Senin, 30 Mei 2011

5 Elements On Surabaya Fashion Parade 2011

Hal yang paling menyenangkan dalam perjalanan adalah : menemukan!

Kalau jeli, terkadang kita akan banyak menemukan sesuatu dalam perjalanan. Walaupun perjalanan itu hanya singkat, pendek, atau dekat tempatnya pasti akan ada hal baru yang akan selalu ditemukan. Nyalakan niatmu, dan nikmati kejutannya!. Seperti minggu malam kemarin ketika saya jalan-jalan ke Mal Tunjungan Plaza, salah satu mal terbesar di Surabaya. Saya menemukan sebuah event tahunan yaitu : Surabaya Fashion Parade 2011.

Bagi para pecinta mode, terutama fashion, event ini merupakan salah satu yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Event yang diadakan mulai tanggal 24 Mei 2011 hingga 29 Mei 2011 ini menggandeng APPMI (Asosiasi Pengusaha dan Perancang Mode Indonesia) dan Marketing Organizer Tunjungan Plaza. Yah, setidaknya itu informasi yang saya peroleh dari emcee yang ngomong di depan pas hari terakhir kemarin, acara penutupannya.


Meriah, tentu saja. Karena memang segi pengemasannya nggak main-main, atrium central Tunjungan Plaza disulap menjadi arena kucing berjalan alias catwalk tempat peragaan busana. Semenjak empat hari sebelumnya, berbagai acara telah digelar baik itu pemilihan model Surabaya 2011, illustration and fashion contest, peragaan busana dari berbagai desainer, sampai pada puncaknya kemarin adalah penutupan sekaligus pengumuman pemenang lomba.

Dengan mengusung tema 5 elements, fashion parade yang sudah keempat kalinya digelar ini membawa warna yang berbeda. Setiap busana yang ditampilkan, terinspirasi dari warna-warna 5 elemen yaitu Tanah, Air, Udara, Logam, dan Api. Beberapa unsur warna cokelat, hitam, krem, merah putih biru, bahkan hingga metalik dan abu-abu dipergunakan sebagai komponen rancangan busana.

Sebetulnya saya tidak terlalu interest dengan fashion, karena jujur saya mengakui saya tidak fashionable. Dalam urusan satu ini, ketidaksengajaan datang ke acara ini setidaknya membuka mata saya bahwa modis itu perlu. *plaaak.. Jadi, saya nggak bisa komentar banyak soal adibusana satu ini mengingat keterbatasan ilmu saya dalam dunia per-fashion-an. Saya cuman bisa cerita dikit soal rangkaian acaranya.

Acara dibuka dengan tarian sepasang muda-mudi dengan membawa api. Mereka melakukan atraksi dengan menggunakan komponen api, seperti tongkat api, rantai dan obor, sampai hola-hop yang dikasih obor. Pesen sponsornya : dont try this at home, karena adegan yang dilakukan beberapa ada yang berbahaya seperti menyembur api, atau mematikan obor dengan mengulumnya. Yang paling spektakuler adalah pada saat penari pria menggunakan gergaji keramik berusaha menggergaji metal yang diikat di perut sehingga menimbulkan percikan api. Heboh, secara musiknya juga menghentak.


Acara dilanjut dengan peragaan busana oleh APPMI Jawa Barat, yang diwakilkan oleh desainer Harry Ibrahim. Mengambil konsep yang berjudul : Ilumination, Harry Ibrahim membawa warna-warna gradasi mulai dari hijau, jingga, cokelat, sampai ke ungu, (sekali lagi maafkan saya kalau warna yang saya sebut tidak sesuai aslinya -secara saya orang awam tentang nama-nama warna) ke dalam karyanya. Harry Ibrahim menekankan pada detail yang menakjubkan pada setiap karyanya. Beberapa kristal swarovski, dengan list warna gold di beberapa pinggiran, mampu membawa mata tak beranjak untuk menikmati detailnya. Belum selesai takjubnya ke satu busana, segera disusul dengan busana yang lainnya. Keren!.



Setelah hentakan api, dan warna-warna kalem ditampilkan.. pertunjukan selanjutnya adalah tarian balet. Disajikan oleh 4 penari wanita berpakaian biru berselendang, menari balet dengan konsep tarian di bawah air. Paling nggak, itu yang saya tangkap ketika hembusan asap CO2 keluar dari belakang panggung mengiringi denting piano.

Lanjut lagi ke peragaan busana APPMI cabang Jakarta yang diwakilkan oleh Jazz Pasay, merupakan peragaan busana penutup dengan menampilkan tema utama Fashion Parade kali ini : 5 Elements. Elemen pertama, Api. Jazz Pasay membawa konsep gaun mini dengan warna merah menyala, ditambah beberapa elemen bulu tanpa detail warna lain.

Lanjut elemen selanjutnya adalah elemen tanah. Cokelat bercampur warna-warna tembaga dan perunggu, memberikan kesan sedikit metalik. Disini, Jazz Pasay membangun konsep lebih elegan dan anggun.

Elemen selanjutnya adalah elemen batu, mungkin itu yang saya tangkap ketika melihat warna hitam yang keseluruhan dipakai secara dominan dalam rancangannya. Mengambil konsep gaun malam, klasik, abad pertengahan dengan hiasan bulu-bulu dan topi kecil di kepala, membawa sedikit kesan bahwa hitam tidak selalu menyeramkan.

Kalau dari gambar prolognya, elemen yang selanjutnya ditampilkan adalah air. Namun, warna-warna yang dipakai adalah putih. Kesan yang ingin ditampilkan mungkin lebih ke arah saint, suci. Dari pakaian pria, konsep sandal gladiator dipadu dengan celana panjang, atau untuk wanita ada gaun malam dan gaun potongan pendek dengan asesoris bulu-bulu.


Terakhir yang keluar adalah elemen metal atau logam. Dibuka dengan pria berjas, dengan rantai-rantai menutup dadanya. Disusul dengan wanita yang menggunakan baju metalik, berwarna abu-abu, dengan asesoris yang futuristik, mengingatkan kesannya seperti di masa depan. Keren!


Jujur, sebenernya saya lebih suka rancangan Harry Ibrahim sih, secara lebih detail dan kaya warna. Itu pendapat saya. Kalo kamu, mana yang paling kamu suka?

PS: Foto dokumentasi pribadi, diambil dengan menggunakan Nikon DSLR D5000 lensa Nikkor 18-55 mm.

Minggu, 29 Mei 2011

Dibalik Cerita Perjalanan Para Pencerita

Beberapa teman blogger penasaran sama buku yang saya beli minggu lalu. Bisa jadi karena saking larisnya, saya menceritakan kalo saya sempat kehabisan buku ini di Gramedia Tunjungan Plasa. Beruntung, ketika di Gramedia Grand City saya menemukan buku ini dengan stok kurang dari 10 buku. Khawatir akan kejadian lagi kehabisan kalo saya nggak segera beli, maka saya langsung menebusnya dengan harga Rp. 48.500. Nggak tau alangkah tidak beruntungnya saya atau emang karena momennya nggak tepat, semalem ketika saya jalan-jalan di Royal Plasa, Buku ini berada pada jajaran rak yang didiskon 15%. Alamaak, coba saya nunggu seminggu. Setidaknya bisa sedikit ngirit tujuh ribu perak. *plaak

Apa sih bukunya?. Judulnya THE JOURNEYS. Ditulis oleh 12 orang dari berbagai macam profesi, mayoritas adalah penulis buku. Bisa dibayangkan, 12 orang penulis, masing-masing menyumbang satu tulisan, semua disatukan dalam tema yang sama : Perjalanan.


Sebut saja Adhitya Mulya, Trinity, Raditya Dika, Valiant Budi, Alexander Thian, Farida Susanty, Windy Ariestanty, dan Ferdiriva Hamzah. Beberapa diantara penulis yang cukup terkenal. Dengan gaya bertuturnya masing-masing, Dika, Adhitya Mulya, dan Riva yang kocak abis, atau Trinity yang serius tapi santai. Atau Farida, dengan gaya bercerita a la mahasiswanya. Mereka semua mengisahkan perjalanan masing-masing yang paling berkesan.

Dua kisah dari Indonesia, lainnya tentang kejadian yang mereka alami di Luar Negeri. Dika, bercerita tentang kasih ibu yang-super-lebay-khawatirnya-pada-anak-cowoknya ketika dia dua minggu di Belanda, Adhitya Mulya bercerita ketika dia ditugaskan di Abidjan - menjadi ekspatriat, bersama istrinya Ninit Yunita melihat Afrika dari sisi yang berbeda. Winna Effendi, bercerita tentang pengalamannya di Shuili (ada yang pernah dengar daerah ini??), Windy yang dianggap aneh ketika mengendus-endus buah di Lucerne, dan Trinity yang mengisahkan cerita dibalik Free Traveling.

Rasanya, nggak bosen buat ngebaca berulang kali. Setiap penuturnya mampu membawa pembacanya merasakan sendiri bahwa tidak selamanya perjalanan itu menyenangkan, ada banyak hal yang baru yang akan ditemukan, dan bahwa hal kecil sederhana pun mampu membangkitkan kembali semangat dalam diri. Buku setebal 240 halaman ini nggak sampai 3 jam saya baca dalam perjalanan dari Surabaya menuju Makassar minggu lalu. Dan satu quotes yang saya suka dari prolog dalam buku ini : Hal yang paling menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Sabtu, 28 Mei 2011

Cokelat-Cokelat-Cokelat

Chocolate for me is one of the best creation in the culinary world!

Karena itulah saya nggak bisa buat nggak tergoda sama pesona makanan yang dari nama dan warnanya sama : Cokelat!. Dari mulai yang murahan, sampai yang muahalnya minta ampun. Dari lokal sampe import, dari yang murni tampa tambahan apa-apa sampe dalam bentuk yang aneh-aneh. Asalkan semuanya ada rasa cokelatnya, saya suka banget.

Makanya, gampang kalo mau ngasih hadiah saya. Kasih aja cokelat! hehehe *ngarep.

Soal cokelat, mungkin pertama kali saya tahu makanan ini yaa pas TK. Jamannya cokelat Jago, masih inget?. Satu bar cokelat, berisi enam potong, dengan bungkus warna merah dan putih berlambang ayam jantan?. Duluu banget, harganya masihh Rp 200. Bayangin betapa murahnya kalo kurs saat itu disamakan dengan sekarang. Itu kalo cokelat bar, kalo produk olahan cokelat yang lain, pernah inget juga wafer superman?. Wafer berlapis cokelat yang berbungkus aluminium foil oranye dengan gambar superman terbang?. Kalo saya ulang tahun pas kecil, selalu dibelikan satu bungkus plastik besar isinya wafer ini. Khusus buat saya. Bahkan terkadang, sebelum hari ultah pun dengan nakalnya saya nyolong-nyolong di lemari eyang buat ngambilin itu wafer cokelat.

Karena kecintaan saya sama cokelat itulah kenapa dua kali saya bikin giveaway, saya juga ngasih cokelat kepada yang menang. Terakhir, dalam rangka postingan ke 200 blog Gaphe Bercerita, saya membagikan 3 box Cadburry Choclairs. Kebetulan semua pemenang sudah posting bahwa mereka sudah menerima cokelat kiriman saya. Ita - Aimee Corner, hadiahnya langsung dikasih ke si kecil Dina. Postingannya bisa diliat disini. Terus, Claude C Kenni yang nama aslinya Keven, juga dah nerima plus diposting disini. Terakhir, bunda Mahes juga posting disini kalo dia udah nerima. Berikut foto mereka.

Kebetulan banget, pas kapan itu Kaka Akin juga bagi-bagi cokelat buat yang bisa nebak gambar di salah satu postingannya dia disini yang diumumin disini. Lah koq saya beruntung, menang dapet satu toples kecil cokelat bikinan kakak Akin sendiri. Doh, dengan senang hati saya terima. Hehehe.. Setelah ngirim email, langsung deh sama Kaka Akin dikirim tuh cokelat. Tapi, berhubung saya ngasih alamat kantor, dan dalam dua minggu terakhir saya nggak masuk kantor karena tugas di lapangan.. makanya, baru hari ini saya bisa mencicipi uenaknya cokelat bikinan kaka Akin.


Pertama liat toplesnya koq isinya cuman potongan kertas?. Setelah dibongkar lebih dalam, baru deeh keliatan cokelat yang dibungkus satu-satu pake alfoil. Cicipin satu, asal comot. Ternyata praline cokelat. Mak nyus rasanya, bahkan sebelum dibuka pun harum coklatnya udah kecium dari luar. Kalo boleh nebak, ini tipe cokelat cooking ya Kak?. Nggak tau mereknya sih, tapi perkiraan saya kalo nggak Tulip ya Collata.. soalnya rasanya hampir mirip sih. Dan yang dipake adalah jenis dark atau white, karena kalo dirasain hampir nggak kerasa milk-chocolatenya. Nggak tahu juga yang bener, soalnya cuman asal tebak aja.

Saking khawatirnya Kaka Akin kalo-kalo cokelatnya nggak nyampe, atau kalau nyampe kualitasnya udah berubah, beberapa kali Kaka Akin SMS saya. Nanyain, apa udah sampe?, mesenin supaya masukin kulkas kalo dah nyampe, dan lain-lain. Tapi tenang kak, pas dimakan tadi rasanya masih enak koq! hehehe.. Sip laah, makasih banyak atas kirimannya ya..

Jadi, ada lagi yang mau ngasih saya cokelat?.. Saya kirimin alamat saya deeh.. #pedee

Kamis, 26 Mei 2011

Ngincer Hadiahnya Jeng Susindra

Udah pada kenal sama jeng Susindra kan ya?. Blogger asal Jepara ini lagi bikin giveaway buat sobat blogger semua. Makanya, postingan kali ini Gaphe pengen ikutan ngeramein acara anniversary blognya Susindra. Gampang banget, cuman diminta jawab 2 pertanyaan. Langsung aja, tanpa bas bis bus karena lagi saya juga pas susi susanti (super sibuk susah dinanti) makanya cekibrot!

Pertanyaan pertama tentang selama setahun ngeblog, postingan Susindra yang manakah yang paling disenangi?. Nah, kedapetan pertanyaan beginian, mau tak mau saya kudu ngoprek-oprek kembali isi blognya jeng Susi ini. Kenapa? Terus terang saya baru ngikutin blognya Susi beberapa bulan, nggak full setahun. Apalagi dulu kenalnya juga nggak sengaja terdampar di blog yang menunya gado-gado ini.

Lalu, akhirnya saya mendapatkan satu postingan yang menurut saya paling saya senangi yaitu yang berjudul : Binbin dan Sepeda Buntut. Saya seneng karena beberapa hal, pertama karena judulnya eye catching. Sepeda buntut?? ada ekornya kah??.. ternyata usut punya usut, buntut yang dimaksud adalah butut alias lungsuran. Jadi di postingan itu menceritakan tentang sepeda tua yang diwarisi dari Afif, kemudian dilungsur Ituk, Dinda, Destin, dan akhirnya sampai ke Binbin. Pada note di awal paragraf pun juga dalam maknanya :

berbaik-baiklah dengan tetanggamu karena merekalah yang akan pertama kali datang membantumu kala kamu ditimpa kesusahan, sebelum orang tua dan saudaramu yang lain.

gambar minjem dari Susindra di postingannya tersebut.

Alasan kenapa saya senang sama postingan ini karena sepeda butut yang ada di gambar, miriiip banget sama sepeda roda tiga saya waktu kecil. Saking awetnya, juga dilungsur sama Adit, sama Randy.. kedua adek saya. Namun karena memang pada akhirnya rusak, sekarang sepeda itu sudah teronggok menjadi besi tua berkarat. Berantemnya Revan dan Binbin dalam postingan tersebut mengingatkan saya dulu berantem sama adek saya juga kalo lagi rebutan sepeda. Walaupun usia saya sama Adit terpaut 4 tahun, tapi tetep soal sepeda tuh ngggak mau ngalah satu sama lain. Kalo udah berantem, biasanya saya yang menang secara lebih tua *nggak mau ngalah*.

Praktisnya lagi, sepeda roda tiga punya saya dulu multifungsi. Kalo dijungkir balikin, bisa buat mainan pura-pura jadi tukang jual es. Puter rodanya, trus esnya make tanah pasir. Kangen deh masa-masa kecil itu. Sayang, foto sepeda roda tiga itu ada di Jogja.. Nggak bisa saya posting disini.

Dari postingan Susindra yang itu juga ternyata banyak hal yang bisa diambil hikmahnya, dari mulai konsep parenting mendidik anak sampai ke bagaimana berhubungan baik dengan tetangga. Karena memang bener apa yang dikatakan Susindra.. jangan sampai karena masalah kecil, hubungan baik dengan tetangga bisa rusak. Nah.. kalo masih bingung apa sangkut pautnya antara sepeda buntut dan hubungan antar tetangga antar bangsa?? langsung aja cek postingannya dilink itu.

Next Question : kesan dan pesan buat Susindra. Menurut saya, businesswomen yang satu ini juga pernah mengalami masa-masa sibuk. Pernah menjadi distributor suatu produk yang cukup terkenal, pernah juga berbisnis meubel khas Jepara, ibu kantoran dan merangkap juga sebagai fulltime housewife. Saya ngebayangin emang susah bagi waktunya, tetapi masih bisa sempet ngeblog dan blogwalking. Tapi per Mei ini sepertinya Susindra sudah fokus untuk menjadi ibu rumah tangga saja.

Blog Susindra selain menceritakan kisah harian, juga beberapa mengulas tentang film dan buku. Saya pernah baca juga tentang ulasan buku yang berjudul the Host, atau film, bahkan juga lagu yang disajikan menarik oleh Susindra. Nggak cuman itu, blognya komplit juga isinya menceritakan tentang daerah tempat tinggalnya di Jepara, mulai dari museum RA Kartini, tradisi dan kesenian tradisional, atau tempat wisata seperti Pantai Kartini. Sekali kunjungan bisa dapet komplit lah, termasuk bahkan ada ulasan tentang seluk beluk blog dan internet juga.

Pesen buat Susindra, selamat ulang tahun buat blognya yang pertama. Semakin semangat ngeblognya, semakin sayang sama keluarga, terutama suami dan anak-anak, dan semakin sukses dengan semua urusannya. oke Jeng? Review ini diikutsertakan dalam Giveaway Susindra yang deadlinenya 28 Mei 2011. Yang mau ikut, monggo diklik linknya.

Rabu, 25 Mei 2011

Joged-Joged Yuukk

Kalo hari libur, jalan ke Mal apalagi yang cukup gede dan terkenal biasanya bakal nemuin banyak acara. Kayak kemarin libur weekend, saya mampir di Grand City Surabaya. Niatnya ke Gramedia, buat beli buku. Tapi baru masuk lewat pintu belakang, udah kedengeran suara musik menghentak.. Penasaran, sayapun mendekat. Dan oooh.. betapa (beruntung)nya saya menemukan wisata aurat gratisan!. Senam Aerobik massal! *jejingkrakan*

Doh, nemu ibu-ibu paruh baya, sekitar dua puluhan dan tiga puluhan, pake baju senam begitu enerjik menghentakkan kaki dan meloncat kesana kemari mengikuti instrukturnya di atas panggung. Ternyata, nggak cuman cewek yang ikutan. Buset, ada cowok juga yang ikutan pake celana mini. Huahahaa.. geli sekaligus merinding, sumpah jijik banget liatnya.. apalagi kalo dari gayanya melambai gitu.. Jeprat-jepret bentar, langsung melipir ke Gramedia buat nyari buku baru yang udah saya incer.. untung ketemu, setelah di gramedia Tunjungan kehabisan.

Ayooo coba tebaakk.. mana yang cewek mana yang cowok??
(sumpeh merinding ngeri gilaa.. liat cowok megal-megol pake mini pants)

Abis bayar bukunya, turun ke basement liat ada pengumuman Majapahit Travel Fair 2011 di gedung convex (Convention & Exhibition) sebelah. Karena convexnya nyatu sama mal Grand City, jadilah tinggal jalan bentar lewat lorong sambungannya. Dan lagi-lagi saya beruntung dapet tontonan gratisan. Di Majapahit Travel Fair ini lagi ada lomba tari tarian tradisional. Pesertanya sih banyak, dan bebas menarikan tari tradisional apapun.



Ada yang dari sanggar tari,ada yang dari kelompok ekskul SMA, atau sekedar ikut aja. Seru sih liat beberapa penari megal-megol diiringi gamelan dari sound system. Meski kebanyakan yang ikut lombanya cewek, ada grup cowoknya juga koq. Nariin tari tradisional dari jawa timur, saya lupa juduulnya apaan.. tapi kalo liat yang ini nggak geli kayak liat cowok aerobik di atas. *plaak.

Nah, Majapahit travel fair ini diselenggarakan dalam rangka menggiatkan pariwisata di kawasan Jawa Timur terutama. Dengan mengusung tagline : visit East Java 2011, banyak booth yang menampilkan lokasi wisata andalan masing-masing kabupaten di Jawa Timur. Sebenernya nggak murni dari kabupaten di Jatim aja sih, secara ada juga yang ikut dari luar daerah seperti kepulauan Riau, atau Papua. Ada juga travel agency yang ngobral paket liburan keluar negeri. Seru juga, tapi kalo liat harganya... huummm.. itu mah bukan obral, bayangin aja paket ke eropa sekitar 2000an dolar amerika untuk 11 hari perjalanan.. buset dah, tujuh belas jeti.. duit darimana???.. hahahaha..Liat beginian, kayaknya kalo sabtu minggu nggak ada acara... jalan ke mal enak juga kali ya, siapa tau nemu joged gratisan. Tariik maaang!.

Selasa, 24 Mei 2011

Ngerujak Uleg Rame-Rame

Coba bayangkan berdiri di tengah 1500-an manusia yang lagi nguleg rujak berbarengan rame-rame?. Bukan mimpi, bukan khayal, karena itu yang saya rasain minggu lalu di Jalan Kembang Jepun (Kya-Kya) Surabaya pas jam dua siang. Saya hadir dalam perhelatan akbar Festival Rujak Uleg 2011 dalam rangka ulang tahun kota Surabaya yang ke 718.


Bayangin, dengan jumlah meja sebanyak 240 lebih dan tiap meja memiliki anggota berkisar antara 7-10 orang, bersama-sama memotong-motong lontong, kedondong, tahu, dan mie untuk sama-sama diuleg jadi rujak, sebuah pengalaman yang menurut saya lebih dari sekedar wisata. Saya beruntung, karena pas dilaksanakan perhelatan ini saya berada di Surabaya. Bagi seorang yang suka traveling seperti saya, acara festival di satu daerah atau satu tempat yang khas (dan tidak setiap hari terlaksana) menjadi to do list wajib untuk dikunjungi.

real crowd

Aroma tajam petis menguap diudara, bercampur dengan riuh rendahnya suara teriakan dari masing-masing peserta. Rame pastinya, karena salah satu yang dinilai dari festival rujak uleg ini adalah gaya dan kekompakan peserta. Tak heran, urat malu peserta udah pada putus karena di tengah teriknya matahari mereka masih mampu berjoget, teriak, dengan menggunakan kostum yang-gila-pede-abis-kalo-nggak-gila-beneran.




Sebanyak 1500 peserta itu berasal dari BUMN, Instansi pemerintahan, institusi pendidikan SMA-SMK dan Universitas, kelurahan dan kecamatan, dan bahkan ada juga kelompok masyarakat atau komunitas tertentu. Berbaur menjadi satu, melakukan hal yang sama yaitu : bikin rujak uleg!. Pesertanya heboh, penontonnya juga ikut heboh. Nggak heran kalo festival rujak uleg tahun ini adalah yang paling besar jumlah pesertanya. Saking ngetrendnya rujak uleg, dari festival ini mengukuhkan rujak uleg menjadi makanan khas Jawa Timur yang masuk paten.

Beruntung, semua penonton dapet gratisan rujak ulegnya!. Bisa dibilang, mereka membagikan rujak uleg secara gratis kepada yang mau. Kalo mau mabok rujak uleg setahun sekali, yaa disini tempatnya. Dan beruntungnya bagi saya lagi adalah bisa ketemu secara langsung sama bu Walikota Surabaya, Bu Risma.. yang juga ikut memeriahkan lomba dengan membuat rujak uleg dari tangannya sendiri.

Ini Bu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Ngelap tangannya setelah nguleg rujak, masih pake celemek.

Festival ini juga memperebutkan banyak hadiah dari banyak sponsor, sepeda motor, televisi, sepeda roda dua dan banyak macemnya menarik banyak peserta untuk ikutan. Dari 240 peserta diambil 40 besar dari kreativitas, kehebohan, kekompakan dan bagaimana cara menyajikan rujak ulegnya. Dari 40 besar ini kemudian diminta menyerahkan masterpiece rujak ulegnya ke panggung untuk dicicipi rasanya. Lima besar dengan nilai rasa tertinggi berhak membawa pulang banyak hadiah!.

Ah.. panas terik matahari yang tepat berada di atas kepala saat itu tergantikan dengan segarnya rasa rujak uleg dan riuh rendahnya suara suporter...

Senin, 23 Mei 2011

Do's and Don't Dalam Mendidik Anak (Sebuah Tips Anak Kos Dodol)

Kasih ibu.. kepada beta.
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.

Ring a bell dengan lagu tersebut?. Sewaktu kecil kita kita sebagai orang tua pasti pernah merasakan menyanyikan lagu kasih ibu tersebut. Entah tulus dari dalam hati atau karena paksaan dari guru taman kanak-kanak berbadan gendut dan bersanggul sambil memegang mistar. Mau tak mau memang sebagai anak sekolah yang duduk di institusi pendidikan terutama di Indonesia, lagu kasih ibu seakan menjadi lagu wajib untuk menunjukkan betapa besar kasih sayang orang tua kepada kita.

Tapi pernahkah kita berpikir mengapa orang tua mendidik kita dengan gayanya masing-masing?. Ya, hampir semua orang bilang kalo tidak ada buku panduan baku tentang cara mendidik anak. Semuanya trial and error, alias uji coba. Kalo berhasil ya syukur, tapi kalo gagal ya nasib!. Hemm, saya tidak terlalu sependapat dengan hal tersebut. Karena dari jaman dulu sampai sekarang, pasti sudah ada jutaan anak yang berhasil dan jutaan anak lainnya yang gagal. Lalu masa sih kita tidak belajar bagaimana mendidik anak supaya berhasil-dari-belajar-kasus-yang-sudah-berhasil, alih-alih melakukan uji coba kepada anak kita sendiri?.


Setiap anak unik, setiap anak punya cirinya masing-masing. Itulah mengapa butuh pendidikan yang menyesuaikan dengan masing-masing anak. Tidak, bukan hanya pendidikannya saja tetapi terlebih adalah pada bagaimana cara kita mendidik anak. Terus terang, saya tidak memiliki pengalaman bagaimana mendidik anak karena saya belum pernah memiliki anak. Tetapi tentang perbedaan cara mendidik anak seperti ini, mengingatkan saya akan sebuah film yang semalam saya tonton berjudul Yours, Mine and Ours.

Dikisahkan seorang ayah berstatus duda beranak delapan mendidik anaknya serba militer, karena ayah tersebut adalah seorang komandan angkatan laut. Saking teraturnya, lebih mengingatkan saya tentang seorang melankolis yang koleris dominan. Serba teratur, disiplin, dan keras. Duda ini bertemu dengan seorang janda, teman crush in love SMA-nya dulu yang memiliki 10 anak. Namun, cara mendidik si janda terhadap kesepuluh anaknya ini berbeda. Karena tipe orangnya yang sanguinis-phlegmatis, sesuai dengan jobnya sebagai desainer. Bisa dibayangkan ketika mereka menikah, dan anak-anaknya bercampur menjadi saudara - dengan karakter pendidikan yang berbeda, susah bersatu dan butuh waktu untuk proses memahami.

Mana yang benar?. Tidak ada yang benar. Karena dalam membesarkan seorang anak, sekali lagi memang harus menyesuaikan karakternya. Lalu, darimana karakter itu kita ketahui?. Sebetulnya karakter akan lahir dari kebiasaan, dari sikap, dan dari keseharian. Anak adalah seorang peniru yang ulung, maka tidak jarang karakter orang tua akan menurun kepada anaknya. Pernahkah kita ingat orang tua berkata kepada kita dulu saat kita bandel : "coba besok kalo punya anak, bandelnya kayak kalian?, kalian mau gimana?". And guess, what you say is what you get, voilaa.. anak kita akan berperilaku mirip kita!.

Lalu bagaimana mengarahkan dan mendidik anak agar sesuai dengan minat dan kemampuannya?. Karena anak adalah peniru, dan kebanyakan yang ditiru adalah orang tuanya, maka jangan pernah memaksa anak untuk melakukan apa yang kita senangi. Cukup berikan pujian ketika kita tahu apa yang dilakukan anak adalah hal yang benar, tetapi jangan pernah berlebihan. Apalagi sampai dimanja. Saya pernah mendengar cerita dari klien saya, anak satu tahun yang sudah bisa jalan tetapi tidak bisa berbicara mengucap kata. Tidak, bukan bisu. Ternyata, keterlambatan bicara dari anak tersebut sebenernya adalah karena orang tuanya yang terlalu memanjakannya. Ketika dia menangis, semuanya langsung dituruti kemauannya. Jadi, anak secara alami akan belajar bahwa hanya dengan menangis semuanya bisa selesai dan keinginannya terpenuhi. Itulah yang menyebabkan dia mengalami keterlambatan bicara, karena malas buat berlatih bicara!. See, ini baru umur satu tahun! efeknya sudah begitu dahsyat, apalagi kalo sampe berumur dewasa kan?

Anak akan berproses dengan sendirinya, mungkin di usia tiga tahun dia akan menyukai sesuatu yang berbau seni, musik atau semacamnya. Di usia lima tahun, ketika dia sudah mengenal teman mungkin dia akan lebih menyukai hal yang berupa aktivitas fisik. Jadi minat anak akan berubah seiring dengan waktu, hal yang orang tua bisa lakukan adalah mengarahkan anak supaya konsisten. Jika anak ingin berhenti melakukan sesuatu karena bosan misalnya, atau karena melihat sesuatu yang lebih menarik.. itu wajar. Tetapi sebenarnya sikap orang tualah yang penting. Karena bila sedari kecil kita mendidik anak ketika memulai sesuatu lalu gampang berhenti, sebenarnya perlahan kita sedang menciptakan seorang quitter atau pembosan kelak dikemudian hari. Maukah kita?. Lalu bagaimana antisipasinya?. Balik lagi bagaimana cara kita memberikan Motivasi dan Encourage ke anak untuk tetap bertahan.


Terkadang ketika kita tidak menuruti apa yang anak inginkan, anak lalu membangkang. Bandel, dan susah diatur. Sebagai orang tua, kita tidak ingin di cap sebagai seorang yang gagal mendidik anak kan? Apalagi ketika membawa anak kita di suatu tempat, lalu si anak berulah di tempat umum, yang tentu saja mengundang lirikan banyak orang kepada kita seolah berkata : "Siapa sih orang tua anak ini?. Bisa mendidik anak nggak sih?". Kalo sudah begini, apakah kita sebagai orang tua pantas malu?. Tidak, karena bagaimanapun juga itu anak kita. Anak menjadi bandel, nakal, susah diatur pasti selalu ada penyebabnya. Harus dicari akar permasalahan kenapa anak menjadi seperti itu. Karena minta perhatian sebab kedua ortunya sibuk bekerja kah? atau justru anak tidak mendapat apa yang dia rasa menjadi haknya?. Maka, terkadang sistem punishment and rewards disini akan berperan banyak. Dengan memberikan punishment, anak akan tahu bahwa yang dilakukannya itu tidak benar. Tetapi bila dia mendapat rewards, berarti anak boleh bangga karena dia telah melakukan sesuatu dengan benar. Lalu bagaimana bentuk punishment yang efektif?. Tergantung masing-masing anak, tetapi yang jelas bentuk ancaman fisik tidak akan pernah berhasil karena justru akan meninggalkan trauma yang tidak akan hilang begitu beranjak dewasa.

Pernah nonton Super Nanny atau Nanny 911?. Di tayangan tersebut, menghukum anak caranya adalah dengan detention corner, atau tempat duduk hukuman. Jika anak nakal, anak diminta duduk di tempat tersebut beberapa menit tergantung dengan besar kesalahan. Semakin besar kesalahan, semakin lama dia menjalani detention. Saya pernah melihat cara ini langsung didepan mata saya ketika saya sedang bersantap di sebuah restoran waralaba. Ketika itu ada seorang bule beserta keluarga besarnya sedang makan, dan anak si bule yang mungkin seumuran SD tidak mau makan dan bersikap tidak baik di meja makan. Sang ayah lalu membawa anak tersebut ke pojok restoran, sambil berkata karena kamu bersikap tidak baik kamu dihukum harus berdiri disini 10 menit. Anaknya nangis, di pojokan. Banyak orang Indonesia lain yang kasihan sama anaknya, bahkan seorang waitress pun mencoba menghiburnya tetapi si bapak bilang biarkan saja karena sedang dihukum. Waktu 10 menit berlalu, si bapak bule lalu mendekati si anak dan bilang : kamu sudah tahu kesalahan kamu?. Anak mengangguk, lalu si bapak bilang : lalu apa selanjutnya?. Anak bilang : i'm sorry. Si bapak memeluk anak itu dan kembali ke meja makannya.

Bisa lihat kan, nggak perlu kekerasan kan buat mendidik anak. Saya nggak bilang cara bule itu bagus atau saya menyuruh anda meniru cara mendidik ala kebarat-baratan. Contoh di atas hanya menunjukkan bahwa tidak harus menggunakan kekerasan dalam mendidik dan membesarkan anak pun juga bisa berhasil. Bahkan di kultur Jawa, cara mendidik anak dengan cara halus juga ada. Jaman ibu saya dulu waktu kecil, jika ada perintah eyang yang tidak dituruti maka makan siang tidak boleh pake lauk. Disaat jaman segitu ketika lauk menjadi satu hal yang mewah, pasti ibu saya akan menurut dan bersikap baik supaya ketika makan siang bisa menggunakan lauk.

Nah, tentu saja hal ini berubah seiring dengan perkembangan jaman. Kalo cara eyang saya mendidik ibu saya itu diterapkan sekarang, tidak akan mempan. Anak sekarang udah ngerti duit, dan bisa beli lauk sendiri. Makanya kenapa seiring dengan perkembangan jaman, sebagai orang tua juga harus update bagaimana mendidik anak dengan baik. Terkadang, sekarang anak jauh lebih pintar dari orang tua soal teknologi. Dan nggak jarang juga, orang tua kalah dan nggak tahu apa-apa soal teknologi. Internet, Mobile phone, TV kabel apapun benda-benda teknologi sekarang sudah menjadi bagian keseharian dalam kehidupan anak. Peran orang tua sebenarnya disini adalah sebagai controller. Orang tua wajib tahu tentang apa saja yang digunakan anaknya, kalau perlu memberikan arahan sebab dan akibatnya. Controller disini bukan berperan sebagai pengawas, karena anak tidak akan pernah nyaman diawasi semua kegiatannya oleh orang tua. Anak butuh ruang privasi juga, dan sebagai orang tua yang bijak kita harus memberitahu batasannya. Peran controller disini lebih sebagai seorang partner, atau teman bagi si anak. Nah disinilah multifungsi orang tua, selain sebagai ayah atau ibu juga harus bisa sebagai teman anak. Dengan menjadi teman anak, kita pasti dengan mudah mengetahui apa yang anak lakukan dan bisa mengarahkan dengan bijak mana yang baik dan mana yang kurang.

Jadi, sudah siapkah menjadi orang tua??



Artikel di atas diikutsertakan dalam kontes April Mei Bayu Family Berbagi. Yang diselenggarakan oleh Arief Bayu Saputra sekeluarga, dalam rangka ulang tahun Istri mas Arief Bayu yang jatuh pada 23 Mei, serta menyongsong kelahiran buah hati pertama mereka. Selamat ulang tahun buat istri tercinta, semoga panjang umur, sehat selalu, diberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap urusannya.


PS : Tidak ada seorangpun anak yang tersakiti, terluka, atau cidera dalam proses penulisan artikel ini. Model anak diperagakan oleh anak kolega saya.

Minggu, 22 Mei 2011

Bulan Kontes, Saatnya Review!


Yep, Bulan Mei ini rasanya banyaak banget kontes. Nggak afdhol rasanya kalo nggak ikutan beberapa diantaranya, termasuk salah satu yang lagi diadakan sama mbak Dhana Arsega. Sudah pada kenal blogger yang nama aslinya Rihar Diana ini?. Kalo belom kenal, saya preview sedikit tentang beliau deh!.

Nah, Mbak Dhana - begitu biasa ia dipanggil, adalah blogger asal Indonesia yang sering melanglang buana ke mancanegara. Aslinya dari kota Malang, dan sudah menikah kebetulan dengan blogger juga yang namanya mas Arif Cu. Setidaknya itu informasi yang bisa saya peroleh dari kolom facebooknya. Kalo soal blognya, salah satu yang saya ikuti yaitu dhanaarsega.blogspot.com sudah memiliki follower hampir menyentuh 1500 orang. Bisa kebayang gimana terkenalnya kan?. Gambar disamping adalah foto profilnya di FB, agak sedikit mirip sepertinya dengan foto aslinya. Sebenernya saya nggak berani masang fotonya mbak Dhana yang asli soalnya belom minta ijin. hehehe... Jadi saya masang foto profil FB nya aja deh ^_^



Awalnya saya ngikutin soalnya tertarik dengan cerita tempat-tempat di China, terutama di Shanghai, Hongkong - Macau, atau Guang Zhou dan beberapa tempat di China lainnya. Karena ternyata, Mbak Dhana ini juga bekerja di China. Namun, ternyata blognya membahas banyak hal termasuk bagaimana mengoptimalkan isi artikel blog, SEO dan bisnis internet, sampe banyak hiburan dan pencerahan agama. Kalo diibaratkan supermarket, blognya ini one stop shopping deh!. Untuk memfasilitasi para followernya dalam mendiskusikan satu topik, Mbak Dhana ini juga bikin grup Dhana Discussion di Facebook.






Apa itu Dhana Discussion?. Ini adalah wadah bertemunya blogger-blogger untuk sharing macam-macam. Nggak cuman tukar link, tukar informasi, tapi juga bisa langsung diskusi dengan banyak topik. Saya follow karena pengen mengamati dan belajar, karena jujur boleh dibilang saya jaraang banget melontarkan topik diskusi. Apa saja yang dibahas di Dhana Discussion?. Hemm banyak banget deh, dan karena saking banyaknya topik akhirnya setiap harinya dimunculkan peraaturan baru tentang topik yang didiskusikan. Seperti hari senin, diskusi tentang tutorial blogspot dan wordpress, selasa tentang bisnis online, rabu tentang traffik, kamis tentang berita, jumat tentang agama, sabtu tentang permainan, dan minggu diskusi bebas alias refreshing. Nggak melulu soal jalan-jalan ternyata, karena saya banyak tahu juga tentang blog dari diskusi di Dhana Discussion.


Saat ini, DD - singkatan untuk Dhana Discussion sudah menyentuh angka 221 member. Angka yang terus bertambah, karena pas dulu saya ikut sebenarnya masih jaman dibawah 100 member. Salah satu yang biasa ditunggu di DD adalah kuisnya, karena Mbak Dhana seneeng banget bisa berbagi hadiah makanya di DD tiap hari sabtu isinya tebak-tebakan kuis. Rada nyleneh memang dari banyak pertanyaannya, unik dan jawabannya kadang bikin ngakak. Seperti kuis terakhir, petunjuknya harus mengotak-atik nama mbak YANI menjadi petunjuk untuk menjawab pertanyaan hal yang paling penting dalam berbisnis online, berpendapat, tukar link atau sharing. hahaha.. sangat menghibur!.


Nah, dari kuis-kuis ini dapet poin untuk diundi buat dapet hadiah macem-macem.. mulai dari paket domain dan hosting selama 1 tahun (ini yang saya incar), souvenir dari Hongkong (ini juga saya ngincerin), bahkan sampai pulsa dan duit cash dollar (semoga jadi sesuai dengan jumlah peserta). Kadang banyak pikiran yang muncul juga, mbak Dhana bagi-bagi hadiah banyak itu dapet rejeki dari mana yaa?.. yaa memang urusan rejeki itu menjadi rahasia Allah, dan terakhir saya dengar mbak Dhana barusan dapet iPad gratisan dari China karena ikut lomba fotografi. Ckckck.. salut buat mbak Dhana.


Nah, pengen kenalan lebih dekat dengan beliau dan syukur-syukur dapet hadiahnya.. ikut aja kontes review Dhana Disccussion. Mumpung masih bulan Mei looh!.


Buat mbak Dhana, yang katanya belom ada yang ngasih puisi.. nih saya coba utak-atik bikin puisi buat mbak Dhana. Berhubung nggak ada bakat, jadi puisinya rada ngasal. hehehe..



Dalam terangnya sinar bulan

Heningnya malam seakan tanpa bias

Andaikan saja, sang kapal melabuhkan sayapnya

Nyata namun terasa tanpa kata

Akankah kamu dapat mempercayainya?



Ah, omong kosong..

Resah terkadang menggelora di jiwa

Seakan bisu, tanpa hadirmu disini

Enggan menyapa meski kuyakin kau ada

Gembira meskipun tetesan air mata meraja

Akankan kamu dapat menerimanya?



Btw, ada bakat nggak saya jadi penyair dadakan?.. hahahaha.. *plaak.

Cerita dan review di atas diikutsertakan dalam Kontes Review Dhana Discussion. Wish Me Luck!



PS : Makasih banyak buat yang udah pada mampir, maaf banget belom ada kesempatan buat berkunjung balik sekali lagi karena masalah koneksi internet. Hal yang paling menyedihkan buat blogger ketika mau BW adalah ketika koneksi internetnya tidak mendukung T_T


Hadiah Cerita Untuk Vania

Halo Vania,
Hari ini adalah hari ulang tahun kamu yang ketiga. Selamat ulang tahun ya keponakanku yang cantik, cah ayu.. semoga panjang umur, sehat selalu, makin pinter, makin disayang keluarga, dan selalu dirahmati Allah SWT. Di hari pertama usia kamu yang ketiga ini, Om pengen banget kasih hadiah. Tapi hadiahnya cerita ya nak ya.. semoga ayah, atau bunda bisa bacakan cerita ini buat kamu.

Vania,
Om mau cerita tentang perjalanan om yang nggak terlupakan. Setahun lalu, saat pertama kalinya om menginjakkan kaki diluar bumi bernama Indonesia. Ternyata dunia itu luas nak!. Ada negara-negara lain selain Indonesia. Dan kebetulan, om mendatangi salah satu negara tetangga kita yaitu Singapore. Gratis pula!. Bagaimana caranya?.. ini yang Vania harus tahu ya nak ya.. supaya kalo nanti kamu tambah gede, sudah bisa jalan-jalan sendiri, kamu tahu bahwa ada banyak cara jalan-jalan dengan gratis. Nggak bayar, malah kadang gantian dibayar.. tapi kalo pergi sendiri, jangan lupa pamit sama ayah bunda ya nak.

Ini patung merlion, ciri khasnya Singapore.

Iya, setahun lalu tepat bulan Juni, Om diminta hadir dalam sebuah Konferensi Internasional. Pesertanya dari mana-mana, ada yang dari India, Australia, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Jepang, dan beberapa negara lain. Disitu om diundang sebagai penerjemah bahasa untuk delegasi asal Indonesia. Jadi, karena tugas itulah maka om bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan gratis. Nggak cuman itu Vania, Om juga diberikan penginapan yang mewah banget. Selama tiga hari dua malam, Om menginap di Swissotel the Stamford. Hotel itu terletak persis di seberang tugu pahlawannya Singapore, dengan pandangan langsung menghadap ke Esplanade. Kalo Vania belum tahu, Esplanade itu adalah gedung beratapkan mirip kulit buah durian. Dari kamar Om di lantai 28, bisa melihat langsung patung merlion dan Marina Bay Sands. Itu looh, yang gedung hotel dan kasino dengan bentuk atap menyerupai kapal.



Ini pemandangan dari balkon kamar Om di lantai 28, bagus banget ya kalo malam?.

Nah, karena di sela-sela konferensi itu ada waktu-waktu bebas, maka om jalan-jalan muter-muter di Singapore. Ternyata Singapore itu modern Van!, banyak hal yang tidak ada di Indonesia. Seperti misal transportasi umumnya yang disebut MRT (Mass Rapid Transport). Kalo Vania pernah naik kereta, itu hampir sama tetapi tidak ada masinisnya. Bersih juga tempatnya dan disiplin waktunya. Oh iya, yang Om lihat di MRT kebanyakan orang-orang didalamnya tidak mengobrol, masing-masing ada yang pegang buku, mendengarkan musik.. asyik sendiri-sendiri. Kalo yang ini jangan ditiru ya nak, karena individualisme dan egois itu nggak baik.

Dengan MRT bisa jalan-jalan kemana-mana dalam waktu singkat loh Van. Kadang cuman lima menit udah nyampe. Ada beberapa tempat yang bisa kamu datangi kalo kamu ke Singapore, sengaja Om kasih gambar biar kamu ada bayangan gimana tempatnya yaa..

Yang ini namanya Esplanade, gedung beratap mirip kulit durian ini merupakan tempat pameran, aula untuk konser, ataupun galeri seni.

Ini namanya Little India, tempat ketemu sama komunitas India. Tapi Om nggak nemu orang joget India disini tuh!.. Kalo Vania mau ngasih oleh-oleh ayah bunda, bisa beli di sini. Murah-murah lo sayang, sepuluh dolar dapet tiga barang.


Ini tempat belanja paling terkenal di Singapore, namanya Orchard Road. Nah di belakang om itu salah satu malnya yang bernama ION. Kalo punya duit banyak, bolehlah beliin barang bermerek buat keluarga ya..


Ini Vivo City, mal di ujung selatan Singapore. Ada banyak tempat bermainnya yang pasti kamu suka. Disini kamu bisa main air dan berlarian di taman hijau di atas gedung. Dari atas, kamu bisa lihat juga Sentosa Island, tempat dimana semua imajinasi bersatu.


Om cerita tentang Singapore ini dengan gratis supaya Vania punya mimpi bisa jalan-jalan ke Luar Negeri juga nanti kalo sudah besar. Karena keluar negeri nggak harus bayar loh, bisa gratis kayak yang Om lakuin. Makanya, belajar yang rajin ya nak.. tambah wawasan kamu, sering membaca, dan berkarya. Om doain buat kamu juga biar suatu hari nanti kamu juga bisa jalan-jalan ke Luar Negeri..

Cerita ini diikutsertakan untuk memeriahkan “Vania’s May Giveaway” yang diadakan di sini.

Senin, 16 Mei 2011

It's Glad To Be Home



Its glad to be home..

Selalu saja ada alasan untuk pulang kembali ke Jogjakarta. Meskipun mungkin hanya sekedar melepas rindu dengan keluarga, atau sekedar leyeh-leyeh menyelonjorkan kaki di depan televisi. Yup, liburan 4 hari ini saya manfaatkan untuk bener-bener berlibur.

Maksud saya dengan benar-benar berlibur adalah saatnya off dari berbagai kegiatan yang menyita pikiran. Tidak harus pergi ke tempat wisata, tidak harus menjelajah tempat baru, cukup menggelar karpet dan tidur siang sambil menikmati acara TV.. buat saya itu sudah termasuk liburan. hahaha.. *alasan, padahal nggak ada rencana mau jalan kemana dan sama siapa.

Itulah kenapa karena saking keasyikannya berlibur, sampe lupa kalo punya blog yang kudu diurusin. Well, hari ini saya mau cerita apaan ya?. umm.. nggak jauh-jauh dari kuliner aja sih.

Udah pernah tau oseng-oseng mercon?. Masakan super pedas dengan isi daging, kikil, dan tentu saja cabe ini udah lumayan terkenal di Jogjakarta. Semalam saya menyempatkan diri bareng bunda dan adik saya paling kecil buat makan-makan a la lesehan jogja di warung Bu Narti di Jalan Achmad Dahlan, wilayah Ngabean Jogjakarta.





Nggak cuman oseng mercon yang dijual disini, ada juga ayam goreng atau bakar, burung dara, dan burung puyuh. Ada juga bebek, jerohan semacam ati rempela, iso atau babat, yang semuanya bisa digoreng atau dibabat. Menu pilihan saya adalah burung puyuh. Satu ekor burung puyuh, dibumbuin bacem-manis kemudian dibakar, disajikan dengan nasi pulen yang anget menggoda. Uuh, nggak bakalan tahan dengan bentuknya deh!.



Belom lagi, ditambahin sama seporsi oseng mercon yang aduhai bikin liur netes duluan sebelum nyicipin. Gimana enggak, bau cabenya bener-bener kerasa dan menandai kalo itu beneran bakalan meledak di mulut seketika. Tersaji berwarna coklat keemasan, berminyak, dan humm... yumilah yumiwati.


Soal rasa, burung puyuhnya jago!. Kalo buat yang nggak pinter masaknya, burung puyuh tuh bakalan bau amis saat dimasak. Tapi ini enggak, enak banget. Manis, legit, dan kenyal melebihi daging ayam. Mungkin karena tipikal burung puyuh yang ukurannya cuman segenggaman tangan, dan lebih lincah bergerak makanya ototnya jadi lebih liat dibanding ayam kali ya?. Tapi beneran deh, jago puyuhnya!.

Oseng merconnya jangan ditanya, di spanduknya aja tertulis pelopor nomor 1 di Jogja.. jadi beneran puedes minta ampun. Cuman enak, nggak kerasa pedes aja tapi bumbu gurih dan manisnya masih berasa. Yaa namanya juga yang jual orang Jogja basic makanannya selalu manis kan?. Enak laah pokoknya.

Kalo soal harga, tentu aja di Jogja terkenal murahnya. Seporsi oseng mercon dihargai 10 ribu rupiah, dan burung puyuh bakar yang saya pesen cuman 9 ribu rupiah. Murah kan?. Ayoo makanya ke Jogja, trus cobain Oseng-oseng mercon yang dijamin bikin idung meler!!..

Kamis, 12 Mei 2011

Pasar Malam Tjap Toenjoengan

Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek rame-rame bebarengan
Cak ayo cak sopo gelem melu aku
Cak ayo cak golek kenalan cah ayu
----------------------------------------------------------------------------

Pernah dengar lagu rek ayo rek, kas Surabaya?. Setidaknya potongan lirik di atas mampu membawa kembali ingatan teman-teman akan lagu ini. Bukan masalah rame-rame sama temen yang akan saya share hari ini, bukan pula masalah cari kenalan cah ayu juga yang akan saya bahas hari ini. Tapi soal Tunjungan.

Kawasan ini memang sejak jaman dahulu terkenal dengan hiburan dan pleasure. Sebuah kawasan yang hampir di kata berada tepat di pusat kota Surabaya, dekat dengan kantor-kantor pemerintahan, jalan besar, dan ah.. mungkin sisa-sisa kejayaan masa lampau bangunan tuanya masih terlihat kokoh berdiri. Yang menjadi ikon hiburan dari kawasan ini sampai sekarang adalah Tunjungan Plasa (TP), mal 8 lantai yang ukurannya segede gaban. Setidaknya, ada empat blok yang disatukan dengan atrium hall di tengahnya, makanya ada yang menyebutkan TP1, TP2, TP3, dan TP4. Oke, kalo susah ngebayanginnya.. satu blok saja sendiri bisa disebut sebagai satu mal. Bayangkan kalo 4 blok mal jadi satu?.. Ya tak heran kalau TP adalah salah satu pusat perbelanjaan terfavorit buat warga Surabaya.

Semalam, saya kesana dan menemukan satu acara yang sudah ketiga kalinya diadakan di Tujungan. Pasar Malam Tjap Toenjoengan. Frasa pasar malam itu sudah mewakili memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang ada disana. Dan tjap toenjoengan, bisa jadi menjadi salah satu ikon wajib karena diadakan di Tunjungan. Terbukti, dengan tagline tema kali ini : gak enek tunggalle rek! yang berarti tiada duanya, Pasar Malam Tjap Toenjoengan ini menjadi agenda wajib yang selalu diadakan untuk memeriahkan hari jadi kota Surabaya.


Ejaan lama Tjap Toenjoengan ini juga setema dengan apa yang ada di dalam pasar malam. Gubug-gubuk beratap jerami, obor atau lentera minyak tanah, anyaman bambu sebagai dinding, yang kesemuanya berujung pada suasana Tempoh Doeloe yang kental. Apalagi dengan ditunjang berbagai acara yang juga mengingatkan pada Soerabaja tempoh doeloe, semakin memperkuat tema perjuangan yang ingin diangkat. Dengan mengambil centerpoint di tengah, didirikanlah sebuah panggung bernuansa rumah adat Jawa dan big screen dengan tampilan film-film perjuangan.

Layaknya seperti pasar malam yang lain, tentu saja banyak jajanan dan orang jualan. Terlebih, bagi saya pribadi, Pasar Malam Tjap Toenjoengan ini merupakan surganya kuliner nusantara. Buanyak banget makanan yang dijual disini, dan nggak cuman makanan khas Indonesia saja. Mungkin kalap, itulah yang saya rasakan ketika masuk ke sebuah gapura yang berjudul Pusat jajanan dan makanan Tjap Toenjoengan. Tapi saya beruntung, karena terbatasi oleh lembaran rupiah di dompet maka tidak semuanya saya cobain!. Prioritas mana yang layak buat dicoba, dan akhirnya pilihan menu makan malam saya jatuh pada : Kupang lontong dan sate kerang.



Ini dua makanan khas Jawa Timuran yang belum pernah saya ulas di sini. Pernah dengar kupang lontong?. Kalau belum pernah dengar, jangan berkecil hati karena saya juga baru tahu ada makanan ini semenjak saya tinggal di Surabaya. Kupang, yang merupakan sejenis kerang atau tiram kecil-kecil yang dimasak dengan cara direbus. Kupang yang digunakan biasanya adalah kupang beras, karena bentuknya yang kecil-kecil berwarna putih buram, lonjong seperti beras. Direbus dalam bumbu yang berasa manis-gurih, disajikan dengan petis - bumbu wajib makanan Jawa Timur, dan potongan lontong. Sedikit informasi, petis sebetulnya hampir selalu dipakai dalam setiap masakan Jawa Timur. Meskipun saya pribadi tidak terlalu menyukai petis, apalagi kalau dimakan langsung karena rasanya yang tajam. Namun jika dicampur dalam makanan dan apalagi rasanya tidak terlalu kuat, saya jadi berubah pikiran.

Buat bumbu sate kerang ini pun juga menggunakan petis. Kerang yang dipakai berbeda dengan kupang, karena bentuknya lebih besar. Yaa kalau dipikir-pikir, ini makan kerang lauknya sate kerang. Kedua makanan ini sebenarnya paling cocok diminum sama es degan, mungkin untuk menetralisir kalau-kalau ada yang mabuk atau keracunan seafood kali ya?. Hemm, tapi pilihan minuman saya jatuh pada es limun. Yak, jadul banget kan ya?. Cocok deh sama suasananya. Kalo soal harga, namanya pasar malam yaa pasti merakyat sih. Saya cuman ngabisin 20 ribu buat kupang lontong sama sate kerang. Range harga disini antara 5000an sampe belasan ribu. Jarang ada yang mahal, dan banyak pilihannya pula!.

Kalo bingung mau makan apa, lemme tell you beberapa diantaranya. Sate Kuda, Sate ayam pak Brewok (yang jualan brewok beneran), nasi bakar, gudeg, lontong balap, tahu tek, tahu telur, nasi padang, bakso, aneka macam mie, penyetan dan bakar-bakaran, dan kalau mau yang lebih modern dikit ada yang jual burger tempe, hot dog, frenchfries, pizza, lasagna dan pasta, coklat leleh, gula-gula, dan brownies. Buat yang sekedar jajan, ada pisang goreng kipas, tahu pong dan sukun goreng, atau macem-macem es campur!. Lengkap kan?. Makanya, mumpung acara Pasar Malem Tjap Toenjoengan ini diadakan dari tanggal 1 - 15 Mei 2011 segera saja datang rame-rame kesini. Buat yang sendirian, nggak masalah.. karena bisa golek kenalan cah ayu sekalian disini... sesuai lirik lagu Rek Ayo Rek...

Selasa, 10 Mei 2011

Gaphe Goes to Jember dan Mati Gaya

Ke Jember ngapain?
Temen sekantor saya ada yang menikah. Berhubung aslinya dari Jember, dan perhelatan pernikahannya di Jember, maka saya dan teman-teman lainnya memenuhi undangan resepsi. Jangan tanya saya kapan nyusul!, karena teman saya yang cowok itu nikah di usia yang lebih dewasa empat tahun dari saya.

Berhubung Jember tuh jauh dari Surabaya, dan ditempuh dalam perjalanan minimal 5 jam, maka dengan dua mobil kami berangkat ke sana pagi-pagi jam setengah tujuh. Acara resepsinya dimulai jam 11 sih, tetapi kami sampai di Jember jam 12. Masih dapet makanannya laah. *ups.

Tapi bukan kawinannya yang saya bahas hari ini. Saya pengen cerita kalo ibarat peribahasa : sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu pula perjalanan ini. Sekali merengkuh kemudi, dua tiga kabupaten terlampaui. Betapa tidak, semacam touring menuju Jember kami harus melewati banyak kabupaten di Jawa Timur. Dari Sidoarjo, masuk Malang, Pasuruan, Probolinggo, baru nyampe ke Jember.

Berhenti sejenak di Pasuruan, tepatnya di Jl. Dr. Sutomo, daerah Bangil, saya dan teman-teman sarapan di warung pinggir jalan. Namanya Nasi Punel. Have you ever heard about Nasi Punel?. Saya terus terang baru kali ini tahu namanya nasi punel. Yang jualan namanya Bu Nik, yaa setidaknya itu yang bisa saya baca dari spanduk warungnya.


Pesen seporsi, plus es teh manis hangat buat sarapan. Yang datang ternyata rangkaian makanan semacam nasi campur dengan isi lauknya banyak. Ada tahu bali, empal daging yang empuk, botok kelapa, lentho, dan sambel trancam. Di atas nasinya ditaburi dengan serundeng kelapa sangrai yang harum baunya. Nasinya hangat, nggak keras dan nggak terlalu lembek. Enak dicocol pake sambel yang rasanya khas dengan taburan potongan kacang panjang.

Usut punya usut, saya tanya maksudnya punel itu apaan.. ternyata hampir sama artinya seperti "pulen". Nasi bisa di-punel-punel, baru dimakan. Entah bener apa nggak, yang asli Pasuruan mohon dijelaskan yaa!. Enak banget rasanya, jago!. Semuanya pas, dan meskipun jajanan warung jalanan tapi soal rasa : Yumilah Yumiwati doonk!. Seporsi nasi punel empal dan minum teh hangat dihargai 12 ribu rupiah. Standar sih, ngga mahal-mahal amat. Yang pasti, bisa buat ganjal perut sarapan menuju 4 jam perjalanan selanjutnya.

Err... di Jember ada apaan?. Pernah dengar Jember Fashion Carnival?. Acara tahunan yang digagas oleh fashion designer, Dinand Fariz?. Tapi sayang, biasanya bukan bulan-bulan ini diadakannya.

Jember sebenernya kota kecil, tapi cukup lengkap. Jangan bayangkan ada mal, karena setahu saya selama lewat di Jember toko paling lengkap yaa hanya semacam toko kelontong atau minimarket serba ada. Lebih banyak sawah, parit, dan jalanan tidak terlalu besar. Alun-alun kota di depan masjid besar Darul Muttaqin yang terletak di Tanggul pun juga tidak terlalu besar dan rame. Itu pendapat sementara saya karena saya tidak mengeksplorasi Jember lebih luas. Siapa tahu saya mampir hanya satu sisi Jember saja, dan belum sampe ke Kotanya.

Mati gaya
Pernah mengalami mati gaya di perjalanan?. Yup, kemarin kami ngalamin mati gaya di perjalanan pulangnya. Karena dibatasi waktu, kami nggak sempat mampir-mampir ke tempat wisata. Cuman ngiler aja sih ketika lewat jalan dengan pemandangan Gunung Arjuno, atau masuk di Probolinggo disambut dengan baliho besar bertuliskan : selamat datang di Air Terjun Madakaripura, tapi semuanya nggak mampir!.

Mati gaya itu dimulai ketika sekeluar Probolinggo, usai isi bensin dan make toilet di SPBU. Kami kejebak macet gara-gara ada karnaval 1000 anak di daerah Pasuruan yang entah tujuannya apa. Sempat dengar dari berita radio, bahwa tidak ada koordinasi penyelenggaraan karnaval ini dengan polisi lalu lintas. Hasilnya : Tidak bergerak sama sekali selama satu jam lebih, dan sisanya merayap pelan-pelan!. Mana iPod temen saya dan HP musik saya habis batrenya, jadilah mainan saya satu-satunya adalah HP butut Nokia Monokrom yang masih ada senternya!. Main Snake sama Bounce. hahaha.

Nggak kurang akal, akhirnya temen-temen mulai pada main tebak-tebakan. Awalnya jayus! tapi makin lama makin parah jayusnya.. sumpah, itu mati gaya teraneh yang pernah saya alami. Pengen nyobain tebak-tebakan super jayus a la Gaphe?.. nih, saya kasih tau beberapa diantaranya :

T : Kenapa kalo lewat di dekat kuda pasti ngerasa bau kuda?
J : Karena ketek kuda ada empat! (ini jawaban udah paling bagus diantara jawaban yang lain)
T : Salah!
J : Emang kenapa?
T : Karena nggak tutup hidung!
krik. krik. krik...

T : Bagaimana cara bedakan gajah kecil sama gajah gede?
J : Diayak pake saringan!, gajah kecil pada jatoh, gajah gede masih tertinggal di saringan.
T : Benerr... siapa orang paling kuat sedunia?
J : Yang ngayak gajah itu!
T : Benerr... Trus, Gajah sama semut balapan lari menang siapa??
J : Gajah donk!
T : Salah, menang semut! Soalnya gajahnya tertinggal di saringan!..
J : errr... (krik-krik-krik)
T : Gimana cara masukin gajah ke Kulkas?
J : Buka kulkasnya, masukin gajahnya, tutup kulkasnya!
T : Salaah.. yang bener, angkat gajah dari ayakan, buka kulkasnya, masukin, trus ditutup lagi!.

Ziiink... makin lama-makin parah!..

T : Tarzan lagi ulang tahun, semua hewan pada di undang.. tapi ada yang nggak dateng, apakah hewan itu?
J : Nggak tauuuuu...
T : Gajah!
J : Koq bisa?
T : Soalnya masih ada di dalam kulkas!
krik-krik-krik....

T : Ada sebuah danau yang terkenal dengan buaya yang buas, jangankan menyeberangi danau itu. Berada di pinggir danau saja, banyak orang yang sudah ketakutan. Tetapi pada suatu ketika, ada nenek-nenek berenang di danau itu dan dia pulang dengan selamat!. Kenapa hayoo??
J : neneknya sakti!..
T : Salah!
J : Neneknya pulang dengan selamat ke akhirat!
T : Salaah..!!
J : Nyerah deh!..
T : Soalnya nggak ada buayanya, kan buayanya lagi dateng ke ulang tahunnya Tarzan!!
Err... makin gak jelas, makin mabok!

T : Judul filem apa yang nggak laku di pasaran?
J : Pocong goyang pinggul!
T : salah! jawabannya : Tarzan Masuk Kota..
J : Koq bisa?
J : Ya nggak mungkin laah tarzan masuk kota, lagi ulang tahun di hutan soalnya!!. Hahahaha.

Yeaaah.. better saya akhiri daripada makin lama makin nggak jelas..

so, buat kamu.. kalo mati gaya biasanya ngapain?

ps : Sorry belom sempat mampir. Koneksi internet saya lagi bermasalah parah..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...