Rabu, 30 November 2011

Bandara dan Cinta Dalam Sepotong Sandwich

Chapter 2*


Alarm ponsel saya berbunyi tepat pada pukul 02.45 AM. Tidak tanggung-tanggung, saya memasang dua alarm di dua ponsel saya karena saya tidak mau tertinggal pesawat seperti yang pernah saya alami dulu. Penerbangan pukul setengah enam pagi memaksa saya mau tidak mau harus bangun dini hari dan mengguyur badan dengan air mandi. Untunglah, cuaca seperti ini tidak membuat suhu air menjadi terlalu dingin hingga sanggup mengeraskan pembuluh darah. Dalam sekali guyuran cukuplah untuk membuat mata saya langsung terbuka sepenuhnya.

Saya memencet nomer ponsel saya untuk memesan taksi langganan saya. Biasanya butuh sekitar sepuluh menit hingga taksi itu siap sedia di depan gang untuk menjemput. Tapi kali ini lain, baru saja saya keluar dari pintu gerbang rumah, angkutan umum berwarna biru itu sudah memaksa masuk ke dalam gang. Sambil menenteng camera pack dan menggendong tas punggung saya berlari dan meneriaki supir taksi tersebut karena mobil tidak bisa masuk kedalam gang, terlalu sempit untuk ukuran sedan.

Lima menit selanjutnya kami berusaha keluar dari gang sempit di depan rumah. Jelas salah supir taksinya, karena di depan jalan utama sudah ada petunjuk mobil dilarang masuk gang tetapi dia nekat membawa kendaraannya masuk. Untung usaha mengeluarkan sedan ini tidak membuat bodinya lecet-lecet. Dan sepuluh menit berikutnya, saya dan supir taksi membahas ketololan ini.

Taksi pun menggelinding membelah jalanan kota Surabaya, menuju ke selatan, memasuki Sidoarjo dan mengarah ke Bandara Juanda. Pukul setengah empat lebih sedikit, akhirnya berhenti juga di terminal internasional. 

Sepi.

Hanya beberapa gelintir TKI yang sengaja tidur di kursi tunggu depan bandara. Pintu masuk pun masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya.

Saya pun mengambil tempat duduk di depan pintu masuk. Untunglah saya sudah melakukan web check in sebelumnya melalui situs Air Asia dan menge-print boarding pass. Perlu diketahui, per November 2011 Air Asia memberlakukan Check In fee kepada para penumpang yang melakukan check in dengan bantuan petugas. Besarnya 10 RM atau 30 ribu rupiah. Jika ingin menghemat uang sebesar itu, selain melakukan web check in sendiri, bisa juga melalui mobile phone (SMS) untuk memperoleh barcode. Barcode dalam bentuk gambar di ponsel ini nanti di scan di mesin self check in yang ada di dalam untuk mengeprint boarding pass. Ya, sesimpel itu. Maklum, low cost carrier airlines biasanya memberlakukan banyak penghematan dari segi layanan yang membutuhkan tenaga manusia. Semua dilakukan secara otomatis.

Jam empat tepat, pintu keberangkatan pun dibuka. Bagaikan tutup botol champagne yang ditarik dari sumbatnya, penumpang mengalir masuk ke dalam dengan menunjukkan identitas diri dan tiket. Barang bawaan ditaruh dalam conveyor belt untuk memasuki X-ray, mengecek apakah didalamnya terdapat benda-benda mencurigakan atau tidak. Saya cukup berpengalaman dalam hal ini, jika ingin cepat dan tidak bertele-tele : jangan pernah mengantongi ponsel, kunci, atau logam (termasuk dompet dan kartu ATM dan segala macamnya) saat badan kita masuk dalam body scanner. Jika iya, maka mesin pun akan berbunyi bip-bip dan bersiaplah kita diminta untuk merentangkan tangan dan badan diraba-raba oleh petugas.

Proses verifikasi identitas tidak berlangsung lama. Petugas hanya mengecek nama di tiket dan mencocokkan nomor paspor dengan data sesuai yang kita booking sebelumnya. Sedikit tanda tangan petugas, lalu dia menuliskan gate penerbangan, dan bersiaplah untuk mengeluarkan uang Rp. 150.000,- untuk membayar airport tax. Airport tax semahal itu sebenarnya digunakan untuk biaya pelayanan penggunaan bandara, termasuk sewa garbarata, operasional bus penumpang, jasa naik turun bagasi, dan sebagainya.

Beralih di counter imigrasi, sejujurnya saya agak sedikit trauma mengingat dua kali sebelumnya saya selalu berada lama di counter ini. Entah karena memang wajah asli saya lebih ganteng daripada di foto paspor sehingga petugasnya curiga, atau gara-gara tinggi badan yang dipalsukan oleh pihak travel yang tidak sesuai dengan tinggi badan saya ketika dulu membuat paspor. Tapi kali ini beda. Semua saya lalui dengan lancar, dan cepat.

Ctak!

Cap paspor biru tanda saya meninggalkan batas negara pun saya terima. Setengah jam kemudian saya habiskan untuk menunggu pesawat berkode QZ 7617 yang akan membawa saya terbang ke Kuala Lumpur. Saya menghabiskan waktu dengan mengamati orang-orang. Ini adalah kegiatan yang paling saya senangi jika saya bepergian sendirian. Saya mendengar obrolan ibu-ibu Madura yang akan kembali ke Malaysia untuk mengais rejeki. Bersama suaminya, dia bertanya pada penumpang lainnya berapa harga tiket yang dia pesan. Obrolan tentang harga tiket seperti ini ternyata lazim ditemui beredar diantara TKI satu dengan yang lain, seakan-akan semakin mahal harga tiket pesawat yang mereka beli maka semakin tinggi status mereka. Atau sebaliknya, terdengar mengeluh jika ternyata mereka membeli tiketnya terlalu mahal dan diakhiri dengan justifikasi : karena saya baru membelinya beberapa hari sebelumnya atau pada hari keberangkatan. Kenapa saya bisa menyimpulkan hal ini?. Karena kejadian yang sama –obrolan tentang tiket ini juga saya  dengar ketika sesama TKI bertemu dalam penerbangan lainnya.

Air Asia berkode QZ ternyata dioperasikan oleh Indonesia Air Asia (IAA). Meskipun Air Asia merupakan low cost airlines asal Malaysia, namun ternyata ada beberapa kode yang menunjukkan perusahaan yang mengoperasikannya. Selain QZ yang dioperasikan oleh IAA, ada kode AK yang dioperasikan oleh Air Asia – Malaysia. Ada juga kode lainnya, yang dioperasikan oleh Thai Air Asia. Saya menyadari ini setelah menemukan benang merah mengapa tiket gratis yang saya pilih harus berkode QZ dan setelah berada di dalam pesawat saya menyadari semua pramugari dan pramugaranya asli Indonesia, setidaknya dari logat bahasa dan nama yang tertempel di dadanya. Berbeda dengan pesawat Air Asia berkode AK yang pernah saya tumpangi awal Maret tahun ini, dimana pramugara dan pramugarinya berlogat malaysia dan bermuka chinese atau India – dua komunitas yang banyak ditemui di Malaysia.

Saya duduk di bagian aisle, nomor 16 C. Dua tempat duduk di sebelah kiri saya ditempati oleh sepasang oma-opa beragama nasrani yang menghabiskan waktunya dengan membaca injil. Sedangkan saya, hanya menggenggam buku berjudul Kedai 1001 mimpi karangan Valiant Budi. Dan babak pertama kisah cinta dalam perjalanan ini pun dimulai.

Sudah menjadi kebiasaan untuk airlines menawarkan makanan dan minuman yang dapat dibeli di dalam pesawat. Saya menyempatkan sekilas melirik daftar menu, dan saya tidak terlalu tertarik dengan yang ditawarkan. Apalagi kalau bukan faktor “U” (Uang) yang menghambat. Bayangkan, sebotol teh dan satu cup mie instan dibanderol dengan harga Rp. 30.000,-. Walaupun saya belum sarapan, saya menahan keinginan itu karena setiap sen yang saya bawa terlalu berharga untuk dihabiskan sekarang. Oma dan opa di sebelah saya memesan makanan. Opa memilih curry puff, yang ternyata disambut dengan gelengan dari pramugari yang menunjukkan bahwa menu itu tidak tersedia. Opa kembali menunjuk, sebuah gelengan pun muncul lagi. Akhirnya opa menyerah, dan memilih apa saja yang ditawarkan. Pilihannya pun tertuju pada chicken sandwich dan segelas kopi panas. Oma tidak memilih apa-apa.

Aroma kopi panas yang mengepul di depan saya membuat saya terjaga untuk mengamati aktivitas selanjutnya. Ternyata mereka berdua berbagi potongan sandwich ayam yang Opa beli. Separuh untuk Opa, dan separuh untuk Oma. Mereka menghabiskan sandwich itu dalam diam. Tetapi dari sudut mata, saya mengamati betapa Opa mencintai Oma dan sebaliknya. Segelas kopi pun mereka seruput berdua. Masih tanpa kata, tetapi bahasa tubuhnya menyiratkan kenyamanan yang luar biasa.

Dari kerutan di wajahnya, dan uban yang tumbuh dikepalanya, saya bisa menebak bahwa Opa lebih berumur daripada Oma. Ketika pesawat akhirnya meninggalkan ketinggian 33.000 kaki menuju landasan LCCT, cinta mereka berdua semakin terlihat. Pada saat mendarat, saya sengaja mempersilakan mereka untuk berada didepan saya lebih dulu merangsek maju. Saat seperti ini biasanya adalah saatnya para penumpang untuk menjadi lebih brutal. Yang tadinya diam duduk manis, ternyata bisa menjadi monyet ganas ketika membuka bagasi. Brak-bruk. Brutal!.. Saya mempersilakan Opa dan Oma maju dan keluar duluan, dan saat menuruni tangga, sang Oma yang terlihat lebih sehat mengamit lengan Opa. Pelan-pelan menuruni tangga satu persatu, dan berjalan selangkah demi selangkah. Dari bahasa tubuhnya Oma tampak sabar membantu Opa. Terlihat mesra, dan masih tanpa kata-kata. Sampai akhirnya, saya berjalan mendahului dan meninggalkan pandangan ini.. Welcome LCCT, Touchdown Kuala Lumpur!!

Cinta itu sederhana. Terkadang tidak butuh kata-kata untuk mengungkapkannya.


---------------------------------------------------------------------------------------------------
*Saya ingin menuliskan kisah perjalanan saya ini dalam bentuk sebuah cerita nyata yang diselingi dengan informasi tentang tempat tujuan wisata yang saya datangi. Selesai semua cerita perjalanan ini, saya berencana untuk mengumpulkannya dan membuat sebuah free e-book yang dapat didownload oleh siapa saja. Doakan semoga project ini berhasil ya!. Oh iya, berhubung banyak permintaan oleh-oleh, saya membeli lumayan banyak permen, beberapa batang cokelat, dan cookies yang nanti akan saya bagikan melalui giveaway. Jadi, tunggu cerita berseri saya yaa :)

Selasa, 29 November 2011

Salah Kelamin dan Masuk Angin

Saya tidak menyangka akan merencanakan perjalanan dalam waktu sesingkat ini. Semua dimulai ketika Air Asia memberikan tiket gratis pulang pergi ke Kuala Lumpur dari 13 tujuan di Indonesia gara-gara keisengan saya menulis artikel. Free Ticket, tetapi airport tax dan fuel surcharge tetap ditanggung pemenang. Sempat saya ngambek soal pembayaran ini, tapi ternyata ada beberapa item yang direvisi sehingga yang harus saya bayar menjadi lebih terjangkau. Ya, saya jadi terbang!

Email tiket yang sudah terkonfirmasi saya terima akhir bulan lalu. Semua data di tiket benar, tidak ada masalah. Tapi hal ini tidak berlangsung lama, karena setelah saya print tiketnya ada yang janggal. Salutation yang tertera di tiket : MS PRATAMA, YOGA


Administrator tiket seenaknya mengganti jenis kelamin saya di tiket itu. Sebuah email bernada protes akhirnya saya kirimkan ke administrator. Saya tidak mau gara-gara kesalahan jenis kelamin ini menghambat saya saat di imigrasi atau di counter verifikasi ticket. Sudah menjadi kewajiban bagi penumpang Air Asia untuk memferivikasi tiket terlebih dahulu sebelum boarding. Masih mending jika kesalahan ini dibiarkan, petugas verifikasi hanya bertanya :

Petugas : “Ini di tiket tertera Miss, kenapa yang terbang cowok?”
Saya     : “Aih, masaa sih cyiin
Petugas : “Oh, ok!”. Buru-buru memferivikasi tiket.

Tapi jika yang terjadi adalah ini ,

Petugas : “Ini di tiket tertera Miss, kenapa yang terbang cowok?”
Saya     : “Aih, masaa sih cyiin
Petugas : “WOI!! Operasi kelamin dulu sana!!”

Maka selain saya harus buru-buru memotong alat kelamin, saya juga harus menyumpal buntelan di dada. Dan itu repot!. Tapi dibalik itu semua, saya nggak ada duit buat bayar biaya operasinya sih. Bukan berarti kalo ada duit, saya mau loh ya! #plak.

Untung administrator yang bolak-balik saya kirimin email itu cukup berbaik hati. Tiket yang baru yang sudah diubah salutation-nya sudah dikirim kembali dengan format yang benar. MR PRATAMA, YOGA. #uhuk #berasagagah

Lima hari empat malam, Kuala Lumpur, dan sebuah tiket penerbangan. Hanya itu yang saya punya. Saya tidak sempat memikirkan : nanti menginap dimana?, mau kemana aja?, siapa yang jadi teman saya?, bawa duit berapa?, siapa saya?. Eh, mendadak amnesia.

Kuala Lumpur lagi, rasanya bagi saya sudah khatam awal bulan Maret tahun ini. Sebetulnya saya tidak terlalu tertarik untuk mengelilingi Kuala Lumpur kembali karena : I already did that. Lagian tidak ada apa-apa di KL selain gedung bertingkat, makanan, mal. Kalaupun ada tempat wisata alam, paling Genting Highlands atau Batu Caves yang saya juga sudah pernah kesana. Apalagi lima hari empat malam, duh bisa mati bosan disini. Saya butuh tantangan!.

Tekad yang menyala-nyala akhirnya berangsur memadam oleh kesibukan pekerjaan yang tidak ada hentinya. Awal bulan ke Makassar, balik ke Surabaya hari Sabtu dan Minggu, Hari Senin berangkat lagi. Sampai tidak terasa kalender sudah menyentuh angka 18 November. Dan saya belum menentukan jawaban atas pertanyaan amnesia saya tadi.

Sejujurnya saya berharap credit card yang baru saja saya apply di bank setelah memenangi tiket PP ini disetujui, sehingga saya bisa memakainya untuk reservasi di website. Tapi sayangnya, kepastian bahwa aplikasi credit card saya ditolak datang setelah saya menunggu 2 minggu di awal bulan. Maka, tidak ada jalan lain : saya harus meminjam credit card teman saya untuk booking.

Jadi, hanya punya waktu beberapa hari sebelum berangkat. Di waktu sesingkat itu akhirnya saya mulai mencari penginapan, menentukan rute perjalanan, dan memesan tiketnya juga. Saya menentukan petualangan saya kali ini dimulai dari KUALA LUMPUR – MELAKA – PENANG – KUALA LUMPUR. Sebenarnya dari Penang saya ingin lanjut ke Hatyai – Thailand lalu ke Phuket, tapi saya hanya punya waktu 5 hari 4 malam. Kalau mau, cukup sih dengan waktu segitu. Tetapi kembali saya teringat : The most important thing, It is not THE DESTINATION. It is about THE JOURNEY

Saya ingin memaknai lebih dalam perjalanan sendirian menuju tiga negara bagian di Malaysia. Apa saya bilang sendirian barusan?. Ya, SENDIRIAN. Dan lima hari empat malam nanti sesungguhnya masih tampak abu-abu buat saya.

Dan dua malam sebelum berangkat, barulah riset tentang Penang dan Melaka saya lakukan. Saya menikmati waktu-waktu yang saya habiskan untuk membaca artikel, menentukan tempat-tempat mana yang ingin saya kunjungi, menentukan jalur bus lokal mana yang nanti akan saya pakai, dan bagaimana caranya. Saking menikmatinya, jam istirahat saya cukup terkuras untuk ini.

Seandainya kalian semua tahu, hari-hari sebelum keberangkatan saya sengaja pulang teng-go dari kantor. Jam pulang kantor saya pukul 18:00. Dua hari sebelum berangkat, time card saya tertera jam kepulangan 18:01 dan 18:02. Dari waktu itu sampai hampir tengah malam saya habiskan di sudut internet café yang menjadi satu dengan budget hotel di sebelah Gedung Grahadi – Surabaya. Saya memilih ke warnet karena akses yang lebih cepat dan murah.

Hasil dari riset itu : 17 halaman informasi tentang Penang dan Melaka yang diprint A4 dengan spasi 1 dan huruf arial ukuran 10 ditambah dengan MASUK ANGIN.

Persis malam sebelum keberangkatan, seusai pulang dari internet café itu, baru saya packing. Memasukkan lima lembar kaos, dua kemeja, dan tiga celana ditambah dengan jaket dan sarung. Mengisi box plastik dengan sabun, odol sikat gigi, sampo sachet, deodoran. Membungkus sandal jepit, dan terakhir memasukkan payung lipat. Tak lupa, dua buah buku sebagai teman perjalanan. Dua?. Nggak kebanyakan?. Saya rasa itu cukup untuk mengisi waktu ketika menunggu nanti.

Saya menyelipkan beberapa waktu untuk menunggu dalam rencana perjalanan saya. Ini supaya saya tidak terlalu panik jika ada satu atau beberapa hal nanti tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Jika itu terjadi, saya tidak mau itu akan merusak keseluruhan jadwal. Saya tidak membuat perjalanan ini dengan sangat ketat, seketat nenek memakai korset. Ya, khusus untuk hal ini saya strict terhadap diri saya sendiri. Mengingat saya SENDIRIAN dan hanya punya waktu 5 hari 4 malam.

Dan akhirnya, perjalanan ini dimulai…

Sabtu, 26 November 2011

Tips Terlihat Lebih Tinggi Di Foto Ala Gaphe

Terlihat lebih tinggi bagi kebanyakan orang menjadi hal yang diinginkan. Semenjak saya memasang foto kopi darat mini di Galaxi yang lalu, banyak komentar yang bilang kalo saya terlihat sangat tinggi. Okelah, buat yang pernah ketemu saya tahu kalau saya aslinya memang secara fisik tingginya diatas rata-rata. Sampai artikel ini diturunkan, tinggi badan saya mencapai 182 centimeter. Rasanya udah nggak nambah lagi deh.

Nah, lalu bagaimana dengan yang memang secara fisik tingginya segitu-segitu aja?. Ada cara yang bisa dipakai untuk meng-kadali orang biar mengira kita tinggi, setidaknya lewat foto. Nggak aneh-aneh, nggak pake edit-editan segala, tetapi kuncinya ada pada bagaimana cara dan pose serta apa yang dipakai di dalam foto. Penasaran?. Simak satu-persatu yah!.

Jika kamu berkesempatan foto bareng-bareng temen, pilih tempat yang bertingkat. Lalu, kamu berdiri di tempat yang tingkatannya paling tinggi di belakang. Foto dengan model seperti ini memang membuat kamu akan jadi terlihat lebih tinggi dibanding teman-teman kamu. Nggak percaya?. Ini buktinya.


Di foto itu, saya berdiri di paling belakang. Tapi coba lihat kakinya, setingkat diatas tangga. Lumayan, secara efek bisa nambahin tinggi 10-15 centi lah!. Efek ini hanya bisa diterapkan jika kamera menghadap satu garis lurus dengan pandangan mata, dan syarat mutlaknya adalah ada tempat yang berundak. Karena dengan kamera sejajar pandangan mata si pengambil gambar, maka hasilnya akan jadi simetris apalagi kalau kameranya konvensional. 

Lalu, kalo udah nyari-nyari tempat nggak dapet pijakan berundak-undakan?. Gimana donk ngakalinnya?. Iya, hal itu mungkin banget terjadi kalo kamu lagi foto di lapangan atau di pantai. Boro-boro nyari undakan buat nangkring, isinya dataran semuanya. Tapi tenang, ada cara buat ngakalinnya. Ini dia :



Nah di foto itu saya keliatan lebih tinggi kan?. Kenapa?. Pertama, komposisi "peserta" foto. Buat kamu yang pengen ngerasa lebih tinggi, berdirilah di paling belakang, dan minta teman yang lain untuk pose jongkok, duduk, atau apalah yang lebih rendah daripada kamu. Kedua, trik kamera. Letakkan kamera dibagian bawah, sejajar dengan dataran. Dengan posisi ini, jumlah langit (atau bagian atas) akan tercapture lebih banyak. Jadi karena asosiasi langit ada di bagian atas, maka secara otomatis berefek pada hasil foto yang terlihat "mendongak" ke atas. Ini dinamakan posisi frog eye.

Okelah kalo itu lagi foto barengan sama temen-temen. Tapi gimana kalo lagi sendiri?. Bisa banget diakalin. Efek frog eye ini bisa diterapkan dalam kondisi apapun koq. Asal kamera menghadap keatas dan objek fotonya ada di atas. Tapi, kalo kamu lagi sendirian. Tambah satu hal lagi yang bikin kamu terlihat lebih tinggi : Angkat tangan kamu keatas!. Nggak percaya?. Lihat ini :


Dengan mengangkat tangan, atau menguasai hampir tiga perempat bagian foto, kamu akan terlihat lebih tinggi. Tapi tetep masih pake frog eye yaa!.

Itu soal pose, lalu sebenarnya tempat pun juga berpengaruh. Tips selanjutnya : Mainkan Perspektif!. Tahu teori benda ketika semakin jauh (semakin mendekati garis horizon) maka benda itu akan terlihat makin kecil kan?. Ini bisa dipakai untuk mengakali supaya kita terlihat lebih tinggi di foto. Pilih posisi depan, disamping teman-teman lainnya yang berada agak jauh di belakang. Apalagi kalo backgroundnya polos, maka efek perspektif ini jadi makin terasa. Ini buktinya :




Foto diatas kalo lebih dicermati, saya ada di paling depan. Dasarnya udah tinggi, di depan malah makin tinggi. Dua teman saya ada dua langkah di belakang saya, plus mereka agak sedikit bungkuk posisinya, jadi nambah kesan jadi lebih tinggi kan?.

Permainan perspektif juga bisa dipake ketika kita ketemu satu bangunan dengan arsitektur simetris, semacam pilar-pilar gitu. Ini bisa dipakai kalo lagi sendirian. Teorinya sama, berdiri dipaling depan, maka pilar-pilar itulah yang akan membentuk perspektifnya. Lihat ini :


Foto ini diambil di Panggung Bandaraya - Kuala Lumpur Malaysia. Disini ada tiang-tiang tinggi simetris yang bisa dipake untuk foto dengan menerapkan teknik perspektif. Disitu keliatan lebih tinggi kan, meskipun sendirian.

Nah kalo soal pakaian, lebih baik memakai warna-warna gelap dan senada. Semisal di foto terakhir, terlihat saya pakai kaos hitam dan jeans biru donker. Gelap, makanya efeknya keliatan lurus dan makin ramping. Kalau pakai warna-warna terang, apalagi antara atasan dan bawahan kontras banget, biasanya di foto akan terlihat lebih pendek. Perpotongan kontras pakaian, ketika di hasil gambar akan membuat efek "memotong" tinggi badan. Jadi, jangan pernah pakai hijau untuk kaos dan kuning untuk celana ya!!.

Jadi, itu tips biar keliatan lebih tinggi ketika di foto. Selamat mencoba!

Kamis, 24 November 2011

November dan Kesebelasan

Bulan November bulan keberapa hayooo??.
Yang bener jawabannya silakan minta hadiah sama emaknya masing-masing.

Kalo orang jawa bilang, sebelas itu sewelas. Welas berarti asih, kasih, nah kalo se-welas berarti satu kasih. #mulai ngaco. Bisa jadi itu juga alasannya kenapa banyak yang menikah di bulan sebelas ini, terutama tanggal 11 kemarin karena banyak yang bilang itu tanggal bagus. 11 bulan 11 tahun 11. Yeah, pinter-pinternya orang bikin tanggalan aja makanya jadi bagus. Padahal kalo dipikir dan ditulis lengkap kan jadi 11-11-2011 : nggak ada indah-indahnya kan?. Kecuali kalo pada nikahnya tahun 1111, itu baru indah.

Soal sebelas, di bulan ini juga kayaknya kesebelasan kita di SEA Games juga kurang beruntung ketika harus kalah lawan Malaysia lewat adu pinalti. Mengingatkan saya pada piala dunia tahun 1998 Italia gagal lawan Perancis gara-gara adu pinalti juga.

Soal keberuntungan, kayaknya bulan sebelas ini juga saya "beruntung" dapet tag dari banyak blogger buat ngerjain PR "tentang 11". Sebetulnya, saya sudah menuliskan sepuluh hal tentang saya di SINI. Jadi, tinggal satu lagi yang belum.

Apakah itu ?
Saya suka melakukan sesuatu yang baru, dan atau melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Entah kenapa selalu merasa excited ketika mengerjakan hal itu. Tapi bukan berarti saya pembosan, karena saya tipikal  orang setia dalam menjalani hal yang saya sukai. Apa contohnya?. beberapa kali sebenarnya sudah pernah saya tulis di blog. Tapi mungkin lain waktu akan saya ceritakan yang lain.

Giliran pertanyaan dari mbak Fanny yang kudu saya jawab :

1. Apa yang kamu rasakan saat melihat bintang  di langit?
 Duh mbak, tergantung dimana dan kapan ngeliatnya. Kalo lagi kena macet, keburu-buru pulang, boro-boro ngeliatin bintang dilangit. hehehe
2. Sejak usia berapa mulai pacaran?
Usia emm.. uumm.. aah... saya lupa pertama kali pacaran kapan.. eh, inget sih. tapi lupa itu umur berapanya. 
3. Ketika kecil pengen jadi apa?
Biasa laah kayak anak yang lain, jadi dokter, presiden, dan insinyur... jaman dulu saya ngefans sama pak Tri Sutrisno mantan wakil presiden jamannya Pak Harto berkuasa.
4. Apa makanan kesukaanmu?
Mie to die for. Segala macem olahan mie saya suka. Mie yaa.. bukan bihun, soun atau yang pake tepung beras.
5. Milih mana komik apa novel?
Jelas milih novel. Saya paling nggak bisa baca komik. Binguuung..
6. Sebutkan nama aktor kesayanganmu? Kenapa kamu ngefans sama dia?
Aktor?. Kesayangan?. Ntar dikira homo lagi. Tapi kalo soal akting, saya suka sama Johny Depp!. Bisa mainin banyak karakter dan mengubah image pada setiap penampilannya di film.
7. Apa nama panggilan kesayanganmu untuk sang kekasih/suami/isteri?
Kalo dulu siih manggilnya Ai. #eaaaa

8. Buat satu kalimat rayuan gombal buat pacar/suami/isterimu
Saya : Say, Ibu kamu kerja di DPU ya?. 
Dia : Loh, koq tau?
Saya : Iya, soalnya kamu telah membangun jembatan cinta diantara kita.
#gombalbanget

9. Pernahkah kamu minum air senimu sendiri?
Yucks!. Nggak pernah

10. Apa julukanmu untuk Sang Cerpenis (tentu saja setelah membaca blognya dan mengetahui beberapa hal mengenai dirinya).
Ratu posting, secara tiap hari ada aja bahan yang diposting. Padahal ngeblognya juga udah lama kan mbak, tapi tetep aja konsisten. Salut, pengen banyak belajar. Semoga bisa ketemu yaa suatu saat nanti?

11. Siapa nama guru TK mu?
Bu Trini dan Bu Suti. Guru favorit saya!.

Setelah lunas dapet pertanyaan dari mbak Fanny, eeh kemarin dapet juga pertanyaan dari Jeng Susindra

1. Apa yang Anda sukai dari Rumah Susindra? 
Jelas cerita-ceritanya lah, karena jeng Susindra mampu menghadirkan cerita ibu rumah tangga, keseharian, dan bisnis serta banyak hal tentang anak-anak berdasarkan pengalaman pribadi yang beda dari yang lain. Pengalaman memang selalu menjadi guru terbaik kan?
 
2. Posting apa yang Anda tunggu di Rumah Susindra?
Masih ada hubungannya sama pertanyaan pertama, kalo nggak soal cerita anak-anak yaa cerita tentang jalan-jalannya.
 
3Apakah Anda suka dengan tampilan baru Rumah Susindra?
Suka, karena simple dan saya suka tema warnanya. 
 
4. Topik apa yang Anda sukai di blog?
Tentang lifestyle biasanya

5. Sejak kapan Anda mulai Ngeblog dan apa url-nya?
6. Apakah Anda memiliki lebih dari 1 blog? Sebutkan jika ada.
Sejak Juni 2010, di http://gaphebercerita.blogspot.com
Saya cuman punya satu ini

7. Bagaimana cara Anda membagi waktu di blog?
Tidak ada waktu khusus untuk ngeblog, everytime and anywhere

8. Kapan waktu Anda blogwalking?
Ya kalo sempat lah mbak, karena seringnya abis posting trus saya tinggal pergi. Biasanya BWnya lain waktu.

9.Bagaimana cara Anda mempromosikan blog Anda?
Duh kayaknya paling banter yaa pake giveaway gitu-gitu. Tapi eh, dah lama ternyata saya nggak ngadain giveaway lagi. hehehe.

10. Apakah Anda puas dengan blog Anda?
Untuk sekarang ini saya puas, sampai-sampai udah setahun lebih nggak pernah ganti template. 

11. Apakah favorit quote Anda yang selalu diingat?
Fortuna favi Fortus, bahasa latin. Keberuntungan memihak pada yang berani
Udah lunas yaaa!!

Rabu, 23 November 2011

Kemana Aja?

Pada kaget liat postingan saya kemaren ya?. Koq tumben-tumbenan isinya tentang advertisement, padahal biasanya kalo nggak hiatus yaa isinya cuman curhat. Well, sebenarnya kemarin saya dapat tawaran kerjasama pasang iklan di blog ini, ya daripada saya keseringan hiatus dan nggak ada artikel baru, maka jadilah iklan itu sebagai salah satu penyumbang isian blog ini. Jadi, mulai sekarang jangan kaget kalo ada artikel iklan nampang dimari yaa..

Ngomongin soal hiatus, hiatus yang kemarin adalah hiatus terlama yang pernah saya jalani. Sekitar 20 harian nggak ngisi blog, tentu aja bikin statistik blog turun drastis. Yah, resiko sih. Tapi emang kenapa koq sampe hiatus lama banget?. Apakah gara-gara alamat palsunya Ayu Ting-Ting masih belum ketemu?. Ataukah karena diajakin Fenny Rose jualan apartemen yang tiap kali promosi bilang : Harga naik besok Senin!?.

Malas. Mungkin itu alasan termudah yang terucap. Tapi dibalik itu semua ada banyak hal yang membuat saya mulai kerasukan virus malas itu. Soal kerjaan dan kesibukan juga menjadi alasan kenapa saya mulai jarang ngisi blog. Padahal, kesempatan online juga terus ada. Saya juga masih sering mampir ke blog temen-temen , baca artikel, tapi emang nggak ninggalin komentar. Buktinya saya juga tau kejadian heboh keppo-in salah satu blog yang jadi trending topic di google plus saya. Tapi kenapa malas jadi alasan utama?. 


Kalo dipikir-pikir, di tag sama temen juga udah. Bahan postingan banyak. Giveaway bertebaran dimana-mana, toh secara saya juga banci kontes. Lalu kenapa juga nggak posting-posting?.Yah, terkadang kita nggak butuh alasan untuk mencintai seseorang. Sama juga dengan ini, saya tidak tahu alasan kenapa saya mulai malas. Ini hampir-hampir mirip dengan salah satu pertanyaan interview yang biasanya selalu saya tanyakan pada calon klien perusahaan saya : apa yang dapat membuat anda berhenti melakukan sesuatu?.

Biasanya ekspresi jawabannya beragam. Ada yang diam terus mikir, yang notabene banyak yang melakukan ini. Ada yang tiba-tiba panik, gagap, nggak tahu ngomong apa. Ada yang hanya mengakhiri dengan senyuman, tanpa tahu harus menjawab apa.


Kurang lebih ekpresi pertama-lah yang terjadi sama saya ketika pertanyaan itu dilontarkan ke diri saya. Diem trus mikir.Makanya saking diemnya dan mikirnya itu, jadi sampe 20 harian nggak ngurusin blog. Kalo soal berhenti ngeblog, jujur saya sampai sekarang nggak kepikiran. Ngeblog menjadi salah satu ajang pelarian bagi saya dan sebagai kontrol buat apa yang saya lakukan. Jangan tanya mengapa begitu, karena mungkin kita akan duduk beberapa lama dan menghabiskan beberapa cangkir kopi untuk membahasnya.

Oke, balik ke pertanyaan malas tadi. Kalau dipikir-pikir, banyak yang mengalami fase malas ini disaat-saat ngeblog. Jadi buat saya, ini juga justifikasi untuk menghalalkan apa yang terjadi pada diri saya. Malas. Bayangkan tiap hari mikir bahan postingan - menuangkan dalam tulisan - publish - blogwalking biar ada yang blogwalking balik - bales-balesan komentar - nulis lagi, dan seterusnya kayak gitu ritmenya. Atau, dalam hal kasus saya bales-balesan komentar dihapuskan.

Tapi hei, bukankah itu sama seperti kita makan, mandi dan ibadah?. Rutin dilakukan. Makan tiga kali sehari, mandi pagi dan malam hari, dan ibadah lima waktu dengan jam tertentu. Tapi kenapa itu semua nggak malas dilakukan?. Atau, ketika lagi nggak pengen makan pagi atau mandi pagi, apakah lalu dirapel siangnya jadi makan dua kali atau mandinya dua kali?. Nggak segitunya juga kan?

Yaa jawabannya sih bisa jadi ngeblog belum jadi prioritas utama saya, karena banyak hal yang lebih penting yang harus saya lakukan dan mendesak. Cari pacar misalnya? #plaak.

Nggak, itu bercanda.


Pada akhirnya, jika memang sudah menjadi rutinitas maka semua akan kembali pada tempatnya. Bahkan seperti sekarang, malas pun bisa jadi bahan postingan.


Selasa, 22 November 2011

Printing – Ridaco Offset and Design, Produk Printing dengan Kualitas Selangit


Bingung mau ngasih kado apa untuk sang kekasih atau orang-orang yang anda sayangi? Atau memilih kartu undangan dengan desain yang seperti apa di hari pernikahan anda? Anda tidak perlu bingung karena sekarang ada Ridaco Offset and Design. Apa itu Ridaco Offset and Design?

Ridaco Offset and Design merupakan media yang akan menyediakan pelayanan aneka produk printing. Jika anda berencana akan memberi kado ultah untuk teman atau kekasih anda, tidak hanya berupa barang-barang biasa yang ada di pasaran, seperti baju, sepatu, buku atau barang-barang biasa lainnya. Sekarang Ridaco ada yang dengan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi dapat melayani kebutuhan anda. orang-orang menginginkan sesuatu yang unik dan menarik untuk hadiah ulang tahun orang-orang yang mereka sayangi. Misalnya saja mug printing yang ada tulisan dan gambar atau foto lucu dari orang yang ingin diberi hadiah, kaos printing yang ada foto berdua sepasang kekasih, jam printing, dan hadiah-hadiah unik lainnya.

Ridaco memiliki pengalaman selama lebih dari 20 tahun di industri percetakan, dan telah mengembangkan banyak inovasi dalam material percetakan dan produk-produk untuk klien domestik maupun internasional. Selain itu Ridaco Offset & Design menawarkan online printing berkualitas tinggi mulai dari offset sampai digital printing, printing ukuran besar dan printing sesuai selera seperti buku atau album foto. Dan juga, kami mempunyai devisi kreatif khusus menangani media interaktif, desain grafis, atau bahkan untuk fotografi & videografi. Dengan teknologi tinggi dan perpaduan pengetahuan industri yang luas membuat Ridaco Offset & Design menjadi perusahaan percetakan kreatif satu-satunya pilihan anda.

Terus bagaimana caranya untuk mendapatkan pelayanan dari Ridaco? Anda harus terdaftar menjadi member. Dan jika anda mengalami kesulitan dalam pelayanan kami, jangan khawatir karena tim Ridaco yang baik hati akan siap membantu anda. Jadi tunggu apa lagi? Butuh pruduk printing yang menarik dengan harga yang terjangkau? Ridaco Offset and Design jawaban yang tepat bagi anda.

Minggu, 20 November 2011

20112011


We just need to stay away for a moment to get back home.
(Windy Ariestanty, Life Traveler page 65, 2011)

Welcome Home. Yes, Im back.


*picture taken in Galaxi Bumi Permai, Kopdar Mini with Komandan Blogcamp + Bude, Kang Yayat, Mbak Lelly, Mbak Yuni + Suami, Aiko & Bela.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...