Kamis, 05 Januari 2012

Menuju Puncak Gunung Rinjani (3.726 mdpl)


Jam dua pagi adalah janji kami pada diri sendiri untuk bangun tanpa paksaan. Waktu sepagi itulah yang kami rencanakan untuk memulai pendakian menuju puncak Rinjani dari Plawangan Sembalun. Alarm handphone saya bahkan saya set lima belas menit lebih cepat, dengan mode snooze kalau-kalau saya sulit bangun nantinya. Pada akhirnya memang kami bangun pukul dua pagi, tetapi sayangnya cuaca di luar tenda hujan deras.Ketika kita bicara soal cuaca, apalagi di pegunungan, sulit sekali untuk ditebak bagaimana kondisinya. Malam sebelumnya cerah dan berbintang, tetapi ternyata malam ini justru hujan cukup lebat.

Saya menanyakan kepada team leader kami apakah jadi naik atau tidak. Dia bilang, tunggu sampai hujan reda. Setengah jam, satu jam, ternyata hujan tidak kunjung mereda. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Jika menginginkan sunrise, maka seharusnya kami sudah berada di jalan. Mungkin saat itu Tuhan mendengar doa kami sehingga hujan mulai mereda. Hanya tinggal gerimis tipis saja, sehingga kami beranjak dari tenda untuk naik ke puncak Rinjani. Saya sudah memprediksi bahwa kami tidak akan sempat untuk mendapat pemandangan sunrise langsung dari puncaknya. Tapi tetap usaha sekecil apapun harus dicoba, kalau tidak maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.

Setelah semua siap, akhirnya kami berangkat. Dari keseluruhan orang yang menginap di Plawangan Sembalun, kamilah yang pertama kali memutuskan untuk mendaki ke atas. Praktis, kamilah yang ada di depan. Beberapa kelompok mengikuti kami, termasuk kelompok dari Rawamangun dan dari Malang. Tapi ternyata, baru satu jam berjalan, hujan deras mengguyur kembali. Pendakian pun kami hentikan sementara, dan bekal kami buka. Dalam dinginnya dini hari, masing-masing dari kami menggigit sebutir apel untuk mengganjal perut. Kelompok dari Rawamangun melewati kami. Mereka lebih cepat jalannya karena hanya bertiga, memakai jas hujan, dan tidak membawa banyak bekal. Sedangkan kami, hanya sedikit yang memakai jas hujan, dua lain terpaksa memakai payung. Dan membawa payung ke gunung itu ternyata merepotkan!

Rute pendakian menuju ke puncak Rinjani boleh dibilang tidak mudah. Jalanan menanjak sebagian besar didominasi dengan pasir. Bisa dibayangkan ketika kita berjalan di atas pasir, miring dan menanjak ke atas, maka seakan-akan usaha kita sia-sia. Setiap langkah ke atas, merosot kembali ke bawah. Setiap tiga kali melangkah, jarak yang ditempuh hanya setara dengan satu langkah. Belum ditambah dengan samping kiri dan kanan yang langsung jurang, satu-satunya pegangan yang bisa diandalkan adalah lilitan akar-akar kayu dari vegetasi yang masih tumbuh. Semakin ke atas, vegetasi pun semakin tipis. Yang tersisa hanyalah beberapa jenis ilalang dan bunga edelweiss saja.

semakin ke atas semakin habis vegetasinya
Terdapat gradasi tanah yang cukup kentara terlihat ketika menuju ke puncak Rinjani. Awalnya berupa batu gamping keras berwarna putih, lalu berubah menjadi lautan pasir yang butuh usaha keras supaya tidak merosot ke bawah. Lalu tanah padat berwarna hitam dengan sedikit pasir. Di posisi ini cukup mudah untuk mendaki, karena strukturnya landai. Lalu, berubah menjadi pasir kembali. Sampai di posisi letter S, sebuah jalan yang membentuk huruf S dengan batuan besar di samping, tanah mulai berubah menjadi warna merah kecoklatan. Setelah itu, gradasi tanah berubah lagi menjadi pasir yang lebih besar. Mendekati ke puncak, pasirnya ukurannya makin besar dan menjadi kerikil dan batuan segenggaman tangan.

Jam enam pagi, ketika sunrise datang, kami masih di lahan pasir. Sunrise terpaksa kami lewatkan di bawah, dan hanya memperoleh sebagian dari sinarnya saja.

Sunrise di tengah pendakian
Semakin siang, matahari semakin ke atas, kabut juga semakin beranjak hilang. Di sisi kanan kami terbentang danau Segara Anak yang makin lama makin utuh bentuknya terlihat. Kalau dari Plawangan Sembalun, kami hanya bisa melihat separuh bagian dari danau saja, tetapi dari atas sini danau hampir terlihat secara penuh. Dari kejauhan, tampak pula siluet Gunung Agung yang terletak di Bali.

Cukup susah untuk memperoleh pemandangan yang bagus disini, karena hanya dalam beberapa menit saja kabut kembali datang dan menutupi. Ketidak beruntungan itu ditambah dengan kamera SLR yang saya bawa habis baterainya. Crap!! Padahal sebelumnya masih penuh. Usut punya usut, karena cuaca dingin itulah yang menyebabkan baterai kamera cepat drop. Sama sekali tidak bisa dipakai untuk mengambil pemandangan Segara Anak dari atas Rinjani. Alhasil, hanya pocket cam saya saja yang bisa terpakai.

Suasana saat kabut mulai turun menutupi danau Segara Anak

Segara Anak dari sisi Gunung Rinjani. Kaldera hampir terlihat penuh, dengan siluet Gunung Agung di Provinsi Bali yang seakan muncul dari awan
Saya sempat menyerah ketika tanjakan ke atas seakan tidak ada habisnya. Ketika saya pikir sudah dipuncak, ternyata kabut menghilang dan terlihat lagi puncak yang baru. Bahkan di detik-detik terakhir saya bilang kepada teman-teman, itu adalah puncak terakhir saya. Apapun yang terjadi, saya akan berhenti di puncak itu. Mengingat fisik saya sudah tidak bisa berkompromi lagi. Campuran antara kedinginan, kaki pegal, sepatu kemasukan pasir yang sakit bila terinjak, serta jalanan menanjak yang seakan tiada habisnya. Tapi ternyata, Tuhan masih berbaik hati pada saya. Puncak terakhir yang saya bilang itu ternyata memang benar-benar berakhir!. Finally, akhirnya kami berdiri di atas ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut. Saya berhasil menaklukkan puncak pertama saya di Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia!.

Seperti berada diatas awan


Puncak Rinjani, 3.726 mdpl, saat tertutup kabut. Finally, I reach the top!


Saya teringat quotes dalam film Into The Wild, yaitu Happiness is only true when it shared. Kebahagiaan baru terasa ketika itu dibagikan. Ya, kebahagiaan kami menggelegak ketika akhirnya kami bisa sampai di puncak dengan selamat. Ini bukan tentang menaklukkan alam ternyata, ini tentang menaklukkan diri sendiri. Bahwa ada hadiah indah menanti bagi setiap orang yang tidak menyerah. Kami berenam berpelukan dan berteriak kencang, semua saling menyelamati!.



Pemandangan dari atas benar-benar lega. Kalau saja saya membawa sajadah dan sarung, ingin rasanya shalat dhuha disitu. Subhanallah, melihat matahari seakan lebih dekat di ujung tangan rasanya tinggal meloncat dan memetiknya. Melihat ke bawah pemandangan benar-benar keren, Lombok dari 360 derajat sungguh luar biasa. Saya tidak berhenti tersenyum ketika di atas, karena saking bahagianya bisa sampai di puncak. Ya, ini adalah puncak gunung pertama saya!

Selama satu jam kami habiskan untuk berbaring menatap langit, sambil menghabiskan sisa-sisa snack dan minuman yang kami bawa. Sampai pada akhirnya, kabut mulai naik dan menutup semuanya. Panas matahari mulai menyengat karena semakin siang. Maka akhirnya kami beranjak untuk turun ke bawah.

Perjalanan menuruni gunung jauuuh lebih mudah daripada naiknya. Tinggal melucur saja, dan pasir akan membawa kaki kita merosot kebawah. Jika tadi naiknya diibaratkan tiga langkah sama dengan satu langkah turun, maka ketika turun satu langkahnya setara dengan tiga langkah. Hanya butuh tiga jam saja untuk turun ke bawah sampai ke Plawangan Sembalun lagi, berbeda dengan naiknya yang lebih dari 5 jam.

Ternyata, sesampainya di tenda kami disambut dengan musibah. Segerombolan monyet membobol tenda kami dan logistik berhamburan di luar tenda. Semua beras yang kami bawa dibobol dan tersebar di tanah. Minyak goreng, peralatan masak yang belum sempat dicuci semua berhamburan diluar. Lutut kami lemas. Masih ada tiga hari dua malam lagi, dan semua beras yang kami bawa habis tak bersisa. Niat awal tadi sesampai di tenda langsung memasak makan siang nasi goreng kornet pupus sudah. Tidak ada nasi yang tersisa, semua beras bercampur tanah. Dan akhirnya, hari itu yang kami rencanakan untuk meninggalkan Plawangan Sembalun terpaksa kami batalkan. Kami menginap satu malam lagi, meminta belas kasihan pendaki lain yang baru sampai untuk menyumbangkan beras mereka. Karena tanpa beras, kami tidak akan bisa bertahan.



Usut punya usut, ternyata semalam sebelumnya semua beras yang dibawa disatukan untuk dihitung jumlahnya mengingat ada pendaki lain yang meminta beras kami. Setelah dihitung dan sebagian diberikan pada pendaki itu, beras dimasukkan dalam kresek yang didalamnya ada buah apel matang. Bau harum apel itulah yang membuat monyet-monyet di Plawangan Sembalun beringas. Mereka berani membobol tenda dan mengambil semuanya.

Untuk sekedar menyelamatkan malam ini dari kelaparan, saya berinisiatif untuk mengumpulkan sisa-sisa beras yang ada. Saya mencuci dengan air, memisahkan dari kerikil, sampai benar-benar bersih. Untuk memperoleh satu loyang beras saja butuh waktu hampir dua jam. Dalam kondisi ini saya baru menyadari betapa berharganya sebutir beras. Saya berjanji, tidak akan pernah menyia-nyiakan nasi lagi mengingat kejadian ini. Pengalaman ini ternyata mengubah cara pandang kami terhadap banyak hal.

43 komentar:

artin hamasah mengatakan...

Subhanallah...

Foto2 yang mengetarkan syukurku ...

Semoga kapan2 bawa sajadahnya g lupa ya, dan banyak juga lho yang cerita berpetualang dialam sholaynya beralasakan tanah rumput :)

Sofyan mengatakan...

Ehh sudah sampai Puncak Gunung Rinjani nih,,meski kena hujan tapi hasilnya memuaskan Mas...

Ami mengatakan...

Cerita taddabur alam yang sungguh luar biasa.

Btw, Allah selalu mendengar doamu Phe. Terus Allah juga selalu baik padamu, hanya sekali-sekali diberi kejutan agar hidup lebih menarik.

Very nice story...

Arman mengatakan...

foto yang kayak di atas awan itu keren banget phe!! :D

tiffa mengatakan...

pemandangannya cantik

Ario Antoko mengatakan...

pelajaran dari cerita ini:

1. naik gunung bawa jas hujan
2. naik gunung kamera dslr dimatikan dulu untuk menghemat baterai
3. jangan taruh apel bersama beras

monyet tak suka beras, tapi suka pisang dan apel he he

sYam mengatakan...

Aku suka Phe, km org yg paling hikin saya iri sejauh ini...

ketty husnia mengatakan...

akhirnya..tercapai juga semua mimpimu ya Phe..btw, ga ddingin tuh di puncak gunung? koq cuma pake jaket tipis..terbuka pula dan kaos doank..ga salah ya??hehehe

Syifa Azz mengatakan...

akhirnya... hhh... jadi ikutan ngos-ngosan. hhehe
onyitnya nakal, suka mencuri. :D

RanggaGoBloG mengatakan...

naik naik kepuncak gunung, eh ketemu temennya.. :D

Si Galau mengatakan...

wah jadi pngen muncak lagi :D
keren2 smua kecapkannya pasi terbayar terlebih dpet sunrise :)

Claude C Kenni mengatakan...

Gila keren banget pemandangannya...tapi gua sih kayaknya ga akan berani nyobain, gua takut ketinggian...hiksss...

Hariyanti Sukma mengatakan...

menikmati alam memberikan perjalanan spritual tersendiri...
Selamat ya akhirnya sampai juga di puncak gunung...
foto2nya keren banget .... makasih ya bisa menikmati keindahan nya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah gayamu Gaphe...asik pisan euy.

uci cigrey mengatakan...

hati2 ketiup angin :))
phe keren, subhanallah, jadinya sholat dhuha ngga, hihihi
ada beberapa yg aku suka kalimat2nya :
1. ada hadiah indah menanti bagi setiap orang yang tidak menyerah.
2. Pengalaman ini ternyata mengubah cara pandang kami terhadap banyak hal.
merindingg

dv mengatakan...

waw..sumpah keren, merinding sama kaya ucil..liat fotonya, keindahan alamnya dan hikmah yang diambil dari setiap kejadian..keren!

Nia mengatakan...

terharu baca alinia terakhir....aku jd inget temen2ku yg suka mendaki gunung...katanya kalau kita sdh sampai diatas...dan emlihat langit begitu dekat...seolah2 seperiti berada di kaki langit...kita baru sadar betapa Allah maha besar dgn segala ciptaanya dan manusia menjadi keciiill....Subhanallah...ternyata kegiatan mendaki gunung ini bisa menambah tingkat keimanan kita yachhh.....

Elsa mengatakan...

wuuuuaaaaah ngiri ter ngiri ngiri sama Gaphe...
bisa sampe puncak gitu

aku naik ke kawah Ijen aja pingsan. hehehehehe apalagi ke Rinjani ya

cosmo florist mengatakan...

AWESOME,,,
Subhanallah,,,
semoga bln april bisa mendaki ke rinjani, amiiin,,,

salam kenal mas, keren2 potonya, hehe

puteriamirillis mengatakan...

keren phe,,,kalo aku kayanya ketakutan deh di puncak gitu...tapi naksir dg pemandangannya...lagian kapan ya aku bisa hiking...hihhi...

aryadevi sudut kelas mengatakan...

selamat mas Gaphe....penakluk diri sendiri...sukses!

Nchie mengatakan...

Asli..terpukau Phe..
Mau banget kesana pemandangannya keren..

Foto2nya Mantabs..

Bikin ngiri aja loh..
Ikuutt..

rizkimuft mengatakan...

keren banget pemandanganya!
tapi aku gemetar liatnya! takut ketinggian sih XD haha

fitrimelinda mengatakan...

wuuiihh..keren banget sunrise dan danau segara anaknya..
mupeng..pengen banget bisa mendaki gunung

Takuya mengatakan...

gak kebayang, sunrise yg di tengah jalan aja udah sekeren itu! aaa pengen kesanaa, tapi kuat ga ya? hehe.. bagus banget! manteeep..

keplak aja monyetnya, -.-

Si Galau mengatakan...

dtunggu next adventure saob :D

Una mengatakan...

Wah apik tenan... @_@

niee mengatakan...

Subhanallah.. Pemandangannya keren banget ya phe.. dan pengalaman yang gak akan tergantikan tentunya :)

yuniari nukti mengatakan...

Sebuah pelajaran berharga bila sedang diatas gunung, harta yang kita miliki tak ada nilainya.. bisa makan saja sudah Alhamdulillah..

Riska mbem mengatakan...

Om... kau membuatku iri...
benar2 envy..!! >.< *yek, irian*

Goiq mengatakan...

selalu seneng liat-liat foto-foto pendakian... bisikan-bisikan alama seolah memanggil.. sayang aq udah lama pensiun :)

kira mengatakan...

assseeeeekkkk.
oleh2nya apa neh?
(bebatuan gunung)
hahahaha

Chita mengatakan...

Indonesia memang nggak kalah cantik dengan objek wisata luar negeri yah! Nice pics! :)

mandor mengatakan...

keren sekali mas, sampeyan bisa menapaki rinjani. Foto fotonya juga keren banget.
Saya sebenernya pengen ke sana, apa daya ndak mampu

sanman mengatakan...

foto yang kayak di atas awan itu keren banget !
jadi pengen kesana suatu saat...hehe

Mila Said mengatakan...

wuuuiiih hebat. sampe juga ke puncak gunung rinjani, tapi itu manjat gunung nya ga pada pke sepatu? ato sepatu nya di ambil monyet juga? hihihiii

Fiction's World mengatakan...

aih bang :O denger ceritanya aja aku ikut bahagia dan deg2an begini, apalagi kalau ikutan mendaki :D
Subhanallah indah banget lah meskipun tertutup kabut begitu

Meutia Halida Khairani mengatakan...

subhanallah phee.. kerennn udah bisa menaklukan gunung rinjaniii.. kapan ya gw bisa kayak gitu, mengingat fisik gw masih rada2 manja.. ntar kalo lo udah turun, mendingan lo tulisin tips buat orang yg mau mendaki.. gw sih buta bgt, bawa tenda, beras, dll gituan..

kalo tenda dibobol pencuri kita bisa marah2 ya, tp kalo monyet, gmn mau marahnya? hehehe. sabar2 aja lah...

.:diah:. mengatakan...

Subhanallah Phe, indah banget pemandangan dari atas ketinggian itu.. kereeenn, tak tertandingi.


pelajaran berharga banget ya Phe, dari alam emang kita bisa belajar banyak hal, termasuk pengalaman susahnya mengumpulkan beras yg berserakan hasil dari kebrutalan segerombolan monyet.

Mechta mengatakan...

aduuh...lihat foto2 disini jadi gemesss.... baguus semua! apalgi aslinya ya? subhanallah...alangkah indahnya ciptaanNYA!

Iqoh mengatakan...

Subhanallah....

Pendakian pertama langsung Rinjani man....
kerenlah...*prok-prok*

onyitnya nakal....nakal...nakal....

Lyliana Thia mengatakan...

subhanallah pemandangannya indaaaaah bangeeet..

Gaphe, aku baru tau loh kalau udara dingin ternyata bisa menyebabkan batere kamera cepat habis, thanks infonya ya..

aku sukaa banget baca posting ini, serasa baca novel 5 cm lagi! seru dan mengharukan! dan yg terpenting adalah pelajaran yg bisa kita aambil dari sini ya.. ttg betapa kuasa Tuhan dan betapa sebutir nasi itu sangat berharga...

thanks for sharing.. :-D

rahman (7106.040.027) mengatakan...

super sekali.. :)
terharu euy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...