Senin, 02 Januari 2012

Desa Sembalun Lawang – Titik Pendakian Rinjani Lewat Timur


Setelah semalam berkeliling Rembiga untuk melengkapi perbekalan, membeli air mineral dan mengambil tabung gas untuk memasak, akhirnya pagi hari kami berenam berangkat menuju ke Desa Sembalun Lawang.

Dari Kota Mataram, untuk menuju ke Desa Sembalun Lawang dapat menggunakan angkutan umum berbentuk mobil colt diesel yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan Engkel. Ini merujuk pada jenis mesin kopling di colt tersebut yaitu canter engkel yang difungsikan dengan tangan, berbeda layaknya mobil biasa yang koplingnya di kaki.

Engkel ini gampang diperoleh dari Mataram. Pilih saja jurusan Aikmel, dan bilang berhenti di Pasar Aikmel. Aikmel adalah nama salah satu kecamatan di Lombok Timur dan dari sini perjalanan menuju Desa Sembalun Lawang hanya tinggal 27 kilometer saja. Desa Sembalun Lawang berjarak 90 kilometer dari kota Mataram. Butuh total tiga atau empat jam untuk menuju ke sana, dan paling gampang adalah dengan menggunakan angkutan umum berupa engkel. Kondekturnya akan memberi tahu kita jika sudah sampai di pasar Aikmel, karena mereka sudah biasa melayani para pendaki Gunung Rinjani yang berangkat dari Mataram. Perjalanan selama dua jam dari Mataram, melewati Narmada, dan berakhir di Pasar Aikmel hanya dikenakan Rp. 10.000 - 15.000 saja per orangnya.

Dari Pasar Aikmel, kami berganti moda transportasi. Satu-satunya angkutan yang melayani penumpang ke Desa Sembalun Lawang adalah mobil bawang. Ada ojek juga sebenarnya, tetapi dengan carrier segede bagong sepertinya perjalanan lebih aman jika memakai mobil bawang.

Mobil Pick Up yang disebut sebagai mobil bawang, dari Pasar Aikmel
Mobil bawang sebenarnya adalah sebuah pick-up. Hanya saja karena seringnya mengangkut hasil bumi Desa Sembalun Lawang yang kebanyakan adalah bawang merah, maka mobil pick up ini dinamakan mobil bawang. Beberapa mobil bawang sudah standby di pasar dan mudah ditemukan. Mobil ini jika terisi penuh baru akan berangkat menuju ke Desa Sembalun Lawang, dan hanya beroperasi dari pagi hari sampai siang saja mengikuti waktu jual di pasar. Harganya juga sama, hanya 15.000 rupiah saja dari Aikmel menuju Sembalun Lawang.

Desa Sembalun Lawang dari atas bukit
Dengan menumpang di belakang bak terbuka, akhirnya sisa 27 kilometer menuju desa Sembalun Lawang pun kami habiskan. Butuh waktu satu jam dari Aikmel sampai di Pos RIC – Rinjani Information Centre. Mobil bawang yang kami tumpangi membelah bukit, melewati hutan, bertemu dengan monyet-monyet, melihat lansekap pegunungan yang menghijau, sampai akhirnya menemukan desa yang terletak tersembunyi di balik perbukitan. Beberapa kali sepanjang perjalanan, mobil terpaksa melambat jalannya karena menghindari sapi-sapi yang banyak berkeliaran di sepanjang jalan.

 
Sapi berwarna cokelat yang saya pikir termasuk jenis sapi bali tersebut memang banyak ditemukan di Desa Sembalun Lawang. Masyarakat Sembalun yang mayoritas beragama Islam ini menganggap sapi adalah hewan yang istimewa, karena hewan ini adalah tabungan hidup bagi keluarga. Status sosial terkadang dilambangkan dengan banyaknya sapi yang dimiliki, dan merupakan lambang banyaknya rejeki. Bahkan, setelah saya baca di satu literatur, ada kebiasaan unik masyarakat Sembalun Lawang menandai telinga sapi-sapi mereka dengan sayatan supaya tidak tertukar dengan sapi milik orang lain.

Tak berapa lama masuk desa, kami turun sejenak di Rinjani Information Centre untuk keperluan membeli tiket masuk. Di sebuah bangunan bercat krem yang lumayan baru, saya dan Ardi turun untuk mengisi daftar nama calon pendaki, menandatangani surat pernyataan, dan membeli tiket. Di dalam RIC terdapat satu maket lengkap pegunungan Rinjani beserta jalur pendakiannya. Saya memotretnya untuk berjaga-jaga.

Dengan hanya membayar sepuluh ribu rupiah per orang, kami diberikan satu tiket masuk, satu tiket retribusi, dan satu kartu plastik hijau bertuliskan Rinjani Trekking Entry Ticket 2011/2012 untuk digantungkan di tas atau barang bawaan. Sebenarnya, dari RIC inilah titik pendakian pertama yang disarankan. Hanya saja, supir mobil bawang meminta kami untuk ikut lanjut dan memotong jalur menuju ke pos pertama Sembalun. Akhirnya kami mengikuti apa yang disarankan oleh supir mobil bawang itu.
 
Ternyata titik pertama pemberangkatan yang ditunjukkan oleh supir adalah tepat di pemukiman penduduk. Melewati pekarangan, sawah milik penduduk, dan sungai. Memang, pada akhirnya kami menghemat waktu perjalanan sampai 3 jam karena jalur ini ternyata jauh lebih dekat dan gampang dicapai. Tetapi, saya baru tahu setelah turun pulangnya bahwa jalur yang ditunjukkan oleh supir bawang ini adalah jalur yang ilegal. Tahun depan, jalur ini direncanakan untuk ditutup. Alasan utamanya adalah banyak yang menggunakan jalur ini tanpa membeli tiket masuk terlebih dahulu, sehingga ketika pendaki menghadapi masalah di atas atau kena musibah, data – datanya tidak teridentifikasi di pos RIC dan menyulitkan petugas.

Kembali, cuaca menjadi masalah. Baru mendaki kira-kira setengah jam, hujan turun dengan derasnya. Kabut turun, dan jarak pandang menjadi pendek. Kami memutuskan untuk mencari pohon dan membuka fly-sheet untuk berteduh. Disaat berteduh itu kami memutuskan untuk membuka perbekalan dan makan siang, maklum perjalanan dari Mataram menuju Sembalun yang memakan waktu lama telah menguras energi kami.

Pemandangan menuju ke pos 1.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju ke pos satu yang terletak di tengah hamparan savana. Rumput dan ilalang  berwarna hijau setinggi separuh betis mewarnai lansekap bukit yang landai. Di pos satu kami bertemu pendaki lainnya, yang menunjukkan arah ke pos dua. Mereka bilang, dari pos satu ke pos dua cukup dekat. Hanya butuh waktu setengah jam, dan pos dua menuju ke pos tiga butuh waktu yang lebih lama. Dua jam!.

Setelah shalat ashar di pos satu dan mengeringkan badan setelah sebelumnya terkena air hujan, akhirnya kami beranjak menuju ke pos dua. Jalan sudah mulai tidak selandai dari pos satu, naik turunnya agak tinggi tetapi masih bisa dijajaki dengan cepat. Ternyata butuh 45 menit menuju ke pos dua – lewat dari perkiraan awal.



Pos dua ini juga terkadang disebut sebagai pos Tengengean.  Pos ini terletak di ketinggian 1500 meter dari atas permukaan laut. Selain tanda berupa plat bertiang, di pos dua juga dapat ditemukan shelter besi beratap limas segi empat di bawah sungai. Bisa digunakan untuk bermalam, hanya saja kondisi air di pos ini kurang bersih. Saya melirik jam tangan, baru saja masuk maghrib dan langit masih terang. Mengingat perjalanan selanjutnya menuju pos tiga masih panjang yaitu dua jam lagi, maka setelah berhenti sejenak untuk mengambil nafas perjalanan kami lanjutkan kembali dengan lebih cepat.

Ternyata untuk mencapai pos tiga jauh lebih sulit dibandingkan jalur-jalur sebelumnya. Selain medannya yang cukup berat, berbatu-batu dan curam, serta kemiringan yang berkisar antara 30 – 60 derajat, kami juga menggendong ransel yang semakin lama menanjak rasanya semakin berat saja. Tak jarang, ketika bertemu dengan tebing berbatu, kami harus memanjat batu tersebut. Sudah tidak terhitung berapa banyak saya terpeleset, jatuh, kaki kram bahkan sampai otot betis dan paha tertarik kencang, sementara langit beranjak menghitam.

Di tengah perjalanan, di padang savana yang agak landai, mengingat masih separuh perjalanan lagi kami memutuskan berhenti. Sebungkus besar biskuit gandum menjadi penyelamat kelaparan kami saat itu. Sambil melihat bintang di langit yang benar-benar cerah, berbeda dengan kondisi siangnya, kami duduk menikmati biskuit dalam diam. 

Akhirnya, perjalanan yang disebutkan awalnya tadi hanya membutuhkan waktu dua jam ternyata molor sampai tiga jam. Pukul sembilan malam kami sampai di pos tiga. Pos ini terletak di ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut, terletak diatas sungai mati yang airnya masih menggemericik. Setelah mengeluarkan tenda, memasang pasak, kami menginap semalam di pos yang juga dikenal dengan Pos Pada Balong ini. Tidak hanya kami disini, karena ada dua tenda lainnya. Satu rombongan dari Malang, dan satu lagi rombongan dari Rawamangun Jakarta. Siapa sangka, mereka nantilah juga yang jadi teman perjalanan mendaki Rinjani.

51 komentar:

lidya mengatakan...

berbahaya juga ya kalau melalui jalur ilegal

niee mengatakan...

Subhanallah.. keren banget phe pemandangannya..

tito Heyziputra mengatakan...

yo,yo,,,

yg kyak gini nih gw suka..
hiking, camping,

photo nya yg bnyky bng

zone mengatakan...

wew deeh....
asyiik banget ni...
mau donk ikut...
:P

btw,,tiketnya okke jg modelnya...
baru tau mau mendaki ada tiketnya.

gunawan mengatakan...

pemandangan nya bgus banget bang,,

Asop mengatakan...

Subhanallah... itu sapi dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri... sampai menyeberangi jalan. Luar biasa. Saya jarang ngelihat yang begitu. :D

Kalau di pinggiran kota besar, di pinggirannya aja, bisa gempar sapi lepas tuh...

julie mengatakan...

bisa dibayangkan gimana sejuk dan segarnya udara di sana
pengen kesanaaaaa

Outbound Malang mengatakan...

wah, jadi kepengen hiking lagi liat foto2 sobat ini..
udah lama sekali saya ga hiking..
waaaa...
dan pemandangan rinjani juga segerr banget kyknya.
ah, suatu saat semoga bisa kesana.
thanks sobat
ditunggu kunjungan baliknya ya
salam persahabatan
happy blogging :)

Asep Saepurohman mengatakan...

wih seru lah, ini liburan yg paling menyenangkan di banding liburan2 lain. Hiking memang tiada duanya.

MHARJIPES.COM mengatakan...

Wahh pemandangan nice-nice sob best performance


Salam kenal, smbil menuggu kunjungan baliknya!

mon2 gowasa mengatakan...

Hoo...mantapz!...

Sudah lama sya ga melihat pemandangan kyak gitu....terakhir tahun 2009...

Abiz Rinjani mana lagi nich?
Asiknya berlibur terus...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

mobil bawang? aku pernah naik pick up terbuka gitu pas lagi hiking wkt kuliah dulu. kayak embek lho. hihihi..

Ario Antoko mengatakan...

habis dari rinjani/lombok oleh-oleh giveawaynya sapi yah 'phe :D

sebenarnya bayar tiket masuk gunung itu lebih ke pendataan saja agar mudah kalau ada evakuasi penyelamatan

Si Galau mengatakan...

jadi pengen muncak lagi sob :(

tiffa mengatakan...

Tahu Gaphe ke gunung, Tiffa titip bunga edelweis, tinggal metik :P

OOT:Ayo, Gaphe td baca fast reading ya?? hehe. Keliatan bgt sich, soalnya sejak kpn Mall Galeria pindah ke Bantul :P

Sarah mengatakan...

foto yg terakhir tampaknya saingan ya mas ama yg sebelahnya :D (ups...keceplosan, hehehe) kidding ah

dv mengatakan...

waw..hijau hijau gt segerrrr liatnya :D

tp plg dari sana postur tubuh ga berubah kan phe? :D

oomguru mengatakan...

waah.. enak juga ya ke gunung..
sekali2 ah nanti.
bosen ke bioskop mulu.

hwehehehe

Honeylizious Rohani Syawaliah mengatakan...

jalan-jalan mulu Om :D

DewiFatma mengatakan...

Serasa ikut mengintil di belakang Gaphe..hehehe.. Seru!

*jadi semakin pengen liburan*

Mila Said mengatakan...

semoga diantara rombongan malang dan rombongan rawamangun ada cewe cakep nya.

covalimawati mengatakan...

seruuu.. 'n keren bgt pemandangannya.. *mupeng*

uli mengatakan...

Pemandangan menuju ke Pos 1 alami bangat ya pemandangannya. psti sejuk dech disana

Adi Chimenk mengatakan...

pasar aikmel, dulu terkenal dengan sentra kerajinan gerabah. masih gak ya?

Ami mengatakan...

Duh, aku juga cinta banget ma gunuuuung...

Yayack Faqih mengatakan...

di tengah kesibukanya wara wiri di dunia petualangan sebenarnya ada bakat terpendam dari seorang gaphe yaitu soal memainkan shoot kamera :D

Gambarnya lumayan bagus2 :D

Nia mengatakan...

perjalanan kali ini seru bangett yachhh........ikut berdebar2 bacanya.....ikut merasakan sakit wktu gaphe jatuh hiks......trnyata begitu yach suka dukanya mendaki gunung..kayaknya aku mah ngga cocok utk mendaki gunung.....mentalnya ngga kuat heheh...

Yunda Hamasah mengatakan...

Cerita perjalanan yang mengesan kan ;)

zeins syakaky mengatakan...

bisa ja bercerita..hehehe

Fiction's World mengatakan...

mauuuu wah sumpahnya juga ngiri lah aku :D

ketty husnia mengatakan...

terus ditunggu cerita hingga ke puncaknya Gaphe..yg paling dijaga selain kondisi badan, pasti cuma satu.. kamera ya??

kakaakin mengatakan...

Subhanallah...
Jadi ingat novel 5 Cm :D

Anak Rantau mengatakan...

Pemandangannya Bagus banget Sob, sayang aku gak berani panjat gunung hehe...

the others... mengatakan...

Masyarakat Sembalun yang mayoritas beragama Islam ini menganggap sapi adalah hewan yang istimewa, karena hewan ini adalah tabungan hidup bagi keluarga. Status sosial terkadang dilambangkan dengan banyaknya sapi yang dimiliki, dan merupakan lambang banyaknya rejeki. ---> ini kamu dapat dari literatur atau dari informasi penduduk, Ga?

Ada jalur ilegal juga ternyata? kenapa jalur yg lebih mudah itu tidak dilegalkan saja?

Ririe Khayan mengatakan...

pernah naik truck jaman masih SMA...seruu buangettt...wkwkwkwkkk

monda mengatakan...

baru di awal aja pemandangannya udah bagus gitu ya Phe.., lanjut ah ke berikutnya

.:diah:. mengatakan...

huaaaaaa Subhanallah... hijau dimana2.. huaaa kereeen bangeett Phe

btw Phe, jangan foto disamping tiang gitu dunk Phe, macam saingan aja jadinya, xixixix *peace :D

Ejawantah's Blog mengatakan...

Setiap pendakian pasti identik dengan kendaraan pick up, agar mudah membawa bawaannya. Dan perjalan yang menyenangkan.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ini nih bukan melancong biasa ya. krn ada acara nginep di tenda, eh di pos terus masak sendiri. in bener2 petualang.

Meutia Halida Khairani mengatakan...

kurang banyak pamer foto nih phe... subhanallah indah nyaaa...

sebenarnya kalo di jalur ilegal itu dijaga juga kan gpp. lumayan kalo sampai menghemat waktu. dulu hiking ke curug cilember sampe 6 jam. pas balik dikasi tau jalur tersembunyi sama penduduk setempat jadi cuma 1 jam doang turunnya..

pengen ke lombooookkkk

KoskakiUngu mengatakan...

om gaphe kalo tiba2 mau pipis ato pup gimana tuh? apalagi kalo cewek, pan ribet tuh... (jawab!) <= maksa ;p

ria haya mengatakan...

pemandangannya keren.....
makin cinta dg Indonesia ^^

puteriamirillis mengatakan...

hoa perjalanan yang melelahkan, mulai dari carrier yang diangkut mobil bawang hingga pos 3,,,ikutan ngos2an,,,pemandangan yang indah...
siapakah tim dari rawamangun itu????

Lyliana Thia mengatakan...

wow! curamnya sampe 60 derajat?? kebayang deh.. klo aku udah pingsan kali Phe saking ngos2an.. apalagi sambil bawa carrier.. hehe..

sembalun lebak lauk mengatakan...

HAhahahahahahahaha desa yg paling sejuk

Rizal Sembalun mengatakan...

WaoooooWWww kReeennn.....
Kapan Nih Bang Bisa Ke Rinjani Bersama.

Udahhhh lama banget aq ga kesana.

effendy_riZal mengatakan...

Waoooww Kreeeennnn..
Kapan Berkunjung Lagiii bang.
Kita Ke Rinjani Sama-sama.

Oya,, salam kenal ya buat semua.

effendy_riZal mengatakan...

Waoooww Kreeeennnn..
Kapan Berkunjung Lagiii bang.
Kita Ke Rinjani Sama-sama.

Oya,, salam kenal ya buat semua.

sugi phang mengatakan...

mas, mau tanya2 dikit. Untuk menuju Aikmel, angkot (engkel) ham berapa paling pagi dan berangkat dari mana??
Thanks

sugi phang mengatakan...

hallo mas, mo nanya sedikit ttg informasi angkot (engkel) dari mataram ke sembalun melalui Aikmel paling pagi jam berapa dan naik dari mana??
Thanks

indrijuwono mengatakan...

wah, informatif banget. aku bookmark yaa ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...