Minggu, 15 Juli 2012

Menelusuri Kotanya Paman Ho

Sepertinya tidak banyak masyarakat lokal yang peduli dengan arah utara selatan atau timur dan barat. Terbukti dari beberapa kali saya bertanya pada orang, mereka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Yang bisa bahasa Inggris pun berujar : “I know what you mean, but I don’t know the answer”. Maka, ketika itu terjadi yang saya lakukan hanyalah membuka peta Ho Chi Minh dan bertanya arah mana yang harus saya tempuh untuk menuju ke suatu tempat. Dan itupun diakhiri dengan tunjukan tangan ke jalan.

Itu yang saya rasakan ketika mencoba tantangan Lonely Planet tentang Ho Chi Minh City walking tour. Sebab, dalam kitabnya para traveler itu disebutkan bahwa Ho Chi Minh City sangat mudah dieksplorasi hanya dengan berjalan kaki. Alih-alih menggunakan jasa tour travel yang rata-rata membanderol 5-10 USD untuk city tour, Saya memutuskan untuk meminta peta dari hostel tempat saya menginap dan menjelajahi Ho Chi Minh City.

Peta Ho Chi Minh City. Klik kanan - save picture as, untuk mendownload.
Berbekal peta fotokopian itu saya menjejakkan kaki mulai dari Jalan Pham Ngu lao dari ujung menuju ujung, untuk menemukan Ben Thanh Market, pasar terbesar di pusat kota Ho Chi Minh City. Perjalanan sekitar 10 menit itu tidak terlalu terasa karena trotoar yang lebar. Terlebih lagi disepanjang Pham Ngu Lao terdapat taman yang luas dan rimbun.


Taman ini sama seperti banyak taman-taman kota di Vietnam yang memang sengaja dibuat sebagai ruang publik. Dengan adanya taman kota ini, udara terasa bersih dan suasananya terasa teduh. Beberapa masyarakat lokal mengisi waktu dengan membaca koran, atau berolahraga. Maklum, di taman ini juga disediakan banyak alat untuk berolahraga. Saya tersenyum ketika melihat seorang ibu-ibu sedang melakukan treadmill menggunakan alat semacam ayunan yang digerakkan dengan kaki. Atau, ketika ada dua bocah memainkan bulu tangkis namun menggunakan kaki. Kok-nya terbuat dari kantung plastik berisi pasir dan diikat dengan menyisakan ekor berumbai mirip bulu angsa pada kok bulu tangkis.

Taman bermain anak. Salah satu fasilitas di taman tengah kota HCMC
Saya pun berkata pada diri sendiri : Selamat datang di negeri orang kurus!.

Ya, karena memang sangat jarang saya temui orang Vietnam yang berbadan gemuk. Beberapa alat olahraga di taman itu menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan saya, mengapa koq orang Vietnam badannya kurus-kurus. Bukan kurus dalam artian kurang gizi, tetapi lebih cenderung langsing. Overweight sepertinya sudah dicoret dalam kamus bahasa Vietnam!.

Tak berapa lama kemudian sebuah simpang jalan dengan taman berbentuk lingkaran di tengah simpang tersebut terlihat. Saya mengenali taman itu karena patungnya : Tran Nguyen Han menaiki kuda. Tran Nguyen Han sendiri merupakan jendral dari Raja Le Loi, yang hidup pada abad 15. Taman itu terletak persis di depan Ben Thanh market, tujuan pertama saya dalam city tour kali ini.

Pintu masuk Ben Thanh Market
Ben Thanh Market, mungkin sangat tepat jika disebut sebagai Mekkah-nya para penggila barang murah di Ho Chi Minh City. Betapa tidak, turis-turis rela thawaf mengelilingi sudut demi sudut pasar ini untuk memperoleh penawaran termurah yang bisa mereka dapatkan. Sekilas dari luar, Ben Thanh market ditandai dengan menara jam dengan jarum penunjuk dan angka jamnya yang berwarna biru, kontras sekali dengan warna keseluruhan bangunan yang berwarna krem muda. Penanda kalau pasar ini benar-benar Ben Thanh adalah adanya tulisan Cho Ben Thanh di depan menara jam. Di bawah menara jam tersebut adalah pintu masuk utamanya, meskipun ada banyak pintu masuk lain di pasar yang berbentuk segi empat tersebut.

Ben Thanh Market tidaklah luas. Tapi keseluruhan bangunan dan isinya mengingatkan saya pada pasar Beringharjo Jogjakarta. Bedanya, pasar ini hanya satu lantai saja. Pembagian zona pun diatur dengan jelas, pakaian di bagian depan, suvenir dan pernak-pernik di tengah, dan makanan di bagian paling belakang. Bagi turis, bahasa yang berlaku di Ben Thanh Market adalah bahasa kalkulator. Pedagang tinggal mengetik harganya melalui kalkulator, dan kita menawar juga menggunakan kalkulator. Maklum, tidak semua bisa berbahasa Inggris. Namun, untuk menarik banyak pelanggan, biasanya mereka juga menguasai beberapa bahasa mudah dari negara-negara tertentu semisal ketika dibelakang saya ada rombongan wanita berkerudung masuk, pedagang baju di depan saya berteriak : “murah..murah..murah..”. Mungkin mereka mengidentikkan yang berkerudung biasanya datang dari Malaysia atau Indonesia.

Saya sarankan, jika melihat satu barang yang disukai disini dan sudah cocok dengan harganya maka segeralah diambil. Ini karena mungkin semakin kedalam nantinya kita tidak akan menemukan barang yang sama, atau akan sulit kembali ke tempat semula karena banyak lapak penjual yang mirip. Berhati-hatilah dengan barang bawaan. Dan yang pasti, tawarlah setiap barang yang dijual karena harga bukanya jauh diatas harga aslinya. Paling tidak, tawarlah sepertiga atau seperempat harga bukanya. Sebagai informasi, rata-rata kaos disini dibanderol dengan harga 50.000 – 100.000 VND meskipun mereka mencantumkan harga diatas itu di displaynya.

Saya beranjak tanpa membeli apa-apa disini. Karena begitu saya masuk di bagian makanan, serta merta saya menutup hidung saya dan menahan nafas, baunya sangat asing dan menusuk. Tidak enak, dan hampir membuat saya muntah. Mungkin karena banyak masakan disini menggunakan babi sebagai bahan makanannya. Ditambah dengan di dekatnya banyak daging babi segar yang digantung, membuat saya tidak betah berada lama-lama.

Dan saya melanjutkan perjalanan. Dari Ben Thanh Market saya mengambil arah ke Jalan Le Loi, menuju ke People’s Committee Hall. Hanya kurang dari 10 menit berjalan kaki sampai menemukan Rex Hotel, salah satu hotel mewah yang terkenal di HCMC. Mengapa terkenal?. Mungkin karena di lantai dasanya terdapat butik-butik mewah seperti Louis Vuitton dan Burberry. People’s Committee Hall terletak persis di depan Rex Hotel, dengan sebuah taman yang bagus dengan patung Bac Ho, atau Uncle Ho Chi Minh yang sedang duduk sambil memeluk kepala seorang gadis kecil.

Taman di depan People's Commitee Hall
Ho Chi Minh, atau lebih akrab dikenal sebagai Uncle Ho (dalam bahasa Viet : Bac Ho) adalah sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat Vietnam kepada Nguyen Sinh Cung atau dikenal juga dengan nama Nguyen That Thanh, yang memiliki arti “Ho sang pencerah”. Uncle Ho ini merupakan bapak pemersatu Vietnam, yang dulunya terbagi dua : Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.


Sepertinya memang banyak yang menjadikan People’s Committee Hall ini sebagai salah satu tempat wajib foto yang mengesahkan keberadaannya di Vietnam. Ini terbukti saat saya berkunjung banyak sekali turis yang berfoto di tempat ini. Saya bertemu dengan keluarga, yang saya curi dengar bahasa mereka adalah bahasa Indonesia. Maka saya meminta tolong sang ayah untuk mengambil gambar saya di depan People’s Committee Hall ini. Dilema bepergian sendirian adalah tidak bisa memperoleh foto diri yang bagus karena tidak ada yang memotret. Maka, kesempatan ini tidak saya sia-siakan!.

Mejeng dulu aah
Waktu berkunjung ke tempat ini paling bagus sebenarnya adalah pagi hari atau malam hari. Pagi hari akan membentuk warna langit yang biru, kontras dengan gedung yang berwarna coklat krem dengan genteng berwarna merah. Sedangkan pada malam hari, lampu-lampu penerangan akan membentuk komposisi yang keren dan menyala pada gedungnya.


People’s Committee Hall ini memiliki nama lain Hotel de Ville de Saigon. Dari namanya saja terbayang unsur Prancisnya. Memang benar karena gedung ini dibangun pada periode 1902-1908 dengan gaya kolonial Perancis. Saigon waktu itu memang masih dalam pendudukan bangsa Perancis. Barulah tahun 1975, saat Vietnam Merdeka, gedung ini berganti nama sebagai People’s Committee Hall. Sayang, karena People’s Committee Hall merupakan salah satu gedung pemerintahan yang masih aktif maka saya tidak bisa masuk kedalamnya. Terlihat dua pos penjagaan dengan petugas berseragam hijau tentara menjaga pintu masuk di kanan dan kiri gedung ini.

Apa boleh buat. Perjalanan saya lanjutkan dari People’s Committee Hall ke arah timur. Hanya beberapa puluh meter dari situ saya menemukan The Saigon Opera House. Tak salah memang kalau Ho Chi Minh City dijuluki sebagai Paris Phuong Dong – yang berarti Paris di Timur, karena memang bangunan-bangunannya banyak yang berarsitektur Perancis. Wajar, karena sebagai bekas jajahan Perancis, Ho Chi Minh City menyimpan banyak bangunan bersejarah peninggalan mereka. Seperti Opera House yang dulunya dikenal sebagai French Opera House.


Dibangun pada tahun 1987, gedung ini digunakan sebagai tempat berpesta para pejabat Perancis bersama maddame moiselle mereka. Tercatat, Ferret Eugene – arsitek Perancis, yang merancang gedung bergaya baroque, dengan langit-langit tinggi melengkung dan pilar-pilar khas bangunan Yunani, dan dibuat hampir mirip dengan opera Garnier di Perancis.


Saat saya datang siang hari sepertinya bukan waktu yang tepat. Opera house tutup. Tapi saya melihat ada poster pertunjukan yang akan dilaksanakan malam itu, namun tampaknya rencana untuk menyaksikan pertunjukan itu harus saya buang jauh-jauh. Apalagi kalau bukan karena mahal?.

Bergerak ke arah Utara, dengan menyusuri Jalan Dong Khoi, tak sampai lima menit saya menemukan Gereja Notre-Dame Cathedral Basilica. Gereja ini menjadi terkenal karena namanya menunjukkan kemiripan arsitektur dengan gereja Notre-Dame yang ada di Perancis. Sayang, tidak ada kisah HunchBack di gereja ini. Gereja yang memiliki nama resmi Basilica of Our Lady of The Immaculate Conception ini dulunya merupakan gereja yang dibangun oleh Prancis dengan konstruksi kayu diatas tanah Pagoda Vietnam pada tahun 1863. Barulah tahun 1877 direnovasi atas usulan seorang arsitek Prancis bernama J. Bourad. Hampir seabad kemudian, gereja ini menyandang gelar Cathedral Basilica.


Gereja ini bergaya gothic dengan dua menara lonceng didepannya. Dalamnya, dua deret kursi dipisahkan oleh satu jalan memanjang sebagai jalan utama menuju ke altar. Samping kanan dan kiri terdapat patung dan lukisan perawan suci, dengan kaca patri berwarna-warni membentuk lukisan dikelilingi oleh batu-batu berukir : Merci. Saya pikir tadinya nama-nama orang yang terukir disitu adalah nama-nama pejuang atau pendeta yang gugur dalam menyebarkan agama nasrani. Tapi melihat kata “merci” yang berarti terima kasih dalam bahasa Prancis, saya menduga nama itu adalah donatur untuk pembangunan gereja ini. Entahlah, karena saya tidak memperoleh keterangan yang jelas soal hal ini.
Bagian dalam gereja
Artwork di salah satu sudut Notre Dame

Gereja ini pernah dihebohkan dengan kejadian patung Mary yang ada di taman depan gereja konon menitikkan air mata pada Oktober 2005. Kalau masih ingat cerita saya di Melaka, kejadian ini hampir-hampir mirip dengan cerita Gereja di St. Paul Church Ruins, di St. Paul Hills. Tapi, diluar kesan mistis itu paling tidak keindahan gaya Paris “tua” yang tercermin dari arsitekturnya ini membuat banyak pasangan calon pengantin yang melakukan foto pre wedding. Tidak hanya satu atau dua pasangan saja, tapi setiap kali pagi atau siang saya lewat kawasan ini saya selalu menemukan pasangan lain lagi yang berfoto mengenakan busana pengantin!.


Di samping gereja Notre-Dame persis hanya dibatasi oleh jalan, terdapat satu kantor pos besar. Kantor pos pusat yang bernama Buu Dien – Thanh Pho Ho Chi Minh ini masih aktif digunakan sebagai tempat mengirim surat dan paket. Gedung ini juga terkenal karena dirancang oleh Gustave Eiffel, perancang menara Eiffel di Paris, pada awal abad 20. Gedung ini bergaya gothic, dengan tiga lantai, dan bentuk yang simetris. Mirip Benh Thanh market, memiliki pintu masuk dengan jam dinding besar di atasnya. Agaknya kesimetrisan bangunan dan detail ukiran merupakan ciri khas bangunan-bangunan Prancis. Seolah sedikitpun cacat tidak boleh menempati bagian dari kesempurnaan bangunan. Ukiran kepala patung di atas pintu masuk, mengingatkan saya pada ciri khas bagian depan kapal-kapal perang Prancis abad pertengahan.


Masuk ke dalam kantor pos, suasana megah langsung terasa. Kesempurnaan detail ruangan juga tercermin dari langit-langit yang melengkung dengan pola kotak-kotak dengan warna dominan krem dan putih senada dengan warna bangunan secara keseluruhan. Aksen hijau membuat kontrasnya makin terasa, dengan pencahayaan alami dari jendela yang dibangun di atas langit-langit kubah.


Menengok sebelah kanan, ada peta Saigon lama berukuran besar terpampang. Di bawah peta tersebut, terdapat lima petunjuk waktu dari belahan dunia yang berbeda; kota Paris berada di paling tengah. Pada sayap kanan dan kiri, merupakan tempat berjualan souvenir. Mulai dari patung gadis Vietnam bercaping, gantungan kunci, atau beragam lukisan dan postcard.


Di bagian pelayanan utama kantor pos ini terpampang lukisan Uncle Ho berukuran sangat besar. Bahkan saking besarnya, dari pintu masuk pun langsung terlihat. Beberapa bagian pengiriman dibagi berdasarkan jenisnya, surat – paket – atau penjualan benda-benda pos. Itu masih dibagi lagi domestic atau internasional. Di bagian tengah ruangan terdapat meja-meja panjang untuk menulis dan menempel perangko.
Saya menikmati duduk di tempat ini untuk beberapa lama. Tanpa pendingin udara pun, suasana disini cukup sejuk. Suara petugas memberikan stempel, tarikan lakban, atau sekedar riuh rendahnya orang bertransaksi membius saya dalam perasaan yang saya sebut sebagai : kenyamanan

43 komentar:

r10 mengatakan...

baru sadar kalau orang vietnam kurus2 setelah mendapat verifikasi dari gaphe :D

Rumah Al Banna mengatakan...

suasananya ga beda jauh sama Kota jakarta klo diliat2 :D

Penghuni 60 mengatakan...

wah, Gaphe skrg jalan2 trs ya...
jgn lp oleh2nya doonk...
:)

Adietya Landras mengatakan...

Ho Chi Min City itu artinya Kota Paman Ho yak?? baru tw --a

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

aku juga bingung phe kalau dikasih pentunjuk arahnya mata angin :) lebih suka kanan kiri

YeN mengatakan...

bangunannya keren2 ya..
dan ngomong2 kelihatannya disana bersih juga ya..

Rawins mengatakan...

ga ada sewaan ojek yo biar nyaman muter muter
kalo liat foto fotonya, berasa di jogja dab...

nuel mengatakan...

baru tahu kalau nama ibukotanya itu julukan buat bapak bangsanya...

Isti mengatakan...

gaphe...komplit banget ceritanya..kayaknya ini pake riset ya? hehe....

titanic mengatakan...

bangunannya kren2 ajak kita sob hehehe
ditunggu updatenya postingnnya kren, thanks

Arman mengatakan...

bagus ya bangunan2 tuanya....

jarwadi mengatakan...

ah, tiap blog walking ke sini adanya bikin ngiri melulu

hiks

di sini sebenarnya saya punya seorang teman blogger, sesama asean blogger, dia adalah ah minh do

dea mengatakan...

bagus banget yaa :D

Muhammad A Vip mengatakan...

bangunan tua di vietnam seprtinya dirawat dengan benar, coba indonesia juga demikian.

applausr mengatakan...

masa sih vietnam kurus kurus ya.... katanya juga rumahnya semuanya juga sama ya.... keren kali kalau bisa jalan kaki di vietnam.. saya juga suka kalau ke negara orang lain sukanya jalan kaki.... lebih merasa tinggal disana kayaknya,,..

Happy Fibi mengatakan...

Haha..
Sempet senyum pas ngebaca kaliamt :"Selamat satang di negeri orang kurus".. Jadi, klo aku ke sana, berasa ndut sendiri, ya :'(
.
Mas Gaph, give away ultahnya mannnaaa :D??

Miftahgeek mengatakan...

Wuoohh, backpacker sejati, lebih suka kemana2 jalan kaki O_o

Hzndi mengatakan...

waaah pemandangannya indah2 ya bang :) mudah2an suatu saat bisa menyusul abang kesana hehehe

Ajeng Sari Rahayu mengatakan...

senangnya, menemukan kenyamanan di negeri orang >.<

Duo Panda mengatakan...

Arrrggghhhh... bikin sirik aja.. Kapan bisa nyusul ke Vietnam yah? :(
*intip buku tabungan & kalender..

hihihi...
btw, nice post mas gaphe :)
HCMC kayanya harus dimasukin ke top list juga nih..

auliadriani mengatakan...

keren foto2nya... vietnam bagus ya ternyata :D

Ami mengatakan...

pola makan dan kebiasaan hidup jadinya gak banyak yang overweight ya. tapi moga-moga bukan penduduknya hidup susah kurang makan

nicamperenique mengatakan...

aslinya bangunannya yang bagus atau yang ngambil fotonya yang pinter ya Phe? :D

Nedi@r80 mengatakan...

happy'y yg udah melancong kesono, kapan ane bisa nyusul ya ??..

AuL Howler mengatakan...

bagus2 design bangunannyaa...
vintage-vintage gimanaa gitu.

hehe

Ya amplop. jadi selama ini bang yoga bener2 sendiri travellingnya?? Nggak ada rekan SATUPUN??

DAN TIDAK PERNAH NYASAR???

#Ternganga

BlogS of Hariyanto mengatakan...

ternyata banyak bangunan kuno yang dilestarikan di sana...tidak seperti di Indonesia..malahan dihancurkan diganti dengan mall :)

Outbound Training Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Outbound Training Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Outbound Training Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

bina mengatakan...

2011,pas mau pertama kalinya ke luar negeri (malaysia), saya kebantu banget sama blognya mas gaphe. sampe2 jadwal itinerary'nya di samain kaya dia. skrg liat gaphe udah ke vietnam. kayanya saya harus udah mulai berburu tiket lagi ke HCMC.

Rubiyanto Sutrisno mengatakan...

wah mantap ya, banyak bangunan unik mas Gaphe.

pelangiku mengatakan...

Wah...jadi makin kepengen ke Vietnam nih. Semangat! Thanks ya buat sharingnya.

FREE DOWNLOAD mengatakan...

Kapan yahh.....
Ke vietnam !!!
Kunjungan perdananya gan aku tunggu lho0? http://downladsoftware.blogspot.com/

pulsa mengatakan...

bersihh yaa disana, lovely !

Obat Herbal Ace Maxs mengatakan...

pengen donq kesana !!1

cara penyembuhan sinusitis mengatakan...

wow seru banget tempat nya indah gan.,,.

obat herbal lemah syahwat mengatakan...

kapan yah saya bisa liburan kesana?

cara mengobati penyakit cacar mengatakan...

keren dah ini tempat liburan

cara mengobati penyakit cacar mengatakan...

keren dah ini tempat liburan

leligulali mengatakan...

whoaaaaaaaa enaknya ya bisa traveling to another country :)

drajat mengatakan...

Foto-fotonya keren-keren....

dom jenkinson mengatakan...

gak kalah mirip nyeremt2 eropa deh :D

Variasi Mobil

Variasi mobil mengatakan...

wah ada kijang inova juga tuh keliatannya :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...