dikit. Jualan minumannya juga banyak, mulai dari es sirop sampe susu murni.

Saya milih roti bakar coklat keju spesial satu porsi. Roti bakarnya sebenernya biasaa banget, hanya roti tawar tiga lembar, dibakar pake arang, diisi meises dan ditaburi keju sama susu kental manis. Tapi karena kepengenannya udah lama, jadi berasa enaak banget pas makannya. hehehe. Nggak cuman ada rasa coklat keju koq, ada banyak pilihan. Mau savory atau sweet juga ada. Misal roti bakar omelete spesial, isinya telur dadar dan taburan abon. Makannya pake saos sambel. Ada juga roti bakar isi selai nanas, blueberry, strawberry, dan macem-macem. Ada isi coklat kacang, daging, dan sosis juga. Terserah sih, kalau mau mix sendiri pun juga bisa. Isi daging dengan selai blueberry misalnya!.

Seporsi kecil, dihargai berkisar antara 5000 - 9000 rupiah. Tergantung sama topping dan isiannya atau jenis roti yang dipake, karena ada juga roti gandum. Jadi kalo milih roti gandum (untuk mengganti roti tawarnya) harganya jatuhnya lebih mahal. Beda seribuan sih. Kalo minuman, antara 2000 sampe 7000 untuk STMJ (susu telor madu jahe). Lumayan murmer buat ngobrol, nongkrong, dan makan-makan. Mau sampe malem juga gak papa kayaknya, karena disediain tempat lesehan juga.

Naah, berhubung Bunda menunggu di rumah, dan mesen suruh beli lauk sekalian di luar buat makan malem.. akhirnya saya pulang lewat Malioboro. Aduh, pilihan jalan yang salah sebenernya. Pas malam minggu, lewat Malioboro, bisa dipastikan macet total. Bisa jalan sih, tapi pelan-pelan. Malioboro sekarang udah ramee banget, masih khas kayak dulu sebenernya tapi sekarang lebih semrawut. Lampu-lampu, halte bus transjogja, warung tenda pinggir jalan, andong dan becak, kaki lima plus parkir sepeda motor yang kadang nggak sesuai aturan jadi nambah ruwet. Beruntung, kalo pas malem minggu banyak polisi lalu lintas disiagakan, jadi selain memperlancar pengguna jalan juga bisa membantu penyeberang jalan untuk lewat secara berkelompok. Maklum, kalo di Malioboro mata pengendara harus awas karena pejalan kaki sliwar-sliwer nyebrang dari satu sisi jalan ke jalan yang lain. Intinya, kalo mau ngetes skill ngerem motor yaa main aja ke Malioboro.


Namanya juga malam minggu, malamnya anak muda. Makanya public space di sekitaran Malioboro udah bisa dipastikan penuh sama lautan manusia. Banyak hobiis yang menyalurkan kegiatannya disini, kadang juga ada klub-klub motor yang nongkrong, atau klub sepeda onthel. Trus pas semalem, di depan monumen serangan oemoem 1 Maret, ada kayak festival band yang disponsori sama produk rokok. Makanya tambah rame gilaak.. Kalo dibilang bottleneck effect, yaa mirip kayak gini. Begitu lampu ijo nyala, bruulll... semuanya langsung lancar. Tapi tetep aja gimanapun ramenya dan nyusahinnya, kalo belom ke Malioboro berarti belom ke Jogja!. I'm Jogja, what about you?. *niru iklan Agnes Monica

Sabtu, 16 April 2011

Eh Tanya Kenapa?

Eh tanya kenapa saya minggu ini rasanya baru post artikel dikit banget?.. hehehe, bukan males sih tapi karena kondisi yang nggak memungkinkan buat bikin artikel. Sebenernya udah jadi ciri khas blog ini, kalo artikel baru jarang nongol atau jaraknya agak lama antara satu dengan yang lain, bisa dipastikan sayanya yang lagi sibuk.

Tau saya sekarang dimana?. Saya udah di Jogja lagi, setelah kemarin sore di Makassar trus semalem di Surabaya, dalam dua hari ini saya berada di rumah #nggak penting!. Sebelum akhirnya besok sore harus ke Surabaya lagi. Lah, cuman dua hari di Jogja ngapain coba?. Sebenernya alasan utama saya balik Jogja karena ada undangan nikahan sahabat saya sekampus dulu. Ceritanya sih, ini pasangan udah digadang-gadang kalo jadi kawin bakalan temen sekampus dateng semua. Secara pasangan ini dua-duanya adalah temen satu kuliahan satu jurusan, dan udah lama pula pacarannya sampe kita bilang pasutri kalo nyebut mereka.

Aihh.. nggak sabar nunggu besok buat dateng ke acaranya. Namanya buat sahabat, apa sih yang nggak. Makanya dibelain dateng jauh-jauh dari Makassar, buat ikut ngerasain kebahagiaannya kan. Tapi problemnya, yang sepet rasanya tuh kebelakang-belakang... Bunda nanyain, kapan nyusul?.

semalem juga, Ayah nelepon nanyain.. temen-temenmu dah pada nikah, kamu kapan?.

Nah loo.. ada yang mau bantuin jawab?

Kamis, 14 April 2011

My Dreamplace : Derawan Archipelago!!

I Do Love Beach!!.
Jadi, kalo ada yang nanya sama saya tempat apa yang ingin saya kunjungi, pasti dengan mantap saya akan jawab PANTAI. Saya lupa kapan tepatnya pertama kalinya jatuh cinta dengan pantai, pulau, atau yang berhubungan dengan itu. Saya juga lupa sudah berapa banyak pantai yang pernah saya singgahi. Namun yang pasti saya ingat adalah setiap pantai itu berbeda, setiap pantai menawarkan ciri khasnya sendiri, dan tidak ada satu pantai dengan pantai yang lain itu sama. Mirip?. Mungkin iya, tetapi kalau sama.. hemm.. nope!

Ada satu kawasan yang menjadi dreamplace saya selama ini. Derawan Archipelago!. Yak, kepulauan Derawan yang terletak di Kabupaten Berau - Kalimantan Timur ini benar-benar menggoda saya untuk mengunjunginya. Bahkan saking besarnya impian saya untuk kesana, saya telah mempersiapkan itinerary (rencana perjalanan) jauh-jauh hari. Kalau ditanya, mengapa?. Please, let me tell you.. Its more than one thousand and one reason buat mengunjungi tempat ini. Check it out!


Derawan Archipelago, gambar minjem dari sini, sini, sini, dan sini

Derawan archipelago sebenernya adalah gugusan kepulauan yang terdiri dari setidaknya 31 pulau kecil-kecil. Ada 4 pulau yang terkenal, Derawan, Sangalaki, Maratua, dan Kakaban. Karena terletak di khatulistiwa, iklim tropis dan keanekaragaman ekosistemnya baik di darat maupun di laut patut diperhitungkan mulai dari mangrove, corral, sampai padang lamun. Buat seorang yang pernah mengenyam ilmu biologi selama 4 tahun kayak saya, nggak akan ada hal yang lebih indah ketika bersentuhan langsung dengan ekosistem alami!.

Coba bayangkan, di Derawan Archipelago kalian akan bisa melihat langsung spesies hewan yang dilindungi di ekosistem aslinya. Sebut saja ketam kelapa, hewan mirip kepiting ini banyak tersebar di Kakaban. Ada Paus, yang keberadaannya bisa dilihat di sekitar Maratua. Lalu ada pygmy seahorse, The God amazing creatures yang bisa ditemui ketika menyelam di sekitar pulau Semana atau Derawan. Also, you can touch penyu hijau, penyu sisik di Pulau Panjang, Sangalaki, Derawan, dan kalo beruntung bisa menyaksikan langsung proses bertelurnya. Can you imagine, ketemu sama penyu yang berdiameter minimal 1 meter?. Nggak cuman sampe disitu, pengen liat Pari Manta (Manta Ray) tapi bukan di kotak akuarium semacam Sea World?.. bisa ketemu di Sangalaki.

Oke, im getting crazy when i talked my dream place.. Satu alasan terbesar saya kenapa saya pengen ke Derawan adalah karena di pulau Kakaban ada satu danau yang dihuni oleh satu makhluk hasil proses evolusi yaitu : Stingless Jellyfish!. Hanya ada dua tempat di dunia ini yang punya ubur-ubur tak beracun, yaitu di Republik Palau (di kawasan Mikronesia) dan pulau Kakaban. Tapi hanya Kakaban lah yang memiliki keanekaragaman stingless jellyfish ini lebih banyak. Setidaknya ada 4 spesies ubur-ubur di danau tengah pulau ini. Konon dulunya, ubur-ubur disini mengalami proses evolusi kehilangan daya sengatnya karena letaknya yang terisolasi. Berbagai macam ukuran ubur-ubur mulai dari sekelingking sampai seukuran telapak tangan berkeliaran, dan ketika nyemplung di dalamnya berasa berenang di kolam cendol raksasa!! What a Trip On Indonesia!!. Jadi keinget sama spongebob, menangkap ubur-ubuur.. yeaaayy.


Berasa berenang di kolam cendol raksasa, kenapa nggak??.
Gambar minjem dari sini, sini, sini, dan sini.

Oke, let me tell you my short itinerary.

How to get there?
Dari Jakarta, bisa naik pesawat terbang menuju Berau. Landing di bandara Kalimarau, perjalanan dilanjutkan menuju ke dermaga laut untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Derawan. Mau pake angkot (orang sana bilang taksi) atau mobil sewa. Sewa speedboat untuk ke derawan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Akomodasi
Banyak hotel atau cottage di Pulau Derawan, dengan range harga bervariasi tergantung sama kualitas pelayanan. Ada juga cottage di tengah laut, yang mengingatkan saya seperti di Bora-Bora atau di Maldives.

Activity
Soal satu ini, jelas banyak buanget aktivitas yang bisa dilakuin. Hari pertama : Island Hopping. Dengan menyewa kapal seharga 900 ribu (untuk 15-20 orang) seharian, bisa berkeliling di keempat pulau yang terkenal itu. Hari kedua : Snorkeling, atau Diving bagi yang bisa. Ada banyak spot penyelaman untuk melihat how beautiful Indonesia under the sea, ketemu sama ragam spesies karang dan ekosistem bawah laut. Dan patut kita bangga adalah, ini semua kelasnya udah internasional. Sebut saja beberapa titik penyelaman seperti Barracuda point, The drift, Cabbage path, The Wall, Blue Light Cave, The Plateau, Ranbow Run, Diver's Delight, dan The North Face di sekitar Pulau Kakaban. Then, Sunbathing everyday! Ini bisa dilakuin kapan aja, buat ngegosongin kulit nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri kaan?. So, ini beneran mendukung program Visit Indonesia Year 2011, I Love Indonesia!!

Diving at Derawan, gambar minjem sini

Eating!
Hemm.. jelas banyak pilihan makanan lautnya disini. Kalo malem, bisa barbecue di pinggir pantai. Segala jenis ikan, kerang, atau cumi bisa diperoleh disini. Sekali makan, sekitar 30 ribuan per orang. Tapi jangan berharap banyak ada sayur!. Karena, kalaupun ada, harga sayur disini cukup mahal.

Nah kalo udah makan, jangan pernah berpikir buang sampah sembarangan yak!. Secara kawasan pantai disini bersih banget, dan kesadaran warga di Derawan tentang menjaga kebersihan cukup tinggi. Biasanya, pantai itu kotor karena aktivitas manusia yang buang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik. Saya paling sebel nemuin sampah plastik di mana-mana, terlebih ketika mengotori tempat wisata. Tau donk, kalo sampah plastik tuh paling susah diuraikan, dan itu beneran mengganggu stabilitas ekosistem di laut. Bayangkan aja, lebih banyak penyu mati karena keselek sama tas plastik dibandingkan sama karena diburu manusia buat diambil dagingnya loh!. Makanya, saya inget banget satu quotes kalau sedang berada di alam.. jangan ambil apapun kecuali gambar (foto) dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak.


Soal sampah plastik, sebenernya bisa banget dikurangin. Apa yang udah saya lakuin untuk mengurangi sampah plastik ini sebenernya simple banget. Saya nggak pernah minta tas plastik ketika belanja di supermarket sekiranya bawaan itu muat di kedua tangan saya. Alternatif lain, saya selalu membawa backpack kalo belanja, jadi semua barang masuk di backpack (secara kalo belanja pasti sepulang kantor). See, simple banget kan?. Siapapun bisa lakuin, dan nggak harus nunggu orang lain memulainya. Something big starts from simple things, rite?.

Last, semua berawal dari impian. Bukan tidak mungkin saya akan menyambangi Derawan Archipelago kaan?. Wish me luck yak!.

Senin, 11 April 2011

Wong Solo di Surabaya

Nggak heran kalo suku di Indonesia yang paling bisa survive dimana-mana tuh orang Jawa. Bukan rasis sih, tapi coba deh liat dimanapun pasti ada orang Jawa. Mau di Papua, banyak temen saya yang asli Jawa disana, mau di Sumatera juga banyak sodara saya asli Jawa yang tinggal disana. Bilang di Kalimantan?.. coba tanya Ajeng, Dia pinter ngomong Jawa hehehe.

Kenapa orang Jawa? Kenapa bukan orang Padang? Bukannya warung Padang ada dimana-mana?. Entahlah, saya nggak ngerti kenapa orang Jawa bisa survive dimana-mana. Mungkin karena orang Jawa tuh punya filosofi "Nrimo ing Pandum" alias menerima dengan ikhlas apa saja yang udah diberikan, makanya bisa survive.

Nah, sebenernya ini mau ngomongin apa sih?.. Begini, selama setahun setengah tinggal di Surabaya, saya banyak nemuin warung makan Wong Solo. Jadi bisa dibilang ini representasi bahwa orang Jawa tuh bisa survive dan buka usaha dimana-mana. Semisal disini saya kasih contoh dua warung makan lumayan terkenal di kota Surabaya. Pertama : Ayam Bakar Wong Solo. Oke, mungkin ini cabangnya ngga cuman di Surabaya, karena toh di tempat kelahiran saya juga ada Ayam Bakar Wong Solo.



Khusus buat cabang Surabaya, ayam bakar ini jualan di wilayah walikota mustajab. Kalo dulu masih inget saya posting tentang sate klopo Ondomohen dan Mie Kocok Mang Udin, nah.. warung makan Ayam Bakar Wong Solo ini ada di seberangnya. Sama sebenernya sama cabang yang lain, khasnya memang ayam bakar, disajikan sama tahu krispi, kuah kaldu dan sambal dabu-dabu. Nggak ngerti maksudnya kenapa sambel yang dikasih malah dabu-dabu yang notabene nggak terlalu pedes. Mungkin ini ciri khasnya sini. Seporsi dihargai Rp 16.000 aja.

Trus, warung wong Solo yang kedua adalah di Jalan Nias nomer 54. Plat namanya sih menyebutkan ini warung bakso. Tapi setelah masuk, ternyata semacam foodcourt dengan berbagai macam pilihan makanan. Karena bakso wong solo saya udah sering makan, dan rasa bakso yaa gitu-gitu aja maka saya milih menu lain : SOTO KIKIL. Pernah Nyobain?


Nggak perlu nunggu lama buat ngedapetin semangkuk besar soto kikil yang kemepul panas-panas. Apalagi pas saya datang kemarin, pas ujan deres di Surabaya. Hemm, tambah nikmat dikocori jeruk nipis plus kecap. Selain porsinya yang guede, isinya juga mantab Nggak cuman kikil isinya, ada tulang rawan sapi juga yang masih nempel sama tulangnya. Enak sih rasanya, meskipun menurut saya bumbunya terasa kuat banget kaldunya (baca : agak keasinan). Dimakan pake nasi jadi beneran pas. Hemm.. soal harga, cukup membayar 20 ribu rupiah aja sih.

Oke, habis dua ini.. kira-kira mana lagi yaa wong Solo yang jualan makanan di Surabaya??.

Minggu, 10 April 2011

Fro Yo!

Medium Fro Yo!
captured by : Gaphe



Model : Twist Blackberry
Topping : Kit-Kat & fresh strawberry
Location : Red Mango - Tunjungan Plasa
Price : Rp. 35.454 ++

Sabtu, 09 April 2011

Bebek Goreng (ASLI) Haji Slamet

Ini oleh-oleh dari pulang Jogja kemarin yang belom sempat saya posting. Saya masih ingat ketika artikel saya tentang waroeng steak kemarin, Ami kasih komentar bahwa pemilik waroeng steak itu masih temen ngaji sama Haji Slamet, pemilik bebek goreng asli cabang Kartosuro. Entahlah, karena saya sendiri nggak tahu tentang hal itu.

Sebenernya, banyak juga di Surabaya orang pada jualan bebek goreng. Beberapa kali saya juga posting tentang bego (singkatan saya untuk bebek goreng) di blog ini. Tapi, berhubung di Jogja ada juga yang jualan bego, dan pas itu saya lagi ngidam makan bego, yaa akhirnya mampir ke outlet bego yang ada di Jalan Mangkubumi 117 Yogya ini. Mudah koq nemuin outlet yang berwarna ngejreng Ijo khas bego H Slamet ini, toh jalan Mangkubumi tuh jalan gede searah yang lazim dilewati kalo mau ke Malioboro. Dari Tugu Pal Putih Jogja, ke arah selatan beberapa blok di kanan jalan.


Nggak ada yang spesial sama bego yang satu ini, karena nyatanya selama saya di Surabaya banyak nemuin bego yang rasanya lebih enak. Tapi yang membuat outlet ini laris, kalo menurut saya adalah karena ciri khasnya make sambel korek. Jangan bayangin itu sambel make pentol korek api dimana-mana yak!, secara maksudnya sambel korek tuh langsung diulek di cobek trus trus baru "dikorek" buat disajikan. Yak, unik memang karena sambel korek ini biasanya disajikan dengan cobek tanah liat. Entah emang beneran diulek disana, atau yang udah jadi langsung ditaruh di cobek saya nggak tahu. Tapi, kalo lihat dari isinya sambel korek ini terdiri dari cabe rawit, bawang, garem, diulek jadi satu trus ditambahin jelantah hasil gorengan bebek itu. Pede mampus!. Asli, saya makan sampe berair di hidung dan mata.

Makanya, kenapa bego yang ASLI-nya dari Kertosuro-Solo ini punya cabang dimana-mana di Jogja. Minimal ada 4 tempat, selain disini ada juga di Gejayan, Ringroad Utara, sama di Kolonel Sugiono Jogjakarta. Saya sih penasaran aja, kenapa kudu diembel-embeli dengan kata ASLI di label namanya, apakah emang se-ngetop itukah sampe takut dibajak orang atau takut ada yang ngaku-ngaku?. Setelah saya tanya dukunnya abad 21 alias mbah Google, saya nemu satu informasi di Jalan Sutra yang bikin terkejut : "Bebek Goreng H Slamet yang di Kertosuro, buka pukul setengah tujuh pagi dan habis jam sepuluh siang". Wow, segitu larisnya kah?.

Trus soal bebeknya sendiri, agak beda sih sama bego di Surabaya. Bedanya, bego H Slamet ini sebelumnya diungkep pake bumbu, trus digoreng kering dan renyah. Kalo di Surabaya, biasanya juga diungkep, tapi bumbunya bumbu kuning (gurih). Khasnya bebek kan emang warna dagingnya yang "buthek". Hmm, soal rasa sih menurut saya standard aja. Tapi emang sih, sambelnya itu bikin kangen hidung berair karena saking pedesnya. Soal minum, ada banyak pilihan juga, tapi yang khas disini adalah Gulas (gula asem), Beras kencur, kunir asem, sama es degan. Paling mantebh (pake BH), adalah es degannya.

Soal harga, agak mahal dibanding kalo bego di emperan sekitaran Surabaya. Ya maklum, selain terkenal dan udah jualan di outlet, di jalan strategis, pasti butuh lebih banyak cost. Seekor bebek goreng utuh dihargai 64 ribu. Kalo dada aja 14.500, paha 13.000, kepala 4.000, rempelo ati 5000, cakar 4000.. haduh.. udah kayak mas-masnya yang jualan deh!. Belom termasuk nasi 2500 seporsi. Yaa bawa aja 20 ribu udah sama minum, dapet kembalian seribu buat parkir kalo dateng sendirian. Ohya, kalo nggak suka bego ada juga ayam goreng koq. Tapi, saya saranin datengnya jangan malem-malem, karena walaupun buka dari pagi sampe sore biasanya kalo udah malem nggak banyak pilihan.

Kamis, 07 April 2011

Extraordinary Flight with Garuda Indonesia

Siapa yang nggak kenal Garuda Indonesia?. Saya rasa setiap warga negara yang punya KTP Indonesia bakalan tahu maskapai kebanggaan bangsa ini. Jaman saya kelas tiga SD dulu setiap guru ilmu sosial saya nanya : Coba sebutkan nama maskapai resmi negara Indonesia?. Pasti jawabannya selalu GIA atau Garuda Indonesia Airways.


Berbicara soal pesawat, saya jadi ingat masa kecil saya dulu ketika melihat ada pesawat terbang, pasti bawaannya pengen lari ngikutin dan berteriak minta dilemparin uang. Norak memang, tapi itulah saya saat kecil. Saya menganggap setiap orang yang naik pesawat adalah orang kaya, jadi wajar kalau berharap beneran dilemparin uang dari atas pesawat.

Tetapi siapa sangka, Gaphe kecil yang dulu nggak pernah bayangin akan bisa naik pesawat ternyata setelah gede bisa juga nyicipin gimana rasanya terbang di atas awan. Dan Garuda Indonesia lah pesawat pertama yang mengantarkan saya untuk mengalami pengalaman itu. Dari terbang pertama kali itu juga, penerbangan-penerbangan saya lainnya juga berawal. Tentu saja kebanyakan penerbangan itu menggunakan maskapai kebanggaan bangsa ini. Well, mungkin ini terlihat biasa tetapi memang kebanyakan penerbangan saya (terutama dalam rangka dinas) biasanya memang diminta untuk memakai Garuda.

Toh, buat sebagian orang merasa bahwa terbang dengan Garuda adalah sesuatu hal yang mewah dan tidak terjangkau. Tapi itu persepsi lama, saya pernah terbang dengan banyak maskapai lain sebut saja maskapai berlambang singa, atau yang namanya seperti kerajaan, atau nama Jakarta lama, dan bahkan anak cabang Garuda juga pernah saya tumpangi. Dari sekian banyak maskapai itulah hanya Garuda Indonesia yang mampu memberikan pelayanan dan kenyamanan terbaik. Maaf kalo pembaca mengira saya sedang mengiklankan Garuda, karena sebetulnya saya menulis ini tidak ada perintah, paksaan, atau diendorse dari pihak manapun.

Sebuah kesalahan kalau menganggap terbang menggunakan Garuda Indonesia itu tidak terjangkau, karena pengalaman saya mencicipi beberapa maskapai lain, harga yang ditawarkan tidak berbeda jauh. Bahkan dalam beberapa kondisi, Garuda Indonesia menawarkan promo terbang dengan harga yang lebih murah dalam berbagai pilihan kelas. Terlebih, kenyamanan dan service yang mengutamakan penumpang itulah yang justru menjadi kelebihan utama Garuda. Kalau ditanya, maskapai mana sih yang menyediakan pelayanan makan dan minuman di dalam pesawat?. Oke, mungkin banyak.. tapi maskapai lokal mana yang memberikan kebebasan memilih minumannya sendiri?. Saya rasa cuman Garuda, karena toh biasanya low budget travel airlines tidak menyediakan pelayanan semacam itu untuk menekan harga tiket.

Apalagi sekarang, dengan didatangkannya pesawat baru Boeing 737 seri Next Generation (NG) yang baru, beberapa pesawat Garuda dilengkapi dengan in flight entertainment. Sebuah hiburan untuk pesawat yang biasanya kelas Internasional. Ini semata-mata diupayakan untuk memberikan kenyamanan bagi para penumpangnya. Jelas, hal ini sangat membantu membunuh waktu perjalanan yang terkadang membosankan. Dan dari in flight entertainment yang selalu update ini, terkadang saya banyak mendapatkan referensi musik mana yang asyik, film apa yang bagus, atau hanya sekedar baca travel guide.


Yang nggak kalah seru juga sebagai bentuk pelayanan adalah adanya Garuda Frequent Flyer program atau GFF. Untuk menjadi member GFF cukup dengan mengisi form gratis yang disediain di Garuda flight magazine. Majalah ini pun diberikan gratis dan bisa dibawa pulang karena tertulis your personal copy. Sekali terbang, maka GFF kita sudah bisa diaktifkan dan untuk pertama keanggotaan langsung pada level Blue. Keuntungannya sebenernya banyak, seperti dapet mileage yang bisa ditukar dengan tiket gratis, atau souvenir. Lalu memperoleh fasilitas priority untuk boarding, bagage, atau lounge (pada level GFF tertentu).

GFF mileage ini juga bisa diperoleh dari setiap transaksi yang dilakukan dipesawat dengan nilai yang diperoleh sebanding dengan harga barang. Ada satu hal yang bikin saya surprise tahun lalu. Belum genap setahun saya memiliki blue card, ternyata saya sudah dinaikkan keanggotaan GFF saya menjadi silver. Naik keanggotaan berarti fasilitas dan pelayanan pun makin meningkat.

Bicara soal kualitas pelayanan, kalo boleh saya bilang Garuda memberikan layanan yang premium. Meskipun berada di kelas ekonomi sekalipun, setiap awak kapal akan melayani dengan baik. Satu lagi yang jelas adalah tentang ketegasan. Tidak segan-segan awak kapal juga menegur penumpang yang tidak mematuhi aturan keselamatan penerbangan, dengan cara yang halus tentu saja. Pernah suatu ketika saat penerbangan menuju Surabaya dari Makassar, ketika sudah ada pengumuman untuk menonaktifkan (catat ya, menonaktifkan bukan berarti mode silent) telepon genggam, ada satu penumpang yang masih asyik menelepon. Sudah diperingatkan beberapa kali, tetapi masih ngeyel. Pramugari Garuda akhirnya berkata dengan sopan dan tersenyum "pak, jika bapak tidak mematikan telepon genggam bapak sekarang juga, kami akan terbang tanpa bapak". Langsung si bapak matiin handphonenya.

Selain itu, pada saat landing dan take off; dua saat paling krusial dalam setiap penerbangan, boleh saya bilang pilot Garuda adalah ahlinya. Hampir tidak pernah bermasalah sama sekali selama saya terbang berkali-kali. Berbeda dengan satu maskapai lain yang tidak akan saya sebut namanya, sekali tahu rasanya landing dengan pesawat tersebut saya trauma untuk naik pesawat itu lagi. Yang jelas, untuk urusan ini Garuda melakukan dengan cara yang smooth.. Mulus, dan tanpa meninggalkan trauma.

Jadi, saya pikir adalah sebuah pilihan yang bijak jika kita menyerahkan sesuatu yang benar-benar pada ahlinya kan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...