Jumat, 27 April 2012

Yang Yumilah Yumiwati di Bangkok!

Yang jelas, nggak sah kalo nggak nyobain makan makanan khas setempat sepanjang perjalanan di Bangkok. Sebenernya, yang saya ulas disini kebanyakan pembaca mungkin sudah pada kenal dan pernah mencoba. Karena, beberapa makanan asal Thailand memang sudah banyak diadaptasi ke berbagai lidah. Semisal, Tom Yum. Di resto asia, biasanya masakan ini ada. 

Satu yang bikin penasaran buat saya soal Tom Yum ini adalah : bagaimana kalau di negara aslinya? Apakah sama dengan tom yum- tom yum yang pernah saya coba di Indonesia?. Dan setelah berkutat memutari Bangkok akhirnya saya menemukan restoran halal yang menjual makanan khas Thailand ini. Letaknya di MahBoonKrong (MBK - Mall) di lantai paling atas bagian foodcourt. 

Well, sebenarnya nggak rela juga masuk restoran karena sekali lagi selain harganya yang mungkin diatas rara-rata pasaran juga karena nggak ngerasain suasana lokal yang harusnya emang jadi nilai plusnya sebuah masakan khas setempat. Tapi, apa yang saya bayarkan dengan apa yang saya terima benar-benar worthed!. Ini Tom Yum dengan rasa paling kaya yang pernah saya rasakan.

Tom Yum Yang Yumilah Yumiwati!
Tom Yum ini ada dua pilihannya, isi seafood atau isi ayam. Saya pilih seafood karena biasanya memang tom yum itu khasnya ya ada di seafoodnya. Cita rasa asam-manis-pedas dari kuahnya benar-benar nendang!. Kuahnya agak kental, tapi tidak sekental santan. Biasanya, Tom Yum kuahnya encer. Namun tidak ada rasa "berat" yang tertinggal begitu ditelan. Segeer banget, karena menggunakan sereh, jahe, daun jeruk, dan sepertinya rasa asam yang ditimbulkan berasal dari jeruk nipis dan belimbing wuluh. Hemm.. 

Sebagai pelengkap, saya juga memilih Thai Tea. Saya pernah nyoba minum Thai Tea di restoran buffet all you can eat Hanamasa dan ketagihan. Makanya pas nemu ada menu Thai Tea, saya langsung pesan segelas. Memang nikmat, makan tom yum dan thai tea langsung di negara asalnya!. bahkan untuk oleh-oleh pun saya beli teh thailand packingan buat bikin thai tea dirumah ntar.

Thai Tea yang bikin nagih
Oh ya, saking ketagihannya sama thai tea ini pun saya juga akhirnya tiap nemu tempat jualan minuman yang dicari adalah thai tea. Dan beruntungnya memang di Bangkok, banyak banget kedai minuman yang tersebar di sepanjang jalan menjual minuman. Umumnya sih aneka macam kopi dan teh.

Well, makanan lainnya yang khas Thailand adalah Pad Thai. Semacam mie goreng gitu sih, tapi dengan cita rasa yang lagi-lagi asam-manis-gurih. Nano-nano rasanya. Saya nemu penjual pad thai ini di dekat dermaga no 8 saat mau menyeberang ke wat arun. Pad thai serupa kwetiau dengan bentuk mie lebih besar dan pipih, dimasak menggunakan banyak bumbu termasuk jeruk nipis,gula pasir, dan terakhir ditaburi dengan cacahan kacang goreng dan bawang goreng. Menurut saya sih rasanya enak, tetapi mungkin bagi beberapa orang yang baru pertama kali merasakan akan berasa aneh di lidah. Habisnya, rasanya menggelitik sih!.

Kalo pad thai itu mie goreng, ada juga jenis mie rebus. Saya nggak tahu namanya karena tertulis dalam bahasa Thai, dan nggak nanya banyak ke penjualnya karena dia nggak bisa bahasa inggris. Bentuknya sih mirip-mirip sama pho (mie kuah khas Vietnam). Begini penampakannya :

Bihun rebus yang entah apa namanya dalam bahasa Thai.
Ini saya nemu di dekat oriental pier (Pier no 2) saat jalan-jalan nyari makanan halal. Sebetulnya memang buat muslim agak susah mencari makanan halal di Bangkok. Atau, hanya saya aja yang baru pertama kali kesini makanya nggak tau tempat mana yang jual. Tapi pas sekalinya nemu, berani langsung tunjuk-tunjuk ngasal menu yang tertulis dalam bahasa Thai, sekalian gambling nyoba bentuknya kayak gimana. hehehe.

Ada juga yang bilang, kalo ke Bangkok belum lengkap kalo belom nyobain sticky rice with mango. Alias beras ketan yang dimasak dengan susu dengan diatasnya ada potongan mangga matang. Kalo bingung nyari, sebenernya di mall-mall banyak yang jual koq!, karena di sepanjang jalan saya nggak nemu makanan itu tapi sekalinya nemu malah di mall.

Overall, saya boleh bilang masakan di Bangkok rata-rata masih bisa diterima lidah bangsa kita. Yaa bumbunya sebelas-dua belas laah. Tapi saya nyeselnya satu, saya nggak sempet nyobain belalang goreng, belatung goreng, atau apapun serangga yang aneh-aneh itu digoreng karena nggak nemu! >.<

Senin, 23 April 2012

Madame Tussauds Bangkok

Jadi, setelah hampir dua minggu menghilang tanpa kabar, mari kita lanjutkan jalan-jalan kita di Bangkok!.

Ada satu tempat di Bangkok yang terletak di dalam mall Siam Discovery, jalan Rama I di daerah Pathumwan. Tepatnya di lantai 6. Buat yang sudah pernah ke Victoria Peak, atau ke UK, biasanya tau kalo saya nyebut : Madame Tussauds. Yup, museum patung lilin yang menyimpan koleksi figur-figur orang terkenal, mulai dari artis sampe pejabat dan presiden luar negeri. 

Buat kesini, sebenernya cukup mudah. Tinggal naik BTS aja turun di stasiun Siam, atau National Stadium, tinggal jalan aja ke Siam Discovery di lantai 6. Tempatnya di paling atas, sebelahan sama skydining, restoran terbuka di atap mall di atas kota Bangkok.

Sampai di tempat ini sebenernya kebetulan banget, dan saya nggak merencanakan untuk ke museum ini. Alasannya sih simpel, buat turis kantong cekak kayak saya harga tiket masuk ke Madame Tussauds lumayan mencekik dompet. Untuk HTM aja dibanderol dengan harga 600-795 THB. Oh iya, tiket disini ada yang dijual paketan dengan Siam Ocean World atau tiket terusan, seharga 1500 THB. Hampir setengah jeti. Hiks, dan sekali lagi karena beruntungnya saya.. pas datang tempatnya udah tutup. Malem soalnya, hehehe.

Tapi, yang namanya Madame Tussauds nggak seru kalo nggak mejeng contoh patung lilin di depan museum. Dan dari sinilah saya bisa ikutan poto-poto, minimal udah pernah mengesahkan keberadaan di sini meski nggak masuk ke dalem. Hohoho.

mejeng di deket pintu masuknya
Mas-mas.. ntar saya pose dulu, baru disyuting kalo udah bilang : ACTION!! yaa
Asyik juga kayaknya red carpet barengan sama pacar.. hihihi
Berasa jadi manajernya Beyonce :D
Well, sedikit mengulas sejarahnya si Madame Tussauds, perajin patung lilin yang terkenal dari Paris - Perancis. Dulunya, si madam ini adalah seorang perajin patung lilin yang merupakan anak didik dari Dr. Philipe Curtius. Terlahir dengan nama Anna Maria Grosholtz di Strasbourg, Prancis tahun 1761, Madame Marie Tussauds ditinggal wafat ayahnya sebelum dia lahir. Ibunya adalah salah seorang  pekerja dari Dr. Philipe Curtius. Siapa dia?, dia adalah pengajar seni rupa dan kriya dari lilin asal Swiss. Mulai dari tahun 1770-an, Maddame Tussauds diminta untuk membuat patung-patung bangsawan yang dieksekusi sebagai simbol pada jaman Revolusi Perancis. Kemampuannya dalam membuat patung tersebut diuji dalam sejarah perjuangan rakyat Perancis. Mulai dari patung Voltaire, Benjamin Franklin, Marie Antoinnette, dan King Louis. 
 
Di awal abad 19, Maddame Tussauds berkeliling memamerkan hasil karyanya di Inggris sebagai bukti sejarah revolusioner Perancis, menunjukkan pahlawan-pahlawan republik dan penjahat-penjahat negara. Berita tentang patung-patung ini segera tersebar melalui koran publik, dan orang-orang melihat dan bertatap muka langsung dengan figur-figur personal yang selama ini mereka tidak bisa lihat secara langsung, meskipun dalam bentuk patung lilin. Oleh karenanya, museum Madame Tussauds pertama didirikan di London tahun 1835, dan orang-orang antri untul membayar sebesar 6 penny hanya untuk melihat hasil karyanya. Sudah lebih dari 200 tahun karya Madame Tussauds diabadikan, dan dipamerkan. Bahkan sampai sekarang, museum Madame Tussauds juga ada nggak cuman di London aja. Sudah ada di Hong Kong, New York, Berlin, Shang Hai. Di Bangkok, adalah museum Madame Tusauds pertama di Asia Tenggara.

Oh ya, kalo dipikir di dalam hanya ketemu patung-patung aja, sebenernya salah juga. Pasalnya, setiap pengunjung sebenernya bisa juga berpose dan berinteraksi seolah-olah memang mereka nyata. Duduk di kursinya Oprah Winfrey sambil bergaya diinterview, atau ngerangkul Justin Bieber, ngegantiin Obama, dan banyak lagi kalo mau pose aneh-aneh. Plus disediakan properti juga yang bisa dipake, semisal mahkota, syal bulu-bulu, apapun deh. Tapi kalo buat saya, buang-buang duit dan waktu ajaa. #alasanturiskere.


Rabu, 11 April 2012

Wow, Emas 5,5 Ton!!!

Apa yang kamu pikirkan ketika ngeliat sebongkah emas seberat 5,5 ton berada beberapa senti di depan hidung kamu?. Kalo saya sih bawaannya pengen nyungkil aja, buat dibawa pulang. Sayangnya, hal itu nggak diperbolehkan saat saya berkunjung ke Wat Traimit, tempat penyimpanan golden buddha seberat 5,5 ton yang terbuat dari emas murni seluruhnya.

Emaas.. emaaas... $_$
Patung dalam posisi meditasi ini diklaim sebagai patung Buddha terbesar di dunia yang terbuat dari emas. Dan patung emas ini sebenarnya ada hubungannya dengan Ayutthaya, tempat yang baru saja saya singgahi. Bagaimana ceritanya?.

Liat tuh segede gono, emas semuanyaa... emaas.. emaass $_$
Saya sudah cerita kalo Ayutthaya pernah diserang Burma kan?. Nah, pada waktu itu, patung Buddha ini oleh prajurit-prajurit ditutupi dan dilapisi oleh semen dengan tujuan supaya dianggap oleh tentara Burma sebagai patung biasa supaya tidak dijarah. Berpuluh-puluh tahun lamanya, patung ini hanya dianggap sebagai patung batu biasa sampai pada akhirnya terdapat retakan di lapisan luarnya yang mengungkapkan bahwa patung ini aslinya terbuat dari emas murni 5,5 ton. Hebat juga bisa nyimpen emas sampe puluhan taun tanpa ada yang menyadari keberadaannya.. jadi pengen bilang kalo sebenernya saya tuh aslinya ganteng banget, cuman gak ada yang nyadar aja #plaaak

Kalo diitung-itung, harga patung ini ditaksir sekitar 28,5 juta poundsterling. Bayangin aja, kalo satu poundsterling Rp 14.500, harga patung ini lebih dari 400 miliar rupiah!. Bisa buat beli kerupuk buat semilyar orang tuh. Dan dari usianya, patung ini dibikin pada jaman Sukhotai masih jadi ibukotanya Siam sekitar 700 tahun yang lalu. Nggak cuman dari nilainya yang bikin patung ini mahal, tapi dari unsur sejarahnya makanya sebenernya nih patung menjadi priceless..

Wat Traimit dari depan.
Sebenarnya, selain melihat patung emas disini, di Wat Traimit juga ada museumnya. Saya nggak memutuskan buat masuk dan eksplor karena udah capek dan nggak ada duit. Bayarnya agak mahal kalo masuk museum, tapi lihat dari luar bentuknya mirip-mirip dengan House of Sampoerna, atau museum BI gitu yang bagian diorama-diorama.

Sembari istirahat, saya perhatikan ada kegiatan ngalap berkah juga yang dilakukan oleh warga Buddha disini. Disalah satu pojok wat, ada deretan lonceng yang bandulnya ditulisi dengan beberapa kata keberuntungan seperti healthy, prosperity, wealth, dan sebagainya. Katanya sih, dengan membunyikan serenteng lonceng sambil mengitari tempat itu dengan merentangkan tangan, lalu diakhiri dengan melempar koin ke ketel besar di tengah -tengah kotak yang dikelilingi lonceng, harapan yang diinginkan akan terkabul.


The Lucky Bell

Lempar koiin... hup!
Yaa percaya-percayanya orang sana aja sih. Hehehe.

Oh, ya. Kalo mau kesini, sebenernya tinggal jalan aja dari stasiun Hua Lampong. Deket, tinggal nyeberang jalan. Bahkan puncaknya Wat Traimit di lantai 4 juga udah keliatan dari stasiun.


Sabtu, 07 April 2012

Jalan-Jalan Seratus Ribuan (Part 5) : Keliling Ayutthaya

Percaya nggak, kalo saya ke Ayutthaya cuman ngabisin kurang dari 100 ribu rupiah?.

Makanya, spesial buat kali ini, edisi jalan-jalan seratus ribuan-nya pas banget dilakuin diluar negeri. Jadi, boong banget kalo dengan seratus ribuan nggak bisa buat jalan-jalan di luar negeri!. Buktinya saya bisa.

Oh ya, kalo belum baca edisi jalan-jalan seratus ribuan saya sebelumnya, part 1 bisa dibaca disini. Part duanya disini, part tiga disini, dan part 4 disini.

Berawal dari naek kereta dari Hua Lampong, menuju ke Ayutthaya saya hanya membayar 20 Baht (Rp. 6000). Sampai di stasiun Ayutthaya, sekitar jam 9.15 saya langsung menuju ke tempat persewaan sepeda. Disitu saya menyewa sepeda buat seharian (batas waktu sampai jam 6 sore) hanya seharga 40 Baht (Rp. 12.000). Udah bonus peta, plus dikasih gembok sama rantai kalo ntar mau parkir dimanapun di lokasi Ayutthaya.

Nah, ngapain aja di Ayutthaya selain lihat bekas reruntuhan candi-candi dan kuil dari jaman dulu?. Ini dia beberapa aktivitas yang bisa dilakuin :

1. Naik Gajah!
Ada cara lain untuk menikmati Ayutthaya selain dengan bersepeda, dengan cara yang lebih eksotis pula!. Naik gajah ini bisa dimulai dari Ayutthaya Elephant Camp yang terletak di dekat pasar apung. Setiap orang bisa menikmati pemandangan dari atas punggung si gajah hanya dengan membayar antara 100 - 150 Baht tergantung rute dan lama menaikinya. Yaa sekitar 30 ribu - 45 ribu rupiah lah!.

Ini elephant camp. Sebelah kiri itu panggung pertunjukan sirkus gajah.


Ini gajah-gajah lagi ngumpul di pit stop

Mejeng bentaar buat foto sama gajah :D

Ngomong-ngomong soal gajah, Thailand kan terkenal dengan julukan negeri gajah putih. Tapi, kenapa yang saya temui di Ayutthaya ini gajahnya item-item yah?. Mungkin karena keseringan berjemur makanya gosong, hihii. Tapi suer, Ayutthaya emang puanaas!

Selain naik gajah, sebenernya kita juga bisa ngeliat aktivitas si gajah lagi main sirkus. Mulai dari berdiri di atas bangku, ngangkat-ngangkat barang sampe orang, bahkan melakukan trik-trik seperti berhitung angka. Ada cara menikmatinya dengan gratis!. Tau nggak? saya menikmati pertunjukkannya gratis dari seberang jalan, soalnya campnya memang terletak di pinggir jalan. Jadinya, atraksi si gajah item itu bisa keliatan dan ditonton. Cuman berhubung gratisan yaa siap-siap aja kepanasan!

2. Jajan-jajan!
Kalo soal ini mah nggak usah ditanya lagi. Dimana ada penjual makanan, disitu saya pasti jajan. Beruntung, karena di Ayutthaya sebagian besar penduduknya muslim jadi cukup mudah mencari makanan halal di sekitar Ayutthaya. Dan beberapa jajanan yang saya temukan adalah :

Spring roll seharga 10 Baht (Rp. 3000)
Spring roll alias lumpia ini agak lucu rasanya. Unik, karena isinya yang biasanya saya makan adalah tauge wortel atau rebung. Kalo lumpia satu ini isinya ada potongan udang, wortel, dan ubi manis disamping ada isinya daun bawang juga. Kebayang donk, rame rasanya. Apalagi disiram pake sambal bangkok yang kental dan rasanya asam manis pedas dengan potongan cabe dan bawang. Seporsi cuman 3000 rupiah aja, muraah!!
Permisii saya numpang makan dulu.
Selain spring roll, saya juga beli pisang goreng crispy. Emang sih, di Indonesia mah pisang goreng juga ada. Cuman, pisang goreng disini rasanya unik!. Tepung yang membalutnya benar-benar renyah, dan enak pastinya. Sekantong kertas besar cuman 20 Baht aja (Rp. 6000). Nggak afdhol juga kalo beli pisang goreng tapi nggak beli pisangnya sekalian. Satu sisir besar pisang cuman 25 Baht (Rp. 7500), makanya nggak disia-siain harga murah begonoan langsung disikat!.

Ini pisang goreng tepung

Dan ini pisangnya.. sekarang saya tahu kenapa nama bangkok disisipkan pada setiap buah-buahan yang ukurannya gede-gede. Sesisir gitu cuman 7500 rupiah. Di Ranch Market mana dapet harga segitu cuy.. heheheh

3. Keliling Museum
Banyak museum di Ayutthaya. Mulai dari Thai Boat Museum, Chao Sam Phraya Museum, The Support Art and Science Museum, National Museum, dan sebagainya. Rata-rata mereka memasang tarif masuk antara 50 -100 baht (15-30 ribu rupiah). Tapi kalo mau liat sejarah Ayutthaya, saya sarankann masuk ke Chao Sam Phraya Museum. Buat liat koin emas seberat 100 kg yang pernah ditemukan di Wat Ratchaburana.
 
Di depan Viharn Phra Mongkol Bopitah
4. Belanja di Pasar Terapung
Ayutthaya juga punya pasar terapung. Cuman bedanya, di Ayutthaya pasar terapung-nya adalah artifisial. Beda kalo dibandingkan dengan pasar apung Damnoen Saduak misalnya. Nggak alami dari sungai, tetapi merupakan kanal-kanal yang dibuat oleh manusia. Letaknya sebelahan sama Elephant Camp yang saya cerita di atas. Nah, berhubung saya nggak suka belanja.. skip aja, kegiatan satu ini. Lagian apa enaknya sih duduk diatas perahu tawar-tawaran harga?. Ujung-ujungnya, kantong jebol dan nggak jadi jalan-jalan seratus ribuan lagi deh!.

5. Afterall, lets get lost in Ayutthaya!
Tersesat di Ayutthaya, sangat mungkin terjadi karena memang petunjuk jalannya semua dalam tulisan aksara cacing. Tapi menikmati Ayutthaya ketika kesasar justru jadi pengalaman unik. Saya lewat jalan layang di Ayutthaya naik sepeda, siang-siang, dan baru tersadar bahwa tidak ada sepeda yang lewat disitu. Isinya mobil dan motor semuanya. Belum lagi salah jalan dan salah belokan yang membuat jalanan semakin jauh karena kesusahan mencari jalan memutar. Alhasil, menuntun sepeda melawan arus searah untuk kembali ke titik semula : gratis tapi priceless! (plus speechless)

Mampus loo kesasar!!.
Dan, buat pulang ke Bangkok. Saya mengambil kereta jam 2 siang, dengan harga 15 baht (Rp. 4500). Jadi, sebenernya ditambah dengan beli makan siang berupa fried chicken & sticky rice, beberapa botol air mineral (10 baht/botol), total jalan-jalan di Ayutthaya saya habis kurang dari 100 ribu rupiah!.


Senin, 02 April 2012

Ayu-nya Ayutthaya

Ayutthaya. Satu kota yang pernah menjadi ibukota kerajaan Siam di masa lampau sebelum akhirnya dipindahkan ke Bangkok karena kehancurannya. Berdiri semenjak abad 13, dan mencapai masa kejayaannya pada abad 18. Konon, saat mencapai kejayaannya, Ayutthaya sempat dihuni oleh sejuta penduduk yang menjadikannya kota terbesar di dunia pada masa itu. Istana-istana dan kuil dibangun, dengan hampir semua bangunan dan patung dilapisi dengan emas.

Sayang, banyak yang iri dengan kekayaan bangsa Siam masa itu,   yang salah satunya adalah Burma. Akhir abad 18, kerajaan Siam akhirnya menyerah di tangan Burma setelah mereka berhasil membumihanguskan Ayutthaya untuk menjarah kekayaan mereka. Peristiwa ini dikenal sebagai The Burning  of Ayutthaya, dan masih membekas di benak warga Thailand.

Awal abad 19, akhirnya Raja Thaksin, penguasa saat itu memindahkan pusat pemerintahannya di Thonburi - dekat dengan sungai Chao Praya. Kini wilayah itu dikenal dengan Bangkok. Dan, di Ayutthaya yang tersisa sekarang hanyalah tinggal puing-puing dan reruntuhan masa kejayaan dua abad lalu. Peninggalan reruntuhan Ayutthaya ini akhirnya dinobatkan sebagai The World Heritage oleh UNESCO pada 1991. 

Mengelilingi bekas-bekas kemegahan Ayuthaya paling enak menggunakan sepeda sewa yang banyak ditawarkan di depan stasiun kereta. Satu sepeda disewakan hanya seharga 30-40 THB untuk pemakaian sampai jam 6 malam. Cukup menunjukkan paspor, mengisi buku tamu, membayar lunas maka kita dapat memilih sepeda sesukanya dengan bonus selembar peta Ayutthaya.

Sepedaan di Ayutthaya, Best way to explore the beauty of Ayutthaya!
Mengapa bersepeda?. Kompleks taman sejarah Ayutthaya cukup luas untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Namun, jika kocek berlebih, sewa tuk-tuk pun bisa menjadi pilihan. Atau, menyewa motor juga bisa jadi alternatif. Saya sempat ditawari tuk-tuk untuk berkeliling semua tempat di Ayutthaya ketika turun di stasiun. Namun, sepertinya saya lebih memilih untuk menghemat 500 baht untuk hal lain. Sewa sepeda motor pun juga cukup murah, 200 baht seharian. Hanya saja karena tidak punya SIM internasional, takut kena tilang jika melanggar peraturan.

Tujuan pertama saya adalah Wat Mahathat. Kompleks ini adalah bangunan asli yang replikanya dibuat di daerah Wat Pho, Grand Palace dan sekitarnya. Ya, setelah pemindahan pusat pemerintahan ke Bangkok, Raja memerintahkan untuk membangun kota Bangkok mirip dengan Ayutthaya. Tak heran, banyak sekali bangunan dan relik yang mirip antara Ayutthaya dengan  bangunan yang ada di Bangkok.


Tiket Ayutthaya Historical Park. 50 THB untuk sekali masuk.
Reruntuhan di Wat Mahathat
Lihat patung buddha berbagai posisi di sisi sebelah kiri, lalu bandingkan dengan foto dibawah ini
Yak, ini kalo masih ingat ditemui di kawasan Wat Pho. Dan ini merupakan replika dari yang ada di Ayutthaya
Mirip reruntuhan di Eropa ya?
Ini Phrang yang ada di kompleks Wat Mahathat.
Ada juga patung kepala Budhha yang seakan menyembul dari akar-akar pohon bodhi. Katanya, yang tersisa dari patung ini hanyalah kepalanya. Badannya menghilang entah kemana, dan dari bentuk kepala patungnya memperlihatkan bahwa patung ini memang merupakan ciri khas periode Ayutthaya. Saya tidak tahu persis bagian mana yang mencerminkan hal itu, info ini yang saya peroleh dari papan pengumuman di samping patung.
The Head of The Sandstone Buddha Image
Setelah di zoom
Selesai di Wat Mahathat, menyeberang ke sebelahnya yaitu Wat Ratchaburana. Wat Ratchaburana ini dibangun oleh Raja Borom Ratchathirat II (1424-1448) sebagai tempat kremasi kakak laki-lakinya. Katanya, pernah ditemukan koin-koin emas seberat 100 kilogram di kompleks ini, dan koin-koin itu saat ini masih tersimpan di museum Chao Sam Phraya

Melanjutkan perjalanan di Wat Ratchaburana
Wat Ratchaburana
Lalu meluncur lagi ke arah Wat Thamikarat. 

Wat Thammikarat
Chedi di Wat Thammikarat. Dijaga sekumpulan singa
Mengayuh lagi ke Wat Phrasisanpeth, yang letaknya di samping Grand Palace-nya Ayutthaya. Di Wat Phrasisanpeth ini dulu dipakai untuk acara-acara keluarga kerajaan dan seremonial. Dulu dibangun pada rezim Raja Ramatibodhi, dan karena dipakai untuk acara kerajaan maka tidak ada biksu-biksu yang menempatinya.

Wat Phrasisanpeth
Menyeberang sedikit, menemukan Wat Phra Ram. Dari seberang danau, wat ini terlihat cantiik sekali.
Wat Phra Ram dari seberang danau
Disini memang bagus!
Tujuan selanjutnya, lalu ke Wat Wora Pho, Wat Worachetaram, dan The Sleeping Buddha!. Ya, seperti yang sudah saya bilang di awal, bahwa semua bangunan yang ada di Bangkok sebenarnya merupakan tiruan dari yang ada di Ayutthaya. Seperti reclining Buddha yang satu ini :

Mirip reclining Buddha yang ada di Wat Pho kan?
Yeah, memang Ayutthaya benar-benar Ayu Tenan. Bukti-bukti peninggalan sejarah yang masih terawat, merupakan objek wisata yang luar biasa. Namun, sebenarnya berada di Ayutthaya tidak hanya berkeliling melihat wat-wat dan reruntuhan saja. Ada hal lain yang bisa dilakukan di sini. Apa saja? Tunggu next post ya..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...