Minggu, 22 Juli 2012

Reunification Palace dan War Remnants : Bukti Sejarah Vietnam

Merdeka pada tahun 1975, setelah melalui perpindahan kekuasaan berkali-kali, Vietnam tidak serta merta melupakan sejarahnya. Potongan-potongan informasi tentang sejarah Vietnam itulah yang saya coba untuk kumpulkan dalam perjalanan saya selanjutnya. Tentu saja, melalui bukti-bukti nyata bekas peninggalan perang, bangunan, atau hanya sekedar dokumentasi.

Saya melanjutkan perjalanan ke arah utara Gereja Notre Dame, melewati taman kota yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan yang saya lalui sepanjang Pham Ngu Lao. Saya maklum kalau taman kota ini lebih ramai, terik matahari tepat di siang hari dan jam istirahat dimanfaatkan untuk berteduh dan beristirahat di taman. Tak jarang, beberapa mahasiswa berkumpul menggelar ponco mereka, menenggak es soda dalam cup plastik, dan berdiskusi dengan teman-teman mereka. Beberapa pasangan muda-mudi, bermesraan meski di tengah hari bolong. Dan beberapa kakek-kakek membaca koran, duduk melingkar, dengan segelas ca phe da (es kopi) di depannya


Tak butuh lama sampai di depan gerbang bangunan yang disebut sebagai The White House – nya Vietnam ini. Untuk masuk kedalamnya, hanya ada satu pintu dengan dijaga oleh petugas berseragam hijau yang mengarahkan untuk membeli tiket di loket yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Setelah 30.000 VND bertukar dengan selembar tiket masuk, langsung saja saya menuju ke bagian depan air mancur. Disinilah biasanya digunakan sebagai tempat untuk bisa mengambil foto keseluruhan bangunan.


Reunification Palace menjadi sangat terkenal karena selain sejarahnya, banyak acara televisi yang selalu menjadikan bangunan ini sebagai ikonnya Vietnam. Sebut saja The Amazing Race Asia. Ketika salah satu episodenya berlangsung di Vietnam, bangunan ini adalah salah satu yang digunakan sebagai tempat berkumpul.

mejeng dulu yaa
Di masyarakat lokal, Reunification Palace disebut juga sebagai Dinh Doc Lap. Jaga-jaga saja kalau saat kita bertanya ke masyarakat lokal mereka tidak mengenali tempat yang disebut sebagai Reunification Palace ini. Istana ini dulunya merupakan istana kepresidenan negara Vietnam Selatan, saat Vietnam masih terpecah menjadi dua. Masa itu, Vietnam Selatan merupakan “boneka” Amerika, yang berperang terhadap Vietnam Utara yang didukung negara-negara Komunis. Peperangan dua kekuatan besar, antara Amerika dan Negara-negara komunis ini berlangsung dan memakan banyak korban.

Kembali ke Reunification Palace, tak heran sebagai istana kepresidenan bangunan ini merupakan bangunan yang termewah di masa itu.

Sampai pada 30 April 1975, bangunan ini akhirnya dikuasai oleh Vietnam Utara dalam peperangan antara dua negara tersebut. Dua buah tank Vietnam Utara berhasil merobohkan pintu gerbangnya, dan peristiwa penguasaan istana ini dikenal dengan “The Fall of Saigon”. Pada hari itu, akhirnya Amerika berhasil diusir dari Vietnam, dan Vietnam Utara dan Selatan melebur menjadi satu negara dibawah bendera Komunis. Mereka mengenal sebagai hari kemerdekaan Vietnam.

Tank yang digunakan untuk merobohkan gerbang itupun sekarang masih dipasang di halaman depan Reunification Palace. Saya beruntung, ada seorang fotografer cewek yang mau saya mintai tolong untuk memotret saya di depan tank ini.


Berhubung istana kepresidenan ini sudah berubah fungsi menjadi museum, maka sekarang setiap orang berhak untuk masuk dan melihat secara dekat isi dari istana ini. Dan memang bukan mengada-ada jika bangunan ini disebut-sebut sebagai yang termewah di Vietnam pada zamannya. Betapa tidak, bangunan empat lantai dan 1 mezzanine ini menyimpan banyak sekali benda-benda yang saya taksir nilainya miliaran, jika tidak boleh dikatakan tidak bisa dibeli sama sekali.

Tangga utama  menuju ke lantai dua yang tidak bisa diakses.
 Sebagai istana kepresidenan, sudah sewajarnya memiliki berbagai macam ruangan. Mulai dari ruang pertemuan, ruang rapat, ruang komando, ruang menyambut tamu, ruang makan, ruang beristirahat dan kamar-kamar tamu, tempat dansa, ruang bermain kartu, bahkan hingga bunker bawah tanah untuk bersembunyi presiden kalau-kalau istana ini dibombardir.




Yang terkenal dari keseluruhan ruangan di Reunification Palace ini adalah sebuah ruangan yang terletak di lantai atas. Sebuah ruangan untuk menerima tamu kenegaraan, dengan furniture antik sebuah sofa bergaya china yang terbuat dari kayu dan dipoles vernis. Bantal sofanya terbuat dari beludru putih – atau setidaknya yang saya lihat demikian. Gorden penutup berwarna emas, serta karpet tebal berwarna senada. Yang menjadikannya mewah adalah pada satu sisi dinding yang tak berpintu dan berjendela terdapat lukisan tangan yang memenuhi keseluruhan bagian mulai dari atas hingga bawah.

Inilah ruangan  yang saya maksud
Sayang, tidak ada akses masuk kedalamnya. Kalau iya, mungkin sudah ada foto saya berbaring layaknya Reclining Buddha Wat Pho di atas sofa itu..

Waktu yang tepat untuk berkunjung sebenarnya adalah pagi atau sekalian sore hari. Sebab, pada waktu kedatangan saya di siang hari, pas dengan jam istirahat. Alhasil, saya tidak berhasil memperoleh kesempatan untuk mengetahui lebih detail lagi karena tidak ada tour guide berbahasa inggris gratis pada jam-jam tertentu. Satu-satunya tour guide yang ada membawa rombongan turis bermata sipit, dan dia menjelaskan dengan bahasa mandarin. Hal ini diperparah juga dengan tidak adanya keterangan tertulis yang lengkap pada setiap ruangan. Sigh..

Akhirnya langkah kaki saya membawa ke atas mezannine, di sebuah teras menjorok ke depan, dan saya menduga bagian ini digunakan oleh Presiden untuk melihat kejadian yang berlangsung di kota. Benar saja, di atas sini, sejajar dengan air mancur di halaman depan, saya bisa melihat jalan lurus kedepan, puncak cathedral Notre Dame, sampai jauh ke kota.

Dari atas balkon
Sebetulnya, Reunification Palace ini cukup luas jika memaksa untuk mengitari keseluruhan tamannya juga dengan berjalan kaki. Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan shuttle car yang bentuknya mirip mobil golf berisi banyak tempat duduk, mengitari taman sampai ke sudut-sudut belakang. Namun sepertinya dikenai biaya lagi untuk menggunakan fasilitas ini.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah duduk di depan istana, dan melihat video sejarah perang Vietnam dulu.

Meski begitu, saya cukup puas dengan duduk-duduk di tengah taman yang ada paving blocknya menuju kolam air mancur di depan istana. Sendirian, sampai akhirnya semprotan air penyiram rumput otomatis mengusir saya dari situ.

Maka saya berjalan kaki menuju ke Museum War Remnants, yang tidak jauh dari Reunification Palace. Dari pintu gerbang, menghadap ke istana, ambil ke kanan dan tidak sampai lima belas menit saya menjejakkan kaki di War Remnants.


Museum ini terlihat seperti bangunan biasa, tidak ada yang spesial dari luarnya. Jika tidak teliti, mungkin akan melewatinya tanpa tahu kalau itu adalah museum yang dimaksud. Yang paling jelas membedakan adalah beberapa tank dan pesawat terbang yang dipajang di halaman depannya.


Dengan tiket seharga 15.000 VND, saya masuk ke museum yang dulunya disebut sebagai Museum of American War Crimes (Museum Kejahatan Perang Amerika). Sempat diubah menjadi Museum of War Crimes (Museum Kejahatan Perang), lalu pada akhirnya menjadi War Remnants (Peninggalan Perang) setelah normalisasi hubungan Vietnam – Amerika.

Meski begitu, tetap saja ketika masuk ke Museum saya merasakan bahwa masyarakat Vietnam benar-benar mengutuk tindakan Amerika pada saat itu yang menggunakan Vietnam Selatan sebagai “boneka” untuk menguasai wilayah Vietnam.

Lantai 1
Ada setidaknya tiga lantai di museum ini. Pada lantai pertama, beberapa display menunjukkan dukungan-dukungan negara lain terhadap perjuangan rakyat Vietnam dan mengecam Amerika. Salah satu foto anak kecil dengan seragam tentara US Army lengkap dengan helm dan senapannya duduk diantara batu-batu nisan menarik perhatian saya. Saya membaca prosa dibawahnya :

When I was a child,
I spoke as a child,
I understood as a child,
I thought as a child.
But when I became a man,
I put away children things

Entah mengapa saya tertarik dengan foto hitam putih ini. Ada makna yang dalam tersirat dari prosa itu dan gambarnya. Saya cukup lama memandang foto ini, sampai menyadari beberapa rombongan yang tadi masuk bersama saya sudah beranjak ke lantai 2.

Lantai 2.
Di lantai 2, adalah bukti kekejaman perang Amerika terhadap bangsa Vietnam. Sebuah keterangan tertulis menyebutkan, pada saat agresi Amerika tidak hanya menggunakan bom dan peralatan perang konvensional, namun mereka juga menggunakan senjata kimia untuk menghancurkan sumber daya alam serta mencegah pergerakan besar-besaran pasukan pembebasan Vietnam Selatan. Selama 10 tahun, mulai 1961-1971, berlangsung hujan bahan kimia (oleh pesawat-pesawat Amerika) secara terus menerus di Vietnam tengah dan selatan, menghancurkan tumbuhan di pegunungan, tanaman pangan, meracuni sumber air bersih, dan merusak keseimbangan ekologis. Dari catatan, selama sepuluh tahun itu Amerika menggunakan 72 juta liter bahan kimia berbahaya yang bervariasi. Salah satunya adalah agent orange (salah satu pasukan penyebar bahan kimia) yang mengunakan 170 kilogram dioksin dalam 44 juta liter larutan. Bahan berbahaya ini menyebabkan penderitaan kepada setidaknya 2,1 – 4,8 Juta rakyat Vietnam.

Bukti keganasan senjata kimia
Dan pada catatan lain menunjukkan bahwa, Dioksin yang memiliki nama kimia 2-3-7-8 Tetra chlorodibenzo-p-dioxin (TCDD) adalah bahan kimia paling berbahaya yang pernah ditemukan oleh manusia!. Bayangkan saja, hanya sebanyak 85 gram dioksin, sudah cukup untuk membunuh satu kota dengan populasi 8 juta orang.

Kejadian itu diabadikan dalam foto-foto, sisa-sisa masker yang digunakan tentara perang, dan gambar-gambar penderitaan rakyat Vietnam sampai masa kini yang harus bergulat dengan cacat di tubuhnya, kelaian genetik, sebagai akibat dari senjata kimia itu. Untuk lebih memperkuat suasana, cat orange menyala dipakai di ruangan tersebut untuk menunjukkan bahwa Agent Orange-lah yang paling bertanggung jawab dalam perang bahan kimia tersebut.

Saya merasa tidak nyaman disini. Tengkuk saya terasa berat, dan perut saya dingin. Mual, hampir mirip dengan perasaan ketika masuk angin. Entah memang foto-foto yang membuat saya bergidik, atau keterangan-keterangan sejarah, atau memang karena ada makhluk-makhluk tak kasat mata berada disekitar situ. Yang terakhir, saya tidak berani membayangkan.

Lantai 3
Di lantai tiga, sebelas dua belas dengan lantai dua. Perasaan saya masih sama. Itulah mengapa saya tidak berlama-lama disini. Di lantai tiga, terdapat pameran foto-foto jurnalis. Sebagian besar diantaranya pernah dimuat di surat kabar internasional. Foto karya jurnalis perang ini diabadikan, sebagai usaha untuk mengenang tewasnya mereka saat meliput perang. Selain foto-foto yang tak kalah membuat miris, dipajang juga beberapa sisa-sisa senjata perang. Selongsong rudal yang dilepas pesawat, senjata AK47 atau M16 sisa perang, granat tangan, ranjau, dan sebagainya.

Beranjak keluar, di bagian belakang terdapat juga tiger cages. Sebuah kurungan sebagai tempat untuk menahan dan menyiksa tawanan. Dalam ruangan sekecil itu, terkadang digunakan sampai 8 orang, ditumpuk. Mungkin mati berdiri.

Memang perang hanya akan membawa kesengsaraan bagi semuanya. Kalah menang, kedua pihak tetap akan kehilangan. Dan belajar dari sejarah perang inilah, seharusnya setiap dari kita yang berhati akan lebih bijak dalam menyelesaikan masalah.

Salah satu foto di war remnants yang saya suka

Minggu, 15 Juli 2012

Menelusuri Kotanya Paman Ho

Sepertinya tidak banyak masyarakat lokal yang peduli dengan arah utara selatan atau timur dan barat. Terbukti dari beberapa kali saya bertanya pada orang, mereka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Yang bisa bahasa Inggris pun berujar : “I know what you mean, but I don’t know the answer”. Maka, ketika itu terjadi yang saya lakukan hanyalah membuka peta Ho Chi Minh dan bertanya arah mana yang harus saya tempuh untuk menuju ke suatu tempat. Dan itupun diakhiri dengan tunjukan tangan ke jalan.

Itu yang saya rasakan ketika mencoba tantangan Lonely Planet tentang Ho Chi Minh City walking tour. Sebab, dalam kitabnya para traveler itu disebutkan bahwa Ho Chi Minh City sangat mudah dieksplorasi hanya dengan berjalan kaki. Alih-alih menggunakan jasa tour travel yang rata-rata membanderol 5-10 USD untuk city tour, Saya memutuskan untuk meminta peta dari hostel tempat saya menginap dan menjelajahi Ho Chi Minh City.

Peta Ho Chi Minh City. Klik kanan - save picture as, untuk mendownload.
Berbekal peta fotokopian itu saya menjejakkan kaki mulai dari Jalan Pham Ngu lao dari ujung menuju ujung, untuk menemukan Ben Thanh Market, pasar terbesar di pusat kota Ho Chi Minh City. Perjalanan sekitar 10 menit itu tidak terlalu terasa karena trotoar yang lebar. Terlebih lagi disepanjang Pham Ngu Lao terdapat taman yang luas dan rimbun.


Taman ini sama seperti banyak taman-taman kota di Vietnam yang memang sengaja dibuat sebagai ruang publik. Dengan adanya taman kota ini, udara terasa bersih dan suasananya terasa teduh. Beberapa masyarakat lokal mengisi waktu dengan membaca koran, atau berolahraga. Maklum, di taman ini juga disediakan banyak alat untuk berolahraga. Saya tersenyum ketika melihat seorang ibu-ibu sedang melakukan treadmill menggunakan alat semacam ayunan yang digerakkan dengan kaki. Atau, ketika ada dua bocah memainkan bulu tangkis namun menggunakan kaki. Kok-nya terbuat dari kantung plastik berisi pasir dan diikat dengan menyisakan ekor berumbai mirip bulu angsa pada kok bulu tangkis.

Taman bermain anak. Salah satu fasilitas di taman tengah kota HCMC
Saya pun berkata pada diri sendiri : Selamat datang di negeri orang kurus!.

Ya, karena memang sangat jarang saya temui orang Vietnam yang berbadan gemuk. Beberapa alat olahraga di taman itu menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan saya, mengapa koq orang Vietnam badannya kurus-kurus. Bukan kurus dalam artian kurang gizi, tetapi lebih cenderung langsing. Overweight sepertinya sudah dicoret dalam kamus bahasa Vietnam!.

Tak berapa lama kemudian sebuah simpang jalan dengan taman berbentuk lingkaran di tengah simpang tersebut terlihat. Saya mengenali taman itu karena patungnya : Tran Nguyen Han menaiki kuda. Tran Nguyen Han sendiri merupakan jendral dari Raja Le Loi, yang hidup pada abad 15. Taman itu terletak persis di depan Ben Thanh market, tujuan pertama saya dalam city tour kali ini.

Pintu masuk Ben Thanh Market
Ben Thanh Market, mungkin sangat tepat jika disebut sebagai Mekkah-nya para penggila barang murah di Ho Chi Minh City. Betapa tidak, turis-turis rela thawaf mengelilingi sudut demi sudut pasar ini untuk memperoleh penawaran termurah yang bisa mereka dapatkan. Sekilas dari luar, Ben Thanh market ditandai dengan menara jam dengan jarum penunjuk dan angka jamnya yang berwarna biru, kontras sekali dengan warna keseluruhan bangunan yang berwarna krem muda. Penanda kalau pasar ini benar-benar Ben Thanh adalah adanya tulisan Cho Ben Thanh di depan menara jam. Di bawah menara jam tersebut adalah pintu masuk utamanya, meskipun ada banyak pintu masuk lain di pasar yang berbentuk segi empat tersebut.

Ben Thanh Market tidaklah luas. Tapi keseluruhan bangunan dan isinya mengingatkan saya pada pasar Beringharjo Jogjakarta. Bedanya, pasar ini hanya satu lantai saja. Pembagian zona pun diatur dengan jelas, pakaian di bagian depan, suvenir dan pernak-pernik di tengah, dan makanan di bagian paling belakang. Bagi turis, bahasa yang berlaku di Ben Thanh Market adalah bahasa kalkulator. Pedagang tinggal mengetik harganya melalui kalkulator, dan kita menawar juga menggunakan kalkulator. Maklum, tidak semua bisa berbahasa Inggris. Namun, untuk menarik banyak pelanggan, biasanya mereka juga menguasai beberapa bahasa mudah dari negara-negara tertentu semisal ketika dibelakang saya ada rombongan wanita berkerudung masuk, pedagang baju di depan saya berteriak : “murah..murah..murah..”. Mungkin mereka mengidentikkan yang berkerudung biasanya datang dari Malaysia atau Indonesia.

Saya sarankan, jika melihat satu barang yang disukai disini dan sudah cocok dengan harganya maka segeralah diambil. Ini karena mungkin semakin kedalam nantinya kita tidak akan menemukan barang yang sama, atau akan sulit kembali ke tempat semula karena banyak lapak penjual yang mirip. Berhati-hatilah dengan barang bawaan. Dan yang pasti, tawarlah setiap barang yang dijual karena harga bukanya jauh diatas harga aslinya. Paling tidak, tawarlah sepertiga atau seperempat harga bukanya. Sebagai informasi, rata-rata kaos disini dibanderol dengan harga 50.000 – 100.000 VND meskipun mereka mencantumkan harga diatas itu di displaynya.

Saya beranjak tanpa membeli apa-apa disini. Karena begitu saya masuk di bagian makanan, serta merta saya menutup hidung saya dan menahan nafas, baunya sangat asing dan menusuk. Tidak enak, dan hampir membuat saya muntah. Mungkin karena banyak masakan disini menggunakan babi sebagai bahan makanannya. Ditambah dengan di dekatnya banyak daging babi segar yang digantung, membuat saya tidak betah berada lama-lama.

Dan saya melanjutkan perjalanan. Dari Ben Thanh Market saya mengambil arah ke Jalan Le Loi, menuju ke People’s Committee Hall. Hanya kurang dari 10 menit berjalan kaki sampai menemukan Rex Hotel, salah satu hotel mewah yang terkenal di HCMC. Mengapa terkenal?. Mungkin karena di lantai dasanya terdapat butik-butik mewah seperti Louis Vuitton dan Burberry. People’s Committee Hall terletak persis di depan Rex Hotel, dengan sebuah taman yang bagus dengan patung Bac Ho, atau Uncle Ho Chi Minh yang sedang duduk sambil memeluk kepala seorang gadis kecil.

Taman di depan People's Commitee Hall
Ho Chi Minh, atau lebih akrab dikenal sebagai Uncle Ho (dalam bahasa Viet : Bac Ho) adalah sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat Vietnam kepada Nguyen Sinh Cung atau dikenal juga dengan nama Nguyen That Thanh, yang memiliki arti “Ho sang pencerah”. Uncle Ho ini merupakan bapak pemersatu Vietnam, yang dulunya terbagi dua : Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.


Sepertinya memang banyak yang menjadikan People’s Committee Hall ini sebagai salah satu tempat wajib foto yang mengesahkan keberadaannya di Vietnam. Ini terbukti saat saya berkunjung banyak sekali turis yang berfoto di tempat ini. Saya bertemu dengan keluarga, yang saya curi dengar bahasa mereka adalah bahasa Indonesia. Maka saya meminta tolong sang ayah untuk mengambil gambar saya di depan People’s Committee Hall ini. Dilema bepergian sendirian adalah tidak bisa memperoleh foto diri yang bagus karena tidak ada yang memotret. Maka, kesempatan ini tidak saya sia-siakan!.

Mejeng dulu aah
Waktu berkunjung ke tempat ini paling bagus sebenarnya adalah pagi hari atau malam hari. Pagi hari akan membentuk warna langit yang biru, kontras dengan gedung yang berwarna coklat krem dengan genteng berwarna merah. Sedangkan pada malam hari, lampu-lampu penerangan akan membentuk komposisi yang keren dan menyala pada gedungnya.


People’s Committee Hall ini memiliki nama lain Hotel de Ville de Saigon. Dari namanya saja terbayang unsur Prancisnya. Memang benar karena gedung ini dibangun pada periode 1902-1908 dengan gaya kolonial Perancis. Saigon waktu itu memang masih dalam pendudukan bangsa Perancis. Barulah tahun 1975, saat Vietnam Merdeka, gedung ini berganti nama sebagai People’s Committee Hall. Sayang, karena People’s Committee Hall merupakan salah satu gedung pemerintahan yang masih aktif maka saya tidak bisa masuk kedalamnya. Terlihat dua pos penjagaan dengan petugas berseragam hijau tentara menjaga pintu masuk di kanan dan kiri gedung ini.

Apa boleh buat. Perjalanan saya lanjutkan dari People’s Committee Hall ke arah timur. Hanya beberapa puluh meter dari situ saya menemukan The Saigon Opera House. Tak salah memang kalau Ho Chi Minh City dijuluki sebagai Paris Phuong Dong – yang berarti Paris di Timur, karena memang bangunan-bangunannya banyak yang berarsitektur Perancis. Wajar, karena sebagai bekas jajahan Perancis, Ho Chi Minh City menyimpan banyak bangunan bersejarah peninggalan mereka. Seperti Opera House yang dulunya dikenal sebagai French Opera House.


Dibangun pada tahun 1987, gedung ini digunakan sebagai tempat berpesta para pejabat Perancis bersama maddame moiselle mereka. Tercatat, Ferret Eugene – arsitek Perancis, yang merancang gedung bergaya baroque, dengan langit-langit tinggi melengkung dan pilar-pilar khas bangunan Yunani, dan dibuat hampir mirip dengan opera Garnier di Perancis.


Saat saya datang siang hari sepertinya bukan waktu yang tepat. Opera house tutup. Tapi saya melihat ada poster pertunjukan yang akan dilaksanakan malam itu, namun tampaknya rencana untuk menyaksikan pertunjukan itu harus saya buang jauh-jauh. Apalagi kalau bukan karena mahal?.

Bergerak ke arah Utara, dengan menyusuri Jalan Dong Khoi, tak sampai lima menit saya menemukan Gereja Notre-Dame Cathedral Basilica. Gereja ini menjadi terkenal karena namanya menunjukkan kemiripan arsitektur dengan gereja Notre-Dame yang ada di Perancis. Sayang, tidak ada kisah HunchBack di gereja ini. Gereja yang memiliki nama resmi Basilica of Our Lady of The Immaculate Conception ini dulunya merupakan gereja yang dibangun oleh Prancis dengan konstruksi kayu diatas tanah Pagoda Vietnam pada tahun 1863. Barulah tahun 1877 direnovasi atas usulan seorang arsitek Prancis bernama J. Bourad. Hampir seabad kemudian, gereja ini menyandang gelar Cathedral Basilica.


Gereja ini bergaya gothic dengan dua menara lonceng didepannya. Dalamnya, dua deret kursi dipisahkan oleh satu jalan memanjang sebagai jalan utama menuju ke altar. Samping kanan dan kiri terdapat patung dan lukisan perawan suci, dengan kaca patri berwarna-warni membentuk lukisan dikelilingi oleh batu-batu berukir : Merci. Saya pikir tadinya nama-nama orang yang terukir disitu adalah nama-nama pejuang atau pendeta yang gugur dalam menyebarkan agama nasrani. Tapi melihat kata “merci” yang berarti terima kasih dalam bahasa Prancis, saya menduga nama itu adalah donatur untuk pembangunan gereja ini. Entahlah, karena saya tidak memperoleh keterangan yang jelas soal hal ini.
Bagian dalam gereja
Artwork di salah satu sudut Notre Dame

Gereja ini pernah dihebohkan dengan kejadian patung Mary yang ada di taman depan gereja konon menitikkan air mata pada Oktober 2005. Kalau masih ingat cerita saya di Melaka, kejadian ini hampir-hampir mirip dengan cerita Gereja di St. Paul Church Ruins, di St. Paul Hills. Tapi, diluar kesan mistis itu paling tidak keindahan gaya Paris “tua” yang tercermin dari arsitekturnya ini membuat banyak pasangan calon pengantin yang melakukan foto pre wedding. Tidak hanya satu atau dua pasangan saja, tapi setiap kali pagi atau siang saya lewat kawasan ini saya selalu menemukan pasangan lain lagi yang berfoto mengenakan busana pengantin!.


Di samping gereja Notre-Dame persis hanya dibatasi oleh jalan, terdapat satu kantor pos besar. Kantor pos pusat yang bernama Buu Dien – Thanh Pho Ho Chi Minh ini masih aktif digunakan sebagai tempat mengirim surat dan paket. Gedung ini juga terkenal karena dirancang oleh Gustave Eiffel, perancang menara Eiffel di Paris, pada awal abad 20. Gedung ini bergaya gothic, dengan tiga lantai, dan bentuk yang simetris. Mirip Benh Thanh market, memiliki pintu masuk dengan jam dinding besar di atasnya. Agaknya kesimetrisan bangunan dan detail ukiran merupakan ciri khas bangunan-bangunan Prancis. Seolah sedikitpun cacat tidak boleh menempati bagian dari kesempurnaan bangunan. Ukiran kepala patung di atas pintu masuk, mengingatkan saya pada ciri khas bagian depan kapal-kapal perang Prancis abad pertengahan.


Masuk ke dalam kantor pos, suasana megah langsung terasa. Kesempurnaan detail ruangan juga tercermin dari langit-langit yang melengkung dengan pola kotak-kotak dengan warna dominan krem dan putih senada dengan warna bangunan secara keseluruhan. Aksen hijau membuat kontrasnya makin terasa, dengan pencahayaan alami dari jendela yang dibangun di atas langit-langit kubah.


Menengok sebelah kanan, ada peta Saigon lama berukuran besar terpampang. Di bawah peta tersebut, terdapat lima petunjuk waktu dari belahan dunia yang berbeda; kota Paris berada di paling tengah. Pada sayap kanan dan kiri, merupakan tempat berjualan souvenir. Mulai dari patung gadis Vietnam bercaping, gantungan kunci, atau beragam lukisan dan postcard.


Di bagian pelayanan utama kantor pos ini terpampang lukisan Uncle Ho berukuran sangat besar. Bahkan saking besarnya, dari pintu masuk pun langsung terlihat. Beberapa bagian pengiriman dibagi berdasarkan jenisnya, surat – paket – atau penjualan benda-benda pos. Itu masih dibagi lagi domestic atau internasional. Di bagian tengah ruangan terdapat meja-meja panjang untuk menulis dan menempel perangko.
Saya menikmati duduk di tempat ini untuk beberapa lama. Tanpa pendingin udara pun, suasana disini cukup sejuk. Suara petugas memberikan stempel, tarikan lakban, atau sekedar riuh rendahnya orang bertransaksi membius saya dalam perasaan yang saya sebut sebagai : kenyamanan

Senin, 09 Juli 2012

Ho Chi Minh City : Here I Come!


Delayed sepertinya sudah menjadi kebiasaan di maskapai penerbangan Indonesia, apapun itu wujudnya. Berawal dari iseng-iseng booking tiket murah AirAsia JKT-SGN vice versa, berarti mengharuskan juga saya booking tiket untuk pergi ke Jakarta dulu karena saya berada di Surabaya sebelumnya. 

Beruntungnya, saya memiliki sisa mileage frequent flyer yang bisa saya tukar dengan tiket gratis untuk ke Jakarta. Walau begitu, berangkat lebih pagi dari jadwal yang ditentukan tidak serta merta menjamin keberangkatan pesawat tepat waktu. Dua kali penerbangan di hari yang sama, dan dua-duanya delayed. Payah!.


Kompensasi yang saya terima?. Cuman nasi kotak dan segelas air mineral. Nggak cukup buat memenuhi rasa lapar saya seharian menunggu. Apa boleh buat, mungkin ini konsekuensi dari segala sesuatu yang murah. Air Asia QZ 7736 yang saya tumpangi selama tiga jam akhirnya mendarat juga di Tan So Nhat (baca : cansunyat) International Airport di Ho Chi Minh City pukul 9 malam lebih.

Hari itu tidak ada banyak penerbangan dari luar negeri ke Tan So Nhat Airport, sehingga saya dapat melenggang bebas ke imigrasi tanpa banyak mengantri.

Tan So Nhat airport terkesan kaku, simpel, minimalis, namun fungsional. Bahkan saking fungsionalnya, ruang boarding room pun digunakan sebagai stall untuk berjualan. Bandara ini mengingatkan saya pada Bandara Internasional Lombok dalam versi yang lebih besar. Tidak ada yang spesial disini, atau mungkin karena saya yang terlalu lelah sehingga tidak banyak mengamati.


Suasana Tan So Nhat International Airport
Setelah cap paspor saya bertambah satu lagi, hal pertama yang saya lakukan adalah menukar uang. Dalam pikiran saat itu di bandara, saya akan melakukan : 1. Tukar uang, 2. Cari peta, 3. Cari taksi/transportasi. Sebagai informasi, nilai tukar uang di bandara Tan So Nhat dari pengalaman saya adalah nilai tukar paling bagus. Saya disini menukar 100 USD dengan uang sebesar 2.085.000 Viet Nam Dong (VND). Beberapa blog dan web advisor menyarankan untuk membawa uang USD saja dari Indonesia karena kebanyakan money changer tidak menerima rupiah atau kalau tidak nilai tukarnya jadi lebih kecil. Bahkan konon katanya mencari Dong di Indonesia juga agak susah, di Surabaya saja harus pakai pesan dulu dengan ada jumlah minimalnya. Jadi, simpanan 100 USD yang saya beli dulu waktu kurs masih 9000 rupiah lah yang saya tukarkan. Kalau dihitung-hitung 1 rupiah berarti setara dengan 2,3 VND. 

Saya pikir tadinya dengan uang 2 juta VND itu tidak akan habis dalam waktu singkat. Ternyata dugaan saya salah.

Nomor dua dari rencana awal saya tiba-tiba hilang begitu melihat di sebelah money changer ada tempat membeli voucher taxi. Langsung saja tanpa pikir panjang saya pesan taksi ke pusat kota HCMC, ke District 1 tempat saya menginap. 

Sebetulnya, ada banyak transportasi dari bandara menuju ke kota disamping taxi. Bisa menggunakan bus umum bernomor 157, yang selesai beroperasi pukul 9 malam (jelas saya tidak bisa menggunakan bus ini karena sudah malam hari) atau menggunakan ojek (yang saya ragu pakai karena baca di berbagai informasi, banyak tukang ojek yang astuti – aslinya tukang tipu). Dari email hotel tempat saya menginap pun disarankan menggunakan taksi.

Saya menyadari kesalahan saya memesan voucher taxi di counter bandara pada saat kepulangan. Seharusnya, begitu sampai di pintu keluar langsung saja belok kiri mencari tulisan : Taxi Stands dan menyetop taksi pilihan dari situ. Dengan memesan voucher dari bandara, jatuhnya lebih mahal beberapa puluh ribu VND daripada menyetop taksi di luar. Percaya deh, jumlah uang segitu cukup untuk membeli segelas es kopi Vietnam di Café tengah kota.

Tempat menghadang taksi di luar pintu kedatangan

Supir taksi Vinasun (salah satu merk taksi yang direkomendasikan selain Mai Linh) yang bernama Nguyen Hong Anh, yang memperkenalkan diri dengan nama panggilan Anh (baca : Aen) membuka pembicaraan dengan menanyakan dari mana, berapa hari, mau kemana aja. Tapi dengan bahasa inggris yang super duper aneh amburadul, bahkan beberapa kali saya harus bilang : pardon?.. minta mengulangi pertanyaannya. 

Vinasun taxi, salah satu yang direkomendasikan karena pakai argometer
Si Anh ini ternyata asalnya dari Nha Trang (baca : Nye-ceng – huruf e dibaca seperti ember) salah satu kota pantai yang terkenal di Vietnam Selatan. Dia bilang kalo sempat saya harus kesana, katanya indah. Hemm.. saya tahu di Nha Trang, pantainya mirip sama kayak di Belitong atau di Pulau Bintan. Pikiran skeptis saya berkata, buat apa? Toh di Indonesia juga ada, lagian saya di HCMC mau nyari yang nggak ada di Indonesia. Entah mungkin karena melihat saya yang malas menanggapi atau si Anh sudah tidak tau mau bertanya apa lagi, akhirnya dia bilang : if tomorrow you will go to Cu Chi tunnel, call me. Dan dia memberikan nomer teleponnya. Hemm, tipikal banyak supir taksi (atau kebanyakan Vietnamese) – mencoba mengambil peluang yang ada.

Butuh waktu dua puluh lima menit untuk menuju ke pusat kota dari Tan So Nhat airport. Cuaca pun sepertinya tidak terlalu bersahabat. Hujan benar-benar mengguyur Ho Chi Minh City tanpa menyisakan tempat yang kering sedikitpun di jalan. Saya sempat hampir salah diturunkan oleh Anh karena dia tidak benar-benar tahu tempatnya. Wajar, karena hostel tempat saya menginap meskipun terletak di tengah kota dengan nomor dan nama jalan yang jelas, tetapi lokasinya masih masuk ke dalam lorong dengan petunjuk nama penginapan hanya sebesar tutup drum aspal berneon di pinggir jalan Cong Quynh. Saya hampir berteriak ketika saya menemukan tempatnya dan meminta Anh menepikan taksinya.

District 1 merupakan area pusat kota tempat banyak hotel kelas backpacker dan hotel bintang tiga kebawah berada. Kebanyakan hostel ini ditemukan di Jalan Pham Ngu Lao (baca : fam-ngulo) atau Bui Vien (baca : bi-vyen) yang memang letak jalannya paralel saling berhadapan. Hostel saya sendiri terletak di 200 Cong Quynh street, hanya semenit berjalan kaki dari ujung Bui Vien atau Pham Ngu Lao. Dari district 1, sebetulnya untuk menuju ke tempat-tempat yang terkenal hanya tinggal berjalan kaki. Ya, Ho Chi Minh City dan beberapa tempat wisata dalam kotanya memang dekat satu sama lain.

Bui Vien Street - District 1, The home of backpacker in HCMC
Saya disambut oleh resepsionis Lofi Inn Saigon tempat saya menginap. Namanya Hanh (panggil : Hen). Tipikal semua penginapan backpacker atau hostel di Vietnam adalah bentuknya yang berupa ruko meninggi. Semakin tinggi ruko bisa diasumsikan semakin banyak kamarnya. Namun, lebarnya semua sama standarnya. 4 – 6 meter di depan. Keterbatasan lahan disini memang disiasati dengan membangun space ke atas.

Lofi Inn Saigon adalah penginapan yang saya peroleh referensinya dari hostelbookers.com. Lebih tepatnya adalah ini salah satu penginapan recommended yang memiliki kamar dormitory. Saya memang lebih memilih kamar tipe dorm, karena harganya yang sangat murah meskipun berarti harus sharing dengan backpacker dari negara lain. Bagi saya, hostel hanya tempat untuk tidur saja. Jadi ngapain harus booking mahal-mahal. Kecuali kalau datang sama istri, mau ehem-ehem kan nggak enak juga kalo mesen kamar tipe dormitory.

Dormitory room
Semalam disini saya hanya dikenai 7 USD saja atau sekitar 146.000 VND menurut publish rate. Cukup murah bukan?. Fasilitasnya dapat satu bunkbed room ber AC dengan private bathroom, free wifi, handuk dan selimut, serta breakfast. Lebih dari cukup untuk kebutuhan saya.

Sedikit informasi, kebanyakan penginapan di Ho Chi Minh City mengharuskan penyewanya meninggalkan paspor sebagai jaminan karena pembayaran diselesaikan pada saat check out. Setidaknya itu yang saya temukan di beberapa tempat disini, berbeda dengan ketika dulu saya menginap di Melaka, KL, Penang, atau Bangkok yang pembayarannya diselesaikan pada saat kita datang.

Setelah mengantongi kunci saya beranjak menaiki tangga memutar yang sempit menuju ke lantai 4, kamar 4A. Saya bertemu Jeff - yang saya tebak kependekan dari Jefferson, bule asal Amerika. Dia meneriaki saya karena menaruh tas di kasur kosong yang rencananya akan saya pakai.

Jeff bilang begini : "Kalau saya jadi kamu saya tidak akan menempati kasur itu" katanya. "Why?" jawab saya. "Someone pee last night in that bed". 

"Whatt?.. whos did that?" tanya saya balik. Dia menggeleng, bilang intinya nggak mau ngasih tau karena tidak sopan menurutnya karena memberitahuan hal yang buruk pada orang lain. "Well anyway, thanks" yang diakhiri dengan saling memperkenalkan diri. Jeff mengajak saya turun mencari makan, tapi karena saya saat itu sudah lelah saya memutuskan menolak ajakannya. Malam itu pertama dan terakhir kalinya saya ketemu Jeff karena besok paginya Jeff berangkat ke Bangkok.

Saya juga bertemu dengan Josh, bule Aussie yang ternyata juga sudah sebulan di Ho Chi Minh City. Dia bilang dia akan mencari pekerjaan di Hanoi, dan akan tinggal disana dua tahun. Saya lihat perbekalannya hanya satu backpack besar, laptop, dan beberapa buku-buku. "Berani sekali orang ini di negeri asing" begitu pikir saya. 

Tapi diam-diam saya iri, karena kebebasannya menentukan pilihan-pilihan dalam hidup dengan menanggung konsekuensinya. Tidak seperti saya, yang untuk kesini dan memperoleh cuti selama 4 hari berturut-turut saja sulitnya minta ampun...

pada akhirnya saya terlelap dalam mimpi..

Minggu, 08 Juli 2012

My Wish Come True!

Uwaaa.. lama juga ternyata saya berhenti ngeblognya. Kayaknya kalo beralasan lagi gak akan ada habisnya deh. Tapi beneran, yang membuat saya cukup lama nggak ngeblog adalah karena modem saya rusak. Entah kenapa modemnya nggak mau connect sama laptop saya, nggak detect. Mati total. Belum lagi hardisk eksternal saya jebol, nggak bisa dipake padahal semua koleksi filem bokep foto-foto, dokumen dan segala macam softcopy ada di 485 GB HD eksternal itu. Jadi bisa ditebaklah, karena biasanya postingan saya pasti ada fotonya.

Hemm seharusnya postingan ini ditulis kemarin, tanggal 7 Juli 2012. Karena pada hari itu, satu impian saya terwujud. Saya pernah berharap begini : saya sangat ingin mendapatkan cap paspor dari negara orang, tepat di tanggal ulang tahun saya. Dan alhamdulillah, keinginan itu terwujud! 



Satu keinginan simpel sebenernya kan?. Tapi seberapa banyak orang yang memiliki harapan yang sama?. Dan seberapa banyak yang pada akhirnya mewujudkan impiannya itu?.


Yup, merayakan ulang tahun di negeri orang, sendirian, jauh dari semua orang yang saya sayangi, membawa satu pengalaman berbeda!. Justru itu yang memperkaya hidup kan?.

Jadi, apa saja cerita yang saya bawa dari Vietnam?. Tunggu aja.


once again, happy belated birthday to me!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...