Sabtu, 24 Desember 2011

I'm Ready To Go (Again)


Afterall my last journey,
now I'm ready to go again.


To a place that I have been dreaming of : LOMBOK!!


See you next year!!

And have a great holiday.

Kamis, 22 Desember 2011

Hari Ibu : Belajar Dari Shinta


Tokoh : Aktris penari - pemeran Shinta dalam Sendratari Ramayana
Lokasi : Panggung Terbuka - Candi Prambanan
Diambil pada 19 Juli 2008, dokumentasi pribadi.

Saya pernah menuliskan kisah sendratari ramayana disini

Jika hanya satu kata yang bisa menggambarkan seorang dewi Shinta dalam epik Ramayana, maka kata itu adalah Setia. 

Meskipun Rama  sempat meragukan kesetiaannya, tetapi Shinta rela dibakar hidup-hidup untuk membuktikan bahwa dirinya masih suci. Shinta tidak tergoda bujuk rayu Rahwana, meskipun raksasa ini kaya, punya kerajaan Alengka, banyak harta, karena kesetiannya hanya untuk Rama.

Belajar dari Shinta, sosok wanita seharusnya mempertahankan kesuciannya hanya untuk yang benar-benar berhak. Membuktikan bahwa dirinya adalah makhluk yang setia, dan mencintai tanpa syarat.

Potret ini di ikut sertakan dalam Kontes Perempuan dan Aktivitas yang di  selenggarakan  oleh  Ibu Fauzan dan  Mama Olive




Rabu, 21 Desember 2011

Terjerat Dalam Lilitan Kutang

Mumpung lagi banyak-banyaknya Giveaway, saya mau ikut salah satu kontes yang diadain sama Mbak Fanny. Setelah ngubek-ubek album foto, akhirnya saya nemu foto saya yang lagi ngakak lepas!


Ceritanya ini jaman dulu saya Kuliah Kerja Nyata, ada temen cewek yang  lagi ulang tahun Dasarnya anak-anak sekelompok KKN saya itu pada gak waras, maka mereka berencana buat ngadoin temen saya yang ultah dengan : PAKAIAN DALAM!. 

Kami akhirnya iuran buat beli kutang plus celana dalam kedodoran buat kado temen saya. Dibungkus rapii banget, trus dikasihin setelah sebelumnya dia dikerjain dulu. Pas setelah dikasih dan dibuka, dia ngakak abis karena nggak nyangka bakalan dikado pakaian dalam. Nah, abis itu semua anak-anak sepakat buat tanda tangan di kutang sama celana dalam yang tadi dikasih buat kenang-kenangan. 


Eh pas saya tanda tangan celana dalam, temen saya yang bawa kutang iseng banget buat makein kutang itu ke saya. Mana satu temen megangin tangan saya, dan satunya nutupin tuh kutang ke muka. Jadilah tragedi itu diketawain semuanya. Saya juga ngakak geli karena nggak bisa berkutik melepaskan diri dari jeratan si kutang. Momen inilah yang akhirnya dijepret sama temen saya!

Duuh, jadi kangen sama temen-temen KKN dulu. Apa kabarnya kalian??

Foto di atas diikutsertakan dalam kontes ngakak sejenak yang diadakan oleh SANG CERPENIS dan MAN AND THE MOON


E-Book : The Heritage Trails


21 - 12 - 2011
12.00 AM



Terima kasih kepada Hilsya, Zasachi, dan Bunda Susan Noerina yang sudah memberikan komentar maknyusnya. Komentar selengkapnya dapat dibaca di blog masing-masing. Mohon kirimkan nama, alamat pengiriman hadiah di Indonesia, dan nomor penerima (kontak yang dapat dihubungi) ke email saya  di yogapratama77@gmail.com sesegera mungkin.

Selasa, 20 Desember 2011

Last Day In Kuala Lumpur


Chapter 16

Terlambat satu jam dari jadwal, akhirnya bus Transnasional membawa saya melintasi jembatan Penang menyeberang selat Melaka untuk selanjutnya menuju ke Kuala Lumpur. Badan saya pegal-pegal dan kaki saya bengkak. Setelah tragedi kaki berdarah gara-gara kuku kaki terlepas ketika jalan di Queensbay, saatnya punggung kaki kanan saya yang bengkak karena keseleo. Sempat saya urut sejenak, namun tidak mereda. Sakitnya benar-benar terasa ketika jari-jari kaki kanan ditekuk ke belakang.



Dalam kondisi itu saya rindu rumah. Dulu ketika saya keseleo, bunda saya selalu membawa saya ke tempat urut langganan keluarga. Namanya mbah Sarto. Namun sekarang Mbah Sarto sudah tiada.

Saya kesampingkan perasaan rindu rumah itu dengan meringkuk di kursi bus yang melaju kencang. Beruntung, kali ini bus sepi penumpang. Hanya beberapa kursi saja yang terisi, sehingga saya bisa dengan bebas meletakkan kaki di kursi sebelah. Dinginnya AC benar-benar terasa menusuk tulang, mau tidak mau saya mengeluarkan handuk untuk membalut telapak kaki saya.

Tepat subuh, akhirnya bus mendarat di terminal Pudu Sentral. Terminal ini dulunya dikenal dengan terminal Puduraya, tapi berubah menjadi Pudu Sentral mengingat renovasi besar-besaran yang dilakukan semenjak tahun lalu. Sekarang terminal ini menjadi terminal terpadu, mewah, bersih dan berkelas. Saya menyempatkan diri untuk shalat subuh di lantai 4 terminal ini. 



Saya pikir, di terminal yang serba mewah ini memiliki kamar mandi bershower setidaknya seperti di Terminal Sungai Nibong – Penang. Namun setelah saya cari-cari di beberapa restroom, saya tidak menemukannya. Saya terpaksa menunda keinginan untuk membersihkan diri. Meski dengan badan yang lengket oleh sisa keringat yang mengering, saya melanjutkan perjalanan berjalan kaki saya ke arah utara menuju stasiun LRT Mesjid Jamek. Ada yang berbeda di stasiun ini dibanding dengan beberapa bulan yang lalu ketika saya ke Kuala Lumpur. Sekarang stasiunnya menjadi lebih luas, dan tiket LRT yang dibeli di mesin otomatis sekarang berupa token atau koin plastik berisi chip.



KLCC adalah tujuan saya selanjutnya. Saya tidak tahu harus kemana lagi di Kuala Lumpur ini, karena memang saya tidak merencanakan untuk pergi kemana-mana. Hanya sekedar transit menunggu siang untuk kembali ke LCCT sesaat sebelum akhirnya terbang kembali pulang. Awalnya saya merencanakan ke Putrajaya. Saya belum pernah kesana. Bahkan saya sudah memiliki alternatif pilihan transportasi dari Kuala Lumpur menuju ke Putrajaya, namun mengingat kaki saya yang masih bengkak dan badan saya yang sepertinya tidak mau berkompromi, maka saya urungkan niat saya.

Sesampainya di KLCC, ternyata tempat turun LRT berbeda dengan dulu. Dipindah beberapa blok dari KLCC. Jika dulu naik ke atas langsung berada tepat di bawah Petronas Tower, maka sekarang naik ke atas dan jalan menyeberang sekitar 300 meteran dulu baru dapat Petronas Tower-nya. Ini pertama kalinya saya menemukan Petronas Tower yang terpotong. Kabut menutupi separuh badan menara, sehingga menara kembar ini terlihat seperti menembus awan. Cahaya matahari pun belum sepenuhnya muncul, dan suasana masih dingin. Saya melihat hanya beberapa turis saja yang menyempatkan diri mengambil gambar. Sambil mendengarkan radio siaran Malaysia, saya duduk berselonjor di depan air mancur. Menikmati suasana pagi.



Pukul delapan, saya beranjak ke taman KLCC di belakang Suria KLCC. Saya melihat beberapa aktivitas di taman ini. Karena hari ini adalah national holiday, maka taman di belakang KLCC ini penuh dengan orang-orang yang berolahraga. Taman ini sejuk, hijau, terawat dan tertata rapi. Ada satu paviliun yang menarik saya karena ada keran air yang mengalir dan bisa diminum langsung dari situ. Saya mencoba minum dari keran ini, dingin dan segar!.



Beranjak siang, dan matahari mulai menyengat, saya beranjak dari tempat duduk saya menuju ke Bukit Nanas, tempat satu stasiun monorail berada. Selanjutnya saya mengambil jalur menuju bukit bintang, untuk membeli beberapa oleh-oleh. Pilihan jatuh di Mal Sungei Wang. Disinilah saya membeli beberapa jajanan, coklat, permen, dan biskuit untuk menyumpal mulut teman-teman sekantor nanti sepulang saya ke Surabaya. Kadang mereka suka protes jika ada yang bepergian tanpa oleh-oleh. Dan setelah berkutat dengan jenis oleh-oleh versus isi dompet, maka saya keluar mall ini dengan satu tambahan tas Barnes & Noble berisi penuh oleh-oleh.

Tujuan saya selanjutnya adalah KL sentral. Dari sini saya mengambil bus ke LCCT untuk pulang siang ini menuju ke Surabaya.

Lima hari empat malam di Melaka, Penang dan Kuala Lumpur. Total perjalanan saya hanya menghabiskan 1,3 juta rupiah saja. Itu sudah termasuk akomodasi 2 hari, tiket bus, oleh-oleh, makan, tiket masuk wisata, termasuk airport tax di Surabaya dan KL.

Murah memang, tetapi hal yang saya peroleh ratusan kali lipat lebih berharga daripada itu. Pengalaman menjelajah negeri orang sendirian untuk pertama kalinya, bertemu orang-orang yang akhirnya menjadi teman, pengalaman dirampok, merasakan cinta, dan yang tak kalah penting dari semuanya : menemukan sesuatu.

Its not about the destination, its about the Journey.

Senin, 19 Desember 2011

When Shopping Meets Dining


Chapter 15

Sepertinya selalu ada yang kurang jika ke suatu tempat tidak menyempatkan diri untuk belanja – atau setidaknya mengunjungi tempat berbelanja, dan mencoba makanan khas dari daerah tersebut. Sama seperti ketika saya di Penang, ada beberapa tempat belanja yang sempat saya kunjungi dan beberapa makanan khas Penang yang saya coba. Berikut diantaranya :

1. New World Park Penang
Tempat ini baru dibuka pada 2010 lalu, dan relatif masih baru. Bangunan rekreasi terpadu yang berisi tempat belanja, hall terbuka dan panggung hiburan, serta foodcourt yang cukup besar dengan aneka pilihan food stall dimana-mana. Terletak di Jalan Burma, di sebelah Tune Hotel. Di tempat ini saya memesan dua makanan khas yang ada di Penang. Asam Laksa dan Es Kacang Merah.

New World Park Penang. Sepi ya?


Asam Laksa yang ewwrr... kecuuut pisan euy!
Asam laksa adalah makanan berkuah, dengan isian berupa mie beras, daging, taoge, dan disiram dengan kuah berasa asam berwarna kehitaman, dan ditaburi dengan cabe merah dan kecombrang serta cacahan mentimun. Seperti laksa pada umumnya yang menggunakan seafood, Asam laksa menggunakan daging kerang yang tetapi kuahnya bukan menggunakan santan. Kuahnya berasa asam dan ada aroma udang, harum menggoda  karena ada potongan daun kemangi sebagai toppingnya. Rasa asamnya menurut saya terlalu kuat, karena menggunakan belimbing wuluh sebagai penguat rasa. Segar dan panas menggoda aromanya, tetapi saya tidak mampu menghabiskannya karena kuahnya yang terlalu berasa asam. Jadi saya hanya makan mie beras yang bentuknya gendut-gendut mirip cacing tanah kehilangan pigmen.

Ini mie beras isinya asam laksa yang gendut-gendut :P
Di New World Park ini, saya juga sempat mencicipi es kacang merah khas Penang. Dijual dalam mangkuk, dan ditaburi dengan es serut serta disiram dengan sirup merah dan diberi topping es krim mangga yang menggoda. Ini es kacang merah ter-enak yang pernah saya makan. Isiannya selain kacang merah, ada juga cincau hitam yang mirip dengan nata de coco, corn syrup berwarna kuning kental dengan butiran jagung yang empuk dan berasa asin, serta diberi kolang-kaling. Paduan rasa manis dan gurih dari sirup merah dan corn syrupnya pas. Enak banget!

Es Kacang Merah yang yumilah yumiwati abiiiss!!


2. Penang Plaza
Letaknya sebelahan dengan New World. Merupakan tempat perbelanjaan pertama yang saya singgahi di Georgetown. Mirip dengan mall pada umumnya, Penang Plaza merupakan satu bentuk department store dengan aneka macam booth penjual baju, aksesoris, dan barang elektronik. Bahkan ketika saya datang, di depan plaza sedang diadakan bazaar aneka barang elektronik yang dijual dengan harga yang murah. Bayangkan, SD card 8 GB yang biasanya di Indonesia dijual sekitar 120 ribuan, disini dapat ditebus dengan 20 RM saja atau sekitar 60ribuan. Tapi saya tidak beli, karena memang tidak sedang membutuhkan.



3. Parkson At Perangin Mall
Mal ini terletak satu kawasan dengan Komtar. Tidak terlalu besar ukurannya, tetapi terdapat beberapa bagian-bagian terpisah yang dihubungkan dengan lorong/jembatan yang dibawahnya dipakai untuk jalanan umum. Mirip mall pada umumnya, di Perangin Mall ini juga memiliki main atrium, foodcourt, toko elektronik, hypermarket, department store, dan beberapa outet-outlet kecil.



Di bawah mall ini saya menemukan warung makan arab. Namun yang dijual disini tidak melulu masakan arab. Karena di Penang makanan khas yang wajib dicoba adalah Char Kway Teow atau lebih lazim disebut sebagai Kwetiau goreng dengan udang, dan di sepanjang jalan biasanya yang jual Kway Teow ini adalah orang cina yang saya ragukan kehalalannya, maka begitu sampai di warung arab ini yang menyediakan menu Kway Teow, saya langsung mencobanya!

Char Kway Teow. Makanan khasnya Penang

Soal rasa, nggak diragukan lagi. Yang namanya Kway Teow dimakan langsung di tempat asalnya memang terasa berbeda. Banyak penjual kwetiau yang enak di Indonesia, tapi Kway Teow yang saya makan ini enaknya berbeda.

Terpesona dengan kway teow-nya, maka saya memutuskan datang kesini lagi untuk kedua kalinya setelah saya makan kway teow. Kedatangan kedua saya memilih Maggie + Ayam goreng. Katanya, kalau datang ke Malaysia, satu makanan yang dicoba adalah racikan Maggie-nya. Mie Maggie memang terkenal di Malaysia, mirip dengan Indomie di Indonesia. Namun, berbeda tempat penjualnya maka berbeda pula rasa dan olahan maggie-nya. Yaa sama seperti warung Indomie di Indonesia kan, beda yang jual beda pula masakannya.

Maggie Ayam Goreng
 
Seporsi besar maggie goreng, dengan campuran ayam goreng tepung yang dicacah lalu dimasukkan ke dalam mie membuat rasanya menjadi lebih enak. Mie yang sudah direbus lalu digoreng orak arik dengan telur, dimasukkan bumbu dan irisan tomat dan kubis. Saya bingung bagaimana mendeskripsikannya, tetapi kayaknya Indomie goreng kalo diracik dengan cara seperti ini juga nggak kalah enaknya deh!.

4. Chowrasta Market
Salah satu pasar cina yang terkenal di Georgetown, terletak di Jalan Chowrasta dekat dengan Jalan Penang. Layaknya pasar di tengah kota, terkesan kumuh dan banyak pedagang yang menjual aneka barang. Mulai dari bahan makanan, sayur-sayuran, oleh-oleh, sampai dengan mainan anak-anak yang terbuat dari plastik. Di tempat ini, juga ada penjual chestnut, minuman pinggir jalan juga ada warung-warung makan di tenda. Saya menemukan satu warung yang menjual nasi kandar. Katanya, nasi kandar adalah makanan khas Penang, maka saya memesan satu nasi kandar.

Chowrasta Market
Nasi Kandar
Ternyata nasi kandar mirip dengan nasi padang. Nasi dengan aneka macam pilihan lauk yang kita bisa pilih sendiri. Setiap lauk punya harga masing-masing, jadi semacam makan prasmanan pilih sendiri dan dibawa ke kasir untuk dihitung. Saya memilih makan dengan telur dan daging. Mirip rendang, tetapi rasanya kurang nendang. Lebih enak nasi padang di Indonesia, apalagi yang dijual di warung makan Sederhana. Ups, bukan promosi tapi saya jadi bersyukur bahwa Indonesia punya banyak makanan yang  jauh lebih layak dan enak untuk dibanggakan!

5. Queensbay Mall
Mal yang terletak di bagian barat Pulau Penang ini memiliki seashore yang dari situ kita bisa langsung melihat Penang Bridge yang menjadi salah satu icon Pulau Penang. Bentuk Penang Bridge ini mengingatkan saya dengan jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Surabaya. Penang Bridge merupakan jembatan penghubung antara semenanjung Malaysia dengan Pulau Pinang.

Queensbay Mall
Penang Bridge from Queensbay seashore
Kembali ke Mall Queensbay. Mall ini menurut saya adalah mall paling bagus selama saya berkunjung ke Penang. Barang-barang yang dijual lebih classy, dan banyak merek ternama memiliki gerainya disini. Padat dan ramai, karena saat saya datang pada waktu weekend. Di lantai atas, selain terdapat pawagam (bahasa melayunya untuk bioskop), juga ada arena sepatu roda yang cukup luas. Mengingatkan saya pada video klip lagu mandy moore jaman dulu banget.
Dari KOMTAR, untuk menuju ke mall ini bisa menggunakan bus Rapid Penang nomor 308 atau 307. Dan karena saya berkunjung kesini pada hari terakhir saya di Penang, maka saya langsung beranjak dari Queensbay menuju ke terminal Sungai Nibong untuk menuju ke Kuala Lumpur.

Goodbye Penang!!

Jumat, 16 Desember 2011

Kek Lok Si Temple, Penang Hill, dan Teman Dari Indonesia


Chapter 14

Saya menyeruput kopi arabica yang disajikan melalui heater sambil mengoleskan selai hazelnut ke atas roti tawar saya. Dalam hati saya mengatakan bahwa akhirnya saya bertemu dengan kopi disini. Sepanjang saya di Melaka, saya cuma ngiler ketika melewati beberapa kopitiam dan coffee shop yang menjamur di Melaka tanpa sempat mampir mencicipi. Tak apalah, rasa pahit kopi yang disajikan di Georgetown ini mengobati keinginan saya kemarin. Saya tahu persis ini kopi arabica dari aftertaste asam yang tajam diujung lidah. Aftretaste ini cukup lama hilang, dan saya berasumsi bahwa kopi ini melalui proses fermentasi yang cukup lama. Bukan kopi instan, melainkan kopi biji yang digrinder.

Tak berapa lama, waiter datang membawa piring berisi ommelete dengan coleslaw yang disajikan diatas irisan mentimun. Menggoda untuk segera menikmatinya. Maka tak butuh waktu lama, akhirnya setangkup roti selai hazelnut dan ommelete plus coleslaw berpidah ke perut saya.

My Western Style Breakfast
Saya bergegas naik, untuk membersihkan diri lalu berganti baju. Setelah packing, akhirnya saya turun untuk check out pukul sembilan pagi dan mengambil deposit duapuluh ringgit yang saya titipkan saat check in kemarin. Lumayan untuk bekal perjalanan. Sebenarnya saya mau mengajak Fernando untuk berangkat berkeliling ke sisi lain dari Penang. Ternyata setelah sampai di hostelnya, Fernando bilang bahwa jam duabelas siang ini dia akan berangkat ke Hat Yai – Thailand sendirian dengan menggunakan travel yang dipesannya dari hotel. Ah, saya iri. Seandainya saya bisa extend satu hari saja mungkin saya bisa ikut menuju ke Hat Yai. Memang saya tidak merencanakan ke Hat Yai, alasan utamanya karena saya sudah kehabisan jatah cuti tahunan. Besok saya sudah harus kembali ke Surabaya.

Kami berpisah, dan saya mengucapkan kalimat terakhir : “keep in touch ya!” kepada Fernando. Maka saya berangkat sendiri, menuju Komtar, menunggu bus Rapid Penang Nomor 204 menuju Kek Lok Si Temple dan Penang Hill. Niat ke Kek Lok Si dan Penang Hill memang sudah saya set sejak awal karena ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo ke Penang. Dari dua tempat yang terletak di wilayah Air Itam, kita dapat melihat pemandangan kota Georgetown dan Selat melaka dari ketinggian.

Tak berapa lama menunggu, saya beruntung. Bus bernomor 204 itu tiba dengan kursi kosong yang banyak. Setelah memasukkan dua ringgit kedalam kotak, saya menempati kursi kosong di tengah.

Dalam perjalanan menuju Kek Lok Si, di depan saya persis ada sepasang laki-laki dan perempuan berdiri di tengah sambil tangannya memegang gantungan. Dari umurnya saya menebak dia seumuran dengan saya. Lelakinya berbaju merah, dan yang perempuan berkerudung dan berkaos terusan berwarna kuning – orange. Tiba tiba ponsel lelaki itu berdering, dan dia mengangkat teleponnya. Dari nada suaranya saya menangkap dia sedang berbicara dengan temannya, dan dalam bahasa indonesia fasih!. Saya melihat kaosnya, ternyata bergambar Garuda berwarna emas. Ini membuat saya yakin kalau dia dari Indonesia.

Tiga orang lansia masuk bus, saya berdiri dan mempersilahkan nenek wanita duduk di kursi saya. Maka saya lalu menghampiri mereka.

“Mas, Dari Indonesia?” tanya saya
“Iya mas” katanya
“Tujuan mau kemana?” lanjut saya
“Kita mau ke Kek Lok Si” jawabnya.

Kebetulan, saya juga berencana kesana. Kami pun berkenalan, nama yang cowok adalah Avir. Wanitanya memperkenalkan diri dengan nama Nyit-nyit. Ini nama panggilan mereka. Ternyata Avir adalah orang Indonesia, yang bekerja di Konsulat Jendral di Penang. Nyit-nyit pertamanya bilang temannya Avir, tapi dari gelagat dan gerak-geriknya mereka berpacaran. Benar saja, karena selanjutnya Avir memanggil Nyit-Nyit dengan sebutan “Ay”.

Beberapa kali Avir memastikan pada supir bus untuk menurunkan kami di Kek Lok Si temple. Dan perjalanan selama empat puluh lima menit itu tidak terasa karena keasyikan ngobrol. Nyit-nyit adalah mahasiswa tingkat akhir di Jakarta, dan mereka ternyata pernah menjadi teman sekolah sebelum akhirnya mereka berpacaran. Nyit-nyit pertama kali datang ke Penang nengokin pacarnya dengan menggunakan tiket promo Airasia dari Jakarta langsung penang.

“Dapet berapa Nyit?” tanya saya tentang harga tiket yang katanya promo
“Satu koma tiga PP” katanya. Dalam juta rupiah tentu saja.
Dan saya tersenyum. Saya bersyukur, dengan angka yang sama saya bisa menggunakannya untuk traveling Surabaya – KL – Melaka – Penang – KL – Surabaya plus oleh-oleh, lima hari pula plus akomodasi!.

Sampai di Kek Lok Si temple, diwarnai dengan adegan salah nyari pintu masuk. Kami masuk pertama mencari jalan naik melalui parkiran mobil. Ternyata buntu. Akhirnya karena Avir bertanya ke tukang parkir yang ada disitu, kami ditunjukkan jalan masuk melalui pasar. Selama perjalanan naik ke temple, jalanan berupa lorong itu dipenuhi dengan pedagang souvenir. Murah-murah memang, dan banyak yang bagus-bagus barangnya. Ketika Nyit-nyit bertanya pada saya mau beli apa tidak, saya menggeleng. “Saya tidak biasa membeli oleh-oleh,” jawab saya. Padahal alasan aslinya adalah : barang bawaan saya udah banyak, nggak  muat lagi kalo beli oleh-oleh.

Kek Lok Si temple adalah kuil umat Budha yang terletak di wilayah Air (H)Itam. Dibangun pada tahun 1890, dan sampai sekarang masih mengalami perluasan dan perbaikan. Ini terlihat dari beberapa sudut yang masih dilakukan renovasi dengan ditandai beton-beton basah. Kuil ini sebenarnya terinspirasi dari Goddess of Mercy Temple di jalan Pitt Georgetown. Dimulai pembangunannya sebenarnya saat tahun 1893, namun pada 1930 pagoda Rama VI (nama raja yang meletakkan pondasi pertama kuil ini) jadi. Pagoda Rama VI ini sebenarnya lebih dikenal sebagai pagoda 10.000 Budha, mengingat banyak sekali patung budha berjejer-jejer di tempat ini. Tapi saya yakin, jumlahnya tidak sampai 10.000. Di dalamnya, terdapat patung budha besar di dalam kolam kecil dan dikelilingi oleh lilin berbentuk bunga teratai berwarna pink yang menyala. Konon katanya dengan menyalakan lilin ini, dan menuliskan harapan kita atau nama kita (dan pasangan) kemudian meletakkannya di patung ini maka akan terkabul.

Pagoda 10.000 Budha. hanya empat yang terfoto, yang lain masih berjejer banyak dari sudutut ke sudut
Wishing candle di depan kolam patung Budha
 
Kuil tambahan yang baru dibangun adalah kompleks dewi Kwan Yin (Avalokitesvara) yang terbuat dari perunggu berukuran 30,2 meter. Dipayungi dengan bangunan beton berpilar delapan, bangunan ini masih dalam tahap pembangunan sehingga pengunjung tidak diperkenankan masuk. Di depan patung tersebut, dijaga oleh patung kera (semoga saya tidak salah lihat)sebanyak dua ekor di kiri dan di kanan. Saya jadi teringat legenda kera sakti gara-gara melihat patung ini.

Dewi Kwan Yin Statue di kompleks Kek Lok Si temple.
Avir, Nyit-nyit, dan saya. Teman sesama Indonesia ketemu di perjalanan. Foto dokumentasi dari Avir
Untuk mencapai patung dewi Kwan Yin yang katanya terbesar se Asia Tenggara ini pengunjung harus menggunakan kereta trem yang naik miring 45 derajat ke atas. Tiket masuk dapat diperoleh seharga 4 RM untuk naik dan turun. Bentuknya kalo saya lihat seperti lift kaca yang melewati eskalator. Secara hanya sebuah kotak kaca kecil yang melalui rel yang miring.

dari dalam lift kereta kaca yang menaiki rel yang mirip eskalator
Kebanyakan tempat disini menyajikan patung-patung Budha dalam segala posisi, dan bau dupa yang dibakar menguap dimana-mana. Monk atau biksu dengan baju kebesaran mereka berkeliling kemana-mana memandu para chinese yang ingin memanjatkan doa. Ada yang menarik di beberapa kuil disini, di depan kuil kita dapat membeli pita-pita berwarna-warni yang ditulisi beberapa kata seperti happines, wealth, body health, yang ditulis dalam bahasa cina dan inggris. Di kotaknya tertulis wishing ribbon. Di dalam pita itu, dengan menggunakan spidol permanen kita bisa menulis macam-macam permohonan sesuai dengan pita yang dipilih, dan menulis nama orang. Lalu wishing ribbon ini digantungkan pada ranting pohon yang cukup tinggi yang diletakkan di depan kuil. Ah, ada-ada saja cara orang untuk menarik uang derma.

Wishing Ribbon
Ada juga yang menarik dari kuil ini, dalam perjalanan menuju ke atas pagoda putih (saya tidak tahu nama pagoda yang itu apa) terdapat satu kolam kecil yang isinya penuh dengan kura-kura. Pengunjung sebenarnya dilarang memberi makan, tetapi banyak penjual sayur dan wortel di depannya untuk makanan kura-kura itu. Untuk memberi makan, pengunjung harus masuk dan menyeberang lewat tangga yang menghubungkan ke satu kubah kecil ditengah, diatas kolam. Persis kolam-kolam di Cina!.
Pagoda putih, yang saya tidak tahu namanya. Masih di kawasan Kek Lok Si
Tortoise pond

Selain itu, ada banyak kolam juga di atas yang diisi dengan ikan-ikan koi berwarna emas. Konon katanya kombinasi air, kolam, ikan koi, dan warna emas adalah perlambang kesuburan dan wealthy.

Saya, Nyit-nyit, dan Avir pun tidak lupa untuk mengambil foto di beberapa sudut tempat. Beruntungnya memperoleh teman perjalanan adalah, kita dapat meminta tolong untuk diambilkan fotonya!. Ya, kami berjanji untuk sharing hasil jepretan masing-masing melalui email sepulang nanti. Maka, nomor telepon, akun facebook, dan email akhirnya saya serahkan. Beruntung, Avir juga menawarkan ke saya kalau nanti saya ke Penang lagi, Avir bersedia menampung di apartemennya untuk menghemat biaya penginapan. Thanks Avir!

Tapi perjalanan bersama mereka hanya sebatas Kek Lok Si ini, karena Avir dan Nyit-nyit akan menuju ke Batu Ferringhi. Saya sudah kesana kemarin, dan saya memberi tahu cara kesana dan apa yang ada disana. Maklum, meski Avir sudah enam bulan di Penang tapi dia belum pernah ke Batu Ferringhi. Apalagi Nyit-nyit yang baru pertama kali juga ke Penang. Sebagai gantinya, Avir memberi tahu saya cara menuju ke Penang Hill dan apa saja yang ada disana karena mereka berdua justru sehari sebelumnya malah ke Penang Hill dulu sebelum Ke Kek Lok Si. Barter yang adil.

Sambil menunggu bus masing-masing di tempat tadi kami turun di Kek Lok Si, kami mengobrol. Saya menemukann fakta unik di Malaysia. Pertama, motor yang dipakai disini kebanyakan model-model lama yang mungkin sudah hampir punah jika di Indonesia. Modelnya memang lama, tetapi motornya motor baru. Kalau masih ingat, mungkin mirip model pitung dengan board berwarna putih polos. Banyak banget yang memakai motor jenis ini, kata Avir sih orang Malaysia lebih suka model seperti itu karena awet. Padahal kalo motor kayak gitu dipakai di Indonesia mungkin sudah jadi bahan ketawaan.

Motor jadul yang malah ngetrend di Malaysia

Fakta kedua, kalo laki-laki naik motor di Penang dengan menggunakan jaket pasti jaketnya dipakai dengan cara terbalik. Jadi, retsletingnya ada di punggung. Kata Avir, bodoh sekali padahal jaket sudah didesain sedemikian rupa tetapi cara pakainya malah dibalik-balik. Dan saya membenarkan, dengan menambahkan bahwa itu juga bahaya apalagi kalau dengan cara pakai seperti itu jaket akan sangat mudah melorot sehingga konsentrasi pengendara jadi bisa terganggu.

Fakta ketiga, Nyit-nyit yang bicara. Selama tiga hari berada di Penang, dia jarang menemukan cowok atau cewek melayu yang cakep!. Dari segi mode, taste, dan style, orang Indonesia boleh berbangga. Karena kita memiliki selera fashion yang jauh lebih baik dibanding orang Melayu Malaysia. Selain muka-muka yang jauh lebih tampan dan cantik tentu saja. Ingat ya, ini berlaku untuk warga asli melayu bukan blasteran arab atau cina. Bahkan tambah Nyit-nyit, dia hanya menemukan satu cowok saja dengan dandanan cukup stylish dan keren serta muka yang mendukung. Kalaupun orang itu dicomot dan ditaruh di mal-mal di Bandung malah terlihat biasa banget. Yeaaah, ini menjawab pertanyaan kenapa banyak cewek melayu ngeliatin saya sepanjang perjalanan naik bis. Karena mungkin di pikiran mereka, ini orang cakep dari mana yaa koq nyasar naik bus? #plaak

Ternyata Avir dan Nyit-nyit menunggu bus di posisi yang salah, mengingat jalan didepan kami adalah jalan searah. Konfirmasi ini baru kami ketahui setelah ada ibu-ibu cina yang lumayan berumur dan menenteng belanjaan berkata kepada kami mau kemana. Maka pertemuan singkat saya dengan sepasang kekasih dari Indonesia itu berakhir disini.

Saya pun kembali menunggu bis ke arah Penang Hill, bus dengan nomor yang sama dengan yang saya naiki tadi di awal. Lama. Akhirnya saya tanya lagi ke ibu-ibu cina itu, arah ke Penang Hill dan apakah bisa ditempuh dengan jalan kaki?. Ini saya lakukan mengingat di beberapa catatan blogger yang bilang bahwa dari Kek Lok Si menuju Penang Hill cukup dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Memang benar sih, kata ibu itu meyakinkan saya. Jarak dekat itu bisa ditempuh hanya dalam waktu 20 menit berjalan kaki.

Saya mengarah ke utara menurut perasaan saya menyusuri jalan. Macet parah, karena weekend. Dan dari jalanan ini saya sudah bisa melihat kereta Penang Hill dari kejauhan sedang merambat. Saya berada di jalur yang tepat!. Saat itu cuaca sangat panas, dan kaos saya sudah basah oleh keringat. Meskipun saya menenteng payung, tetapi masih sangat panas. Beruntung, setelah saya melalui bangunan di bawah ini, saya menemukan penjual es tebu!. Hanya satu ringgit, saya memperoleh sari tebu dengan rasa yang manis. Segaaar..
Monumen jam cina yang saya maksud, tugu ini ada di perempatan jalan menuju Penang Hill
Penjual es tebu, seplastik besar es tebu manis hanya 1 RM

Penang Hill adalah bukit kolonial tertua yang dibangun oleh British ketika mereka mengusai Malaysia. Pertama kali dieksplorasi pada abad 18, dengan menggunakan kereta-kereta bertenaga kuda untuk membangun jalan ke atas. Penang Hill merupakan kawasan terpadu dengan beberapa spot bukit-bukit diantaranya adalah strawberry hill, Halliburton Hill, Flagstaff Hill (Bukit Bendera), Tiger hill, dan Western Hill. Titik paling tinggi terletak di Western Hill yang terletak di 833 meter diatas permukaan laut. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Georgetown dan Selat Melaka dari atas. Untuk mencapai ke kawasan atas atau meeting point, dibangun sebuah kereta dengan kemiringan 45 derajat. Namanya adalah Penang Hill Funicular Railway. Pertama digagas tahun 1901 dan selesai empat tahun kemudian setelah sempat tertunda karena kesalahan teknis. Melalui beberapa renovasi yang menelan biaya jutaan dollar, upgrading tahun 1977 dan akhirnya renovasi terakhir secara besar-besaran menjadi kereta modern tahun 2010 kemarin yang menyebabkan penutupan penggunaan kereta ini selama beberapa bulan. Beruntung, saat saya kesana sudah dioperasikan kembali.


Kereta menuju ke Top Point

Dengan harga tiket sebesar 30 RM untuk turis asing untuk perjalanan naik dan turun, kita bisa menikmati perjalanan miring selama kurang lebih sepuluh menit menuju ke puncak. Sebenarnya Avir mengajari saya untuk dapat tiket lebih murah, yaitu dengan mencari kenalan orang Malaysia disana dan meminta titip untuk dibelikan tiket. Lumayan jauh bedanya, karena untuk warga Malaysia pemegang MyKAD (Semacam KTP) hanya akan dikenakan 8 RM untuk pergi pulang.

Tidak banyak yang bisa dinikmati disini selain pemandangan dari atas, suasana yang dingin, Kuil Hindu, Viewing Deck, makan di David Brown restaurant, menginap di Believue hotel, atau trekking menuju ke beberapa jalan setapak yang menghubungkan taman-taman burung. 

Saya mencoba mengambil kota Georgetown dari atas dengan mode panorama dengan shutter beberapa kali jepret, tapi tampaknya kurang pas dalam menggabungkan semuanya :)

Saya tidak lama disini, jam dua siang akhirnya saya turun lagi menuju Komtar setelah menunggu bus nomor 204 yang akan membawa saya kembali ke Georgetown





Kamis, 15 Desember 2011

Pagi di Esplanade, Cinta, dan Sunrise


Chapter 13

Hari kedua saya di Penang. Saya bangun pukul lima pagi waktu setempat untuk beranjak mengambil air wudhu. Sepi, semua terlelap seusai pesta semalam yang digelar di lantai satu hostel ini. Maklum, hampir semua penghuni hostel adalah orang putih berambut pirang yang doyan dugem. Tapi semalam saya terlalu capek untuk ikut berbaur dengan mereka. Saya memilih menghabiskan waktu dengan menuju internet corner untuk blogwalking sambil menunggu kantuk datang.



Pesta yang berlangsung semalam entah usai jam berapa. Yang pasti, ketika jam setengah satu malam saat saya akan beranjak menutup mata, suara hingar bingar di lantai satu masih terdengar. Wajar memang karena malam weekend ditambah lagi dengan properti hostel yang mendukung meriahnya pesta, lampu disko di ruang tamu, meja biliar di ruang tengah, bar dengan aneka macam botol alkohol di dinding, dan meja-meja tinggi serta kursi putar, ditambah dengan LCD projector yang menayangkan siaran sepak bola.

Dengan sedikit berjingkat agar tidak menimbulkan suara karena lantainya berupa parquette, saya membasuh muka, berwudhu, dan kembali ke bilik saya untuk shalat. Selepas shalat subuh, saya berganti baju untuk berjalan-jalan menikmati suasana pagi. Saat saya menuruni tangga, sepertinya hanya saya satu-satunya makhluk yang terjaga. Pemilik hostel pun terlelap dengan damainya di sofa, aroma bir dan alkohol masih terasa samar di ruangan ini. Untung saja ketika saya membuka pintu depan hostel, suaranya tidak membangunkan pemiliknya.

Berjalan menyusuri love lane pagi buta di Georgetown ternyata menimbulkan keasyikan sendiri. Saya baru mengetahui beberapa istilah disini, seperti kata lane, lebuh, dan street, yang ternyata digunakan untuk membedakan ukurannya antara lorong atau gang, jalan kecil, dan jalan besar. “Lane” biasanya digunakan untuk menyebut lorong, sedangkan kata “Lebuh” digunakan untuk menunjuk jalan yang lebih besar, dan kata “Jalan” atau “Street” sendiri merujuk pada jalan utama. Sepeti misalnya, hostel saya terletak di Love Lane, yang ditempuh dari Lebuh Chulia, dan paralel dengan Penang Street. Bingung??. Saya juga!.

Sepanjang Love lane senyap, hanya suara musik radio yang  terdengar lupa dimatikan oleh pemiliknya yang mengudara disela-sela celah jendela. Di salah satu sudut di depan penginapan yang tertutup pintunya, saya melihat ada backpacker wanita tidur dengan backpack-nya sebagai bantal. Dia tidur diluar pintu, dengan berselimut sweaternya. Saya menduga, wanita ini tidak memperoleh tempat menginap. Alhasil, dia terpaksa berteduh di luar penginapan.

Hampir mengarah ke ujung Love lane, di Lebuh Farqouhar, saya menemukan satu bangunan mewah yang saya suka sekali dengan arsitekturnya. Saya sedikit tersenyum melihat nama lebuh tempat bangunan ini berdiri : Farqouhar.. Terasa sholeh sekali namanya. Dan akhirnya saya keluarkan kamera saya, mencoba menangkap detail arsitekturnya di waktu subuh. Sayang, saya tidak mencari tahu dengan pasti apa nama bangunan ini.



Beranjak dari lebuh yang namanya sholeh sekali tadi, saya mengambil salah satu jalan bernama Green Hall. Ternyata buntu!. Dan diujung kebuntuan itu, saya justru menemukan apa yang saya benci sejak saya melakukan perjalanan ini : makhluk hitam yang tidak perlu saya sebut jenis etnisnya. Di tengah kegelapan itu sekitar tiga atau empat orang dengan noraknya membuka bagasi mobil sedan putihnya dan menyetel musik India keras-keras. Kampungan!!. Masih mending pesta kawinan di pelosok desa dengan musik dangdut.

Lebih norak lagi melihat dandanan mereka yang mirip dengan penyanyi hip-hop berkulit hitam, dengan cincin dan kalung gede-gede berwarna emas, tapi mending kalo muka-mukanya afro-amerika. Lah ini, hitam bukan karena afro, tapi.. ah, sudahlah. Mual saya menuliskannya.

Mungkin ini yang namanya kualat, sekalinya saya kena jalan buntu malah ketemu yang beginian. Subuh-subuh pula. Duh Gusti, kuatkan perjalanan selanjutnya. Maka daripada saya makin mual, saya berbalik arah menuju Lebuh Farqouhar tadi.

Subuh menjelang matahari terbit akhirnya saya habiskan dengan menyisiri Padang Kota Lama. Saya menemukan war memorial monument yang sempat saya singgung pada chapter 11, dan memutuskan untuk menikmati angin laut pagi di esplanade.

War Memorial Monument
 
Saya menemukan cinta disini. Bukan, bukan saya jatuh cinta dengan seseorang!. Tapi saya menemukan representasi cinta dari aktivitas banyak orang disini. Minggu pagi di Esplanade, banyak orang-orang tua etnis Cina yang kebanyakan bapak-bapak ikut duduk di ujung lapangan. Mereka berbincang-bincang. Beberapa diantaranya melakukan gerakan-gerakan tai-chi. Pandangan saya tertuju pada sepasang suami istri Cina. Sang istri duduk di kursi roda menghadap ke selat Melaka di ujung timur. Suaminya dengan setia menemani istrinya. Sambil berbincang dengan bahasa yang saya tidak mengerti, beberapa kali suaminya yang tampak lebih sehat melakukan gerakan-gerakan perenggangan. Saya melihat cinta disini.

The Esplanade, tempat bapak-bapak cina bercengkrama

Tak berapa lama, saya melihat seorang kakek dengan tiga orang anak laki-laki usia lima atau enam tahunan yang saya duga adalah cucunya. Ketika mereka berjalan melewati saya ke arah utara, mereka berempat berjalan bersama. Tiga anak laki-laki itu tampak senang sekali, mereka bercerita satu sama lain. Tapi begitu mereka berjalan lagi kearah selatan, mereka sambil berlarian dan meninggalkan si kakek. Saya melihat sang kakek tampak kepayahan mengejar cucunya itu, tidak bisa berlari karena memang usianya sudah tidak memungkinkan lagi. Salah satu dari anak laki laki itu berhenti, lalu duduk di esplanade dekat saya sambil menunggu si kakek menyusul. Saya melihat cinta disini.

Pemandangan itu akhirnya hilang, karena mereka beranjak untuk berjalan lagi. Digantikan dengan seorang ibu-ibu muda berkaos pink ketat yang mengajak anjingnya berlari pagi. Anjingnya diikat dengan tali panjang yang dikaitkan ke tangannya, dan ikut berlari mengikuti majikannya dari belakang. Ya, Saya juga melihat cinta disini.
Sunrise di Selat Melaka, Georgetown.
 


Pagi di esplanade, cinta, dan sunrise!.
Terimakasih Tuhan.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...