Delayed
sepertinya sudah menjadi kebiasaan di maskapai penerbangan Indonesia, apapun
itu wujudnya. Berawal dari iseng-iseng booking tiket murah AirAsia JKT-SGN vice versa, berarti mengharuskan juga
saya booking tiket untuk pergi ke Jakarta dulu karena saya berada di Surabaya sebelumnya.
Beruntungnya, saya memiliki sisa mileage frequent flyer yang bisa saya tukar
dengan tiket gratis untuk ke Jakarta. Walau begitu, berangkat lebih pagi dari
jadwal yang ditentukan tidak serta merta menjamin keberangkatan pesawat tepat
waktu. Dua kali penerbangan di hari yang sama, dan dua-duanya delayed. Payah!.
Kompensasi
yang saya terima?. Cuman nasi kotak dan segelas air mineral. Nggak cukup buat
memenuhi rasa lapar saya seharian menunggu. Apa boleh buat, mungkin ini
konsekuensi dari segala sesuatu yang murah. Air Asia QZ 7736 yang saya tumpangi selama
tiga jam akhirnya mendarat juga di Tan So Nhat (baca : cansunyat) International Airport di Ho Chi Minh City pukul 9 malam
lebih.
Hari itu tidak
ada banyak penerbangan dari luar negeri ke Tan So Nhat Airport, sehingga saya
dapat melenggang bebas ke imigrasi tanpa banyak mengantri.
Tan So Nhat
airport terkesan kaku, simpel, minimalis, namun fungsional. Bahkan saking
fungsionalnya, ruang boarding room pun digunakan sebagai stall untuk berjualan.
Bandara ini mengingatkan saya pada Bandara Internasional Lombok dalam versi
yang lebih besar. Tidak ada yang spesial disini, atau mungkin karena saya yang
terlalu lelah sehingga tidak banyak mengamati.
![]() |
| Suasana Tan So Nhat International Airport |
Setelah cap
paspor saya bertambah satu lagi, hal pertama yang saya lakukan adalah menukar
uang. Dalam pikiran saat itu di bandara, saya akan melakukan : 1. Tukar uang, 2. Cari
peta, 3. Cari taksi/transportasi. Sebagai informasi, nilai tukar uang di
bandara Tan So Nhat dari pengalaman saya adalah nilai tukar paling bagus.
Saya disini menukar 100 USD dengan uang sebesar 2.085.000 Viet
Nam Dong (VND). Beberapa blog dan web advisor menyarankan untuk membawa uang
USD saja dari Indonesia karena kebanyakan money changer tidak menerima rupiah
atau kalau tidak nilai tukarnya jadi lebih kecil. Bahkan konon katanya mencari Dong di Indonesia juga agak susah, di Surabaya saja harus pakai pesan dulu dengan ada jumlah minimalnya. Jadi, simpanan 100 USD yang saya beli dulu waktu
kurs masih 9000 rupiah lah yang saya tukarkan. Kalau dihitung-hitung 1 rupiah berarti setara dengan 2,3
VND.
Saya pikir tadinya dengan uang 2 juta VND itu tidak akan habis dalam waktu
singkat. Ternyata dugaan saya salah.
Nomor dua dari
rencana awal saya tiba-tiba hilang begitu melihat di sebelah money changer ada
tempat membeli voucher taxi. Langsung saja tanpa pikir panjang saya pesan taksi
ke pusat kota HCMC, ke District 1 tempat saya menginap.
Sebetulnya, ada banyak
transportasi dari bandara menuju ke kota disamping taxi. Bisa menggunakan bus
umum bernomor 157, yang selesai beroperasi pukul 9 malam (jelas saya tidak bisa
menggunakan bus ini karena sudah malam hari) atau menggunakan ojek (yang saya
ragu pakai karena baca di berbagai informasi, banyak tukang ojek yang astuti –
aslinya tukang tipu). Dari email hotel tempat saya menginap pun disarankan
menggunakan taksi.
Saya menyadari
kesalahan saya memesan voucher taxi di counter bandara pada saat kepulangan.
Seharusnya, begitu sampai di pintu keluar langsung saja belok kiri mencari
tulisan : Taxi Stands dan menyetop taksi pilihan dari situ. Dengan memesan
voucher dari bandara, jatuhnya lebih mahal beberapa puluh ribu VND daripada
menyetop taksi di luar. Percaya deh, jumlah uang segitu cukup untuk membeli
segelas es kopi Vietnam di Café tengah kota.
| Tempat menghadang taksi di luar pintu kedatangan |
Supir taksi
Vinasun (salah satu merk taksi yang direkomendasikan selain Mai Linh) yang
bernama Nguyen Hong Anh, yang memperkenalkan diri dengan nama panggilan Anh
(baca : Aen) membuka pembicaraan
dengan menanyakan dari mana, berapa hari, mau kemana aja. Tapi dengan bahasa
inggris yang super duper aneh amburadul, bahkan beberapa kali saya harus bilang
: pardon?.. minta mengulangi pertanyaannya.
![]() |
| Vinasun taxi, salah satu yang direkomendasikan karena pakai argometer |
Si Anh ini ternyata asalnya dari Nha Trang (baca : Nye-ceng – huruf e dibaca
seperti ember) salah satu kota pantai yang terkenal di Vietnam Selatan. Dia
bilang kalo sempat saya harus kesana, katanya indah. Hemm.. saya tahu di Nha
Trang, pantainya mirip sama kayak di Belitong atau di Pulau Bintan. Pikiran
skeptis saya berkata, buat apa? Toh di Indonesia juga ada, lagian saya di HCMC
mau nyari yang nggak ada di Indonesia. Entah mungkin karena melihat saya yang
malas menanggapi atau si Anh sudah tidak tau mau bertanya apa lagi, akhirnya
dia bilang : if tomorrow you will go to
Cu Chi tunnel, call me. Dan dia memberikan nomer teleponnya. Hemm, tipikal
banyak supir taksi (atau kebanyakan Vietnamese) – mencoba mengambil peluang
yang ada.
Butuh waktu
dua puluh lima menit untuk menuju ke pusat kota dari Tan So Nhat airport. Cuaca
pun sepertinya tidak terlalu bersahabat. Hujan benar-benar mengguyur Ho Chi
Minh City tanpa menyisakan tempat yang kering sedikitpun di jalan. Saya sempat
hampir salah diturunkan oleh Anh karena dia tidak benar-benar tahu tempatnya.
Wajar, karena hostel tempat saya menginap meskipun terletak di tengah kota
dengan nomor dan nama jalan yang jelas, tetapi lokasinya masih masuk ke dalam
lorong dengan petunjuk nama penginapan hanya sebesar tutup drum aspal berneon
di pinggir jalan Cong Quynh. Saya hampir berteriak ketika saya menemukan
tempatnya dan meminta Anh menepikan taksinya.
District 1
merupakan area pusat kota tempat banyak hotel kelas backpacker dan hotel
bintang tiga kebawah berada. Kebanyakan hostel ini ditemukan di Jalan Pham Ngu
Lao (baca : fam-ngulo) atau Bui Vien (baca : bi-vyen) yang memang letak
jalannya paralel saling berhadapan. Hostel saya sendiri terletak di 200 Cong
Quynh street, hanya semenit berjalan kaki dari ujung Bui Vien atau Pham Ngu
Lao. Dari district 1, sebetulnya untuk menuju ke tempat-tempat yang terkenal
hanya tinggal berjalan kaki. Ya, Ho Chi Minh City dan beberapa tempat wisata
dalam kotanya memang dekat satu sama lain.
![]() |
| Bui Vien Street - District 1, The home of backpacker in HCMC |
Saya disambut
oleh resepsionis Lofi Inn Saigon tempat saya menginap. Namanya Hanh (panggil :
Hen). Tipikal semua penginapan backpacker atau hostel di Vietnam adalah
bentuknya yang berupa ruko meninggi. Semakin tinggi ruko bisa diasumsikan
semakin banyak kamarnya. Namun, lebarnya semua sama standarnya. 4 – 6 meter di
depan. Keterbatasan lahan disini memang disiasati dengan membangun space ke
atas.
Lofi Inn
Saigon adalah penginapan yang saya peroleh referensinya dari hostelbookers.com.
Lebih tepatnya adalah ini salah satu penginapan recommended yang memiliki kamar
dormitory. Saya memang lebih memilih kamar tipe dorm, karena harganya yang
sangat murah meskipun berarti harus sharing dengan backpacker dari negara lain.
Bagi saya, hostel hanya tempat untuk tidur saja. Jadi ngapain harus booking mahal-mahal.
Kecuali kalau datang sama istri, mau ehem-ehem kan nggak enak juga kalo mesen
kamar tipe dormitory.
![]() |
| Dormitory room |
Semalam disini saya hanya dikenai 7 USD saja atau sekitar 146.000 VND menurut publish rate. Cukup murah bukan?. Fasilitasnya dapat satu bunkbed room ber AC dengan private bathroom, free wifi, handuk dan selimut, serta breakfast. Lebih dari cukup untuk kebutuhan saya.
Sedikit informasi, kebanyakan penginapan di Ho Chi Minh City mengharuskan penyewanya meninggalkan paspor sebagai jaminan karena pembayaran diselesaikan pada saat check out. Setidaknya itu yang saya temukan di beberapa tempat disini, berbeda dengan ketika dulu saya menginap di Melaka, KL, Penang, atau Bangkok yang pembayarannya diselesaikan pada saat kita datang.
Setelah mengantongi kunci saya beranjak menaiki tangga memutar yang sempit menuju ke lantai 4, kamar 4A. Saya bertemu Jeff - yang saya tebak kependekan dari Jefferson, bule asal Amerika. Dia meneriaki saya karena menaruh tas di kasur kosong yang rencananya akan saya pakai.
Jeff bilang begini : "Kalau saya jadi kamu saya tidak akan menempati kasur itu" katanya. "Why?" jawab saya. "Someone pee last night in that bed".
"Whatt?.. whos did that?" tanya saya balik. Dia menggeleng, bilang intinya nggak mau ngasih tau karena tidak sopan menurutnya karena memberitahuan hal yang buruk pada orang lain. "Well anyway, thanks" yang diakhiri dengan saling memperkenalkan diri. Jeff mengajak saya turun mencari makan, tapi karena saya saat itu sudah lelah saya memutuskan menolak ajakannya. Malam itu pertama dan terakhir kalinya saya ketemu Jeff karena besok paginya Jeff berangkat ke Bangkok.
Saya juga bertemu dengan Josh, bule Aussie yang ternyata juga sudah sebulan di Ho Chi Minh City. Dia bilang dia akan mencari pekerjaan di Hanoi, dan akan tinggal disana dua tahun. Saya lihat perbekalannya hanya satu backpack besar, laptop, dan beberapa buku-buku. "Berani sekali orang ini di negeri asing" begitu pikir saya.
Tapi diam-diam saya iri, karena kebebasannya menentukan pilihan-pilihan dalam hidup dengan menanggung konsekuensinya. Tidak seperti saya, yang untuk kesini dan memperoleh cuti selama 4 hari berturut-turut saja sulitnya minta ampun...
pada akhirnya saya terlelap dalam mimpi..






35 komentar:
wahhh..jalan2 mulu,,kasih tips2nya kalau mau traveling ya>>
We'll waiting for the rest stories, Vietnam sounds pretty chalenging.
semoga bisa menyusul kesana (nabung duit & nabung cuti dulu..)
kalo di Indonesia emang susah cuti om :D
kalo di luar mudah, karena emang kalo kerja ga karuan :P
Bahasa nya kok susah yoo mas nama2nya. Nha jadi hen, hen kayak ayam betina mas, xixixixixi :p
Ada berapa season yaa ini cerita 4 hari di sana....
Nha Trang dibaca Nye Ceng, susah bener yah mas, jauh banget itu bedanya antara penulisan dan pengucapan @_@
lagi lagi :D
ini di vietnam taksinya kaya ngono yah phe.Mana crita makannya :"> besok yaa
sudah lama tidak backpacker seperti ini... dulu sebelum nikah kayak begini paling asyik... menarik... ketemu bule bule dan teman teman dari manca negara....
selamat bersenang senang ya... liput terus dong vietnamnya ya disini...
buat yang masih single kamar dormitory gak masalah ya
bangun Phe bangun... sudah asar tuh sebentar lagi maghrib. di situ sudah puasa belum?
hoho, sekarang sudah di vietnam ya? saya baru ngerti ada penginapan yang tipe dorm ke' gitu. #emang ga pernah jalan-jalan soalnya.
>>iya tuh bikin sirik orang-orang yang freespirit, bebas ke mana aja tanpa rasa takut.
berbagi Kata Kata Motivasi
Senyumlah, tinggalkan sedihmu. Bahagialah, lupakan takutmu. Sakit yg kamu rasa, tak setara dengan bahagia yg akan kamu dapat.
Air mata tak selalu menunjukkan kesedihan, terkadang karena kita tertawa bahagia bersama sahabat terbaik kita.
semoga beramanfaat, salam kenal dan di terima :D
WAddooh bacanya susah juga ya Phe..
Beda banget cara penulisan sama pengucapan, hhehe *yang ada belibet ketawa2 sendiri*..
Deeuh yang jalan2 truss..
bikin ngiri deh..
vuih...
gave vis tekan vietnam varang..
foto Bui Vien Street..mengingatkan saya kawasan kumuh pecinan di makassar
jadiii kapan balik Jogja nya Phe?? (loohh apa coba)
untung kamu diberi tahu ama si Jeff itu ya, klo gak kamu bakalan tidur dibekas pee orang, hiiiyy
ayooo jangan cuma iri dengan si Josh, kamu berani gak Phe kek si Josh itu? :D
kamar tipe dorm gitu itu dibedakan jenis kelaminnya ga?
Kapan ya saya bisa jalan-jalan keluar negeri juga. #MELAMUN
Eiiits, jangan-jangan mas mau ajak saya jalan-jalan gak keluar negeri? Hehe...
Salam dari Palembang...
wah vietnam... emang berani ambil resiko cari kerja apa saja di negara orang? itu orang pedhe banget dan yakin banget dengan skillnya
disana pdat juga ya bang..
ditunggu cerita seru lainnya ya mas gaphe
jalan-jalan terus nih,,
entar saya ngikutin ah jejaknya mas gaphe..
apa kaar Kang ? udah lama nggak ke sini, bahkan saya perhatikan sekarang sampean jarang bewe, malah jalan-jalan terus.
ini mesti dibikin buku tersendiri nih.
Wah udah di vietnam aja :D
Sepertinya vietnam itu menarik juga.. Cerita travellingnya seru sih.. haha ^^
Eh kalau2 ketemu personil atau ke basecamp nya St.319 kasih tau yaa.. mereka kpop cover dari vietnam yang udah terkenal banget di youtube, bahkan sampe pernah dance cover 2ne1 dilihatin langsung oleh 2ne1 di atas panggung.. Yah sekedar info ajah.. saya ngefans soalnya.. haha.. Anw, check video cover mereka yang amzing ya mas.. sapa tau jadi minat.. hehehe ^^v
bahkan saat saya ganti blog pun perasaan saya nggak pernah berubah liat postingan blognya gaphe, MUPENG >.<
mantabh cutinya mas gaphe...
:)
waduh lama banget ga mampir sini... apakabar ghape?
Dari dulu sampe sekarang masih tetep bikin iri aku aja ghap, jalan2 terus euy. Oya klo aku jalan2 peta bagiku sangat penting. :)
wadhu, kalo backpacker beneran tidurnya kayak gitu ya. wah wah, aku ogah deh. ngeri aja gitu. takutnya sekamar dg orang jahat. hiii....
Waaah hihi berarti MC Miss Universe pas di Nha Trang itu salah ngucapinnya wkwk, inget banget aku dia nyebutinnya: Nya Tran.
Ternyata pengucapan aslinya lebih aneh lagi -___-"
Eh Mas Gaphe pernah ke Hanoi gak?
Kotak search gak ada ya di blog ini?
Wah, enaknya jalan2 ke Vietnam :D
.
Ow, baru tau ternyata Vietnam sebegitu bencinya sma Amrik, ya --'
waaahhh gimana tahu penyebutan yg benarnya tuh kalau tulisannya aja beda ~_~
iya pheee.. permasalahan karena tiket pesawat udah murah bukan lagi kebiaya sekarang.. tapi ijin cuti dan ijin ortu kalau aku yg gak bisa dapet.. lo masih beruntung deh *curcol*
oh kaya gtu ya tempatnya...
sempit bnget ya..
waaaah keren banget...!
salam kenal dan semoga sukses..
pengalaman yang menarik, moga2 tahun ini saya bisa juga jalan2 ke Vietnam
btw, thanks berbagai tips ke vietnam di postingan ini
jalan-jalan terus... mau donk diajak
kapan ya saya ke vietnam
ngiler nich..
kaya nya asik kalo diajak
apa lagi gratis...
Poskan Komentar