Rabu, 11 Januari 2012

Turun Gunung Dan Menginap Di Kampung Adat Senaru

Well, setelah melalui beberapa hari menikmati puncak Rinjani, memancing di Segara Anak, dan berendam air panas di Aik Kalak, saatnya kami untuk turun gunung. Sebuah kesalahan besar jika yang dinamakan turun gunung itu mudah!, karena yang sebenarnya akan kami lalui adalah jalan naik dulu menuju ke Plawangan Senaru baru kemudian merasakan jalanan yang turun. Sudah saya bilang dalam tulisan sebelumnya kalau Segara Anak itu seperti air di dalam mangkuk, kami berada di tepian air di dalam mangkuk itu. Turun gunung berarti pulang keluar dari mangkuk itu, jadi bisa dipastikan jalanan akan naik dulu.

Melihat rute yang akan dilalui saja sudah membuat kaki pegal sebelum bertanding. Parah!. Rute awal dari Segara Anak adalah menyusuri danau tersebut melalui pinggiran jalan setapak lalu naik ke atas menembus hutan. Waktu masih di hutan sih nggak masalah, karena kiri kanannya berupa batuan yang kemiringannya tidak terlalu curam. Selain itu sepanjang perjalanan kami menemukan patok-patok penanda kilometer menuju ke pintu keluar di Senaru. 

Tiga jam lebih mendaki, akhirnya kami sampai di Pos Batu Ceper. Di pos ini tidak ada shelter tetapi ditandai dengan banyaknya batuan-batuan yang besar segede-gede meja makan yang saling tumpang tindih. Ada satu batu yang luas banget dan bisa buat tidur berlima orang. Mungkin karena batu inilah daerah ini dijadikan pos bayangan yang bernama batu ceper. Di sini kondisinya cukup landai, dan bisa dipakai untuk beristirahat karena track berikutnya menuju ke Plawangan Senaru benar-benar menguras tenaga dan konsentrasi.

Pos Batu Ceper. Batuan aja isinya.
Setelah berhenti sejenak dan menghapus dahaga, kami baru tersadar kalau bekal air bersih yang kami bawa dari bawah ternyata tidak cukup. Katanya, di pos Cemara Lima setelah Plawangan Senaru akan ada sumber air, tetapi kami tidak bisa membayangkan seberapa jauh. Untuk amannya, satu teman saya menyimpan sebotol besar air minum yang tersisa dan disiplin tidak dipakai kecuali dalam kondisi benar-benar butuh. Saat ini mungkin cuman berdisiplin yang bisa kami lakukan supaya tetap survive.

Menuju ke Plawangan Senaru memang tidak mudah. Kami harus merambat melalui tebing, merayap di batuan, dengan sisi kiri langsung jurang. Jujur, saat itu hal yang paling mengerikan adalah membayangkan batu yang kita pijak goyah dan langsung meluncur ke bawah dan wassalam!. Setiap langkah kami  diisi dengan berdoa supaya tidak salah memilih pijakan. Saya teringat kata porter yang menakut-nakuti kami dengan cerita seramnya ketika di Segara Anak, katanya banyak orang yang jatuh dan kepalanya pecah di rute yang terjal ini. Terakhir ada bule jatuh, untungnya selamat tetapi menderita patah tulang. Aaaarggh, emang resiko pendaki harus seperti ini. Bahkan di beberapa titik pendakian yang kritis,  palang besi sebagai pegangan pun sudah keropos dan bergelimpangan, karena mungkin saking lamanya tidak direnovasi.

Bawah itu langsung jurang. Salah langkah, wassalam.. ini track yang gak terlalu ekstrim sih sebenernya, karena ada yang sepuluh kali lebih mengerikan tracknya dibanding ini. Maklum, disini gak leluasa ambil gambar.

Cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi hujan semakin membuat horor saja meskipun ini masih siang hari mengingat track menjadi licin dan menggendong barang bawaan yang sama beratnya dengan anak tujuh tahun. Tapi, sesampai di Plawangan Senaru, di Crater Rim, benar-benar terlihat Segara Anak dalam bentuk yang berbeda. Jika cuaca bagus, maka Puncak Rinjani sebenarnya juga bisa terlihat. Dan katanya, pemadangan Segara Anak, Rinjani, dan Gunung Barujari paling indah dilihat ya di Plawangan Senaru ini. Meskipun begitu, saya sempat mengambil view yang cukup bagus.

Setelah mendaki, sebanding dengan yang dilihat dari Plawangan Senaru - Crater Rim
Plawangan Senaru adalah pos tempat pemberhentian sementara bagi pendaki. Ini adalah pos alternatif untuk menginap jika tidak mau berkemah di bawah. Biasanya dari Plawangan Senaru, perjalanan dilanjutkan sehari sampai di Plawangan Sembalun untuk mengejar puncak, itu jika tidak berkeinginan untuk menginap di Segara Anak. Rencana pertama kami sebenarnya akan menginap disini, namun karena menyadari kami sudah terlalu banyak membuang waktu maka mau tidak mau perjalanan turun gunung harus segera diakhiri malam ini. Apalagi besoknya salah satu diantara kami sudah harus pulang kembali ke peradaban, dan tiket pesawat sudah confirmed.

Sama seperti Plawangan Sembalun, nama Plawangan yang berarti pintu ini adalah merepresentasikan tempat masuk ke Segara Anak melalui Senaru. Dari atas, suasana terlihat berbukit-bukit yang sejauh mata memandang hanya tertutup hamparan karpet berwarna hijau yang berupa rumput ilalang. Sangat jarang ditemukan vegetasi yang berkayu tinggi di Plawangan Senaru. Makanya, sebenarnya dari Plawangan Sembalun, Plawangan Senaru dapat dikenali sebagai bukit yang botak tanpa pohon.

bukit botak hijau.. serasa di Afrika
Dari atas sini selain lega pemandangannya, kita juga bisa melihat Gili Matra (Tiga Gili di Lombok yang terkenal yaitu Gili Trawangan, Meno, dan Air) dari kejauhan. Bagus!. Sekali lagi sayang, SLR saya tidak dapat digunakan disini karena cuacanya hujan. Maka, gambar dibawah ini meskipun diambil dengan pocket cam, hasilnya tak kalah... jeleknya.

Gili Air, Meno, dan Trawangan dari atas Plawangan Senaru. Foto telah mengalami editan puluhan kali sampai akhirnya Gili-nya Keliatan. Maklum mendung berkabut...
Kami sempat nyasar di Plawangan Senaru. Ini sebabnya karena banyak pilihan jalan setapak yang entah menuju ke arah mana. Hampir setiap jalan setapak kami ikuti namun berujung dengan jurang atau hilang ditengah jalan. Meskipun berpencar, namun hampir tidak ada satupun dari kami yang tahu benar-benar dimana jalannya. Mengingat suasananya yang penuh dengan padang savana, lumut dan batuan yang mirip di Afrika maka momen ini akan saya kenang sebagai : Get Lost in Africa!. 

Setengah jam kami termangu sampai akhirnya salah satu teman kami memperoleh petunjuk : cari bekas-bekas sampah!. Ya, dari sampah-sampah kecil yang tertinggal seperti bungkus permen atau tutup botol, kami menemukan rangkaian batu yang disitu tertulis graffiti. Dengan berpikir bahwa ada sampah dan ada coretan manusia, berarti disini pernah dilewati oleh manusia, dan asumsinya adalah kami tidak salah jalan. Benar saja, tak berapa lama dari ketinggian kami melihat shelter hijau di sebelah bawah, di ujung bukit. Itulah pos Cemara Lima!. Pos ini mungkin dinamai Cemara Lima karena terletak di dekat sekerumunan pohon-pohon cemara, meskipun jumlahnya lebih dari lima, Tempat ini mencolok karena disekitarnya hanya ilalang dan rumput saja, namun dengan pohon-pohon cemara yang tinggi menjulang merupakan pertanda sudah sampai di pos Cemara Lima. Akhirnya, kekhawatiran kami terhadap air terselamatkan mengingat di pos ini ada sumber air. Meski berwarna kuning karena mungkin jenis batuannya berupa batu putih, tapi kami cuek saja. Yang penting survive.

Kami hanya berhenti sejenak di Cemara Lima. Akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju ke pos tiga. Cukup mudah karena seakan kaki sudah disetting auto pilot mengingat jalanan turun dan landai. Saran saya, pakailah sendal yang rem-nya benar-benar pakem kalau tidak mau terpeleset. Beberapa kali saya jatuh karena terpeleset disini, padahal sendal saya terhitung masih baru loh!. Dan sejam dari Cemara Lima akhirnya sampai juga di pos tiga. Bress... tiba-tiba hujan sangat deras. Untungnya di pos tiga memiliki 3 sshelter yang cukup besar dan nyaman, karena biasanya disini juga dipakai untuk camping. Akhirnya kami pun membuka bekal, memasak teh hangat dan susu coklat hangat, serta sholat ashar dibawah hujan deras dan dinginnya angin yang menusuk tulang. Meskipun badan menggigil, namun kebersamaan ketika kami berkumpul mengelilingi kompor yang menjerang susu cokelat panas mampu menghangatkan hati kami. Ah.. seandainya ada yang cewek pasti tambah romantis! #plaaak... bangun phee.. banguuun!

Yak, jam lima sore baru hujan mereda. Perjalanan masih separuh lagi mengingat masih ada pos dua, pos ektra, dan pos satu yang harus dilalui sebelum sampai di pos Jbag Gawah sebagai pintu masuk di Senaru. Perjalanan selanjutnya adalah memasuki hutan Senaru. Perjalanan ini sungguh sangat sengaja dipercepat karena hari sudah mulai gelap, sedangkan hutan Senaru sangat lebat. Apalagi juga teringat dengan cerita seram tentang hutan ini yang sempat kami tahu sebelumnya. Tiga pos di dalam Hutan Senaru memang disediakan tetapi tidak ada yang berani menjadikannya sebagai tempat menginap. Katanya pernah ada yang nekat menginap di pos dua rame-rame karena kemalaman, ketika sedang tidur tiba-tiba ada yang menarik kakinya. Hiiiiiy..

Makanya benar-benar setengah berlari kami melewati hutan ini. Memang, waktu tidak bisa kami perlambat atau di pause sama sekali. Akhirnya sampai di pos dua benar-benar gelap total. Senter dan headlamp kami nyalakan, dan kami melanjutkan perjalanan. Kami saling mengingatkan untuk menjaga jarak satu sama lain tidak boleh saling berjauhan lebih dari satu meter perorang. Beberapa kali team leader berhenti dan mengecek jumlahnya. Sepanjang perjalanan saya hanya menunduk ke bawah, menyinari jalan dengan senter dan tidak berani melihat ke sekeliling. Selain gelap, saya takut menemukan "sesuatu". Sempat kepikir sama saya gimana kalau ternyata jalan setapak ini ternyata bercabang atau jalan nya adalah jalan jadi-jadian, tapi teringat kata seseorang bahwa jangan pernah mikir aneh-aneh atau berkata macam-macam ketika di alam, maka saya tepis pikiran negatif saya itu dan fokus. Sepanjang perjalanan saya cuman berdoa dan baca ayat kursi banyak-banyak serta baca surat An Naas. Bayangin aja, jam setengah delapan malam gelap gulita, cuman kami berenam, dibawah sinar senter, didalam hutan yang gelap!. Sumpah, itu jadi perjalanan paling mengerikan yang mungkin pernah saya alami. Gilaaak.. mana setelah pos dua kami semua terdiam ketika mencium aroma bunga sedap malam yang wanginya kuaaaat banget. Berkali-kali, dan tidak ada satupun dari kami yang berani membahas tentang aroma itu sampai dibawah.

Saya sudah tidak mempedulikan lagi kondisi badan saat itu, satu-satunya keinginan saya adalah segera keluar dari hutan ini secepatnya!. Tidak ada yang lain. Setiap melihat patok kilometer yang berkurang angkanya rasanya membawa harapan bagi kami bahwa kami tidak salah jalan. Untuk mengalihkan pikiran saya dari yang macem-macem, akhirnya saya iseng menghitung berapa lama kami melalui satu patok ke patok lain yang jaraknya setengah kilometer. Rata-rata sih setengah jam. Berarti dengan kondisi jalan seperti ini kurang dari tiga jam  lagi akan sampai. Ah, saat menemukan pos ekstra dan ada beberapa teman pendaki yang lebih dulu meninggalkan kami tadi membuat kami sedikit lega. Mereka sedang beristirahat makan malam, tetapi kami memutuskan untuk lanjut saja setelah minum sebentar. Mengapa?. Setidaknya masih ada orang dibelakang kami jika terjadi apa-apa nantinya. Gak lucu donk ah, kalo ternyata ntar dari enam anggota kami ada yang berkurang satu di tengah jalan nggak disadari. Eh, mending sih kalo kurang masih bisa dicari... yang repot kalo nambah. Hiiiiiyyyy...

Finally, pukul sepuluh malam sampai juga kami di pos Jbag Gawah. Pos ini ditandai dengan pintu gerbang yang bertuliskan selamat datang di Taman Nasional Gunung Rinjani, pintu masuk Senaru. Ada peradaban disini, karena kami menemukan warung! Yak, satu-satunya warung disini yang jualan kakek-kakek tua. Segera tanpa pikir panjang kami memesan teh hangat, dan minuman lainnya. Berleha-leha dan mengucap syukur tanpa berhenti akhirnya lepas juga dari cengkeraman mengerikannya Hutan Senaru. Tapi perjuangan belum berakhir. Untuk menuju Rinjani Trekking Centre masih ada satu setengah kilometer yang harus dituruni. Satu jam kurang lebih perjalanannya, dan setelah dalam perjalanan kami digonggongi oleh anjing liar sampailah di RTC dengan peluh dan kaos basah oleh keringat, dan kaki yang sudah  tak berbentuk. Doa saya saat itu semoga jumlah jari saya masih normal, gak berubah jadi jempol semua.

*note : perasaan saya, saya tiga kali menjepret pintu gerbang senaru dengan kamera SLR. Namun setelah saya cari ternyata tidak ada di file manapun.. jangan-jangan.....

Di RTC sudah penuh dengan orang yang menginap, ada yang bahkan sampai tidur dilantai dan tidur dalam kondisi duduk karena tidak ada tempat yang nyaman untuk diinapi. Saya dan dua teman memutuskan untuk mencari informasi kalau-kalau ada penginapan dekat situ. Tiga teman saya yang lain sudah pada tepar, gak kuat jalan lagi. Beberapa homestay yang kami datangi ternyata sudah penuh dan tutup. Oleh salah satu warga disitu kami ditawari menginap di rumah adat di Kampung Tradisional Senaru. Ketika kami bertanya berapa biayanya, dia menjawab terserah sajalah. Maka berenam, ditambah tiga rombongan dari rawamangun dan dua dari Malang yang kami temui sejak awal pendakian akhirnya menginap di rumah adat.
Saya baru menyadari betapa ternyata ini memang sebuah perkampungan tradisional begitu pagi menjelang. Saya berkeliling sejenak dan menemukan beberapa hal. Ternyata, kami semalam menginap di tempat yang dinamakan dengan berugaq. Berugaq ini adalah bangunan seperti gazebo yang terbuka dengan atap dan bentuk keseluruhannya seperti rumah panggung. Atapnya biasanya terbuat dari daun Nyuh (kelapa) atau daun ilalang. Ada yang memiliki tiang empat yang dinamakan dengan sekepat, dan ada yang tiang enam yang dinamakan dengan sekenem. Berhubung kami berenam, kami menginap di berugaq sekenem. Berugaq biasanya terletak di bagian paling depan sebuah rumah atau perkampungan, dan hampir di setiap rumah suku sasak memiliki ruang terbuka ini. Biasanya, aktivitas yang sering dilakukan di berugaq adalah rapat kampung, sosialisasi adat, musyawarah, atau sekedar tempat untuk cangkrukan. *duh bahasa jawa timuran saya keluar. Tapi bagi kami, berugaq adalah penyelamat. Karena kami benar-benar tertidur lelap disini.

Ini Berugaq.. rumah panggung terbuka tempat kami terlelap
Suasana pagi hari di perkampungan ini benar-benar terasa masih sangat alami. Warga kampung adat masih mengenakan pakaian yang a-la pegunungan banget, semisal yang bapak-bapak menggunakan sarung dan kemeja, sarungnya dipaka namun sampai dilutut saja sehingga menyerupai kilt - pakaian khas irlandia. Sedangkan yang ibu-ibu mengenakan baju mirip kebaya, atau kaos bagi yang muda-mudi dengan bawahan berupa lilitan kain. Banyak ayam yang dibiarkan bebas, sampai akhirnya teman saya yang sedang tertidur nyenyak ngomel-ngomel karena persis di bawahnya (karena bentuknya seperti rumah panggung) ayam jantan berkokok dengan kerasnya. Hahaha.

Oh ya, ada yang unik juga dengan susunan rumah-rumah disini. Saya perhatikan pertamanya semua pintu kenapa menghadap ke timur, dan bentuk rumahnya memanjang ke arah utara dan selatan. Setelah mendapat informasi, ada beberapa aturan adat suku-suku di Lombok yang mengikat termasuk dalam hal arsitektur rumah. Kepercayaan masyarakat Lombok terutama masyakarat di Senaru, kaki Gunung Rinjani adalah mereka menganggap bahwa gunung ini merupakan pusat. Sehingga, setiap rumah akan dibangun dengan pintu masuk utama menghadap ke arah Gunung Rinjani. Tujuannya adalah untuk menghormati kepada Gunung yang mereka anggap sebagai pusat. Selain itu, semua atapnya terbuat dari daun kelapa atau ilalang yang dikeringkan, dan temboknya terbuat dari bedhek, atau anyaman bambu. Beberapa literatur mengatakan bahwa Suku Sasak memang membuat rumah dengan atap daun kelapa atau ilalang yang mereka ambil dari gunung. Mereka pantang menggunakan daun atau kayu dari pohon sirap, pohon penyimpan air di hutan, karena beranggapan pohon ini tempat bersemayamnya roh-roh pembantu dewi Anjani. Pohon ini hanya dipakai untuk bangunan yang suci, seperti misalnya mesjid Bayan Beleq di Bayan Senaru yang merupakan mesjid paling tua di wilayah ini.

Kampung adat Senaru.. benar-benar ethnic runaway!
Fyuh, panjang yah cerita turun gunungnya. Akhirnya, rangkaian pendakian Gunung Rinjani selesai sudah. Saya berhasil menaklukkan beberapa tantangan, termasuk yang terakhir : homestay di kampung adat, merasakan bagaimana tinggal menjadi masyarakat adat Senaru, mirip-mirip di acara ethnic runaway!. Next destination : GILI TRAWANGAN!!. 

Sekedar info tambahan, di Senaru juga terdapat banyak spot wisata lain seperti air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep (tempat syutingnya video klip Indah Dewi Pertiwi yang judulnya Hipnotis), serta mesjid Bayan Beleq. Sayang, sekali lagi karena terbatasnya waktu dan ada salah seorang diantara rombongan kami yang harus pulang siangnya (plus ternyata dia di-SMS bahwa penerbangannya dimajukan) maka kami tidak sempat lagi menuju ke lokasi-lokasi tersebut.

43 komentar:

Arman mengatakan...

waduh ngebaca nya jadi ikutan cape.. perjalanannya panjang... hahaha.

btw ternayta sampah2 yang berserakan bisa berguna juga ya jadi tau kalo gak salah jalan. :D

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

ngos2an bacanya :) ga takut tuh pas nyasar? untung ketrmu ya jalannya

Ratnawati Utami mengatakan...

baca di tulisan kecil, sudah 4 kali klik gak ada memori foto. kemungkinan banyak, apa yakin sudah terklik. kedua, memang ada makhluk gak keliatan gak rela daerah di situ di foto. sudah mengucap salam belum?

Ratnawati Utami mengatakan...

sori, maksudku 3 klik foto slr di gerbang

Iskandar Dzulkarnain mengatakan...

tidak semua hal bisa difoto :)

Syifa Azz mengatakan...

untung bacanya pagi. kalo malem2 baca inimah beuhh.. bisa2 kebawa mimpi. serem.. tapi pengen nyobain..

Mila Said mengatakan...

tuh kan bener.. dalam lubuk hati lu yg paling dalam sbnrnya lu mendambakan kehadiran seorang cewek juga kaaaaan? #kepo #plaaaaakkk

nicamperenique mengatakan...

Phe ... cerita lu menarik sangat
beneran bikin mupeng
cuma masalahnya, setelah tak bayang2in, terus ngaca pula 'kan biar afdol, rasanya tak sanggup deh :( butuh kekuatan fisik yg prima untuk menempuh semua tujuan ini. hiks ...

eh eh itu bener gerbang Senaru difoto bbrp x ga ada??? wew ... merinding bulu kudukku :D

Nchie mengatakan...

Gaphe..perjalanan yang panjang..cape bacanya..
Eh beneran loh,gerbang ntu di futu 3x ga ada hasilnya,nah loh..yang bener..

Seruu ..keren futunya..

Dah turun gunung aja aku menunggumu disini Phe..http://nchiehanie.blogspot.com/2012/01/aku-menunggumu.html

armae mengatakan...

nyiahaha.. kegiatan turun gunung memang hal yang paling menyebalkan Mas. bikin lutut rasanya mau copot. dan turun gunung pada malam hari??? cukup sekali saja. gak lagi dehh. sereeemm eiuyy..

dhenok habibie mengatakan...

berugaq nya kereeeeeeeeenn yaa phe.. jadi mitos orang Lombok itu sama kayak feng shui gitu yaa, hehe :D

kapan2 kalo dhe ke jogja, ajakin naik gunung juga yaaa.. gk usah jauh2, di daerah Jogja dan sekitarnya saja.. wekekekekekeke

hilsya mengatakan...

eike mah turut membaca aja lah.. ga kuat ngebayanginnya.. uzuuur..

Tiesa mengatakan...

ya ampun Mas Gaphe, saya cuma baca ceritanya aja berasa capeknya, gimana yang njalanin :-O
belum lagi bayangan jurang di sisi jalannya, haduhh, menyerah deh

rabest mengatakan...

asiknyoooo..perkampungannya bersih banget yah... :D

Siti Nurul Falah mengatakan...

walaupun cape, tapi pemandangannya indah :)
obrol-obrol tentang afrika, tinggal tunggu pemandangan hewannya saja ya? hehehe

Honeylizious Rohani Syawaliah mengatakan...

bikin iri, jalan-jalan terus :)

rizkimuft mengatakan...

Final Destination nya di mana phe?

kakaakin mengatakan...

Subhanallah...
Kisah penutupan yang seru banget. Cerita yang detil, membuat yang baca serasa ikut petualanganmu juga, Phe :D
Sayang banget gak sempat melihat masjidnya ya.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah panoramanya bagus banget...

Istighfarin mengatakan...

si gape jalan2 mulu emang ya,,, lain kali ngajak2 donk boy

Beneran gak bisa di foto? Atau itu tempat cuma bsa di foto sama orang2 yg gak bgitu banyak dosa kali pe :P

ghost writer mengatakan...

nama Sendang Gila itu memang unik,Phe.kebetulan nama sebegitu selalu ada di kampung halaman aku di Borneo.

aku juga ambil masa untuk ngeblog,Phe.baru berusaha untuk ngeblog semula.

Mama Rani mengatakan...

Kk gaphe gaya euy..
saya aja yang orang sana cuma pernah ke Senggigi :O
sekarang malah terdampar di Makassar dan belum pulang2 lagi :(
eh, kok malah curhat..hehehe

Nambah bikin iri lagi dah tuh dengan cerita berikutnya yg ke Gili -____-"
*timpukin gaphe pake sekarung kangkung*

;D

tiffa mengatakan...

sensasinya pasti seru yg di hutan, kayak masuk rumah hantu, hihi

Ario Antoko mengatakan...

kayak film horror yah, untung anggotanya ga hilang satu-persatu

untuk komentar bertingkat coba cara ini untuk melindungi feed blog dari pencurian:

(DASHBOARD lama)

dari SETTING > pilih sswitch to "advanced setting"

untuk blog post feed pilih "short"

pengaturan selebihnya lihat gambar ini

http://4.bp.blogspot.com/-k2m9qfCpRe8/Tw61nx_qLXI/AAAAAAAAC7c/xg93wQDapu0/s320/Selection_006.png

yuniarinukti mengatakan...

Kampung Senaru itu bersih banget ya.. sebiji plastik pun gak kliatan..
Wuih.. emang jempol Phe jepretanmu, keren banget.. tapi file yang ilang itu jangan-jangan... jangan-jangan.. :P

dmilano mengatakan...

Saleum,
Seru banget ceritamu sob gaphe, saya sudah terlalu sering ingin kembali melakukan perjalanan dan pendakian lagi seperti 18 tahun yg lalu, walaupun badan capek, tapi setelah sampai pada tujuan rasa capek itu sirna berganti kebanggaan.
saleum dmilano

AuL Howler mengatakan...

Mampir!

Waaahhh liburan bang yoga kayaknya seru banget yaa..

liburan Aul mah dari dulu ke situ2 aja tuh. belum berani pergi jauh2.
wihihi

mau ke bukit botak hijau ituuu!

Hariyanti Sukma mengatakan...

membaca cerita perjalananya Gaphe selalu membuat Iri aja deh .... tapi cukuplah dgn ceritanya dan fotonya bisa menghibur juga ... Makasih ya ... gak bisa koment apa2 cuma terkagum-kagum aja

Mama Kinan mengatakan...

wis phe..gak iso ngomong apa2 aku..asli spechless... masyallah banget gambar gambarnya...mantep, indah banget..jepretanmu bener bener ok....layak dibukukan photo photomu itu...jangan hanya ebook *amien semoga kelak terlaksana impianmu tentang buku perjalanan beredar luas ditoko buku dan dibeli serta dibaca dan dijadikan referensi tentunya...
keren keren....dua jempol...
hmm sungguh rasanya saya telah menyia nyiakan masa muda ku dulu...kenapa dulu nggak back packeran gitu atau ikuta wanala yang pernah kala itu ke Rinjani...heuehueue..*jawabnya adalah NASIB...dan bahagia dengan cukup mengaguminya dari cerita2mu diblog....sorry tak rapel disini komentnya untuk positngannmu yang lalu lalu yah...lagi rempong ditempat kerja.....thanks for sharing phe..

andriansyah s putra mengatakan...

kaka............ itu bener-bener serem yaaaa -_____-
sampe merinding.
dan saya jadi ikutan penasaran sama foto yg kaka foto tapi di slr gak ada --"

21inchs mengatakan...

Merambati tebing batu dgn membawa carrier seperti itu?
Kalo saya ikutan kesana, mungkin saya akan berfikir utk memilih gak pulang aja, ngeri booo...

fitrimelinda mengatakan...

sepertinya perjalanan yang berat terbayarkan dengan pemandangan yg didapat ya mas..

Tiyo Harwin mengatakan...

tak ada yang rugi rasanya jika balasan alam yang indah memanjakan jiwa :)
salam kenal :)
coment and follow blog saya :)
http://peluru-tajam.blogspot.com/

Yayack Faqih mengatakan...

ngebacanya jadi kaya komik petualangan, utamanya pas perjalanan jam 8 malam di tengah hutan. Bsa di bayangkan kalo ada pelepah kayu jatuh saja bsa di sangka dedemit tuh hehe..

jarwadi mengatakan...

begini nih, postingan yang bikin pembaca ngiler ngiri mimisan :D

catatannyasulung mengatakan...

waaah, sekarang berpetualang di alam indonesia ya bang? :)

dunia kecil indi mengatakan...

wah, gaphe, seru sekali bacanya :D kamu cocok deh bawain acara jejak petualang, hehehe :)

tito Heyziputra mengatakan...

jadi ingat waktu mendaki tahun kemaren... pengen lagi nih. APlagi ke lombok bang..

smoga ada rezeqi ksana,, ihhiyy

niee mengatakan...

Pertama mau bilang: Gilak tuh pos batu ceper itu keren banget!! Eh makin lama dibaca makin lihat ternyata gambarnya makin keren aja..

Subhanallah banget ya Phe.. Pemandangannya indah banget.. Baca ini aku jadi teringat beberapa buku yang aku baca.. Ayo phe, buat tulisan lagi dan kali ini dijadikan buku beneran buat dibeli.. Aku beli deh kalau yang pendakian ini :D

Yunda Hamasah mengatakan...

Fotonya seperti ikut bercerita, kapan ya bisa moto kayak gini ;(

sanman mengatakan...

wah pemandangannya bagus2..
bro, usul blognya dipake mode "read more" deh biar halaman utamanya gak kepanjangan..hehe

Lyliana Thia mengatakan...

mungkin belum minta ijin kali phe ambil gambar disitu.. hehee...

baca ini aku jd inget waktu hiking di gunung Halimun, sepatuku sampe jebol, akhirnya ganti sendal jepit, bertahan sampe pulang pake sendal jepit... heehehe,,

Una mengatakan...

Wahhh asik bangettt.
Jadi itu lost di lombok apa africa sih :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...