Minggu, 10 Juni 2012

Es Krim Susu Kambing?

Pernah nyobain susu kambing?.

Kalo es krim susu kambing?.

Kalo belum, sama!. Saya juga belum pernah. Makanya saya tergelitik untuk nyoba cari tahu gimana sih rasanya es krim susu kambing itu?. Es krim berlabel MADO ini saya temukan di wilayah Bukit Bintang Kuala Lumpur. Sepertinya, kedainya masih baru karena sewaktu saya ke Bukit Bintang akhir tahun lalu kedai ini belum ada. Hemm. Lumayan, apalagi ada free tastingnya. Tau donk kalo saya doyan sama yang gratisan..

Kedai Mado - Bukit Bintang
Free Tasting Ice Cream.. senangnya!
Sebenarnya, MADO ini adalah label es krim yang berasal dari Turki. MADO ini juga merupakan singkatan dari Maras Dondurma atau yang berarti es krim dari Turki. Salah satu ciri khas es krim Marash (ini merupakan nama wilayah di Turki) adalah bahannya berupa susu kambing murni. Dan, ciri khas es krim Mado ini adalah bahan pengentalnya bukan menggunakan gelatin seperti yang ada di eksrim biasanya. Mereka menggunakan bahan pengental berupa salep. Jangan bayangkan salep seperti obat kutu air yah, tetapi salep ini merupakan hasil produksi dari peternakan.

Ngebaca dari sejarahnya, dulu Mado diciptakan oleh Osman Kambur, pedagang es balok yang mengambil salju dari pegunungan kemudian mencampurnya dengan susu dan buah-buahan sekitar tiga abad yang lalu. Dia menjual eskrim ini secara berkeliling disekitar kota Maras. Sampai akhirnya kini, MADO sudah memiliki lebih dari 300 outlet di seluruh dunia. Dan bahan bakunya masih tetap dipertahankan sampai sekarang : Susu Kambing.

Mirip Gelato

Mungkin hampir tidak bisa dibedakan dengan kedai Gelato (eskrim Italia) dari segi tampilan luarnya, tetapi setelah melihat bagaimana bartender berparas Turki aseli mengambilkan sampel untuk dicicip sama pengunjung barulah ketahuan bedanya!. Salep yang saya ceritakan tadi sebagai bahan pengental menunjukkan fungsinya, karena salep inilah eskrim yang disajikan tidak mudah lumer, liat dan menimbulkan sensasi yang beda ketika ditelan. Sebagai buktinya, ketika eskrim dibalik pun tidak akan tumpah!.

Mas bartender mendemokan eskrim tanpa tumpah pesanan saya 
Suasana Dapurnya
Ada banyak pilihan rasanya. Mulai dari raspberry, mango, chocolate, vanilla, sampai rasa aneh-aneh yang saya nggak hafal namanya. Saya sempat mencicipi beberapa rasa, sampai akhirnya jatuh pada pilihan eskrim berwarna putih : Sade!. Sade dalam bahasa Turki berarti sederhana. Sederhana disini maksudnya eksrim ini tanpa campuran rasa apa-apa, atau original. Susu kambing murni, tanpa rasa tambahan. Soal rasanya, jangan dikira akan bau prengus kambing yah, karena begitu masuk dimulut dan lumer di lidah, hemm manisnya pas dan nggak eneg. Bikin ketagihan.


Sebenernya sih, di kedai Mado sini nggak cuman jualan eskrim scoop aja. Ada juga pastry, biskuit, baklavas (kue khas turki), dan beberapa jenis makanan lainnya. Tapi kalau saja nggak liat harganya yang lumayan menguras kantong, sepertinya saya mau nambah.. dan nambah lagi es krimnya!. hehehe.


Kamis, 07 Juni 2012

Jalan Alor, Surganya Kuliner di Pusat Kota Kuala Lumpur

Kalo Bukit Bintang adalah kawasan surganya belanja orang-orang di Kuala Lumpur, geser sedikit dari Bintang Walk ada satu jalan yang penuh dengan banyak foodhawker; Jalan Alor. Terletak 5 menit berjalan kaki dari stasiun Monorail Bukit Bintang ke arah timur laut, Jalan Alor paling happening saat sore menjelang malam hari. Meskipun sebenarnya, siang hari pun banyak juga warung makan yang menggelar dagangannya disini.

Papan penunjuk jalannya. Nggak usah kuatir nyasar, terkenal koq tempatnya!
Di Jalan Alor, banyak penjaja yang nggak segan-segan menawarkan daftar menu mereka ke pejalan kaki. Bahkan, saking kurangnya tempat makan, meja-meja dan kursi makan pun ditata memenuhi badan jalan. Alhasil, jalanan bakal susah dilalui kendaraan roda 4. 

penuhnya sampai ke tengah jalan
Yang seru disini, selain bisa ngeliat langsung koki masak makanan pesanan kita, juga bisa liat banyak artis jalanan yang ngamen. Meski banyak pengemis juga sih.

Soal makanan, banyak banget pilihannya. Mulai dari penyuka makanan melayu sampai chinese food bakalan dimanjain lidahnya disini. Macam-macam kari india, makanan Asia sampai Eropa juga ada. Tinggal pilih mana yang dipengenin sesuai sama kantong atau nggak.

Ada juga aneka ragam steamboat. Tau masakan yang dicelup-celup itu kan?. Ya, disini dijual per tusuk dan kita bisa masak sendiri. Mau direbus atau digoreng, semuanya ada sausnya masing-masing. Biasanya sih dimakan buat selingan.

Yumm.. steamboat at your own preference..
Kalo nggak mau makan makanan berat, ada juga kedai-kedai kopi yang ngejual minuman teh tarik atau kopi susu. Atau, nggak mau beli makanan disini, minimal nyobain beberapa makanan yang ditawarkan gratis buat dicicipin. Semisal daging panggang. Yang jual daging panggang disini ngasih kotak berisi potongan-potongan daging yang dia jual buat dicicipin. Gratis. Kalo nggak malu, bisa coba bawa nasi bekal trus minta lauk deh disini. Ngiriiit!!

free sample..

Dan pilihan saya jatuh ke kedai makanan khas Thailand. Mesen beberapa menu yang entahlah apa namanya, yang jelas isinya berupa udang dan ayam plus mie khas Thailand : Pad Thai. Tapi sayang, rasa pad thai-nya jauh lebih enak yang ada di Thailand. Mungkin karena yang masak beda kali ya.. dan ini dia menunya!




Soal harga, mungkin karena kawasan ini udah penuh sama turis dan terkenal buat makan makanya agak-agak mahal. Rata-rata sih satu menu mulai dari 10 RM (Rp. 30.000) sampai puluhan ringgit. Tergantung menu dan besar porsinya.

Dan sebagai makanan penutup, saya pesta durian disini!!. Enaaak!!!


Jumat, 01 Juni 2012

Numpang Lewat di KLIA

Awal Juni, awal yang baik buat jalan-jalan lagi. Hari ini, saya berangkat lagi ke Kuala Lumpur selama tiga hari kedepan. Kalo Mila Said bilang saya ini modal gratisan, emang bener!. Senangnya bisa ke KL lagi dengan gratisan. Memang sih, bukan sepenuhnya rekreasi tetapi karena tuntutan pekerjaan. Meskipun ke KL bukan lagi hal yang asing bagi saya, tetapi saya rasa akan ada hal-hal baru yang akan saya temui dan saya rasakan di Ibukota Malaysia ini.

Contohnya saat landing dari pesawat. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di KLIA atau Kuala Lumpur International Airport. Sebelum-sebelumnya sih kalo landing selalu di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) mengingat biasanya pake low budget airlines. Cuman karena sekarang dalam rangka kerjaan, makanya dikasih penerbangannya yang agak ekslusif dikit makanya turun di KLIA.


Ruang tunggu dan ruang kedatangan penumpang

Ngomong-ngomong soal KLIA, memang bagus bandaranya. Bersih, tetapi kalau saya bandingkan dengan di Suvarnabhumi Thailand atau Changi di Singapore masih dibawahnya. Bagian imigrasinya lumayan cepet, beda kalo di LCCT. Mungkin juga karena KLIA dikhususkan untuk pesawat komersil ekslusif (bukan low budget) makanya sedikit sepi suasananya.

Ada yang saya salut di KLIA yaitu adanya hutan buatan (atau taman?) di tengah bandara. Rasanya sih sejuk, apalagi kebanyakan materialnya terbuat dari kaca sehingga lebih hemat energi kalau siang hari karena memanfaatkan cahaya matahari.


Hutan kecil di tengah bandara

Di dalamnya juga langsung ada aerotrain yang membawa kita dari terminal kedatangan menuju ke tempat pengambilan bagasi. Gratis!. Sepertinya semuanya serba terpadu, dan nyaman sehingga siapapun yang baru pertama kali datang akan merasa dimudahkan dengan semua fasilitasnya.


Aerotrain di dalam KLIA. For free secara cuman bolak-balik ke satu sisi bandara ke yang lain

Bagasi yang biasanya datang lama kalo di Indonesia, di KLIA ini bahkan pas kita datang sudah langsung ada barangnya. Nggak perlu lagi nunggu desak-desakan pastinya.


Bagasi keluar cepet, tapi sepiii....

Tapi, dengan suasananya yang sepi ini malah koq saya rindu bandara di Indonesia ya... hiruk pikuknya, atau pas keluar disambut calo taksi. Aah.. bagaimanapun juga, di negeri sendiri lebih menyenangkan!


numpang mejeng :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...