Selasa, 03 Januari 2012

Sunrise dan Bukit Penyesalan


Jam biologis saya sepertinya sudah secara otomatis tersetting untuk bangun pas subuh. Saat itu diantara empat tenda yang ada, hanya saya satu-satunya yang terbangun. Saya lalu menunaikan ibadah sejenak, sambil mengambil kamera. Menunggu sejenak di salah satu batu yang tinggi, merasakan udara pegunungan yang dingin. Bahkan, dinginnya mampu menembus jaket, sarung tangan, kaos kaki dan sarung yang saya pakai. Tapi penantian di dalam dingin itu sepadan dengan apa yang saya peroleh : Sunrise di pos tiga, pos Pada Balong.

Sunrise dari Pos 3 (1800 mdpl)
Memang matahari tidak penuh muncul semuanya, namun semburat warna jingga yang bercampur dengan gumpalan awan serta birunya langit membuat sejenak nafas tertahan. Posisi di pos tiga memang kurang strategis untuk melihat sunrise secara utuh, sebagian sinar terhalang oleh lereng bukit yang sebelumnya kami lewati. Namun itu tidak menjadi masalah karena justru lereng bukit itu malah menjadi aksen siluet yang indah di foto.

Saya kembali meringkuk ke dalam tenda setelah pemandangan indah tadi. Setengah jam saya terlelap dalam sleeping bag sampai akhirnya saya mendengar suara ramai di sebelah tenda. Teman-teman sedang memasak sarapan. Menu pagi pertama, sayur labu siam bumbu pecel ditambah abon. Cukup untuk mengganjal perut dan mengisi energi untuk perjuangan selanjutnya.

Belajar dari pengalaman hari sebelumnya, kami sekalian memasak mie goreng sebagai bekal makan siang nanti. Kami tidak ingin menghabiskan waktu siang hari nanti hanya untuk memasak makanan dan beristirahat.

Selesai menyiapkan bekal, mengambil air dari sumber mata air di sungai bawah pos, kami lalu packing dan bersiap untuk menempuh pos selanjutnya di Plawangan Sembalun. Waktu packing adalah waktu yang paling lama dihabiskan. Minimal dua jam sampai semuanya siap karena tas harus diisi dengan benar sesuai dengan urutan keperluan. Jangan sampai barang yang sering dibutuhkan malah ditaruh dibagian bawah carrier.

Konon, track dari pos tiga menuju ke Plawangan Sembalun adalah track yang paling sulit ketika akan menuju ke puncak Rinjani. Butuh waktu lebih dari empat jam untuk mendaki. Tetapi mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin, saya tidak serta merta mempercayai bahwa itu benar-benar empat jam!. Pasti jauh lebih dari itu.

Benar saja, baru sekitar dua jam berjalan hujan pun mengguyur dengan deras. Pagi yang tadinya cerah ceria tiba-tiba awan dan kabut naik ke atas dengan cepat membentuk segumpal uap air yang siap menghajar dengan air hujannya. Jalanan berbatu kemiringannya tidak lagi 30-60 derajat, tetapi lebih besar. Bahkan kami harus mendaki, merayap ke atas karena saking curamnya. Belum lagi di sebelah kanan langsung jurang. Hujan, licin, dingin benar-benar menahan kami sampai akhirnya leader di depan berteriak bahwa mereka menemukan pos pemberhentian.
 
Di pos berukuran 2x2 meter beratap limas segi empat berwarna hijau, sudah ada banyak orang yang berteduh. Ada belasan orang didalamnya dan semuanya menggigil kebasahan. Hujan tidak berhenti sampai jam tiga sore. Kami berteduh lebih dari dua jam lamanya, sampai akhirnya terpaksa mie goreng bekal yang dimasak tadi kami habiskan. Dingin, tidak enak, tetapi harus masuk ke dalam perut untuk mengisi tenaga supaya tubuh dapat beradaptasi dengan dingin.

Pos Empat, selesai beristirahat dan siap berangkat lagi. Muka mulai lesu mengingat Bukit Penyesalan menghadang.
Ini adalah pos empat. Setelah pos ini, akan ditemui bukit penyesalan. Bukit ini adalah track paling menguras energi, emosi, dan membuat frustasi. Itulah mengapa dinamakan sebagai bukit penyesalan karena setiap pendaki yang menaiki bukit ini kebanyakan akan merasa frustasi. Mengapa?. Struktur bukit ini miring dan terjal, tetapi seakan tidak ada habis-habisnya. Ketika kita mengira sudah ada di puncak, ternyata di sebaliknya masih ada puncak lagi yang harus didaki. Masalahnya adalah ketika dibawah, pandangan tidak bisa melihat keseluruhan puncaknya sehingga tidak bisa memperkirakan kapan tanjakan penyiksaan ini akan berakhir. Tidak ada jalan lain selain terus mendaki. Setiap pendaki yang sudah memutuskan untuk menaiki bukit penyesalan tidak boleh berhenti disini. Selain tidak ada tempat dengan kemiringan yang landai untuk membuka tenda, di jalur ini juga tidak ada sumber air.

Bukit penyesalan dari puncak pertama - yang ternyata masih banyak puncak-puncak lainnya diatas. Pos empat terlihat kecil dari kejauhan

Tetapi meskipun namanya bukit penyesalan, tetapi sebenarnya tidak terlalu menyesal sekali koq. Ketika kita bosan berjalan kearah atas dan mendongak ke depan isinya hanya tanjakan dan tanjakan, namun ketika berbalik badan maka pemandangan yang super indah bisa kita peroleh.

Melihat ke depan isinya tanjakan tanpa akhir, melihat ke belakang inilah yang diperoleh!
Benar saja, kalau dibilang perjalanan dari pos tiga ke Plawangan Sembalun  adalah empat jam  dengan berjalan normal, kami justru menempuhnya hampir seharian. Di puncak Plawangan Sembalun, kami sempat tidak tahu harus kemana arahnya. Hari sudah gelap gulita, sedangkan angin dari bawah kencang bertiup, kencang membawa kabut dingin. Cahaya senter membentuk berkas cahaya diterpa kabut. Dinginnya  benar-benar tidak tertahankan. Memilih berhenti berjalan sama seperti bunuh diri, justru jika berhenti dinginnya kabut semakin terasa. Suasana malam begitu mistis, samar-samar di bawah terlihat segara anakan yang ditutupi oleh awan dan kabut.

Dua orang dari kami berpencar mencari jalan, sampai pada akhirnya kami mendengar teriakan mereka berdua : "Berkemas! Berkemas! pos plawangan sembalun kami temukan!".

Plawangan Sembalun adalah areal yang luas yang landai dan berpasir dengan sedikit vegetasi. yang terletak pada ketinggian 2688 meter diatas permukaan laut Karena posisinya serta kontur tanahnya inilah Plawangan Sembalun dipakai sebagai tempat penginapan sementara sebelum  melanjutkan pendakian menuju ke puncak Gunung Rinjani. Plawangan berasal dari kata ‘Lawang’ yang berarti Pintu.

Plawangan Sembalun inilah pintu masuk menuju Rinjani, dari pos ini dalam kondisi normal butuh waktu tiga sampai lima jam lagi untuk mendaki sampai dengan puncak Gunung Rinjani. Dari pos Plawangan Sembalun ini kita juga bisa melihat pesona Segara Anak di bawah yang indah.

Kami memilih posisi berkemah yang berada di pinggir tebing. Persis di depan kami langsung jurang menuju ke Segara Anak. Salah sedikit saja bisa terjun bebas. Resiko berkemah disini sepadan dengan pemandangan pagi hari yang kelak kami akan dapatkan dengan begitu indahnya!.

Pemandangan Segara Anak dari atas Plawangan Sembalun. Pagi hari di depan tenda.

Setelah memasang tenda dan memasak, kami semua beristirahat. Kami berencana untuk mengejar sunrise di Puncak Rinjani, sehingga dini hari kami harus bangun untuk berangkat.


*semua foto adalah dokumentasi pribadi. Mohon mencantumkan blog ini sebagai sumbernya jika ingin memakai sebagian atau seluruh dokumentasi di dalam artikel ini.

58 komentar:

Baha Andes mengatakan...

bener gap asik banget... pemandangannya pun indah. bikin mupeng.

Syam Matahari mengatakan...

Ahhhh tidaaaak! Kiraian kelombok bwat wisata bahari doang phe... rupanya km hiking yah. ah saya iri luar biasa. gunung rinjaniiiiii....

*salut :)

Sofyan mengatakan...

Wahhh,,kelehannya terbayar dengan pemandangan yang esip ya Mas,,

Fiction's World mengatakan...

aaah subhanallah bang :O fotonya yang terakhir itu aah bikin speechless, fotonya aja bagus banget apalagi aslinya :O

catatan kecilku mengatakan...

Dari surabaya bawa labu siam, Ga? Untung ada yg bisa masak labu siam itu ya?

Subhanallah, Pemandangan Segara Anak bagus sekali... pasti tak menyesal bersusah payah mendaki kalau akhirnya bisa menikmati pemandangan secantik itu ya?

Jin Kinjeng mengatakan...

ah gan, bikin ngiri aja ente, ngiler banget ane kalo denger rinjani,
mampir keciremai donk gan :D, ane siap gabung

Arya Kamandanu mengatakan...

benar-benar mencoba mengharmonikan dengan alam....tenaga rasa yang sudah terkuras, tidak terasa setelah melihat alam yg indah..

selamat mas ^__^

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

MasyaAllah pemandangannya bagus banget ya. btw sayur labu siamnya diapain tuh? kok gak kelihatan bumbu pecelnya? :)

RanggaGoBloG mengatakan...

keren keren potonya... memang benar2 keagungan Tuhan.... ijin follow dan masukin blogroll semoga bermanfaat...

Arman mengatakan...

foto yang terakhir itu breath taking banget view nya yaaa....

Ely Meyer mengatakan...

WOW ... WOW ... fotonya cantik apalagi foto yg terakhir cantiiiiiiiiiiiikkk sekali !
salut deh bisa sampai sana dan membagi ceritanya, thanks ya :)

naspard mengatakan...

waw, pastinya seger yak udara disana
gak kek disni, polusi doank hiks hiks #jakarta jakarta

tiffa mengatakan...

cowok2 bs jg masak labu siam dan nasi, #ngeliat diri sendiri, menunduk lesu :(

TUKANG CoLoNG mengatakan...

bisa bangun subuh? aku juga mauuuuuu


aku ga ada yg pernah ngajak jalan2 TT

Ririe Khayan mengatakan...

yg langsung menarik mata utk melihat, foto segara anak...

Sejak dulu pengen banget petualangan di alam kayak gini, tp gak prnh kesampaian. hanya prnh kemping 2 kali itupun acara kampus..#menyedihkan

Asop mengatakan...

Hmmm aneh, kenapa namanya bukit penyesalan? :D Padahal benar kata Mas Yoga, kalau berbalik, pemandangan indah akan menusuk mata kita. ^^

Dan Subhanallah, saya suka banget foto terakhir, itu danau bagus bangeeeet... TT__TT *haru biru*

Hariyanti Sukma mengatakan...

Subhanallah ..... pemandangannya bagus banget ... kebayang deh begitu menyenangkan berada disana....

Hariyanti Sukma mengatakan...

Subhanallah ..... pemandangannya bagus banget ... kebayang deh begitu menyenangkan berada disana....

Nia mengatakan...

Gaphe...sayang banget foto sebagus ini gak dipasang watermark...apdahal untuk mendapatkan foto2 ini butuh perjuangan yg menguras tenaga....

foto yg terakhir itu...subhanallah...bagusnya...meskipun resikonya besar tp sesuai sm hasilnya yachh....

zasachi mengatakan...

Subhnallah..
pemandangannya benar2 kereeenn bgt Pe.. :-)
makin cinta ma Indonesia..

sapa org pertama yg ngasi nama bukit penyesalan itu ya?? mgkn mksdnya nyesal klo gak didaki hehehe

monda mengatakan...

trims ya Phe, udah ada foto Segara Anaknya.. tetap aja indah bikin nafas tertahan... seandainya sanggup melihat langsung

Honeylizious Rohani Syawaliah mengatakan...

indah banget tempatnya, enak ya bisa jalan-jalan terus :)

melly mengatakan...

Gileee
pemandangannya kereeen bgt pheee

melly mengatakan...

Gileee
pemandangannya kereeen bgt pheee

yanuar catur rastafara mengatakan...

wah..wah...aku jadi kepingin ndaki kesana bang..
ehm, abis berapa ya kalau kesana...
pasti mahal tuh

Faizal Indra kusuma mengatakan...

Mantap jalan-jalannya :D Lombok? ajip tuh^^

t h y a mengatakan...

waaaa... subhanaallah pemandangannya.. LUAR BIASA!!! ;)

TUKANG CoLoNG mengatakan...

otomatis bangun subuh? mauuuuu


gara-gara dulu sering nolak diajakin bepergian, sekarang malah ga ada yg ngajak jalan TT

Zippy mengatakan...

Ya ampun mas, itu tempatnya indah banget ya.
Kapan saya bisa kesana??? -____-"
Btw, kalo rame2 gitu pasti asik, makan apapun gak jadi soal, termasuk mie goreng skalipun :P

Syifa Azz mengatakan...

subhanallaah...
#mupeng nih :O

Ninda Rahadi mengatakan...

semoga naik ke gunung gk bikin bang gaphe tambah kurus
aaaa aku suka foto2 pemandangannya
cantik kayak aku :3

Adryan Nurdien mengatakan...

tapi kalau udah nyampe puncak jg g nyesel mas, dapet pemandangan yg indah.. :D

dunia kecil indi mengatakan...

wih, gaphe makin seru aja. makanannya juga OK, kok. bukan mengganjal itu mah, porsi makan aku memang segitu, hehehe. worthed ya pemandangannya bagus banget. btw, itu kabut apa asap, ya?

Ejawantah's Blog mengatakan...

Pemandangan yang indah dan dapat menyejukkan mata.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

sprei mengatakan...

thaks Gan your blog baggus info and useful, greetings and salutations successful blogger

ToM kuU mengatakan...

wuih asik nih kampingnya... pengen nyobain kemping deh TK... asik yah... bener2 bersatu ma alam... semoga tahun 2012 ada kesempatan untuk kamping... ^^

Ulla von Wieben mengatakan...

Apik banget mas fotone...
Jadi kepengen makan abon @_@

Djangan Pakies mengatakan...

kalo ada pendaki masih merasa menyesal dan frustasi ketika harus melewati terjalnya bukit, berarti perlu dipertanayakan label pendakinya, betul nggak ?
pictnya manteb, alamnya woke, phograpernya ya woke

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah puncaknya keren amat. indah sekali..

Aulia Rahmawati mengatakan...

wisata yang sangat menaraik dan noce post ;)
kunjungi dan comment blog saya juga http://auliaarb.blogspot.com/2012/01/inilah-ekspresiku.html
terimakasih dan salam kenal :D

Aulia Rahmawati mengatakan...

wisata yang sangat menaraik dan noce post ;)
kunjungi dan comment blog saya juga http://auliaarb.blogspot.com/2012/01/inilah-ekspresiku.html
terimakasih dan salam kenal :D

1mmanuel'Z-Note5 mengatakan...

wah kita sama bro... gue juga selalu bangun pagi.. emang udah kebiasaan sih dari kecil. :(

Catatan Cerita dari Langit mengatakan...

Wah, gan dari Jogja ya? Wah, sy lagi di Jogja nih, kuliah.. Aslinya merantau. Hehe..

Nice2 pemandangannya gan. (y)

Btw, ketemu yuk gan, saling sharing.

Kepp share yah kawan. :D

Orin mengatakan...

ga mau bacaaaa.... bikin ngiri ajah! *ngeloyor pergi*

hihihihi.... pastinya sangat mengesankan ya mas Phe, kapan2 ajakin aku duuuunk...

mama kinan mengatakan...

alhamdulilah bisa koment disini lagi setelah kerempongan, tapi kayaknya aku dah pernah coment di FB gara gara lihat photomu tentang lombok..walah walah..bikin gigit jari aja..phe..walah walah....tapi asli indah banget..alhamdulilah banget dan sesuatu banget dirimu diberi kemudahan dan juga diberi kesempatan untuk pendakian di rinjani, melihat keindahan alam ciptaan Allah yang Maha besar..asli photone mantap..cantik cantik...
inilah kalo blog anak muda dan back packer seperti kamu...kalo blog emak emak isinya anaknya mulu yang diposting sama masakan hehhee...
bravo phe..lanjutkan pendokumentasiannya...masih menanti dengan setia cerita ceritamu..komentnya dirapel dulu disini yo...*maaf..hehhehe

uli mengatakan...

yg pegi cow semua nya ya...

Meutia Halida Khairani mengatakan...

Subhanallah pemandangannya phee.. indaahh bangett.. Segara anakan itu juga.. subhanallah..

mungkin memakan waktu seharian karena hujan dan berteduh kali.. hmm, gw kayaknya ga kuat deh mendaki. selain karena gampang ngos2an, belom lagi mikirin kalo bertenda ntar mau buang air dimana. hahaha

KoskakiUngu mengatakan...

benar kata tman2, keren!
masi berlanjut kan ya? wah bisa ngalahin cerita 5cm nih! Aha!!! *ting

Muhammad Fajar mengatakan...

Pemandangannya indah banget... Alami... Jadi pengen kesana...

ria haya mengatakan...

jadi pengin pinjem chopper nich biar bisa ke segara anakan situ, secara ogah repot bawa2 carrier yg segede gaban gitu hehehe
(#lagi ngayal)

rabest mengatakan...

mantabs! :D

iffa hoet mengatakan...

kereeeeennnn....pollll....
Pendangannya keren n pendakinya jg TOP semangadnya. Seeppp!!!

armae mengatakan...

Subhanallah.. lihat foto segara anakan bikin merinding.

kalau bukit penyesalan rasanya di tiap gunung hampir ada deh mas :)

puteriamirillis mengatakan...

indaah banget...pemandangannya bener2 indah..subhanallah...
bukit penyesalan? namanya unik...emang suka ga sabar kalo tujuan akhir ga mudah ditemukan...

Ario Antoko mengatakan...

naik gunung hujan terus... kapan2 kau naik gunung bersalju 'phe


pasti keren :D

KakekJongkok mengatakan...

anak muda enak masih bisa pergi kayak begitu. kakek udah tua mana bisaa

follow blog kakek ya cuk!

anwar358 mengatakan...

wew keren fotonya, pengalaman menarik tuh...

Lyliana Thia mengatakan...

udara pasti semakin tipis di ketinggian lebih dari 2000 mdpl ya phe.. pemandangannya memang indah banget, subhanallah..

ohya, Phe,, kenapa foto2nya nggak di-water mark gitu phe?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...