Sabtu, 31 Maret 2012

Dari Bangkok Menuju Ayutthaya

Sebenarnya, Bangkok bisa dijelajahi dalam satu hari penuh. Atau, dua hari jika mau lebih puas. Nah, karena saya punya waktu 4 hari di Bangkok, rasanya jika hanya muter-muter wilayah situ-situ aja bisa mati kebosanan. Makanya saya sempat cari-cari alternatif tempat lain yang deket-deket Bangkok, dan bisa dieksplorasi dalam waktu satu hari. Pilihan akhirnya jatuh di Ayutthaya. Setelah sebelumnya menyingkirkan opsi Pattaya karena saya tidak terlalu suka pesta-pesta.

Mejeng di Wat Mahathat - Ayutthaya
Kenapa pilih ke Ayutthaya?. Saya suka sejarah, dan Ayutthaya pernah menjadi bagian penting dalam peradaban manusia di Thailand. Dulu Ayutthaya pernah menjadi ibukota Siam sebelum akhirnya dihancurkan dan dipindahkan ke Bangkok. Satu lagi, Ayutthaya memiliki kemiripan dengan di Jogja, kota kelahiran saya. Selain pernah jadi pusat pemerintahan, ini juga karena asal mula Ayutthaya dan Jogja berasal dari asal kata yang sama : Ayodya. Sounds familiar dengan Ayodya?. Ya, Ayodya adalah nama satu negeri dalam kisah Ramayana yang ada di kitab Mahabbharata. Ayutthaya dan Jogja (Ngayogya-karta) diambil dari nama negeri Ayodya ini. Banyak sekali peninggalan sejarah yang masih terawat di Ayutthaya, dan yang terpenting : bisa dieksplorasi dalam 1 hari!.

Mulailah pencarian transportasi dimulai. Ada beberapa alternatif untuk menuju kesana, dengan menggunakan travel car, bus, atau kereta. Travel car ke Ayutthaya dapat diperoleh dengan harga yang umm.. agak mahal menurut saya. Dua ratus lima puluh baht sekali drop dari Bangkok, per orang. Ini sepertinya baru berangkat kalo minimal 6 orang. Yaa anggap saja carter mobil, 1500 THB untuk sekali pengantaran. Belum pulangnya. Travel car ini banyak tersedia di kawasan Khaosan, dan tersebar di banyak agen-agen tour. Dengan bus, maka saya harus menuju ke terminal bus paling dekat, dan menurut informasi yang saya baca menggunakan bus membutuhkan waktu yang lebih lama. Dua atau tiga jam kalau tidak macet sampai di Ayutthaya. Okelah, saya ambil perkiraan 3 jam maka pulang pergi saja sudah menghabiskan waktu 6 jam. Capek di jalan.

Maka saya pilih opsi terakhir yang paling murah meriah, ada setiap jam, dan lebih cepat : Kereta api. Kapan lagi merasakan suasana berbaur dengan masyarakat lokal menggunakan moda transportasi jenis ini?. Hebatnya lagi, lembaga perkeretaapian di Thailand juga punya situs yang menunjukkan info yang jelas (http://www.railway.co.th). Awal masuk ke situsnya, bingung total karena bahasanya semua ditulis dengan huruf cacing. Tapi setelah memilih opsi english, saya menemukan bahwa jadwal keberangkatan kereta paling pagi menuju ke Ayutthaya adalah pukul 6.40 Waktu Thailand, dari stasiun Hua Lampong. Kebetulan, kereta menuju dan dari Ayutthaya ada di setiap jam dengan jadwal keberangkatan dan jenis kereta yang berbeda-beda. Saya memperoleh brosur nama-nama kereta, dan jadwal keberangkatannya serta stasiun apa saja yang dilewati dari information centre di dekat pintu masuk stasiun Hua Lampong. Lengkap, dan mudah dipelajari!

Hall stasiun Hua Lampong
Menuju ke Stasiun Kereta Hua Lampong cukup mudah. Naik aja MRT menuju ke Stasiun Hua Lampong, dan begitu keluar langsung nyambung ke track kereta apinya. Stasiun Hua Lampong menurut saya mirip-mirip dengan stasiun Jakarta Kota dari bentuk hallnya dan tempat tunggu keretanya. Dan semua kereta menuju Bangkok, dari kelas paling murah sampai yang mahal biasanya full stopnya di stasiun ini. Untuk keberangkatan paling pagi, saya hanya mengeluarkan 20 THB (setara dengan 6000 rupiah) untuk perjalanan selama satu setengah jam ke Ayutthaya. Itu kalau tidak telat.

Tiket Kereta dari Bangkok ke Ayutthaya hanya seharga 20 THB (Rp.6000)

Dengan harga semurah itu, saya sejujurnya tidak terlalu berharap banyak. Palingan bentuk keretanya seperti kereta ekonomi Gaya Baru Malam, atau paling bagus yaa semacam Prambanan Express (Pramex). Ternyata memang setelah melihat bentuknya : Sama!. Tapi, kelebihannya adalah soal kebersihannya dan ketertibannya. Setiap tiket sebenarnya sudah ada printout tempat duduk. Karena saya memesan langsung dadakan hari itu juga, maka saya dapat tiket standee alias berdiri. Cuman, karena keberangkatan paling pagi dari Bangkok keretanya masih sepi sehingga saya bisa duduk leluasa pilih tempat dimanapun saya suka. Setelah berjalan satu jam, barulah ada orang yang mengklaim tempat yang saya duduki. Saya pindah lagi ke tempat duduk yang kosong, dan akhirnya sampai Ayutthaya dengan tetap memperoleh tempat duduk.

Di dalam kereta. Tempat duduk sama seperti kelas ekonomi di negara kita. Tapi lebih bersih

Soal ketepatan waktu, kereta api yang saya tumpangi pada saat berangkat benar-benar tepat waktu. Namun, waktu sampai di Ayutthaya-nya yang agak molor. Di tiket tertulis jadwal sampainya adalah 8.25, tetapi pada kenyataannya jam sembilan lebih baru sampai. Yaah, if you pay peanut you will get monkey laah. 


Ke Ayutthaya emang paling enak kalo pergi pagi pulang sore. Jadi bisa puas mengelilingi kota sejarah ini. Tapi, ada opsi lain juga yang punya waktu lebih banyak : menginaplah di Ayutthaya. Dari Ayutthaya sebenarnya juga dilewati oleh line kereta api yang menghubungkan ke daerah-daerah lain di Thailand. Chiang Mai misalnya?. 

Lalu, seharian saya di Ayutthaya ngapain aja?. Tunggu next post ya!

Rabu, 28 Maret 2012

3B : Bangkok Buat Belanja-Belanji

Eh, itu 4 B ya?.
Whatever judulnya, rasanya tetap layak kalo saya bilang di Bangkok adalah salah satu surganya para penggila belanja. Well, saya akui saya bukan termasuk orang yang gila belanja. Namun, tidak ada salahnya juga kan saya sharing tempat-tempat belanja yang ada di Bangkok?

1. Chatuchak Weekend Market
Beruntung banget saya ke Bangkok pas weekend, jadi memang dalam salah satu agenda saya adalah menyempatkan diri untuk mengunjungi weekend market terbesar di Bangkok ini. Apalagi kalo bukan Chatuchak atau JJ Market. FYI, orang lokal menyebut Chatuchak ini sebagai JJ market mengingat JJ itu adalah singkatan dari JatuJak.
Chatuchak Weekend market. Rame bo!
Lokasinya terletak agak jauh dari pusat kota, namun masih bisa dijangkau oleh stasiun MRT dan BTS. Ada 2 stasiun disini yaitu Chatuchak Park dan MoChit station, jadi bisa pilih mau pakai MRT atau BTS. Dari kedua stasiun itu tinggal jalan aja ke pasarnya.
Sepatu-sepatu murah, seratus dua ratus ribuan rupiah aja
Saking besarnya ini pasar, bahkan pas hari sabtu saya kesana penjualnya sampai tumpah ruah di pinggir jalan di luar pasar. Ada lebih dari 30 lot yang masing-masing lotnya menjual barang-barang dengan kelompok yang sama. Mau cari apa aja sepertinya ada di pasar ini, asal jangan cari masalah aja ya!. Sayangnya buat saya, justru ketika datang kesini malah bingung mau ngapain dan beli apaan. Harga memang boleh murah, masih bisa ditawar pula! namun pilihannya buanyaaak banget, sehingga membuat saya akhirnya menyerah dan tidak membeli apa-apa. Ya, saya hanya menikmati suasananya, melihat banyak orang Indonesia yang tawar menawar, dan bahkan berbelanja sambil menyeret koper besar-besar yang awalnya kosong pulangnya jadi penuh ditambah tentengan tas di tangan adalah pemandangan yang sangat-sangat wajar. Bagaimana tidak, kaos-kaos oblong dijual mulai harga 50 - 100 Baht per potong (setara 15-30 ribu rupiah), celana jeans dua ratus ribu dapet tiga, belom segala macam kerajinan tangan dan oleh-oleh khas yang murmer, makanya nggak heran kalo memang pasar ini terkenal sebagai tujuan utama belanja murah di Bangkok!. 
Pada akhirnya, saya hanya membeli segenggam air kelapa muda seharga 20 Baht (6 ribu rupiah)
2.  Mahboonkrong Mall (Mall MBK)
Kalo Jakarta punya Mangga dua, kalo Bangkok punya MBK. Katanya sih, disini adalah mall favoritnya orang Indonesia kalo ke Bangkok. Memang harganya agak-agak lumayan miring dibanding kalo ke Siam Paragon atau Central World, namun masih lebih mahal dibanding Chatuchak. Enaknya disini adalah semua tertata rapi dan tempatnya juga luaas banget. Dan bagi pemegang paspor internasional, alias para pendatang, di MBK juga bisa dapat welcome drink berupa Thai Tea dengan hanya menunjukkan paspor kita. Sayang, pas saya datang jam penukaran welcome drinknya udah lewat. Tapi, tetep donk disini saya juga nggak belanja. Bukan nggak punya duit, tapi karena niatnya cuman pengen tau aja mallnya kayak gimana. Dan oh ternyata, saya nemu restoran halal di mall ini plus mushala buat sholat di lantai 6. Alhamdulillah..
Mahboonkrong Mall (MBK) dari atas jembatan BTS
Bagaimana menuju kesini? Simpel koq, naik BTS aja turun di National Stadium Station. Di sini tinggal nyeberang aja. Beruntungnya, nggak cuman MBK aja yang bisa ditongkrongin karena diseberangnya juga ada Bangkok Art and Cultural centre. Buat yang suka sama seni dan pameran, ini cocok kayaknya!
Bangkok Art and Cultural Centre, seberangnya MBK
3. Pratunam Market
Ini buat penggila belanja fashion, letaknya persis di pinggir jalan Ratchaparop, dekat dengan stasiun BTS Siam. Pratunam ini diklaim sebagai pasar baju terbesar di Bangkok, dan lagi-lagi karena saking besarnya sampe tumpah juga di jalan raya. Katanya sih, Pratunam berasal dari kata : pintu air. entah mengapa dinamakan demikian, yang jelas disini kebanyakan baju cewek yang dijual dengan berbagai macam model, potongan, dan harga. Nggak heran kalo disini banyak item fashion terkini yang bisa diperoleh dengan harga miring. Nggak jauh beda dengan di Chatuchak, sepotong baju berkisar antara 100-200 baht tergantung nawarnya. Dan nggak cuman baju aja sih, karena juga ada asesoris, jam tangan dan segala macem pernak-pernik wanita. Lagi-lagi, saya hanya lewat aja.

Isinya bajuuu semuanya

 4. Siam Paragon, Siam Discovery dan Central World
Tiga mall yang paling megah menurut saya yang ada di kawasan Siam. Dapat ditempuh dalam sekali jalan setelah turun dari stasiun BTS Siam. Bahkan, dari atas stasiun Siam pun taman terbuka yang ada di Siam Paragon sudah dapat terlihat dengan bagus, apalagi kalo air mancurnya nyala. Nah, khusus yang satu ini, mallnya hanya untuk kalangan atas atau yang ngerasa jetset deh. Secara, produk yang dijual disini sebenernya termasuk barang mewah. Sebut saja beberapa merek fashion tingkat dewa seperti Prada, Channel, Gucci, Emporio Armani, Dolce & Gabbana, dan Louis Vuitton membuka gerainya di mal-mal ini. Duh, seandainya uang bukan jadi masalah buat saya sepertinya saya  pengen beli keset merek Louis Vuitton deh!

Pintu masuk Siam Paragon. Didepan sini ada public space yang baguus, ada air mancurnya.

Central World dari seberang jalan
Siam Discovery, berdempetan dengan Siam Centre.
5. Patpong Night Bazaar
Sebenernya saya pengen ke Suan Lum Night Bazaar yang ada di dekat tempat saya menginap, namun berdasarkan informasi terpercaya dari peta ternyata lokasi Suan Lum Night Bazaar sudah tutup untuk selama-lamanya diganti menjadi kantor kedutaan besar. Nah, nggak mau ngelewatin night bazaar, makanya saya akhirnya mampir ke Patpong Night Bazaar. Naik BTS turun di stasiun Sala Daeng, atau naik MRT turun di SiLom station. Tapi ternyata sebuah kesalahan mampir ke pasar malam ini...



Ya, seperti yang sudah menjadi rahasia umum, bahwa kawasan Patpong adalah red districtnya Bangkok. Nggak heran, di Patpong Night Bazaar, aneka barang yang dijual pun banyak yang berbau-bau selangkangan. Bayangkan, alat bantu sex dengan berbagai macam model, bentuk, potongan dan warna terhampar berkerlap-kerlip dan tanpa sungkan ditawarin ke pejalan kaki. Udah gitu, DVD porno segala macam orientasi seksual pun juga ada dengan cover yang wooow.. pose siap-siap mengunyah pisang sampai pose anjing kencing juga ada. Mungkin karena saking terbuka dan saking bebasnya peredaran barang semacam ini, kita bisa memperolehnya secara blak-blakan. Satu keping DVD bokep aja cuman seharga 80 Baht (24 ribuan). Hmm, kalo nggak inget nggak ada lawannya dirumah.. kayaknya bakalan beli deh tuh barang #eh.

Demi alasan keamanan nasional, bagian Patpong Night Bazaar yang saya potret adalah yang lazim untuk dilihat oleh anak dibawah umur.
Jadi, buat yang gila belanja.. silakan dipilih mau ke pasar yang mana! Semuanya ada di Bangkok.

Sabtu, 24 Maret 2012

Jalan Kaki Ke Vimanmek Mansion : Jangan Ditiru!!

Karena tau dapet tiket gratisan ke Vimanmek Mansion yang terletak di sebelah utara, di kawasan Dusit Park, maka perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Mansion yang diklaim sebagai bangunan kayu jati terbesar di dunia. oh ya, gimana ceritanya bisa dapet tiket gratis?. Kalo kemarin sempet detail ngebaca postingan saya yang ini, pasti tahu deh!.


Menuju ke Vimanmek Mansion ternyata gampang-gampang susah. Sekembalinya dari Wat Arun, The Temple of Dawn, saya menggunakan Chao Phraya Express Line dari dermaga nomor 8 (Tha Tien Pier) menuju ke dermaga Thewes. Orang lokal menyebut Thewes dilafalkan menjadi Thewed (dengan huruf "e" berbunyi seperti pada bebek). Yaa kalo nggak tau, buka peta dan tunjukkan mau berhenti di mana.

Sebuah kesalahan ketika memutuskan berhenti di Thewes pier.  Ternyata jauuh banget tempatnya, meskipun di peta kelihatannya cuman lima senti, tapi kalo jalan kaki bener-bener capek minta ampun. Mana hari itu siang bolong dan matahari bersinar terik pulak!. Berhenti sejenak ketika melihat orang jualan es kelapa muda di pinggir jalan, dan beli. Nah, ini mungkin yang jadi keluhan orang Indonesia kalau ke Thailand. Kita sering dikira turis lokal, alias orang Thai. Makanya, pas beli es klamud itu saya diajak ngomong sama yang jual pake bahasa yang entah apa artinya. Berhubung saya hah huh gak bisa jawab, akhirnya itu ibu nyadar kalo saya bukan orang Thai. Keluarlah bahasa universal : bahasa tarzan!. Usut punya usut, saya beli es klamudnya yang ada dagingnya atau yang air degan aja. Woalaah.. sampe-sampe si ibu mengeluarkan contoh dagangannya buat saya pilih.

Setelah puas jalan, akhirnya nemu juga Vimanmek Mansion yang dimaksud. Sebelum masuk, potongan tiket itu dicap dan disobek di dekat pintu masuk. Lalu, segala macam barang bawaan kita diminta untuk dititipkan diruangan loker. Tidak ada tas, tidak ada hape, kamera dan alat perekam lainnya karena memang memasuki mansion ini segala macam alat dokumentasi dilarang keras dipakai. Bahkan peringatannya pun sudah ada semenjak memasuki taman di depan mansion.

Tapi bersyukur banget masuk ke dalam Vimanmek Mansion ini, soalnya adeeeemm banget. Hembusan AC yang kenceng, plus di dalem mansion gak boleh pake sepatu, enak rasanya!. Bener-bener ngobatin rasa lelah setelah berjalan di terik siang bolong. Untung boleh selonjoran kaki didalem, dan leyeh-leyeh. Hihihi.

Ada apa sih di Mansion ini? kenapa sampe nggak boleh motret atau merekam gambar segala?. Begini ceritanya...

Pada tahun 1897, Raja Rama V membeli areal di antara kanal Padung Krungkasem dan kanal Samsen untuk dibangun sebuah taman yang bernama Taman Dusit dengan menggunakan uang pribadinya. Bangunan yang pertama dibangun di taman ini adalah Vimanmek Mansion, dimulai tahun 1900 dan selesai pada bulan Maret 1901. Setelah jadi, Raja Rama V kemudian menjadikan bangunan ini sebagai tempat tinggalnya selama 5 tahun sebelum akhirnya pindah ke Amporn Residence sampai kematiannya. beberapa kali pergantian raja, Vimanmek Mansion ini juga ditinggali oleh raja-raja selanjutnya sampai pada tahun 1932, mansion ini akhirnya hanya dipakai untuk penyimpanan harta berharga kerajaan. Tahun 1982, Ratu Sirikit menjadikan bangunan ini menjadi museum untuk mengenang Raja Rama V.

Begitu masuk di mansion ini, kita akan diperiksa menggunakan metal detektor dan diraba-raba oleh petugas untuk memastikan tidak membawa apapun termasuk makan dan minum. Petugas pun banyak menggunakan sarung tangan, menunjukkan bahwa banyak yang tidak boleh disentuh sembarangan. Ya, peringatan dilarang menyentuh terdapat dimana-mana sepanjang ruangan di museum ini. Kesan saya begitu masuk, benar-benar mewah!. Semua barang-barang berharga milik raja, yang umumnya bernilai historis tinggi seperti lukisan masa kecil Raja Rama V yang besarnya hampir 2 meter, keramik, kristal, dan koleksi-koleksi benda-benda milik raja, dan bahkan ada ruangan khusus yang menunjukkan hasil-hasil buruan raja berupa gading gajah, tanduk rusa, tombak dan senapan yang dipakai. Saking besarnya mansion ini, saat masuk dan mengikuti jalur berupa karpet merah yang terbentang sepanjang ruangan, seakan tidak ada habis-habisnya. Pantas saja, karena di situs resminya dikatakan bahwa Mansion ini memiliki 31 ruangan pameran.

Ini minjem dari situsnya langsung.. berhubung nggak bisa motret didalemnya
Bangunan dengan dua sayap dengan masing-masing sayap memiliki panjang 60 meter dengan tinggi 20 meter dan tiga lantai ini seluruhnya dibuat dari kayu jati. Mewah! Saya membayangkan saja, kalau satu gelondong kayu jati yang dibangun buat lantainya aja seharga 20 juta... berapa yaa total harga seluruh mansion ini? $_$


Nah, berhubung nggak bisa motret didalemnya kayak apa. Sebenernya, ada virtual tour yang emang khusus dibikin di situsnya di www.vimanmek.com. Tapi, saya bilang lebih seru kalo liat aselinya!


Anyway, maaf yaa belum bisa blogwalking. Bener-bener belum punya waktu yang pas buat bewe. Ini aja postingan terjadwal :). Khusus untuk pengguna Wordpress, maaf saya nggak bisa komen di blog kalian, entah kenapa eror mulu minta konfirmasi email. Maaf yaa.. have a nice day all!  

Rabu, 21 Maret 2012

Wat Arun, The Temple Of Dawn

Masih menyelesaikan wat-wat yang bikin nggak kuwat di Bangkok (orang lokal nyebut Bangkok ini sebagai Krung Thep) maka perjalanan saya selanjutnya adalah menuju ke Wat Arun. Sebutan lain untuk Wat Arun ini adalah The Temple Of Dawn karena letaknya selain di sebelah barat Sungai Chao Phraya, juga paling indah ketika kuil ini disinari dengan cahaya matahari pagi. Ya, best view di Wat Arun memang pada saat matahari terbit atau terbenam ketika cahaya matahari membentuk siluet gelap dari kuil.

Wat Arun dari atas sungai Chao Phraya
Wat Arun sebenarnya memiliki nama panjang Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร). Mengapa dinamakan "Arun"? Ini karena merujuk pada penghormatan Dewa India yaitu Aruna - sang dewa fajar. Wat Arun ini sebenarnya juga masuk menjadi salah satu daya tarik Bangkok dan disebut-sebut sebagai landmark-nya distrik Thon Buri.

Untuk menuju ke Wat Arun, tersedia satu kapal penyeberangan dari dermaga nomor 8 tempat turun di Wat Pho. Memang beda letak Pier-nya sih, tapi tanyalah pada orang lokal yang mana kapal untuk menyeberang. Harga sekali menyeberang cukup murah, hanya 3 bath saja. PP berarti 6 baht, itu artinya tidak lebih dari 2000 rupiah.

Tha Tien pier.. dermaga untuk menyeberang ke Wat Arun
Dulu, Wat Arun dibangun oleh King Rama II (Masa kejayaan 1809-1824) dan diselesaikan pada masa King Rama III (Masa kejayaan 1824-1851). Nama raja-raja disini sebenernya merupakan gelar, sama kayak kalo di Jogjakarta - raja Hamengkubuwono I, II, III dst gitu. Nah kalo yang sekarang memerintah, Raja Bhumibol Adulyadej bergelar sebagai King Rama IX.

tiket masuk Wat Arun
Oke, balik lagi ke Wat Arun. Kompleks kuil ini sebetulnya berbentuk persegi empat. Satu kuil utama  (dinamakan Phra Prang) yang tinggi menjulang, dengan empat stupa (atau mirip chedi) di keempat pojoknya. Kuil utama memiliki keliling sepanjang 234 meter dengan tinggi mencapai 250 kaki (sekitar 75 meter). Phra Prang dapat dipanjat sampai ke atasnya, dan pemandangan dari atas Phra Prang dapat melihat Bangkok secara 360 derajat!. Di sebelah timur, terlihat Grand Palace dan sungai Chao Phraya. Sedangkan di sebelah Barat dapat dilihat bangunan dan perumahan-perumahan penduduk Bangkok. Hanya saja, butuh keberanian dan kewaspadaan ekstra untuk memanjat keatas karena curamnya anak tangga dan sempitnya jalan. Tangga hanya muat untuk satu orang saja, jadi jika berpapasan salah satu harus mengalah.

Wat Arun dari dekat
Tangganya curam sekaliii
Kota Bangkok (Rattanakosin) dari atas Wat Arun
Seluruh bagian dari Wat Arun ini ditempeli dengan porselen dari China. Beberapa kondisinya ada yang pecah, namun porselen berwarna-warni ini akan berkilauan ketika tertimpa cahaya matahari. Bagus!. Arsitekturnya sedikit berbeda dengan Wat-wat yang sudah saya kunjungi sebelumnya, meskipun memiliki beberapa persamaan di salah satu bagian kuil yang berupa patung makhluk mitologi Thailand yang mirip yang saya temukan di Wat Phra Kaew.

Ini patung makhluk mitologi yang ada di Wat Arun
Ini makhluk yang ada di Wat Phra Kaew.. maksud saya, tolong fokus dengan yang ada di belakang!!

Arsitekturnya dibangun mirip-mirip dengan arsitektur bangunan di Ayutthaya ketika dulunya merupakan ibukota kerajaan Siam di masa lampau. Beberapa diantaranya dipasang patung-patung gajah berkepala tiga dan disisi lain ada sebuah tempat yang berupa ornamen-ornamen bewarna emas melambangkan perjalanan Buddha. 

Ornamen emas di salah satu sisi Phra
Patung Gajah Berkepala Tiga
numpang mejeng aah
Well, dengan harga tiket masuk sebesar 50 baht rasanya worthed juga masuk kesini. Tapi, jangan dateng pas siang bolong, panas tauuk! Siapin tenaga ekstra kalau mau naik ke atas kuilnya. Tapi, kalaupun tidak, bisa juga jajan di luar kompleks karena banyak penjual buah-buahan, souvenir, dan penjual kelapa muda. Atau bisa juga sewa baju khas Thailand seharga 100 Baht untuk dipakai berfoto. Siapa tau dikira orang Thailand beneran jadi bisa masuk ke Wat Arun gratis!!

Penjual buah-buahan, es kelapa muda, dan yang seger-seger lainnya
Sewa baju khas Thailand.. sebenernya sih pengen nyewa juga, tapi....

Senin, 19 Maret 2012

Buddha Raksasa Leyeh-Leyeh di Wat Pho

Lokasinya cuman sepelemparan batu dari Grand Palace. Dari peta juga terlihat tinggal menyeberang jalan. Jadi, perjalanan saya selanjutnya adalah nengokin Wat Pho yang didalamnya terkenal dengan patung Buddha lagi leyeh-leyehnya.


Wat Pho dari jalan raya

Sempet kecele juga karena lagi-lagi harga tiketnya naik per Maret Ini menjadi dua kali lipatnya, 100 Baht. Maka daripada lagi-lagi nggak sah berada di Bangkoknya gara-gara nggak ngunjungin ini kuil yang tersohor dengan pusat pemijatan a la Thai terbaiknya, akhirnya saya merelakan selembar uang 100 Baht (setara dengan Rp. 30.000) untuk ditukar dengan ini :


Tiket seharga 100 Baht, plus free mineral water

Sebelum masuk ke tempat si patung yang lagi leyeh-leyeh, sepatu dan alas kaki kudu dicopot dan dimasukkan dalam tas yang disediakan. Sayang, itu tas gak boleh dikutil buat dijadiin suvenir. Udah kayak dimasjid aja ada batas sucinya.

Dan ini dia penampakan buddha yang lagi leyeh-leyeh itu.

Mas-mas.. enak bener tiduran leyeh-leyeh gitu. Gantian donk, situ yang motoin! #plaak
Jadi, ceritanya, patung ini berukurang panjang 46 meter dengan tinggi 15 meter. Saking panjangnya, sampe lapangan futsal aja kalah lebar. Patung segede gaban ini miring ke kanan, dengan posisi tangan menopang kepala dengan bantal tiga biji. Semua dilapis emas murni!. Gile, kaya bener nih orang Bangkok sampe patung segede itu dilapis emas murni. Sayangnya nggak bisa masuk dan menyentuh karena memang dipagari dengan kayu di sepanjang badan patung. Padahal, kalo bisa masuk dan megang tuh patung siapa tau kena rontokan lapisan emasnya.. dua graaam aja, udah bisa buat balik modal perjalanan ini.

Ini dari kaki ke kepala
Ini badannya sampe kakinya diujung. 46 Meter dilapis emas murni semuanya!!. Pengen tinggi?? nanya aja rahasianya ama om ini


Jalan terus sampe di ujung, ketemu kakinya si patung. Di telapak kakinya, tergambar beberapa ornamen yang melambangkan 108 pencerahan yang diterima sang Buddha. Katanya sih, kompleks Wat Pho yang bernama panjang Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan ini dibangun pada masa Raja Rama III tahun 1772 sebagai peringatan Buddha menuju ke nirwana. Dan patung ini merupakan rekonstruksi baru dari patung aslinya di Ayutthaya, yang sempat juga akan saya kunjungi!.
  


Ini kakinya. Telapaknya penuh dengan ukiran dari kerang mutiara, perlambang 108 pencerahan yang diterima oleh sang Buddha

Ada satu kegiatan yang unik juga disini yaitu memasukkan koin-koin ke dalam ketel (cauldron) yang terletak di pinggir dinding. Kamu bisa tukar koin semangkuk seharga 20 Baht buat masukin ke ketel-ketel yang berurutan, mirip masukin biji congklak gitu deh. Dan lagi-lagi katanya, kalo sambil berdoa sambil masukin ke ketel koin-koinnya, doanya bakalan terkabul. Hihihi, ada-ada aja ya mitologinya?


Semangkuk 20 Baht

Ini gaya-gayaan aja, padahal koinnya nyomot dari dalem ketel. Trus dibalikin lagi. Hahaha.

Sekeluar kompleks itu, langsung menuju ke tukang pijet!. Ups, maksud saya karena disini adalah pusat pemijatan terbaik ala Thailand, maka kayaknya sayang kalo dilewatkan. Cuman, karena imajinasi saya pijet ala Thailand tuh kayak begonoan, maka akhirnya saya memutuskan nggak jadi pijet. Padahal alasannya karena gak punya duit aja sih. Kalo mau, sejam pijat dikenai sekitar 200-300 baht.

Dan akhirnya saya hanya berkeliing di sekitar Wat Pho ini. Ternyata, banyak yang saya temukan disini. Ini dia!

Chedi-chedi yang dinamakan sesuai dengan nama raja Rama I, II, III, dan IV. Ceritanya didalam sini adalah tempat penyimpanan abu pembakaran sang raja.

Ratusan patung berbagai macam pose meditasi. Narsis juga ya??


Ordination Hall alias Aula Pentahbisan

Di dalam Ordination Hall, tempat meditasi dan berdoa. Banyak monk (biksu) disini


--------------------------------------------------------------------------------------
Wat Pho berada di Thanon (Jalan) Samachai, selatan Grand Palace. Buka setiap hari 08.00-17.00, harga tiket masuk 100 baht (free drink). Kuil ini terletak dekat perhentian Tha Thien (Pier No 8) Chao Phraya River Express dan sekitar 10 menit jalan kaki dari Wat Phra Kaew/Grand Palace ke arah Selatan.



Sabtu, 17 Maret 2012

Ke Wat Phra Kaew dan Grand Palace

Katanya sih, nggak lengkap kalo ke Bangkok nggak ngunjungi segala sesuatu yang berawalan dengan "Wat". Yup, orang sini kebanyakan nyebut kuil sebagai "wat". Dan biar mengesahkan keberadaan saya di Bangkok, yang pertama niat buat dikunjungi di Grand Palace yang jadi satu kompleksnya dengan Wat Phra Kaew tempat sang emerald Buddha berada.

Salah satu sudut di Grand Palace, mirip di Pojok Beteng Jogja loh!
Dari Lumphini saya naik MRT turun di Stasiun Silom seharga 15 THB. Dari Silom, ngambil pintu keluar di Dusit Thani Hotel buat pindah ke BTS (Sky Train) untuk menuju stasiun Saphan Thaksin dengan seharga 25 THB.  Nah, sampe di Saphan Thaksin, keluar menuju ke Sathorn Pier (atau orang bilang Central Pier) byat naik chao phraya express seharga 15 THB menuju ke Tha Chang Pier nomor 9 yang dekat dengan Grand Palace.

Agak ribet emang buat menuju kesana, mengingat Wat Phra Khaew terletak di deket sungai Chao Phraya dan tidak ada BTS atau MRT langsung kesana. Kalau mau praktis ya manfaatkan saja taksi atau tuk-tuk, bemo khasnya Thailand. Beruntungnya sih saya pegang free map yang saya ambil dari bandara buat pedoman, jadi bisa lebih ngirit biaya transportasi karena pake kendaraan lokal. Disamping ngerasain sensasinya berbaur dengan penduduk asli donk!.

Grand Palace dari atas boat di tengah Sungai Chao Phraya
Turun dari pier 9, keluar dermaga melewati tukang jualan makanan banyak banget termasuk tukang jual buah. Tadinya perut yang nggak berontak, karena mencium aroma bakar-bakaran jadi bergejolak dan keingetan kalo belom sarapan. Tapi saya tetep jalan terus, nggak mau beli soalnya takut itu yang dijual halal apa enggak.


Jangan pernah terjebak dengan berita atau informasi yang menyatakan Grand Palace dan kompleks Wat Phra Kaew tutup, karena dari pintu masuk udah keliatan tulisan yang menyebutkan bahwa tempat ini buka setiap hari. Sempat saya survey harga tiket masuknya, 350 THB. Udah nyiapin duit segitu, eh ternyata sekarang udah naik harganya jadi 400 THB. Mahal bo!. Tapi apa boleh buat, udah nyampe didepan gerbang masa ya nggak jadi masuk sih? walaupun sebenernya kalo mau pake cara nakal, ada jalan tikus yang bisa masuk kesitu tanpa bayar. Cuman, resikonya tanggung sendiri yaa kalo sesampai di dalem kesurupan!.

Buka tiap hari!

Tiket semahal itu sebenernya juga termasuk dengan paket tiket menuju ke beberapa tempat, seperti Vimanmek Mansion dan Abbhisek Dhusit Throne Hall, plus apa lagii ada beberapa macem saya lupa. Yang jelas itu bisa dipake dalam jangka waktu seminggu dari semenjak belinya.

tiket sepaket, dapet cem macem

Ada aturan yang sudah dimaklumi bersama kalo mau masuk kuil-kuilan kudu pake pakaian yang sopan, tertutup, dan tidak boleh make sendal atau sepatu terbuka. Kalaupun sampai sana udah terlanjur bugil, ada koq tempat penyewaannya dengan menaruh deposit beberapa baht.

Kalo bingung, ada petunjuknya koq!
Masuk ke Grand Palace, langsung speechless.. Kereen banget, hampir semua dekorasinya berwarna emas. Detailnya mengagumkan, ukiran dan tempelan-tempelan manik-manik, kaca, cermin, dan batu-batuannya bener-bener blink-blink. Salut aja bangunan segede gede itu semuanya ditempelin sama manik-manik. Daripada saya cerita nggak jelas, mending langsung liat aja yah dalemnya kayak apa?

Pemandangan setelah pintu masuk

Phra Sri Rathana Chedi. Sumpah, itu yang nempelin lempengan logam satu-satu di Chedi apa nggak capek yah?
Phra Mondop. Gold semuanya mulai dari cat sampai ornamennya
Itu tulisan petunjuknya pake aksara cacing, jadi nggak ngerti ini apaan.
Liat nih detailnya. Tiang setinggi itu ditempelin sama kaca berwarna, dan kayunya diukir satu-satu
Numpang mejeng di Phrasat Phra Thep Bidon
Ancient wall painting

Wat Phra Kaew tempat emerald Buddha dipasang
Jadi, di salah satu Phra di dalam Wat Phra Kaew ada tempat untuk pemujaan umat Buddha. Didalamnya, ada emerald Buddha. Konon, Emerald Buddha satu ini adalah yang paling suci di Thailand. Patungnya dibuat dari batu emerald ijo alias giok. Diletakkan dalam sebuah tempat berundak yang tinggi dan tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali raja. Bahkan setahun tiga kali, diadakan upacara untuk mengganti baju yang dipake tuh buddha sesuai dengan musimnya, dan yang berhak ganti bajunya yaa cuman raja Thailand. Mungkin karena nggak pernah disentuh ini yang menyebabkan si patung dianggap paling suci. Buat masuk kedalamnya, nggak boleh pake sendal. Kamera apapun, baik HP sampe DSLR nggak boleh dipake. Soalnya kan ini tempat suci. Cuman saya ngeyel, jadi nyolong-nyolong ngejepret bentuk emerald buddha tuh kayak apaan. ini dia : 

Burem ya?.. maklum motretnya dari luar, dan dizoom beberapa kali. hahaha..
Untung saya nggak kesurupan. 

Sekeluar dari Wat Phra Kaew begitu masuk ke kompleks Grand Palace suasananya agak sedikit berbeda. Soalnya, bangunannya kebanyakan bergaya eropa dan bercat putih atau gading. Kontras dengan warna emas dominan di sebelah dalamnya. Nah, di Kompleks Grand Palace ini saya sempat menyaksikan prosesi pergantian penjaga. Lucu deh, liat tentara berbaju putih-putih berbaris dan diiringi dengan terompet dan genderang. Prosesi pergantian penjaga ini melewati beberapa tempat, masuk ke gerbang Phimanchaisri, baru berganti posisi persis didepan Chakri Maha Prasat Hall. Bangunan megah yang beneran mirip di eropa. Kwereeennn...

Melewati Phimanchaisri Gate
Nungguin yang mau ngegantiin
Prosesi penggantian
Ini penampakan Chakri Maha Prasat dari samping. Keren kaan?
Selain prosesi penggantian penjaga, ada beberapa pula penjaga yang ditugaskan di beberapa sudut istana. Kayaknya saking berdedikasinya, sampe nggak bergerak sama sekali. Kedip pun jarang, makanya buat saya si tukang iseng sekalian aja saya isengin.. eh tetep aja nggak bergerak! salut!!

Mas..mas... miyabi bugil lewat mas!!
Saya emang sengaja nggak ceritain tentang sejarahnya sih, lagi males. Lagian sekarang mah gampang, tinggal googling aja dapet.

Yang jelas, nggak sia-sia deh bayar mahal buat masuk disini. Pokoknya kalo ke Bangkok kudu kesini dulu baru boleh kemana-mana #maksa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...