Merdeka
pada tahun 1975, setelah melalui perpindahan kekuasaan berkali-kali,
Vietnam tidak serta merta melupakan sejarahnya. Potongan-potongan
informasi tentang sejarah Vietnam itulah yang saya coba untuk
kumpulkan dalam perjalanan saya selanjutnya. Tentu saja, melalui
bukti-bukti nyata bekas peninggalan perang, bangunan, atau hanya
sekedar dokumentasi.
Saya
melanjutkan perjalanan ke arah utara Gereja Notre Dame, melewati
taman kota yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan yang saya
lalui sepanjang Pham Ngu Lao. Saya maklum kalau taman kota ini lebih
ramai, terik matahari tepat di siang hari dan jam istirahat
dimanfaatkan untuk berteduh dan beristirahat di taman. Tak jarang,
beberapa mahasiswa berkumpul menggelar ponco mereka, menenggak es
soda dalam cup plastik, dan berdiskusi dengan teman-teman
mereka. Beberapa pasangan muda-mudi, bermesraan meski di tengah hari
bolong. Dan beberapa kakek-kakek membaca koran, duduk melingkar,
dengan segelas ca phe da (es kopi) di depannya
Tak
butuh lama sampai di depan gerbang bangunan yang disebut sebagai The
White House – nya Vietnam ini. Untuk masuk kedalamnya, hanya
ada satu pintu dengan dijaga oleh petugas berseragam hijau yang
mengarahkan untuk membeli tiket di loket yang terletak di sebelah
kiri pintu masuk. Setelah 30.000 VND bertukar dengan selembar tiket
masuk, langsung saja saya menuju ke bagian depan air mancur.
Disinilah biasanya digunakan sebagai tempat untuk bisa mengambil foto
keseluruhan bangunan.
Reunification
Palace menjadi sangat terkenal karena selain sejarahnya, banyak acara
televisi yang selalu menjadikan bangunan ini sebagai ikonnya Vietnam.
Sebut saja The Amazing Race Asia. Ketika salah satu episodenya
berlangsung di Vietnam, bangunan ini adalah salah satu yang digunakan
sebagai tempat berkumpul.
![]() |
| mejeng dulu yaa |
Di
masyarakat lokal, Reunification Palace disebut juga sebagai Dinh Doc
Lap. Jaga-jaga saja kalau saat kita bertanya ke masyarakat lokal
mereka tidak mengenali tempat yang disebut sebagai Reunification
Palace ini. Istana ini dulunya merupakan istana kepresidenan negara
Vietnam Selatan, saat Vietnam masih terpecah menjadi dua. Masa itu,
Vietnam Selatan merupakan “boneka” Amerika, yang berperang
terhadap Vietnam Utara yang didukung negara-negara Komunis.
Peperangan dua kekuatan besar, antara Amerika dan Negara-negara
komunis ini berlangsung dan memakan banyak korban.
Kembali
ke Reunification Palace, tak heran sebagai istana kepresidenan
bangunan ini merupakan bangunan yang termewah di masa itu.
Sampai
pada 30 April 1975, bangunan ini akhirnya dikuasai oleh Vietnam Utara
dalam peperangan antara dua negara tersebut. Dua buah tank Vietnam
Utara berhasil merobohkan pintu gerbangnya, dan peristiwa penguasaan
istana ini dikenal dengan “The Fall of Saigon”. Pada hari itu,
akhirnya Amerika berhasil diusir dari Vietnam, dan Vietnam Utara dan
Selatan melebur menjadi satu negara dibawah bendera Komunis. Mereka
mengenal sebagai hari kemerdekaan Vietnam.
Tank
yang digunakan untuk merobohkan gerbang itupun sekarang masih
dipasang di halaman depan Reunification Palace. Saya beruntung, ada
seorang fotografer cewek yang mau saya mintai tolong untuk memotret
saya di depan tank ini.
Berhubung
istana kepresidenan ini sudah berubah fungsi menjadi museum, maka
sekarang setiap orang berhak untuk masuk dan melihat secara dekat isi
dari istana ini. Dan memang bukan mengada-ada jika bangunan ini
disebut-sebut sebagai yang termewah di Vietnam pada zamannya. Betapa
tidak, bangunan empat lantai dan 1 mezzanine ini menyimpan banyak
sekali benda-benda yang saya taksir nilainya miliaran, jika tidak
boleh dikatakan tidak bisa dibeli sama sekali.
![]() |
| Tangga utama menuju ke lantai dua yang tidak bisa diakses. |
Sebagai
istana kepresidenan, sudah sewajarnya memiliki berbagai macam
ruangan. Mulai dari ruang pertemuan, ruang rapat, ruang komando,
ruang menyambut tamu, ruang makan, ruang beristirahat dan kamar-kamar
tamu, tempat dansa, ruang bermain kartu, bahkan hingga bunker bawah
tanah untuk bersembunyi presiden kalau-kalau istana ini dibombardir.
Yang
terkenal dari keseluruhan ruangan di Reunification Palace ini adalah
sebuah ruangan yang terletak di lantai atas. Sebuah ruangan untuk
menerima tamu kenegaraan, dengan furniture antik sebuah sofa bergaya
china yang terbuat dari kayu dan dipoles vernis. Bantal sofanya
terbuat dari beludru putih – atau setidaknya yang saya lihat
demikian. Gorden penutup berwarna emas, serta karpet tebal berwarna
senada. Yang menjadikannya mewah adalah pada satu sisi dinding yang
tak berpintu dan berjendela terdapat lukisan tangan yang memenuhi
keseluruhan bagian mulai dari atas hingga bawah.
![]() |
| Inilah ruangan yang saya maksud |
Sayang,
tidak ada akses masuk kedalamnya. Kalau iya, mungkin sudah ada foto
saya berbaring layaknya Reclining Buddha Wat Pho di atas sofa
itu..
Waktu
yang tepat untuk berkunjung sebenarnya adalah pagi atau sekalian sore
hari. Sebab, pada waktu kedatangan saya di siang hari, pas dengan jam
istirahat. Alhasil, saya tidak berhasil memperoleh kesempatan untuk
mengetahui lebih detail lagi karena tidak ada tour guide
berbahasa inggris gratis pada jam-jam tertentu. Satu-satunya tour
guide yang ada membawa rombongan turis bermata sipit, dan dia
menjelaskan dengan bahasa mandarin. Hal ini diperparah juga dengan
tidak adanya keterangan tertulis yang lengkap pada setiap ruangan.
Sigh..
Akhirnya
langkah kaki saya membawa ke atas mezannine, di sebuah teras
menjorok ke depan, dan saya menduga bagian ini digunakan oleh
Presiden untuk melihat kejadian yang berlangsung di kota. Benar saja,
di atas sini, sejajar dengan air mancur di halaman depan, saya bisa
melihat jalan lurus kedepan, puncak cathedral Notre Dame, sampai jauh
ke kota.
![]() |
| Dari atas balkon |
Sebetulnya,
Reunification Palace ini cukup luas jika memaksa untuk mengitari
keseluruhan tamannya juga dengan berjalan kaki. Alternatif lainnya
adalah dengan menggunakan shuttle car yang bentuknya mirip
mobil golf berisi banyak tempat duduk, mengitari taman sampai ke
sudut-sudut belakang. Namun sepertinya dikenai biaya lagi untuk
menggunakan fasilitas ini.
Hal
lain yang bisa dilakukan adalah duduk di depan istana, dan melihat
video sejarah perang Vietnam dulu.
Meski
begitu, saya cukup puas dengan duduk-duduk di tengah taman yang ada
paving blocknya menuju kolam air mancur di depan istana.
Sendirian, sampai akhirnya semprotan air penyiram rumput otomatis
mengusir saya dari situ.
Maka
saya berjalan kaki menuju ke Museum War Remnants, yang tidak jauh
dari Reunification Palace. Dari pintu gerbang, menghadap ke istana,
ambil ke kanan dan tidak sampai lima belas menit saya menjejakkan
kaki di War Remnants.
Museum
ini terlihat seperti bangunan biasa, tidak ada yang spesial dari
luarnya. Jika tidak teliti, mungkin akan melewatinya tanpa tahu kalau
itu adalah museum yang dimaksud. Yang paling jelas membedakan adalah
beberapa tank dan pesawat terbang yang dipajang di halaman depannya.
Dengan
tiket seharga 15.000 VND, saya masuk ke museum yang dulunya disebut
sebagai Museum of American War Crimes (Museum Kejahatan Perang
Amerika). Sempat diubah menjadi Museum of War Crimes (Museum
Kejahatan Perang), lalu pada akhirnya menjadi War Remnants
(Peninggalan Perang) setelah normalisasi hubungan Vietnam –
Amerika.
Meski
begitu, tetap saja ketika masuk ke Museum saya merasakan bahwa
masyarakat Vietnam benar-benar mengutuk tindakan Amerika pada saat
itu yang menggunakan Vietnam Selatan sebagai “boneka” untuk
menguasai wilayah Vietnam.
![]() |
| Lantai 1 |
Ada
setidaknya tiga lantai di museum ini. Pada lantai pertama, beberapa
display menunjukkan dukungan-dukungan negara lain terhadap perjuangan
rakyat Vietnam dan mengecam Amerika. Salah satu foto anak kecil
dengan seragam tentara US Army lengkap dengan helm dan senapannya
duduk diantara batu-batu nisan menarik perhatian saya. Saya membaca
prosa dibawahnya :
When
I was a child,
I
spoke as a child,
I
understood as a child,
I
thought as a child.
But
when I became a man,
I
put away children things
Entah
mengapa saya tertarik dengan foto hitam putih ini. Ada makna yang
dalam tersirat dari prosa itu dan gambarnya. Saya cukup lama
memandang foto ini, sampai menyadari beberapa rombongan yang tadi
masuk bersama saya sudah beranjak ke lantai 2.
![]() |
| Lantai 2. |
Di
lantai 2, adalah bukti kekejaman perang Amerika terhadap bangsa
Vietnam. Sebuah keterangan tertulis menyebutkan, pada saat agresi
Amerika tidak hanya menggunakan bom dan peralatan perang
konvensional, namun mereka juga menggunakan senjata kimia untuk
menghancurkan sumber daya alam serta mencegah pergerakan
besar-besaran pasukan pembebasan Vietnam Selatan. Selama 10 tahun,
mulai 1961-1971, berlangsung hujan bahan kimia (oleh pesawat-pesawat
Amerika) secara terus menerus di Vietnam tengah dan selatan,
menghancurkan tumbuhan di pegunungan, tanaman pangan, meracuni sumber
air bersih, dan merusak keseimbangan ekologis. Dari catatan, selama
sepuluh tahun itu Amerika menggunakan 72 juta liter bahan kimia
berbahaya yang bervariasi. Salah satunya adalah agent orange
(salah satu pasukan penyebar bahan kimia) yang mengunakan 170
kilogram dioksin dalam 44 juta liter larutan. Bahan berbahaya ini
menyebabkan penderitaan kepada setidaknya 2,1 – 4,8 Juta rakyat
Vietnam.
![]() |
| Bukti keganasan senjata kimia |
Dan
pada catatan lain menunjukkan bahwa, Dioksin yang memiliki nama kimia
2-3-7-8 Tetra chlorodibenzo-p-dioxin (TCDD) adalah bahan kimia paling
berbahaya yang pernah ditemukan oleh manusia!. Bayangkan saja, hanya
sebanyak 85 gram dioksin, sudah cukup untuk membunuh satu kota dengan
populasi 8 juta orang.
Kejadian
itu diabadikan dalam foto-foto, sisa-sisa masker yang digunakan
tentara perang, dan gambar-gambar penderitaan rakyat Vietnam sampai
masa kini yang harus bergulat dengan cacat di tubuhnya, kelaian
genetik, sebagai akibat dari senjata kimia itu. Untuk lebih
memperkuat suasana, cat orange menyala dipakai di ruangan tersebut
untuk menunjukkan bahwa Agent Orange-lah yang paling
bertanggung jawab dalam perang bahan kimia tersebut.
Saya
merasa tidak nyaman disini. Tengkuk saya terasa berat, dan perut saya
dingin. Mual, hampir mirip dengan perasaan ketika masuk angin. Entah
memang foto-foto yang membuat saya bergidik, atau
keterangan-keterangan sejarah, atau memang karena ada makhluk-makhluk
tak kasat mata berada disekitar situ. Yang terakhir, saya tidak
berani membayangkan.
![]() |
| Lantai 3 |
Di
lantai tiga, sebelas dua belas dengan lantai dua. Perasaan saya masih
sama. Itulah mengapa saya tidak berlama-lama disini. Di lantai tiga,
terdapat pameran foto-foto jurnalis. Sebagian besar diantaranya
pernah dimuat di surat kabar internasional. Foto karya jurnalis
perang ini diabadikan, sebagai usaha untuk mengenang tewasnya mereka
saat meliput perang. Selain foto-foto yang tak kalah membuat miris,
dipajang juga beberapa sisa-sisa senjata perang. Selongsong rudal
yang dilepas pesawat, senjata AK47 atau M16 sisa perang, granat
tangan, ranjau, dan sebagainya.
Beranjak
keluar, di bagian belakang terdapat juga tiger cages. Sebuah
kurungan sebagai tempat untuk menahan dan menyiksa tawanan. Dalam
ruangan sekecil itu, terkadang digunakan sampai 8 orang, ditumpuk.
Mungkin mati berdiri.
Memang
perang hanya akan membawa kesengsaraan bagi semuanya. Kalah menang,
kedua pihak tetap akan kehilangan. Dan belajar dari sejarah perang
inilah, seharusnya setiap dari kita yang berhati akan lebih bijak
dalam menyelesaikan masalah.
![]() |
| Salah satu foto di war remnants yang saya suka |

















40 komentar:
keren museumnya ada tank, helikopter... kota tua jakarta aja kalah :D
ouw ke Vietnam toh ... museumnya keren ... terkesan mewah dan megah ..
komposisi warnanya juga bagus .. modelnya pake unyu hahahaha ...
Baru tahu saya kalo amrik pake senjata kimia. Kejem euy!
Perang memang merugikan kedua belah pihak, baik yang menang maupun yang kalah, terutama rakyat kecil.
foto bunkernya mana bang? :D
budgetnya berapa bos untuk kesono??keren euyyy..
terlalu keren
pas gw kesana lantai 3 nya belom ada, atau lagi di renovasi yak? O_o
wah kereeen.. istananya luas banget ya.. dan asri pula.. *pengen kesana
penataan furniture dalam istananya hampir hampir mirip sama istana negara kita yaa...
yaaah gak jauh beda lah sama istana bogor
Perang yang fenomenal banget antara Vietnam-Amerika. Pantas banget bila awalnya museum itu diberi nama Museum Kejahatan Perang Amerika
tiap berkunjung ke blog ini rasanya seperti keliling dunia,,,,
ca phe da itu es kopi... kalo ca phe de? :D
wuiih gaphe terlihat terang pakai baju warna ungu :)
Asiiiik, dapet pelajaran sejarah lagi nih dari mas Gaphe (\>o<)/
baca ini seperti membaca buku sejarah vietnam... baru tahu juga kalau dulu vietnam itu ada 2 kubu.... kirain komunis saja dari dulu...
peperangan selalu bikin begidik aja yah om
naas banget lihat foto yang kena senjata kimia
Tuh potonya yang di depan white house of vietnam...gede banget jan mirip raksasa. heheheeee
Phe, kemaren abis berapa kesana ?
kayak begini kali yaa yg menghargai sejarah.
indonesia harus bisa niru nihhh...
Btw bang yoga thun ini travelling nya luar biasa lama banget yah. berbulan-bulan.
Nggak bikin bangkrut kah, bang?
hehe ^^
*kabur*
ya ampun itu ruangan yg di paling atasnya, kursinya bagus benerrr, boleh dudukduduk di situ ngga mas?
Reunification Palace meni Rapi banget..
Keren Museumnya Phe..
Ahh bikin ngiri aja tuuh..
Hhrrgghh..jalan2 mulu..
Sejarah kelam yg disajikan dengan indah...ironis ya...
Btw makin sini tulisan lu makin seru aja, Gaphe...diseriusin jadi travel writer aja, hehehe
salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
sikap positif tidak akan berguna jika tidak disertai dengan tindakan" positif
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.
rupanya gaphe suka juga ke tempat-tempat bersejarah seperti itu, kirain cuma suka menikmati alam saja.. ke Palembang dong phe, mosok ke luar negeri mulu.. :D
jadi orang kaya gak selama di vietnam?
jadi orang kaya gak selama di vietnam?
Mas OOT yaa : searching 'gaphe' lha munculnya http://www.gaphephoto.com/
komplit infonya nih....asiknya yang jalan2
Di Vietnam saja, museumnya bagus, terawat, bersih, sehingga warnanya semangat menjalani hisup karena tahu sejarahnya. Di Indonesia, sebagian jelek, tak terawat, kotor akibat warga dan pemerintah asik dengan kehidupan masing-masing dengan melupakan sejarah. =)
wew racun dioksinnya ganas sekali... hehehe
berbagi kata kata motivasi gan
Janji tak akan berarti apa-apa jika kamu tak bisa menepatinya. Daripada berjanji, lebih baik tunjukkan dgn tindakan nyata.
semoga bermanfaat dan dapat di terima ya :D , ku tunggu kunjungan baliknya ya ,
indonesia museumnya pada nggak keurus jadi gak menarik, di sana rupanya beda. ampun indonesia...kapan bisa ngurus begitu kalo ngurus tempe saja payah
Tata ruangnya menakjubkan, kesan mewahnya langsung dapat pada pandangan pertama.
Laporan jalan-jalannya bagus, tulisannya bagus, jadi berasa ada disana beneran & liat langsung di museumnya. :D
Salam kenal.. Aku panggil apa nih, om atau mas? ^.^
yo gaphe, belum ada liputan jalan-jalan baru? saya selalu senang lihat foto jalan-jalannya, bikin pengen :)
pengen kesana deh...
blog nya mantap,keren
i like it your post
nice post :D salam kenal yaaa
sungguh hebat kak, lanjutkan kak kreatifitas mu..!! semoga sukses dan salam kenal ya kak..!!
Poskan Komentar