Sepertinya
tidak banyak masyarakat lokal yang peduli dengan arah utara selatan
atau timur dan barat. Terbukti dari beberapa kali saya bertanya pada
orang, mereka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Yang bisa bahasa
Inggris pun berujar : “I know what you mean, but I don’t know
the answer”. Maka, ketika itu terjadi yang saya lakukan
hanyalah membuka peta Ho Chi Minh dan bertanya arah mana yang harus
saya tempuh untuk menuju ke suatu tempat. Dan itupun diakhiri dengan
tunjukan tangan ke jalan.
Itu
yang saya rasakan ketika mencoba tantangan Lonely Planet tentang Ho
Chi Minh City walking tour. Sebab, dalam kitabnya para
traveler itu disebutkan bahwa Ho Chi Minh City sangat mudah
dieksplorasi hanya dengan berjalan kaki. Alih-alih menggunakan jasa
tour travel yang rata-rata membanderol 5-10 USD untuk city
tour, Saya memutuskan untuk meminta peta dari hostel tempat saya
menginap dan menjelajahi Ho Chi Minh City.
![]() |
| Peta Ho Chi Minh City. Klik kanan - save picture as, untuk mendownload. |
Berbekal
peta fotokopian itu saya menjejakkan kaki mulai dari Jalan Pham Ngu
lao dari ujung menuju ujung, untuk menemukan Ben Thanh Market, pasar
terbesar di pusat kota Ho Chi Minh City. Perjalanan sekitar 10 menit
itu tidak terlalu terasa karena trotoar yang lebar. Terlebih lagi
disepanjang Pham Ngu Lao terdapat taman yang luas dan rimbun.
Taman
ini sama seperti banyak taman-taman kota di Vietnam yang memang
sengaja dibuat sebagai ruang publik. Dengan adanya taman kota ini,
udara terasa bersih dan suasananya terasa teduh. Beberapa masyarakat
lokal mengisi waktu dengan membaca koran, atau berolahraga. Maklum,
di taman ini juga disediakan banyak alat untuk berolahraga. Saya
tersenyum ketika melihat seorang ibu-ibu sedang melakukan treadmill
menggunakan alat semacam ayunan yang digerakkan dengan kaki. Atau,
ketika ada dua bocah memainkan bulu tangkis namun menggunakan kaki.
Kok-nya terbuat dari kantung plastik berisi pasir dan diikat
dengan menyisakan ekor berumbai mirip bulu angsa pada kok bulu
tangkis.
![]() |
| Taman bermain anak. Salah satu fasilitas di taman tengah kota HCMC |
Saya
pun berkata pada diri sendiri : Selamat datang di negeri orang
kurus!.
Ya,
karena memang sangat jarang saya temui orang Vietnam yang berbadan
gemuk. Beberapa alat olahraga di taman itu menjadi salah satu jawaban
dari pertanyaan saya, mengapa koq orang Vietnam badannya kurus-kurus.
Bukan kurus dalam artian kurang gizi, tetapi lebih cenderung
langsing. Overweight sepertinya sudah dicoret dalam kamus
bahasa Vietnam!.
Tak
berapa lama kemudian sebuah simpang jalan dengan taman berbentuk
lingkaran di tengah simpang tersebut terlihat. Saya mengenali taman
itu karena patungnya : Tran Nguyen Han menaiki kuda. Tran Nguyen Han
sendiri merupakan jendral dari Raja Le Loi, yang hidup pada abad 15.
Taman itu terletak persis di depan Ben Thanh market, tujuan pertama
saya dalam city tour kali ini.
![]() |
| Pintu masuk Ben Thanh Market |
Ben
Thanh Market, mungkin sangat tepat jika disebut sebagai Mekkah-nya
para penggila barang murah di Ho Chi Minh City. Betapa tidak,
turis-turis rela thawaf mengelilingi sudut demi sudut pasar
ini untuk memperoleh penawaran termurah yang bisa mereka dapatkan.
Sekilas dari luar, Ben Thanh market ditandai dengan menara jam dengan
jarum penunjuk dan angka jamnya yang berwarna biru, kontras sekali
dengan warna keseluruhan bangunan yang berwarna krem muda. Penanda
kalau pasar ini benar-benar Ben Thanh adalah adanya tulisan Cho Ben
Thanh di depan menara jam. Di bawah menara jam tersebut adalah pintu
masuk utamanya, meskipun ada banyak pintu masuk lain di pasar yang
berbentuk segi empat tersebut.
Ben
Thanh Market tidaklah luas. Tapi keseluruhan bangunan dan isinya
mengingatkan saya pada pasar Beringharjo Jogjakarta. Bedanya, pasar
ini hanya satu lantai saja. Pembagian zona pun diatur dengan jelas,
pakaian di bagian depan, suvenir dan pernak-pernik di tengah, dan
makanan di bagian paling belakang. Bagi turis, bahasa yang berlaku di
Ben Thanh Market adalah bahasa kalkulator. Pedagang tinggal mengetik
harganya melalui kalkulator, dan kita menawar juga menggunakan
kalkulator. Maklum, tidak semua bisa berbahasa Inggris. Namun, untuk
menarik banyak pelanggan, biasanya mereka juga menguasai beberapa
bahasa mudah dari negara-negara tertentu semisal ketika dibelakang
saya ada rombongan wanita berkerudung masuk, pedagang baju di depan
saya berteriak : “murah..murah..murah..”. Mungkin mereka
mengidentikkan yang berkerudung biasanya datang dari Malaysia atau
Indonesia.
Saya
sarankan, jika melihat satu barang yang disukai disini dan sudah
cocok dengan harganya maka segeralah diambil. Ini karena mungkin
semakin kedalam nantinya kita tidak akan menemukan barang yang sama,
atau akan sulit kembali ke tempat semula karena banyak lapak penjual
yang mirip. Berhati-hatilah dengan barang bawaan. Dan yang pasti,
tawarlah setiap barang yang dijual karena harga bukanya jauh diatas
harga aslinya. Paling tidak, tawarlah sepertiga atau seperempat harga
bukanya. Sebagai informasi, rata-rata kaos disini dibanderol dengan
harga 50.000 – 100.000 VND meskipun mereka mencantumkan harga
diatas itu di displaynya.
Saya
beranjak tanpa membeli apa-apa disini. Karena begitu saya masuk di
bagian makanan, serta merta saya menutup hidung saya dan menahan
nafas, baunya sangat asing dan menusuk. Tidak enak, dan hampir
membuat saya muntah. Mungkin karena banyak masakan disini menggunakan
babi sebagai bahan makanannya. Ditambah dengan di dekatnya banyak
daging babi segar yang digantung, membuat saya tidak betah berada
lama-lama.
Dan
saya melanjutkan perjalanan. Dari Ben Thanh Market saya mengambil
arah ke Jalan Le Loi, menuju ke People’s Committee Hall. Hanya
kurang dari 10 menit berjalan kaki sampai menemukan Rex Hotel, salah
satu hotel mewah yang terkenal di HCMC. Mengapa terkenal?. Mungkin
karena di lantai dasanya terdapat butik-butik mewah seperti Louis
Vuitton dan Burberry. People’s Committee Hall terletak persis di
depan Rex Hotel, dengan sebuah taman yang bagus dengan patung Bac Ho,
atau Uncle Ho Chi Minh yang sedang duduk sambil memeluk kepala
seorang gadis kecil.
![]() |
| Taman di depan People's Commitee Hall |
Ho
Chi Minh, atau lebih akrab dikenal sebagai Uncle Ho (dalam bahasa
Viet : Bac Ho) adalah sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat
Vietnam kepada Nguyen Sinh Cung atau dikenal juga dengan nama Nguyen
That Thanh, yang memiliki arti “Ho sang pencerah”. Uncle Ho ini
merupakan bapak pemersatu Vietnam, yang dulunya terbagi dua : Vietnam
Utara dan Vietnam Selatan.
Sepertinya
memang banyak yang menjadikan People’s Committee Hall ini sebagai
salah satu tempat wajib foto yang mengesahkan keberadaannya di
Vietnam. Ini terbukti saat saya berkunjung banyak sekali turis yang
berfoto di tempat ini. Saya bertemu dengan keluarga, yang saya curi
dengar bahasa mereka adalah bahasa Indonesia. Maka saya meminta
tolong sang ayah untuk mengambil gambar saya di depan People’s
Committee Hall ini. Dilema bepergian sendirian adalah tidak bisa
memperoleh foto diri yang bagus karena tidak ada yang memotret. Maka,
kesempatan ini tidak saya sia-siakan!.
![]() |
| Mejeng dulu aah |
Waktu
berkunjung ke tempat ini paling bagus sebenarnya adalah pagi hari
atau malam hari. Pagi hari akan membentuk warna langit yang biru,
kontras dengan gedung yang berwarna coklat krem dengan genteng
berwarna merah. Sedangkan pada malam hari, lampu-lampu penerangan
akan membentuk komposisi yang keren dan menyala pada gedungnya.
People’s
Committee Hall ini memiliki nama lain Hotel de Ville de Saigon. Dari
namanya saja terbayang unsur Prancisnya. Memang benar karena gedung
ini dibangun pada periode 1902-1908 dengan gaya kolonial Perancis.
Saigon waktu itu memang masih dalam pendudukan bangsa Perancis.
Barulah tahun 1975, saat Vietnam Merdeka, gedung ini berganti nama
sebagai People’s Committee Hall. Sayang, karena People’s
Committee Hall merupakan salah satu gedung pemerintahan yang masih
aktif maka saya tidak bisa masuk kedalamnya. Terlihat dua pos
penjagaan dengan petugas berseragam hijau tentara menjaga pintu masuk
di kanan dan kiri gedung ini.
Apa
boleh buat. Perjalanan saya lanjutkan dari People’s Committee Hall
ke arah timur. Hanya beberapa puluh meter dari situ saya menemukan
The Saigon Opera House. Tak salah memang kalau Ho Chi Minh City
dijuluki sebagai Paris Phuong Dong – yang berarti Paris di Timur,
karena memang bangunan-bangunannya banyak yang berarsitektur
Perancis. Wajar, karena sebagai bekas jajahan Perancis, Ho Chi Minh
City menyimpan banyak bangunan bersejarah peninggalan mereka. Seperti
Opera House yang dulunya dikenal sebagai French Opera House.
Dibangun
pada tahun 1987, gedung ini digunakan sebagai tempat berpesta para
pejabat Perancis bersama maddame moiselle mereka. Tercatat,
Ferret Eugene – arsitek Perancis, yang merancang gedung bergaya
baroque, dengan langit-langit tinggi melengkung dan pilar-pilar khas
bangunan Yunani, dan dibuat hampir mirip dengan opera Garnier di
Perancis.
Saat
saya datang siang hari sepertinya bukan waktu yang tepat. Opera house
tutup. Tapi saya melihat ada poster pertunjukan yang akan
dilaksanakan malam itu, namun tampaknya rencana untuk menyaksikan
pertunjukan itu harus saya buang jauh-jauh. Apalagi kalau bukan
karena mahal?.
Bergerak
ke arah Utara, dengan menyusuri Jalan Dong Khoi, tak sampai lima
menit saya menemukan Gereja Notre-Dame Cathedral Basilica. Gereja ini
menjadi terkenal karena namanya menunjukkan kemiripan arsitektur
dengan gereja Notre-Dame yang ada di Perancis. Sayang, tidak ada
kisah HunchBack di gereja ini. Gereja yang memiliki nama resmi
Basilica of Our Lady of The Immaculate Conception ini dulunya
merupakan gereja yang dibangun oleh Prancis dengan konstruksi kayu
diatas tanah Pagoda Vietnam pada tahun 1863. Barulah tahun 1877
direnovasi atas usulan seorang arsitek Prancis bernama J. Bourad.
Hampir seabad kemudian, gereja ini menyandang gelar Cathedral
Basilica.
Gereja
ini bergaya gothic dengan dua menara lonceng didepannya. Dalamnya,
dua deret kursi dipisahkan oleh satu jalan memanjang sebagai jalan
utama menuju ke altar. Samping kanan dan kiri terdapat patung dan
lukisan perawan suci, dengan kaca patri berwarna-warni membentuk
lukisan dikelilingi oleh batu-batu berukir : Merci. Saya pikir
tadinya nama-nama orang yang terukir disitu adalah nama-nama pejuang
atau pendeta yang gugur dalam menyebarkan agama nasrani. Tapi melihat
kata “merci” yang berarti terima kasih dalam bahasa Prancis, saya
menduga nama itu adalah donatur untuk pembangunan gereja ini.
Entahlah, karena saya tidak memperoleh keterangan yang jelas soal hal
ini.
![]() |
| Bagian dalam gereja |
![]() |
| Artwork di salah satu sudut Notre Dame |
Gereja
ini pernah dihebohkan dengan kejadian patung Mary yang ada di taman
depan gereja konon menitikkan air mata pada Oktober 2005. Kalau masih
ingat cerita saya di Melaka, kejadian ini hampir-hampir mirip dengan
cerita Gereja di St. Paul Church Ruins, di St. Paul Hills. Tapi,
diluar kesan mistis itu paling tidak keindahan gaya Paris “tua”
yang tercermin dari arsitekturnya ini membuat banyak pasangan calon
pengantin yang melakukan foto pre wedding. Tidak hanya satu atau dua
pasangan saja, tapi setiap kali pagi atau siang saya lewat kawasan
ini saya selalu menemukan pasangan lain lagi yang berfoto mengenakan
busana pengantin!.
Di
samping gereja Notre-Dame persis hanya dibatasi oleh jalan, terdapat
satu kantor pos besar. Kantor pos pusat yang bernama Buu Dien –
Thanh Pho Ho Chi Minh ini masih aktif digunakan sebagai tempat
mengirim surat dan paket. Gedung ini juga terkenal karena dirancang
oleh Gustave Eiffel, perancang menara Eiffel di Paris, pada awal abad
20. Gedung ini bergaya gothic, dengan tiga lantai, dan bentuk yang
simetris. Mirip Benh Thanh market, memiliki pintu masuk dengan jam
dinding besar di atasnya. Agaknya kesimetrisan bangunan dan detail
ukiran merupakan ciri khas bangunan-bangunan Prancis. Seolah
sedikitpun cacat tidak boleh menempati bagian dari kesempurnaan
bangunan. Ukiran kepala patung di atas pintu masuk, mengingatkan saya
pada ciri khas bagian depan kapal-kapal perang Prancis abad
pertengahan.
Masuk
ke dalam kantor pos, suasana megah langsung terasa. Kesempurnaan
detail ruangan juga tercermin dari langit-langit yang melengkung
dengan pola kotak-kotak dengan warna dominan krem dan putih senada
dengan warna bangunan secara keseluruhan. Aksen hijau membuat
kontrasnya makin terasa, dengan pencahayaan alami dari jendela yang
dibangun di atas langit-langit kubah.
Menengok
sebelah kanan, ada peta Saigon lama berukuran besar terpampang. Di
bawah peta tersebut, terdapat lima petunjuk waktu dari belahan dunia
yang berbeda; kota Paris berada di paling tengah. Pada sayap kanan
dan kiri, merupakan tempat berjualan souvenir. Mulai dari patung
gadis Vietnam bercaping, gantungan kunci, atau beragam lukisan dan
postcard.
Di
bagian pelayanan utama kantor pos ini terpampang lukisan Uncle Ho
berukuran sangat besar. Bahkan saking besarnya, dari pintu masuk pun
langsung terlihat. Beberapa bagian pengiriman dibagi berdasarkan
jenisnya, surat – paket – atau penjualan benda-benda pos. Itu
masih dibagi lagi domestic atau internasional. Di bagian tengah
ruangan terdapat meja-meja panjang untuk menulis dan menempel
perangko.
Saya
menikmati duduk di tempat ini untuk beberapa lama. Tanpa pendingin
udara pun, suasana disini cukup sejuk. Suara petugas memberikan
stempel, tarikan lakban, atau sekedar riuh rendahnya orang
bertransaksi membius saya dalam perasaan yang saya sebut sebagai :
kenyamanan


















41 komentar:
baru sadar kalau orang vietnam kurus2 setelah mendapat verifikasi dari gaphe :D
suasananya ga beda jauh sama Kota jakarta klo diliat2 :D
wah, Gaphe skrg jalan2 trs ya...
jgn lp oleh2nya doonk...
:)
Ho Chi Min City itu artinya Kota Paman Ho yak?? baru tw --a
aku juga bingung phe kalau dikasih pentunjuk arahnya mata angin :) lebih suka kanan kiri
bangunannya keren2 ya..
dan ngomong2 kelihatannya disana bersih juga ya..
ga ada sewaan ojek yo biar nyaman muter muter
kalo liat foto fotonya, berasa di jogja dab...
baru tahu kalau nama ibukotanya itu julukan buat bapak bangsanya...
gaphe...komplit banget ceritanya..kayaknya ini pake riset ya? hehe....
bangunannya kren2 ajak kita sob hehehe
ditunggu updatenya postingnnya kren, thanks
bagus ya bangunan2 tuanya....
ah, tiap blog walking ke sini adanya bikin ngiri melulu
hiks
di sini sebenarnya saya punya seorang teman blogger, sesama asean blogger, dia adalah ah minh do
bagus banget yaa :D
bangunan tua di vietnam seprtinya dirawat dengan benar, coba indonesia juga demikian.
masa sih vietnam kurus kurus ya.... katanya juga rumahnya semuanya juga sama ya.... keren kali kalau bisa jalan kaki di vietnam.. saya juga suka kalau ke negara orang lain sukanya jalan kaki.... lebih merasa tinggal disana kayaknya,,..
Haha..
Sempet senyum pas ngebaca kaliamt :"Selamat satang di negeri orang kurus".. Jadi, klo aku ke sana, berasa ndut sendiri, ya :'(
.
Mas Gaph, give away ultahnya mannnaaa :D??
Wuoohh, backpacker sejati, lebih suka kemana2 jalan kaki O_o
waaah pemandangannya indah2 ya bang :) mudah2an suatu saat bisa menyusul abang kesana hehehe
senangnya, menemukan kenyamanan di negeri orang >.<
Arrrggghhhh... bikin sirik aja.. Kapan bisa nyusul ke Vietnam yah? :(
*intip buku tabungan & kalender..
hihihi...
btw, nice post mas gaphe :)
HCMC kayanya harus dimasukin ke top list juga nih..
keren foto2nya... vietnam bagus ya ternyata :D
pola makan dan kebiasaan hidup jadinya gak banyak yang overweight ya. tapi moga-moga bukan penduduknya hidup susah kurang makan
aslinya bangunannya yang bagus atau yang ngambil fotonya yang pinter ya Phe? :D
happy'y yg udah melancong kesono, kapan ane bisa nyusul ya ??..
bagus2 design bangunannyaa...
vintage-vintage gimanaa gitu.
hehe
Ya amplop. jadi selama ini bang yoga bener2 sendiri travellingnya?? Nggak ada rekan SATUPUN??
DAN TIDAK PERNAH NYASAR???
#Ternganga
ternyata banyak bangunan kuno yang dilestarikan di sana...tidak seperti di Indonesia..malahan dihancurkan diganti dengan mall :)
salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.
salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.
salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.
2011,pas mau pertama kalinya ke luar negeri (malaysia), saya kebantu banget sama blognya mas gaphe. sampe2 jadwal itinerary'nya di samain kaya dia. skrg liat gaphe udah ke vietnam. kayanya saya harus udah mulai berburu tiket lagi ke HCMC.
wah mantap ya, banyak bangunan unik mas Gaphe.
Wah...jadi makin kepengen ke Vietnam nih. Semangat! Thanks ya buat sharingnya.
Kapan yahh.....
Ke vietnam !!!
Kunjungan perdananya gan aku tunggu lho0? http://downladsoftware.blogspot.com/
bersihh yaa disana, lovely !
pengen donq kesana !!1
wow seru banget tempat nya indah gan.,,.
kapan yah saya bisa liburan kesana?
keren dah ini tempat liburan
keren dah ini tempat liburan
whoaaaaaaaa enaknya ya bisa traveling to another country :)
Foto-fotonya keren-keren....
Poskan Komentar